Connect with us

INTERNASIONAL

Warga Harap Kunjungan Paus ke Irak Wujudkan Perdamaian

Warga Harap Kunjungan Paus ke Irak Wujudkan Perdamaian


Pemimpin Gereja Katolik Roma Paus Fransiskus tiba, Jumat (5/3), di ibu kota Irak, Baghdad. Dalam kunjungan sampai Senin (8/3), Paus fokus pada kesulitan yang dihadapi komunitas Kristen Irak.

Komunitas Kristen Irak adalah salah satu yang tertua dan paling beragam di dunia, mencakup Kasdim, Ortodoks Armenia, Protestan serta cabang-cabang Kristen lainnya.

Kepala Gereja Katolik Kasdim Kardinal Louis Sako mengatakan dalam pesannya Paus mengingatkan bahwa hidup tidak selalu menyenangkan, ada kesulitan dan penderitaan, tetapi selalu ada harapan.

Para perempuan menunggu di luar Katedral Khaldea Saint Joseph, di Baghdad, Irak, Sabtu, 6 Maret 2021, di mana Paus Fransiskus, yang digambarkan pada poster raksasa di punggung mereka, sedang mengadakan misa. (Foto: AP)

Para perempuan menunggu di luar Katedral Khaldea Saint Joseph, di Baghdad, Irak, Sabtu, 6 Maret 2021, di mana Paus Fransiskus, yang digambarkan pada poster raksasa di punggung mereka, sedang mengadakan misa. (Foto: AP)

Banyak tokoh agama di Vatikan dan Irak berpendapat waktunya belum tepat bagi Paus, usia 84 tahun dan diketahui mengalami gangguan penglihatan, untuk melakukan perjalanan itu. Namun, Fransiskus, yang telah divaksinasi COVID-19, dan selama satu tahun ini mematuhi berbagai pembatasan, tetap berkomitmen melakukan kunjungan itu meskipun ada pandemi dan masalah keamanan yang berkepanjangan. Dia menyesalkan menjadi “Paus dalam sangkar” ketika Roma dan Italia menerapkan lockdown Maret tahun lalu.

Menurut Sako, Paus mengantongi informasi yang cukup sebelum memutuskan ke mana akan pergi. Rabu lalu, dalam konferensi pers di Baghdad, ketua komisi penyelenggara kunjungan Paus ke Irak itu mengatakan bahwa Paus ‘bertekad dan bersemangat’ akan kunjungannya.

“Dia bukan orang yang datang ke sini secara emosional. Dia senang mengirim pesan solidaritas kepada 40 juta rakyat Irak tentang persaudaraan, hidup berdampingan, menolak intoleransi dan kebencian dan berkomunikasi dengan semua sebagai saudara, bukan sebagai lawan dan musuh,” katanya.

Kunjungan itu memusingkan pejabat keamanan dan kesehatan masyarakat di Irak, serta menimbulkan kekhawatiran di kalangan pejabat Katolik. Kepada surat kabar Wall Street Journal, Patrick Osgood dari perusahaan konsultan risiko global, Control Risks, yang beroperasi luas di Irak, mengatakan Paus memilih “salah satu negara yang paling sarat ancaman di dunia saat ini, salah satu negara yang paling sulit dioperasikan dari perspektif keamanan.” Kunjungan itu, kata Osgood, akan menjadi “ujian paling tinggi bagi keamanan Irak sejak kekalahan ISIS” pada tahun 2017.

Basilios Yaldo, koordinator kunjungan Paus, mengatakan bahwa dorongan Paus untuk mewujudkan kunjungan itu meskipun ada kekhawatiran keamanan Irak dan pandemi virus corona adalah bentuk dukungan Paus yang luar biasa kepada Irak.

“Dia akan pergi ke Najaf. Itu simbolis karena di sana ada ulama tertinggi Syiah – Sayyid Ali al-Sistani. Pertemuan mereka akan memberi Irak banyak arti penting, karena Paus pernah bertemu para pemimpin Sunni di negara-negara Teluk, Uni Emirat Arab, dan Mesir. Kini dia akan bertemu pemimpin Syiah dan ulama tertinggi Syiah di Najaf. Inilah pentingnya kunjungan ke Najaf,” kata Basilios Yaldo.

Paus Fransiskus disambut oleh orang-orang saat ia tiba di Gereja Katolik Suriah yang Dikandung Tanpa Noda (al-Tahira-l-Kubra), di kota Qaraqosh (Baghdeda) yang mayoritas beragama Kristen. (Foto: AFP)

Paus Fransiskus disambut oleh orang-orang saat ia tiba di Gereja Katolik Suriah yang Dikandung Tanpa Noda (al-Tahira-l-Kubra), di kota Qaraqosh (Baghdeda) yang mayoritas beragama Kristen. (Foto: AFP)

“Kunjungan ini memberi beberapa sinyal. Antara lain, kami telah meninggalkan sektarianisme, meninggalkan kekerasan dan bahwa Najaf terbuka bagi semua orang, semua agama. Dan ini memberi gambaran yang indah, menunjukkan bahwa kami menyambut perdamaian dan cinta,” kata seorang penduduk Najaf, Kadhim Mehdi

Kegiatan Paus di Irak diawali dengan kunjungan ke Gereja Lady of Salvation di Baghdad. Ekstremis menyerang gereja itu pada 2010, menewaskan puluhan jamaah.

Louis Clemis sedang mengikuti misa ketika gereja itu diserang. Walaupun selamat, dan tragedi itu sudah berlalu 11 tahun, Clemis masih menderita gangguan pendengaran. Ia berharap kunjungan Paus akan mampu membuat pihak berwenang Irak mempertegas tindakan terhadap pelaku kekerasan.

“Tidak boleh ada lagi geng dan kelompok teroris. Mereka harus menangkap ekstremis karena sudah melakukan tindak terorisme terhadap minoritas, khususnya minoritas yang rentan yang tidak bersenjata. Jangan ada lagi pembunuhan, kekerasan dan aksi teror terhadap mereka,” kata Louis Clemis.

Sementara itu, ada kekhawatiran bahwa massa yang tertarik pada kunjungan Paus akan meningkatkan penularan virus corona. Pihak berwenang mensteril gereja-gereja yang akan dikunjungi Paus dengan harapan mengurangi risiko.

Paus juga berkunjung ke kota kuno Ur di Irak selatan. Tempat itu dipercaya sebagai tempat kelahiran Nabi Ibrahim. Di sana, Paus mengadakan kebaktian antaragama, mengajak semua kelompok agama agar berdialog dan hidup berdampingan. [ka/lt]



Source link

Advertisement
Click to comment

TIMUR TENGAH

Jubir HAM PBB Komentari ‘Penangkapan’ Pangeran Hamzah

Jubir HAM PBB Komentari ‘Penangkapan’ Pangeran Hamzah



Pejabat-pejabat PBB, Jumat (9/4), mengaku tidak tahu apakah Pangeran Hamzah dari Yordania secara de facto masih dalam tahanan rumah atau tidak. Penyelidikan sedang dilakukan atas hilangnya pangeran itu.

Juru bicara Kantor Komisaris Tinggi HAM PBB (OHCHR) Marta Hurtado mengatakan “Kami mengikuti peristiwa yang berkaitan dengan Pangeran Hamzah bin Hussein, mantan Putra Mahkota Yordania, dan penangkapan serta penahanan setidaknya 16 pejabat senior dan pemimpin suku lainnya pada 3 April. Kami mengetahui bahwa ada penyelidikan yang sedang berlangsung tetapi masih tidak jelas bagi kami apakah setelah mediasi pada 5 April, Pangeran Hamzah masih dalam tahanan rumah secara de facto atau tidak.”

Raja Yordania Abdullah II menahan adik tirinya itu pada 3 April atas tuduhan berkomplot dengan pendukung asing yang berusaha mengguncang Yordania. Hamzah membantah tuduhan tersebut.

Menurut OHCHR, penangkapan itu menunjukkan “pengamanan masyarakat yang semakin represif.”

Hurtado juga mengomentari Putri Latifa Al Maktoum, putri penguasa Dubai. Ia mengatakan, OHCHR “belum mendapat bukti bahwa putri itu masih hidup” meskipun sudah memintanya dari pejabat Uni Emirat Arab dua minggu lalu.

Dilaporkan bahwa Putri Latifa berusaha melarikan diri dari Uni Emirat Arab pada 2018, tetapi kembali. [ka/ah]

Continue Reading

INTERNASIONAL

Di Bawah Kim, Korut Dinilai Tak Mungkin Denuklirisasi

Di Bawah Kim, Korut Dinilai Tak Mungkin Denuklirisasi



John Bolton, penasihat keamanan nasional Amerika dalam pemerintahan Presiden Donald Trump, mengatakan Korea Utara belum membuat keputusan strategis untuk menghentikan pembuatan senjata nuklir. Ia menilai prospek upaya mencapai denuklirisasi melalui diplomasi tetap redup.

Jika Amerika mengupayakan “kesepakatan dengan Kim Jong Un, bergantung padanya untuk berjanji menghentikan program senjata nuklirnya dengan imbalan bantuan sanksi,” itu akan gagal, kata Bolton dalam wawancara dengan VOA minggu ini.

Penilaian Bolton itu disampaikan sementara pemerintahan Biden mendekati akhir kajian tentang cara mendekati Korea Utara.

“Menurut saya, rezim itu bertekad membuat dan menpertahankan senjata nuklir. Mereka melihatnya penting bagi kelangsungan hidup mereka,” tambah Bolton.

Januari lalu, dalam Kongres ke-8 Partai Pekerja Korea (WPK), Kim mengatakan, ia akan mendukung program senjata nuklir negaranya. [ka/ah]



Source link

Continue Reading

INTERNASIONAL

AS-Sekutu Pertanyakan Motif Kehadiran Rusia di Dekat Ukraina

AS-Sekutu Pertanyakan Motif Kehadiran Rusia di Dekat Ukraina



Amerika menuduh Rusia menyembunyikan niat sesungguhnya terkait pengerahan militernya di perbatasan dengan Ukraina. Tuduhan disampaikan setelah Amerika berkonsultasi dengan sekutu tentang ketegangan yang meningkat di wilayah itu.

Pejabat-pejabat Amerika, Jumat (9/4), menolak menjelaskan tentang jumlah atau jenis pasukan Rusia yang dikatakan berkumpul di dekat wilayah Ukraina. Menurut mereka, tindakan itu provokatif dan mendestabilisasi. Mereka menolak pernyataan bahwa tindakan itu hanya latihan militer.

Sekretaris pers Pentagon John Kirby kepada wartawan, Jumat (9/4), mengatakan bahwa “Ini adalah penumpukan besar, terbesar yang kami saksikan sejak 2014.” Ia mencatat bahwa penumpukan kekuatan militer Rusia seperti itu sebelumnya tidak berakhir dengan baik untuk tetangga Rusia.

Di Gedung Putih, sekretaris pers Jen Psaki mengatakan Amerika sibuk bekerja sama dengan mitra dan sekutu untuk mempelajari situasi itu dan apa yang dapat dilakukan untuk meredakan ketegangan.

“Rusia harus meredakan ketegangan dan bertindak transparan sehubungan pergerakan pasukannya,” tulis Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas di Twitter, setelah pembicaraan dengan Amerika.

Menteri Luar Negeri Amerika Antony Blinken menulis, “Bersama mitra kami #EU & #NATO, kami akan memantau langkah-langkah selanjutnya dengan cermat.”

Menteri Luar Negeri Perancis Jean-Yves Le Drian juga meminta Rusia “menghentikan provokasinya” dan mengambil tindakan untuk meredakan ketegangan “tanpa penundaan.”

Sejauh ini, seruan itu tampaknya tidak berpengaruh. Rusia membela tindakannya, Jumat (9/4), dan menyatakan Ukrainalah yang bertanggung jawab atas ketegangan yang meningkat.

Sementara itu, wakil menteri luar negeri Rusia tampaknya mengkhawatirkan laporan bahwa Amerika mengirim dua kapal perang ke Laut Hitam untuk menunjukkan dukungannya kepada Ukraina. Pejabat Turki mengatakan Jumat (9/4) bahwa Amerika akan mengirim dua kapal ke Laut Hitam minggu depan (14-15 April) dan bahwa mereka akan tetap di sana selama sekitar dua minggu.

Pejabat pertahanan Amerika menolak mengkonfirmasi pernyataan Turki tetapi mengatakan operasi semacam itu rutin. [ka/ah]



Source link

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending Dari BuzzFeed

close