Connect with us

INTERNASIONAL

Virus Corona Tambah Beban di Timur Tengah

Virus Corona Tambah Beban di Timur Tengah



Sudah hampir setahun sejak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 11 Maret 2020 menyatakan wabah virus corona sebagai pandemi global. Timur Tengah adalah salah satu wilayah pertama yang dilanda virus ini di luar China, dan pandemi telah memperburuk krisis yang sudah ada akibat konflik dan migrasi paksa.

Iran mencatat infeksi virus corona pertamanya pada Februari 2020, salah satu wabah pertama di luar Wuhan. Dalam beberapa hari Iran telah menjadi episentrum global sementara rumah sakit penuh dengan pasien.

Angka pemerintah Iran menunjukkan 60 ribu orang telah meninggal sejak awal wabah tetapi jumlah sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi, kata Behnam Ben Taleblu dari Yayasan Pertahanan Demokrasi, organisasi nirlaba yang berfokus pada kebijakan luar negeri dan keamanan, yang berbasis di Washington. Ia percaya kesalahan awal oleh pemerintah menyebabkan banyaknya korban jiwa.

“Kita melihat, mereka awalnya membantah, lalu meremehkannya,” kata Taleblu kepada VOA. “Tantangannya adalah kesehatan dan kesejahteraan rakyatnya tidak menjadi prioritas utama. Ketika menghadapi pandemi global, itu artinya warga menanggung bebannya. ”

Iran bersikeras telah melakukan segala upaya untuk mencegah perebakan dan membantah tuduhan menutupi jumlah kematian yang sebenarnya. Ketika WHO mengumumkan pandemi global pada 11 Maret, virus tersebut telah menyebar ke seluruh Timur Tengah.

Di Yaman dan Suriah, negara-negara yang sejak lama dilanda konflik, pandemi menambah tekanan pada sistem layanan kesehatan yang rapuh. Pada bulan Mei, Perserikatan Bangsa-Bangsa memperingatkan bahwa sistem kesehatan Yaman, yang sudah sangat rentan karena pertempuran selama bertahun-tahun, pada dasarnya ambruk.

Hari Raya Idulfitri yang mengakhiri Ramadan, Mei tahun lalu, dirayakan di seluruh negara Muslim dengan sederhana disertai aturan menjaga jarak sosial.

Di Lebanon, krisis ekonomi dan politik semakin diperparah oleh pandemi dan ledakan di pelabuhan Beirut pada Agustus 2020, yang menyebabkan negara itu di ambang kehancuran. [my/pp]



Source link

Advertisement
Click to comment

INTERNASIONAL

AS Keluarkan Pedoman Baru untuk Interaksi dengan Taiwan

AS Keluarkan Pedoman Baru untuk Interaksi dengan Taiwan



Departemen Luar Negeri Amerika merilis pedoman baru untuk interaksi pemerintah dengan Taiwan guna mendorong kontak yang lebih dekat dan memperdalam hubungan tidak resmi antara kedua negara demokrasi, di tengah meningkatnya agresi China di wilayah tersebut.

Pernyataan itu hanya berbicara secara umum tentang pedoman itu, yang diedarkan di antara departemen-departemen pemerintah tetapi tidak dirilis ke publik. Taiwan menyambut baik pengumuman itu.

“Kami menyambut baik dorongan tersebut. Menunggu kesempatan untuk menggunakan peluang baru untuk bekerja sama guna memperdalam hubungan,” tulis utusan Taiwan untuk Amerika di Twitter.

Kerja sama Amerika dan Taiwan semakin berkembang dalam bidang kesehatan global, ekonomi, dan keamanan regional. Bulan lalu, Amerika dan Taiwan menandatangani kesepakatan kerja sama penjaga pantai.

Departemen Luar Negeri menilai pedoman itu konsisten dengan kebijakan “satu China.” Dikatakan bahwa meliberalisasi kontak dengan Taiwan konsisten dengan Taiwan Relations Act dan pernyataan kebijakan lain yang dikenal sebagai tiga Komunike Bersama Amerika-China dan Enam Jaminan. Amerika telah lama menyatakan bahwa kebijakan “Satu China” yang dijunjungnya “berbeda” dari prinsip “Satu China.” Amerika tidak pernah mendukung klaim kedaulatan Partai Komunis China atas Taiwan.

Pedoman baru dikeluarkan sewaktu Kongres Amerika memperkenalkan undang-undang guna mengekang pengaruh global China yang semakin meluas. Usul bipartisan “Undang-Undang Persaingan Strategis 2021” menyatakan bahwa tidak boleh ada pembatasan terhadap interaksi pejabat Amerika dengan mitra mereka dari Taiwan. [ka/ah]



Source link

Continue Reading

INTERNASIONAL

Letusan Gunung Berapi di Karibia, Ribuan Orang Mengungsi

Letusan Gunung Berapi di Karibia, Ribuan Orang Mengungsi



Gunung berapi La Soufriere di Pulau St Vincent, Karibia timur, meletus Jumat setelah puluhan tahun tidak aktif. Letusan itu menyebabkan abu dan asap mengepul dan memaksa ribuan orang mengungsi dari desa sekitarnya.

‘Tidur’ sejak 1979, gunung berapi tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda aktivitas pada Desember, mengeluarkan uap dan asap serta bergemuruh. Aktivitas itu minggu ini meningkat, mendorong Perdana Menteri St. Vincent dan Grenadines Ralph Gonsalves memerintahkan evakuasi dari daerah sekitar itu Kamis malam.

Jumat pagi, gunung itu meletus. Abu dan asap membuat daerah di sekitar hampir gelap total, menutupi matahari pagi yang cerah, kata seorang saksi mata kepada kantor berita Reuters. Ia melaporkan mendengar letusan itu dari Rose Hall, desa terdekat.

Letusan-letusan yang lebih kecil terjadi sepanjang hari, kata Erouscilla Joseph, direktur Pusat Penelitian Seismik University of West Indies, kepada Reuters. Ia menambahkan bahwa aktivitas semacam ini dapat berlangsung selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan.

St. Vincent dan Grenadines, yang berpenduduk lebih dari 100.000, tidak mengalami aktivitas vulkanik sejak 1979, ketika letusan menyebabkan kerugian sekitar $100 juta. Letusan La Soufriere pada 1902 menewaskan lebih dari 1.000 orang. Nama gunung itu berarti “outlet belerang” dalam bahasa Perancis.

Media lokal dalam beberapa hari ini juga melaporkan peningkatan aktivitas Gunung Pelee di pulau Martinik, yang terletak di sebelah utara St. Vincent.[ka/pp]



Source link

Continue Reading

INTERNASIONAL

PM Australia Beri Penghormatan kepada Pangeran Philip

PM Australia Beri Penghormatan kepada Pangeran Philip



Perdana Menteri Australia Scott Morrison, Sabtu (10/4), memberi penghormatan pada kehidupan dan jasa Pangeran Philip dari Inggris. Ia menyampaikan belasungkawa dan simpati atas nama rakyat Australia kepada Ratu Elizabeth dan keluarga kerajaan.

Pangeran Philip, suami Ratu Elizabeth selama lebih dari 70 tahun, membantu memodernisasi monarki Inggris dan mengarahkan keluarga kerajaan melalui krisis yang berulang. Ia, usia 99 tahun, wafat pada Jumat (9/4).

Dikenal secara resmi sebagai Duke of Edinburgh, Philip mendampingi istrinya selama 69 tahun pemerintahannya, yang terpanjang dalam sejarah Inggris. Dalam masa itu ia mendapat reputasi atas sikap yang keras, tanpa basa-basi dan cenderung untuk sesekali melakukan kesalahan.

Seorang pangeran dari Yunani, Philip menikahi Elizabeth pada 1947. Dia kemudian berperan kunci dalam membantu monarki beradaptasi dengan dunia yang berubah setelah Perang Dunia II. Di balik tembok Istana Buckingham, dia satu-satunya tokoh kunci yang bisa dipercaya ratu karena tahu bahwa dia bisa berkata jujur. [ka/pp]



Source link

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

INFO LOKER

Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending Dari BuzzFeed

close