Connect with us

VIRUS CORONA

Varian Baru Virus Corona Paling Banyak Ditemukan di Sumatera dan Kalimantan

Varian Baru Virus Corona Paling Banyak Ditemukan di Sumatera dan Kalimantan


Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikini mengungkapkan varian baru virus corona yang sudah masuk ke Indonesia sejauh ini ada tiga, yakni B117 dari Inggris, B1351 dari Afrika Selatan dan, yang terbaru, B1617 dari India. Penemuan ini tentunya menjadi perhatian utama pemerintah mengingat berdasarkan WHO, ketiga varian ini termasuk ke dalam kategori varian yang relatif berbahaya.

Budi menjelaskan, masuknya varian-varian baru virus ini ke Indonesia berasal dari pekerja migran Indonesia (PMI) yang telah kembali pulang dari Arab Saudi, Afrika, India dan Malaysia dan terkonsentrasi di provinsi Sumatera dan Kalimantan.

“Varian dari Inggris yang kebanyakan masuknya sudah mulai bulan Januari dan ini beredar di daerah Jawa, Sumatera dan juga Kalimantan, ada juga di Bali. Berikutnya adalah varian atau mutasi dari Afrika Selatan ini hanya kita temui 1 di Bali; dan berikutnya yang akhir-akhir ini cukup banyak masuk ke Indonesia adalah varian dari India dan varian ini banyak kita temui di Sumatera Selatan dan di Kalimantan Tengah,” ungkap Budi seusai Rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (10/5).

Maka dari itu, Budi berpesan kepada seluruh masyarakat agar tetap menjalankan protokol kesehatan dengan sangat ketat. Menurutnya, hal tersebut akan cukup ampuh untuk mencegah penularan dari berbagai hasil mutasi virus corona yang sudah masuk ke Indonesia.

Menkes Budi Gunadi Sadikin dalam telekonferensi pers di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, 10 Mei 2021 mengatakan varian atau mutasi virus Corona banyak ditemukan di Sumatera dan Kalimantan (biro Setpres).

Menkes Budi Gunadi Sadikin dalam telekonferensi pers di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, 10 Mei 2021 mengatakan varian atau mutasi virus Corona banyak ditemukan di Sumatera dan Kalimantan (biro Setpres).

Selain itu, pihak Kementerian Kesehatan juga akan menerapkan strategi “3T” (testing, tracing and treatment) secara ketat agar varian baru virus ini tidak semakin menular ke berbagai daerah lainnya.

Antisipasi Kenaikan Kasus Pasca Libur Lebaran

Berdasarkan pengalaman sebelumnya bahwa selalu terjadi kenaikan kasus positif corona yang cukup signifikan pasca liburan panjang,pihak Kementerian Kesehatan, ujar Budi, telah mempersiapkan berbagai fasilitas , termasuk meningkatkan ketersediaan tempat tidur di ruang isolasi dan ICU, obat-obatan dan oksigen.

Budi menjelaskan kapasitas tempat tidur di rumah sakit secara nasional mencapai 390.000. Dari jumlah tersebut yang bisa dipakai untuk isolasi pasien COVID-19 sekitar 70.000. Lanjutnya, untuk tempat tidur di ruang ICU secara nasional sudah tersedia 22.000, namun yang bisa dipakai untuk pasien COVID-19 sebanyak 7.500.

Pekerja kesehatan berbicara melalui walkie-talki di ruang isolasi untuk pasien virus corona (Covid-19) di Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta, 13 Mei 2020. (Foto: Reuters)

Pekerja kesehatan berbicara melalui walkie-talki di ruang isolasi untuk pasien virus corona (Covid-19) di Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta, 13 Mei 2020. (Foto: Reuters)

“Saya hanya ingin memberikan gambaran bahwa kapasitas rumah sakit dan ICU yang kita miliki itu masih tiga kali lebih besar daripada kapasitas tempat tidur dan ICU yang kita dedikasikan untuk COVID-19. Tiga kali lebih besar kapasitas kita dibandingkan yang kita dedikasikan untuk COVID-19 yaitu sekitar 70.000 untuk tempat tidur isolasi dan 7500 untuk ICU khusus COVID-19,” ungkap Budi.

Sampai saat ini, dari kapasitas 70.000 tempat tidur untuk isolasi pasien COVID-19, sudah terisi sebanyak 23.000. Sedangkan untuk tempat tidur di ICU sudah terisi sekitar 2.500 dari 7.500 yang sudah disiagakan.

“Jadi dari status yang ada sekarang yang ada masuk di rumah sakit kita masih punya room dua kali lipat di atasnya. Kalau toh pun naik nanti kasus konfirmasinya, dan kalau itu tembus kita masih punya kapasitas rumah sakit yang kita bisa konversi menjadi tempat COVID itu tiga kali di atasnya. Jadi mudah-mudahan room-nya kita masih ada,” jelasnya.

Dalam kesempatan ini, Budi menekankan agar pemerintah daerah mengantisipasi kenaikan kasus pasca libur lebaran nanti. Pasalnya, delapan provinsi, yakni Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Riau, Sumatera Selatan, Jami, Kalimantan Barat, Lampung dan Nusa Tenggara Timur (NTT), mencatat tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy ratio (BOR) sudah cukup tinggi.

“Mungkin topik yang jadi ini pesannya di sini adalah tolong bantu teman-teman dari pemda agar bisa memonitor dan mempersiapkan rumah sakit, alat kesehatan, dokter dan tenaga kesehatan yang disana,” tuturnya.

Vaksinasi Massal COVID-19

Sampai saat ini pemerintah, kata Budi, sudah menyuntikkan vaksin COVID-19 sebanyak 22 juta dosis. Perkembangan vaksinasi massal ini, diakui Budi, mengalami sedikit penurunan penyuntikan di bulan April karena keterbatasan stok vaksin, padahal pada Maret lalu pihaknya sudah berhasil melakukan penyuntikan sebanyak 500.000 dosis. Meski begitu, dengan berbagai vaksin yang telah tiba di Indonesia pada Mei ini ia optimistis pemerintah bisa melakukan vaksinasi sebanyak 1 juta dosis per bulan.

Seorang petugas kesehatan menyiapkan dosis vaksin AstraZeneca dalam program vaksinasi massal untuk Wisata Zona Hijau di Sanur, Bali, 23 Maret 2021. (Foto: REUTERS/Nyimas Laula)

Seorang petugas kesehatan menyiapkan dosis vaksin AstraZeneca dalam program vaksinasi massal untuk Wisata Zona Hijau di Sanur, Bali, 23 Maret 2021. (Foto: REUTERS/Nyimas Laula)

“Sehingga pesan saya ke seluruh aparat di daerah kita mulai genjot lagi, karena jumlah stok vaksinnya sudah cukup di bulan Mei sesudah lebaran segera kita genjot lagi vaksinasinya untuk bisa naik. Kalau bisa kita coba menyentuh 1 juta per bulan di bulan Juni karena kapasitas vaksinnya kita sekarang sudah cukup,” jelasnya.

Lanjutnya, dilaporkan hanya ada tiga provinsi yang laju vaksinasi kepada kelompok masyarakat lanjut usia (lansia) cukup tinggi yakni DKI Jakarta, Bali dan Jogjakarta yang mencapai di atas 10 persen dari populasi. Ia pun berpesan kepada seluruh pemerintah daerah untuk mengutamakan pemberian vaksin kepada lansia, karena tingkat resiko keparahanan dan kematiannya yang cukup tinggi.

Perpanjangan PPKM Mikro

Dalam kesempatan yang sama, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan pemerintah kembali memperpanjang kebijakan pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Mikro tahap ke-8.

“Kita lihat dalam pelaksanaan PPKM Mikro tahap ke-8 yaitu tanggal 18-31 Mei akan diperpanjang dengan cakupan tetap di 30 provinsi, tentu 18-31 Mei ini adalah periode daripada pasca mudik hari raya lebaran,” ungkap Airlangga.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut tarif vaksinasi gotong royong sebesar Rp500.000. (Foto: Biro Setpres)

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut tarif vaksinasi gotong royong sebesar Rp500.000. (Foto: Biro Setpres)

Perpanjangan PPKM Mikro dilakukan karena adanya tren kenaikan kasus corona. Ia menjelaskan dari 30 provinsi yang memberlakukan kebijakan PPKM Mikro, sebanyak 11 provinsi mengalami kenaikan COVID-19. Adapun lima provinsi yang mengalami peningkatan kasus positif cukup signifikan yakni Kepulauan Riau, Riau, Sumatera Selatan, Aceh dan Kalimantan Barat. Menurutnya, kenaikan kasus ini mayoritas disebabkan kepulangan pekerja migran Indonesia (PMI).

“Kalau kita lihat kasus harian yang menyebabkan 7 provinsi yang tingkat BOR nya di atas 50 persen yaitu Sumatera Utara 63,4 persen, Riau 59,1 persen, Kepulauan Riau 59,9 persen, Sumatera Selatan 56,6 persen, Jambi 56,2 persen, Lampung 50,8 persen, dan Kalimantan Barat 50.6 persen,” jelasnya.

Vaksinasi Gotong Royong

Airlangga juga menjelaskan bahwa harga untuk mekanisme vaksinasi gotong royong sudah ditentukan sebesar Rp500.000. Saat ini, katanya sudah tersedia vaksin COVID-19 dengan merek Sinopharm sebanyak 500.000 dosis dari kontrak yang mencapai 7,5 juta dosis. Selain Sinopharm, vaksin yang akan digunakan dalam vaksinasi gotong royong ini adalah Cansino yang sudah dipersiapkan sebanyak 5 juta dosis.

“Harga sudah ditetapkan harga vaksin Rp375.000 per dosis dan penyuntikan Rp125.000 sehingga totalnya Rp500.000. Diharapkan sudah bisa dilaksanakan di akhir bulan Mei, kemudian ini juga sudah memperoleh sertifikasi baik dari BPOM maupun dari MUI,” paparnya.

Mudik Lebaran

Sementara itu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengungkapkan terjadi kenaikan mobilitas masyarakat yang ingin mudik sebelum pemberlakukan larangan mudik yakni 22 April-5 Mei sebanyak 20-30 persen.

Namun, terjadi penurunan mobilitas yang siginifikan dari masyarakat pada periode 6-9 Mei dari sisi transportasi udara sebanyak 90 persen, laut dan kereta api 90 persen, dan jalur darat 40 persen. Meski begitu, dari hasil survei diketahui masih ada sejumlah masyarakat yang nekat ingin pulang ke kampung halamannya.

“Selanjutnya dari survei terlihat bahwa mudik ini masih bisa terjadi lagi cukup tinggi mungkin besok dan lusa . Oleh karenanya kami mengimbau kepada saudara-saudara kita tidak melakukan mudik,” ungkap Menhub Budi.

Lebih lanjut, Budi juga menjelaskan bahwa ada sekitar 22 persen atau 3,6 juta masyarakat yang dalam arus balik Minggu (16/5) atau H plus 2 lebaran. Untuk mencegah penyebaran kasus COVID-19, pihak Kemenhub menghimbau kepada masyarakat untuk menunda l kepulangan agar masyarakat tidak berkumpul di tempat yang sama pada waktu bersamaan dalam jumlah yang cukup banyak.

“Terkait dengan penggunaan pesawat udara tadi sudah disetujui bahwa tidak ada lagi penerbangan charter selama masa peniadaan mudik. Sehingga kalau ada tenaga-tenaga kerja disarankan untuk menuda perjalanan,” pungkasnya. [gi/ab]



Source link

Advertisement
Click to comment

VIRUS CORONA

Antibodi Vaksin China Kurang Efektif Atasi Varian Delta

Antibodi Vaksin China Kurang Efektif Atasi Varian Delta



Seorang peneliti Pusat Pengendalian Penyakit China mengatakan kepada media pemerintah mengatakan antibodi yang dipicu oleh dua vaksin COVID-19 asal China kurang efektif terhadap varian Delta dibandingkan dengan varian lain. Namun, vaksin tersebut masih tetap memberikan perlindungan.

Kepala ilmuwan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) memperingatkan pekan lalu bahwa varian Delta, yang pertama kali terdeteksi di India, menjadi varian penyakit yang dominan secara global akibat tingkat penularannya.

Mengutip sebuah wawancara yang disiarkan China Central Television pada Kamis (24/6) malam, Reuters melaporkan Feng Zijian, peneliti dan mantan wakil direktur di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China, tidak memberikan perincian lebih lanjut.

Tanpa menyebut kedua vaksin itu, Feng mengatakan mereka masuk dalam kategori vaksin tidak aktif, yang mengandung virus corona “yang dimatikan” yang tidak dapat bereplikasi dalam sel manusia.

Lima dari tujuh vaksin yang dikembangkan di dalam negeri dalam skema vaksinasi massal China adalah vaksin yang tidak aktif. Ini termasuk vaksinasi dari Sinovac Biotech dan Sinopharm yang digunakan di negara-negara seperti Brazil, Bahrain dan Chili.

Para pejabat mengatakan varian Delta telah menyebabkan infeksi di tiga kota di Provinsi Guangdong selatan, di mana terdapat total 170 pasien yang dikonfirmasi secara lokal dilaporkan antara 21 Mei dan 21 Juni.

Masih belum jelas berapa banyak dari mereka yang terpapar varian Delta.

Sekitar 85 persen kasus Guangdong dalam wabah terbaru ditemukan di ibu kota provinsi, Guangzhou.

“Dalam wabah Guangdong … tidak satu pun dari infeksi yang divaksinasi itu menjadi kasus yang parah, dan tidak ada kasus yang parah yang divaksinasi,” kata Feng. [ah/ft]



Source link

Continue Reading

VIRUS CORONA

Singapura Setujui 24 Klinik Swasta untuk Inokulasi Vaksin Sinovac

Singapura Setujui 24 Klinik Swasta untuk Inokulasi Vaksin Sinovac



Sejak Kementerian Kesehatan Singapura menyetujui kualifikasi 24 klinik swasta untuk menginokulasi vaksin COVID-19 Sinovac dari Tiongkok, Rabu (24/6), sejumlah besar penduduk berbondong-bondong ke tempat-tempat ini untuk mendaftar di lokasi.

Di luar Rophi Clinic, yang diberi wewenang oleh Kementerian Kesehatan Singapura untuk mengelola vaksin Sinovac, warga antre sejak dini hari karena terbatasnya slot untuk vaksinasi.

“Putri saya bilang mereka datang untuk mengantre di sini setelah pukul 07.00, tetapi baru saja seorang pria mengatakan kepada saya bahwa mereka datang pada pukul 05:00. Kita harus datang lebih awal karena jika terlambat, kita tidak akan mendapat nomor giliran,” kata seorang warga Tiongkok yang tinggal di Singapura.

“Klinik kami sangat sangat sibuk. Telepon berdering tanpa henti. Terdapat lebih dari 1.000 orang yang mendaftar, yang ingin mendapatkan vaksin Sinovac sekarang,” kata Leong Hoe Nam, dokter penyakit menular di Klinik Rophi.

Singapura mengizinkan penggunaan Sinovac berdasar rute akses khusus setelah Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) menyetujui penggunaan darurat vaksin tersebut. Negara kota itu memiliki persediaan 200.000 dosis yang tiba pada Februari tahun ini. Ke-24 klinik swasta tersebut akan menerima pasokan dari pemerintah berdasarkan kemampuan mereka untuk menyuntikkannya.

Lebih dari setengah populasi Singapura setidaknya telah menerima dosis pertama vaksin COVID-19 di bawah kampanye vaksinasi nasional yang memberikan vaksin Pfizer atau Moderna. Para pakar medis mengatakan bahwa penyerapannya sudah baik tetapi tidak luar biasa. Harapannya kini pemberian vaksin alternatif seperti Sinovac akan mempercepat upaya vaksin Singapura.[ka/uh]



Source link

Continue Reading

VIRUS CORONA

PPKM Mikro dan ‘Lockdown’ Esensinya Sama, Tidak Perlu Dipertentangkan

PPKM Mikro dan ‘Lockdown’ Esensinya Sama, Tidak Perlu Dipertentangkan



Presiden Joko Widodo akhirnya angkat bicara terkait desakan semua unsur masyarakat, untuk menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) atau bahkan lockdown nasional untuk meredam penyebaran varian baru virus corona atau varian delta yang menyebabkan naiknya kasus COVID-19 dengan cepat dan signifikan.

Jokowi mengatakan setelah memperhitungkan kondisi ekonomi, sosial, dan politik di tanah air, serta melihat pengalaman penanganan pandemi di negara lain, ia masih meyakini bahwa strategi PPKM Mikro masih menjadi kebijakan yang paling tepat untuk menghentikan laju perebakan wabah virus corona sampai ke tingkat terkecil di komunitas masyarakat.

“Kenapa pemerintah memutuskan PPKM Mikro? Pemerintah melihat bahwa kebijakan PPKM Mikro masih menjadi kebijakan yang paling tepat untuk konteks saat ini untuk mengendalikan COVID-19 karena bisa berjalan tanpa mematikan ekonomi rakyat. Saya sampaikan bahwa PPKM Mikro dan lockdown memiliki esensi yang sama yaitu membatasi kegiatan masyarakat, untuk itu tidak perlu dipertentangkan,” ungkap Jokowi dalam telekonferensi pers dari Istana Kepresidenan, Bogor, Rabu (23/6).

PPKM Mikro Belum Merata

Presiden yakin jika kebijakan tersebut bisa terimplementasi dengan baik di lapangan, maka seharusnya penanganan pandemi bisa terkendali. Ia memang mengakui bahwa PPKM Mikro masih belum dipraktekkan secara menyeluruh di Indonesia. Maka dari itu, Jokowi meminta kepada semua kepala daerah untuk memperkuat penerapan kebijakan ini, seperti mengoptimalkan fungsi posko-posko COVID-19 yang telah terbentuk di masing-masing wilayah, seperti Desa atau Kelurahan.

Menurutnya, keberadaan posko COVID-19 sampai di tingkat terkecil ini sangat penting yakni untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat seperti menerapkan protokol kesehatan “3M” (memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan) untuk mendukung penguatan “3T” (testing, tracing, treatment) yang dilakukan oleh pemerintah.

“Oleh sebab itu mari kita semua lebih berdisiplin. Disiplin yang kuat dalam menghadapi wabah ini. Wabah ini masalah yang nyata, penyakit ini tidak mengenal ras, maupun diskriminasi, setiap orang tidak peduli apa asal-usulnya, status ekonominya, agamanya, maupun suku bangsanya. Semuanya, dapat terkena, ini penyakit yang tidak melihat siapa kita, jika kita tidak berhati-hati, dan berdisiplin menjaga diri, kita bisa kena,” kata Jokowi.

Vaksinasi COVID-19

Dalam kesempatan ini, Jokowi juga mengimbau masyarakat untuk segera melakukan vaksinasi COVID-19, karena hal ini merupakan salah satu cara guna mencapai kekebalan komunitas atau herd immunity.

Kapolsek Galih Apria memberikan hadiah ayam kepada Jeje Jaenudin, warga Desa Sindanglaya, menerima suntikan dosis pertama vaksin COVID-19, saat program vaksinasi jemput bola di Kabupated Cianjur, Jawa Barat, Selasa, 15 Juni 2021. (Foto: Willy Kurniawan/Re

Kapolsek Galih Apria memberikan hadiah ayam kepada Jeje Jaenudin, warga Desa Sindanglaya, menerima suntikan dosis pertama vaksin COVID-19, saat program vaksinasi jemput bola di Kabupated Cianjur, Jawa Barat, Selasa, 15 Juni 2021. (Foto: Willy Kurniawan/Re

“Jika sudah ada kesempatan untuk mendapatkan vaksin, segera ambil, jangan ada yang menolak. Karena agama apa pun tidak ada yang melarang vaksin. Ini demi keselamatan kita, vaksin merupakan upaya terbaik yang tersedia saat ini. Kita harus mencapai kekebalan komunitas untuk mengatasi pandemi. Maka sebelum itu tercapai kita harus tetap berdisiplin dan menjaga diri terutama memakai masker, dan saya minta satu hal yang sederhana ini, tinggallah di rumah jika tidak ada kebutuhan yang mendesak,” pesan Presiden Jokowi.

“Hanya dengan langkah bersama kita bisa menghentikan wabah ini. Semua orang harus berperan serta, semua warga harus ikut berkontribusi, tanpa kesatuan itu, kita tidak akan mampu menghentikan penyebaran COVID-19,” pungkasnya.

PSBB Sudah Terbukti Tekan Kasus COVID-19

Ahli Epidemiologi dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman memaparkan berdasarkan data yang ada, sudah terbukti bahwa kebijakan PSBB yang diberlakukan pada tahun lalu bisa menekan laju perebakan wabah virus corona.

Epidemiolog Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman, dalam tangkapan layar. (Foto: VOA/Nurhadi Sucahyo)

Epidemiolog Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman, dalam tangkapan layar. (Foto: VOA/Nurhadi Sucahyo)

Dijelaskannya, pada April 2020 ketika PSBB dilakukan angka reproduksi virus mencapai 1,5 kemudian angkanya menurun menjadi 1,08 di bulan Mei 2020. Penurunan ini, ujar Dicky cukup signifikan, meskipun pada waktu itu PSBB yang dilakukan tidak sesuai dengan regulasi dan tidak terlalu ketat. Lanjutnya, PSBB pada periode waktu yang sama juga berkontribusi menurunkan angka pertumbuhan kasus positif COVID-19 di mana pada April lalu mencapai 90 persen, kemudian dengan intervensi PSBB turun menjadi 2,8 persen di Mei tahun lalu.

“Kemudian kalau bicara PPKM, saya analisa dari Januari-Juni , PPKM ini dalam angka reproduksi di Januari 1,19 meningkat dan saat ini di Juni sudah 1,36. Kemudian bagaimana pertumbuhannya (kasus)? Di periode penerapan PPKM ini growth rate-nya dari 30 persen di Januari, artinya 30 persen penambahan (kasus) per minggu, saat ini di Juni sudah 54 persen. Jadi meningkat signifikan. Ini artinya dari 30 persen ke 54 persen kemudian angka reproduksinya meningkat dari 1,19 menjadi 1,36, ini menunjukkan bahwa dibandingkan PSBB , PPKM tentu kurang efektif. Itu data yang berbicara,” ujar Dicky kepada VOA.

Seorang pengendara sepeda motor melewati sebuah kampung di Jakarta, yang diisolasi setelah beberapa warganya terpapar virus COVID-19, 22 Juni 2021. (Foto: BAY ISMOYO / AFP)

Seorang pengendara sepeda motor melewati sebuah kampung di Jakarta, yang diisolasi setelah beberapa warganya terpapar virus COVID-19, 22 Juni 2021. (Foto: BAY ISMOYO / AFP)

Tambahnya, dalam periode mulai diberlakukannya PPKM Mikro yakni dari Januari-Juni 2021 terbukti tidak memperkuat aspek “3T” secara signifikan. Menurutnya, hal ini sangat fatal mengingat aspek tersebut merupakan hal yang utama dalam memutus mata rantai penularan.

Selain itu, kebijakan bekerja dari rumah atau working from home (WFH) dalam implementasi di lapangan tidak berjalan dengan baik, di mana banyak perusahaan yang masih menyuruh pegawai-pegawainya untuk tetap bekerja dari kantor. Sehingga bisa dikatakan aspek pengawasan daripada kebijakan PPKM Mikro ini juga tidak berjalan dengan baik.

Spanduk pelaksanaan PPKM Mikro di Jakarta. (Foto: VOA/Indra)

Spanduk pelaksanaan PPKM Mikro di Jakarta. (Foto: VOA/Indra)

Meski begitu, ujar Dicky keputusan PPKM Mikro ini sudah terlanjur diputuskan oleh Presiden Joko Widodo. Dicky pun menyarankan pemerintah nantinya untuk melakukan evaluasi dari kebijakan PPKM Mikro ini per minggu untuk mengetahui dampaknya terhadap pengendalian pandemi di tanah air.

“Dan nanti kalau dari hasil evaluasi hasil growth rate-nya yang tadi saya sampaikan 54 persen terus meningkat mendekati 90 persen seperti di awal April lalu, ya saya katakan, kita harus pertimbangkan lagi, bahwa harus ada penguatan lagi, karena masalahnya bukan menyelamatkan ekonomi tapi ini menyelamatkan nyawa dalam jumlah yang besar. Dan untuk diketahui dalam satu studi dikatakan bahwa satu kali lockdown yang katakanlah dua minggu saja, itu bisa menyelamatkan setidaknya 50,000 kehidupan, dan itu besar sekali nilainya,” pungkasnya. [gi/ka]



Source link

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending Dari BuzzFeed

close