Connect with us

EROPA

Usai Bertemu Putin, Biden Bersikap Realistis

Usai Bertemu Putin, Biden Bersikap Realistis

[ad_1]

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dan Presiden Rusia Vladimir Putin telah mengakhiri pertemuan mereka di Jenewa. Biden menggambarkan pertemuan itu berlangsung “baik” dan “positif.”

Namun, secara lebih realistis, Biden kemudian mengatakan bahwa beberapa bulan mendatang akan menjadi sebuah “uji” apakah hubungan di antara kedua negara bisa membaik.

“Saya tidak berada di sini dan mengatakan karena Putin dan saya setuju maa kami akan melakukan hal-hal ini, bahwa itu semua tiba-tiba akan berhasil,” kata Biden dalam konferensi pers setelah pertemuannya selama lebih dari empat jam dengan Putin.

“Yang saya katakan adalah saya rasa ada sebuah prospek murni untuk secara signifikan memperbaiki hubungan diantara kedua negara kami, tanpa kami mengorbankan hal tunggal apapun terkait prinsip dan nilai kami,” kata Biden.

Dalam konferensi persnya, menyusul pertemuan itu, Putin yang berbicara lewat penerjemah, juga menggambarkan pertemuan itu sebagai “konstruktif.” Dia mengatakan tidak ada “permusuhan,” dan menyebut pemimpin AS itu sebagai seorang yang “konstruktif, seimbang, berpengalaman, dan politisi yang matang.”

Seusai pertemuan itu Gedung Putih dan Kremlin menerbitkan pernyataan yang isinya identik, serta mencatat bahwa “dalam masa-masa tegang sekalipun” kedua negara telah menunjukkan bahwa mereka mampu membuat kemajuan dalam “sasaran bersama yang hendak menjamin kepastian di lingkungan strategis, mengurangi risiko terjadinya konflik bersenjata, dan ancaman perang nuklir.”

Kedua negara mengatakan mereka akan mulai melakukan konsultasi seputar stabilitas strategis guna mengelola hubungan mereka.

Dalam konperensi pers itu, Putin mengatakan sebagai negara yang memiliki kekuatan nuklir, Amerika Serikat dan Rusia punya tanggung jawab khusus untuk mempertahankan hubungan mereka.

“Perluasan perjanjian START yang baru Februari lalu merupakan contoh dari komitmen kami terhadap pengendalian senjata nuklir.Hari ini kami mempertegas prinsip bahwa perang nuklir tidak bisa dimenangkan pihak manapun dan tidak pernah boleh terjadi,” kata Gedung Putih dan Kremlin dalam pernyataannya. [jm/em]

[ad_2]

Advertisement
Click to comment

EROPA

Lebih dari 200 Pria Afrika Menyeberang dari Maroko ke Spanyol

Lebih dari 200 Pria Afrika Menyeberang dari Maroko ke Spanyol

[ad_1]


Pihak berwenang di Melilla, kota otonomi Spanyol, Kamis (22/7), mengatakan bahwa 238 pria Afrika berhasil masuk ke daerah kantong Spanyol di Afrika Utara itu setelah memanjat pagar yang memisahkannya dari Maroko.

Migran SubSahara yang melarikan diri dari kemiskinan atau kekerasan secara teratur berusaha melewati perbatasan sepanjang 12 kilometer di Melilla dan di daerah kantong Spanyol lainnya di pantai Afrika Utara, Ceuta, sebagai batu loncatan untuk mencapai benua Eropa. Para migran sering berusaha menyeberang dalam kelompok besar untuk mengejutkan agen polisi di kedua sisi perbatasan.

Lebih dari 300 pria SubSahara mencoba menyeberang pada Kamis dini hari, kata pernyataan delegasi pemerintah Spanyol di Melilla, kota berpenduduk 84.000 jiwa. Itu salah satu upaya terbesar dalam beberapa bulan terakhir,

Seorang penjaga sipil Spanyol menunggu para migran di daerah kantong Spanyol Ceuta, dekat perbatasan Maroko dan Spanyol. (Foto: AP)

Seorang penjaga sipil Spanyol menunggu para migran di daerah kantong Spanyol Ceuta, dekat perbatasan Maroko dan Spanyol. (Foto: AP)

Dikatakan para migran membawa kait untuk memanjat pagar dan bahwa tiga petugas Garda Sipil Spanyol terluka ringan ketika mencoba menghentikan para migran.

Ke-238 orang yang berhasil masuk dibawa ke pusat pemrosesan migran di mana mereka harus mengisolasi diri guna mencegah kemungkinan penyebaran virus corona. Mereka biasanya tetap di sana sampai pihak berwenang dapat mengetahui apakah mereka dapat dikembalikan ke negara mereka atau memenuhi syarat untuk tinggal di Spanyol.

Tekanan migran di perbatasan Melilla meningkat belakangan ini, dengan setidaknya lima upaya untuk menyeberang sejak Mei, setelah ribuan orang – termasuk ratusan anak tanpa pendamping – memaksa masuk ke Ceuta. Itu memicu perselisihan diplomatik antara Spanyol dan Maroko mengenai masa depan Sahara Barat, wilayah yang dianeksasi Rabat pada 1970-an. [ka/ab]

[ad_2]

Continue Reading

EROPA

Pasca Peretasan Pegasus, Wartawan Merasa Terus Dimata-matai

Pasca Peretasan Pegasus, Wartawan Merasa Terus Dimata-matai

[ad_1]

Semakin terbongkar bahwa perusahaan swasta Israel, NSO Group, menjual Pegasus kepada pemerintahan di seluruh dunia. Sebagian pembeli piranti lunak peretas tersebut menggunakannya untuk menarget jurnalis dan aktivis hak asasi, bahkan para pemimpin pemerintahan, termasuk Presiden Perancis Emmanuel Macron.

Macron telah meminta dilakukannya penyelidikan, dan Israel mengatakan pihaknya menunjuk satuan tugas untuk menyelidiki.

NSO mengatakan spyware dimaksudkan membantu menangkap penjahat dan teroris. Namun hasil penyelidikan internasional yang dimulai oleh Forbidden Stories, organisasi nirlaba jurnalisme yang berbasis di Paris, dan Amnesty International, organisasi HAM yang berbasis di Inggris, terhadap apa yang dikenal sebagai Proyek Pegasus, itu mendapati bahwa spyware telah digunakan secara luas oleh kelompok 10 negara untuk menarget jurnalis dan aktivis, meretas ponsel mereka, dan bahkan membajak kendali kamera ponsel mereka

“Arab Saudi, Azerbaijan, Meksiko, Maroko, negara-negara itu dikenal bagaimana mereka bersikap terhadap jurnalis, terhadap pembela hak asasi. Pemerintahan negara-negara itu melacak mereka,” kata Laurent Richard dari Forbidden Stories kepada VOA.

“Di Meksiko, kami mendapati nomor telepon seorang jurnalis muncul dalam daftar itu dan dua bulan kemudian dia dibunuh. Kami juga mempunyai bukti bahwa tunangan Jamal Khashoggi diawasi oleh piranti lunak itu setelah pembunuhan Jamal Khashoggi,” tambahnya.

Salah seorang wartawan di Rwanda yang menjadi sasaran mata-mata itu bekerja untuk VOA. Seorang jurnalis yang ditarget Azerbaijan, Sevinc Vaqifqizi, mengatakan kepada VOA bahwa privasinya hancur.

“Mulai sekarang, kalian tahu bahwa di mana pun kalian berada, ada yang mengikuti kalian, mengawasi, melihat kalian, merekam percakapan kalian, mengarahkan kalian untuk pergi ke mana. Ke mana pun kalian pergi atau melakukan apapun, kalian berada di bawah kendali seseorang, dan mereka dapat melihat dan merekam apapun yang kalian lakukan, apakah sedang tidur, berdiri, berada di dapur, atau bahkan pergi ke kamar mandi.”

Seorang aktivis dan blogger Azerbaijan, Bakhtiyar Hajiyev, dipenjara dan dipukuli di negara asalnya tersebut dengan tuduhan menghindari dinas militer. Penyelidikan Pegasus mengukuhkan bahwa nomor teleponnya ada dalam daftar target. Kepada VOA, Rabu (21/7), ia mengatakan bahwa ia terus-menerus diancam.

Presiden Prancis Emmanuel Macron (tengah) diapit oleh Perdana Menteri Prancis Jean Castex (kiri) dan Sekretaris Jenderal Istana Elysee Alexis Kohler (kanan) memulai pertemuan keamanan nasional untuk membahas spyware Pegasus. (Foto: AFP)

Presiden Prancis Emmanuel Macron (tengah) diapit oleh Perdana Menteri Prancis Jean Castex (kiri) dan Sekretaris Jenderal Istana Elysee Alexis Kohler (kanan) memulai pertemuan keamanan nasional untuk membahas spyware Pegasus. (Foto: AFP)

“Tidak ada satu hari atau minggu pun yang berlalu tanpa ancaman. Ancaman-ancaman itu muncul dalam berbagai bentuk, serangan siber, pemerasan atau kampanye kotor. Bahkan hari ini, beberapa menit sebelum wawancara ini, lembaga penegak hukum memberitahu dan memperingatkan saya bahwa jika saya tidak berhenti mengkritik pemerintah Azerbaijan, mereka akan mulai melakukan kampanye kotor yang baru terhadap saya untuk merusak dan menghancurkan reputasi saya,” papar Bakhtiyar Hajiyev.

Dalam pernyataan Rabu (21/7), USAGM, Badan Media Global Amerika mengatakan, mereka marah atas laporan bahwa lebih dari 180 jurnalis – termasuk dari Voice of America dan Radio Free Europe/Radio Liberty tampaknya telah menjadi sasaran piranti canggih spyware. Penjabat CEO USAGM Kelu Chao mengatakan, “Menarget percakapan pribadi wartawan dengan cara apa pun adalah tidak masuk akal.” [ka/jm]

[ad_2]

Continue Reading

EROPA

Merkel Bela Kesepakatan dengan AS soal Pipa Gas Alam Rusia 

Merkel Bela Kesepakatan dengan AS soal Pipa Gas Alam Rusia 

[ad_1]

Kanselir Jerman Angela Merkel, Kamis (22/7) membela kesepakatan kompromi dengan Amerika untuk mengizinkan dirampungkannya pipa gas alam Nord Stream 2 guna mengangkut bahan bakar dari Rusia ke Jerman tanpa pengenaan sanksi lebih jauh oleh Amerika.

Ia menyebut perjanjian tersebut, yang diumumkan Rabu (21/7) antara Berlin dan Washington, “baik untuk Ukraina,” meskipun jalur Nord Stream 2 senilai $11 miliar, yang telah selesai 98%, akan mengabaikan Ukraina dan Polandia. Jerman dan AS mengatakan berkomitmen memblokir setiap upaya Moskow untuk menggunakan jalur baru sebagai senjata politik guna mengontrol pasokan energi ke Eropa.

Jerman dan AS setuju untuk mendanai proyek energi dan pembangunan alternatif di Ukraina dan Polandia, meskipun kedua negara menyampaikan ketidaksenangannya pada perjanjian tersebut, dengan mengatakan perjanjian itu tidak cukup untuk mengurangi ancaman dikuasainya energi oleh Rusia.

“Perbedaan tetap ada. Kami melihat itu dalam reaksi kemarin,” kata Merkel kepada wartawan di Berlin, mengakui adanya tentangan mengenai kesepakatan itu di Kongres AS.

Para menteri luar negeri Ukraina dan Polandia dalam pernyataan bersama mengatakan perjanjian Jerman-AS itu menciptakan “ancaman politik, militer dan energi untuk Ukraina dan Eropa Tengah, sementara meningkatkan potensi Rusia untuk mengacaukan situasi keamanan di Eropa.”

Anggota Kongres dari Partai Republik dan Partai Demokrat juga bereaksi negatif. Senator Republik John Barrasso dalam sidang Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS mengatakan, “Presiden memberi Rusia senjata geopolitik baru.”

Senator Demokrat Jeanne Shaheen

Senator Demokrat Jeanne Shaheen

Meskipun Jerman telah berkomitmen untuk mengeluarkan $245 juta untuk pengembangan energi baru di Ukraina, Senator Demokrat Jeanne Shaheen mempertanyakan pentingnya hal itu.

Shaheen, yang mensponsori undang-undang sanksi Nord Stream 2, mengatakan Presiden Rusia Vladimir Putin “telah menjelaskan melalui retorika dan tindakannya bahwa ia akan menghindari persyaratan apa pun yang diajukan pihak Barat untuk memajukan agenda Kremlin.”

Tetapi pemerintahan Presiden Joe Biden, yang ingin memperbaiki hubungan dengan Jerman yang rusak di bawah mantan Presiden Donald Trump, mengatakan pembangunan pipa itu sudah terlalu jauh untuk sekarang dicampakkan.

Merkel mengatakan Jerman sekarang memiliki “banyak pekerjaan rumah” sambil berharap bisa menengahi perpanjangan kesepakatan yang ada untuk transit gas Rusia melalui Ukraina yang membayar miliaran dolar biaya transit ke Kyiv namun akan berakhir pada 2024. Jerman juga ingin membalikkan aliran dari sistim pasokan gas Eropa ke Ukraina. [my/jm]

[ad_2]

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending Dari BuzzFeed

close