Connect with us

EROPA

Uni Eropa ‘Serius’ Mengkaji Proposal atas Irlandia Utara

Uni Eropa ‘Serius’ Mengkaji Proposal atas Irlandia Utara

[ad_1]

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, Kamis (22/7) mendesak Uni Eropa untuk secara “serius” mengkaji proposal Inggris agar merombak kesepakatan perdagangan pasca-Brexit dengan Irlandia Utara, namun menghadapi perlawanan segera dari Brussels.

Kepada Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, Johnson mengemukakan dalam sebuah pembicaraan telepon bahwa apa yang disebut protokol Irlandia Utara itu “tidak bisa dipertahankan” dan membutuhkan “perubahan signifikan”.

Dalam sebuah dokumen setebal 28 halaman yang diterbitkan hari Rabu (21/7), pemerintahan Johnson menuntut Uni Eropa untuk merundingkan kembali protokol Irlandia Utara itu setelah terjadi huru-hara dan gangguan bisnis di provinsi tersebut.

“Ia mendesak Uni Eropa untuk mengkaji proposal itu dengan serius dan bekerjasama dengan Inggris,” kata seorang juru bicara Downing Street tak lama setelah percakapan tersebut.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen. (Foto: dok).

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen. (Foto: dok).

Namun dalam cuitan yang dirilis pada waktu yang hampir bersamaan, von der Leyen mengungkapkan telah menjelaskan oposisi blok kawasan itu untuk meninjau ulang pakta tersebut, yang mulai berlaku pada awal tahun ini.

“Uni Eropa akan terus bekerja secara kreatif dan fleksibel dalam kerangka Protokol itu,” von der Leyen menjelaskan lebih lanjut. “Tetapi kami tidak akan melakukan negosiasi ulang.”

Dalam proposalnya, London tidak secara langsung menangguhkan protokol itu, yang mensyaratkan pemeriksaan barang yang masuk dari daratan Inggris, dan sebaliknya menyerukan “perubahan signifikan”.

Inggris menuntut agar EU untuk waktu yang tidak ditentukan menghapus masa tenggang ad-hoc untuk pemeriksaan tertentu di perbatasan dan membekukan tindakan hukum yang dikenakan terhadap Inggris karena ketidakpatuhan, sebagai bagian dari ” sebuah kurun waktu diam” yang memungkinkan penyelenggaraan perundingan yang baru.

Inggris juga menginginkan masukan yang lebih banyak terkait peraturan yang diadopsi di provinsi tersebut dan penghapusan peran pengawasan oleh Pengadilan Eropa.

Pengaturan ini dinegosiasikan untuk menghindari kehadiran perbatasan fisik nyata dengan Irlandia, yang memungkinan Irlandia Utara bertahan di pasar tunggal Uni Eropa.

Irlandia Utara, yang menderita konflik sektarian selama tiga dekade sampai sebuah persetujuan damai tercapai pada tahun 1998, digoncang oleh kekerasan tahun ini, sebagian disebabkan oleh penentangannya terhadap protokol tersebut.

Banyak kelompok yang mendukung persatuan dengan Inggris menilai protokol itu menciptakan sebuah perbatasan de facto di Laut Irlandia dengan daratan Inggris, dan sebagai akibatnya mereka merasa dikhianati, sementara banyak bisnis terutama supermarket kesulitan untuk beradaptasi dengan aturan-aturan baru itu. [mg/jm]

[ad_2]

Advertisement
Click to comment

EROPA

Pasca Peretasan Pegasus, Wartawan Merasa Terus Dimata-matai

Pasca Peretasan Pegasus, Wartawan Merasa Terus Dimata-matai

[ad_1]

Semakin terbongkar bahwa perusahaan swasta Israel, NSO Group, menjual Pegasus kepada pemerintahan di seluruh dunia. Sebagian pembeli piranti lunak peretas tersebut menggunakannya untuk menarget jurnalis dan aktivis hak asasi, bahkan para pemimpin pemerintahan, termasuk Presiden Perancis Emmanuel Macron.

Macron telah meminta dilakukannya penyelidikan, dan Israel mengatakan pihaknya menunjuk satuan tugas untuk menyelidiki.

NSO mengatakan spyware dimaksudkan membantu menangkap penjahat dan teroris. Namun hasil penyelidikan internasional yang dimulai oleh Forbidden Stories, organisasi nirlaba jurnalisme yang berbasis di Paris, dan Amnesty International, organisasi HAM yang berbasis di Inggris, terhadap apa yang dikenal sebagai Proyek Pegasus, itu mendapati bahwa spyware telah digunakan secara luas oleh kelompok 10 negara untuk menarget jurnalis dan aktivis, meretas ponsel mereka, dan bahkan membajak kendali kamera ponsel mereka

“Arab Saudi, Azerbaijan, Meksiko, Maroko, negara-negara itu dikenal bagaimana mereka bersikap terhadap jurnalis, terhadap pembela hak asasi. Pemerintahan negara-negara itu melacak mereka,” kata Laurent Richard dari Forbidden Stories kepada VOA.

“Di Meksiko, kami mendapati nomor telepon seorang jurnalis muncul dalam daftar itu dan dua bulan kemudian dia dibunuh. Kami juga mempunyai bukti bahwa tunangan Jamal Khashoggi diawasi oleh piranti lunak itu setelah pembunuhan Jamal Khashoggi,” tambahnya.

Salah seorang wartawan di Rwanda yang menjadi sasaran mata-mata itu bekerja untuk VOA. Seorang jurnalis yang ditarget Azerbaijan, Sevinc Vaqifqizi, mengatakan kepada VOA bahwa privasinya hancur.

“Mulai sekarang, kalian tahu bahwa di mana pun kalian berada, ada yang mengikuti kalian, mengawasi, melihat kalian, merekam percakapan kalian, mengarahkan kalian untuk pergi ke mana. Ke mana pun kalian pergi atau melakukan apapun, kalian berada di bawah kendali seseorang, dan mereka dapat melihat dan merekam apapun yang kalian lakukan, apakah sedang tidur, berdiri, berada di dapur, atau bahkan pergi ke kamar mandi.”

Seorang aktivis dan blogger Azerbaijan, Bakhtiyar Hajiyev, dipenjara dan dipukuli di negara asalnya tersebut dengan tuduhan menghindari dinas militer. Penyelidikan Pegasus mengukuhkan bahwa nomor teleponnya ada dalam daftar target. Kepada VOA, Rabu (21/7), ia mengatakan bahwa ia terus-menerus diancam.

Presiden Prancis Emmanuel Macron (tengah) diapit oleh Perdana Menteri Prancis Jean Castex (kiri) dan Sekretaris Jenderal Istana Elysee Alexis Kohler (kanan) memulai pertemuan keamanan nasional untuk membahas spyware Pegasus. (Foto: AFP)

Presiden Prancis Emmanuel Macron (tengah) diapit oleh Perdana Menteri Prancis Jean Castex (kiri) dan Sekretaris Jenderal Istana Elysee Alexis Kohler (kanan) memulai pertemuan keamanan nasional untuk membahas spyware Pegasus. (Foto: AFP)

“Tidak ada satu hari atau minggu pun yang berlalu tanpa ancaman. Ancaman-ancaman itu muncul dalam berbagai bentuk, serangan siber, pemerasan atau kampanye kotor. Bahkan hari ini, beberapa menit sebelum wawancara ini, lembaga penegak hukum memberitahu dan memperingatkan saya bahwa jika saya tidak berhenti mengkritik pemerintah Azerbaijan, mereka akan mulai melakukan kampanye kotor yang baru terhadap saya untuk merusak dan menghancurkan reputasi saya,” papar Bakhtiyar Hajiyev.

Dalam pernyataan Rabu (21/7), USAGM, Badan Media Global Amerika mengatakan, mereka marah atas laporan bahwa lebih dari 180 jurnalis – termasuk dari Voice of America dan Radio Free Europe/Radio Liberty tampaknya telah menjadi sasaran piranti canggih spyware. Penjabat CEO USAGM Kelu Chao mengatakan, “Menarget percakapan pribadi wartawan dengan cara apa pun adalah tidak masuk akal.” [ka/jm]

[ad_2]

Continue Reading

EROPA

Merkel Bela Kesepakatan dengan AS soal Pipa Gas Alam Rusia 

Merkel Bela Kesepakatan dengan AS soal Pipa Gas Alam Rusia 

[ad_1]

Kanselir Jerman Angela Merkel, Kamis (22/7) membela kesepakatan kompromi dengan Amerika untuk mengizinkan dirampungkannya pipa gas alam Nord Stream 2 guna mengangkut bahan bakar dari Rusia ke Jerman tanpa pengenaan sanksi lebih jauh oleh Amerika.

Ia menyebut perjanjian tersebut, yang diumumkan Rabu (21/7) antara Berlin dan Washington, “baik untuk Ukraina,” meskipun jalur Nord Stream 2 senilai $11 miliar, yang telah selesai 98%, akan mengabaikan Ukraina dan Polandia. Jerman dan AS mengatakan berkomitmen memblokir setiap upaya Moskow untuk menggunakan jalur baru sebagai senjata politik guna mengontrol pasokan energi ke Eropa.

Jerman dan AS setuju untuk mendanai proyek energi dan pembangunan alternatif di Ukraina dan Polandia, meskipun kedua negara menyampaikan ketidaksenangannya pada perjanjian tersebut, dengan mengatakan perjanjian itu tidak cukup untuk mengurangi ancaman dikuasainya energi oleh Rusia.

“Perbedaan tetap ada. Kami melihat itu dalam reaksi kemarin,” kata Merkel kepada wartawan di Berlin, mengakui adanya tentangan mengenai kesepakatan itu di Kongres AS.

Para menteri luar negeri Ukraina dan Polandia dalam pernyataan bersama mengatakan perjanjian Jerman-AS itu menciptakan “ancaman politik, militer dan energi untuk Ukraina dan Eropa Tengah, sementara meningkatkan potensi Rusia untuk mengacaukan situasi keamanan di Eropa.”

Anggota Kongres dari Partai Republik dan Partai Demokrat juga bereaksi negatif. Senator Republik John Barrasso dalam sidang Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS mengatakan, “Presiden memberi Rusia senjata geopolitik baru.”

Senator Demokrat Jeanne Shaheen

Senator Demokrat Jeanne Shaheen

Meskipun Jerman telah berkomitmen untuk mengeluarkan $245 juta untuk pengembangan energi baru di Ukraina, Senator Demokrat Jeanne Shaheen mempertanyakan pentingnya hal itu.

Shaheen, yang mensponsori undang-undang sanksi Nord Stream 2, mengatakan Presiden Rusia Vladimir Putin “telah menjelaskan melalui retorika dan tindakannya bahwa ia akan menghindari persyaratan apa pun yang diajukan pihak Barat untuk memajukan agenda Kremlin.”

Tetapi pemerintahan Presiden Joe Biden, yang ingin memperbaiki hubungan dengan Jerman yang rusak di bawah mantan Presiden Donald Trump, mengatakan pembangunan pipa itu sudah terlalu jauh untuk sekarang dicampakkan.

Merkel mengatakan Jerman sekarang memiliki “banyak pekerjaan rumah” sambil berharap bisa menengahi perpanjangan kesepakatan yang ada untuk transit gas Rusia melalui Ukraina yang membayar miliaran dolar biaya transit ke Kyiv namun akan berakhir pada 2024. Jerman juga ingin membalikkan aliran dari sistim pasokan gas Eropa ke Ukraina. [my/jm]

[ad_2]

Continue Reading

EROPA

Presiden Perancis Adakan Pertemuan Keamanan Nasional untuk Bahas Pegasus

Presiden Perancis Adakan Pertemuan Keamanan Nasional untuk Bahas Pegasus

[ad_1]

Presiden Perancis Emmanuel Macron mengadakan pertemuan keamanan nasional yang mendesak, Kamis (22/7), untuk membahas spyware Pegasus buatan Israel setelah laporan tentang penggunaannya di Perancis muncul pekan ini.

“Presiden memantau isu ini dengan cermat dan menganggapnya sangat serius,” kata juru bicara pemerintah Gabriel Attal kepada radio France Inter. Ia menambahkan bahwa pertemuan keamanan nasional yang tidak dijadwalkan itu didedikasikan untuk masalah Pegasus dan pertanyaan tentang keamanan siber.

Sebuah konsorsium perusahaan media, termasuk Washington Post, Guardian dan harian Perancis Le Monde, melaporkan, Selasa (20/7), bahwa salah satu nomor ponsel Macron dan banyak menteri kabinet ada dalam daftar bocoran target potensial Pegasus.

Koran-koran itu mengatakan mereka tidak dapat memastikan apakah peretasan telah terjadi tanpa menganalisis ponsel presiden secara forensik.

Ilustrasi peretasan pada smartphone di Paris, menampilkan situs web NSO Group Israel yang menampilkan spyware 'Pegasus', 21 Juli 2021. (AFP)

Ilustrasi peretasan pada smartphone di Paris, menampilkan situs web NSO Group Israel yang menampilkan spyware ‘Pegasus’, 21 Juli 2021. (AFP)

Bukti percobaan peretasan ditemukan pada perangkat ponsel mantan menteri lingkungan dan sekutu dekat Macron, Francois de Rugy. Percobaan peretasan itu diduga berasal dari Maroko.

De Rugy, Selasa (20/7), menuntut agar Maroko memberikan “penjelasan kepada Perancis, kepada pemerintah Perancis dan individu seperti saya, yang merupakan anggota pemerintah Perancis ketika ada upaya untuk meretas dan mengakses data di ponsel saya.”

NSO Group, perusahaan yang membuat Pegasus, telah membantah bahwa Macron termasuk di antara target kliennya.

“Kami dapat memastikan bahwa presiden Perancis, Macron, bukanlah target,” kata Chaim Gelfand, kepala urusan kepatuhan hukum NSO Group, kepada jaringan televisi Israel i24, Rabu.

Sebuah sumber yang dekat dengan Macron menyepelekan kemungkinan telepon Macron bisa diretas. Ia mengatakan, Rabu (21/7), bahwa pemimpin berusia 43 tahun itu memiliki beberapa ponsel yang “secara teratur diubah, diperbarui, dan diamankan”.

Berbicara kepada AFP dengan syarat namanya dirahasiakan, sumber itu mengatakan bahwa pengaturan keamanan alat komunikasi presiden itu luar biasa ketat.

Presiden Perancis Emmanuel Macron (tengah) memimpin pertemuan pertemuan keamanan nasional untuk membahas spyware Pegasus di ruang Jupiter di The Elysee Presidential Palace, Paris, 22 Juli 2021. (AFP)

Presiden Perancis Emmanuel Macron (tengah) memimpin pertemuan pertemuan keamanan nasional untuk membahas spyware Pegasus di ruang Jupiter di The Elysee Presidential Palace, Paris, 22 Juli 2021. (AFP)

Banyak media pemberitaan mengungkapkan pekan ini bahwa Maroko, yang merupakan sekutu dekat Perancis, juga menarget beberapa jurnalis terkenal di Perancis.

Kantor kejaksaan di Paris telah membuka penyelidikan menyusul munculnya keluhan-keluhan yang diajukan situs investigasi Mediapart dan surat kabar satire Le Canard Enchaine.

Maroko telah membantah klaim tersebut, dengan mengatakan tidak pernah memperoleh perangkat lunak komputer itu untuk meretas perangkat komunikasi.

Investigasi bersama sejumlah media terhadap Pegasus mengidentifikasi setidaknya ada 180 jurnalis di 20 negara yang telah menjadi target potensial antara 2016 hingga Juni 2021.

Pegasus dapat meretas ponsel tanpa sepengetahuan pengguna, memungkinkan klien piranti itu membaca setiap pesan, melacak lokasi pengguna, serta memanfaatkan kamera dan mikrofon ponsel. [ab/uh]

[ad_2]

Continue Reading

Trending Dari BuzzFeed

close