Connect with us

VIRUS CORONA

Uni Eropa Berharap Capai ‘Kekebalan Komunitas’ Bulan Juni

Uni Eropa Berharap Capai ‘Kekebalan Komunitas’ Bulan Juni



Meskipun upaya vaksinasi tampak kendur, Uni Eropa hari Selasa (6/4) menyatakan masih menarget pencapaian “kekebalan komunitas yang memadai” pada akhir Juni 2021.

Komisi Eropa menyatakan ingin melakukan vaksinasi minimal 70% dari seluruh penduduk kelompok orang dewasa pada akhir musim panas tahun ini.

Akan tetapi organisasi itu mengandalkan produksi vaksin kuartal kedua yang kuat untuk mencapai ambang kekebalan pada akhir Juni 2021.

Sekitar 107 juta dosis sudah terdistribusikan dan hingga 360 juta vaksin dijadwalkan untuk 3 bulan mendatang. Uni Eropa menyampaikan target itu dapat tercapai.

“Berdasarkan hal ini, kami yakin akan memiliki dosis vaksin yang cukup untuk mencapai target yang sangat penting sekitar 70% penduduk dewasa,” kata juru bicara Komisi Eropa Stefan De Keersmaecker.

“Itu akan membawa kita berada dalam situasi yang memiliki kekebalan komunitas yang cukup untuk melawan virus,” katanya.

Namun Komisi Eropa itu menambahkan syarat utamanya bahwa target itu berdasarkan pada pengiriman vaksin secara cepat, dan di 27 negara anggota yang meluncurkan distribusi tidak ada kendala yang signifikan, seperti yang telah terjadi pada kuartal pertama tahun ini. [mg/lt]



Source link

Advertisement
Click to comment

VIRUS CORONA

Lebih Banyak Vaksin Bukan Jawaban Lonjakan Pandemi di Michigan

Lebih Banyak Vaksin Bukan Jawaban Lonjakan Pandemi di Michigan



Tim Tanggapan COVID-19 Gedung Putih hari Senin (12/4) mengatakan lebih banyak vaksin bukan jawaban terhadap lonjakan kasus baru virus corona di negara bagian Michigan.

Pernyataan itu disampaikan sehari setelah Gubernur Michigan Gretchen Whitmer bicara di program “Face the Nation” dan menyerukan kepada Gedung Putih untuk mengubah rencana distribusi vaksin ke negara-negara bagian – yang saat ini didasarkan pada jumlah penduduk yang ada – guna membantu negara-negara bagian memperlambat perebakan virus mematikan itu.

Michigan saat ini memiliki tingkat perebakan COVID-19 tertinggi di Amerika dan jumlah orang yang dirawat di rumah sakit hampir melumpuhkan sistem layanan kesehatan mereka.

Tetapi, berbicara dalam konperensi pers singkat secara virtual di Gedung Putih Selasa lalu (6/4), Direktur Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS (CDC) Rochelle Walensky mengatakan dibutuhkan waktu antara 2-6 minggu untuk melihat dampak vaksin.

Walensky mengatakan cara terbaik untuk mengatasi situasi di Michigan adalah “menghentikan seluruh kegiatan,” cara yang dilakukan Amerika ketika pandemi pertama kali merebak setahun lalu.

Gretchen Whitmer, yang seorang Demokrat, sejauh ini telah menyerukan penangguhan dimulainya kembali pembelajaran tatap muka untuk siswa SMA, juga untuk kegiatan olahraga remaja dan makan di dalam restoran atau indoor dining. Tetapi ia belum benar-benar mewujudkan pembatasan baru apapun. Tahun lalu ia dikritik tajam oleh anggota-anggota Partai Republik di dewan legislatif negara bagian itu karena langkah-langkah yang diambilnya.

Sejauh ini Michigan masih menerapkan kewajiban mengenakan masker dan pembatasan jumlah orang dalam kegiatan atau pertemuan di luar ruangan, namun Whitmer tidak mengesampingkan kemungkinan pembatasan lebih jauh.

Penasehat Senior Gedung Putih Untuk Penanganan COVID-19 Andy Slavitt mengatakan pemerintah telah mengirim lebih banyak personil Badan Manajemen Darurat Federal FEMA ke Michigan untuk mempercepat proses vaksinasi. Pihaknya juga mengirim lebih banyak diagnosa hasil uji medis COVID-19 dan membuka lebih banyak fasilitas pengujian.

Pemerintah juga bersiap mengirim lebih banyak perawatan teraputik akibat COVID-19. [em/jm]



Source link

Continue Reading

VIRUS CORONA

Pasar di Tunisia Ramai Jelang Ramadan karena Tradisi dan Takut Harga Naik

Pasar di Tunisia Ramai Jelang Ramadan karena Tradisi dan Takut Harga Naik


Orang-orang datang ke pasar makanan di kota lama Tunis untuk berbelanja menjelang bulan Ramadan. Ini merupakan kebiasaan bagi banyak Muslim untuk menyambut Ramadan dengan berbelanja, yang kebanyakan berupa produk-produk makanan.

Tahun ini, sebagian dari mereka tergerak untuk berbelanja karena khawatir kenaikan harga-harga akan membuat sejumlah bahan makanan menjadi tak terjangkau bagi mereka.

Seorang warga setempat bernama Hedia mengatakan, “Semuanya sangat mahal sekarang ini, semuanya. Cabai, tomat, semuanya mahal. Bagaimana nanti harga-harga selama Ramadan?.”

Hedia menambahkan satu pak telur berisi empat butir, harganya senilai sekitar 5.800 rupiah, dan tidak ada produk yang harganya tidak naik.

Residents wearing face masks shop for the Ramadan in Tunis, Thursday, April 23, 2020.

Residents wearing face masks shop for the Ramadan in Tunis, Thursday, April 23, 2020.

Salah, seorang warga setempat, menambahkan, “Kedatangan orang-orang ke pasar dipengaruhi masalah keuangan, karena orang khawatir harga-harga akan naik nantinya dan ini juga tergantung pada berapa banyak uang yang mereka miliki sekarang ini. Bagi yang lainnya, belanja ini terkait tradisi Tunisia, yang akan mendorong kenaikan harga.”

Sementara itu, seorang pedagang buah, Mohamed Salah, mengemukakan, “Orang berdatangan di pasar sebelum Ramadan karena kebiasaan, di mana Muslim menyambut bulan ini dengan membeli kebutuhan mereka. Mereka membeli produk-produk yang dapat disimpan beberapa hari sebelum Ramadan dan membeli keperluan tambahan saja selama Ramadan.”

Yang lainnya ke pasar untuk berbelanja pada saat-saat terakhir menjelang diberlakukannya langkah-langkah terkait pandemi virus corona.

Tunisia memperketat jam larangan keluar rumah pada malam hari menjelang Ramadan karena meningkatnya kasus COVID-19 di berbagai penjuru negara di Afrika Utara itu.

Seorang perempuan berjalan kaki di tengah pandemi COVID-19 di Tunisia. 9 April 2021. Tunisia memperpanjang jam malam malamnya tiga jam dan memperketat pembatasan lain menjelang Ramadan, menyusul peningkatan kasus COVID-19..

Seorang perempuan berjalan kaki di tengah pandemi COVID-19 di Tunisia. 9 April 2021. Tunisia memperpanjang jam malam malamnya tiga jam dan memperketat pembatasan lain menjelang Ramadan, menyusul peningkatan kasus COVID-19..

Bulan puasa biasanya ditandai dengan kerumunan banyak orang di toko-toko, kafe-kafe dan tempat-tempat umum lainnya, serta pertemuan keluarga di berbagai penjuru negara itu.

Pihak berwenang memperpanjang jam malam yang berlaku dari pukul 7 malam hingga pukul 5 pagi, dimulai sekitar tiga jam lebih cepat daripada jam malam yang semula diberlakukan mulai pukul 10 malam. Efektif mulai Jumat pekan lalu, jam malam tersebut diberlakukan setidaknya hingga 30 April.

Tetapi banyaknya orang yang datang ke pasar-pasar tidak membawa kabar baik bagi pemilik usaha.

Seorang warga Tunisia berbelanja untuk kebutuhan menjelang Ramadan, di sebuah pasar di Tunisia, Kamis, 23 April 2020.

Seorang warga Tunisia berbelanja untuk kebutuhan menjelang Ramadan, di sebuah pasar di Tunisia, Kamis, 23 April 2020.

Penjual busana tradisional mengatakan sekarang ini biasanya adalah masa-masa yang paling menjanjikan dalam setahun. Tetapi Ali, salah seorang penjual baju tersebut, mengatakan, “Ramadan adalah kesempatan yang kami tunggu-tunggu untuk menjual busana perempuan tetapi sekarang ini, tidak ada yang terjual. Tidak ada warga Tunisia yang mencari baju, baik untuk anak-anak maupun orang dewasa.”

Bayangan kekecewaan menggantung di atas negara di Afrika Utara itu, yang telah mengalami tekanan akibat ekonomi yang bermasalah dan janji-janji yang tidak dipenuhi. Pemerintah belum mampu mengubah perekonomian yang berada di ambang kebangkrutan.

Menurut angka-angka terbaru yang diterbitkan pekan lalu oleh Kementerian Kesehatan Tunisia, jumlah kematian akibat COVID-19 lebih dari 9.000, dengan kasus secara keseluruhan mendekati 265 ribu di antara 11,7 juta orang penduduk negara itu.

PM Hichem Mechichi telah mengesampingkan tindakan lockdown nasional yang baru, mengingat apa yang ia katakan sebagai situasi ekonomi yang sulit di negara itu sekarang ini. [uh/ab]



Source link

Continue Reading

VIRUS CORONA

India Lampaui Brazil Sebagai Negara Terpukul Parah ke-2 oleh COVID-19

India Lampaui Brazil Sebagai Negara Terpukul Parah ke-2 oleh COVID-19


India, Senin (12/4) mengambil alih posisi Brazil sebagai negara dengan jumlah kasus virus corona terbanyak kedua, sewaktu melaporkan rekor harian baru lebih dari 168 ribu kasus.

Negara berpenduduk 1,3 miliar orang itu telah melaporkan peningkatan kasus baru yang pesat dalam beberapa pekan ini, dengan lonjakan yang menyebabkan total kasus mencapai 13,5 juta, melebihi Brazil yang mencatat 13,48 juta.

Para pakar memperingatkan bahwa kerumunan orang dalam jumlah besar, yang kebanyakan tidak mengenakan masker dan berdesak-desakan pada berbagai rapat umum politik di negara bagian-negara bagian yang menyelenggarakan pemilu, festival keagamaan besar-besaran dan di berbagai tempat umum lainnya telah memicu gelombang baru infeksi.

Umat berkumpul untuk berdoa di tepi sungai Gangga saat berlangsungya Kumbh Mela, atau Festival Pitcher, di tengah pandemi COVID-19, di Haridwar, India, 10 April 2021. (REUTERS / Danish Siddiqui)

Umat berkumpul untuk berdoa di tepi sungai Gangga saat berlangsungya Kumbh Mela, atau Festival Pitcher, di tengah pandemi COVID-19, di Haridwar, India, 10 April 2021. (REUTERS / Danish Siddiqui)

“Negara seluruhnya telah berpuas diri – kita membiarkan pertemuan sosial, keagamaan dan politik,” kata Rajib Dasgupta, profesor kesehatan di Jawaharlal Nehru University kepada AFP. “Tak seorang pun yang antre untuk menjaga jarak sosial lagi.”

India telah mencatat lebih dari 873 ribu kasus dalam tujuh hari terakhir suatu peningkatan 70 persen dibandingkan dengan pekan sebelumnya, berdasarkan data yang dikumpulkan AFP.

People sit in an observation room after getting a dose of the Covishield, AstraZeneca-Oxford's Covid-19 coronavirus vaccine at the Saifee Hospital after vaccinations restarted at all city private hospitals, in Mumbai on April 12, 2021. (Photo by Indranil

People sit in an observation room after getting a dose of the Covishield, AstraZeneca-Oxford’s Covid-19 coronavirus vaccine at the Saifee Hospital after vaccinations restarted at all city private hospitals, in Mumbai on April 12, 2021. (Photo by Indranil

Sebagai perbandingan, Brazil mencatat sedikit di atas 497 ribu kasus dengan tren kenaikan 10 persen dari pekan sebelumnya.

AS, yang paling parah terpukul karena pandemi ini, melaporkan sedikit di bawah 490 ribu kasus dengan tren peningkatan sembilan persen.

Lonjakan di India, setelah mencatat penambahan kasus harian turun di bawah 9.000 pada awal Februari, telah menyebabkan banyak negara bagian dan teritori yang terimbas parah memberlakukan pembatasan pada pergerakan dan aktivitas.

Negara bagian terkaya, Maharashtra, yang menjadi penggerak utama lonjakan kasus, pekan lalu memberlakukan lockdown akhir pekan dan jam malam.

Jembatan JJ terlihat sepi saat pemerintah memberlakukan lockdown di tengah meningkatnya kasus virus COVID-19 di Mumbai, 10 April 2021. (Foto: Punit PARANJPE / AFP)

Jembatan JJ terlihat sepi saat pemerintah memberlakukan lockdown di tengah meningkatnya kasus virus COVID-19 di Mumbai, 10 April 2021. (Foto: Punit PARANJPE / AFP)

Tetapi Maharashtra telah memperingatkan bahwa lockdown total, suatu langkah drastis yang diupayakan dihindari oleh pemerintah nasional dan negara bagian untuk melindungi ekonomi yang telah hancur, dapat diberlakukan dalam beberapa hari mendatang karena jumlah kasus terus meningkat.

“Solusinya adalah semua orang tinggal di rumah selama dua bulan dan mengakhiri pandemi ini selamanya. Tetapi masyarakat tidak menyimak,” kata Rohit, pelayan di sebuah restoran populer di Mumbai. “Tidak seorang pun mengikuti peraturan di restoran. Kalau kami memberitahu pelanggan untuk mengenakan masker, mereka bersikap kasar dan tidak sopan kepada kami.”

Menteri utama ibu kota India, New Delhi, di mana jam malam diberlakukan, hari Minggu mengatakan bahwa 65 persen pasien baru COVID-19 berusia kurang dari 45 tahun. Pemerintah setempat tidak mendukung lockdown, tetapi akan mempertimbangkan pemberlakuannya apabila rumah sakit mulai kekurangan tempat tidur. [uh/ab]



Source link

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending Dari BuzzFeed

close