Feed

Uji Perangkat Jemala Pembaca Otak, Teknologi Mutakhir untuk Pulihkan Stroke

Oswald Reedus (68) menderita stroke pada September 2014. Ia kehilangan kemampuan berbicara, berjalan, dan menggerakkan lengan kirinya. Istrinya, Elizabeth Reedus, menelepon layanan panggilan darurat agar petugas kesehatan datang ke rumah mereka di Richmond, Texas, karena suaminya tidak dapat bicara jelas.

“Sekitar jam tiga pagi, istri saya mengatakan bahwa saya tidak bisa berkata-kata. Dia membangunkan saya dan berkata, ‘Gerakkan lenganmu.’ Ternyata saya tidak bisa menggerakkan lengan saya,” kata Oswald.

Ibu dan adik laki-laki Oswald meninggal akibat stroke. Stroke yang diderita Oswald melumpuhkan sisi kiri tubuhnya dan membuatnya sulit berbicara. “Saya tidak akan pernah meremehkan kesehatan saya lagi,” ungkapnya.

Mantan kurir FedEx yang telah pensiun ini akhirnya dapat berbicara kembali setelah menjalani terapi bertahun-tahun. Meski begitu, ia masih mengalami beberapa kendala akibat afasia, alias gangguan berkomunikasi, yang disebabkan oleh stroke yang dideritanya. Gerak lengan kirinya terbatas, dan ia menggunakan penyangga di kaki kirinya agar bisa berjalan.

Sembilan tahun kemudian, Oswald menjadi pasien stroke pertama di Amerika Serikat yang memakai headset, atau perangkat jemala, dan rangka lengan robotik selama enam minggu di rumahnya.

Ia pun antusias untuk ikut serta dalam uji klinis rangka lengan robotik yang dirancang di University of Houston dan merupakan hasil kolaborasi antara universitas tersebut dengan Rumah Sakit TIRR Memorial Hermann di Houston, Texas.

Rangka lengan robotik itu terhubung ke perangkat jemala portabel yang dapat membaca gelombang otak pemakainya, untuk kemudian memberi instruksi agar rangka lengan robotik tersebut ikut bergerak ketika sang pemakai berpikir untuk menggerakkan lengannya.

Perangkat jemala itu menjadi penghubung antara otak dan komputer, serta dilengkapi lima elektrode (penghantar listrik) yang dipasang pada kulit kepala pemakainya. Perangkat itu akan mengukur aktivitas listrik di otak, yang disebut juga sebagai elektroensefalografi (EEG). Setelah terhubung, rangka lengan robotik akan mulai bergerak saat pemakainya berupaya untuk menggerakkan lengan mereka.

Perancang utama perangkat jemala itu adalah Jose Contreras-Vidal, profesor teknik dari Universitas Houston, sedangkan pemimpin uji klinisnya adalah Dr. Gerard Francisco dari UT Health.

“Perangkat jemala ini mendeteksi keinginan pasien untuk bergerak, dan sinyal dari otak ke lengan robotik membantu mewujudkan gerakan tersebut. Sebaliknya, gerakan tersebut menghasilkan umpan balik ke otak. Ketika terjadi pertemuan antara informasi dari otak ke lengan dan dari lengan ke otak dalam jangka waktu tertentu, maka hal itu akan memicu neuroplastisitas. Proses itulah yang akan mengubah (kerja) otak,” jelas Jose Contreras-Vidal.

Neuroplastisitas sendiri adalah kemampuan otak untuk berubah dan beradaptasi terhadap rangsangan baru.

Menurut pihak University Houston dan Rumah Sakit TIRR Memorial Hermann, rangka lengan robotik kelak dapat membantu pekerjaan ahli fisioterapi yang menangani pasien stroke.

“Robot akan melakukan gerakan yang berulang dan terprediksi. Robot tidak akan lelah, sehingga dapat melakukan pengulangan. Pengulangan gerakan tertentu diperlukan agar dapat memperbaiki bagian otak yang mengendalikan pergerakan tersebut,” kata Dr. Gerard Franscico.

Oswald Reedus, mengenakan perangkat jemala dan rangka lengan robotik yang dikendalikan gelombang otak untuk dapat memulihkan pasien str)

Oswald mengungkapkan bahwa ia mengalami depresi selama delapan tahun akibat stroke yang dideritanya.

“Saya rasa (alat) apapun yang dapat membantu orang seperti saya, adalah sebuah anugerah. Kalau saja (para pengembang perangkat) dapat membuat harga perangkatnya terjangkau, atau pihak asuransi dapat menanggung biayanya, ini akan membantu banyak orang. Seandainya saja perangkat ini juga sudah ada ketika saya terkena stroke waktu itu,” ujarnya.

Contreras-Vidal mengatakan, meskipun perangkat itu belum tersedia untuk masyarakat luas, dia memperkirakan harganya akan setara dengan harga sebuah komputer baru. Timnya masih melakukan serangkaian uji coba dan menggalang dana agar dapat melakukan uji klinis yang lebih besar, serta meminta persetujuan ke Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA).

Perangkat serupa berupa alat penghubung otak dan komputer, serta rangka robotik yang mengendalikan tangan dan pergelangan tangan, pernah dirancang sebelumnya di Washington University di St. Louis, Missouri, dan disetujui oleh FDA pada April 2021 lalu. [br/lt]

Sumber Berita

Apa Reaksimu?

Lainnya Dari BuzzFeed