Connect with us

HEADLINE

Trik Menjaga Kesehatan dan Berat Badan Selama Libur Lebaran

Trik Menjaga Kesehatan dan Berat Badan Selama Libur Lebaran


Lebaran biasanya jadi momen kumpul keluarga, bersantai, sekaligus menyantap makanan lezat. Dalam beberapa hari, Anda pun terbebas dari rutinitas sehari-hari seperti sekolah atau bekerja.

Menikmati momen libur lebaran memang sah-sah saja. Namun, jangan sampai terlena makan berlebihan dan bermalas-malasan. Bukan tak mungkin berat badan akan bertambah selama beberapa hari liburan dan bisa berdampak kurang baik bagi kesehatan secara keseluruhan.

Lantas bagaimana cara untuk menjalani hari-hari liburan agar tetap sehat dan berat badan tak bertambah? Ikuti tips berikut ini:

Hindari makan dengan kalap

Pada hari Lebaran, artinya Anda sudah terbebas dari kewajiban puasa. Kadang, karena merasa bebas makan kapan saja setiap saat, orang sering kelewat asyik mencoba segala hidangan.

Ditambah lagi, hari Lebaran biasanya banyak makanan di rumah, mulai dari ketupat dan lauk pauknya, kue kering, minuman manis, dan aneka camilan. Apalagi sambil kumpul-kumpul dengan keluarga di rumah, mulut tak henti-hentinya mengunyah.

Meski banyak makanan menggiurkan di depan mata, ingatlah untuk menahan diri dan tidak kalap. Sebab, terlalu banyak makan bisa menyebabkan perut begah, tak nyaman, bahkan bisa mengalami gangguan pencernaan. Pastinya, angka di timbangan juga berisiko untuk bergerak ke arah kanan.

Trik jika ingin makan banyak, cobalah berbagai hidangan dalam porsi kecil tapi sering, dibanding makan sangat banyak dalam satu waktu. Cara ini baik dilakukan agar perut tidak kaget dengan perubahan pola makan setelah sebulan penuh berpuasa.

Hindari konsumsi gula dan santan berlebihan

Tak bisa dimungkiri jika berbagai hidangan Lebaran penuh dengan gula santan. Sebut saja nama-nama rendang, opor, gulai, kue kering, keik, minuman bersoda, dan sirup.

Bila tergoda menyantap semua, bayangkan berapa banyak kalori yang dikonsumsi dalam satu hari saja? Akibatnya, bukan hanya perut kembung dan mual, tetapi ada risiko meningkatkan kolesterol dan gula darah. Sebisa mungkin tahan diri Anda untuk makan makanan manis dan bersantan secukupnya.

Selipkan makan sayur dan buah

Sayur dan buah-buahan segar memang tampak tak menarik dibandingkan hidangan khas Lebaran. Namun ingatlah bahwa sayur dan buah mengandung banyak vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh, terutama pada sistem kekebalan tubuh. Ingat, kita masih hidup di masa pandemi yang butuh sistem imun lebih kuat agar tak mudah tertular virus. Buah dan sayur juga mengandung serat yang baik untuk melancarkan sistem pencernaan.

Jangan lupa minum 8 gelas per hari

Pastikan Anda tak lupa minum dua liter air atau delapan gelas per hari. Meski sedang liburan, kebutuhan tubuh akan air tentu harus dipenuhi. Ya, minuman manis memang lebih menggoda, tapi bila dikonsumsi berlebihan bisa membuat Anda lebih cepat haus dan mengalami dehidrasi.

Boleh saja kok tergoda es buah atau sirup, tetapi minum air putih jangan sampai dilupakan. Agar tak terlewat, bisa siapkan air minum di botol besar sehingga Anda tak lupa menghabiskan air di botol tersebut seharian.

Tetap aktif bergerak

Meski lebaran ini tak bisa bepergian, seharusnya jangan jadi alasan untuk bermalas-malasan. Yuk bangkit dari rebahan dan bergerak secara aktif. Kegiatan yang bisa dilakukan antara lain jalan-jalan di sekitar rumah, bersih-bersih, naik-turun tangga di rumah, mendekorasi ulang ruangan, atau bisa juga meluangkan waktu 30 menit saja untuk olahraga ringan. Dengan terus bergerak, tubuh akan lebih bugar dan tak mudah terserang penyakit.

Baca juga:

  • Menjelang Lebaran, Tradisi ‘Andilan’ Warnai Masyarakat Betawi Tempo Dulu





  • Source link

    Advertisement
    Click to comment

    HEADLINE

    Semakin Diandalkan, Instalasi Fintech di Indonesia Ungguli AS dan Rusia

    Semakin Diandalkan, Instalasi Fintech di Indonesia Ungguli AS dan Rusia


    Financial Technology (fintech) bukan lagi menjadi hal yang baru di kalangan masyarakat Indonesia. Jauh sebelum situasi pandemi yang melanda, penggunaan layanan satu ini sejatinya memang sudah cukup populer berbarengan dengan tren cashless yang banyak diandalkan oleh mereka yang menginginkan mobilitas serba praktis.

    Terbukti melalui pertumbuhan yang ada, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Ekonomi) Airlangga Hartarto, dalam salah satu kesempatan menjelaskan mengenai pertumbuhan fintech yang sudah tumbuh pesat di tanah air sejak tahun 2016.

    Dalam gelaran Indonesia Fintech Summit 2020 tahun lalu, Airlangga bahkan menyebut bahwa industri fintech di Indonesia akan tumbuh paling kencang di ASEAN dalam lima tahun ke depan, yang berarti diperkirakan sampai tahun 2025 mendatang.

    Hal tersebut rupanya terbukti, dan didukung dengan kondisi pandemi yang melanda, di mana hampir sebagian besar kegiatan keuangan atau pembayaran yang awalnya masih banyak mengandalkan transaksi tunai, namun karena situasi yang ada mendorong masyarakat untuk beralih melakukan transaksi cashless sebagai salah satu fitur yang dimiliki oleh layanan fintech.

    Tak hanya itu, kondisi perekonomian sebagian besar masyarakat yang sempat terpuruk di tengah situasi pandemi, nyatanya juga mendorong angka pengguna layanan fintech dalam hal pinjaman dana, baik oleh perorangan maupun kelompok atau organisasi.

    Fenomena Gerilya Fintech Ternyata Bisa Bantu Pulihkan Ekonomi Indonesia

    Tingginya permintaan yang dibarengi dengan masifnya instalasi fintech

    transaksi keuangan yang mengandalkan fintech di Indonesia

    info gambar

    Melihat peluang dan kebutuhan masyarakat yang ada, maka tak heran jika belakangan banyak bermunculan pihak yang menghadirkan layanan fintech baru, atau bahkan mentransformasi layanan keuangan konvensional yang sebelumnya dimiliki ke arah layanan keuangan berbasis teknologi.

    Hal tersebut ternyata dibuktikan dengan sebuah laporan berjudul State of Finance App Marketing 2021 yang dimiliki oleh AppsFlyer, sebuah perusahaan atribusi global yang berpusat di San Francisco, California.

    Dijelaskan di sana, bahwa Indonesia menempati posisi ke-3 di dunia dalam hal instalasi fintech melalui aplikasi keuangan, bahkan mengungguli Amerika Serikat dan Rusia yang masing-masing berada di peringkat 4 dan 5, namun masih kalah unggul dengan India yang berada di peringkat 1 dan Brazil di peringkat 2.

    Laporan yang dimiliki AppsFlyer tersebut diperoleh berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap 2,7 miliar instalasi aplikasi di kawasan Asia Pasifik dari kuartal I (Q1) 2019 hingga kuartal I (Q1) 2021. Dengan memantau aplikasi yang terdaftar di kawasan Asia Tenggara–termasuk Indonesia–jajaran aplikasi yang diteliti ini, di antaranya: bank digital, bank konvensional, layanan keuangan, pinjaman, dan investasi online.

    Disebutkan pula, bahwa besarnya populasi penduduk yang dimiliki dan penggunaan layanan fintech oleh masyarakat di Indonesia juga menjadi faktor pendorong negara ini menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang berada di posisi lima besar, dalam hal instalasi aplikasi keuangan.

    Masih berdasarkan laporan yang sama, dijelaskan pula jenis aplikasi keuangan yang paling banyak diunduh dan diandalkan oleh masyarakat Indonesia. Di peringkat pertama, layanan transaksi keuangan layaknya pembayaran nirtunai (mobile payment) yang biasanya berupa layanan dompet digital untuk transaksi cashless, dan manajemen keuangan, dengan persentase sebanyak 40,9 persen.

    Selanjutnya, peringkat kedua dari jenis aplikasi keuangan yang banyak diandalkan masyarakat tanah air yaitu layanan pinjaman online (pinjol) sebanyak 35,7 persen, diikuti layanan bank konvensional–mobile banking–sebesar 13,9 persen, dan aplikasi investasi sebesar 9,5 persen.

    Mengenal Inovasi Keuangan Digital(IKD) Dalam Penyelenggaraan Fintech di Indonesia

    Dampak positif dan negatif pertumbuhan fintech di tanah air

    ilustrasi pengguna layanan fintech

    info gambar

    Bicara soal dampak positif yang dihadirkan oleh pertumbuhan instalasi fintech jelas dirasakan oleh semua pihak, tidak hanya masyarakat yang diberikan kemudahan namun juga pihak penyedia layanan keuangan yang mendapat keuntungan serupa.

    Sebagai contoh dari segi perbankan, deretan layanan perbankan atau bank di Indonesia mengakui adanya peningkatan setelah menerapkan sistem layanan berbasis teknologi kepada masyarakat, baik dari segi peningkatan nasabah ataupun transaksi secara menyeluruh.

    Salah satu yang mengalami pertumbuhan ini di antaranya Bank Central Asia (BCA) yang sejak tahun 2019 memiliki layanan keuangan baru yang memungkinkan masyarakat membuka rekening tabungan dengan sistem online tanpa perlu mendatangi kantor cabang secara langsung.

    Dijelaskan bahwa berkat layanan baru tersebut, BCA mencatatkan jumlah rekening mencapai 2,8 juta di Q1 2021 ini. Lebih detail, persentasi kenaikan pembukaan rekening mencapai 193 persen dibanding tahun sebelumnya atau setara pembukaan 8 ribu rekening per hari.

    Hal yang sama juga diakui oleh pihak layanan perbankan milik negara yaitu Bank Mandiri. Menukil Kontan, layanan pembukaan rekening secara online yang juga dihadirkan membuat Bank Mandiri mendapatkan pembukaan rekening baru yang dilakukan oleh kisaran 3.000 nasabah saban harinya.

    BCA dan Mandiri Masuk 10 Besar Bank Paling Kuat di Dunia Tahun 2021

    Pencapaian yang diraih oleh dua layanan perbankan tersebut nampaknya sejalan dengan harapan yang diungkap oleh Menko Airlangga pada pernyataan sebelumnya, yang menyebut bahwa kemajuan fintech yang ada diharapkan dapat meningkatkan inklusi keuangan di tanah air.

    Terlepas dari segala kemajuan layanan keuangan berbasis fintech yang ada, bukan berarti bahwa industri satu ini aman dari risiko dan dampak negatif yang dikhawatirkan muncul. Nyatanya, kekinian salah satu jenis fintech yaitu pinjaman online (pinjol) yang umumnya menargetkan masyarakat perorangan kerap kali dikeluhkan oleh masing-masing pengguna.

    Permasalahan dan keluhan yang umumnya dijumpai biasanya berupa layanan pinjaman dari fintech yang ada, sering kali dilaporkan memiliki metode penagihan yang bermasalah dan bunga pinjaman yang dianggap terlalu tinggi.

    Oleh karena itu, tak heran jika saat ini banyak dijumpai imbauan sekaligus pedoman mengenai penggunaan berbagai layanan fintech di tanah air, yang sepatutnya dipahami oleh masyarakat sejalan dengan pesatnya pertumbuhan fintech yang kian masif dan diperkirakan akan terus terjadi hingga beberapa tahun ke depan.

    Fintech di Indonesia: Perlu Adanya Perlindungan Masyarakat





    Source link

    Continue Reading

    HEADLINE

    Sepeda, Penguasa Jalan Ibu Kota pada Zaman Hindia Belanda | Good News From Indonesia

    Sepeda, Penguasa Jalan Ibu Kota pada Zaman Hindia Belanda | Good News From Indonesia


    Beberapa waktu lalu, media sosial kembali heboh setelah viral foto pengendara motor yang mengacungkan jari tengah kepada para pesepeda.

    Pemotor yang berpelat nomor wilayah Kebumen itu diketahui melakukan tindakan itu lantaran kesal kepada pesepeda yang menguasai ruas jalan Jenderal Sudirman-MH Thamrin, Jakarta Pusat.

    Kejadian ini mengingkatkan kembali pada zaman dulu, saat kereta angin–julukan sepeda kala itu–sempat menjadi kendaraan yang menguasai Ibu kota.

    #makintahuindonesia#Indonesia#sepeda





    Source link

    Continue Reading

    HEADLINE

    Serba-Serbi Mobil Listrik, dari Cara Kerja Hingga Keunggulan dan Kelemahannya

    Serba-Serbi Mobil Listrik, dari Cara Kerja Hingga Keunggulan dan Kelemahannya


    Saat ini, mobil listrik tengah meramaikan dunia otomotif. Sepanjang tahun 2020, ada beberapa merek mobil listrik yang mulai debut di Indonesia, misalnya Lexus UX 300e, Nissan Kicks e-POWER, Toyota Corolla Cross Hybrid, dan Hyundai Ioniq EV.

    Pemerintah juga tengah menargetkan agar semakin banyak mobil listrik mengaspal di jalanan Tanah Air. Menurut Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita, target produksi kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) pada 2030 adalah 600 ribu unit untuk roda empat atau lebih dan 2,45 juta unit untuk roda dua.

    Taufiek Bawazier selaku Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian mengatakan road map tahun 2025 targetnya 20 persen kendaraan mobil listrik.

    “Dari 2 juta targetnya kalau 20 persen ada sekitar 400 ribu mobil listrik beredar di Indonesia,” ujarnya, seperti dikutip CNBC Indonesia.

    Membahas soal mobil listrik, mungkin masih banyak masyarakat awam yang belum mengerti konsep kendaraan ini, bagaimana cara kerjanya, hingga apa keunggulan mobil ini. Berikut coba kami rangkum dari berbagai sumber.

    Deretan Mobil Listrik yang Dijual di Indonesia, Termahal Dibanderol Rp4 Miliar

    Apa itu mobil listrik?

    Pada dasarnya mobil listrik adalah kendaraan yang sebagian atau sepenuhnya digerakkan oleh motor dengan tenaga listrik. Ini merupakan salah satu inovasi terbarukan dari dunia otomotif. Dengan beralih ke mobil listrik, tentunya hal paling beda adalah pengguna hampir tidak lagi membutuhkan Bahan Bakar Minyak (BBM) seperti pada kendaraan konvensional.

    Secara umum, bagian penting dari mobil listrik adalah baterai, motor listrik, dan modul pengontrol motor. Selain merupakan bagian dari teknologi yang makin canggih, mobil listrik juga diciptakan untuk mengatasi isu lingkungan seperti polusi udara, pemanasan global, dan menipisnya energi minyak bumi.

    Mengisi daya mobil listrik | @Slavun Shutterstock

    info gambar
    Indonesia 2050: Kendaraan Listrik, dan Ambisi Besar Nol Emisi Karbon

    Jenis mobil listrik berdasarkan cara kerja

    Saat ini, jenis mobil listrik terbagi menjadi empat jenis dan dibedakan dari cara kerjanya, yakni Battery Electric Vehicle, Hybrid Electric Vehicle, Plug-in Hybrid Electric Vehicle, dan Fuel Cell Electric Vehicle.

    Berikut penjelasan lebih lengkap mengenai empat jenis mobil listrik:

    Battery Electric Vehicle (BEV)

    BEV merupakan kendaraan yang sepenuhnya beroperasi menggunakan listrik pada baterai. BEV tidak memiliki mesin pembakaran dan untuk mengisi daya dilakukan dengan menghubungkan langsung pada jaringan listrik eksternal. Contoh mobil BEV antara lain Tesla Model 3, BMW i3, Hyundai Ioniq, dan Toyota Rav4.

    Hybrid Electric Vehicle (HEV)

    Umumnya HEV memiliki dua sistem penggerak, yaitu mesin pembakaran dan motor traksi. Nah, untuk mesin pembakaran ini mendapatkan energi dari BBM. Sedangkan untuk motornya mendapat daya dari baterai.

    Disebut standard hybrid, jenis mobil listrik ini baterainya hanya diisi oleh putaran mesin, gerakan roda, atau kombinasi. HEV juga tidak memiliki charging port sehingga baterainya tidak dapat diisi ulang dari luar sistem seperti jaringan listrik PLN. Jenis mobil listrik yang termasuk HEV antara lain Honda Civic Hybrid, Toyota Camry Hybrid, dan Toyota Prius Hybrid.

    Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV)

    Untuk jenis PHEV juga memiliki mesin pembakaran dan motor traksi listrik. Prinsip kerjanya disebut series hybrid, ia menawarkan pilihan untuk tenaga dari sumber energi fosil (seperti bensin), sumber alternatif (seperti biodiesel), dan baterai.

    Perbedaan dengan HEV sebenarnya jenis ini memiliki baterai yang dapat diisi ulang dari sumber listrik eksternal ke charging port di stasiun pengisian mobil listrik. Adapun jenis mobil listrik PHEV yakni Porsche Cayenne S E-Hybrid, Mercedes GLE550e, Mini Cooper SE Countryman, Audi A3 E-Tron, BMW 330e, dan Volvo XC90 T8.

    Fuel Cell Electric Vehicle (FCEV)

    Kemudian ada jenis yang disebut FCEV, kendaraan yang menggunakan teknologi fuel-cell untuk menghasilkan listrik dan dipakai untuk mengaktifkan motor dalam menjalankan kendaraan.

    Secara umum, prinsip kerjanya mirip dengan BEV, akan tetapi jenis ini punya sistem yang dapat mengkonversi energi kimia pada fuel-cell menjadi listrik. Beberapa merek mobil dengan kategori FCEV yaitu onda Clarity Fuel Cell, Hyundai Nexo, dan Toyota Mirai.

    Stasiun pengisian daya mobil listrik | @Bigpixel photo Shutterstock

    info gambar
    Mimpi Panjang Mobil Listrik Indonesia yang Kini Dirajut Kembali

    Plus minus menggunakan mobil listrik

    Mobil listrik memang merupakan tipe kendaraan yang baru. Di Indonesia, penggunanya pun belum sebanyak mobil konvensional. Maka, tentu banyak pertimbangan apakah orang berminat mengganti mobil lamanya atau memutuskan apakah mobil listrik akan jadi kendaraan pertama seseorang.

    Untuk itu, mari kita simak beberapa keunggulan dan apa saja kekurangan dari mobil listrik sebagai bahan pertimbangan.

    Keunggulan

    Salah satu keunggulan beralih ke mobil listrik adalah biaya harian yang dinilai lebih murah. Menurut Wakil Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, biaya pengisian daya kendaraan listrik lebih murah dibandingkan biaya mengisi bensin.

    Kata Darmawan, setiap satu liter BBM setara dengan 1,3 kilo Watt hour (kWh) listrik dengan harga bensin per satu liter sekitar Rp7-8 ribu. Sedangkan, tarif listrik per satu kWh hanya sekitar Rp1.400. Ia menyimpulkan bahwa penggunaan listrik lebih murah seperlima dibandingkan pemakaian satu liter bensin.

    Mobil listrik pun tidak memiliki knalpot karena memang tidak mengeluarkan gas buang. Meskipun sebenarnya masih ada emisi pembuangan dari penggunaan ban dan rem, tetapi mobil listrik dinilai relatif lebih aman dalam menjaga kualitas udara karena bebas dari polusi bahan bakar.

    Dengan beralih ke mobil listrik pun dianggap bisa meminimalisasi emisi gas rumah kaca, mengurangi jejak karbon, menghemat lapisan ozon, sehingga dapat meminimalisasi pemanasan global.

    Dari segi perawatan, mobil listrik pun dinilai lebih hemat. Pada mobil konvensional, mobil harus segera melewati tahap perawatan dengan sekitar 30 item pemeriksaan dan dilakukan setiap 10 ribu kilometer. Sedangkan, untuk mobil listrik, interval perawatannya tiap 15 ribu kilometer dengan pemeriksaan hanya 15 item.

    Tak hanya itu, mobil listrik tanpa bensin pun tidak membutuhkan oli. Sehingga Anda bisa menghemat biaya ganti oli.

    Pengisi daya baterai mobil listrik | @DariaRen Shutterstock

    info gambar
    Jajaran Perusahaan Kunci di Balik Pabrik Baterai Mobil Listrik Pertama RI

    Kekurangan

    Meski banyak keuntungan yang didapatkan, tentunya penggunaan mobil listrik pun tak luput dari kekurangan. Misalnya, stasiun pengisian daya masih minim sehingga menimbulkan kekhawatiran soal bagaimana jika mobil kehabisan daya di tengah perjalanan.

    Kemudian, tentu saja penggunaan listrik untuk mengisi daya tidaklah gratis. Bila beralih ke mobil listrik, tentunya pengguna harus memperbesar daya listrik di rumah. Selain itu, pengisian daya baterai pun terbilang lama, sekitar 4-6 jam dari kosong hingga penuh. Berbeda dengan pengisian BBM yang hanya butuh waktu beberapa menit saja.

    Hal yang dianggap menjadi kekurangan mobil listrik lain ialah tak ada suara. Memang mobil ini menjadi hening dan mengurangi polusi suara dari mesin dan knalpot. Namun, di sisi lain keheningan ini dikhawatirkan akan menjadi penyebab kecelakaan di jalanan.

    Lalu, saat ini kebanyakan mobil listrik berukuran kecil sehingga dianggap belum pas untuk menjadi kendaraan keluarga. Selain itu, harganya pun terbilang mahal dan belum bisa dinikmati masyarakat yang wilayahnya masih mengalami kondisi listrik tidak stabil.





    Source link

    Continue Reading
    Advertisement
    Advertisement
    Advertisement
    Advertisement
    Advertisement

    Trending Dari BuzzFeed

    close