Connect with us

FEED

Tribunnews.com dan Kitabisa.com Salurkan Bantuan ke Empat Pesantren di Kabupaten Bogor

Tribunnews.com dan Kitabisa.com Salurkan Bantuan ke Empat Pesantren di Kabupaten Bogor




Tribunnews.com dan KitaBisa.com berbagi bahan-bahan makan ke beberapa Pondok Pesantren (Ponpes) di Kabupaten Bogor, Rabu (12/5/2021).


© Tribunnews.com
Tribunnews.com dan KitaBisa.com berbagi bahan-bahan makan ke beberapa Pondok Pesantren (Ponpes) di Kabupaten Bogor, Rabu (12/5/2021).

Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Yudistira Wanne

TRIBUNNEWS.COM, BOGOR – Dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriah, Tribunnews.com dan KitaBisa.com berbagi bahan makan ke beberapa Pondok Pesantren (Ponpes) di Kabupaten Bogor, Rabu (12/5/2021).

Ada empat Ponpes yang didatangi. Sebagian santrinya berasal dari kaum dhuafa, yatim dan yatim piatu.

Bahkan tiga dari empat ponpes tersebut menggratiskan biaya pendidikan para santrinya.

Pada Rabu (12/5/2021) atau hari terakhir Ramadhan 1442 H, Tribunnews.com-KitaBisa menyambangi dua Ponpes di Kabupaten Bogor, yakni Ponpes Assyifa dan Majelis Hijir Ismail.

Baca juga: Tribunnews.com dan KitaBisa Berbagi ke Pondok Pesantren Dhuafa di Kaki Gunung Gede Pangrango

Dua Ponpes ini didirikan oleh ustaz muda dan membuat terobosan yakni menggratiskan para santrinya yang menimba ilmu di Ponpes yang bangunannya masih sederhana ini.

Ponpes Assyifa berada di Kampung Pondok Manggis RT 4/3, Desa Bojong Baru, Bojonggede, Kabupaten Bogor.



Tribunnews.com dan KitaBisa.com berbagi bahan-bahan makan ke beberapa Pondok Pesantren (Ponpes) di Kabupaten Bogor, Rabu (12/5/2021).


© Disediakan oleh tribunnews.com
Tribunnews.com dan KitaBisa.com berbagi bahan-bahan makan ke beberapa Pondok Pesantren (Ponpes) di Kabupaten Bogor, Rabu (12/5/2021).

Posisinya berada di perkampungan di kawasan Bojonggede. Ponpes tersebut berdiri di atas 5000 M2 tanah wakaf dari salah satu orangtua pengurus Ponpes.

Kontur tanahnya berada di turunan, bahkan mirip disebut cekungan.

Areal Ponpes ini dulunya berupa rawa, tempat penampungan air. Dan kini, hampir separuh dari lokasi Ponpes masih berupa rawa.

“Sekitar sepekan lalu kita kebanjiran lumayan tinggi. Air sampai masuk ke kobong-kobong tempat tinggal santri dan tempat tinggal saya,” ujar Ustaz Anggi Assyifa.

Baca juga: KitaBisa.com Berhasil Galang Dana Rp 6,4 Miliar untuk Korban Bencana NTT

Sebagian besar bangunan di Ponpes tersebut berupa bangunan dari bambu dan kayu. Rumahnya dibuat rumah panggung dengan tiang-tiang menancap ke rawa-rawa.

“Pas mendirikan kobong-kobong ini, ya kami belepotan lumpur saat menancapkan tiang-tiangnya,” ujar Ustaz Anggi.

Beberapa bangunan kini sudah dibuat permanen, berkat bantuan dari masyarakat dari berbagai penjuru tanah air.

Ustaz Anggi yang masih terlihat muda ini dulunya adalah cucu pendiri dan pemilik salah satu Ponpes di kawasan Bojonggede.

Ia sempat menjadi fotografer wedding sebelum kemudian hijrah total menjadi pendiri sekaligus pengelola Ponpes Assyifa.

“Awalnya hanya satu santri, yakni siswa kelas V SD. Dan saya tinggal di Kobong kecil di samping Masjid ini,” kenangnya.



Tribunnews.com dan KitaBisa.com berbagi bahan-bahan makan ke beberapa Pondok Pesantren (Ponpes) di Kabupaten Bogor, Rabu (12/5/2021).


© Disediakan oleh tribunnews.com
Tribunnews.com dan KitaBisa.com berbagi bahan-bahan makan ke beberapa Pondok Pesantren (Ponpes) di Kabupaten Bogor, Rabu (12/5/2021).

Kobong yang ditempati Ustaz Anggi saat ini adalah Kobong pertama yang ditempati bersama para santri.

Kobongnya berupa rumah panggung dengan dinding dari bambu dan berlantai kayu. “Jendelanya beda-beda itu karena pemberian orang. Jendela bekas pakai, lalu kita pasang. Jadinya seperti ini. Kata para tamu, malah artistik,” ujar Ustaz Anggi.

Saat ini di Ponpes Assyifa terdapat 75 orang santri yang berasal dari berbagai daerah.

Ustaz Anggi dibantu sekitar 10 pengajar dan juga beberapa rekannya yang memiliki keahlian masing-masing.

” Ada Sarjana Farmatika yang memilih mengajar di sini. Ada juga yang jago melukis, jago bikin bangunan dan jago keterampilan-keterampilan yang diajarkan ke para santri,” ujar Ustaz Anggi.

Mengenai biaya, Ustaz Anggi mengatakan, para santri tidak dipungut biaya.

Memang ada santri yang berasal dari keluarga dhuafa, anak yatim hingga ada juga yang orangtuanya mampu.

“Meskipun orangtuanya mampu, kita tetap tidak memungut biaya,” jelasnya.

Meski demikian, Ustaz Anggi dan para pengasuh dan pengajar, sangat yakin mereka diberikan kemudahan rezeki untuk mengurus santri didikannya.

“Pernah satu kali di hari Jumat, kami tak punya beras. Hanya tinggal 1 mangkuk. Sebelum Jumatan, saya sudah sampaikan ke anak-anak, bahwa hari ini kita puasa,” cerita Ustaz Anggi.

Saat mereka sedang salat Jumat, tiba-tiba ada orang yang mengatar satu karung beras ke Ponpesnya.

“Dari situlah kita sangat yakin bahwa rezeki itu datangnya dari Allah. Kami totalitas mengajar dan mendidik para santri tanpa dibayar,” ujar Ustaz Anggi.

Untuk menghidupi pesantrennya, Ponpes Assyifa membuat minuman herbal bermerk Assyifa.

Minuman herbal tersebut adalah temuan pengasuh yang notabene ahli farmasi namun menekuni ke pengobatan herbal.

“Semua tanaman sebenarnya memiliki manfaat dan khasiat. Kami di sini fokus membuat minuman teh telang yang berasal dari bunga telang,” ujar Fahmi, salah seorang pengasuh Ponpes Assyifa.

Selain belajar agama, para santri juga diajarkan berwira usaha. Mereka terlibat dalam pembuatan teh telang yang saat ini masih dipasarkan mulut ke mulut.

“Almahdulillah, teh telang atau teh herbal kami banyak dicari konsumen yang paham pengobatan herbal,”Ujar Ustaz Anggi.

Selain usaha teh telang, Ponpes Assyifa juga memelihara kambing. “Kambing sangat laku pas hari raya Idul Adha,” lanjut Ustaz Anggi.

Dari hasil usaha inilah, keuntungannya dipakai untuk membiayai operasional ponpes. “Jumlahnya masih jauh dari biaya operasional. Tapi kami yakin Allah akan memberikan jalan rezeki untuk menghidupi santri-santri di sini,” jelasnya.

Majelis Hijir Ismail.

Lokasi keempat yang diberikan bantuan Tribunnews.com dan KitaBisa yakni Majelis Hijir Ismail.

Lokasinya berada di perkampungan tepatnya di Desa Bojonggede RT 5/13, Kabupaten Bogor.

Berbeda dengan Assyifa, Majelis Hijir Ismail ini berada di perkampungan yang tak jauh dari jalan utama Kabupaten Bogor yakni Jalan Tegar Beriman.

Saat masuk, bangunannya berupa rumah petak yang telah dirombak menjadi tempat belajar dan tempat tinggal para santri.

Di bagian belakang, terdapat kobong-kobong dari bambu yang justru dipergunakan sebagai tempat belajar-mengajar.

Pendiri Majelis Hijir Ismail yakni Ustaz Ismail menyambut hangat rombongan Tribunnews.com.

Rombongan lantas dibawa ke ruang utama yang dijadikan aula pertemuan.

Terlihat, puluhan anak-anak usia SD dan SMP sedang membacakan salawat diiringi peralatan perkusi atau ditabuh.

Tiga santri yang masih duduk di bangku kelas IV dan V SD lantas memamerkan kemampuannya menghafal Alquran. Di hadapan rombongan Tribunnews.com dan pimpinan Hijir Ismail, ketiga anak ini lancar melanjutkan surat Alquran.

Ustaz Ismail mengisahkan, majelis yang didirikannya ini baru berusia sekitar 1 tahun.

Awalnya, salah satu anggota majelisnya menghibahkan pemakain rumah kontrakannya untuk menjadi basecamp majelis Hijir Ismail.

“Namun saat kami didirikan, peminatnya banyak. Kami sekarang memiliki 30 santri yang menetap. Dan sekitar 35 anak-anak yang mengaji tapi tidak menginap,” ujar Ustaz Ismail.

30 santri tersebut, tingal di bekas rumah kontrakan yang rencanannya akan diwakafkan.

“Kami tidak memungut biaya sedikitpun. Santri yang tinggal di sini, gratis,” ujar Ustaz Ismail.

Ia sangat yakin, rezeki itu datangnya dari Allah.

Awalnya Ustaz Ismail hanya mampu mengajar 10 santri. Namun karena permintaan semakin besar, sekarang dibatasi untuk 30 santri menginap.

Para santrinya, maksimal sampai lulus SMP. Sehingga banyak terlihat anak-anak belia tinggal di majelis tersebut.

“Mereka tidak dipungut biaya. Tapi syaratnya, mereka harus hafal 5 jus Alquran dan 100 hadist. Harapan kami bisa hafal seluruh Alguran dan hafal 1000 hadist,” ujar Ustaz Ismail.

Tribunnews dan KitaBisa

GM Content Tribunnews.com Yulis Sulistyawan yang hadir di empat Ponpes mengatakan, kegiatan yang dilaksanakan merupakan salah satu bentuk kolaborasi dengan KitaBisa dalam memelihara rasa persaudaraan terhadap sesama.

Sebagai bentuk implemetasi, Tribunnews.com dan KitaBisa berusaha untuk membantu meringankan beban saudara-saudara yang kurang beruntung.

“Jadi kita Tribunnews.com dan KitaBisa berdonasi untuk pesantren-pesantren yang membutuhkan bantuan. Yang kita datangi itu adalah pesantren-pesantren yang di dalamnya banyak keluarga kita yang kurang beruntung,” ujarnya, Rabu (18/5/2021).

Sementara itu, Yulis Sulistyawan menegaskan bahwa bantuan yang diberikan merupakan amanah dari pembaca Tribunnews dan KitaBisa.

“Ini amanah dari pembaca Tribunnews dan KitaBisa donasikan berbentuk barang yang dapat dirasakan para santri. Kita melihat santri-santri memang ada yang kurang beruntung,” jelasnya.

“Donasi ini berbentuk barang ada makanan dan alat kebersihan seperti sabun, pasta gigi, dan lainnya. Kita harapkan para santri nantinya dapat beraktifitas dengan nyaman,” sambungnya.

Total 4 Pesantren

Sehari sebelumnya, Tribunnws.com dan KitaBisa menyalurkan donasi ke Pondok Pesantren Minhajul Karomah Padepokan Wali Songo di Kampung Citaman RT 1/1, Desa Tangkil, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor.

Lokasinya berada di kaki Gunung Gede-Pangrango.

Untuk menuju lokasi, sempat nyasar di jalanan dan diarahkan aplikasi perjalanan, yakni melintasi jalan mirip ke hutan yang kanannya terdapat jurang dalam.

Di Ponpes Minhajul Karomah.bantuan bahan pangan ini sangat dinanti para santri.

Maklum, selama pandemi Covid-19, Ponpes ini tidak pernah mendapatkan bantuan dari pihak manapun.

“Alhamudlillah, di malam ke-30 kita mendapatkan sumbangan dari Tribunnews.com dan KitaBia yang sangat berarti sekali bagi kami.

Para siswa di Ponpes Minhajul Karomah ini juga gratis 100 persen.

Mereka sebagian besar berasal dari keluarga dhuafa.

Pesantren kedua penerima donasi dari Tribunnes.com dan KitaBisa yakni Pondok Pesantren Bintang Al-Quran di Jalan Taman Sari Persada No.3, RT.01/RW.03, Cibadak, Kec. Tanah Sereal, Kota Bogor.

Di Ponpes ini juga sebagian berasal darianak-anak dhuafa dan sebagian besar yatim atau yatim piatu.

“Doa para santri kami terkabul, dan alhamdulillah kami mendapat bantuan dari Tribunnews.com dan KitaBisa.com,” ujar Ambu Galuh yang menerima rombongan. (Yudistira/Yulis Sulistyawa)



Source link

Advertisement
Click to comment

Berita

Pemerintah Harus Evaluasi Alat Deteksi Corona

Pemerintah Harus Evaluasi Alat Deteksi Corona


JAKARTA – Anggota DPR Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPR Suryadi Jaya Purnama, menyoroti temuan adanya penumpang terkonfirmasi positif COVID-19 pada penerbangan maskapai Garuda Indonesia setibanya di Hong Kong, Minggu, 20 Juni.

Temuan itu, membuat otoritas Hong Kong melarang sementara penerbangan maskapai Garuda Indonesia dari Jakarta mulai 22 Juni hingga 5 Juli.

Atas kasus tersebut, Suryadi meminta pemerintah mengevaluasi berbagai alat pendeteksi COVID-19 sebagai syarat perjalanan yang memungkinkan terjadi kesalahan. Sebab sebelumnya, penumpang yang bersangkutan sudah dilakukan tes di Jakarta dan hasilnya negatif.

“Perlu dilakukan evaluasi terhadap penggunaan berbagai alat pendeteksi COVID-19 sebagai syarat perjalanan, dimana peralatan tersebut menggunakan beberapa metode yang berbeda dalam mendeteksi COVID-19,” ujar Suryadi, Jumat, 25 Juni.

Anggota Komisi V DPR yang mengurusi soal perhubungan itu menyebutkan, beberapa pakar kesehatan sendiri telah sejak lama meminta pemerintah untuk mengevaluasi penggunaan peralatan pendeteksi COVID-19 sebagai syarat perjalanan.

Misalnya, penggunaan alat swab dengan metoda tes PCR (polymerase chain reaction). Dia menilai alat dan metode itu dapat mendeteksi keberadaan virus dalam tubuh manusia secara langsung.

Selain tes PCR, lanjutnya, ada metode lain yang tidak mendeteksi secara langsung keberadaan virus dalam tubuh seseorang namun dapat mengindikasikan adanya virus. Yaitu dengan cara mendeteksi pola senyawa VoC atau Volatile Organic Compound dalam embusan napas manusia yang diharapkan dapat mengindikasikan ada atau tidaknya virus dalam tubuh seseorang.

“Karena metodenya yang tidak langsung dalam mendeteksi COVID-19 tersebut, maka dibutuhkan data yang sangat banyak untuk menguji keakurasian alat tersebut,” jelasnya.

Seiring peningkatan kasus dan masih terjadinya mobilisasi, maka kata dia, pemerintah harus benar-benar memastikan keakuratan alat pendeteksi COVID-19.

Sebaiknya pemerintah smabung Suryadi menggunakan standard screening atau tes diagnosis yang sudah disetujui WHO saja, guna menghindari meluasnya penyebaran COVID-19.

“Apalagi munculnya varian-varian COVID-19 yang baru, maka Fraksi PKS berpendapat bahwa evaluasi berbagai alat pendeteksi COVID-19 sebagai syarat perjalanan semakin urgen untuk dilakukan,” tegas Suryadi.

.



Sumber Berita

Continue Reading

FEED

FAKTA-FAKTA Varian Delta Plus, Ditemukan 200 Kasus di 11 Negara

FAKTA-FAKTA Varian Delta Plus, Ditemukan 200 Kasus di 11 Negara




Ilustrasi virus corona. Versi baru dari varian Delta dilaporkan telah menginfeksi sejunlah negara, termasuk Inggris, Amerika Serikat dan India.


© hearingreview
Ilustrasi virus corona. Versi baru dari varian Delta dilaporkan telah menginfeksi sejunlah negara, termasuk Inggris, Amerika Serikat dan India.


TRIBUNNEWS.COM – Sebanyak 200 kasus virus corona varian Delta Plus diketahui telah tersebar di 11 negara di seluruh dunia.

Dilansir Tribunnews dari CNN, pejabat kesehatan mengungkapkan versi baru dari varian Delta dilaporkan telah menginfeksi sejunlah negara, termasuk Inggris, Amerika Serikat dan India.

Strain yang menjadi perhatian media global ini disebut B.1.617.2.1 atau AY.1, singkatnya Delta Plus.

Di Inggris, varian itu pertama kali dilaporkan oleh Public Health England, sebuah badan kesehatan pemerintah pada 11 Juni 2021.

Baca juga: Ratusan Balita di Jakarta Positif Covid-19, Kemenkes Sebut Varian Delta Cenderung Jangkiti Anak

Baca juga: 282 Anak Balita di Jakarta Tertular Covid-19, Kemenkes Sebut Varian Delta Cenderung Jangkiti Anak

Berdasarkan beberapa kasus pertama di Inggris yang diurutkan pada 26 April menunjukkan, varian itu mungkin ada dan menyebar pada musim semi.

Pakar kesehatan sedang menyelidiki apakah Delta Plus lebih menular daripada jenis lain seperti varian Alpha atau Delta.

Namunm masih terlalu dini untuk mengatakan dengan pasti apa efeknya.

Delta Plus versi varian Delta yang pertama kali terdeteksi di India pada Februari.

Saat ini, pemerintah India telah mengirimkan varian ke Sistem Data Global dan mengirim sampel untuk pengujian genom.

Baca juga: Kemenkes Ungkap Covid-19 Varian Delta Cenderung Menular pada Anak-anak, Warga Diminta Waspada

Berikut ini beberapa hal yang perlu diketahui terkait Varian Delta Plus:

Apa perbedaan Delta Plus dengan varian Delta?

Semua varian membawa kelompok mutasi.

Delta Plus memiliki mutasi ekstra yang disebut K417N yang membedakannya dari varian Delta biasa.

Mutasi ini mempengaruhi protein spike, bagian dari virus yang menempel pada sel yang diinfeksinya.

“Mutasi K417N tidak sepenuhnya baru, ia muncul secara independen di beberapa garis keturunan virus,” kata Francois Balloux, Direktur Institut Genetika Universitas College London (UCL).

Mutasi itu terlihat pada strain yang ditemukan di Qatar pada Maret 2020 dan ditemukan pada varian Beta, yang pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan musim gugur lalu, katanya kepada Science Media Center.

“Mutasi dapat berkontribusi pada menurunnya kekebalan, meskipun dampaknya pada penularan tidak jelas,” tambahnya.

Semua virus bermutasi terus-menerus.

Beberapa dari perubahan itu membuat virus lebih cepat dalam menginfeksi sel atau dalam bereplikasi.

Sementara yang lain memiliki sedikit efek atau bahkan berbahaya bagi virus.

“Hingga saat ini, ada sekitar 160 jenis virus corona yang diurutkan secara global,” kata Balloux.

“Ada juga varian Delta plus lainnya dengan mutasi lain,” kata pemerintah India.

Mereka menambahkan, AY.1 adalah yang paling terkenal.

“Tim sedang melihat mutasi spesifik ini dan apa artinya dalam hal penularan dan keparahan. Sangat penting apa artinya ini dalam hal tindakan medis,” kata Maria Van Kerkhove, pimpinan teknis Organisasi Kesehatan Dunia untuk Covid-19.

Sementara itu, varian Delta reguler, juga dikenal sebagai strain B.1.617.2, telah menyebar dengan cepat.

Varian ini telah dilaporkan di sejumlah negara.

“Sebanyak 40 persen hingga 60 persen lebih mudah menular daripada varian Alpha yang pertama kali diidentifikasi di Inggris,” kata Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC).

Baca juga: Zona Merah Covid-19 di Jawa Semakin Meluas, Melonjak 2 Kali Lipat, Varian Delta Terbanyak di Jakarta

Apakah varian Delta Plus lebih menular atau mematikan?

Menurut badan pengurutan genom Covid-19 pemerintah India, varian Delta Plus menunjukkan beberapa sifat yang mengkhawatirkan.

Misalnya peningkatan penularan, pengikatan yang lebih kuat pada reseptor sel paru-paru, dan potensi pengurangan respons antibodi.

Saat ini, belum ada cukup bukti untuk menentukan secara meyakinkan dan para ahli lain juga telah menyatakan kehati-hatian.

Untuk saat ini, sebagian besar para ahli memperingatkan masyarakat dan pemerintah untuk tetap waspada, tetapi tenang.

“Ditemukan di beberapa negara tetapi tetap pada frekuensi yang sangat rendah … Tidak ada bukti bahwa strain saat ini berkembang di negara mana pun,” kata Balloux.

Van Kerkhove dari WHO mengatakan, organisasi itu melacak Delta Plus untuk menentukan tingkat penularan dan tingkat keparahannya.

Baca juga: Varian Delta Bikin Sydney Hadapi Masa Paling Menakutkan Sejak Pandemi Dimulai

Di mana varian Delta Plus ditemukan?

Sejauh ini, Delta Plus telah dilaporkan di 11 negara, tetapi jumlah kasus per negara hanya mencerminkan sampel yang telah diurutkan.

Sehingga diperlukan lebih banyak data untuk menentukan tingkat penyebaran yang sebenarnya.

AS telah mengurutkan dan mengonfirmasi jumlah kasus tertinggi dengan 83 kasus pada 16 Juni 2021, menurut Public Health England.

Disusul Inggris dengan 41 kasus per 16 Juni 2021.

Peningkatan pelacakan kontak, pengujian, dan isolasi dikerahkan ke sejumlah daerah di mana kasus Delta Plus telah dilaporkan, Downing Street mengonfirmasi

Beberapa kasus pertama yang diurutkan di Inggris adalah kontak individu yang telah melakukan perjalanan dari atau transit melalui Nepal dan Turki, menurut Public Health England.

Kemudian India menyusul dengan 40 kasus.

Kasus-kasus tersebut tersebar di tiga negara bagian, yaitu Maharashtra, Kerala dan Madhya Pradesh.

Pada Selasa, Kementerian Kesehatan India menetapkannya sebagai “varian perhatian,” dan menempatkan ketiga negara bagian dalam siaga.

Pemerintah mengatakan jumlah kasus masih rendah – tetapi mendesak negara bagian dengan kasus untuk “meningkatkan respons kesehatan masyarakat mereka” dengan meningkatkan pengujian, penelusuran, dan vaksinasi prioritas.

Sisa kasus tersebar di Kanada, India, Jepang, Nepal, Polandia, Portugal, Rusia, Swiss, dan Turki.

Berita lain terkait Varian Delta

Berita lain terkait Varian Delta Plus

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)



Source link

Continue Reading

FEED

Apa yang Harus Diketahui Tentang Vaksin COVID-19 dan Kondisi Jantung pada Orang Muda

Apa yang Harus Diketahui Tentang Vaksin COVID-19 dan Kondisi Jantung pada Orang Muda

Pada tanggal 23 Juni, sekelompok ilmuwan diberitahu Komite Penasihat Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS tentang Praktik Imunisasi yang vaksin mRNA (yang dibuat oleh Pfizer-BioNTech dan Moderna) memiliki “kemungkinan hubungan” dengan risiko jantung bagi orang yang lebih muda. Maklum, itu masih menghasilkan banyak perhatian. Inilah yang harus Anda ketahui tentang vaksin COVID-19 dan masalah jantung.

Masalah jantung yang dimaksud disebut miokarditis dan perikarditis

Mereka merujuk, masing-masing, untuk radang jantung dan lapisan di sekitarnya. Meskipun terdengar menakutkan, keduanya cenderung hilang dengan sendirinya atau dengan perawatan minimal, terutama jika diketahui lebih awal. Mereka bisa datang dengan gejala seperti nyeri dada, sesak napas, kelelahan dan irama jantung yang tidak normal, dan bisa disebabkan oleh virus dan bakteri.
[time-brightcove not-tgx=”true”]

Mereka adalah efek samping vaksin yang sangat langka

Sejak April, sekitar 1.000 kasus telah dilaporkan di antara orang-orang yang divaksinasi dengan suntikan berbasis mRNA CDC mengatakan. Itu mungkin terdengar seperti banyak, tetapi, untuk konteksnya, lebih dari 300 juta dosis vaksin mRNA telah dikelola sejauh ini di AS A pernyataan ditandatangani oleh dokter berpengaruh termasuk Direktur CDC Dr. Rochelle Walensky mencatat bahwa miokarditis dan perikarditis jauh lebih umum di antara orang yang terkena COVID-19 daripada di antara orang yang mendapatkan vaksin.

Kelompok tertentu tampaknya berisiko lebih tinggi

Remaja laki-laki dan laki-laki muda tampaknya berkembang efek samping ini lebih sering daripada kelompok lain, menurut CDC, dan lebih sering terjadi setelah suntikan kedua. Secara umum—yaitu, terpisah dari efek samping COVID-19—pria lebih mungkin mengembangkan peradangan jantung daripada wanita, dan umumnya didiagnosis di antara orang dewasa yang lebih muda.

Para ahli masih merekomendasikan vaksinasi

Mengingat manfaat yang diketahui dari vaksinasi COVID-19, dokter masih merekomendasikan suntikan untuk orang-orang dari segala usia. “Ini adalah cara terbaik untuk melindungi diri sendiri, orang yang Anda cintai, komunitas Anda, dan untuk kembali ke gaya hidup yang lebih normal dengan aman dan cepat,” desak kelompok dokter dalam pernyataan bersama mereka.

Kisah ini awalnya dimuat di buletin Singkat Coronavirus TIME.

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending Dari BuzzFeed

close