Connect with us

PENDIDIKAN

Tragedi Perpeloncoan Soroti Kehidupan Organisasi Sosial di Kampus AS

Tragedi Perpeloncoan Soroti Kehidupan Organisasi Sosial di Kampus AS


Organisasi-organisasi sosial atau yang biasa disebut sebagai Komunitas Yunani di kampus-kampus di seluruh AS lagi-lagi mendapat sorotan setelah kematian mahasiswa baru-baru ini yang diduga karena perpeloncoan.

Mahasiswa baru Virginia Commonwealth University (VCU) Adam Oakes meninggal 27 Februari dan mahasiswa tahun kedua Bowling Green State University (BGSU) Stone Foltz meninggal 7 Maret setelah keduanya mengkonsumsi alkohol dalam jumlah besar pada acara persaudaraan.

Adam Oakes menghadiri sebuah acara di Delta Chi di Virginia, dan Stone Foltz menghadiri sebuah acara di Pi Kappa Alpha di Ohio. Dalam pernyataan simpati atas meninggalnya Oakes dan Foltz, organisasi nasional Delta Chi dan Pi Kappa Alpha mengumumkan bahwa aktivitas cabang yang terlibat dalam tuduhan perpeloncoan itu telah ditangguhkan.

“Terlepas dari apakah itu persaudaraan atau perkumpulan, sangat memalukan bahwa tindakan yang mengancam jiwa ini masih dilakukan seringkali, tanpa atau dengan pertanggung jawaban yang minim. Belum lagi tuduhan rasisme dan kekerasan seksual, hanya menguatkan komunitas persaudaraan Yunani adalah komunitas yang beracun bagi banyak orang,” kata Schanelle Saldanha, seorang mahasiswa tahun ketiga di American University di Washington, kepada VOA.

Menurut Inside Hazing, situs web anti-perpeloncoan meskipun 65% responden dalam survei anggota persaudaraan dan perkumpulan mahasiswa, mengatakan tujuan utama dari sebuah inisiasi adalah untuk menjalin persaudaraan,

· 57% mengatakan penting untuk mentolerir stres psikologis.

· 31% mengatakan penghinaan adalah elemen penting dalam sebuah inisiasi.

· 29% mengatakan konsumsi alkohol yang berlebihan sering kali merupakan bagian dari inisiasi.

· 29% mengatakan penting untuk mentolerir rasa sakit fisik.

· 29% mengatakan mereka prihatin dengan penggunaan alkohol yang berlebihan selama kegiatan janji.

· 25% mengatakan papan dayung biasanya digunakan selama inisiasi.

Seorang mahasiswa Universitas Negeri Dakota Utara (NDSU) yang mengenakan masker pelindung berjalan melewati gedung Teknik Selatan di kampus saat wabah COVID-19 berlanjut di Fargo, Dakota Utara, AS, 25 Oktober 2020. (Foto: REUTERS/Bing Guan)

Seorang mahasiswa Universitas Negeri Dakota Utara (NDSU) yang mengenakan masker pelindung berjalan melewati gedung Teknik Selatan di kampus saat wabah COVID-19 berlanjut di Fargo, Dakota Utara, AS, 25 Oktober 2020. (Foto: REUTERS/Bing Guan)

Tidak semua dari 123 persaudaraan dan perkumpulan mahasiswa dengan 12.000 cabangnya di kampus AS mengalami kekerasan atau kekacauan yang ekstrem. Banyak dari 750 ribu mahasiswa S1 anggotanya di lebih dari 800 kampus di AS dan Kanada mengatakan mereka menikmati menjadi bagian dari komunitas itu dan memperoleh keterampilan kepemimpinan.

Tinggal di rumah dengan anggota lain memberi dukungan, sosialisasi, dan bahkan kedekatan dengan kampus, kata para mahasiswa di Missouri State University kepada surat kabar yang dikelola mahasiswa The Standard pada 2018.

Namun, menurut situs web Addiction Center, meskipun sebagian besar setuju bahwa minum alkohol dan pesta adalah bagian besar dari kehidupan Yunani, mendorong anggota untuk berjanji agar berperilaku berbahaya bukan bagian dari organisasi-organisasi itu.

“Sementara situasi seputar kematian ini masih dalam penyelidikan, kita harus jelas bahwa perpeloncoan adalah pengkhianatan terhadap sumpah persaudaraan yang menjadi komitmen setiap anggota dan tidak punya tempat di kampus. Ketika minuman keras ditambahkan ke dalam campuran, itu adalah formula untuk tragedi, ”tulis Konferensi Antar Persaudaraan Amerika Utara (NIC) dalam sebuah pernyataan kepada VOA.

Penyesalan dan permintaan maaf selalu menyertai cedera dan kematian pada perpeloncoan sejak 1959, kata Hank Nuwer, seorang profesor emeritus di Franklin College dan penulis Hazing: Destroying Young Lives.

Namun setiap tahun, para mahasiswa yang berjanji untuk diterima di organisasi persaudaraan meninggal atau terluka parah. Mereka diracuni oleh alkohol berlebihan dan tersedak muntahannya sendiri, seperti Max Gruver, yang meninggal di rumah Phi Delta Theta di Louisiana State University di Baton Rouge pada 2017.

Mereka jatuh dan mengalami cedera otak luka, seperti Tim Piazza, yang meninggal pada 2017 di Beta Theta Pi di Penn State University. Mereka ditemukan tewas di dasar jurang, seperti mahasiswa baru Universitas Cornell Antonio Tsialas, yang kematiannya dinyatakan sebagai kecelakaan setelah ia meninggalkan rumah persaudaraan Phi Kappa Psi pada tahun 2019.

“Tujuannya agar hal seperti ini tidak pernah terjadi lagi dan untuk membangun model nasional yang mendukung kesehatan dan keselamatan serta menciptakan iklim menghormati dan inklusif yang kondusif bagi keberhasilan akademis,” tulis Presiden VCU Michael Rao dalam rencana universitas tentang komunitas Yunani. Ia tidak menyebut Delta Chi secara spesifik dalam pernyataan itu.

Para siswa di perpustakaan James Branch Cabell yang telah direnovasi di kampus Virginia Commonwealth University di Richmond, Va., Kamis, 28 April 2016. (Foto: AP/Steve Helber)

Para siswa di perpustakaan James Branch Cabell yang telah direnovasi di kampus Virginia Commonwealth University di Richmond, Va., Kamis, 28 April 2016. (Foto: AP/Steve Helber)

Menurut pesan yang dikirim dari Presiden Bowling Green State University (BGSU) Rodney Rogers dan Pembantu Rektor Joe Whitehead Jr. BGSU telah menangguhkan Pi Kappa Alpha karena diduga melakukan perpeloncoan dan bekerja sama dengan penegak hukum dan melakukan penyelidikan kode etiknya sendiri. Selain itu, universitas juga menghentikan inisiasi anggota baru dan semua acara lainnya.

Sebelum pandemi, Koalisi Anti-Perpeloncoan – yang terdiri dari orang tua korban perpeloncoan – berbicara di universitas untuk mendidik mahasiswa tentang penindasan, minuman keras yang dipaksakan, dan perilaku yang berpotensi berbahaya lainnya.

“Mereka menceritakan kisah tentang apa yang sebenarnya terjadi pada putra mereka, dan perilaku perpeloncoan di kampus tempat putra mereka kuliah,” kata Dani Weatherford, CEO National Panhellenic Conference (NPC), yang, bersama NIC , adalah bagian dari koalisi. Dan mereka “mencoba mendidik para mahasiswa di kampus yang dikunjungi, tentang seperti apa perpeloncoan, bagaimana hal itu bisa lepas kendali, dan mendesak mereka untuk memastikan bahwa perilaku semacam ini tidak terjadi di organisasi dan di kampus mereka, “kata Weatherford.

Dalam acara Zoom pada 21 Maret, orang tua Rae Ann Gruver menggambarkan seberapa banyak putranya, Max, minum di acara persaudaraan dan menjelaskan ia meneguk 18-20 kali alkohol yang dibuat dari biji-bijian yang disebut Diesel.

Ia mengatakan rekan sepersaudaraan itu membuatkan Max minuman ketika ia menjawab pertanyaan yang salah, dan karena terlambat ke acara persaudaraan, ia dipaksa minum lebih banyak lagi.

“Mereka menyasar Max. Tindakan berbahaya yang mereka lakukan ini menyebabkan kematian anak saya” kata Rae Ann Gruver.

Rae Ann Gruver dan suaminya, Stephen Gruver, juga berupaya mengesahkan undang-undang perpeloncoan baru di Louisiana dan mendirikan Max Gruver Foundation.

Weatherford mengatakan NPC dan NIC juga mengambil tindakan di tingkat legislatif.

Sementara pertanggungjawaban kriminal dalam perpeloncoan berada di bawah yurisdiksi negara bagian, undang-undang federal mengaturnya pada END ALL Hazing Act dan Report and Educate About Campus Hazing (REACH) Act, kata Weatherford.

Spanduk "Selamat Datang" terlihat di gedung Universitas Michigan di Ann Arbor, Michigan, AS, 19 September 2018. (Foto: REUTERS/Rebecca Cook)

Spanduk “Selamat Datang” terlihat di gedung Universitas Michigan di Ann Arbor, Michigan, AS, 19 September 2018. (Foto: REUTERS/Rebecca Cook)

END ALL Hazing Act berfokus pada transparansi kampus dan akan mewajibkan universitas untuk memposting secara online keputusan apa pun – penilaian formal – tentang insiden perpeloncoan.

UU REACH bertujuan menetapkan definisi federal tentang perpeloncoan dan mengharuskan perpeloncoan menjadi kejahatan Undang-Undang Clery, yang berarti universitas harus memasukkan perpeloncoan dalam statistik kejahatan mereka.

Weatherford merekomendasikan agar korban perpeloncoan, setidaknya, melaporkan tindakan tersebut ke universitas, tetapi bagaimana hal-hal itu ditangani dan sumber daya apa yang ditawarkan akan berbeda menurut kebijakan kampus masing-masing.

Mengenai calon mahasiswa yang tertarik dengan komunitas persaudaraan Yunani namun khawatir tentang kemungkinan perpeloncoan, Weatherford menyarankan agar mereka waspada dan mengetahui bahwa NPC dan NIC – dan persaudaraan dan perkumpulan yang dinaunginya adalah organisasi anti-perpeloncoan.

“Kita ingin memastikan bahwa jika ada aktor jahat, aktor jahat tersebut dimintai pertanggungjawaban dan dikeluarkan dari organisasi kita” kata Weatherford. [my/lt]

Advertisement
Click to comment

PENDIDIKAN

Memorabilia Astronaut Michael Collins Dipajang di Perpustakaan Kampus Virginia Tech

Memorabilia Astronaut Michael Collins Dipajang di Perpustakaan Kampus Virginia Tech


Perpustakaan Newman di Universitas Virginia Tech memiliki salah satu koleksi khusus dokumen, memorabilia, dan dokumen pribadi terlengkap dari misi Apollo 11, sebagian berkat sumbangan langsung dari astronaut Michael Collins.

Collins, yang menjadi pilot pesawat yang membawa Neil Armstrong dan Buzz Aldrin untuk melakukan pijakan kaki pertama bersejarah mereka di bulan pada tahun 1969, menurut keluarganya meninggal Rabu 28 April 2021 karena kanker.

“Koleksinya sendiri, adalah berkas-berkas dari Michael Collins, bahannya setengah kubik meter lebih, jadi cukup besar. Sekitar 39 kotak materi, kebanyakan kertas, yang mungkin dokumen NASA,” kata Marc Brodsky, Layanan Umum Virginia Tech dan Pengarsip Referensi.

“Beberapa yang penting termasuk, misalnya, salinan rencana penerbangan Apollo 11 milik Collins sendiri yang ditanda tangani dan disebutnya sebagai ‘The Real McCoy’. Ia menulisnya demikian dan menandatanganinya hanya untuk memberi tahu orang-orang bahwa catatan itu adalah yang asli,” lanjutnya.

Neil Armstrong, kiri, terpilih menjadi manusia pertama di bulan dan berpose dengan Buzz Aldrin, tengah, dan Michael Collins, April 1969 (Foto: AP)

Neil Armstrong, kiri, terpilih menjadi manusia pertama di bulan dan berpose dengan Buzz Aldrin, tengah, dan Michael Collins, April 1969 (Foto: AP)

Saat Armstrong dan Aldrin turun ke permukaan bulan dari wahana pendarat di bulan, Eagle, Collins tetap berada di pesawat modul komando, Columbia. Brodsky mengatakan dengan mempelajari memorabilia ini orang akan mengenal lebih jauh sosok astronot Michael Collins,

“Kita memperoleh kekayaan yang luar biasa dan bisa mengetahui siapa Collins, saya rasa hanya dengan melihat bagaimana ia bekerja melakukan tugasnya dan manual pelatihannya sangat informatif. Ia memang lebih banyak berada di belakang layar, namun ada saat di mana ia memiliki kehidupan yang lebih produktif setelah masa di NASA daripada yang mungkin diketahui orang,” papar Marc Brodsky.

Michael Collins menunggu sendirian selama hampir 28 jam sebelum Armstrong dan Aldrin menyelesaikan tugas mereka di permukaan bulan dan lepas landas di pendarat bulan.

Collins bertanggung jawab untuk menyatukan kembali dua pesawat antariksa itu sebelum para astronaut bisa mulai kembali ke Bumi.

Bagi Marc Brodsky, peran Collins membantu dua astronaut Neil Armstrong dan Buzz Aldrin pada misi AS pertama ke Bulan yang lebih dikenal dari pada dirinya, justru sangat berkesan di hatinya.

“Collins punya peran khusus, di hati saya, karena saya sering menggunakan materinya bersama mahasiswa, jadi saya mengenal koleksi ini dengan cukup baik. Kalau saja saya bisa berbicara langsung dengannya,” katanya.

Sayangnya harapan Brodsky kandas karena kematian Collins.

Koleksi Collins di Perpustakaan Newman di kampus Virginia Tech. termasuk surat yang ditulis oleh Charles Lindbergh kepada Collins setelah menyelesaikan misi Apollo 11. Collins juga memberikan rencana penerbangan Apollo 11 ke universitas tersebut.

Tahun 2019 menjelang 50 tahun peringatan perjalanan ke Bulan, Michael Collins menceritakan awak Apollo 11 harus memutar pesawat mereka terus-menerus supaya satu sisi pesawat tidak “terbakar” matahari, sementara sisi yang lain membeku – yang berarti mereka tidak bisa melihat tujuan sampai mereka hampir tiba di Bulan.

Mantan Presiden AS Richard M.Nixon menyambut astronot Apollo 11 di atas U.S.S. Hornet di Samudera Pasifik pada Juli 1969. (Foto: Bill Taub/NASA)

Mantan Presiden AS Richard M.Nixon menyambut astronot Apollo 11 di atas U.S.S. Hornet di Samudera Pasifik pada Juli 1969. (Foto: Bill Taub/NASA)

Tetapi begitu menakjubkannya planet baru ini, Bulan berwarna pucat dibandingkan dengan apa yang mereka lihat di sisi lain: marmer biru (Bumi) yang tampak “rapuh” itu berhadapan dengan alam semesta yang hitam pekat, sebuah gambar yang sejak itu tidak bisa dilupakan astronaut Michael Collins.

“Ketika kami meluncur dan melihat bulan, itu seperti bola yang luar biasa,” kata Collins yang ketika itu berusia 88 tahun kepada hadirin di Universitas George Washington.

Sementara astronaut AS Neil Armstrong dan Buzz Aldrin menjelajah permukaan bulan, mantan pilot pesawat tempur, Collins tetap berada di orbit bulan di mana ia berhubungan dengan stasiun pengendali di Bumi, untuk memberi mereka informasi terbaru mengenai posisinya.

Benda-benda dan berkas yang menjadi memorabilia Collins di Virginia Tech diharapkan akan menggugah para mahasiswa di kampus itu untuk mendapat inspirasi dari sosok astronaut yang namanya tidak setenar Neil Armstrong dan Buzz Aldrin itu. [my/lt]

Continue Reading

PENDIDIKAN

Rapper Travis Scott Berbicara Tentang Bantuan kepada Mahasiswa di Houston

Rapper Travis Scott Berbicara Tentang Bantuan kepada Mahasiswa di Houston


Pada bulan Oktober, rapper Travis Scott mengatakan dalam cuitan di Twitter bahwa dia akan membayar uang kuliah satu semester untuk lima mahasiswa di perguruan tinggi dan universitas yang secara tradisional menampung mahasiswa kulit hitam. Dia memilih beberapa penerima beasiswa melalui media sosial, dan sebulan kemudian dia meluncurkan yayasan amal Cactus Jack Foundation.

Yayasan tersebut bermitra dengan kota asalnya Houston di Texas untuk mendistribusikan 50.000 paket makanan gratis kepada penduduk ketika terjadi badai salju di Texas pada bulan Februari.

Atas usahanya, rapper yang mendapat nominasi Grammy itu, yang nama aslinya Jacques Webster, menjadi salah seorang dari lima penerimanya yang diumumkan minggu lalu untuk penghargaan RAD – Red Carpet Advocacy – yang pertama, yang menghormati para tokoh budaya yang “menginspirasi tujuan” dalam pekerjaan mereka. Rekan-rekan penerima penghargaan itu adalah aktor Charlize Theron, Priyanka Chopra Jonas, Laverne Cox dan Margot Robbie.

Travis Scott tampil di Pre-Grammy Gala di Beverly Hilton Hotel pada hari Sabtu, 9 Februari 2019, di Beverly Hills, California (Foto: AP/Chris Pizzello)

Travis Scott tampil di Pre-Grammy Gala di Beverly Hilton Hotel pada hari Sabtu, 9 Februari 2019, di Beverly Hills, California (Foto: AP/Chris Pizzello)

Toko-toko mewah di Amazon bermitra dengan RAD, sebuah lembaga yang menciptakan kampanye advokasi untuk amal, untuk menyalurkan sumbangan kepada lima badan amal yang dipilih oleh para selebriti.

Toko-toko mewah itu juga telah menciptakan toko daring, RAD Impact Edit, untuk menghimpun dana dan menyalurkannya kepada badan-badan amal. Hingga Jumat pekan lalu, RAD mengatakan semua hasil penjualan Amazon dari toko itu akan disumbangkan kepada badan-badan amal.

Yayasan Scott, yang akan menerima kontribusi dari Amazon, berencana memberikan beberapa beasiswa lagi dari dana itu untuk mahasiswa universitas dan perguruan tinggi yang secara tradisional diperuntukkan bagi mahasiswa kulit hitam (HBCU). Secara terpisah, rapper yang mengasuh anak perempuannya yang berusia 3 tahun, Stormi, bersama ibunya Kylie Jenner itu menyatakan sedang mengerjakan sebuah proyek di Houston yang akan beroperasi sebagai pusat pendidikan desain bagi kaum muda.

Kantor berita Associated Press baru-baru ini berbicara dengan Travis Scott tentang filantropi dan pekerjaannya yang lain. Dia mengatakan dia memulai yayasannya karena “berbagi inspirasi dan berbagi pengetahuan adalah kuncinya.”

“Kakek saya, dari pihak ayah saya, adalah dekan fakultas pascasarjana di Universitas Prairie View A&M. Nenek saya menjadi dosen di Prairie View, dan ayah saya serta semua paman saya kuliah di Prairie View dan saya seharusnya kuliah di sana. Hasrat pendidikan itu selalu muncul dalam diri saya melalui kakek-nenek, ayah, dan ibu saya,” katanya.

Scott mengatakan dia kuliah dan tidak menyelesaikannya, meskipun dia menyesali itu, dan hanya ingin membantu mahasiswa lain agar sukses dengan meringankan beban keuangan mereka.

“Kakek saya meninggal belum lama ini dan karena itu saya ingin dapat meneruskan warisannya dan meneruskan pengetahuan apa pun yang dia tanamkan dalam diri saya untuk berusaha membantu orang berikutnya yang ingin menimba ilmu di universitas,” katanya.

Perguruan tinggi dan universitas yang secara historis diperuntukkan bagi mahasiswa kulit hitam juga dekat dengan hatinya karena saudara perempuannya kuliah di Howard University dan saudara laki-lakinya di Prairie View A&M.

Artis rap Travis Scott, tengah, bereaksi selama pertandingan bola basket NBA antara Houston Rockets dan Denver Nuggets di Houston, 5 April 2017. (Foto: AP)

Artis rap Travis Scott, tengah, bereaksi selama pertandingan bola basket NBA antara Houston Rockets dan Denver Nuggets di Houston, 5 April 2017. (Foto: AP)

“Membantu beberapa anak yang berasal dari komunitas yang sama dengan saya, itu penting,” kata Scott. “Banyak orang akan menyelesaikan banyak hal jika kesulitan tidak menimpa mereka. Jadi, kapan pun kita dapat melewatinya dan melepaskan beban itu dari punggung mereka. Itu sungguh menakjubkan,” imbuhnya.

Selain yayasannya, Scott telah bermitra dengan Parsons School of Design di New York untuk membawa program desain mode perguruan itu ke kampung halamannya di Houston.

“Di Houston, atau kota-kota lain seperti Houston, kami benar-benar tidak memiliki perguruan tinggi seperti Parsons di mana orang-orang dapat menyebarkan ide-ide itu. Anda harus pergi ke New York City, London atau Paris,” katanya.

“Tetapi, ada orang-orang di negara bagian Texas, di wilayah Selatan atau Barat Tengah atau Utara yang kreatif, tetapi tidak memiliki jalan keluar itu. Dengan program ini, anak-anak di sekolah menengah atau perguruan tinggi dapat mulai mempelajari desain lebih awal ketika mereka mungkin tidak memiliki dana untuk pergi jauh seperti ke Kota New York,” tambah Scott.

Di luar kedermawanannya, Scott akan menjadi bintang utama Rolling Loud di Miami Juli ini, salah satu festival musik besar pertama yang dijadwalkan berlangsung setelah banyak festival ditunda atau dibatalkan di tengah pandemi COVID-19. Artis lain yang dijadwalkan akan tampil di festival itu termasuk Megan Thee Stallion yang juga berasal dari Houston, Post Malone, A$AP Rocky, 21 Savage dan Young Thug. [lt/ka]

Continue Reading

PENDIDIKAN

PR yang Bertumpuk Bebani Siswa

PR yang Bertumpuk Bebani Siswa


Merasa bosan dan kurang bisa memahami pelajaran disuarakan para siswa terkait pengalaman mereka selama mengikuti pembelajaran jarak jauh semasa pandemi COVID-19 dalam setahun terakhir.

Setiawan, pelajar kelas 12 Sekolah Menengah Kejuruan asal Jawa Barat mengungkapkan tantangan yang dihadapi anak selama belajar dari rumah, antara lain terlalu banyak pekerjaan rumah (PR) dan tugas dari guru dalam kegiatan pembelajaran online. Selain itu anak-anak juga dihadapkan pada situasi di rumah yang tidak ideal untuk belajar.

“Stres dengan beban PR dan tugas lainnya. Kedua Kondisi rumah yang tidak kondusif untuk belajar, konflik keluarga, misalkan anak yang terkena dampak broken home dan lain sebagainya, yang ketiga jenuh di rumah terbatas ruang dan waktu,” kata Setiawan dalam Dialog Anak Bersama Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Minggu (2/5). Kegiatan itu diinisiasi oleh Dewan Penasehat Anak dan Kaum Muda, lembaga swadaya masyarakat, Save the Children Indonesia.

Para pelajar dan guru memakai masker setelah pemerintah Indonesia membuka kembali kegiatan belajar tatap mukadi tengah pandemi COVID-19 di Pariaman, Provinsi Sumatera Barat, 13 Juli 2020. (Foto: Antara /Iggoy el Fitra/via Reuters)

Para pelajar dan guru memakai masker setelah pemerintah Indonesia membuka kembali kegiatan belajar tatap mukadi tengah pandemi COVID-19 di Pariaman, Provinsi Sumatera Barat, 13 Juli 2020. (Foto: Antara /Iggoy el Fitra/via Reuters)

Riset yang dilakukan oleh Jaringan Komunitas Anak untuk Gerakan “Save Our Education” terhadap 125 anak di Sulawesi Tengah, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta pada 15-20 April 2021, mengungkap tantangan yang dihadapi anak-anak menjalani pembelajaran jarak jauh yang terdampak terlalu lama menatap layar gawai dan komputer.

“Jadi karena sering menatap layar, teman-teman itu juga merasa pusing, lelah, stres dan dia tidak bertemu dengan teman secara langsung,” kata Anisa, pelajar asal Yogyakarta.

Menurut Anisa, kurang lebih 45 anak yang dilibatkan dalam studi itu menyatakan kurang bisa fokus saat belajar di rumah karena terkadang diminta orang tua mengerjakan sesuatu, serta situasi berisik dari lingkungan sekitar.

Anisa mengungkapkan harapan agar pandemi bisa segera berakhir sehingga bisa kembali melakukan pembelajaran secara tatap muka di sekolah.

Studi Global Save

Dewi Sri Sumanah, Media & Brand Manager Save the Children Indonesia kepada VOA mengatakan pesan yang disampaikan anak-anak dalam dialog itu memperkuat temuan studi global pada 2020 di 46 negara, termasuk Indonesia.

“Tercatat delapan dari sepuluh anak tidak dapat mengakses bahan pembelajaran yang memadai dan empat dari sepuluh anak kesulitan memahami pekerjaan rumah selama PJJ (pembelajaran jarak jauh),” ujar Dewi.

Inggit Andini (kanan) mengajar anak-anak yang tidak punya akses internet di rumahnya, di Tangerang, 10 Agustus 2020.

Inggit Andini (kanan) mengajar anak-anak yang tidak punya akses internet di rumahnya, di Tangerang, 10 Agustus 2020.

Menurut Dewi pada 2021 pihaknya berupaya mendorong pemerataan akses pendidikan agar setiap anak memperoleh pendidikan yang berkualitas di lingkungan belajar yang aman baik luring maupun daring melalui kampanye gerakan “Save Our Education.” Tahun ini kampanye itu dilaksanakan di Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Jawa Barat, Yogyakarta dan DKI Jakarta.

“Fokus pesan yang kita angkat dalam gerakan ini adalah tentang pemerataan akses terhadap pendidikan untuk setiap anak lalu juga kualitas pembelajaran yang didapat oleh setiap anak dan pentingnya peran orangtua dalam mendukung proses pembelajaran, baik pembelajaran jarak jauh maupun tatap muka yang sedang dipersiapkan,” jelas Dewi.

Penguasaan Teknologi Informasi

Direktur Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) pada Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Muhammad Hasbi mengatakan situasi pandemi COVID-19 juga menempatkan guru pada situasi yang belum pernah dihadapi sebelumnya. Para guru kini dihadapkan pada kebutuhan penguasaan teknologi informasi untuk pembelajaran secara daring dan kemampuan guru berkomunikasi dengan para orangtua siswa.

“Sehingga apa yang tadinya terjadi di kelas bisa terjadi di rumah melalui perantaraan orang tua dan satu hal yang menopang itu adalah bagaimana orang tua dan guru masing-masing memiliki perangkat teknologi informasi yang memadai,” kata Hasbi.

Diakuinya tidak banyak orangtua yang siap menjadi pendidik di rumah karena keterbatasan kompetensi mengajar seperti guru di kelas.

“Ini membuktikan bahwa memang kita memiliki permasalahan terhadap kompetensi pedagogik orangtua dan kompetensi substansi orangtua, nah keadaan ini kemudian membuat orangtua menjadi stres. Mereka mengalami kesulitan melaksanakan pembimbingan belajar dari rumah,” jelasnya.

Dikatakannya Kementerian Pendidikan telah menyediakan sumberdaya pendidikan bagi siswa dan guru untuk mengakses materi pembelajaran yang lebih bervariasi di platform Rumah Belajar dan Guru Berbagi.

Selain itu Kementerian Pendidikan mulai tahun 2021 akan merekrut satu juta guru dengan perjanjian kerja untuk ditempatkan di daerah-daerah yang mengalami kekurangan guru. [yl/em]

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending Dari BuzzFeed

close