Connect with us

Berita

Tiongkok Ngebet Berperan Jadi Penengah Israel dan Palestina

Tiongkok Ngebet Berperan Jadi Penengah Israel dan Palestina

[ad_1]

Pria Palestina kruk di antara puing-puing di Gaza

Pria Palestina kruk di antara puing-puing di Gaza pada 19 Mei. Foto: Mohammed Abed / AFP

Tiongkok telah menawarkan diri meredakan ketegangan antara Israel dan Palestina, yang menyebabkan pertumpahan darah terburuk dalam tujuh tahun terakhir. Tiongkok menyerukan agar kedua negara segera melakukan gencatan senjata, dan siap menjadi tuan rumah dialog perdamaian Israel-Palestina.

Dengan mengambil peran aktif, Tiongkok menampilkan negaranya sebagai kekuatan global yang bertanggung jawab dan alternatif bagi Amerika Serikat. Namun, pengamat menganggap negara ini takkan bisa menjadi penengah yang mengakhiri kekerasan, mengingat Beijing enggan terjun langsung ke lapangan.

Tak seperti AS yang merupakan sekutu kuat Israel, Tiongkok memosisikan diri sebagai pihak netral — berakar pada sejarah revolusioner negara itu dan tindakan penyeimbangan selama puluhan tahun di Timur Tengah.

Tiongkok telah mendukung perjuangan Palestina sejak awal terbentuknya Republik Rakyat Tiongkok pada 1949. Di bawah kepemimpinan Mao Zedong, Beijing bersekutu dengan gerakan nasionalis dan pemberontakan di seluruh dunia, termasuk Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). Negara ini melengkapi Palestina dengan senjata dan pelatihan militer untuk melawan Israel. Tiongkok melihat perjuangannya sebagai gerakan pembebasan melawan imperialisme Barat.

Namun, setelah reformasi ekonomi Tiongkok pada 1979, Beijing mulai mengalihkan fokusnya dari perjuangan ideologis ke arah pembangunan ekonomi. Ketegangan antara Israel dan negara-negara Arab juga mereda pada saat itu. Tiongkok membeli alutsista dalam jumlah besar dari Israel. Hubungan kedua negara meluas dari militer ke perdagangan, akademik dan politik. Tiongkok resmi menjalin hubungan dengan Israel pada 1992, dan mengakui negara yang dideklarasikan oleh PLO pada 1988.

Sejak itu, Beijing memperlakukan Israel dan Palestina dengan adil. Tiongkok merupakan mitra dagang terbesar kedua Israel, dan perusahaan Tiongkok telah mengambil proyek infrastruktur besar di Israel. Mereka juga melakukan investasi besar-besaran di industri teknologi.

“Tiongkok masih memiliki simpati untuk Palestina, setidaknya di tingkat resmi,” ungkap Guy Burton, pakar hubungan Tiongkok-Timur Tengah dari Sekolah Tinggi Pemerintahan Brussels. “Tapi, hubungannya dengan Israel juga berkembang. Jika dilihat dari segi ekonomi, Israel menawarkan lebih banyak kesempatan daripada Palestina.”

Selama kekerasan baru-baru ini, yang menewaskan lebih dari 200 jiwa di Gaza, Pemerintah China menawarkan diri sebagai mediator perdamaian dan mendorong resolusi Dewan Keamanan PBB untuk menuntut gencatan senjata. Pada pertemuan PBB, Menteri Luar Negeri Wang Yi menegaskan kembali solusi dua negara yang akan menjadikan Palestina sebuah negara dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya.

Sementara itu, Beijing menuduh AS berpihak pada Israel dan melakukan pertumpahan darah.

“Israel dan Palestina berada dalam siklus balas dendam yang penuh kekerasan. Konflik berdarah terus terjadi,” bunyi artikel komentar di situs berita pemerintah Xinhua pada Kamis. “AS takkan bisa mengelak dari tanggung jawab.”

Lucille Greer, peneliti hubungan Tiongkok dan Timur Tengah di Wilson Center Washington, mengutarakan partisipasi sangatlah penting dalam masalah di kawasan itu. Hal ini memberi Beijing peluang untuk menunjukkan ambisinya sebagai kekuatan global—bahwa mereka jauh lebih bertanggung jawab daripada AS.

“Ada kesempatan untuk mengatakan Amerika Serikat telah melakukan kesalahan, tapi Tiongkok bersedia memperbaikinya,” terang Greer. “Tiongkok ingin menyatakan secara langsung mereka mitra yang jauh lebih baik daripada Amerika.”

Namun, meskipun ada tekanan dari Dewan Keamanan PBB, di mana China memegang jabatan presiden bergilir, para ahli mengatakan Beijing belum mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan masalah selama beberapa dekade.

Burton berujar, keterlibatan aktual hanya akan merusak hubungan ekonomi Tiongkok dengan Israel dan memperburuk perseteruan antara Tiongkok dan AS. Hal ini takkan menjadi kepentingan bagi Beijing, mengingat Timur Tengah tidak ada di daftar prioritas kebijakan luar negerinya.

Di media sosial Tiongkok, laporan media pemerintah terkait kekerasan di Gaza memicu kecaman terhadap AS dan sikap antisemitisme (ujaran kebencian terhadap orang Yahudi) dari nasionalis sayap kanan. Menteri luar negeri China juga mengutip konflik dalam menyerang perlakuan AS terhadap Muslim.

Beijing menghadapi reaksi keras atas penahanan massal kelompok minoritas Muslim di Xinjiang. Mereka berdalih penangkapannya untuk mencegah terorisme, dan hanya memberikan pelatihan kepada warga Uighur.

Ikuti Viola Zhou di Indonesia.



[ad_2]

Sumber Berita

Advertisement
Click to comment

Berita

Insentif Nakes di Jawa Barat Terlambat, DPRD: Saya Prihatin

Insentif Nakes di Jawa Barat Terlambat, DPRD: Saya Prihatin

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat prihatin dengan temuan keterlambatan pembayaran insentif bagi tenaga kesehatan yang jadi garda terdepan dalam penanggulangan COVID-19. Hal ini seperti yang terjadi di Kabupaten Garut.

“Saya prihatin di Kabupaten Garut ini menjadi persoalan yang barang kali perlu ada upaya perbaikan dari leading sektor dalam hal ini mungkin Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat agar para nakes ini betul-betul mendapatkan perhatian dari sisi haknya,” kata Anggota Komisi V DPRD Provinsi Jawa Barat, Ade Kaca di Bandung, dilansir Antara, Jumat, 23 Juli.

Berdasarkan informasi yang dihimpun olehnya, saat ini Pemerintah Provinsi Jawa Barat baru menyalurkan insentif untuk para tenaga kesehatan penanganan sebesar 34 persen dan di Jawa Barat sendiri jumlah nakes penerima insentif mencapai 41.000 lebih.

Ade Kaca tidak menampik hal ini dikarenakan fakta di lapangan contohnya di Kabupaten Garut saja ini menjadi persoalan yang banyak dikeluhkan oleh para tenaga kesehatan (nakes).

Menurut dia dengan resiko tinggi yang diemban oleh para tenaga kesehatan maka mempercepat pembayaran insentif nakes harus diprioritaskan di masa krisis pandemi COVID-19 seperti saat ini.

Pihaknya berharap ke depan jangan sampai terulang kembali terkait penyaluran insentif bagi nakes yang mengalami keterlambatan.

“Ketika mereka sudah bekerja dengan segala pengorbanannya maka haknya harus diberikan, uangnya kan ada kenapa harus jadi lambat, maka dari itu saya mendorong kepada Dinas Kesehatan agar kejadian ini jangan terulang kembali,” kata dia.

Dia menemukan fakta di lapangan permasalahan mengenai insentif banyak dikeluhkan oleh para tenaga kesehatan.

Menurutnya, dengan risiko tinggi yang diemban oleh para tenaga kesehatan maka mempercepat pembayaran insentif nakes harus menjadi prioritas di masa pandemi COVID-19 saat ini.

Sumber Berita

Continue Reading

Berita

Apresiasi Kemenag untuk Mendiang Huzaemah Tahido Yanggo yang Meninggal Karena COVID-19

Apresiasi Kemenag untuk Mendiang Huzaemah Tahido Yanggo yang Meninggal Karena COVID-19

[ad_1]

JAKARTA – Pejabat di lingkungan Kementerian Agama menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Rektor Institut Al Quran (IIQ) Prof. dr. Hj. Huzaemah Tahido Yanggo yang meninggal dunia setelah berjuang melawan COVID-19. Menurut Sekretaris Ditjen Bimas Islam Kemenag M. Fuad Nasardan, almarhumah dinilai sebagai sosok cendekiawan Muslim yang patut diteladani.

“Ibu Huzaemah sesuai kapasitas keilmuwan yang dimilikinya telah memberikan kontribusi terbaiknya di lingkungan kampus dan majelis ulama. Sosok perempuan intelektual yang dapat dijadikan teladan bagi generasi muda,” ujar M. Fuad Nasar saat dikonfirmasi dari Jakarta, Jumat 23 Juli.

Huzaemah yang pernah menjabat sebagai Ketua MUI Bidang Fatwa meninggal dunia di RSUD Serang, Provinsi Banten, pada Jumat 23 Juli setelah berjuang melawan COVID-19.

Menurut Fuad, kontribusinya terhadap keilmuan tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia menjadi salah satu perempuan yang lulus program doktor (S3) Universitas Al-Azhar, Mesir, dengan predikat cumlaude.

Saat itu, katanya, stigma terhadap perempuan masih dianggap mustahil untuk bisa melangkah maju di bidang pendidikan begitu kuat. Namun Huzaemah mampu merobohkan batas-batas itu, bahkan mampu meraih predikat terbaik di universitas yang terkenal sulit itu.

“Setelah Ibu Prof. Dr. Hj. Zakiah Daradjat, ulama perempuan Indonesia pertama yang menamatkan pendidikan di Timur Tengah, yaitu S2 dan S3 pada Ein Shams University, Faculty of Education Mental Hygiene Department di Kairo, Mesir, setahu saya ulama perempuan Indonesia yang terkemuka lulusan dari Al Azhar Mesir adalah Ibu Prof. Dr. Hj. Huzaemah Tahido Yanggo,” kata Fuad.

Menurut Fuad, banyak keilmuan-keilmuannya yang menjadi rujukan maupun diskursus bagi ulama lain di Indonesia. Maka dari itu, tak salah jika memasukkan Huzaemah sebagai salah satu teladan keilmuan.

“Ibu Huzaemah sesuai kapasitas keilmuwan yang dimilikinya telah memberikan kontribusi terbaiknya di lingkungan kampus dan majelis ulama. Sosok perempuan intelektual yang dapat dijadikan teladan bagi generasi muda,” kata dia.

Rektor Institute of Quranic Science (IIQ) Prof Dr Huzaemah Tahido Yanggo yang juga Ketua Fatwa MUI periode 2015-2020.  (Di antara)
Rektor Institute of Quranic Science (IIQ) Prof Dr Huzaemah Tahido Yanggo yang juga Ketua Fatwa MUI periode 2015-2020. (Di antara)

Selain dikenal sebagai Ketua Komisi Fatwa MUI, Almarhum Huzaemah Tahido Yanggo juga Rektor Institut Studi Al-Qur’an (IIQ) dan Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selain itu, Huzaemah juga pernah menjadi anggota Dewan Pengawas Syariah di Bank Niaga Syariah pada tahun 2004 dan Ketua Dewan Pengawas Syariah di Great Eastern Takaful Insurance.

Sejumlah buah pikir telah ditelurkan oleh Huzaemah Tahido Yanggo yang gugur karena COVID-19, dalam beberapa buku yang telah ditulisnya, seperti “Pengantar Perbandingan Mazhab” (2003), “Masail Fiqhiyah: Kajian Hukum Kontemporer” (2005), dan “Fikih Perempuan Kontemporer” (2010).

.

[ad_2]

Sumber Berita

Continue Reading

Berita

PR dari Megawati soal Asal Usul Kodok juga Kupu-kupu dan Pesan Agar Anak Tak Terpaku Pelajaran Formal

PR dari Megawati soal Asal Usul Kodok juga Kupu-kupu dan Pesan Agar Anak Tak Terpaku Pelajaran Formal

[ad_1]

JAKARTA – Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri memberikan pesan dalam peringatan Hari Anak Nasional 2021. Megawati mengingatkan, anak-anak Indonesia sebagai generasi penerus bangsa harus tumbuh dengan sehat.

“Dan yang paling utama harus rajin belajar untuk bisa menuntut ilmu dan dengan selalu riang gembira,” ujar Megawati dikutip dari tayangan YouTube Kementerian PPPA, Jumat, 23 Juli.

Selain sehat dan rajin, Megawati juga berpesan kepada anak-anak agar dalam belajar tidak hanya terpaku dengan pelajaran formal di sekolah. Namun, juga perlu keluar dan belajar dari alam atau lingkungan sekitar.

“Karena kalau dihitung kita belajar di sekolah tidak sampai satu hari. Jadi hari jam-jam kelebihan itu carilah pengetahuan di mana saja,” kata Ketua Dewan Pengarah BPIP ini.

Menurutnya, anak-anak harus diajak untuk mengetahui dunia luar. Sebab, guru yang paling baik adalah alam semesta.

“Coba saja anak-anak jalan-jalan saja kalau sudah selesai belajar. Kita bisa bertemu capung, bertemu kodok, bertemu taman air,” kata Megawati.

Ketua Umum PDI Perjuangan ini lantas memberikan pekerjaan rumah (PR) untuk anak supaya mencari tahu dari mana asal mula terciptanya kodok dan kupu-kupu.

“Ibu ingin bertanya, nanti ini PR, dari manakah asal kodok? Dari manakah asal kupu-kupu? Banyak anak sekarang tidak mengetahui, jadi itu PR ya dari ibu,” katanya.

Megawati juga berpesan agar anak-anak Indonesia agar memiliki cita-cita yang tinggi. Sesuai pernyataan Bung Karno yang menyebut cita-cita perlu digantungkan setinggi bintang.

“Bung Karno, Bapak bangsa kita pernah mengatakan gantungkan lah cita-citamu setinggi bintang di langit karena kenapa, kalau kamu jatuh, jatuhnya ke bintang-bintang tersebut. Alangkah indahnya mimpi seperti itu,” jelas Megawati.

Megawati bercerita, saat masih anak-anak, dirinya kerap merasa malas dalam mengerjakan tugas. Namun, menurutnya, perlu adanya semangat dari diri sendiri agar tidak bodoh dan kalah dengan anak-anak lain.

“Ibu juga pernah jadi anak-anak, ibu juga pernah malas, aduh yang namanya PR kok bertumpuk ya? Tapi ibu punya fighting spirit, saya tidak mau jadi bodoh makanya ada yang menggugah dari badan sendiri. Oh saya nggak mau malas supaya pintar, tidak mau sama anak-anak lain saya kalah,” kata Megawati.

.

[ad_2]

Sumber Berita

Continue Reading

Trending Dari BuzzFeed

close