Business is booming.

Tingginya Permintaan Vaksin Picu “Kepanikan Global”



CEO GAVI Vaccine Alliance Seth F. Berkley mengatakan saat ini sejumlah pemerintah menyumbangkan – atau menjual kembali – kelebihan dosis vaksin mereka agar dapat didistribusikan kembali secara lebih merata ke negara-negara lain yang membutuhkan. GAVI adalah sebuah aliansi vaksin internasional yang menyediakan vaksin gratis bagi negara-negara yang memenuhi syarat.

Berbicara dalam panel virtual Forum Ekonomi Dunia WEF, Berkley mengatakan, “Saat ini jelas ada sedikit kepanikan vaksin global. Banyak negara menginginkan dosis vaksin Covid-19, dan sampai hari ini kami melakukan yang terbaik untuk mendorong ketersediaan vaksin itu. Maksud saya, mulai dari dosis pertama diproduksi hingga didistribusikan ke banyak negara berkembang, mungkin dibutuhkan waktu 8-10 minggu, waktu yang luar biasa cepat dibanding jadwal sebelumnya. Tetapi tentu saja kita lebih suka jika dosis vaksin itu sudah tersedia di negara maju dan berkembang.”

Lebih jauh Berkley bicara tentang langkah sebagian negara membeli beragam vaksin berbeda karena belum yakin dengan tingkat kemanjurannya.

“Orang-orang tidak tahu vaksin mana yang akan berhasil, atau apakah ada yang berhasil dari semuanya itu. Jadi mereka mengupayakan beragam vaksin. Jika menggunakan analogi itu maka hari ini kami memperkirakan ada 800 juta dosis vaksin di dunia. Ini jauh melampaui komitmen dan kebutuhan untuk memvaksinasi penduduk dunia; dan masih ada opsi 1,4 miliar dosis lain. Jadi sebagai bagian dari COVAX, kami telah menetapkan prinsip-prinsip untuk mendonasikan vaksin. Yang terpenting adalah negara-negara itu mau menyumbangkan vaksin mereka dan tentu saja kami sangat menghargainya. Tetapi kami juga berada dalam posisi untuk membeli atau antri dalam urut-urutan produksi vaksin sehingga vaksin ini tersedia secara adil,” imbuhnya.

Perusahaan-perusahaan farmasi telah dikritik karena keterlambatan pengiriman.

Uni Eropa hari Senin (25/1) mengecam perusahaan farmasi raksasa AstraZeneca, menuduh perusahaan itu gagal mendistribusikan vaksin virus corona ke blok negara-negara itu, padahal sebelumnya Uni Eropa telah mendanai perusahaan itu untuk meningkatkan produksinya.

Komisioner Urusan Kesehatan Uni Eropa Stella Kyriakides, yang sudah menyampaikan kecaman keterlambatan distribusi vaksin ke 27 negara anggota blok itu, juga mengatakan bahwa dalam beberapa hari ini Uni Eropa akan meminta pemberitahuan awal bagi persetujuan ekspor vaksin Covid-19 apapun yang diproduksi di dalam kawasan blok itu.

CEO Kelompok DHL di Belanda Frank Appel mengatakan siap mengikuti keputusan apapun yang diambil Uni Eropa.

“Saya benar-benar tidak dapat menghakimi apa yang sebenarnya terjadi. Apakah karena kesalahpahaman atau ada janji yang berbeda dari perusahaan-perusahaan farmasi itu. Logistik vaksin tidak akan menghalangi hal itu. Dan tentu saja Uni Eropa dapat memutuskan apakah apa yang telah diproduksi di Eropa harus tetap berada di Eropa atau tidak. Tentu saja mereka akan bersikap transparan dengan proses bea cukainya. Apakah ini keputusan yang tepat, saya juga benar-benar tidak tahu karena saya tidak mengetahui apa yang disepakati perusahaan-perusahaan farmasi dengan komisi ini atau dengan negara-negara Eropa.”

Dibanding Israel dan Inggris, Uni Eropa jauh tertinggal dalam distribusi vaksin pada penduduk yang paling rentan dan petugas layanan kesehatan mereka.

Pengumuman AstraZeneca bahwa sejak awal pihaknya akan mengirimkan lebih sedikit vaksin ke Uni Eropa telah meningkatkan tekanan pada blok 27 negara itu, terutama setelah Pfizer-BioNTech – vaksin pertama yang mendapat persetujuan Uni Eropa – minggu lalu gagal memenuhi janji pengiriman vaksin yang dijanjikannya ke Uni Eropa.

Pfizer-BioNTech untuk sementara waktu telah mengurangi pengiriman vaksin ke Uni Eropa dan Kanada ketika pihaknya merombak pabrik di Belgia untuk meningkatkan kapasitas produksi secara keseluruhan. Italia mengancam akan menuntut Pfizer karena penundaan pengiriman itu. [em/jm]



Source link