Info

Tidak Boleh Ada Narasi Tunggal dalam Penyelesaian Krisis Israel-Palestina

Serangan terbaru Israel ke Rafah sepanjang minggu lalu menjadi sorotan utama Menteri Pertahanan Prabowo Subianto saat berbicara di Shangri-La Dialogue yang diselenggarakan oleh International Institute for Strategic Studies IISS di Singapura, Sabtu (1/6) sore.

“Saya ingin menyoroti peristiwa tragis terbaru di Rafah yang telah menyebabkan banyak korban jiwa yang tidak bersalah, termasuk anak-anak, perempuan, dan warga sipil tak bersenjata. Insiden yang memilukan ini mendorong kita untuk segera menyerukan investigasi menyeluruh terhadap bencana kemanusiaan ini. Memahami sepenuhnya tragedi ini sangat penting untuk mencegah kejadian serupa di masa depan,” ujar Prabowo dalam forum tahunan yang dihadiri ratusan menteri dan pejabat senior, serta pakar keamanan dunia itu.

Presiden terpilih itu menyerukan kepada masyarakat internasional untuk memberikan solusi yang adil pada rakyat Israel dan Palestina.

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto saat berbicara di Shangri-La Dialogue yang diselenggarakan oleh International Institute for Strategic Studies IISS di Singapura, Sabtu (1/6).

“Kami sangat menyadari bahwa masalah Palestina adalah masalah yang panjang dan bersejarah. Kami menyadari bahwa kedua belah pihak sama-sama berhak prihatin atas keselamatan mereka, hak untuk hidup, dan mencapai kemakmuran. Kami juga menyadari fakta bahwa penyelesaian krisis ini harus berawal dari rasa saling menghormati,” tegas Prabowo.

“Tidak boleh ada narasi tunggal. Seperti yang sering kami sampaikan, Indonesia menyerukan solusi yang adil untuk masalah ini, dan itu berarti hak untuk hidup bukan hanya bagi Israel, tetapi Palestina. Bahwa rakyat Palestina berhak memiliki tanah air dan negara mereka sendiri. Berhak hidup dalam damai…” ujarnya.

Lebih jauh ia mengulangi pernyataan pemerintah sebelumnya yang menyerukan gencatan senjata komprehensif dan permanen untuk menghentikan perang Israel-Hamas yang telah menelan puluhan ribu korban jiwa tak berdosa. Untuk menjaga dan memantau gencatan senjata itu, ujarnya, Indonesia siap mengirimkan pasukan penjaga perdamaian ke Gaza.

Shangri-La Dialogue yang diselenggarakan oleh International Institute for Strategic Studies IISS di Singapura. (Foto:

Shangri-La Dialogue yang diselenggarakan oleh International Institute for Strategic Studies IISS di Singapura. (Foto:

“Kami siap mengirim pasukan perdamaian yang signifikan untuk menjaga dan memantau gencatan senjata ini, serta memberikan rasa aman kepada semua pihak. Kami juga siap untuk segera mengirimkan tenaga medis guna mengoperasikan rumah sakit lapangan di Gaza, tentunya persetujuan semua pihak,” katanya.

Menanggapi proposal gencatan senjata yang disampaikan Presiden AS Joe Biden, Prabowo mengatakan melihat proposal itu sebagai “langkah penting yang tepat,” dan menyampaikan kegembiraannya karena Hamas juga menanggapi dengan positif proposal itu.

Pengamat: Usul Pengiriman Pasukan Penjaga Perdamaian Penting

Pengamat hubungan internasional Universitas Diponogoro, Mohamad Rosyidin menilai usul pengiriman pasukan perdamaian ke Gaza yang disampaikan Prabowo di forum Shangri-La itu merupakan suatu yang penting. Namun, menurutnya, hal itu harus didahului dengan gencatan senjata.

“Langkah pertama yang harus dilakukan mencapai gencatan senjata terhadap kedua belah pihak. Dalam hal ini usulan tiga langkah proposal dari Amerika, menurut saya perlu untuk segera direalisasikan. Cuma seperti Biden sendiri akui bahwa proposal ini mungkin akan mendapatkan penentangan dari pihak Israel. Jadi ini merupakan tantangannya untuk merealisasikan usulan itu,” kata Rosyidin.

AS, tambahnya, sedianya menekan Israel terlebih dahulu agar bersedia menerima usulan itu. “Misalnya dengan mengenakan sanksi penghentian bantuan jika tidak mau menerima. Hanya Amerika yang bisa melakukannya,” ujarnya.

Solusi dua negara yang banyak disebut dalam forum tahunan di Singapura itu, dinilai sebagai opsi paling ideal yang membutuhkan dukungan luas dunia internasional. Indonesia, ujarnya, dapat kembali menggalang dukungan lewat diplomasi, khususnya ke negara-negara Barat, agar semakin banyak yang mengakui Palestina sebagai negara, yang tentunya akan memberi tekanan pada Israel. [fw/em]

Sumber Berita

Apa Reaksimu?

Lainnya Dari BuzzFeed