Connect with us

Iptek

Terancam Punah, Ini 4 Primata Endemik yang Menghuni Kepulauan Mentawai

Terancam Punah, Ini 4 Primata Endemik yang Menghuni Kepulauan Mentawai

[ad_1]

Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, dikenal dengan keunikan budaya yang masih terjaga serta kawasan pantai eksotis dengan ombak besar. Tak heran jika Mentawai sering jadi tujuan liburan para peselancar dari berbagai negara.

Kepulauan ini terdiri dari empat pulau utama yang berpenghuni, yaitu Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara, dan Pulau Pagai Selatan. Sebagian besar pulau lain hanya ditanami pohon kelapa.

Selain diberkahi dengan alam yang mempesona, Mentawai juga merupakan habitat bagi empat primata endemik yang dilindungi, seperti monyet Mentawai, monyet kuncir, kera Mentawai, dan siamang kerdil.

Monyet ekor babi

Memiliki nama ilmiah monyet, Concolor atau sering disebut simakobu, primata mungil ini memiliki ciri khas fisik ekor yang mirip seperti ekor babi dan hidungnya pesek. Uniknya, tangan dan kaki simakobu memiliki panjang yang sama.

Untuk membedakan jantan dan betina, bisa dilihat dari bentuk tubuhnya. Simakobu jantan dewasa umumnya lebih besar dibanding betina, dan taring jantan relatif lebih panjang.

Simakobu jantan memiliki panjang sekitar 49-55 cm dengan berat rata-rata 8,7 kg dan panjang betinanya sekitar 46-55 cm dengan bobot sekitar 7,1 kg. Untuk panjang ekornya sekitar 14-15 cm. Umumnya, warna simakobu cenderung abu-abu gelap, tetapi ada juga yang warnanya cokelat muda.

Habitatnya adalah daerah lereng bukit, baik di pedalaman pulau, hutan air payau, hutan air tawar, dan hutan hujan berdataran rendah. Simakobu cenderung hidup dalam kelompok kecil yang terdiri dari satu pejantan, satu atau lebih betina, dan anak-anaknya.

Kebanyakan aktivitasnya dilakukan di atas pohon dan jarang turun ke tanah, mereka sering menghabiskan waktu pada siang hari. Untuk makanan, primata asli Indonesia ini biasa mengonsumsi bunga, buah, dan dedaunan.

Termasuk hewan endemik Indonesia, persebaran simakobu terbatas hanya di Kepulauan Mentawai saja. Populasinya diperkirakan semakin menurun dan kini sudah berstatus hewan langka. Hal ini terjadi karena perburuan berlebihan ditambah dengan habitat asli yang rusak dan hilang, mengingat banyak hutan dijadikan perkebunan kelapa sawit.

5 Burung Cantik Asli Indonesia yang Sudah Mulai Langka

kera Mentawai

info gambar

Beruk Mentawai | @Opayaza12 Shutterstock


Primata lain yang bisa ditemukan di Mentawai ialah beruk atau bokkoi (monyet pagensis). Tampilan fisiknya serupa beruk pada umumnya, tetapi ada perbedaan di bagian rambut pipi yang warnanya lebih gelap, serta memiliki mahkota berwarna cokelat, dan rambut di dahi. Ukuran tinggi bokkoi jantan sekitar 45-55 cm dan betina 40-45 cm. Ekornya cukup panjang, sekitar 10-16 cm.

Bokkoi kantung pipi yang berfungsi untuk menyimpan stok makanan ketika ia sedang mencari makanan. Ia merupakan hewan diurnal atau aktif di siang hari dan pemakan segala jenis daun, bunga, biji-bijian, dan aneka buah.

Bokkoi lebih suka hidup di atas pohon dengan ketinggian 24-36 meter serta hidup berkelompok, mulai dari 5-25 individu. Satu kelompok biasanya dipimpin seekor hewan jantan. Saat mencari makan, bokkoi biasanya berjalan dengan cara merangkak. Ciri khas mereka dalam berkomunikasi adalah teriakan yang nyaring.

Untuk melihat keberadaan bokkoi, mereka biasanya hidup di hutan bakau, hutan pantai, hutan sekunder, hutan primer, dan hutan dekat pemukiman. Saat ini, statusnya pun terancam punah dan populasinya semakin berkurang.

Inilah Burung Paling Berbahaya di Dunia yang Hidup di Hutan di Indonesia

siamang kerdil

Siamang kerdil juga biasa disebut owa bilou, bilou, atau owa Mentawai dengan nama latinnya Hylobates klossii. Ia adalah jenis kera unik, mirip siamang, tetapi ukurannya kecil. Sekujur tubuhnya dipenuhi rambut berwarna hitam pekat dan memiliki selaput antara jari kedua dan ketiga.

Berat tubuh bilou jantan dewasa rata-rata sekitar 5,5 kg dengan panjang 45 cm. Primata ini hidup berkelompok, terdiri dari induk jantan dan betina dengan anak-anak yang belum dewasa. Jenis arboreal tertua yang masih hidup ini lebih banyak hidup di atas pohon dengan ketinggian lebih dari 20 meter.

Di habitat alam liar, bilou dapat hidup hingga 25 tahun dan dalam penangkatan yang terawat serta hidupnya tercukupi, ia bisa hidup sampai 40 tahun. Makanan bilou antara lain buah-buahan, telur burung, serangga, vertebrara kecil, dan tanaman.

Bilou termasuk jarang turun ke tanah. Ia menggunakan lengan-lengannya yang panjang untuk berpindah dari satu pohon ke pohon lain. Warga lokal percaya bahwa suara bilou menjadi pertanda datangnya bencana dan seringkali jadi peringatan dini.

Di habitat alam liar, masa hiduo Owa Bilau alias Siamang kerdil bisa hidup hingga 25 tahun dan jika dalam penangkaran yang terawat dan tercukupi kebutuhan hidupnya bisa mencapai 40 tahun.

Berdasarkan UU RI No.5 Tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah RI No.7 Tahun 1999, bilou termasuk satwa dilindungi. Bilou terancam mengalami kepunahan akibat perburuan, perdagangan, dan kehilangan habitat.

Burung Endemik Seriwang Sangihe Kini Terancam Pertambangan Emas

Lutung Mentawai

Lutung Mentawai merupakan spesies primata yang termasuk dalam famili Cercopithecidae. Ia dikenal dengan nama lokal joja atau lutung Mentawai, ada pula yang menyebutnya Mentawai Leaf Monkey, Golden-bellied Mentawai Island Langur, atau Lutung ekor panjang.

Joja dikatakan termasuk primata dengan rupa paling menawan. Punggunya hitam berkilau, perutnya berwarna cokelat tua, sekitar mukanya berwarna putih, kemudian leher serta ekornya panjang dan hitam seperti sutera.

Ia pun merupakan hewan diurnal dan pergerakannya kebanyakan bergelantungan dan melompat. Pakan utamanya kebanyakan berupa dedaunan, tetapi masih mengonsumsi buah, biji-bijian, dan bunga.

Keunikan yang dimiliki joka adalah ia biasa mengeluarkan bunyi sebelum fajar dan ini dijadikan sebagai tanda teritori kawanannya, sehingga kelompok lain dapat menghindar. Sebagai hewan arboreal sejati, sepanjang hidupnya joja tinggal di atas pohon dan sangat jarak menapak tanah.

Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN) Redlist tahun 2016, primata ini berstatus Terancam punah atau terancam punah karena populasinya terus menurun akibat perburuan dan kerusakan habitat.

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.jshttps://platform.instagram.com/en_US/embeds.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Advertisement
Click to comment

Iptek

Memahami Seluk-beluk Vaksinasi Covid-19 di Indonesia

Memahami Seluk-beluk Vaksinasi Covid-19 di Indonesia

[ad_1]

Jauh sebelum situasi pandemi Covid-19 terjadi, tak dimungkiri kalau masih banyak segelintir orang yang beranggapan bahwa vaksinasi hanyalah suatu metode kesehatan, yang dilakukan untuk meningkatkan produksi antibodi dan imunitas tubuh yang diperuntukkan untuk balita.

Nyatanya orang dewasa pun perlu divaksin, vaksin yang diperuntukkan bagi orang dewasa di antaranya influenza, pneumonia, hepatitis A dan B, HPV, paket vaksin tetanus, dan MMR. Tidak ada yang menyangka secara pasti, bahwa jajaran vaksinasi yang sudah ada akan bertambah dengan kehadiran vaksin Covid-19.

Sama seperti wabah penyakit lainnya, kehadiran Covid-19 memunculkan vaksin yang diharapkan dapat menjadi penawar, untuk meminimalisir berbagai gejala yang ditimbulkan apabila terpapar suatu penyakit yang disebabkan oleh virus.

Jika dianalogikan berdasarkan vaksinasi yang sudah lebih lama hadir dan dapat diterima dengan lebih mudah oleh masyarakat secara umum, prinsip yang ada pada vaksin Covid-19 pada dasarnya sama dengan vaksin cacar.

Sebagai contoh, ketika masyarakat melakukan rangkaian vaksinasi kepada balita, hal tersebut sudah pasti dijalankan dengan tujuan untuk meminimalisir gejala atau risiko yang ditimbulkan apabila terpapar penyakit yang rentan dialami oleh para balita.

Salah satunya pemberian vaksin varicella untuk mencegah cacar air dengan tingkat efektivitas cukup tinggi, yakni mencapai 85–90 persen. Kalaupun terkena cacar air, orang yang sudah mendapatkan vaksin varicella akan mengalami gejala yang lebih ringan dan lebih cepat sembuh, prinsip tersebut pada dasarnya berlaku untuk semua jenis vaksin, termasuk Covid-19.

Maka berdasarkan analogi di atas, sejatinya sudah tidak ada lagi alasan bagi seseorang yang sampai saat ini masih mempertanyakan keberadaan vaksin yang diperuntukkan untuk menghadapi wabah Covid-19.

Karena jika selama ini keberadaan berbagai vaksin yang sudah ada seperti vaksin cacar, polio, dan sebagainya, dapat diterima dengan baik oleh masyarakat, mengapa penerimaan yang sama tidak dilakukan terhadap vaksin Covid-19?

Namun, di balik imbauan mengenai vaksin yang diperuntukkan dalam menghadapi wabah penyakit termasuk Covid-19, ada berbagai hal penting yang juga harus dipahami dengan baik. Salah satunya kondisi di mana seseorang tidak dapat menerima vaksin, karena memiliki potensi menimbulkan masalah kesehatan lain bagi tubuh.

Gejala Bisa Menetap Meski Sudah Sembuh, Ini yang Dimaksud Long Covid

Memahami kondisi tubuh dan penyebab seseorang tidak dapat divaksin

Ilustrasi larangan vaksin | Bernard Chantal/Shutterstock


Walau vaksin menjadi suatu hal yang wajib dan diutamakan sebagai upaya menghadapi penyakit, nyatanya tetap ada beberapa kondisi yang membuat seseorang tidak dapat menerima vaksin.

Secara garis besar, ada beberapa kondisi penyebab seseorang tidak dapat divaksin. Pertama, tidak dapat divaksin sementara karena disebabkan oleh kondisi kesehatan yang sedang tidak fit, dibarengi dengan daya tahan tubuh yang sedang lemah.

Karenanya, tidak heran jika sebelum vaksin dilakukan sesi penyaringan untuk mengetahui kondisi kesehatan calon penerima vaksin lewat beberapa pertanyaan kondisi yang diajukan, yaitu:

  1. Terkonfirmasi menderita Covid-19
  2. Sembuh dari Covid-19 kurang dari 3 bulan
  3. Mengalami gejala ISPA, seperti batuk, pilek, dan sesak napas dalam 7 hari terakhir
  4. Berdasarkan pengukuran tekanan darah didapati hasil 140/90 atau lebih, atau dalam kondisi hipertensi tidak terkendali
  5. Sedang dalam masa pengobatan penyakit tertentu, seperti kemoterapi untuk kanker dan sejenisnya
  6. Ibu hamil atau sedang dalam masa menyusui

Beberapa kondisi di atas menjadi bahan pertimbangan apakah seseorang dapat menerima vaksin Covid-19 atau tidak dalam kurun waktu tertentu. Namun dalam beberapa kasus seperti bagi ibu hamil dan penyintas Covid-19 kurang dari 3 bulan, ada yang bisa mendapatkan vaksin setelah melakukan konsultasi dengan dokter.

Panduan Isolasi Mandiri di Rumah Bagi Pasien Positif Covid-19

Adapun bagi seseorang yang memiliki riwayat penyakit lain yang tidak disebutkan dalam tahap penyaringan, disarankan untuk lebih dulu melakukan konsultasi kepada dokter spesialis penyakit yang diderita.

Kedua, kondisi di mana seseorang dalam kondisi yang tidak dianjurkan menerima vaksin Covid-19 akibat adanya penyakit kronis bawaan, dan bisa memperburuk keadaan bahkan dapat meningkatkan risiko kematian.

Menurut Yogi Prawira, Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), bagi seseorang yang sudah memiliki penyakit kronis bawaan (komorbid), atau penyakit yang menyerang imunitas, virus dapat memperparah penyakit bawaan tersebut serta menghalangi proses pengobatan dalam hal ini vaksinasi.

Melansir Halodoc, beberapa penyakit kronis yang membuat seseorang tidak disarankan menerima vaksin di antaranya kelainan kongenital (kelainan bawaan) yang didapat sejak lahir, nenderita penyakit autoimun sistemik (SLE atau lupus) serta jenis autoimun lainnya, penyakit saluran pencernaan kronis, dan penyakit jantung akut atau gagal jantung.

Kata Dokter Soal Bahaya Positif Covid-19 Pada Anak dengan Komorbid

Alasan efektivitas vaksin Indonesia dan negara lain berbeda

ilustrasi keberhasilan vaksin | myboys.me/Shutterstock


Tak dimungkiri, tantangan selanjutnya yang dihadapi Indonesia dalam hal vaksinasi bukan hanya dari sisi kalangan yang masih mempertanyakan manfaat vaksin Covid-19, melainkan mereka yang sudah memiliki keinginan untuk vaksin tapi masih dibingungkan dengan tingkat keefektifan yang berbeda di masing-masing negara.

Sebagai contoh, salah satu vaksin yang memiliki tingkat keefektifan berbeda di berbagai negara adalah vaksin Sinovac. Dilaporkan bahwa awalnya keefektifan vaksin Sinovac mencapai 91,25 persen di Turki, 65,9 persen di Chili, dan 65,3 persen di Indonesia.

Mengapa efektivitas tersebut bisa berbeda-beda? Pertanyaan tersebut dijawab dengan jelas oleh praktisi di bidang kesehatan, yaitu Adam Prabata, kandidat PhD bidang Medical Science di Kobe University.

Sejatinya, publik kurang memerhatikan fakta bahwa sampel dan uji klinik yang dilakukan untuk menguji keefektifan setiap vaksin di masing-masing negara jelas berbeda, mulai dari banyaknya sampel yang komposisinya melibatkan uji coba pada tenaga medis, masyarakat biasa, hingga faktor lain yang dapat mempengaruhi yaitu perbedaan genetik masyarakat di masing-masing negara.

WHO Mengimbau Masyarakat Tidak Mencampur Vaksin Covid-19 Beda Jenis

Mengutip Kompas, Adam menjelaskan secara detail faktor perbedaan yang dimaksud. Di Turki, keefektifan yang diperoleh dari vaksin Sinovac mencapai 91,25 persen karena baru menggunakan hasil uji dari 1.322 subjek klinik, padahal secara keseluruhan ada total 7.371 subjek klinik dalam protokol uji coba yang disetujui.

Sehingga, dapat disimpulkan bahwa klaim keefektifan yang dimiliki oleh Turki masih dalam skala kecil.

Lain halnya dengan hasil yang diperoleh di Chili, penelitian dilakukan terhadap sebanyak 10,2 juta orang dan menghasilkan tingkat keefektifan yang bervariasi mulai dari 65,9 persen untuk mencegah Covid-19 bergejala. Jika dilihat, banyaknya sampel yang digunakan di negara ini jelas jauh berbeda dengan sampel di Turki.

Sedangkan di Indonesia sendiri, uji coba vaksin Sinovac dilakukan terhadap sebanyak 1.620 relawan di Bandung dan diperoleh keefektifan sebesar 65,3 persen. Jumlah sampel yang tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan oleh Turki.

Faktor lain yang membuat hasil uji keefektifan vaksin di setiap negara berbeda juga dapat dipengaruhi oleh karakter subjek serta risiko infeksi, misal penggunaan vaksin yang diberikan kepada orang dengan risiko terpapar yang lebih tinggi.

Maksudnya, risiko terjangkit Covid-19 yang mengintai tenaga kesehatan dan pekerja lapangan, jelas berbeda dengan kalangan masyarakat umum yang memiliki mobilitas rendah, bahkan cenderung beraktivitas di dalam rumah selama masa pandemi.

Terlepas dari perbedaan keefektifan vaksin yang diperoleh berbagai negara, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyetujui ketentuan dasar berupa tingkat keefektifan minimal 50 persen, sebagai ambang batas bagi vaksin yang aman dan dapat digunakan dalam situasi darurat pandemi seperti saat ini.

Pertama Dipakai Indonesia, Ini Ungkapan Keefektifan dari Penerima Vaksin Sinovac

Keberadaan vaksin Covid-19 di Indonesia

Bicara mengenai keberadaan vaksin, Indonesia termasuk negara yang beruntung karena tak henti-hentinya mendapatkan berbagai macam bantuan vaksin Covid-19 yang diperolah dari berbagai negara.

Di luar pengadaan yang dilakukan lewat pembelian vaksin secara mandiri, sederet negara yang memiliki fokus bersama menghadapi situasi pandemi kerap memberikan bantuan vaksin untuk Indonesia.

Jumlah Penerima Vaksin di Asia Tenggara, Indonesia Jadi yang Terbanyak

Sedangkan jika menilik angka vaksinasi di tanah air, berdasarkan data yang dipublikasi oleh Dunia kita dalam Data, per tanggal 21 Juli 2021, ada sebanyak 42.611.602 masyarakat yang sudah mendapatkan vaksin dosis pertama, atau setara dengan 15,7 persen keseluruhan populasi di tanah air.

Dari angka tersebut, sebanyak 16.606.675 masyarakat, atau setara dengan 6,1 persen keseluruhan populasi masyakarat sudah mendapatkan vaksin lengkap (2 dosis).

Untuk saat ini, ada 4 jenis vaksin yang umum dan banyak digunakan di Indonesia, yaitu Sinovac, Sinopharm, AstraZeneca, dan Moderna. Tidak lama lagi, vaksin Pfizer juga akan mengisi jajaran vaksin Covid-19 yang akan ikut mengakselerasi vaksinasi nasional, sekaligus menjadi vaksin yang mendapat izin dan persetujuan BPOM untuk dapat digunakan bagi kalangan anak usia 12-18 tahun bersamaan dengan Sinovac.

“…BPOM pada 14 Juli 2021 telah menerbitkan emergency use authorization (EUA) untuk vaksin yang diproduksi Pfizer and BioNTech dengan platform m-RNA, vaksin tersebut dapat digunakan pada remaja usia 12 tahun ke atas secara injeksi intramuscular dosis 0,3 mililiter dengan dua kali penyuntikan dalam rentang waktu 3 minggu.” ujar Kepala BPOM Penny K Lukito, dalam konferensi pers virtual, Kamis (15/7).

Mengenal Vaksin Pfizer, Lebih Efektif Hadapi Varian Delta dan Potensi Penggunaan Bagi Anak

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.jshttps://platform.instagram.com/en_US/embeds.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Continue Reading

Iptek

Menyelisik Asal Usul Gajah Kerdil yang Disebut Berasal dari Jawa

Menyelisik Asal Usul Gajah Kerdil yang Disebut Berasal dari Jawa

[ad_1]

Foto gajah kerdil © (Yumik) Shutterstock


Gajah kerdil Kalimantan atau gajah pygmi Borneo, sesuai namanya memang mempunyai ukuran yang lebih kecil dibandingkan dengan subspesies gajah Asia maupun gajah Afrika. Jika Gajah Asia bisa setinggi 3 meter, gajah kalimantan maksimal hanya 2,5 meter. Mungkin jika dibayangkan gajah ini mirip dengan karakter animasi Dumbo dari Disney.

Selain ukuran, ciri-ciri fisik gajah kerdil ini antara lain memiliki ukuran telinga lebar dan ekor panjang yang menyentuh tanah. Kendati ukurannya kecil, gajah Kalimantan sanggup berjalan sejauh tujuh hingga 13 kilometer dalam sehari. Gajah jantan memiliki tinggi badan antara 1,7 hingga 2,6 m, sedangkan gajah betina antara 1,5 hingga 2,5 m.

Gajah Kalimantan juga kurang agresif dibandingkan subspesies gajah Asia lainnya. Pola dan jenis makanan gajah ini hampir menyerupai gajah Asia lainnya. Kendati mengusung nama Kalimantan, Dana Seluruh Dunia untuk Alam (WWF) mencatat populasi gajah Kalimantan terbesar ada di wilayah Sabah, Malaysia dengan 1.500 hingga 2.000 ekor. Sementara di Indonesia, gajah Kalimantan hanya ada 30 hingga 80 ekor.

Minimnya populasi gajah Kalimantan membuatnya masuk daftar merah Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN). Penyebabnya tak lain karena hilangnya habitat gajah Borneo akibat penebangan hutan dan alih fungsi hutan oleh tangan manusia. Padahal hadirnya gajah di wilayah tersebut menandakan tersedianya sumber daya untuk mendukung kehidupan satwa liar.

Selisik Wisata Alam Terbaik di Pulau Borneo

Gajah betina pada umumnya hidup berkelompok, sedangkan gajah jantan hidup soliter. Mereka bertemu hanya pada saat musim kawin. Gajah hamil hanya dengan satu anak, dengan periode kehamilan sekitar 19-21 bulan. Meskipun ukuran badan mereka kecil, gajah Kalimantan tetap memerlukan habitat yang luas.

Riset yang dilakukan Luke Evan, ekologis dari Sentral Lapangan Danau Girang Malaysia selama 10 tahun mencatat pergerakan gajah Kalimantan menggunakan GPS. Bedasarkan hasil penelitian disimpulkan jika gajah menyukai hutan yang lebih terdegradasi untuk memudahkan pergerakan dan sinar matahari melewati pohon-pohon pendek.

Sinar matahari yang menembus pepohonan memudahkan pertumbuhan tanaman di dekat tanah untuk membantu memuaskan nafsu makan gajah yang besar.

“Ada banyak keuntungan melindungi hutan rimba, akan tetapi kami menemukan bahwa hal tersebut tidak sepenuhnya membantu untuk gajah,” kata Luke, dilansir dari Mongabay.

Benarkah gajah kerdil dari Jawa?

Latar belakang mengenai gajah terkecil di dunia ini masih menjadi misteri. Untuk satu hal, para ilmuwan tidak yakin kapan tepatnya, dan bagaimana caranya gajah kerdil ini sampai ke Pulau Kalimantan dari daerah lain di Asia. Ada sebagian pendapat, gajah kerdil merupakan hewan introduksi, sedangkan pihak lain berkeyakinan bahwa mereka hewan endemik Kalimantan.

Gajah kerdil adalah spesies yang lebih lembut atau kurang agresif daripada gajah Asia dan Afrika. Sifat damai gajah kerdil membuat beberapa ilmuwan percaya bahwa hewan ini mungkin berasal dari gajah yang sudah dipelihara manusia. Hal ini juga bedasarkan catatan sejarah yang ditemukan.

Pada tahun 1750, Perusahaan Perdagangan India Timur Inggris menghadiahkan hewan-hewan tersebut pada Sultan Sulu (Filipina). Sultan Sulu kemudian memelihara di kawasan utara Kalimantan yang saat itu dikuasainya. Bertahun kemudian hewan tersebut hidup meliar kembali. Garis keturunan hewan ini mungkin bisa ditelusuri kembali ke gajah Jawa yang punah pada 1700-an.

“Pengiriman gajah lewat kapal dari satu tempat ke tempat lain di Asia telah berlangsung sejak beberapa ratus tahun yang lalu, biasanya sebagai hadiah di antara para penguasa,” ujar Shim Phyau Soon, seorang pensiunan rimbawan Malaysia, menukil Kompas.

“Sangat menarik anggapan bahwa gajah Kalimantan yang tinggal di hutan mungkin merupakan sisa terakhir subspesies yang telah punah di tempat asalnya di pulau Jawa, Indonesia, beberapa abad yang lalu,” jelasnya.

Pihak yang lain beranggapan bahwa gajah kerdil merupakan gajah Asia yang sejak masa Pleistosen telah mendiami Kalimantan yang saat itu menyatu dengan Asia. Saat naiknya permukaan laut yang memisahkan Pulau Kalimantan dengan daratan Asia, membuat gajah ini terperangkap di Kalimantan.

Gajah inipun kemudian berevolusi hingga menjadi subspsies gajah Asia yang keempat di samping gajah Sumatra, gajah India, dan gajah Srilanka. Namun, para peneliti belum pernah menemukan fosil gajah di Kalimantan, meskipun fosil dari mamalia besar lainnya seperti orangutan sudah pernah ditemukan.

“Ada juga penelitian yang menunjukan bahwa gajah Kalimantan sangat berbeda dengan gajah Asia lainnya, menunjukan bahwa ada pemisahan kuno, mungkin sekitar 300 ribu tahun yang lalu,” kata Benoit Goossens, dari Cardiff University’s School of Biosciences.

Goossens mengatakan bahwa ada bukti untuk kedua teori tersebut. Namun rekannya dalam penelitian yang sama, yakni Rita Sharma dari Institut Sains Gulbenkian (IGC) di Portugal, mengatakan penelitian mereka menunjukan bahwa subspesies ini telah berhasil menjajah Kalimantan sekitar 11.400 sampai 18.300 tahun yang lalu.

Fakta-fakta tentang Taman Nasional Betung Kerihun di Kalimantan

“Periode ini sesuai dengan waktu ketika permukaan laut sangat rendah dan gajah dapat berimigrasi dari Kepulauan Jawa, ke Kepulauan tempat gajah Kalimantan berada kini,” katanya.

Baik Kalimantan maupun Jawa, adalah daerah asal yang paling memungkinkan bagi gajah Kalimantan. Laporan berjudul “Origins of the Elephants Elephas Maximus L of Borneo,” yang diterbitkan dalam Jurnal Museum Sarawak menunjukan bahwa tidak adanya bukti arkeologis mengenai keberadaan gajah dalam jangka panjang di Borneo.

“Dengan hanya satu gajah betina subur dan satu gajah jantan subur dibiarkan tidak terganggu di habitat yang cukup baik, secara teoritis dapat menghasilkan populasi gajah 2.000 dalam waktu kurang dari 300 tahun,” kata Junaidi Payne dari WWF.

Sementara itu pada 2003, peneliti dari WWF dan Columbia University lewat penelitian DNA mitokondria, menyimpulkan bahwa gajah kerdil secara genetika berbeda dari subspesies gajah di Sumatra atau daratan Asia lainya. Kemungkinan asal usulnya yang berasal dari Jawa semakin menjadikan satwa ini sebagai prioritas konservasi.

“Jika mereka memang berasal dari Jawa, kisah menarik ini menjadi pelajaran bagi kita betapa berartinya upaya penyelamatan populasi kecil dari spesies tertentu, yang seringkali dianggap telah punah,” ujar Dr. Christy Williams, koordinator WWF untuk program gajah dan badak Asia.

Upaya konservasi

Pada Senin (1/10/2019), seekor gajah kerdil yang terancam punah ditemukan mati di Pulau Kalimantan setelah ditembaki sekitar 70 kali. Pejabat Malaysia mengatakan gading gajah itu hilang setelah serangan brutal oleh pemburu liar.

Bangkai gajah kerdil yang dimutilasi juga pernah ditemukan mengambang setengah tenggelam di sungai. Gajah itu sempat diikat dengan tali pohon di tepi sungai, di negara bagian Sabah di Malaysia.

Laporan ini adalah kematian terbaru seekor gajah kerdil, yang jumlahnya telah berukurang karena menjadi sasaran pemburu. Gading gajah menjadi sasaran pemburu. Gading gajah menjadi buruan sementara perkebunan pertanian meluas ke hutan tempat habitat gajah-gajah itu tinggal.

“Empat atau lima pemburu menggunakan senjata semi-otomatis diyakini telah menyerang makhluk itu dari jarak dekat,” lapor surat kabar Bintang, mengutip sumber anonim yang dilansir dari Beritasatu.

Selain itu serangkaian survei lapangan yang dilakukan sejak Februari 2018 telah mengeksplorasi ancaman yang ada terhadap kelangsungan hidup gajah Kalimantan. Salah satu ancaman utama ialah hilangnya karena perusakan habitat.

Kepopuleran Rangkong Gading dan Mitos Kutukan

Hasilnya menunjukan 16 persen habitat alami gajah Kalimantan telah dihacurkan atau dirusak. Habitat mamalia meliputi 93.800 hektare pada 2007. Antonius dari WWF percaya, bahwa penyebab utama kerusakan habitat gajah di Kalimantan ialah konversi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit.

Agus Suyitno, staf spesialis spesies lansekap Kayan untuk Gajah, WWF menyebutkan, gajah-gajah di Kalimantan dapat berkembang biak dengan baik. Adapun sisa habitat utama gajah masih dapat dipertahankan. Namun, upaya konservasi harus terus ditingkatkan.

Semua lintas sektor juga perlu terlibat dengan tugas dan fungsi masing-masing, mulai dari pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, sektor swasta, akademisi, dan kelompok masyarakat. Tujuannya hanya satu, memastikan populasi gajah Kalimantan tetap terjaga dan habitatnya juga tersedia dengan baik.

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Continue Reading

Iptek

Membanggakan! Tim Indonesia Cetak Prestasi di Kompetisi Desain Feri Tingkat Dunia

Membanggakan! Tim Indonesia Cetak Prestasi di Kompetisi Desain Feri Tingkat Dunia

[ad_1]

Karya Nawasena ITS pada International Student Design Competition yang diselenggarakan oleh Worldwide Ferry Safety Association


Dunia masih diselimuti pandemi COVID-19 hingga saat ini. Meski begitu, kondisi tersebut tidak menjadi penghalang bagi siapa saja untuk terus bisa berkarya dan berprestasi. Seperti halnya para mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang tetap menorehkan prestasi di kancah internasional.

Pada Jumat (16/7) lalu waktu Washington DC, diumumkan bahwa Nawasena ITS menorehkan prestasi gemilang pada kompetisi desain kapal feri International Student Design Competition, yang diselenggarakan oleh Worldwide Ferry Safety Association (WFSA), dengan membawa pulang juara 2.

Sebagai informasi Nawasena ITS merupakan tim teknologi kelautan berkelanjutan dan inovasi dan desain Industri di ITS. Untuk WFSA International Student Design Competition sendiri merupakan sebuah kompetisi yang mengangkat tema mengenai inovasi dan pengembangan untuk konsep kapal penyeberangan yang aman dan terjangkau.

Mengintip Menu Makanan Para Atlet Olimpiade Tokyo

Perlombaan ini memiliki tujuan untuk menciptakan sebuah konsep kapal yang aman dan berkelanjutan, agar dapat terhindar dari kecelakaan kapal. Pada lomba ini, mahasiswa dituntut untuk menciptakan sebuah desain konseptual kapal feri untuk sarana transportasi laut di sungai Amazon, Brazil.

Kapal feri yang diciptakan dituntut mampu mengangkut 300 penumpang, rendah emisi, realistis, serta terjangkau dari segi ekonomi. Kompetisi tingkat duni ini diikuti oleh 23 tim dari mancanegara, seperti Hochschule Bremen, Universität Rostock, Newcastle University, Bangladesh University of Engineering & Technology, Technische Universiteit Delft, National University of Singapore, University of British Columbia, University of the State of Amazonas, Singapore institute of technology, dan Indian Maritime University.

Membawakan ide kapal flat outside catamaran

info gambar

Desain ide kapal feri | Foto: Dokumentasi pribadi


Pada kompetisi WFSA, Nawasena ITS membawakan sebuah ide kapal penyeberangan dengan bentuk lambung datar di luar catamaran dengan bahan paduan alumnium. Kapal MV Lanterna sendiri akan menggunakan sistem penggerak hibrid-listrik yang merupakan integrasi dari generator, panel surya, dan baterai yang menyuplai penggerak azimuth.

Dengan sistem ini, konsumsi bahan bakar dapat berkurang 25.8 persen dan emisi dari kapal juga berkurang, sesuai dengan standar dari IMO dan juga regulasi dari pemerintahan setempat. Selain itu, kapal feri juga dilengkapi silika gel untuk perawatan bahan bakar dan Speredam katalitik elektif, serta sistem sremah-remahr untuk mengurangi emisi gas buang.

Tawarkan Aplikasi Layanan Kesehatan, Indonesia jadi Raja di Kompetisi Inovasi Digital

Dalam menghadapi kondisi pandemi, Nawasena ITS telah menyiapkan tata letak ruang akomodasi kapal yang fleksibel untuk diubah-ubah dan telah menambahkan HEPA Filter pada rancangan sistem tata udara.

Selain itu, dari segi ekonomi, desain MV Lanterna memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan masih mampu meraih profit, meskipun dilakukan pembatasan penumpang saat kondisi pandemi.

Dengan kehadiran desain MV Lanterna, dapat menjadi sebuah solusi untuk moda transportasi di sungai Amazon dan solusi bagi perbaikan ekonomi penduduk lokal di sekitar sungai Amazon, Brazil.

Perwakilan tim Nawasena ITS

Foto Anggota dari Tim Nawasena ITS

info gambar

Tim Nawasena ITS | Foto: Dokumentasi pribadi


Tim yang berbasis di Departemen Teknik Sistem Perkapalan ini, mengikuti kompetisi WFSA dengan diwakilkan oleh delegasi 5 orang, yaitu Yohanes Pangestu, Bima Surya, Imam Anthony, Kevin Rizqul Habib, dan Aufal Nanda Oktova dengan dosen pendamping Agoes Santoso dan Achmad Baidowi. Dalam mempersiapkan lomba ini, tim Nawasena ITS membutuhkan waktu sekitar 6 bulan lamanya.

Peran Peneliti Indonesia yang Berkontribusi Membuat Vaksin AstraZeneca

“Walaupun kami mengerjakannya tidak bertemu satu sama lain dan di rumah masing-masing, tetapi kami dapat berkoordinasi dengan baik sehingga hasilnya juga memuaskan,” kata Yohanes Timur, Ketua Nawasena ITS.

Ke depannya, Nawasena ITS akan kembali bersaing didalam kompetisi “Kontes Kapal Cepat Tak Berawak Nasional 2021 Kategori Desain” yang diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional, Dikti, Kemendikbud.

Prestasi yang dicetak Nawasena ITS dapat menjadi kaca bagi para anak muda saat ini bahwa dalam kondisi apapun, berkarya dan berprestasi masih bisa dilakukan. Selamat Nawasena ITS!*

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Continue Reading

Trending Dari BuzzFeed

close