Tari Topeng Tua Bali, Refleksi Pria Berusia Senja di Masa Pensiunnya


Penulis: Rifdah Khalisha

Kawan pasti mengetahui bahwa Bali memiliki tarian populer, yakni Tari Kecak. Namun, masih banyak tarian lain yang tak kalah menarik dan penuh makna, salah satunya Tari Topeng Tua. Tarian tradisional ini disebut Tari Werda Lumaku karena memiliki dua fungsi, untuk pementasan hiburan dan pengantar rangkaian upacara keagamaan Hindu (topeng pengelembar).

Tari Topeng Tua selalu diperankan oleh seorang penari lelaki, menokohkan pria berusia senja di masa pensiunnya. Kostum khususnya memiliki warna dasar hitam megah berhias manik-manik emas, merah dan kuning. Tak lupa, penari memakai topeng dari kayu ylang-ylang serta rambut palsu memutih seperti beruban untuk memperkuat karakter.

Setiap penari dalam Tarian Topeng harus mampu mengekspresikan gerakan sesuai jenis topeng. Karenanya, topeng raut wajah tua ini benar-benar mendalami tokoh pria renta. saat mengenang masa mudanya dengan kesedihan dan penderitaan. Penderitaan tersebut imbas dari perbuatan (karma wesana) sewaktu muda.

Tari Topeng Tua © Cintaindonesia.web.id

info gambar

Di awal pementasan saat gorden (langse) dibuka, akan terlihat penari topeng tua terduduk di kursi, surai rambut putih jatuh di pundaknya. Ia mengangkat jari-jarinya yang berhiaskan cincin batu permata. Lalu, secara perlahan ia berdiri dan mengamati para penonton

Ia berjalan mengitari panggung dan menari dengan gerakan lambat. Penonton dapat menyaksikan momen-momen saat penari mengisyaratkan bahasa tubuh sebagaimana layaknya tingkah laku pria lanjut usia. Luar biasa, benar-benar luar mirip.

Sesekali penari seolah bergegas pergi untuk menyelesaikan tugas besar. Ia berjalan tergopoh-gopoh dengan pandangan mata seakan mulai kabur. Tak lama, ia terdiam sejenak, menghela napas yang tersengal-sengal serta memberi istirahat untuk lutut dan paru-parunya.

Tarian semakin lengkap saat penari menampilkan lelucon jenaka melalui gerakan menyapu keringat dari topeng atau menemukan kutu di rambut dan pakaian. Di akhir, seluruh penonton akan merasakan kelembutan tarian, kesedihan karakter, dan kegembiraan lelucon.

Tari Topeng Tua diiringi musik gamelan Bali © Indonesiakaya.com

info gambar

Terdengar musik dari gamelan Bali mengiringi tarian selama pementasan. Gamelan Bali merupakan gabungan beberapa alat musik tradisional Bali, di antaranya ada Jiyèng, Réyong, Kanthil, Gangsé, Jigog, Jublak, Gong, Kenong, Kethuk, Cèng-cèng (Kecrak), Kendhang, Gendèr dan Suling.

Tari Topeng Tua sarat akan makna kesakralan. Oleh karena itu, tarian ini biasa dipentaskan dalam ritual peringatan piodalan. Piodalan adalah rangkaian upacara dari Dewa Yadnya yang ditujukan kepada Ida Sang Hyang Widi di sebuah pura atau tempat suci yang dilaksanakan setiap 6 bulan sekali menurut sistem penanggalan Bali

Saat peringatan tersebut, Kawan bisa menyaksikan pementasan Tari Topeng Tua bersama jenis Tari Topeng lainnya dalam kesatuan komponen Topeng Panca. Topeng Panca terdiri dari Tari Topeng Tua, Topeng Dalem, Topeng Keras, Topeng Keras Bues, dan Tokoh Penasar (penutur cerita).

Selain menjadi bagian dari Topeng Panca, Kawan dapat melihat penampilan Tari Topeng Tua sebagai pembuka tari sakral lainnya, yakni Tari Topeng Pajegan. Tari Topeng Pajegan hanya ada saat upacara keagamaan. Hanya ada seorang penari dalam pertunjukan ini, ia akan memerankan semua tokoh dengan tampilan topeng, penutup kepala, dan gestur berbeda.

Tak hanya pada ritual keagamaan saja, Tari Topeng Tua dan beberapa komponen Topeng Panca lainnya juga dipentaskan dalam format lebih singkat sebagai tari non-ritual.

Referensi:Indonesia Kaya | Topeng Bali Official | Dedot Blog | Tradisi Tradisional





Source link