Connect with us

HEADLINE

Surili, Primata Endemik Penyebar Benih Pohon yang Berdampak Besar Bagi Lingkungan

Surili, Primata Endemik Penyebar Benih Pohon yang Berdampak Besar Bagi Lingkungan


Masih ingat dengan maskot tuan rumah penyelenggara Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016? Ya, Jawa Barat memilih surili si primata endemik berjambul runcing dari Pulau Jawa. Penetapannya sebagai maskot tak dimungkiri juga menjadi ajang pengenalan surili agar tetap lestari.

Surili jawa yang memiliki warna bulu abu-abu dan putih ketika dewasa ini ternyata saat lahir memiliki warna yang berbeda. Surili yang baru lahir memiliki warna putih dan bergaris hitam mulai dari kepala hingga bagian ekor. Selain keunikan dari perubahan warna bulunya, surili juga merupakan species yang sangat peka terhadap perubahan lingkungan terutama di kawasan habitatnya.

Kehadiran manusia yang merusak pohon-pohon rimbun habitat surili, mau tidak mau membuatnya mesti mencari tempat baru untuk makan dan tidur. Belum lagi kekhawatiran surili dari serangan predator, sehingga primata tersebut sangat bergantung dengan pohon.

Menurut peneliti mamalia dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ibnu Maryanto, habitat asli primata ini adalah hutan primer, hutan sekunder, dan hutan bakau, mulai dari pinggir pantai hingga pada ketinggian 250 m–diatas 2.500 mdpl.

“Seringkali dijumpai juga di hutan yang berbatasan dengan kebun. Sering membentuk kelompok dengan jumlah 4-5 hingga 10-15 individu per kelompok,” ujar Ibnu pada lipi.go.id (22/01/2020). Dirinya menjelaskan, surili masih terlihat di Gunung Sawal, Ciamis, Gunung Lawu, Gunung Slamet, dan Dieng.

Baca Juga: Tarsius, Primata Asal Sulawesi yang Menginspirasi Karakter Star Wars

Surili sang penyebar benih pohon

Surili disebut sebagai salah satu primata yang termasuk dalam keystone species (species kunci) karena berdampak besar bagi keberlangsungan lingkungan. © ABC Wild Life/Shutterstock

info gambar

Surili yang punya nama latin Presbytis comate ini punya selera makan yang tinggi terhadap berbagai jenis tumbuhan. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa surili dapat memakan lebih dari 75 jenis tumbuhan yang berbeda, mulai dari bagian pucuk daun, buah hingga biji-bijian.

Selera makannya yang tinggi terhadap tumbuhan tak hanya berdampak baik keberlangsungan hidupnya. Tetapi, juga berpengaruh bagi keberlangsungan ekosistem terutama dalam proses pembentukan pohon-pohon baru.

Hal ini karena surili turut menyebarkan biji tanaman di kawasan hutan. Sehingga, surili pun disebut sebagai salah satu primata yang termasuk dalam keystone species (species kunci) karena berdampak besar bagi keberlangsungan lingkungan.

“Dia pemakan pucuk-pucuk daun, komposisi makanannya 70 persen daun, sisanya makan biji dan buah. Surili adalah salah satu penyebar biji terbaik di hutan. Jadi yang menumbuhkan pohon-pohon baru adalah surili,” jelas Sigit Ibrahim, Koordinator pengasuh satwa dari Pusat Rehabilitasi Satwa The Aspinall Foundation pada kabar kampus.com (10/09/2016).

Hewan yang masuk kategori primata berekor panjang ini juga masih punya cerita menarik dari segi makanan, yakni ia suka makan tanah di sekitar habitatnya. Banyak pengamat menduga bahwa tanah yang dimakan surili tersebut mengandung kapang yang mana dapat membantu pencernaannya.

Baca Juga: Kedih, Si Monyet Berjambul Asal Sumatra

Primata yang sangat bergantung dengan pohon

Surili merupakan primata yang memiliki gaya hidup alami arboreal, yakni sangat dekat dan tergantung pada pohon. © Muhammad Imam R/Shutterstock

info gambar

Aktivitas primata ini umumnya banyak di pohon terutama pada bagian atas atau tengah dari tajuk pohon. Berdasarkan studi, surili adalah primata yang aktif di siang hari (diurnal) ia akan mulai meninggalkan pohon tempat tidurnya sejak pukul 6 pagi hari secara berkelompok.

Dalam satu kelompok, penjelajahan biasanya dipimpin oleh satu jantan dengan 5 sampai 15 ekor betina. Biasanya juga sebelum menjelah, surili akan mengeluarkan suara di pagi hari (morning call).

Sigit Ibrahim pun menjelaskan bahwa surili merupakan primata yang memiliki gaya hidup alami arboreal, yakni sangat dekat dan tergantung pada pohon. Primata ini makan dan tidur di atas pohon yang rimbun, surili akan menjelajah dari pohon yang satu ke pohon yang lainnya.

Dalam sepekan, surili bisa menjelajah beberapa pohon di areal hutan, pekan berikutnya ia akan kembali ke pohon pertama yang ia jelajahi. Jika pohon di sutu kawasan tidak membuatnya nyaman, surili akan mencari tempat baru.

Baca Juga:Kedih, Si Monyet Berjambul Asal Sumatra

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango jadi tempat perlindungan surili

Untuk menjaga keberlangsungan surili, maka Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dipilih sebagai tempat perlindungan habitat surili. © Selsa Artika Ayujaya/Shutterstock

info gambar

Di Indonesia, surili sudah mendapat status dilindungi sejak tahun 1979 melalui Surat Keputusan (SK) Menteri Pertanian No.247/Kpts/Um/1979. Kemudian diatur juga dalam UU Nomor 5 tahun 1990 tentang Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya. KLHK juga telah memasukkan surili dalam daftar 25 species dilindungi dan jadi prioritas konservasi.

Sedangkan secara internasioal, surili termasuk dalam Convention on International Trade in Endangered Species of Flora and Fauna (CITES) dalam Apendix II dan International Union for Conservation of Nature and Natural Resources IUCN sebagai satwa yang dilindungi karena statusnya terancam punah (Endangered/EN).

Selain karena habitat hutan rimbunnya yang dirusaki, kasus terancam punahnya surili juga karena aktivitas perdagangan. Sampai pada tahun 2020 pun masih kerap ditemukan kasus perdagangan surili, seperti yang terjadi di bulan Juni lalu (5/6/2020) di Bandung, Jawa Barat.

Dilansir dari Lensareportase.com, Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Gakkum), KLHK berhasil mengamankan satu ekor surili (Presbytis comata) berjenis kelamin jantan berusia 4-5 bulan dan satu ekor lutung jawa (Trachypithecus auratus) berjenis kelamin betina dan berusia 4-5 bulan. Modus kejahatan yang dilakukan tersangka adalah secara online (daring) dengan menjualnya seharga Rp1,4 juta utuk surili dan Rp700 ribu untuk lutung jawa.

Untuk menjaga keberlangsungan surili, maka Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dipilih sebagai tempat perlindungan habitat surili. Kawasan yang berlokasi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat ini memiliki luas total berkisar 2600 hektare dengan ketingian 700 sampai 1500 mdpl.

Adapun karakteristik hutannya, kawasan ini memiliki iklim hutan hujan tropis dengan intensitas curah hujan yang cukup tinggi. Sehingga, menjadi habitat alami dari berbagai jenis flora dan fauna endemik Indonesia.

Di kawasan tersebut tak hanya surili yang tinggal mendiami tetapi juga terdapat sekitar 900 jenis tumbuhan, 109 jenis mamalia, dan 260 jenis burung yang dilindungi.

Selain di Taman Nasional (TN) Gunug Gede Pangrango, keberadaan surili sebagai primata endemik ini juga bisa ditemukan di tempat perlindungan, seperti TN Gunung Halimun-Salak, TN Ujung Kulon, Cagar Alam (CA) Kawah Kamojang, CA Rawa Danau, CA Gunung Papandayan, CA Gunung Patuha, CA Situ Patengan, Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Tampomas.

Sumber Referensi:

Samudranesia.id | Lipi.go.id | Lensareportase.com | Kabar kampus

Baca Juga:





Source link

Advertisement
Click to comment

HEADLINE

Melacak Lokasi Keraton Pajajaran yang Lenyap di Batutulis Bogor

Melacak Lokasi Keraton Pajajaran yang Lenyap di Batutulis Bogor


Pakuan Pajajaran atau Pajajaran adalah ibu kota dari Kerajaan Sunda Galuh yang pernah berdiri pada tahun 1030-1579 M di Tatar Pasundan, wilayah barat pulau Jawa. Di Asia Tenggara ada kebiasaan menyebut nama kerajaan dengan nama ibu kotanya sehingga Kerajaan Sunda Galuh sering disebut sebagai Kerajaan Pajajaran.

Pakuan Pajajaran hancur pada tahun 1579 akibat serangan Kesultanan Banten. Era Pajajaran pun berakhir dengan ditandai dengan diboyongnya Palangka Sriman Sriwacana (singgasana raja), dari Pakuan Pajajaran ke Keraton Surosowan di Banten oleh pasukan Maulana Yusuf. Namun, sampai sekarang letak keraton Pajajaran masih menjadi misteri.

Prasasti Batutulis di Bogor disebut sebagai salah satu situs Kerajaan Pajajaran yang berhasil ditemukan. Diduga Kampung Batutulis yang sekarang terarah sebagai tempat puri Kerajaan Pajajaran.

Prasasti ini terletak di daerah kelurahan Batu Tulis, Kecamatan Bogor Selatan, lebih tepatnya ada di komplek yang memiliki luas sekitar 17×15 m. Batu Prasasti dan benda-benda lain peninggalan kerajaan Pajajaran terdapat dalam komplek ini.

Dalam buku ”Mencari Gerbang Pakuan dan Menelusuri Situs Prasasti Batutulis” oleh Saleh Danasasmita, diceritakan tentang pencarian keraton Pajajaran. Kota Pakuan dikelilingi oleh benteng alam berupa tebing-tebing sungai yang terjal di ketiga sisinya.

Hanya bagian tenggara batas kota tersebut berlahan datar. Pada bagian ini pula ditemukan sisa benteng kota yang paling besar. Penduduk Lawanggintung sisa benteng Kuta Maneuh.

Prabu Siliwangi dan Sejarah Berseminya Islam di Tatar Sunda

Sementara itu, laporan Adolf Winkler (1690) menyebutkan, di Batutulis Bogor ditemukan lantai atau jalan berbatu yang sangat rapi. Menurut penjelasan para pengantarnya, di situlah letak istana kerajaan (“het conincklijke huijs soude daerontrent gestaen hebben“).

Setelah diukur, lantai itu membentang ke arah paseban tua. Di sana ditemukan tujuh (7) batang pohon beringin. Namun posisi persisnya sampai sekarang masih menjadi misteri.

Di kompleks Batutulis itu terdapat 15 peninggalan berbentuk terasit, batu yang terdapat di sepanjang Sungai Cisadane. Ada enam batu di dalam cungkup, satu di luar teras cungkup, dua di serambi dan enam di halaman.

Pada batu ini berukir kalimat-kalimat dengan huruf Sunda Kawi. Diukir oleh Prabu Surawisesa pada tahun 1533 Masehi (1455-Saka) dengan maksud memperingati jasa ayahandanya Sri Baduga Maharaja, atau yang lebih dikenal dengan nama Prabu Siliwangi yang sakti.

Satu batu bercap alas kaki, satu batu bercap lutut, dan satu batu besar lebar yang berisi tulisan Pallawa dan berbahasa Sanskerta.

Konon prasasti batutulis itu dibuat oleh Prabu Surawisesa sebagai bentuk penyelasannya karena ia tidak mampu mempertahankan keutuhan wilayah Pakuan Pajajaran yang dimanatkan padanya, akibat kalah perang dengan kerajaan Banten.

Wilayah Batutulis sebagai tempat penobatan Raja Pajajaran

Prasasti Batutulis pertama kali ditemukan oleh sebuah ekspedisi VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie/Persatuan Dagang Hindia Timur) pada tahun 1687. Pemimpinnya adalah Scipio. Berita penemuan Prasasti Batu Tulis pertama kali tercatat dalam laporan ekspedisi Scipio tersebut bertanggal 28 Juli 1687.

Penelitian tentang prasasti Batu Tulis ini sudah dilakukan oleh banyan ahli arkeolog. Tercatat pada tahun 1853 seorang ahli dari Belanda yang juga diduga sebagai penemu patung Lembu Nandi di Kebun Raya Bogor.

Sampai tahun 1921, telah ada empat orang ahli yang meneliti isinya. Akan tetapi, hanya Cornelis Marinus Pleyte seorang kurator museum Belanda yang mencurahkan pada lokasi Pakuan, sementara yang lain hanya mendalami isi prasasti itu.

Hasil penelitian Pleyte dipublikasikan tahun 1911 (penelitiannya sendiri berlangsung tahun 1903). Dalam tulisannya, Pleyte menyakini kampung Batutulis merupakan tempat puri kerajaan Pajajaran, namun untuk lokasi yang tepat perlu ditelusuri lebih jauh.

(22 April 1578) - Penyerahan Mahkota Binokasih pada Kerajaan Sumedang Larang

Pleyte mengidentikkan puri dengan kota kerajaan dan kadatuan Sri Bima Narayana Madura Suradipati dengan Pakuan sebagai kota. Dirinya juga menemukan benteng tanah di daerah Jero Kuta, sekarang membentang ke arah Sukasari pada pertemuan Jalan Siliwangi dengan Jalan Batutulis. Letak keraton diduga kuat di sekitar Batutulis.

Selain itu, Batutulis disebut tempat penobatan raja-raja Pajajaran termasuk Prabu Siliwangi (1482-1521). Siliwangi dari kata Asilih Wewangi atau berganti nama.

Prabu Siliwangi bergelar Prabu Guru Dewata Prana, yang kemudian dinobatkan lagi untuk kedua kali dengan gelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaransri Sang Ratu Dewata.

Di komplek Prasasti dijumpai antara lain Batu Tapak (bekas telapak kaki Prabu Surawisesa), meja batu bekas tempat sesajen pada setiap perayaan, batu bekas sandaran tahta bagi raja yang dilantik, batu lingga, dan lima buah tonggak batu yang merupakan punakawan (pengiring-penjaga-emban) dari batu lingga.

Batu lingga ini adalah bekas tongkat pusaka kera­jaan Pajajaran yang melambangkan kesuburan dan kekuatan. Sekitar 200 meter dari komplek Prasasti, yaitu di daerah Panaisan yang merupakan bekas alun-alun kerajaan Pa­jajaran juga dapat ditemui 4 buah area batu.

Keempat area tersebut adalah patung Purwakali, Gelak Nyawang, Kidang Pinanjung dan Layung Jambul yang kanan masing-masing adalah Mahaguru, pengawal, dan pengasuh Prabu Siliwangi.

“Sayangnya sekarang patung batu ini sudah tiada kepalanya. Dicuri orang,” ungkap juru kunci situs, Maemunah, mengutip Okezone.

Merawat situ Batutulis sebagai peninggalan sejarah

Pada tahun 1817, tulisan di Batu Tulis baru diteliti yakni oleh Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles, hasilnya dituangkan dalam The History of Java yang monumental.

Di buku tersebut, Raffles melampirkan transkripsi dari prasasti Batu Tulis sebagai objek penelitiannya. Ia juga menyebutkan bahwa saat ditemukan, batu prasasti itu dalam kondisi kurang baik.

Menurut narablog Areong Binang, ada bagian permukaan batu prasasti yang telah somplak pada salah satu sisinya. Pasalnya ketika batu prasasti masih terbenam di dalam aliran Sungai Ciarunteun, para penduduk pemecah batu sempat memecahkan tepi batu prasasti ini.

“Namun tidak diteruskan ketika mereka melihat lekukan tapak kaki dan deretan huruf yang aneh pada permukaan batu,” tulisnya dalam blog pribadinya areongbinangcom.

Pada 1903, batu dipindahkan ke tempatnya semula. Baru pada 1981, Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Dept P&K berinisiatif memindahkan batu prasasti ini. Menurut penjaga, perlu waktu 30 hari untuk memindahkan batu ke tempatnya yang sekarang.

Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor juga berencana membenahi kawasan Cagar Budaya Batutulis di Kelurahan Batutulis, Kecamatan Bogor Selatan. Kondisi situs cagar budaya itu saat ini dinilai kurang representatif.

Pemkot juga sudah lama berencana membangun kawasan Cagar Budaya Batutulis ini menjadi Pusat Budaya Batutulis. Demikian kata Sekretaris Daerah Kota Bogor Syarifah Sofiah, saat meninjau lokasi, Rabu (21/6/2021).

Kebun Raya Bogor, Sejarah dan Tanda Cinta Raffles

Saat ini, ruangan tempat prasasti Batutulis berada ukurannya kecil dan hanya bisa menampung beberapa orang.

“Tidak bisa menampung peserta JKPI jika datang ke lokasi,” kata Syarifah.

Bahkan Pemkot Bogor berencana membangun Museum Pajajaran di Kawasan Batutulis. Pernyataan tersebut disampaikan Wali Kota Bogor Bima Arya, pada 2020 silam.

Dia mengemukakan, wacana pendirian museum tersebut dilakukan untuk menghimpun dan melestarikan benda-benda bersejarah peninggalan dari Kerajaan Pajajaran. Menurutnya, gagasan mewacanakan membangun Museum Pajajaran memiliki nilai kesejarahan.

Lantaran, Prasasti Batutulis yang berada di Kota Bogor merupakan salah satu situs peninggalan Kerajaan Pajajaran yang memiliki nilai sejarah sangat tinggi.

Wacana pembangunan museum ini juga akan diikuti dengan penelitian anthropologi mengenai peninggalan-peninggalan lainnya dari Kerajaan Pajajaran yang mungkin masih tercecer di daerah Batutulis.

“Perlu ada penelitian, untuk memastikan bahwa ibu kota Padjajaran itu di Bogor atau di daerah lain? Bagaimana kaitannya Kerajaan Pajajaran dengan Raya Bogor. Jadi, masih banyak misteri sejarah yang belum terungkap,” katanya.





Source link

Continue Reading

HEADLINE

Semakin Diandalkan, Instalasi Fintech di Indonesia Ungguli AS dan Rusia

Semakin Diandalkan, Instalasi Fintech di Indonesia Ungguli AS dan Rusia


Financial Technology (fintech) bukan lagi menjadi hal yang baru di kalangan masyarakat Indonesia. Jauh sebelum situasi pandemi yang melanda, penggunaan layanan satu ini sejatinya memang sudah cukup populer berbarengan dengan tren cashless yang banyak diandalkan oleh mereka yang menginginkan mobilitas serba praktis.

Terbukti melalui pertumbuhan yang ada, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Ekonomi) Airlangga Hartarto, dalam salah satu kesempatan menjelaskan mengenai pertumbuhan fintech yang sudah tumbuh pesat di tanah air sejak tahun 2016.

Dalam gelaran Indonesia Fintech Summit 2020 tahun lalu, Airlangga bahkan menyebut bahwa industri fintech di Indonesia akan tumbuh paling kencang di ASEAN dalam lima tahun ke depan, yang berarti diperkirakan sampai tahun 2025 mendatang.

Hal tersebut rupanya terbukti, dan didukung dengan kondisi pandemi yang melanda, di mana hampir sebagian besar kegiatan keuangan atau pembayaran yang awalnya masih banyak mengandalkan transaksi tunai, namun karena situasi yang ada mendorong masyarakat untuk beralih melakukan transaksi cashless sebagai salah satu fitur yang dimiliki oleh layanan fintech.

Tak hanya itu, kondisi perekonomian sebagian besar masyarakat yang sempat terpuruk di tengah situasi pandemi, nyatanya juga mendorong angka pengguna layanan fintech dalam hal pinjaman dana, baik oleh perorangan maupun kelompok atau organisasi.

Fenomena Gerilya Fintech Ternyata Bisa Bantu Pulihkan Ekonomi Indonesia

Tingginya permintaan yang dibarengi dengan masifnya instalasi fintech

transaksi keuangan yang mengandalkan fintech di Indonesia

info gambar

Melihat peluang dan kebutuhan masyarakat yang ada, maka tak heran jika belakangan banyak bermunculan pihak yang menghadirkan layanan fintech baru, atau bahkan mentransformasi layanan keuangan konvensional yang sebelumnya dimiliki ke arah layanan keuangan berbasis teknologi.

Hal tersebut ternyata dibuktikan dengan sebuah laporan berjudul State of Finance App Marketing 2021 yang dimiliki oleh AppsFlyer, sebuah perusahaan atribusi global yang berpusat di San Francisco, California.

Dijelaskan di sana, bahwa Indonesia menempati posisi ke-3 di dunia dalam hal instalasi fintech melalui aplikasi keuangan, bahkan mengungguli Amerika Serikat dan Rusia yang masing-masing berada di peringkat 4 dan 5, namun masih kalah unggul dengan India yang berada di peringkat 1 dan Brazil di peringkat 2.

Laporan yang dimiliki AppsFlyer tersebut diperoleh berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap 2,7 miliar instalasi aplikasi di kawasan Asia Pasifik dari kuartal I (Q1) 2019 hingga kuartal I (Q1) 2021. Dengan memantau aplikasi yang terdaftar di kawasan Asia Tenggara–termasuk Indonesia–jajaran aplikasi yang diteliti ini, di antaranya: bank digital, bank konvensional, layanan keuangan, pinjaman, dan investasi online.

Disebutkan pula, bahwa besarnya populasi penduduk yang dimiliki dan penggunaan layanan fintech oleh masyarakat di Indonesia juga menjadi faktor pendorong negara ini menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang berada di posisi lima besar, dalam hal instalasi aplikasi keuangan.

Masih berdasarkan laporan yang sama, dijelaskan pula jenis aplikasi keuangan yang paling banyak diunduh dan diandalkan oleh masyarakat Indonesia. Di peringkat pertama, layanan transaksi keuangan layaknya pembayaran nirtunai (mobile payment) yang biasanya berupa layanan dompet digital untuk transaksi cashless, dan manajemen keuangan, dengan persentase sebanyak 40,9 persen.

Selanjutnya, peringkat kedua dari jenis aplikasi keuangan yang banyak diandalkan masyarakat tanah air yaitu layanan pinjaman online (pinjol) sebanyak 35,7 persen, diikuti layanan bank konvensional–mobile banking–sebesar 13,9 persen, dan aplikasi investasi sebesar 9,5 persen.

Mengenal Inovasi Keuangan Digital(IKD) Dalam Penyelenggaraan Fintech di Indonesia

Dampak positif dan negatif pertumbuhan fintech di tanah air

ilustrasi pengguna layanan fintech

info gambar

Bicara soal dampak positif yang dihadirkan oleh pertumbuhan instalasi fintech jelas dirasakan oleh semua pihak, tidak hanya masyarakat yang diberikan kemudahan namun juga pihak penyedia layanan keuangan yang mendapat keuntungan serupa.

Sebagai contoh dari segi perbankan, deretan layanan perbankan atau bank di Indonesia mengakui adanya peningkatan setelah menerapkan sistem layanan berbasis teknologi kepada masyarakat, baik dari segi peningkatan nasabah ataupun transaksi secara menyeluruh.

Salah satu yang mengalami pertumbuhan ini di antaranya Bank Central Asia (BCA) yang sejak tahun 2019 memiliki layanan keuangan baru yang memungkinkan masyarakat membuka rekening tabungan dengan sistem online tanpa perlu mendatangi kantor cabang secara langsung.

Dijelaskan bahwa berkat layanan baru tersebut, BCA mencatatkan jumlah rekening mencapai 2,8 juta di Q1 2021 ini. Lebih detail, persentasi kenaikan pembukaan rekening mencapai 193 persen dibanding tahun sebelumnya atau setara pembukaan 8 ribu rekening per hari.

Hal yang sama juga diakui oleh pihak layanan perbankan milik negara yaitu Bank Mandiri. Menukil Kontan, layanan pembukaan rekening secara online yang juga dihadirkan membuat Bank Mandiri mendapatkan pembukaan rekening baru yang dilakukan oleh kisaran 3.000 nasabah saban harinya.

BCA dan Mandiri Masuk 10 Besar Bank Paling Kuat di Dunia Tahun 2021

Pencapaian yang diraih oleh dua layanan perbankan tersebut nampaknya sejalan dengan harapan yang diungkap oleh Menko Airlangga pada pernyataan sebelumnya, yang menyebut bahwa kemajuan fintech yang ada diharapkan dapat meningkatkan inklusi keuangan di tanah air.

Terlepas dari segala kemajuan layanan keuangan berbasis fintech yang ada, bukan berarti bahwa industri satu ini aman dari risiko dan dampak negatif yang dikhawatirkan muncul. Nyatanya, kekinian salah satu jenis fintech yaitu pinjaman online (pinjol) yang umumnya menargetkan masyarakat perorangan kerap kali dikeluhkan oleh masing-masing pengguna.

Permasalahan dan keluhan yang umumnya dijumpai biasanya berupa layanan pinjaman dari fintech yang ada, sering kali dilaporkan memiliki metode penagihan yang bermasalah dan bunga pinjaman yang dianggap terlalu tinggi.

Oleh karena itu, tak heran jika saat ini banyak dijumpai imbauan sekaligus pedoman mengenai penggunaan berbagai layanan fintech di tanah air, yang sepatutnya dipahami oleh masyarakat sejalan dengan pesatnya pertumbuhan fintech yang kian masif dan diperkirakan akan terus terjadi hingga beberapa tahun ke depan.

Fintech di Indonesia: Perlu Adanya Perlindungan Masyarakat





Source link

Continue Reading

HEADLINE

Sepeda, Penguasa Jalan Ibu Kota pada Zaman Hindia Belanda | Good News From Indonesia

Sepeda, Penguasa Jalan Ibu Kota pada Zaman Hindia Belanda | Good News From Indonesia


Beberapa waktu lalu, media sosial kembali heboh setelah viral foto pengendara motor yang mengacungkan jari tengah kepada para pesepeda.

Pemotor yang berpelat nomor wilayah Kebumen itu diketahui melakukan tindakan itu lantaran kesal kepada pesepeda yang menguasai ruas jalan Jenderal Sudirman-MH Thamrin, Jakarta Pusat.

Kejadian ini mengingkatkan kembali pada zaman dulu, saat kereta angin–julukan sepeda kala itu–sempat menjadi kendaraan yang menguasai Ibu kota.

#makintahuindonesia#Indonesia#sepeda





Source link

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending Dari BuzzFeed

close