Connect with us

Olahraga

Sofia Kenin Jadi Petenis AS Pertama Yang Terkualifikasi Di Olimpiade

Sofia Kenin Jadi Petenis AS Pertama Yang Terkualifikasi Di Olimpiade


Berita Tenis: Petenis berusia 22 tahun asal AS, Sofia Kenin mengejutkan dunia tenis ketika ia berhasil memenangkan gelar Australian Open musim 2020.

Dalam perjalanan memenangkan gelar Grand Slam untuk kali pertama dalam kariernya, petenis AS menumbangkan sejumlah petenis handal seperti Cori Gauff, Ons Jabeur, Ashleigh Barty, dan Gabine Muguruza.

Petenis peringkat 4 dunia juga melenggang ke final French Open musim lalu sebelum kalah dari petenis berkebangsaan Polandia, Iga Swiatek. Atas usaha luar biasa di sepanjang musim tersebut, ia pun diganjar penghargaan WTA Player of the Year.

Akan tetapi, petenis berusia 22 tahun, Kenin melalui musim yang kurang meyakinkan pada musim 2021 setelah sejauh ini, ia gagal memenangkan satu gelar pun dan melenggang ke perempatfinal dalam beberapa turnamen.

Runner up French Open musim 2020 bahkan mengundurkan diri dari Madrid Open musim ini dan mungkin akan kembali berkompetisi di Italian Open, Roma sebelum menuju French Open.

Meski begitu, ada sejumlah berita baik bagi penggemar Kengin. Ia menjadi petenis putri AS pertama yang memenuhi kriteria untuk terkualifikasi di Olimpiade Tokyo musim ini.

Empat petenis AS dengan peringkat teratas, baik putri mau pun putra, akan terkualifikasi untuk ajang olahraga yang digelar setiap empat tahun sekali. Petenis berusia 22 tahun langsung terkualifikasi karena ia merupakan petenis nomor 1 AS.

Kenin baru-baru ini mengkonfirmasi partisipasinya di Olimpiade yang terpaksa ditunda pada musim lalu akibat pandemi COVID-19 dan juga mengekspresikan minatnya untuk berkompetisi di nomor ganda juga.

Sementara itu, petenis yang telah mengantongi 23 gelar Grand Slam, Serena Williams belum terkualifikasi, tetapi hal tersebut akan dikonfirmasi pada akhir perhelatan Italian Open yang akan dimulai pekan mendatang. Bersama Williams, Madison Keys dan Alison Riske memiliki peluang kuat untuk memenuhi kriteria tersebut.

Bahkan petenis seperti Jessica Pegula dan Gauff juga memiliki peluang untuk terkualifikasi di Olimpiade. Dengan begitu banyak petenis muda yang bersaing demi turun di Olimpiade nomor tunggal putri, kompetisi di antara petenis putra AS tidak terlalu ketat.

John Isner merupakan petenis nomor 1 AS, tetapi sebelumnya ia telah menginformasikan tentang keputusannya untuk mundur dari Olimpiade musim ini. Keputusan tersebut akan membuka peluang bagi petenis AS muda lainnya, seperti Taylor Fritz dan Reilly Opelka untuk tampil di Olimpiade.

Artikel Tag: Tenis, olimpiade, French Open, Sofia Kenin, Serena Williams





Source link

Advertisement
Click to comment

Olahraga

Aubameyang Ceritakan Perjuangan Melawan Malaria, Sampai Turun 4 kg

Aubameyang Ceritakan Perjuangan Melawan Malaria, Sampai Turun 4 kg


Berita Liga Inggris: Pierre-Emerick Aubameyang mengungkapkan tentang perjuangannya melawan malaria baru-baru ini, yang membuat berat badannya turun hingga empat kilogram.

Kapten Arsenal itu didiagnosis terserang malaria tidak lama setelah kembali ke Inggris bulan lalu menyusul tugasnya bersama tim nasional Gabon selama jeda internasional.

Aubameyang sebenarnya bermain dalam pertandingan melawan Liverpool dan Slavia Praha, tetapi kondisinya mulai memburuk sehingga dia menelepon dokter klub dan mengatakan bahwa dia perlu pergi ke rumah sakit.

Dan berbicara menjelang leg kedua semifinal Liga Europa melawan Villarreal di Emirates Stadium pada Jumat (7/5) dini hari pukul 02.00 WIB, Aubameyang menceritakan bagaimana perjuangannya melewati masa-masa sulit itu.

“Sejujurnya saya merasa normal, sedikit sedih [begitu saya kembali]. Seperti yang kau tahu, perjalanan pergi ke Gabon tidak begitu dekat dari sini,” kata pemain berusia 31 tahun itu kepada situs resmi Arsenal, sebagimana ditulis oleh Goal.

“Saya merasa sedikit lelah, terutama melawan Liverpool, tetapi saya pikir itu hanya karena perjalanan. Saya tidak tahu berapa persentase [kebugaran] saya saat itu karena saya tidak tahu kalau saya menderita malaria, tapi yang pasti saya merasa agak lelah.”

Setelah masuk sebagai pemain pengganti dalam hasil imbang 1-1 di melawan Slavia Prague di Liga Europa bulan lalu, kesehatan Aubameyang semakin memburuk.

“Saya merasa sangat, sangat buruk,” dia melanjutkan. “Ini adalah momen sakit terburuk dalam hidup saya karena sangat sulit untuk melewatinya. Selama tiga hari berturut-turut saya mengalami demam sepanjang hari dan sepanjang malam, tanpa henti.

“Bahkan parasetamol dan sejenisnya tidak berpengaruh pada hal ini. Jadi setelah itu saya berbicara dengan dokter dan berkata saya perlu pergi ke rumah sakit karena saya telah bepergian ke Afrika jadi mungkin itu seperti malaria.

“Saya tinggal di rumah sakit selama tiga hari dan saya pikir berat saya turun empat kilogram. Itu adalah momen yang sangat buruk dan saya pikir keluarga saya agak takut melihat saya seperti ini.

“Setelah itu saya mendapatkan perawatan yang baik, staf melakukannya dengan sangat baik dan para dokter juga di rumah sakit. Saya beruntung melakukannya pada saat yang tepat karena terkadang dengan malaria, jika Anda tidak segera mengobatinya, Anda dapat memiliki beberapa masalah besar.”

Artikel Tag: Pierre-Emerick Aubameyang, Arsenal





Source link

Continue Reading

Olahraga

Lorenzo Kecewa Valentino Rossi Tampil Melempem di MotoGP Spanyol

Lorenzo Kecewa Valentino Rossi Tampil Melempem di MotoGP Spanyol


Berita MotoGP: Jorge Lorenzo, eks pebalap MotoGP, mengaku kecewa dengan penampilan buruk Valentino Rossi di MotoGP Spanyol, ia berpendapat masalah presisi adalah penyebabnya.

Valentino Rossi belum mampu keluar dari keterpurukan usai tampil di empat balapan MotoGP 2021 yang telah berlangsung awal musim ini. Pada balapan terakhirnya di MotoGP Spanyol yang digelar di sirkuit Jerez, akhir pekan lalu, ia harus puas finis ke-17 dan tak mendapatkan poin.

Ia baru membawa pulang poin usai menempati urutan ke-12 di Qatar dan belum mampu memperbaiki posisinya di klasemen sementara MotoGP.

Melihat penderitaan yang dialami Rossi pada MotoGP Spanyol, Jorge Lorenzo, eks pebalap MotoGP, turut memberikan komentar. Ia mengaku kecewa dengan buruknya penampilan mantan rekan setimnya di Yamaha itu.

Pada musim lalu saat balapan di Sirkuit Jerez, Rossi berhasil naik podium ketiga. Setahun setelah finis di urutan ketiga, pebalap 42 tahun itu justru gagal untuk mengulang kesuksesannya.

Lorenzi berpendapat bahwa merosotnya performa Rossi disebabkan karena kurangnya presisi.

“Saya mengharapkan peningkatan besar dari Valentino Rossi. Tahun lalu dia mendapatkan satu-satunya podium selama semusim di Jerez. Sekali lagi, dia tidak bisa mendapatkan poin. Dia disalip oleh pebalap seperti Iker Lecuona yang berada di belakangnya,” jelas Lorenzi seperti yang dikutip dari Corsedimoto.

“Valentino adalah salah satu pebalap yang paling presisi. Bukan hanya masalah lambat saja, dia juga tidak presisi lagi di dalam lintasan,” tambahnya.

Setelah kecewa dengan penampilan Valentino Rossi, Lorenzo kemudian menyoroti penampilan Francesco Bagnaia. Pebalap Ducati Lenovo tersebut kini berhasil memimpin klasemen sementara MotoGP 2021.

Sebagai pebalap Ducati, Bagnaia mampu memaksimalkan motor Desmosedici yang dikendarainya untuk melesat saat berada di tikungan. Sejauh ini Ducati dikenal sebagai tim dengan motor yang unggul di lintasan lurus, namun lemah saat melewati tikungan.

“Dulu Ducati punya kekurangan, terutama pada kecepatan menikung, tetapi sekarang sepertinya sudah diatasi. Saya pikir Bagnaia memiliki peluang besar untuk memenangkan Kejuaraan Dunia karena Ducati benar-benar motor yang lengkap dan khususnya dengan gaya balapnya, dia meminimalkan masalah di tikungan,” tutup Lorenzo.

Artikel Tag: Valentino Rossi, yamaha, MotoGP 2021, MotoGP Spanyol





Source link

Continue Reading

Olahraga

Aslan Karatsev Kalahkan Diego Schwartzman Di Madrid

Aslan Karatsev Kalahkan Diego Schwartzman Di Madrid


Berita Tenis: Ketika Aslan Karatsev pertama kali mengalahkan Diego Schwartzman di Australian Open tiga bulan lalu, dunia tenis belum mengenal petenis berkebangsaan Rusia dengan baik.

Namun menurut rekan senegaranya, Daniil Medvedev, petenis berusia 27 tahun merupakan ‘senjata rahasia’ Rusia di ATP Cup awal musim ini. Kini, semuanya sangat berbeda.

Petenis berusia 27 tahun, Karatsev sekali lagi menumbangkan petenis unggulan ketujuh, Schwartzman dengan 2-6, 6-4, 6-1 dalam waktu 1 jam 49 menit demi satu tempat di babak ketiga Madrid Open musim 2021. Berkat kemenangan tersebut, musim ini petenis peringkat 27 dunia mencatatkan 19-5.

Petenis berkebangsaan Rusia telah membuktikan diri bahwa tampil di semifinal Australian Open musim ini bukan sebuah kebetulan, setelah ia berhasil memenangkan gelar turnamen ATP pertama dalam kariernya di Dubai (mengalahkan Lloyd Harris) beberapa pekan setelahnya dan diikuti dengan menembus peringkat 30 besar untuk kali pertama dalam kariernya.

Petenis berkebangsaan Argentina tampak menguasai pertandingan ketika ia unggul dengan satu set dan 2-0 di set kedua, tetapi juara di Dubai musim ini mulai menemukan ritme permainan dan jalan untuk bangkit. Dari kedudukan 4-4 di set kedua, ia memenangkan tujuh game secara beruntun dan menyelesaikan pertandingan dengan 33 winner.

Tiga bulan lalu, Karatsev mengalahkan Schwartzman dengan 6-3, 6-3, 6-3 di babak ketiga Australian Open.

“Saya tidak yakin apakah saya mengubah sesuatu,” aku Schwartzman. “Saya pikir ia berubah. Ia melewatkan hampir setiap pukulan. Setelah saya unggul dengan 6-2, 2-0, ia mulai menembakkan terlalu banyak winner dan ace. Itu sangat menyulitkan bagi saya.”

“Menuju akhir set kedua, ia bermain dengan sangat keras, sangat dekat dengan garis, dan mendaratkan terlalu banyak servis pertama. Saya tidak mendapatkan peluang setelah itu.”

Setelah mengantongi kemenangan keempat atas petenis peringkat 10 pada musim ini di Madrid Open, Karatsev akan berhadapan dengan petenis berkebangsaan Kazakhstan, Alexander Bublik demi melaju ke perempatfinal turnamen Masters 1000 untuk kali pertama dalam kariernya.

Di aksi lain, rekan senegara Schwartzman, Federico Delbonis membukukan laga babak ketiga Madrid Open melawan petenis unggulan kedelapan, Matteo Berrettini usai melumpuhkan petenis tuan rumah, Albert Ramos Vinolas dengan 7-6, 6-3.

Artikel Tag: Tenis, Madrid Open, Aslan Karatsev, Diego Schwartzman, Federico Delbonis





Source link

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending Dari BuzzFeed

close