Business is booming.

Sarinah, Mal Pertama Indonesia yang Menyimpan Relief Bernilai Sejarah


Kawan GNFI kebanyakan mungkin sudah tahu, ketika menyinggung nama “Sarinah” kadang ingatan kita tidak bisa lepas dengan sebuah mal di Jalan M.H. Thamrin, Jakarta. Letaknya strategis, berada di pojokan perempatan jalan seberang Gedung Badan Pengawas Pemilu RI (Bawaslu).

Ada banyak mal atau pusat perbelanjaan modern di Jakarta, tetapi Sarinah tampaknya dianggap yang paling istimewa mengingat ada nilai sejarahnya. Hal itu dinilai wajar karena Sarinah terikat dengan perkembangan ibu kota Jakarta. Predikat mal pertama dan gedung pencakar langit pertama, jatuh pada bangunan dengan ketiggian 74 meter yang memiliki 15 lantai itu.

Sarinah dibangun pada masa pemerintahan Orde Lama, tepatnya pada 1962. Awalnya direncanakan akan dibuka pada 1965, tetapi akhirnya diundur dua tahun setelahnya. Peresmiannya dilakukan langsung oleh nomor satu Republik Indonesia saat itu, Sukarno.

Supermarket pertama di Indonesia akan dibangun di Djalan Thamrin, jalan raya enam baris, yang juga mencakup Hotel Indonesia yang luar biasa. Bangunan itu akan setinggi empat belas lantai dan akan ber-AC dari atas ke bawah. Rencananya akan dibuka pada Agustus 1965 dan akan diberi nama Sarinah.

info gambar

Sarinah diproyeksikan menjadi toko serba ada (toserba) yang menawarkan barang yang lebih murah bagi para pembeli. Kala itu Sarinah menjual pakaian buatan lokal sehingga banyak kreasi desainer tanah air mendapat jalan untuk mencapai konsumennya di sini. Ada baju impor juga sebenarnya, tetapi itu datang dari Jepang saja.

“…Ingat, nanti malahan bukan satu Sarinah di Thamrin. Kalau department store Sarinah di Thamrin itu sukses, buat Jakarta saja saya perintahkan tiga lagi, Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Timur…Malahan saya perintahkan kepada department store Sarinah itu barang yang dijual didistribusi dalam department store ini harus berdikari (berdiri di atas kaki sendiri). Barang bikinan Indonesia,” kata Sukarno mengenai ambisinya mengedepankan Sarinah sebagai pusat perbelanjaan yang ramah bagi kantong rakyat Indonesia, dikutip GNFI dari lembaran pidatonya di sidang paripurna kabinet Dwikora pada 15 Januari 1966.

Sarinah dan Sukarno lekat, erat. Nama gedungnya diberikan langsung olehnya berdasarkan pengalaman pribadi. Konon, Sarinah – yang asli, yang bukan gedung tentu saja – adalah ibu asuh Sukarno saat menghabiskan masa kecil di Jawa Timur. Sukarno melihat Mbok Sarinah yang datang dari golongan wong cilik ini mempunyai jiwa yang begitu besar. Rasa kagum itulah yang membuat Sukarno menyematkan nama pada mal tersebut. Tidak hanya mal, tetapi juga buku yang ia buat pada masa perang revolusi. Sarinah, Kewadjiban Wanita dalam Perdjoangan Republik Indonesia, itulah judul bukunya.

Selepas pemerintahan berganti dan Sukarno pulang ke pangkuan Ilahi, Sarinah terus berkembang menuruti tuntutan zaman. Gedungnya sudah uzur, jadi mesti dilakukan perbaikan di sana-sini. Maka dari itulah dilakukan renovasi pada 2020 agar Sarinah bisa menyaingi mal-mal besar seperti Plaza Indonesia dan Grand Indonesia. Tak dinyana, saat pengerjaan perbaikan itu ada sebuah “harta karun” bernilai sejarah yang semestinya diketahui banyak orang, apakah itu?

Relief Patung Petani di Basement Gedung Sarinah

Pada 9 November 2020 lalu, anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB), Candrian Attahiyat, memposting video mengenai penemuan benda bersejarah di dalam Gedung Sarinah. Bentuk benda tersebut merupakan relief patung petani yang diperkirakan berusia setengah abad alias sudah eksis sejak zaman Sukarno.

Kabar penemuan ini menjadi perhatian karena relief tersebut ditemukan di lantai dasar (basement) Gedung Sarinah. Kian disorot karena ukuran relief yang besar dan diyakini sudah menggunakan teknologi pengecoran panel tunggal modern.

Patung muka petani.

info gambar

“Relief ini menurut catatan beberapa ahli sejarah, dan seni rupa nasional, dibuat oleh kelompok seniman Yogyakarta pada masa konstruksi (1962-1966) yang menampilkan para penjaja dan pelapak yang melambangkan perjuangan rakyat kecil mencari nafkah,” ungkap salah seorang tokoh dan anggota TACB, Asikin, dikutip GNFI dari Detik.

Direktur Utama PT Sarinah (Persero), Fetty Kwartati menambahkan relief yang ada di Sarinah melambangkan kegiatan ekonomi rakyat pada masa Orde Lama. Saat itu, rakyat kecil di Indonesia bertumpu pada hasil pertanian, perkebunan, perikan dan kerajinan.

Relief patung Sarinah.

info gambar

“Selaku proklamator dan presiden pertama Indonesia, Bung Karno adalah seorang seniman dan yang mencetuskan pembuatan karya seni ini. Keberpihakan kepada ekonomi kerakyatan sudah merupakan semangat para pendiri bangsa ini,” katanya.

Sampai lewat pertengahan Januari 2021, belum ada kepastian siapa yang menciptakan karya relief tersebut. Namun, ada dugaan kuat yang membuatnya ialah maestro patung tanah air, Edhi Sunarso. Hal itu dianggap wajar karena Sukarno menyukai hasil karya dari seniman asal Yogyakarta itu. Beberapa kali Edhi mencurahkan semangat berkaryanya di Kota Jakarta, contohnya yang sudah kita kenal yaitu Patung Selamat Datang dan Patung Dirgantara (sering disebut Patung Pancoran).

Direncanakan Jadi Bagian Ikon Sarinah yang Baru

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir turut meninjau relief di Gedung Sarinah. Ia mengaku turut prihatin karena relief bersejarah ini tidak terawat dan tersembunyi di lantai dasar gedung.

“Bangsa besar adalah bangsa yang mengenal sejarahnya dan bangsa besar adalah bangsa yang cinta karya seninya. Saya terharu, dalam arti, saya pecinta seni, ketika melihat kondisi seni budaya yang kita punya, tidak terawat,” ujar Erick dalam keterangan video yang dirilis Kementerian BUMN pada Kamis (14/1/2021).

Erick memastikan akan memberi sentuhan khusus ke relief tersebut, dengan program renovasi besar-besaran Gedung Sarinah. Maka dari itu, dirinya meminta agar pihak pengelola Sarinah dan WIKA selaku kontraktor yang merenovasi juga aktif melakukan perbaikan terhadap patung dan relief tersebut.

Berkenaan dengan transformasi dan renovasi gedung, relief ini akan dipamerkan saat pemugaran usai. Rencananya patung dan relief ini bakal dijadikan ikon baru Sarinah yang diharapkan mulai buka kembali pada bulan November 2021.

Referensi: Detik.com | Algemeen Dagblad | Penerbit Buku Kompas, “Kisah Istimewa Bung Karno” | Hikmat Budiman, “Sudah Senja di Jakarta





Source link