Connect with us

HEADLINE

Ruud Gullit yang Berdarah Indonesia dan Fanatisme Masyarakat Ambon atas Timnas Belanda

Ruud Gullit yang Berdarah Indonesia dan Fanatisme Masyarakat Ambon atas Timnas Belanda

[ad_1]

Kemenangan Timnas Belanda pada laga perdana Euro 2020 melawan Ukraina, Senin dini hari (14/6/2021), tak hanya dirayakan oleh masyarakat Negeri Kincir Angin tersebut, tapi juga oleh masyarakat Ambon, Maluku.

Mereka melakukan konvoi untuk merayakan kemenangan itu, dan sayangnya banyak dari mereka terlihat melanggar protokol kesehatan (prokes) Covid-19 dengan tidak menggunakan masker dan menjaga jarak.

Warga konvoi menggunakan motor sambil membawa bendera Belanda dan memakai baju oranye serupa dengan seragam kebesaran timnas Belanda, nampak pula pemuda yang hanya telanjang dada.

“Ini bentuk kegembiraan para pendukung, karena tim Belanda kesayangan kami bisa tampil kembali di turnamen akbar, menyusul absen pada Euro di Prancis pada 2016 dan Piala Dunia 2018 di Rusia,” kata John, salah satu fans tim Belanda, menukil Inews.

Dukungan masyarakat Ambon kepada timnas Belanda tidak hanya terkait dengan fanatisme, tapi juga kedekatan emosional antara kedua bangsa yang sudah terjalin lama.

Baca juga5 Tokoh Bangsa dengan Sepak Bola, dari Hobi Masa Kecil hingga Alat Perjuangan

Seperti yang kita ketahui, banyak sekali orang Maluku yang berada dan menjadi warga negara Belanda. Bahkan beberapa dari mereka ada yang menjadi pesepakbola nasional Belanda.

Istilah “Belanda Hitam” untuk orang Maluku yang dipercayai sebagai kasta kelas dua dalam tentara KNIL (Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger), yang merupakan sebuah ikatan sejarah masa lalu. Banyak yang mati selama pendudukan Jepang, dan ketika mereka berperang di pihak Belanda selama perjuangan Indonesia untuk kemerdekaan dari Agustus 1945 hingga 1949.

Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949, tentara Belanda harus angkat kaki dari Indonesia, termasuk Maluku. Namun, banyak orang Maluku pro-Belanda dan enggan meninggalkan tanah asal-usulnya.

Chris Soumokil, Jaksa Agung Negara Indonesia Timur (NIT), kemudian secara sepihak mengumumkan berdirinya Republik Maluku Selatan (RMS) pada tanggal 25 April 1950. Bagi mereka saat itu, tanah airnya adalah Maluku Selatan, bukan Indonesia.

Tapi, selain masalah kelam yang mewarnai hubungan segitiga antara Indonesia-Maluku-Belanda, peran para pemuda-pemuda Ambon sangatlah besar, terutama dalam sepak bola.

Para darah Ambon yang harum dari sepak bola

Keterlibatan orang Maluku dalam sepak bola sudah ada sejak Piala Dunia pertama tahun 1938. Saat itu kesebelasan Hindia-Belanda membawa nama Kerajaan Belanda, bukan Indonesia.

Hal ini menjadi pelurusan sejarah, karena adanya perdebatan mengenai keabsahan Indonesia pernah mengikuti Piala Dunia. Walau, sebagian besar pemainnya adalah warga Indonesia, tetapi mereka yang bekerja di perusahaan-perusahaan Belanda.

FIFA tetap mengakui Hindia-Belanda disertakan atas rekomendasi NIVU (Nederlandsche Indische Voetbal Unie), bukan PSSI–saat itu kepanjangannya Persatuan Sepakraga Seluruh Indonesia.

Dari daftar pemain Hindia-Belanda di Piala Dunia 1938, terseliplah beberapa pemain Maluku, seperti Hans Taihuttu, Frederik Hukom, dan Tjaak Pattiwael. Ketiga pemain Maluku ini berbaur bersama pemain dari Jawa (Nawir dan Suvarte Soedermadji), Tionghoa (Tan Djien, Bing Mo Heng, Tan Se Han dan Tan Mo Heng), serta pemain asli Belanda (Beuzekom dan Henk Sommers).

Baca juga(24 Maret 1956) – Peresmian Stadion Siliwangi Diwarnai Kemenangan Timnas

Selanjutnya, hampir setiap edisi Piala Dunia, pemain Belanda berketurunan Maluku selalu menyelip dari 23 nama pasukan lengkap ‘Singa Oranye’. Dari era Izaak Pattiwael, Hans Taihitu, Frans Hukom, Simon Tahamatta, Sony Silooy, Piere van Hooijdonk, dan yang paling cukup dikenal, Giovanni Van Bronchorst, bintang tim nasional Belanda yang berlaga pada Piala Dunia 2010.

Eks pemain Feyenoord dan Barcelona ini lahir di Rotterdam 38 tahun yang lalu dari pasangan orang tua Victor van Bronckhorst, yang blasteran Indonesia-Belanda, serta Fransien Sapulette yang asli Saparua, Maluku.

“Tentu saja, itu kan negara asal kakek dan nenek. Jelas saya berminat kembali ke tempat akar saya,” demikian kalimat yang pernah dikatakan Giovanni van Bronckhorst, mantan kapten timnas Belanda yang kini telah gantung sepatu.

Mantan bek kiri yang fasih berposisi di gelandang bertahan ini, masih bisa berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Indonesia dengan aksen Indonesia Timur. Selama membela timnas sejak 1996, ia sudah memiliki caps 106 plus enam gol.

Salah satu pemain besar Belanda yang berdarah Ambon lainnya, adalah Ruud Gullit. Legenda tim AC Milan tersebut jika ditelusuri ternyata sangat kental akan darah Indonesia. Selain berdarah Ambon, Ruud Gullit juga ternyata memiliki darah Jawa.

Melansir dari laman Fourfourtwo.com, diketahui jika Ruud Gullit merupakan pemain yang lahir dari wanita Suriname bernama Ria Dil dan ayahnya yang keturunan Ambon, bernama George Gullit.

Suriname sendiri merupakan sebuah negara kecil di kawasan Amerika Selatan yang cukup kental dengan budaya Jawa yang dibawa sejak akhir abad ke-19, tepatnya saat migrasi orang Jawa ke sana di era kolonial Belanda.

Ia sempat diberi nama Rudi Dil sewaktu lahir, nama yang sangat familiar untuk orang Indonesia. Namun saat terjun ke dunia sepak bola, ia merubah namanya menjadi Ruud Gullit agar lebih terlihat sebagai pemain bola profesional.

“Kesempatan kunjungan ke Ambon saya ingin melakukan sesuatu yang membawa kontribusi positif bagi masyarakat Ambon,” ucap Ruud Gullit saat menghadiri acara Wali Kota Ambon, Richard Louhenapessy, pada 2015 silam.

Potensi bibit sepak bola para pemuda berdarah Ambon

Kepulauan Maluku, memang menjadi ‘tambang emas’ untuk timnas Indonesia di Piala Dunia serta pabriknya pesepakbola top Eropa. Kepulauan Maluku, khususnya di daerah Ambon memang sudah sejak lama dikenal sebagai daerah penghasil bibit-bibit sepak bola berkualitas di Tanah Air.

Salah satu yang paling eksis sampai sekarang tentu Stefano Yantje Lilipaly. Pemain kelahiran Amsterdam, Belanda, tersebut memiliki darah Maluku dari sang Ayah dan rela melepas paspor Belandanya demi memperkuat timnas Garuda.

Rasa cintanya ke Indonesia pun bukan main-main, terlihat dari prestasi yang ia torehkan saat membela Merah-Putih, ia berhasil membawa timnas meraih gelar runner-up Piala AFF tahun 2016.

Sayangnya, potensi besar ini tidak mendapat perhatian serius untuk melakukan pembinaan dan pengembangan olahraga tersebut. Padahal daerah ini memiliki banyak pemain berbakat, bahkan ada pemain yang sudah menorehkan namanya di tingkat nasional.

“Kalau bicara potensi pemain sepak bola di Maluku sebenarnya banyak, cuma masih kurang perhatian. Artinya dari sisi pembinaan belum maksimal, kemudian untuk sisi kompetisinya juga minim,” kata Manajer IT Asprov Pengurus Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Maluku, Faizal Lestaluhu, dalam Antara (17/2/2019).

Di Maluku, bahkan ada Kampung sepak bola, yakni Negeri Tulehu. Dijuluki demikian karena negeri atau desa itu seperti tak habis-habisnya melahirkan pesepakbola andal. Unik memang, karena rata-rata tim sepak bola di Maluku berbasis kampung.

Baca juga (14 Juni 1987) – Ruud Gullit Kesal PSV Ditahan Imbang Timnas Indonesia

“Kalau bicara sumbangsih pemain untuk timnas, Maluku merupakan salah satu yang paling utama. Bahkan Kampung Tulehu menjadi satu-satunya desa di Indonesia yang menyumbang sampai 60 pemain untuk tim Merah-Putih,” kata Sopyan Lestaluhu, yang sekarang menjabat sebagai Ketua Asosiasi Provinsi (Asprov).

Lokasi SSB di Tulehu yang jauh dari kota dan wilayah desa lain, nyatanya tidak memadamkan semangat anak yang memiliki potensi di sepak bola untuk menimba ilmu di sana. Ada sekitar 12 anak yang berasal dari wilayah lain yang menimba ilmu di SSB Tulehu yang disebut sebagai Kampung Sepak bola tersebut.

Budaya dan sepak bola seperti tumbuh berdampingan di Ambon. Anak-anak, remaja sampai orang tua menjadikan sepak bola sebagai bagian dari hidup mereka. Lalu kecintaan masyarakat Ambon dengan sepak bola ini kemudian membentuk sebuah harapan baru.

Tak berlebihan jika dibilang sebuah harapan, agar anak tersebut bisa membesarkan nama keluarga dan Ambon melalui sepak bola.



[ad_2]

Source link

Advertisement
Click to comment

HEADLINE

Komoditas Indonesia yang Paling Banyak di Ekspor Sepanjang 2020 | Good News From Indonesia

Komoditas Indonesia yang Paling Banyak di Ekspor Sepanjang 2020 | Good News From Indonesia

[ad_1]

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat total nilai ekspor Indonesia sepanjang tahun 2020 sebesar 163,31 miliar dolar AS atau setara dengan Rp2.286 triliun (kurs Rp14.000).

Realisasi ini turun 2,61 persen dari tahun 2019 yang tercatat 167,68 miliar dolar AS.

Lemak dan minyak hewan/nabati serta Bahan bakar mineral menjadi komoditas Indonesia dengan nilai terbesar yakni 20,72 miliar dolar AS dan 17,26 miliar dolar AS.

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Continue Reading

HEADLINE

Merek Coklat Terfavorit Bagi Remaja di Indonesia | Good News From Indonesia

Merek Coklat Terfavorit Bagi Remaja di Indonesia | Good News From Indonesia

[ad_1]

Laporan Top Brand Index 2021 kategori Top Brand Gen Z menunjukkan, SilverQueen menjadi merek cokelat batangan paling favorit bagi remaja di Indonesia. Merek coklat yang bermula dari Garut ini berhasil mencatat Skor Tob Brand Index (TBI) sebesar 56,2 persen.

Di posisi kedua ada Cadbury dengan skor TBI sebesar 17,9 persen. Lalu Delfi di posisi ketigan dengan skor 10,66 persen. Terakhir, Tablorone di posisi empat dengan skor TBI 6 persen.

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Continue Reading

HEADLINE

Ganefo, Olimpiade Tandingan Ciptaan Soekarno yang Menyatukan Olahraga dan Politik | Good News From Indonesia

Ganefo, Olimpiade Tandingan Ciptaan Soekarno yang Menyatukan Olahraga dan Politik | Good News From Indonesia

[ad_1]

Olahraga bagi pandangan Komite Olimpiade Internasional (IOC) haruslah lepas dari kepentingan politik. Berbeda dengan Soekarno yang menganggap olahraga bisa menjadi sarana persatuan sebuah bangsa.

Pandangan inilah yang membuat Presiden Soekarno menegaskan bahwa event olahraga haruslah terkait dengan proyek-proyek kebangsaan. Selain itu juga menjadi wadah bagi setiap bangsa untuk menyalurkan aspirasi politik.

Pada 13 Februari 1963, Soekarno berpidato khusus untuk mengumumkan penyelenggaraan Ganefo dengan nada tegas di hadapan ribuan rakyat Indonesia. Ganefo sendiri diikuti oleh negara-negara baru sesuai istilah Nefo ciptaan Soekarno.

Ganefo, yang mengambil semboyan Maju! Tidak Ada Retret (Maju Terus Pantang Mundur), berlangsung pada tanggal 10 sampai 22 November 1963. Kejuaraan olahraga ala negara-negara anti imperialis ini diikuti 2.200 atlet dari 48 (versi lain menyebutkan ada 51 negara) negara Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Eropa (Timur).

Karena besarnya jumlah kepesertaan dan cabang olahraga yang dipertandingkan, maka “Ganefo” pantas disebut olimpiade tandingan.

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending Dari BuzzFeed

close