Connect with us

HEADLINE

Punya Raksasa Bisnis, Ini Daftar Terbaru Orang Paling Tajir di Indonesia 2021

Punya Raksasa Bisnis, Ini Daftar Terbaru Orang Paling Tajir di Indonesia 2021


Pernahkah ada di benak kawan GNFI untuk menjadi orang terkaya di Indonesia, bahkan di dunia?

Menjadi orang terkaya, mungkin bisa menjadi impian di siang bolong bagi sebagian orang, tetapi nyatanya ada lho orang-orang tertentu yang berhasil memegang predikat itu.

Membahas orang terkaya di Indonesia menjadi sangat menarik, tentu saja karena tak sedikit orang yang penasaran, sebenarnya siapa saja mereka dan bagaimana mereka bisa menjadi kaya.

Baru-baru ini Forbes telah merilis daftar orang terkaya dunia tahun 2021. Dalam daftar tersebut ada 2.755 miliarder di dunia yang tersebar di berbagai negara. Jumlah itu bertambah sebanyak 660 orang jika dibandingkan dengan tahun lalu.

Dari jumlah 2.755 miliarder di dunia, 18 di antaranya adalah orang Indonesia. Lalu siapa saja yang masuk daftar tersebut? Berikut 5 daftar teratas orang paling tajir di Tanah Air.

1. Robert Budi Hartono (US$20.5 miliar)

Robert Budi Hartono © Lifepal

info gambar

Robert Budi Hartono memiliki nama asli Oei Hwie Tjhong. Lahir di Semarang, 28 April 1940, adalah seorang pengusaha Indonesia.

Ia merupakan anak kedua dari pendiri perusahaan Djarum yaitu Oei Wie Gwan. Robert merupakan keturunan Tionghoa-Indonesia. Kakaknya bernama Michael Bambang Hartono alias Oei Hwie Siang.

Total kekayaan Robert pada tahun 2021 mencapai US$20,5 miliar, menempatkannya sebagai orang terkaya ke-86 di dunia dan orang terkaya nomor satu di Indonesia.

Lelaki berusia 79 tahun ini mendapatkan pundi-pundi kekayaannya melalui perbankan dan rokok. Ia berinvestasi di PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

Ia bersama saudaranya Michael Bambang Hartono, yang juga ada di deretan orang terkaya Forbes, memperoleh keuntungan dari investasi di BCA. Hartono membeli saham BCA dari Salim Group, tahun 1997-1998 saat krisis ekonomi Asia terjadi.

2. Michael Bambang Hartono (US$19.7 miliar)

Michael Bambang Hartono © Djarum

info gambar

Michael Bambang Hartono alias Oei Hwie Siang lahir di Semarang, Jawa Tengah, 2 Oktober 1939 adalah salah seorang pemilik perusahaan rokok kretek Indonesia, Djarum.

Berbeda dengan sang adik, Michael Bambang Hartono berada di posisi ke 89 dunia sebagai orang terkaya di dunia dan berhasil menempati peringkat ke-2 sebagai orang terkaya di Indonesia. Total kekayaan pada tahun 2021 mencapai US$19,7 miliar.

Michael dan adiknya, Robert Budi Hartono, mewarisi Djarum setelah ayah mereka, Oei Wie Gwan, meninggal pada tahun 1963. Oei Wie Gwan meninggal tidak lama setelah pabrik rokok Djarum terbakar habis.

Michael dan Robert bahu membahu mengibarkan bendera Djarum sampai ke luar negeri. Saat ini Djarum mendominasi pasar rokok kretek di Amerika Serikat, jauh melebihi Gudang Garam dan Sampoerna.

Selain industri rokok, saat ini Michael dan Robert merupakan pemegang saham terbesar dari Bank Central Asia (BCA). Mereka berdua melalui Farindo Holding Ltd. menguasai 51 persen saham BCA.

Selain itu, mereka juga memiliki perkebunan sawit seluas 65.000 hektare di Kalimantan Barat sejak tahun 2008, serta sejumlah properti di antaranya pemilik Grand Indonesia dan perusahaan elektronik.

Dengan saudaranya, ia juga memiliki perusahaan elektronik Polytrron dan saham di startup game Razer. Michael Bambang dikenal sebagai atlet Bridge yang menyumbangkan medali perunggu di Asian Games 2018.

3. Prayogo Pangestu (US$6,5 miliar)

Prajogo Pangestu © Antara

info gambar

Dengan total harta sebanyak US$6,5 miliar. Prajogo Pangestu tercatat di Forbes sebagai orang kaya dunia di deretan 404. Sekaligus berhasil menempati peringkat ke-3 sebagai orang terkaya di Indonesia

Prajogo Pangestu lahir dengan nama Phang Djoem Phen di Sambas, Kalimantan Barat, pada tahun 1944. Terlahir dari keluarga miskin mengharuskan Prajogo hanya menamatkan sekolahnya sampai tingkat menengah pertama.

Untuk mengubah nasib, Parajogo merantau ke Jakarta. Namun, dia tidak terlalu beruntung tinggal di ibu kota Indonesia karena tidak kunjung mendapatkan pekerjaan. Oleh karena itu, ia memutuskan kembali ke Kalimantan dan bekerja menjadi sopir angkutan umum.

Saat menjadi pengemudi, pada tahun 60-an, Prajogo mengenal pengusaha kayu asal Malaysia yang bernama Bong Sun On alias Burhan Uray. Pada tahun 1969 dia bergabung dengan Burhan Uray di PT Djajanti Group.

Berkat kerja kerasnya, tujuh tahun kemudian Burhan memberikan jabatan General Manager (GM) Pabrik Plywood Nusantara di Gresik, Jawa Timur kepada Prajogo.

Namun, Prajogo menjadi GM di pabrik Plywood hanya setahun dan keluar untuk memulai bisnis sendiri dengan membeli CV Pacific Lumber Coy, yang ketika itu sedang mengalami kesulitan keuangan. Prajogo membayarnya dengan uang pinjaman Bank BRI dan dia lunasi hanya dalam setahun.

Dalam perjalanannya, Prajogo mengganti nama Pacific Lumber menjadi PT Barito Pacific. Kemudian bisnisnya terus meningkat hingga bekerja sama juga dengan anak-anak Presiden Soeharto dan pengusaha lainnya demi memperlebar bisnisnya.

Prajogo membangun perusahaan publik PT Barito Pacific Tbk (BRPT), sebelumnya Pacific Lumber, pada 1993. Di 2007, ia mengakuisisi perusahaan petrokimia Chandra Asri yang kemudian merger dengan Tri Polyta Indonesia.

Pada era Presiden Soeharto, Prajogo termasuk salah satu konglomerat ternama yang dimiliki Indonesia. Bisnisnnya dengan bendera Barito Group berkembang luas di bidang petrokimia, minyak sawit mentah, properti, perkayuan. Kini Barito Group dipegang generasi anaknya, Agus Salim Pangestu.

4. Chairul Tanjung (US$4,8 miliar)

Chairul Tanjung © Antara

info gambar

Chairul Tandjung, lahir di Jakarta, 16 Juni 1962, Namanya dikenal luas sebagai pengusaha sukses yang memimpin CT Corp.

Total kekayaan pada tahun 2021 mencapai US$4,8 miliar, menempatkannya sebagai orang terkaya ke-4 di Indonesia.

Chairul memulainya bisnisnya ketika ia kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Sempat jatuh bangun, akhirnya ia sukses membangun bisnisnya.

Kini perusahaan konglomerasi miliknya CT Corp, menjadi sebuah perusahaan yang membawahi beberapa anak perusahaan seperti Trans Corp, Bank Mega, dan CT Global Resources.

Saat ini, Chairul Tanjung juga menjadi jajaran direksi beberapa perusahaan, yaitu Pariarti Shindutama, CT Corp, dan Para Rekan Investama.

5. Tahir (US$3,3 miliar)

Dato’ Sri Tahir © Mayapada

info gambar

Dato’ Sri Tahir (Ang Tjoen Ming) lahir di Surabaya, 26 Maret 1952 adalah seorang pengusaha di Indonesia, investor, filantropis, sekaligus pendiri Mayapada Group, sebuah holding company yang memiliki beberapa unit usaha di Indonesia.

Kini Tahir tercatat sebagai orang terkaya ke-5 di Indonesia. Harta kekayaannya saat ini mencapai US$3,3 miliar.

Unit usahanya meliputi perbankan, industri garment, media cetak dan TV berbayar, properti, rumah sakit dan rantai toko bebas pajak/duty free shopping (DFS).

Diawali dari Mayapada Group yang didirikannya pada tahun 1986, bisnisnya merambat dari dealer mobil, garmen, perbankan, sampai di bidang kesehatan.

Tahun 1990 Bank Mayapada lahir menjadi salah satu bisnis andalannya. Ketika itu, bisnis garmen Mayapada tidak lagi tumbuh, justru bisnis banknya maju pesat.

Setelah mendapatkan kesuksesan di bisnis garmen dan perbankan yang dia geluti akhirnya dia mulai melirik ke sektor rumah sakit yang dilanjutkan dengan toko bebas bea serta perusahaan media.

Setelah mendapatkan kesuksesan dari bisnis-bisnis itu, dia mulai lagi menunjukkan kekuatan bisnisnya dengan menciptakan perusahan properti sebanyak sebelas perusahaan yang bertempat di Bali, Indonesia dan Singapura.

Baca juga :





Source link

Advertisement
Click to comment

HEADLINE

Ruud Gullit yang Berdarah Indonesia dan Fanatisme Masyarakat Ambon atas Timnas Belanda

Ruud Gullit yang Berdarah Indonesia dan Fanatisme Masyarakat Ambon atas Timnas Belanda


Kemenangan Timnas Belanda pada laga perdana Euro 2020 melawan Ukraina, Senin dini hari (14/6/2021), tak hanya dirayakan oleh masyarakat Negeri Kincir Angin tersebut, tapi juga oleh masyarakat Ambon, Maluku.

Mereka melakukan konvoi untuk merayakan kemenangan itu, dan sayangnya banyak dari mereka terlihat melanggar protokol kesehatan (prokes) Covid-19 dengan tidak menggunakan masker dan menjaga jarak.

Warga konvoi menggunakan motor sambil membawa bendera Belanda dan memakai baju oranye serupa dengan seragam kebesaran timnas Belanda, nampak pula pemuda yang hanya telanjang dada.

“Ini bentuk kegembiraan para pendukung, karena tim Belanda kesayangan kami bisa tampil kembali di turnamen akbar, menyusul absen pada Euro di Prancis pada 2016 dan Piala Dunia 2018 di Rusia,” kata John, salah satu fans tim Belanda, menukil Inews.

Dukungan masyarakat Ambon kepada timnas Belanda tidak hanya terkait dengan fanatisme, tapi juga kedekatan emosional antara kedua bangsa yang sudah terjalin lama.

Baca juga5 Tokoh Bangsa dengan Sepak Bola, dari Hobi Masa Kecil hingga Alat Perjuangan

Seperti yang kita ketahui, banyak sekali orang Maluku yang berada dan menjadi warga negara Belanda. Bahkan beberapa dari mereka ada yang menjadi pesepakbola nasional Belanda.

Istilah “Belanda Hitam” untuk orang Maluku yang dipercayai sebagai kasta kelas dua dalam tentara KNIL (Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger), yang merupakan sebuah ikatan sejarah masa lalu. Banyak yang mati selama pendudukan Jepang, dan ketika mereka berperang di pihak Belanda selama perjuangan Indonesia untuk kemerdekaan dari Agustus 1945 hingga 1949.

Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949, tentara Belanda harus angkat kaki dari Indonesia, termasuk Maluku. Namun, banyak orang Maluku pro-Belanda dan enggan meninggalkan tanah asal-usulnya.

Chris Soumokil, Jaksa Agung Negara Indonesia Timur (NIT), kemudian secara sepihak mengumumkan berdirinya Republik Maluku Selatan (RMS) pada tanggal 25 April 1950. Bagi mereka saat itu, tanah airnya adalah Maluku Selatan, bukan Indonesia.

Tapi, selain masalah kelam yang mewarnai hubungan segitiga antara Indonesia-Maluku-Belanda, peran para pemuda-pemuda Ambon sangatlah besar, terutama dalam sepak bola.

Para darah Ambon yang harum dari sepak bola

Keterlibatan orang Maluku dalam sepak bola sudah ada sejak Piala Dunia pertama tahun 1938. Saat itu kesebelasan Hindia-Belanda membawa nama Kerajaan Belanda, bukan Indonesia.

Hal ini menjadi pelurusan sejarah, karena adanya perdebatan mengenai keabsahan Indonesia pernah mengikuti Piala Dunia. Walau, sebagian besar pemainnya adalah warga Indonesia, tetapi mereka yang bekerja di perusahaan-perusahaan Belanda.

FIFA tetap mengakui Hindia-Belanda disertakan atas rekomendasi NIVU (Nederlandsche Indische Voetbal Unie), bukan PSSI–saat itu kepanjangannya Persatuan Sepakraga Seluruh Indonesia.

Dari daftar pemain Hindia-Belanda di Piala Dunia 1938, terseliplah beberapa pemain Maluku, seperti Hans Taihuttu, Frederik Hukom, dan Tjaak Pattiwael. Ketiga pemain Maluku ini berbaur bersama pemain dari Jawa (Nawir dan Suvarte Soedermadji), Tionghoa (Tan Djien, Bing Mo Heng, Tan Se Han dan Tan Mo Heng), serta pemain asli Belanda (Beuzekom dan Henk Sommers).

Baca juga(24 Maret 1956) – Peresmian Stadion Siliwangi Diwarnai Kemenangan Timnas

Selanjutnya, hampir setiap edisi Piala Dunia, pemain Belanda berketurunan Maluku selalu menyelip dari 23 nama pasukan lengkap ‘Singa Oranye’. Dari era Izaak Pattiwael, Hans Taihitu, Frans Hukom, Simon Tahamatta, Sony Silooy, Piere van Hooijdonk, dan yang paling cukup dikenal, Giovanni Van Bronchorst, bintang tim nasional Belanda yang berlaga pada Piala Dunia 2010.

Eks pemain Feyenoord dan Barcelona ini lahir di Rotterdam 38 tahun yang lalu dari pasangan orang tua Victor van Bronckhorst, yang blasteran Indonesia-Belanda, serta Fransien Sapulette yang asli Saparua, Maluku.

“Tentu saja, itu kan negara asal kakek dan nenek. Jelas saya berminat kembali ke tempat akar saya,” demikian kalimat yang pernah dikatakan Giovanni van Bronckhorst, mantan kapten timnas Belanda yang kini telah gantung sepatu.

Mantan bek kiri yang fasih berposisi di gelandang bertahan ini, masih bisa berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Indonesia dengan aksen Indonesia Timur. Selama membela timnas sejak 1996, ia sudah memiliki caps 106 plus enam gol.

Salah satu pemain besar Belanda yang berdarah Ambon lainnya, adalah Ruud Gullit. Legenda tim AC Milan tersebut jika ditelusuri ternyata sangat kental akan darah Indonesia. Selain berdarah Ambon, Ruud Gullit juga ternyata memiliki darah Jawa.

Melansir dari laman Fourfourtwo.com, diketahui jika Ruud Gullit merupakan pemain yang lahir dari wanita Suriname bernama Ria Dil dan ayahnya yang keturunan Ambon, bernama George Gullit.

Suriname sendiri merupakan sebuah negara kecil di kawasan Amerika Selatan yang cukup kental dengan budaya Jawa yang dibawa sejak akhir abad ke-19, tepatnya saat migrasi orang Jawa ke sana di era kolonial Belanda.

Ia sempat diberi nama Rudi Dil sewaktu lahir, nama yang sangat familiar untuk orang Indonesia. Namun saat terjun ke dunia sepak bola, ia merubah namanya menjadi Ruud Gullit agar lebih terlihat sebagai pemain bola profesional.

“Kesempatan kunjungan ke Ambon saya ingin melakukan sesuatu yang membawa kontribusi positif bagi masyarakat Ambon,” ucap Ruud Gullit saat menghadiri acara Wali Kota Ambon, Richard Louhenapessy, pada 2015 silam.

Potensi bibit sepak bola para pemuda berdarah Ambon

Kepulauan Maluku, memang menjadi ‘tambang emas’ untuk timnas Indonesia di Piala Dunia serta pabriknya pesepakbola top Eropa. Kepulauan Maluku, khususnya di daerah Ambon memang sudah sejak lama dikenal sebagai daerah penghasil bibit-bibit sepak bola berkualitas di Tanah Air.

Salah satu yang paling eksis sampai sekarang tentu Stefano Yantje Lilipaly. Pemain kelahiran Amsterdam, Belanda, tersebut memiliki darah Maluku dari sang Ayah dan rela melepas paspor Belandanya demi memperkuat timnas Garuda.

Rasa cintanya ke Indonesia pun bukan main-main, terlihat dari prestasi yang ia torehkan saat membela Merah-Putih, ia berhasil membawa timnas meraih gelar runner-up Piala AFF tahun 2016.

Sayangnya, potensi besar ini tidak mendapat perhatian serius untuk melakukan pembinaan dan pengembangan olahraga tersebut. Padahal daerah ini memiliki banyak pemain berbakat, bahkan ada pemain yang sudah menorehkan namanya di tingkat nasional.

“Kalau bicara potensi pemain sepak bola di Maluku sebenarnya banyak, cuma masih kurang perhatian. Artinya dari sisi pembinaan belum maksimal, kemudian untuk sisi kompetisinya juga minim,” kata Manajer IT Asprov Pengurus Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Maluku, Faizal Lestaluhu, dalam Antara (17/2/2019).

Di Maluku, bahkan ada Kampung sepak bola, yakni Negeri Tulehu. Dijuluki demikian karena negeri atau desa itu seperti tak habis-habisnya melahirkan pesepakbola andal. Unik memang, karena rata-rata tim sepak bola di Maluku berbasis kampung.

Baca juga (14 Juni 1987) – Ruud Gullit Kesal PSV Ditahan Imbang Timnas Indonesia

“Kalau bicara sumbangsih pemain untuk timnas, Maluku merupakan salah satu yang paling utama. Bahkan Kampung Tulehu menjadi satu-satunya desa di Indonesia yang menyumbang sampai 60 pemain untuk tim Merah-Putih,” kata Sopyan Lestaluhu, yang sekarang menjabat sebagai Ketua Asosiasi Provinsi (Asprov).

Lokasi SSB di Tulehu yang jauh dari kota dan wilayah desa lain, nyatanya tidak memadamkan semangat anak yang memiliki potensi di sepak bola untuk menimba ilmu di sana. Ada sekitar 12 anak yang berasal dari wilayah lain yang menimba ilmu di SSB Tulehu yang disebut sebagai Kampung Sepak bola tersebut.

Budaya dan sepak bola seperti tumbuh berdampingan di Ambon. Anak-anak, remaja sampai orang tua menjadikan sepak bola sebagai bagian dari hidup mereka. Lalu kecintaan masyarakat Ambon dengan sepak bola ini kemudian membentuk sebuah harapan baru.

Tak berlebihan jika dibilang sebuah harapan, agar anak tersebut bisa membesarkan nama keluarga dan Ambon melalui sepak bola.





Source link

Continue Reading

HEADLINE

Legenda Hantu Aceh yang Buat Prajurit Belanda Ketar-ketir

Legenda Hantu Aceh yang Buat Prajurit Belanda Ketar-ketir


Pada masa perang Aceh, ada cerita hantu yang membuat Pemerintah Kolonial Belanda ketar-ketir. Saat itu sosok hantu yang diceritakan selalu muncul di dekat sebuah benteng tidak jauh dari Kota Radja, yang kini bernama Banda Aceh.

Dituliskan oleh Letnan H Aars, dalam sebuah buku berjudul Tjerita-Tjerita Dari Negeri Atjee, yang diangkatnya berdasarkan cerita Letnan JP Schoemaker, seorang pengarang asal Belanda yang menulis buku Hikajat Prang di Edi.

Pada buku setebal 73 halaman yang terbit pada 1891 itu, Letnan H Aars menaruh kisah hantu tersebut pada halaman pertama, dengan judul Tjerita Deri Satoe Setan.

“Tempo tjerita ini, tidak berbrapa djaho dari Kota Radja, ada satoe benteng. Maka benteng ini sekarang soedah di rombaq. Tempo waqtoe tjerita ini kelilingnya itoe, melajinkan ada rawah-rawah sadja,” tulis H Ars dalam pembuka bukunya yang dikutip dari Liputan6.

Cerita hantu ini bermula saat seseorang melapor ke opsir komandan jaga, bahwa sekilwak (pengawal) yang menjaga pos di sebelah lor (utara) benteng melihat sesosok berpakaian serba putih di atas kuburan tak jauh dari benteng tersebut.

Marsose itu tidak berani mendekati sosok berpakaian putih tersebut karena takut. Namun, opsir komandan jaga berpangkat letnan tadi yakin, sekilwak tersebut salah lihat. Letnan itu berkeras kalau yang dilihat oleh sekilwak adalah batang kayu.

Komandan Belanda saat itu memerintahkan beberapa prajurit untuk bersembunyi agar para prajuritnya tidak dibuat resah oleh para hantu. Mereka kemudian bersembunyi di dekat kuburan agar bisa menemukan hantu berbaju putih tersebut.

Baca jugaLegenda Tuan Tapa, Telapak Kaki Raksasa di Kota Naga Aceh Selatan

Tapi selamat tiga hari berturut-turut mereka tidak menemukan apa-apa, sosok hantu yang mereka tunggu tidak menampakan wujudnya. Prajurit Belanda pun dibuat kebingungan, siapa sebenarnya sosok tersebut.

Lalu Komandan tersebut meminta para prajurit terus berjaga, sejak pukul 10 malam, para serdadu marsose mulai mengintip dari pos masing-masing dengan moncong senapan diarahkan ke arah kuburan. Sementara itu, pikiran mereka diselimuti oleh rasa takut dan was-was.

Hingga lonceng pukul tengah malam berbunyi, suasana di kuburan itu terlihat masih sunyi. Kecuali bunyi jangkrik dan segala binatang hutan yang mengitari benteng menyeruak diantara kabut keheningan, menambah rasa takut di pikiran para serdadu-serdadu tersebut.

Tiba-tiba, hantu tersebut menyembul dari dalam tanah kuburan. Para serdadu terkejut. Dengan tergesa-gesa mereka melontarkan kembang api ke arah sosok berbaju putih itu. Ketika mereka bersiap-siap hendak menembak, ‘blasss!’, makhluk itu menghilang sambil meninggalkan tawa, yang membuat bulu kuduk berdiri.

“Wah, setan betoel itoe!!!,” teriak salah seorang di antara mereka dengan mimik wajah ketakutan. Mereka kocar-kacir, tentu saja.

Melawan hantu yang ternyata pejuang Aceh

Pada keesokan harinya, seorang serdadu Belanda bernama Wakidin memohon izin bertemu komandan Belanda. Dirinya meminta waktu 24 jam untuk mengungkap teror hantu tersebut.

Ia tidak percaya kalau sosok yang meneror para prajurit selama beberapa malam itu adalah hantu. Menurutnya, di dekat hutan ada sebuah rumah milik seorang Aceh.

Dirinya yakin, rumah tersebut ada hubungannya dengan kehadiran sosok yang dipercaya sebagai hantu tersebut. Dia mengatakan, hantu berbaju putih itu selalu menampakkan diri saat lampu di rumah orang Aceh itu dipadamkan.

“Kaloe toewan kommandan kasi permisie, ini malam saja mawoe masoeq di oetan, saja mawoe ngintip di dalam itoe roemah djaga; kaloe saja bawa kiestool sama keris, saja tida takoet poentianak atawa setan,” pinta Wakidin kepada komandan Belanda.

Setelah diberi izin, Wakidin masuk ke dalam ke hutan sejak sore dan bersembunyi disitu sampai suasana mulai gelap. Dia berjalan merayap menuju rumah orang Aceh tersebut. Kebetulan rumah Aceh zaman dulu khas rumah panggung dengan tiang yang cukup tinggi. Tujuannya, untuk menghindari binatang buas dan banjir.

Wakidin menyelinap dan bersembunyi di bawah rumah. Dari situ, ia dapat mengintip ke dalam rumah melalui celah-celah lantai rumah yang terbuat dari bambu rumah. Lama Wakidin menunggu di dalam semak-semak yang ada di bawah rumah tersebut.

Baca juga Asal-Usul Kopi Gayo, Kopi Serambi Makkah Indonesia

Tidak berapa lama, terdengar suara orang melangkah ke arah rumah. Jumlahnya ada sekitar 30 orang. Mereka semua bersenjata lengkap. Orang-orang itu satu satu-persatu menaiki tangga masuk ke dalam rumah.

Di dalam rumah, tampak orang-orang tersebut berkumpul. Seperti hendak membicarakan sesuatu hal penting. Diantara orang-orang itu, tampak seorang lelaki berpakaian serba putih memakai sorban bermotif. Di ikat pinggangnya, terselip klewang (pedang panjang) yang dihiasi emas dan intan serta sebuah pistol. Sementara, tangan kanannya memegang tasbih.

Kepada orang-orang itu, lelaki bersorban tadi mengatakan kalau dia sudah menyiapkan senjata untuk melakukan penyerangan ke benteng Belanda. Dia meminta semua orang berkumpul di masjid tengah malam nanti untuk memulai penyerangan. Dini hari nanti, serangan akan dilangsungkan.

Mendapati pembicaraan itu, Wakidin langsung bergerak kembali ke benteng. Dia melaporkan semua yang dilihat dan didengarnya kepada sang komandan. Rupanya, sosok hantu yang selama ini meneror para serdadu marsose itu adalah seorang mata-mata yang bertujuan memantau gerak-gerik Belanda.

Pikiran para opsir Belanda dan Wakidin saat itu tertumpu pada lubang yang ada di kuburan tempat sosok yang diduga hantu muncul. Malam itu, karena masih ada waktu, sebelum menghadapi serangan orang Aceh, seperti laporan Wakidin, mereka terlebih dahulu memeriksa kuburan tersebut.

Mereka tak juga menemukan lubang tempat si hantu muncul, sebelum akhirnya seorang serdadu terperosok ke dalam sebuah lubang dengan kedalaman sepinggang orang dewasa. Saat diperiksa, lubang tersebut rupanya memiliki dasar daun alang-alang yang ditaruh diatas bambu untuk menutup lubang dibawahnya.

Saat dibongkar, didalam lubang tersebut terdapat banyak sekali senjata, yang terdiri dari senapan, tombak, klewang, bubuk mesiu, dan pelor. Semua temuan tersebut kemudian dibawa ke benteng. Di dalam benteng, orang-orang sudah siaga di pos masing-masing menanti kedatangan para pejuang Aceh.

Benar saja, seperti yang dikatakan oleh Wakidin, tengah malam itu para pejuang Aceh menyerang benteng Belanda. Namun, karena rencana telah bocor, korban di pihak pejuang Aceh berjatuhan. Para pejuang Aceh tidak mampu menembus benteng. Apalagi, pada pukul lima pagi, datang pertolongan untuk pihak Belanda.

“… banjak sekali jang loeka dan mati, tetapi moesoeh itoe tida mawoe moendoer,” demikian H Aars menggambarkan keberanian para pejuang Aceh yang terpaksa mundur menjelang terang hari.

Cerita hantu simbolisasi pejuang Aceh

Kisah hantu ini bisa jadi sebagai simbolisasi perjuangan masyarakat Aceh. Hal ini terbukti, Aceh menjadi salah satu wilayah yang paling sulit ditaklukkan oleh Belanda di Nusantara.

Bagaimana tidak selain memiliki pemimpin perang yang hebat, Aceh juga memiliki kekuatan militer dan sipil yang tangguh. Kompeni Belanda baru menyatakan perang dengan Aceh pada tahun 1870-an.

Sejak saat itu perang terus berkecamuk di berbagai titik di tanah Serambi Mekah. Belanda baru berhasil menaklukkan Aceh secara menyeluruh pada tahun 1914 atau 31 tahun sebelum Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Saat itu, Belanda meremehkan tekad bangsa Aceh yang terus berjuang menggunakan taktik perang gerilya yang menyeret Belanda dalam perang panjang selama 31 tahun. Jumlah korban diperkirakan sekitar 90.000 orang.

Salah satu yang membuat Belanda kewalahan menguasai Aceh bukan hanya karena semangat Prang Sabi para pejuangnya. Disisi lain, yang membuat Belanda tak habis pikir adalah kecerdikan yang dimiliki oleh orang Aceh.

Baca juga Lokasi Ternak Tuna Terbaik Dunia Ada di Indonesia

Kendati kisah hantu yang dalam ‘Tjerita Deri Satoe Setan’ berujung kekalahan pihak Aceh karena keduluan bocor informasi, namun, setidaknya sosok hantu yang rupanya mata-mata tersebut telah berhasil membuat Belanda ketar-ketir.

Juga ada kisah saat pejuang Aceh memerangkap dan memperdaya serdadu Belanda yang menjaga suatu pos di Meulaboh yang diserang oleh tujuh orang Aceh. Orang Aceh itu datang dengan memperdaya, berpura-pura dan menyamar untuk menggabungkan diri dengan penjaga pos.

Mereka menyatakan diutus oleh raja Meulaboh untuk membantu meronda dan menjaga keamanan. Setelah melakukan beberapa kali patroli, orang Aceh itu menyatakan situasi aman dan tidak ada ancaman serius.

Ketujuh orang Aceh itu duduk bersama serdadu Belanda yang sama sekali tidak merasa curiga dan tidak mengira sebuah jebakan berbahaya. Tiba-tiba tujuh orang itu yang cukup tangguh, sangat berani menghantam dan menyerang serdadu Belanda saat mereka lengah, lalai dan bersantai.

Maka tujuh orang serdadu tewas, komandan dan tiga yang lain luka berat. Pejuang Aceh melarikan 11 senampang dengan sejumlah peluru.





Source link

Continue Reading

HEADLINE

Cita Rasa Lemang, Kudapan Khas Sumatra yang Dimasak dalam Bambu

Cita Rasa Lemang, Kudapan Khas Sumatra yang Dimasak dalam Bambu


Penulis: Habibah Auni

#WritingChallenge#InspirasidariKawan#NegeriKolaborasi

Kuliner Indonesia dikenal dengan keragaman cita rasa, lantaran perpaduan sempurna antara bahan utama masakan dan racikan rempah-rempahnya. Buktinya, salah satu makanan Indonesia kembali mendapatkan hati masyarakat dunia. Ialah rendang dengan yang mampu menempati posisi ke-11 sebagai makanan terlezat dunia 2021 versi CNN.

Tak hanya rendang, pulau Sumatra sebagai pencipta makanan andalan Indonesia yang berkelas dunia itu, turut membuat kuliner lezat nan gurih lainnya. Ialah lemang, kudapan manis khas Sumatra yang dimasak dalam bambu. Kudapan ini terbuat dari campuran beras ketan dan santan, yang kemudian dimasukkan ke dalam batang bambu untuk dibakar.

Nah, lemang sendiri memiliki banyak ragamnya, lho, Kawan. Mengutip laman encyclopedia.jakarta-tourism.go.id, terdapat tujuh macam lemang berdasarkan bahannya. Di antaranya lemang pulut (beras ketan putih), lemang hitam (beras ketan hitam), dan lemang pisang (perpaduan besar ketan putih dan potongan-potongan pisang).

Tambah lagi, ada lemang kuning (campuran antara tepung beras dengan kunyit dan air kelapa), lemang labu (campuran antara tebu beras dengan bubur isi labu), lemang kanji (bahan serupa dodol), dan lemang jagung. Di antara ketujuh macam lemang tersebut, yang paling banyak dihidangkan adalah lemang pulut.

Baca Juga Mie Che, Sagu Porno, dan Aneka Makanan Khas Sangihe

Sejarah singkat lemang

Kelahiran lemang dimulai bersamaan dengan tradisi “malamang” di Sumatra Barat. Saat itu, Syekh Burhanuddin berupaya menyebarkan ajaran Islam di tanah Minangkabau. Hal itu dikarenakan ia prihatin dengan kondisi masyarakat yang masih menganut ajaran Hindu dan Budha, dan menyajikan makanan non halal seperti gulai babi.

Syekh Burhanuddin pun bereksperimen menciptakan makanan halal dengan cara yang unik dan kreatif, yaitu memasak nasi menggunakan potongan bambu tipis nan bersih. Percobaan pertama ini pun berhasil mendapatkan kepastian akan kehalalannya.

Akan tetapi, beras yang digunakan ini ternyata tidak bisa bertahan lama, alias cepat basi. Menanggapi hal ini, Syekh Burhanuddin pun mengganti jenis beras sebelumnya dengan beras ketan. Kemudian, tabung bambu dibakar sampai matang agar bisa tahan lama, berbeda dengan sebelumnya yang tidak dimatangkan sama sekali.

Usaha Syekh Burhanuddin disaksikan langsung oleh masyarakat setempat secara seksama, mereka mendengar penjelasannya, kemudian menirunya. Semenjak itu, masyarakat menjadikan malamang sebagai tradisi wajib mereka dan dirayakan setiap menjelang, sedang, maupun sesudah Maulid Nabi.

Baca Juga Burjo Andeska, Tempat Makan Ideal Mahasiswa Yogyakarta

Penyajian lemang tergantung tradisi daerahnya

Proses Memasak Lemang | Foto: Liputan6.com

info gambar

Adapun lemang dihidangkan untuk berbagai situasi dan kondisi, bergantung pada tradisi masyarakat setempat. Oleh masyarakat Sumatera, lemang dibuat tatkala sedang menyambut bulan Ramadan, hari Idulfitri, Maulid Nabi, ataupun peringatan kematian anggota keluarga. Biasanya, masyarakat setempat memasak lemang bersama-sama, kemudian dibagi-bagikan untuk satu kampung dalam rangka mempererat silaturahmi.

Khususnya di Sumatra Selatan dan Sumatra Barat, lemang ini akan ditemani berbagai aneka lauk seperti gulai atau rendang daging. Tak hanya sebagai makanan berat, lemang juga bisa disantap bersama tape ketan hitam ataupun durian.

Di Ibu Kota Jakarta sendiri, lemang tidak hanya dihadirkan pada hari-hari tertentu saja. Kudapan manis ini dijual sebagai jajanan harian di sekitar wilayah Jalan Kramat Raya, Senen, Jakarta Pusat. Di sini, satuan lemang dibanderol dengan harga minimal Rp30.000 sampai Rp35.000 saja.

Baca Juga Sayur Babanci Kuliner Khas Betawi yang Langka Namun Kaya Rasa

Cara menikmati lemang

Lemang | Foto: Liputan6.com

info gambar

Ingin mencoba untuk membuat lemang sendiri? Kawan bisa memulainya dengan menyiapkan beberapa bahan yang diperlukan, seperti beras ketan, santan, air kelapa, garam, batang bambu muda, dan daun pisang muda.

Campurlah beras ketan dengan santan dan garam sembari melapisi bambu dengan daun pisang. Jika sudah, Kawan bisa memasukkan campuran beras ketan tadi ke dalam tabung bambu hingga mencapai tiga perempat panjang bambu. Lipatlah ujung daun pisang, kemudian tusukkan dengan lidi.

Bakarlah bambu yang sudah penuh itu hingga matang. Keluarkan sebungkus panjang beras ketan, kemudian potong-potong setebal 2 cm. Lalu, hidangkanlah dan cicipi langsung rasa manis nan gurih dari lemang. Entah jadi lauk asin ataupun disantap dengan cocolan manis, sesuaikan saja dengan selera Kawan.

Meskipun berasal dari tanah Sumatra, penggunaan Lemang membuktikan bahwa dirinya bisa menembus batas wilayah. Menjadikan kudapan manis sangat membumi dan tidak eksklusif. Cocok dijadikan teman bersama tatkala sedang berada di perjalanan seorang diri.

Tak hanya Sumatra, daerah lainnya pasti punya kuliner khas. Mari tuliskan cerita tentang daerahmu yang menginspirasi dengan mengikuti Writing Challenge Batch 3. Informasi selengkapnya silakan menuju tautan berikut.*

Referensi: Bisnis.com | encyclopedia.jakarta-tourism.go.id





Source link

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending Dari BuzzFeed

close