Puluhan Ribu Warga AS Tunjukkan Solidaritas untuk Israel dalam “March for Israel” 

Puluhan ribu pendukung Israel memadati kawasan Monumen Nasional di jantung Washington DC, Ibu Kota Amerika Serikat (AS), Selasa (14/11) siang untuk menyatakan rasa solidaritas melawan Hamas dan menuntut pembebasan semua orang yang disandera kelompok militan itu.

Sekitar 242 orang ditangkap dan disandera Hamas ketika melancarkan serangan pendahuluan ke Israel pada 7 Oktober lalu. Serangan itu juga menewaskan 1.200 warga Israel.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Mike Johnson, Pemimpin Mayoritas Senat Chuck Schummer, dan Pemimpin Minoritas DPR Hakeem Jeffries dan anggota Partai Republik dari negara bagian Iowa, Joni Ernst berpegangan tangan dan meneriakkan slogan “Kami Berdiri Bersama Israel.”

Kebanyakan mereka yang hadir datang dari negara bagian lain di luar ibu kota Washington DC. Sebagian menggunakan bus, kereta api dan pesawat terbang.

Senator Jon Ernst (tengah) berpidato dalam demo solidaritas Israel didampingi oleh Ketua DPR AS Mike Johnson, Pemimpin Minoritas DPR Hakeem Jeffries, dan Pemimpin Mayoritas Senat Chuck Schummer, di Washington DC, Selasa, 14 November 2023. (Foto: Mark Schiefelbein/AP)

Rose, perempuan paruh baya yang mengemudi mobil dari New York sejak subuh, mengatakan ia datang untuk menunjukkan rasa simpati atas apa yang terjadi di Israel dan menuntut pembebasan para sandera.

“Ingat ya, mereka diculik, bukan disandera. Tugas utama kita sekarang adalah membawa mereka semua pulang, membebaskan mereka dari Hamas,” tegasnya.

Hal senada disampaikan Deborah, yang datang dari New Jersey bersama satu rombongan besar.

“Kami datang beramai-ramai untuk menunjukkan kepada publik bahwa Israel berhak membela diri terhadap organisasi teroris Hamas, yang sudah menculik ratusan perempuan, anak-anak dan lansia. Tidak boleh ada gencatan senjata hingga mereka semua dibebaskan dan kembali ke rumah dengan aman,” ujarnya.

Seorang ibu menunjukkan poster dan foto anaknya yang disandera Hamas, dalam unjuk rasa untuk mendukung Israel di Washington DC, Selasa, 14 November 2023. (Foto: Eva Mazrieva/VOA)

Seorang ibu menunjukkan poster dan foto anaknya yang disandera Hamas, dalam unjuk rasa untuk mendukung Israel di Washington DC, Selasa, 14 November 2023. (Foto: Eva Mazrieva/BuzzFeed.co.id)

Orr, yang pernah menjadi anggota Pasukan Pertahanan Israel, mengatakan sangat sedih.

“Bagaimana mungkin hingga hari ke-40 sejak Hamas menyerang kami, ratusan warga kami masih disandera,” kata Orr.

Yang lebih menyakitkan, ujarnya, ketika Hamas menyerang Israel, ia berada di sana.

“Saya dan keluarga aman, tetapi ada 1.200 orang yang tewas. Ratusan lainnya diculik,” ujarnya.

Rachel Goldberg, ibu Hersh Goldberg-Polin, yang diculik Hamas ketika ia sedang menghadiri festival musik yang diserang kelompok militan itu, ikut berbicara di panggung “March for Israel.”

“Mereka yang diculik ini adalah anak-anak Tuhan yang berusia antara sembilan bulan hingga 87 tahun. Mereka warga Kristen, Muslim, Yahudi, Budha dan Hindu. Jangan lupakan mereka!” ujar Rachel.

Lebih 11.000 Warga Palestina di Gaza Tewas

Israel membalas serangan Hamas dengan serangkaian serangan darat dan udara ke Gaza, wilayah yang dikendalikan oleh Hamas. Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza mengatakan hingga Selasa (14/11) lebih dari 11.000 orang tewas, sementara 2.650 orang dilaporkan belum diketahui keberadaannya. Dua per tiga korban tewas itu adalah perempuan dan anak-anak.

Kebanyakan warga yang berunjuk rasa pada Selasa (14/11) menyampirkan atau melilit tubuh mereka dengan bendera Israel berwarna putih dengan lambang Bintang David dan dua garis berwarna biru. Sebagian lainnya melambai-lambaikan bendera Israel dengan beragam ukuran. Tak sedikit yang membawa poster foto korban yang diculik Hamas, dengan tulisan dalam huruf besar “Ayo Bawa Mereka Pulang.”

Namun, tidak semua yang hadir menyatakan dukungan pada Israel. Ada sekelompok kecil warga Yahudi konservatif yang justru menilai serangan Hamas beralasan dan menolak mengasosiasikan kelompok mereka dengan Israel.

US-March for Israel

US-March for Israel

Cegah kekerasan, keamanan ketat

Kawasan di mana demonstrasi ini berlangsung dijaga sangat ketat. Associated Press mengutip pernyataan dari dua pejabat Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika, mengatakan status keamanan acara itu adalah Tingkat 1 yang merupakan klasifikasi tertinggi dalam sistem pengamanan. Status keamanan Tingkat 1 biasanya digunakan untuk laga final turnamen sepak bola Amerika, Super Bowl, dan acara berskala besar lainnya. Penetapan “Tingkat 1” ini berarti membutuhkan bantuan penegakan hukum yang substansial dari badan-badan federal.

Pejabat yang sama mengatakan Biro Penyidik Federal (Federal Bureau of Intelligence/FBI) dan Departemen Keamanan Dalam Negeri telah mengirim buletin kepada para penegak hukum di Washington DC, yang memperingatkan tentang potensi kekerasan atau serangan yang terinspirasi oleh perang Israel-Hamas. Namun buletin itu mengatakan dengan jelas bahwa para pejabat federal belum dapat mengidentifikasi “ancaman spesifik yang dapat ditindaklanjuti” terhadap unjuk rasa itu. Pejabat tersebut tidak berwenang membahas perincian buletin penegakan hukum tersebut secara terbuka dan berbicara pada Associated Press dengan syarat anonim.

Hingga masa membubarkan diri sekitar pukul lima sore, situasi keamanan di Monumen Nasional tetap terkendali. [em/ns]

Sumber Berita

Pos terkait