Connect with us

HEADLINE

Program Vaksinasi Covid-19 di Indonesia, Sudah Sejauh Mana?

Program Vaksinasi Covid-19 di Indonesia, Sudah Sejauh Mana?


Hingga awal Mei 2021, program vaksinasi Covid-19 di Indonesia telah sampai bulan keempat. Program ini mulai digalakan pemerintah sejak Januari 2021.

Presiden Joko Widodo menjadi orang pertama yang menerima vaksin Covid-19 di Indonesia. Beliau mendapatkan vaksin pertama bukan tanpa alasan, beliau mengaku hal itu dilakukan agar masyarakat percaya bahwa vaksin tersebut aman dan halal digunakan.

Tak hanya presiden, sejumlah nama menteri, dokter, perwakilan dari berbagai profesi, tokoh agama, hingga influencer masuk dalam daftar penerima vaksin pertama dan mengikuti proses penyuntikan vaksin di Istana Merdeka, Jakarta, 13 Januari 2021.

Kelompok prioritas penerima vaksin

Pemerintah telah menetapkan 5 kelompok prioritas penerima vaksin COVID-19 tahap awal. © GNFI

info gambar

Pemerintah sejauh ini telah membuat daftar kelompok prioritas penerima vaksin COVID-19 tahap awal. Kelompok prioritas pertama meliputi tenaga kesehatan, asisten tenaga kesehatan, tenaga penunjang yang bekerja pada fasilitas pelayanan kesehatan, kemudian TNI/Polri, aparat hukum, serta petugas pelayanan publik lainnya.

Setelah itu, prioritas kedua meliputi tokoh masyarakat/agama, pelaku perekonomian strategis, perangkat daerah kecamatan, perangkat desa, dan perangkat rukun tetangga/rukun warga. Sementara guru atau tenaga pendidik dari PAUD/TK, SD, SMP, SMA, atau setingkat/sederajat, dan perguruan tinggi masuk ke dalam prioritas ketiga.

Selanjutnya, prioritas keempat antara lain aparatur kementerian/lembaga, aparatur organisasi perangkat pemerintah daerah, dan anggota legislatif. Yang erakhir, prioritas kelima adalah masyarakat rentan dari aspek geospasial, sosial, ekonomi dan masyarakat pelaku perekonomian lainnya. Prioritas terakhir adalah masyarakat sipil dan pelaku perekonomian lainnya.

Jenis vaksin yang digunakan Indonesia

Dari tujuh jenis vaksin COVID-19 yang digunakan di Indonesia, baru ada tiga vaksin yang stoknya telah diterima dan digunakan dalam pelaksanaan vaksinasi, yakni Sinovac, PT Bio Farma, dan Oxford-AstraZeneca. © GNFI

info gambar

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, telah menetapkan ada tujuh jenis vaksin Covid-19 yang akan digunakan untuk proses vaksinasi di Indonesia. Aturan terkait jenis vaksin ini ada dalam Keputusan Menkes Nomor HK.01.07/Menkes/12758/2020 yang diteken 28 Desember 2020 lalu.

Tujuh jenis vaksin tersebut di antaranya:

  • Sinovac (China)
  • AstraZeneca (Inggris)
  • Sinopharm (China)
  • Moderna (Amerika)
  • Novavax (Amerika-Kanada)
  • Pfizer (Jerman)
  • Vaksin dari PT Bio Farma.

Dari ketujuh jenis vaksin COVID-19 yang digunakan di Indonesia, baru ada tiga vaksin yang stoknya telah diterima dan digunakan dalam pelaksanaan vaksinasi, yakni Sinovac, PT Bio Farma, dan Oxford-AstraZeneca.

Jawa Timur jadi provinsi dengan capaian vaksinasi tertinggi

Per tanggal 19 Maret 2021, capaian vaksinasi paling tinggi di Indonesia berada di Provinsi Jawa Timur dengan total 1.334.173 orang. © GNFI

info gambar

Dari jumlah vaksin yang sudah disuntikkan, Jawa Timur menjadi provinsi dengan capaian vaksinasi tertinggi. Sebagai catatan, data dari Kementerian Kesehatan RI menyebutkan, per tanggal 19 Maret 2021, capaian vaksinasi paling tinggi di Indonesia berada di Provinsi Jawa Timur dengan total 1.334.173 orang.

Kemudian diikuti oleh Jawa Tengah 1.143.782 orang, Jawa Barat 952.929 orang dan DKI Jakarta 928.203 orang. Meski sudah cukup banyak orang yang mendapatkan vaksin, namun tak sedikit pula yang khawatir dengan efek yang ditimbulkan setelah proses vaksinasi. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sendiri telah menyatakan bahwa vaksin Covid-19 tidak menimbulkan efek samping serius.

Dalam Surat Keputusan Direktur Jenderal (Dirjen) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes No. HK. 02.02/4/1/2021 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Vaksinasi dalam Rangka Penanggulangan Pandemi Corona virus Disease 2019 (Covid-19), dijelaskan bahwa secara umum, vaksin Covid-19 tidak menimbulkan reaksi pada tubuh, atau apabila terjadi, hanya menimbulkan reaksi ringan.

Baca Juga: Menakar Pengaruh Luar Biasa Vaksin Bagi Ekonomi Indonesia di Tahun 2021

Persentase vaksinasi Indonesia dan negara Asia Tenggara

Daftar negara Asia Tenggara berdasarkan persentase penerimaan vaksin. © GNFI

info gambar

Sebagai perbandingan, menurut data The New York Times per tanggal 28 April 2021, Indonesia menempati urutan ketiga capaian vaksinasi di kawasan Asia Tenggara berdasarkan rasio populasi penduduk. Berikut uraian daftar negara ASEAN berdasarkan persentase penerimaan vaksin.

1. Singapura (39 persen)

Vaksin yang telah diterima dan lolos uji klinis di Singapura adalah Pzifer-BioNThech dan Moderna. Hingga akhir April 2021, 39 persen populasi Singapura telah melakukan vaksin dengna jumlah 2.213.888 suntikan.

2. Kamboja (13 persen)

Kamboja mendapatkan vaksin AstraZeneca dari India dan juga Sinopharm dari China. Hingga 4 Mei, tercatat kasus positif di Kamboja mencapai 16.299 kasus dengan 107 kematian. Per 28 April 2021, 2.117.564 suntikan vaksin telah diberikan kepada 13 persen populasi.

3. Indonesia (7,1 persen)

Hingga 4 Mei 2021, Indonesia telah memiliki total kasus positif sebanyak 1.686.373 dengan 1,54 juta berhasil sembuh dan 46.137 kematian. Per 28 April lalu, 19.230.446 suntikan vaksin telah diberikan kepada masyarakat atau 7,1 persen dari total populasi.

4. Malaysia (4,3 persen)

Malaysia telah menyatakan untuk berhenti menggunakan vaksin AstraZeneca untuk vaksinasi nasional akibat keresahan masyarakat. Selain itu, Malaysia menggunakan vaksin Pzifer-BioNThech dan Sinovac. Sebelumnya sebanyak 1.369.749 suntikan vaksin telah diberikan kepada 4,3 persen dari total populasi.

5. Laos (2,6 persen)

Laos telah menguji coba vaksin Sputnik V asal Rusia dan sedang berdiskusi dengan China terkait pasokan vaksin. Sebanyak 184.287 suntikan vaksin berhasil disuntikkan kepada 2,6 persen dari total populasi Laos.

6. Myanmar (1,9 persen)

Myanmar memiliki total kasus positif sebanyak 142.858 dengan 3.209 kematian hingga 4 Mei lalu. Ditengah krisis yang melanda Myanmar, 1.040.000 suntikan vaksin berhasil diberikan kepada 1,9 persen dari total populasi di Myanmar.

7. Thailand (1,8 persen)

Thailand memandatangani kontak dengan AstraZeneca terkait pasokan vaksin. Dari 72.788 total kasus positif dan 303 kematian, 1.227.032 suntikan vaksin berhasil diberikan kepada 1,8 persen dari total populasi mereka.

8. Filipina (1,7 persen)

Filipina berencana melakukan vaksinasi lebih lanjut pada Juni 2021. Filipina memiliki total kasus positif sebanyak 1.067.892 dengan 17.622 kematian hingga 4 Mei lalu. Sementara itu, 1.809.807 suntikan vaksin berhasil diberikan kepada 1,7 persen dari total populasi.

9. Brunei Darussalam (0,5 persen)

Brunei telah bergabung dengan skema Covax global dan mengharapkan vaksin untuk 50 persen populasi mereka. Sejauh ini sudah 2.323 suntikan vaksin telah diberikan untuk 0,5 persen dari total populasi.

10. Vietnam (0,2 persen)

Vietnam memproduksi vaksin mereka sendiri dengan bekerja sama dengan pihak Amerika Serikat. Hingga 28 April lalu, 318.792 suntikan vaksin telah diberikan kepada 0,2 persen dari total populasi.

Sementara itu, update terbaru Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan, bahwa vaksinasi Covid-19 di Indonesia telah mencapai 20 juta suntikan pada akhir April 2021.

Dikutip laman kompas.com, Menteri Kesehatan RI mengatakan, “Hari Jumat kemarin (30 April 2021), akhir bulan kita sudah menembus 20 juta suntikan (vaksin Covid-19),” ujar Budi dalam konferensi pers di kanal YouTube Sekretariat Presiden, Senin (3/5/2021).

Sementara menurut data terbaru yang dirilis Our World In per tanggal 02 Mei 2021, jumlah vaksinasi Indonesia telah menyentuh angka 20,17 juta, sekaligus menjadi yang terbanyak ke-9 di dunia.

Indonesia masuk daftar negara dengan vaksinasi tertinggi

10 dengan vaksinasi tertinggi (Mei 2021) © Our World Data

info gambar

Meskipun belum merata, namun sejauh ini proses vaksinanasi di Indonesia berjalan cukup lancar. Ternyata, Indonesia masuk daftar negara dengan capaian vaksinasi tertinggi di dunia. Menurut data Our World In yang dirilis awal Mei 2021. China menjadi negara dengan jumlah suntikan vaksin terbanyak dengan 279 juta suntikan.

Posisi kedua ditempati oleh Amerika Serikat dengan 246 juta suntikan, lalu India dengan 156 juta suntikan, Inggris dengan 50 juta suntikan. Kemudian peringkat kelima diisi Brasil dengan 43 juta suntikan, diikuti Turki dengan 23 juta suntikan, Prancis dengan 22 juta suntikan.

Sementara posisi kesembilan dan kesepuluh diisi oleh Indonesia dan Rusia, kedua negara tersebut masing-masing mencatat 20,17 dan di posisi kesembilan dengan 20,11 juta suntikan.

Baca Juga: Antara Vaksin dan Politik

Vaksin jadi harapan baru untuk pulihkan ekonomi

Ilustrasi optimisme © Habib Farindra/Shutterstock

info gambar

Program vaksinasi merupakan kepentingan bersama yang bisa berdampak besar bagi Indonesia, khusunya perekonomian negara yang sempat masuk ke jurang resesi akibat pandemi. Banyak kalangan memprediksi, program vaksin menjadi salah satu faktor pendorong membaiknya perekonomian Indonesia.

Sebagai catatan, pada hari vaksinasi pertama di Indonesia (13/01/2021), nilai tukar Rupiah terhadap Dolar menguat sebesar 70 poin atau 0.5 persen dengan nilai Rp14.060 per Dolar AS, dibandingkan dengan penutupan sebelumnya dengan Rp14.130 per Dolar AS. Adapun terdapat prediksi bahwa IHSG akan mencapai level psikologis 6.880 seiring munculnya sentimen positif, antara lain berkat vaksinasi Covid-19.

Walau demikian, optimisme masyarakat dinilai akan semakin kuat dan jelas ketika vaksin sudah tersebar di masyarakat luas.

Dapmak optimal vaksinasi terhadap pertumbuhan kegiatan ekonomi di Indonesia diperkirakan baru akan terlihat pada semester II 2021, mengingat Pelaksanaan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) masih berlangsung.

Pemerintah optimis program vaksinasi akan dorong pemulihan ekonomi. Vaksin akan membantu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap penanganan Covid-19 serta meningkatkan indeks kepercayaan konsumen, sehingga konsumsi dan investasi dapat kembali meningkat.

Adapun anggaran yang dialokasikan pemerintah untuk program vaksinasi Covid-19 pada tahun 2021 mencapai Rp55,5 triliun dari total Rp2.750 triliun APBN.

Dalam rangka mendukung percepatan pemulihan ekonomi, pemerintah akan tetap menjalankan beberapa program perlindungan sosial dan program untuk membantu sektoral serta pemerintah daerah. Insentif pajak pun juga tetap akan diberikan secara selektif dan terukur.

Referensi: Nytimes.com | Detik.com | Kontan.co.id | CNN Indonesia | Kompas.com | BBC | Sindonews.com | Pajakku

Baca Juga:





Source link

Advertisement
Click to comment

HEADLINE

Semakin Diandalkan, Instalasi Fintech di Indonesia Ungguli AS dan Rusia

Semakin Diandalkan, Instalasi Fintech di Indonesia Ungguli AS dan Rusia


Financial Technology (fintech) bukan lagi menjadi hal yang baru di kalangan masyarakat Indonesia. Jauh sebelum situasi pandemi yang melanda, penggunaan layanan satu ini sejatinya memang sudah cukup populer berbarengan dengan tren cashless yang banyak diandalkan oleh mereka yang menginginkan mobilitas serba praktis.

Terbukti melalui pertumbuhan yang ada, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Ekonomi) Airlangga Hartarto, dalam salah satu kesempatan menjelaskan mengenai pertumbuhan fintech yang sudah tumbuh pesat di tanah air sejak tahun 2016.

Dalam gelaran Indonesia Fintech Summit 2020 tahun lalu, Airlangga bahkan menyebut bahwa industri fintech di Indonesia akan tumbuh paling kencang di ASEAN dalam lima tahun ke depan, yang berarti diperkirakan sampai tahun 2025 mendatang.

Hal tersebut rupanya terbukti, dan didukung dengan kondisi pandemi yang melanda, di mana hampir sebagian besar kegiatan keuangan atau pembayaran yang awalnya masih banyak mengandalkan transaksi tunai, namun karena situasi yang ada mendorong masyarakat untuk beralih melakukan transaksi cashless sebagai salah satu fitur yang dimiliki oleh layanan fintech.

Tak hanya itu, kondisi perekonomian sebagian besar masyarakat yang sempat terpuruk di tengah situasi pandemi, nyatanya juga mendorong angka pengguna layanan fintech dalam hal pinjaman dana, baik oleh perorangan maupun kelompok atau organisasi.

Fenomena Gerilya Fintech Ternyata Bisa Bantu Pulihkan Ekonomi Indonesia

Tingginya permintaan yang dibarengi dengan masifnya instalasi fintech

transaksi keuangan yang mengandalkan fintech di Indonesia

info gambar

Melihat peluang dan kebutuhan masyarakat yang ada, maka tak heran jika belakangan banyak bermunculan pihak yang menghadirkan layanan fintech baru, atau bahkan mentransformasi layanan keuangan konvensional yang sebelumnya dimiliki ke arah layanan keuangan berbasis teknologi.

Hal tersebut ternyata dibuktikan dengan sebuah laporan berjudul State of Finance App Marketing 2021 yang dimiliki oleh AppsFlyer, sebuah perusahaan atribusi global yang berpusat di San Francisco, California.

Dijelaskan di sana, bahwa Indonesia menempati posisi ke-3 di dunia dalam hal instalasi fintech melalui aplikasi keuangan, bahkan mengungguli Amerika Serikat dan Rusia yang masing-masing berada di peringkat 4 dan 5, namun masih kalah unggul dengan India yang berada di peringkat 1 dan Brazil di peringkat 2.

Laporan yang dimiliki AppsFlyer tersebut diperoleh berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap 2,7 miliar instalasi aplikasi di kawasan Asia Pasifik dari kuartal I (Q1) 2019 hingga kuartal I (Q1) 2021. Dengan memantau aplikasi yang terdaftar di kawasan Asia Tenggara–termasuk Indonesia–jajaran aplikasi yang diteliti ini, di antaranya: bank digital, bank konvensional, layanan keuangan, pinjaman, dan investasi online.

Disebutkan pula, bahwa besarnya populasi penduduk yang dimiliki dan penggunaan layanan fintech oleh masyarakat di Indonesia juga menjadi faktor pendorong negara ini menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang berada di posisi lima besar, dalam hal instalasi aplikasi keuangan.

Masih berdasarkan laporan yang sama, dijelaskan pula jenis aplikasi keuangan yang paling banyak diunduh dan diandalkan oleh masyarakat Indonesia. Di peringkat pertama, layanan transaksi keuangan layaknya pembayaran nirtunai (mobile payment) yang biasanya berupa layanan dompet digital untuk transaksi cashless, dan manajemen keuangan, dengan persentase sebanyak 40,9 persen.

Selanjutnya, peringkat kedua dari jenis aplikasi keuangan yang banyak diandalkan masyarakat tanah air yaitu layanan pinjaman online (pinjol) sebanyak 35,7 persen, diikuti layanan bank konvensional–mobile banking–sebesar 13,9 persen, dan aplikasi investasi sebesar 9,5 persen.

Mengenal Inovasi Keuangan Digital(IKD) Dalam Penyelenggaraan Fintech di Indonesia

Dampak positif dan negatif pertumbuhan fintech di tanah air

ilustrasi pengguna layanan fintech

info gambar

Bicara soal dampak positif yang dihadirkan oleh pertumbuhan instalasi fintech jelas dirasakan oleh semua pihak, tidak hanya masyarakat yang diberikan kemudahan namun juga pihak penyedia layanan keuangan yang mendapat keuntungan serupa.

Sebagai contoh dari segi perbankan, deretan layanan perbankan atau bank di Indonesia mengakui adanya peningkatan setelah menerapkan sistem layanan berbasis teknologi kepada masyarakat, baik dari segi peningkatan nasabah ataupun transaksi secara menyeluruh.

Salah satu yang mengalami pertumbuhan ini di antaranya Bank Central Asia (BCA) yang sejak tahun 2019 memiliki layanan keuangan baru yang memungkinkan masyarakat membuka rekening tabungan dengan sistem online tanpa perlu mendatangi kantor cabang secara langsung.

Dijelaskan bahwa berkat layanan baru tersebut, BCA mencatatkan jumlah rekening mencapai 2,8 juta di Q1 2021 ini. Lebih detail, persentasi kenaikan pembukaan rekening mencapai 193 persen dibanding tahun sebelumnya atau setara pembukaan 8 ribu rekening per hari.

Hal yang sama juga diakui oleh pihak layanan perbankan milik negara yaitu Bank Mandiri. Menukil Kontan, layanan pembukaan rekening secara online yang juga dihadirkan membuat Bank Mandiri mendapatkan pembukaan rekening baru yang dilakukan oleh kisaran 3.000 nasabah saban harinya.

BCA dan Mandiri Masuk 10 Besar Bank Paling Kuat di Dunia Tahun 2021

Pencapaian yang diraih oleh dua layanan perbankan tersebut nampaknya sejalan dengan harapan yang diungkap oleh Menko Airlangga pada pernyataan sebelumnya, yang menyebut bahwa kemajuan fintech yang ada diharapkan dapat meningkatkan inklusi keuangan di tanah air.

Terlepas dari segala kemajuan layanan keuangan berbasis fintech yang ada, bukan berarti bahwa industri satu ini aman dari risiko dan dampak negatif yang dikhawatirkan muncul. Nyatanya, kekinian salah satu jenis fintech yaitu pinjaman online (pinjol) yang umumnya menargetkan masyarakat perorangan kerap kali dikeluhkan oleh masing-masing pengguna.

Permasalahan dan keluhan yang umumnya dijumpai biasanya berupa layanan pinjaman dari fintech yang ada, sering kali dilaporkan memiliki metode penagihan yang bermasalah dan bunga pinjaman yang dianggap terlalu tinggi.

Oleh karena itu, tak heran jika saat ini banyak dijumpai imbauan sekaligus pedoman mengenai penggunaan berbagai layanan fintech di tanah air, yang sepatutnya dipahami oleh masyarakat sejalan dengan pesatnya pertumbuhan fintech yang kian masif dan diperkirakan akan terus terjadi hingga beberapa tahun ke depan.

Fintech di Indonesia: Perlu Adanya Perlindungan Masyarakat





Source link

Continue Reading

HEADLINE

Sepeda, Penguasa Jalan Ibu Kota pada Zaman Hindia Belanda | Good News From Indonesia

Sepeda, Penguasa Jalan Ibu Kota pada Zaman Hindia Belanda | Good News From Indonesia


Beberapa waktu lalu, media sosial kembali heboh setelah viral foto pengendara motor yang mengacungkan jari tengah kepada para pesepeda.

Pemotor yang berpelat nomor wilayah Kebumen itu diketahui melakukan tindakan itu lantaran kesal kepada pesepeda yang menguasai ruas jalan Jenderal Sudirman-MH Thamrin, Jakarta Pusat.

Kejadian ini mengingkatkan kembali pada zaman dulu, saat kereta angin–julukan sepeda kala itu–sempat menjadi kendaraan yang menguasai Ibu kota.

#makintahuindonesia#Indonesia#sepeda





Source link

Continue Reading

HEADLINE

Serba-Serbi Mobil Listrik, dari Cara Kerja Hingga Keunggulan dan Kelemahannya

Serba-Serbi Mobil Listrik, dari Cara Kerja Hingga Keunggulan dan Kelemahannya


Saat ini, mobil listrik tengah meramaikan dunia otomotif. Sepanjang tahun 2020, ada beberapa merek mobil listrik yang mulai debut di Indonesia, misalnya Lexus UX 300e, Nissan Kicks e-POWER, Toyota Corolla Cross Hybrid, dan Hyundai Ioniq EV.

Pemerintah juga tengah menargetkan agar semakin banyak mobil listrik mengaspal di jalanan Tanah Air. Menurut Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita, target produksi kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) pada 2030 adalah 600 ribu unit untuk roda empat atau lebih dan 2,45 juta unit untuk roda dua.

Taufiek Bawazier selaku Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian mengatakan road map tahun 2025 targetnya 20 persen kendaraan mobil listrik.

“Dari 2 juta targetnya kalau 20 persen ada sekitar 400 ribu mobil listrik beredar di Indonesia,” ujarnya, seperti dikutip CNBC Indonesia.

Membahas soal mobil listrik, mungkin masih banyak masyarakat awam yang belum mengerti konsep kendaraan ini, bagaimana cara kerjanya, hingga apa keunggulan mobil ini. Berikut coba kami rangkum dari berbagai sumber.

Deretan Mobil Listrik yang Dijual di Indonesia, Termahal Dibanderol Rp4 Miliar

Apa itu mobil listrik?

Pada dasarnya mobil listrik adalah kendaraan yang sebagian atau sepenuhnya digerakkan oleh motor dengan tenaga listrik. Ini merupakan salah satu inovasi terbarukan dari dunia otomotif. Dengan beralih ke mobil listrik, tentunya hal paling beda adalah pengguna hampir tidak lagi membutuhkan Bahan Bakar Minyak (BBM) seperti pada kendaraan konvensional.

Secara umum, bagian penting dari mobil listrik adalah baterai, motor listrik, dan modul pengontrol motor. Selain merupakan bagian dari teknologi yang makin canggih, mobil listrik juga diciptakan untuk mengatasi isu lingkungan seperti polusi udara, pemanasan global, dan menipisnya energi minyak bumi.

Mengisi daya mobil listrik | @Slavun Shutterstock

info gambar
Indonesia 2050: Kendaraan Listrik, dan Ambisi Besar Nol Emisi Karbon

Jenis mobil listrik berdasarkan cara kerja

Saat ini, jenis mobil listrik terbagi menjadi empat jenis dan dibedakan dari cara kerjanya, yakni Battery Electric Vehicle, Hybrid Electric Vehicle, Plug-in Hybrid Electric Vehicle, dan Fuel Cell Electric Vehicle.

Berikut penjelasan lebih lengkap mengenai empat jenis mobil listrik:

Battery Electric Vehicle (BEV)

BEV merupakan kendaraan yang sepenuhnya beroperasi menggunakan listrik pada baterai. BEV tidak memiliki mesin pembakaran dan untuk mengisi daya dilakukan dengan menghubungkan langsung pada jaringan listrik eksternal. Contoh mobil BEV antara lain Tesla Model 3, BMW i3, Hyundai Ioniq, dan Toyota Rav4.

Hybrid Electric Vehicle (HEV)

Umumnya HEV memiliki dua sistem penggerak, yaitu mesin pembakaran dan motor traksi. Nah, untuk mesin pembakaran ini mendapatkan energi dari BBM. Sedangkan untuk motornya mendapat daya dari baterai.

Disebut standard hybrid, jenis mobil listrik ini baterainya hanya diisi oleh putaran mesin, gerakan roda, atau kombinasi. HEV juga tidak memiliki charging port sehingga baterainya tidak dapat diisi ulang dari luar sistem seperti jaringan listrik PLN. Jenis mobil listrik yang termasuk HEV antara lain Honda Civic Hybrid, Toyota Camry Hybrid, dan Toyota Prius Hybrid.

Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV)

Untuk jenis PHEV juga memiliki mesin pembakaran dan motor traksi listrik. Prinsip kerjanya disebut series hybrid, ia menawarkan pilihan untuk tenaga dari sumber energi fosil (seperti bensin), sumber alternatif (seperti biodiesel), dan baterai.

Perbedaan dengan HEV sebenarnya jenis ini memiliki baterai yang dapat diisi ulang dari sumber listrik eksternal ke charging port di stasiun pengisian mobil listrik. Adapun jenis mobil listrik PHEV yakni Porsche Cayenne S E-Hybrid, Mercedes GLE550e, Mini Cooper SE Countryman, Audi A3 E-Tron, BMW 330e, dan Volvo XC90 T8.

Fuel Cell Electric Vehicle (FCEV)

Kemudian ada jenis yang disebut FCEV, kendaraan yang menggunakan teknologi fuel-cell untuk menghasilkan listrik dan dipakai untuk mengaktifkan motor dalam menjalankan kendaraan.

Secara umum, prinsip kerjanya mirip dengan BEV, akan tetapi jenis ini punya sistem yang dapat mengkonversi energi kimia pada fuel-cell menjadi listrik. Beberapa merek mobil dengan kategori FCEV yaitu onda Clarity Fuel Cell, Hyundai Nexo, dan Toyota Mirai.

Stasiun pengisian daya mobil listrik | @Bigpixel photo Shutterstock

info gambar
Mimpi Panjang Mobil Listrik Indonesia yang Kini Dirajut Kembali

Plus minus menggunakan mobil listrik

Mobil listrik memang merupakan tipe kendaraan yang baru. Di Indonesia, penggunanya pun belum sebanyak mobil konvensional. Maka, tentu banyak pertimbangan apakah orang berminat mengganti mobil lamanya atau memutuskan apakah mobil listrik akan jadi kendaraan pertama seseorang.

Untuk itu, mari kita simak beberapa keunggulan dan apa saja kekurangan dari mobil listrik sebagai bahan pertimbangan.

Keunggulan

Salah satu keunggulan beralih ke mobil listrik adalah biaya harian yang dinilai lebih murah. Menurut Wakil Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, biaya pengisian daya kendaraan listrik lebih murah dibandingkan biaya mengisi bensin.

Kata Darmawan, setiap satu liter BBM setara dengan 1,3 kilo Watt hour (kWh) listrik dengan harga bensin per satu liter sekitar Rp7-8 ribu. Sedangkan, tarif listrik per satu kWh hanya sekitar Rp1.400. Ia menyimpulkan bahwa penggunaan listrik lebih murah seperlima dibandingkan pemakaian satu liter bensin.

Mobil listrik pun tidak memiliki knalpot karena memang tidak mengeluarkan gas buang. Meskipun sebenarnya masih ada emisi pembuangan dari penggunaan ban dan rem, tetapi mobil listrik dinilai relatif lebih aman dalam menjaga kualitas udara karena bebas dari polusi bahan bakar.

Dengan beralih ke mobil listrik pun dianggap bisa meminimalisasi emisi gas rumah kaca, mengurangi jejak karbon, menghemat lapisan ozon, sehingga dapat meminimalisasi pemanasan global.

Dari segi perawatan, mobil listrik pun dinilai lebih hemat. Pada mobil konvensional, mobil harus segera melewati tahap perawatan dengan sekitar 30 item pemeriksaan dan dilakukan setiap 10 ribu kilometer. Sedangkan, untuk mobil listrik, interval perawatannya tiap 15 ribu kilometer dengan pemeriksaan hanya 15 item.

Tak hanya itu, mobil listrik tanpa bensin pun tidak membutuhkan oli. Sehingga Anda bisa menghemat biaya ganti oli.

Pengisi daya baterai mobil listrik | @DariaRen Shutterstock

info gambar
Jajaran Perusahaan Kunci di Balik Pabrik Baterai Mobil Listrik Pertama RI

Kekurangan

Meski banyak keuntungan yang didapatkan, tentunya penggunaan mobil listrik pun tak luput dari kekurangan. Misalnya, stasiun pengisian daya masih minim sehingga menimbulkan kekhawatiran soal bagaimana jika mobil kehabisan daya di tengah perjalanan.

Kemudian, tentu saja penggunaan listrik untuk mengisi daya tidaklah gratis. Bila beralih ke mobil listrik, tentunya pengguna harus memperbesar daya listrik di rumah. Selain itu, pengisian daya baterai pun terbilang lama, sekitar 4-6 jam dari kosong hingga penuh. Berbeda dengan pengisian BBM yang hanya butuh waktu beberapa menit saja.

Hal yang dianggap menjadi kekurangan mobil listrik lain ialah tak ada suara. Memang mobil ini menjadi hening dan mengurangi polusi suara dari mesin dan knalpot. Namun, di sisi lain keheningan ini dikhawatirkan akan menjadi penyebab kecelakaan di jalanan.

Lalu, saat ini kebanyakan mobil listrik berukuran kecil sehingga dianggap belum pas untuk menjadi kendaraan keluarga. Selain itu, harganya pun terbilang mahal dan belum bisa dinikmati masyarakat yang wilayahnya masih mengalami kondisi listrik tidak stabil.





Source link

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending Dari BuzzFeed

close