Connect with us

Sejarah

Plengkung Gading Yogyakarta, Gapura dengan Segudang Cerita | Good News From Indonesia

Plengkung Gading Yogyakarta, Gapura dengan Segudang Cerita | Good News From Indonesia

[ad_1]

Plengkung Gading atau Plengkung Nirbaya dapat kita jumpai pada daerah Keraton Jogja, di Jalan Patehan Kidul, Kecamatan Kraton. Terletak di sebelah selatan Yogyakarta, jaraknya kurang lebih 300 meter dari Alun-Alun Kidul atau Alun-Alun Selatan.

Selain Plengkung Gading, di kawasan Keraton Jogja terdapat plengkung lain, seperti Plengkung Tarunasura (Plengkung Wijilan), Plengkung Nirbaya, Plengkung Madyasura (Plengkung Buntet), Plengkung Jagasurya (terletak di sebelah barat alun-alun utara), Plengkung Jagabaya (Plengkung Tamansari) .

#makintahuindonesia#Indonesia#KeratonYogyakarta#Yogyakarta#Semenit

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Advertisement
Click to comment

Sejarah

Melihat Perkembangan Kapal Pinisi dan Budaya Maritim di Nusantara

Melihat Perkembangan Kapal Pinisi dan Budaya Maritim di Nusantara

[ad_1]

Nelayan/Markus Tinner/Unsplash


“Nenek moyang saya adalah pelaut, suka mengarungi lautan”.

Tentunya Kawan GNFI tidak akan asing lagi dengan penggalan lirik lagu anak–anak tersebut. Nenek moyang kita memang pelaut yang ulung. Mereka adalah penjelajah samudra menggunakan kapal-kapal berteknologi tinggi. Dari Selat Malaka, Semenanjung Arab, hingga Tanjung Harapan di Afrika sudah mereka lalui.

Bahkan, peta penjelajahan orang-orang Jawa kuno sudah mencantumkan daerah Brazil di Amerika Selatan. Kalau kita melihat catatan kuno Tiongkok yang ditulis sekitar 131 Masehi, orang-orang Jawa dulu lah yang pertama kali menjalin hubungan antara kedua negara.

Padahal, pada waktu itu, Tiongkok belum memiliki kebudayaan berlayar. Hal ini menunjukkan bahwa bangsa kita jauh lebih unggul dalam teknologi kapal dibandingkan Tiongkok, yang notabene sudah sangat maju peradabannya pada kala itu.

Awal Sejarah Kemaritiman Indonesia

info gambar

Potret Tim patroli KP Hiu 12, PSDKP Lampulo menangkap KIA | Foto: Dok. PSDK Lampulo (Kompas.com/Raja Umar)


Sejarah kemaritiman Indonesia bisa kita telusuri dari awal perdagangan rempah-rempah di nusantara. Entah mulai kapan rempah ini populer, tetapi sejak awal sejarah, rempah-rempah yang hanya tumbuh di Kepulauan Maluku, Jawa, Sumatra dan pulau lainya menjadi komoditas yang sangat laris di pasaran.

Bukan hanya di pasaran nusantara, tetapi sangat dicari di seluruh dunia. Hal ini praktis membuat nusantara menjadi jalur perdagangan yang sangat ramai pada kalanya. Dari kegiatan perdagangan itu akhirnya mendorong orang-orang nusantara untuk menciptakan berbagai teknologi kapal.

Entah itu untuk keperluan kargo atau pun militer, guna menjaga laut dari para perompak. Bahkan, salah satu teknologi kapal nusantara, yaitu kapal jung telah tercatat oleh para Pelaut Portugis yang kala itu berhasil menguasai Pelabuhan Malaka.

Jung Jawa, Kapal Raksasa Legendari yang Serang Portugis di Malaka

Menurut orang–orang Portugis, kapal jung milik para Pelaut Jawa benar–benar mengerikan. Ukurannya yang terlampau besar, membuat kapal terbesar Portugis tidak terlihat seperti kapal sama sekali. Bahkan, kapal milik Pati Unus yang merupakan Panglima Demak mampu memuat lebih dari 10.000 prajurit.

Lalu, jika kita adalah keturunan pelaut, mengapa kita sekarang begitu jauh dari budaya bahari? Mengapa begitu banyak dari kita yang begitu takut dengan laut?

Bahkan, banyak sekali mitos yang menyeramkan tentang laut. Mulai dari Legenda Ratu Kidul, Nyi Rara Kidul, Nyi Blorong, dan lainya. Apakah sudah tidak tersisa lagi kebudayaan maritim dari nenek moyang kita?

Akan sangat merugi tentunya jika memang tidak ada yang tersisa. Namun, betapa beruntungnya kita masih banyak komunitas masyarakat yang memegang teguh warisan leluhurnya. Salah satunya adalah orang–orang Konjo dengan Kapal Pinisi yang melegenda, yang telah terdaftar di UNESCO sebagai Mahakarya Agung Warisan Budaya Tak Benda yang dimiliki Bangsa Indonesia.

Melihat kapal pinisi Indonesia

Potret kapal pinisi | Foto: trivago.com.au

info gambar

Potret kapal pinisi | Foto: trivago.com.au


Kapal pinisi ini sangat unik, karena dalam proses pembuatannya dikerjakan secara tradisional, mengandalkan keahlian tangan para ahli kapal dari suku Konjo. Pengerjaannya dilakukan secara gotong royong dan dipimpin oleh seorang pawang kapal yang biasa disebut dengan Panrita Lopi.

Panrita Lopi memimpin jalanya pembuatan kapal dari penebangan bahan kayu pertama hingga kapal siap untuk berlayar. Teknik pembuatannya juga berbeda dengan pembuatannya kapal lain. Papan-papan kayu di kapal ini tidak disatukan menggunakan paku, tetapi menggunakan pasak kayu dari bahan kayu yang tersisa.

Pinisi sendiri sebenarnya bukanlah julukan pada sebuah kapal. Namun, merujuk pada sebuah sistem layar, tiang-tiang layar dan konfigurasi tali yang secara turun-temurun terekam dalam tradisi Suku Konjo. Sistem pinisi ini sering diterapkan di kapal dengan jenis lambung Lambo dan palari, kapal dengan jenis inilah yang biasanya disebut dengan kapal pinisi.

Dahulu, kapal pinisi digunakan orang–orang Bugis untuk mengarungi samudra yang luas. Tujuh samudra sudah ditaklukkan. Hal ini disimbolkan dengan tujuh layar yang dimiliki oleh kapal pinisi.

Kora-kora, Kapal Perang Kebanggaan Ternate yang Usir Portugis di Maluku

Kapal pinisi juga menjadi simbol akan ramainya jalur perdagangan di nusantara, khususnya di wilayah timur yang menjadi pusat dari komoditi rempah–rempah di dunia. Orang–orang Bugis menggunakan kapal pinisi sebagai kapal barang untuk mengangkut rempah–rempah, yang diperdagangkan di Pulau Jawa, Malaka, hingga ke seluruh penjuru dunia.

Saat ini, kapal pinisi digunakan sebagai alat transportasi nelayan di Bulukumba dan sekitarnya. Para nelayan menggunakannya untuk mencari ikan. Layar sudah tidak menjadi penggerak utama, tenaganya diganti dengan motor baling–baling.

Namun, tak jarang juga kapal pinisi banyak digunakan untuk pariwisata. Bagi wisatawan yang ingin mencoba menaiki kapal tradisional dan merasakan pengalaman tinggal di atas kapal, pinisi adalah pilihan yang terbaik. Bahkan, banyak selebriti yang menggunakan jasa pinisi ketika berlibur.

Pelestarian Pinisi

Perahu pinisi bulukumba | Foto: Celebes.co

info gambar

Perahu pinisi bulukumba | Foto: Celebes.co


Kapal pinisi menjadi salah satu simbol kebudayaan maritim yang masih terjaga di Indonesia. Festival besar setiap tahun diadakan di Bulukumba sebagai upaya pelestarian. Memang upaya pelestarian harus selalu digalakkan untuk menjaga tradisi ini.

Tradisi kapal pinisi menyimpan pengetahuan lokal mengenai berbagai hal. Mulai dari pengetahuan pemilihan bahan kapal, teknik perencanaan, perakitan, hingga pelayaran.

Dalam upaya pelestarian kapal pinisi, sepertinya harus dilakukan pendekatan lain. Jika hanya mengandalkan festival, pengetahuan dari tradisi pembuatan kapal pinisi tidak akan berkembang dan sulit untuk di pelajari lebih lanjut.

Ini 5 Kapal Tradisional Khas Indonesia Bukti Nenek Moyang Seorang Pelaut

Sangat mungkin jika tradisi dari pembuatan kapal pinisi, diekstrak menjadi kurikulum yang bisa dipelajari oleh siapa saja. Namun, tentunya juga harus diperhatikan secara teliti mengenai segala aspek pembuatannya dari awal hingga akhir.

Tradisi pembuatan kapal pinisi harus dilihat secara utuh, sebagai sebuah warisan leluhur yang harus diteruskan pengetahuannya. Dengan begitu, nilai–nilai yang terkandung di dalamnya tidak ada yang tereduksi.

Selain itu, pinisi juga bisa dikolaborasikan dengan keberadaan jalur pempah di nusantara. Pinisi bisa digunakan untuk pelayaran pariwisata menyusuri jalur rempah. Maka, terjalin keterkaitan sejarah antara kapal pinisi dan keberadaan jalur rempah di nusantara.*

Referensi:Geografis Nasional | IDNTimes

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.jshttps://platform.instagram.com/en_US/embeds.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Continue Reading

Sejarah

Kisah Baharuddin Lopa, Sang Penegak Tiang Hukum Indonesia

Kisah Baharuddin Lopa, Sang Penegak Tiang Hukum Indonesia

[ad_1]

Pada Selasa malam, 3 Juli 2001, hujan deras disertai petir melanda langit Istana Negara yang mengagetkan Presiden Abdurahman Wahid. Dia mengunci diri di kamarnya dan terisak. Saat tangisannya sedikit mereda, Gus Dur berkata lirih, “Malam ini, salah satu tiang langit Indonesia runtuh!”

Tidak seorang pun yang paham maksudnya, pasalnya tidak biasanya cucu dari Hadratussyaikh Hasyim Ashari itu menangis tersedu-sedu. Pada pukul 11 malam, tangis dan ucapan Gus Dur akhirnya terjelaskan. Berdering telepon dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Riyadh, Arab Saudi menyampaikan kabar duka ke seluruh penjuru tanah air.

Jangka Agung Baharuddin Lopa telah dipanggil pencipta. Sontak, berita meninggalnya Lopa yang baru dilantik pada 5 Juni 2001, langsung menimbulkan keterkejutan sekaligus menularkan kabung yang dalam. Sebelumnya, Lopa memang berangkat menuju Arab untuk serah terima jabatan Duta Besar RI untuk Arab Saudi sekaligus melakukan ibadah umroh.

Ternyata, usai Umroh, Lopa kelelahan dan harus menjalani perawatan di rumah sakit. Namun dikabarkan, dirinya terkena serangan jantung hingga akhirnya meninggal. Penyebab kematian Lopa sendiri hingga kini belum diketahui pasti. Kepergiannya tentu sangat mengejutkan masyarakat Indonesia. Sebab, Lopa diharapkan mampu mendobrak kebuntuan penegakan hukum.

Pria kelahiran 27 Agustus 1935 di Dusun Pambusuang, Sulawesi Selatan, ini memang terkenal sebagai tokoh anti-korupsi. Dikutip dari buku Sejarah Pemikiran Indonesia (1967-1998), sosok Lopa digambarkan sebagai pendekar yang pantang mundur dan berani menanggung risiko. Dirinya mengawali karir sebagai jaksa di Kajari Makassar pada tahun 1958, usianya saat itu 23 tahun.

Kepatuhan Lopa pada hukum, tampak pada sikapnya yang tak ingin menerima barang dalam bentuk apapun sebagai hadiah. Haram bagi Lopa menerima sogokan dalam bentuk apapun. Bahkan ketika Lebaran menjelang, sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan, ia menegaskan kepada anak buahnya untuk tidak menerima parsel lebaran.

Hoegeng Iman Santoso, Polisi Merakyat yang Anti Korupsi

Sesampainya di rumah, ia melihat ada dua paket di rumahnya. Dengan ekspresi masam di wajahnya, Lopa bertanya ke seluruh rumah.

“Siapa yang kirim parsel ke sini!?” tanya Lopa

Seisi rumah pun tak ada yang menjawab. Kemudian, Lopa melihat salah satu parsel yang sedikit terkelupas. Lopa pun bertanya kembali.

“Siapa yang membuka parsel ini!” tanya Lopa lagi.

Tak lama kemudian, seorang putrinya menghampiri Lopa untuk meminta maaf, karena telah membuka parsel dan mengambil sepotong cokelat dalam parsel tersebut. Lopa kemudian meminta anaknya yang lain membeli cokelat dengan ukuran dan jenis yang sama, untuk mengganti cokelat di parsel tersebut.

Selama menjabat menjadi Kajati Sulsel, Indrawulan Majid Tongai–istrinya–saat itu selalu naik bus bila pulang ke Majene. Padahal saat itu semestinya Indrawulan diantar oleh kendaraan dinas. Aturan ini memang berlaku untuk semua anggota keluarganya, yakni tak boleh diantar oleh kendaraan dinas.

Hanya itu? Rupanya tidak.

Lopa juga mengunci telepon rumah dinas agar tidak digunakan untuk kepentingan pribadi keluarganya. Mereka disarankan memakai telepon koin yang sudah disediakan. Anak kedua Lopa, Iskandar Muda Baharuddin Lopa, menilai ajaran ayahnya mendidiknya agar tidak manja.

“Bapak tidak mampu memberi kalian lebih dari yang Bapak mampu. Bapak tidak mau memberi kalian makan dari sumber-sumber yang syubhat, haram, dan melanggar hukum,” ungkap Iskandar.

“Kalian harus selalu jujur bersikap, berkata, dan memakai nurani. Dengan ini kalian akan berani mengambil sikap, setia pada keberanian dan tidak akan menyimpang,” kata Iskandar menirukan pesan Sang Ayah.

Tegas sejak awal karir

“Kendati kapal akan karam, tegakkan hukum dan keadilan! Jangan takut menegakkan hukum dan jangan takut mati demi menegakkan hukum!”. Demikian petikan kalimat dari Baharuddin Lopa yang cukup terkenal. Meski sudah 20 tahun berpulang, namanya tetap melegenda sebagai sosok pendekar hukum yang anti-korupsi.

Saat statusnya masih Mahasiswa Hukum di Universitas Hasanuddin, Lopa diminta menjadi jaksa di Kajari Makassar. Dua tahun di sana, prestasinya di bidang hukum cukup baik, lalu kemudian diangkat menjadi Bupati Majene di usia 25 tahun. Usia yang tergolong masih sangat muda untuk jabatan bupati.

Di usia itu, dia ditugaskan untuk menyelesaikan berbagai macam kasus hukum yang terjadi di Majene. Salah satunya kasus yang membelit seorang penguasa perang asal Mandar, bernama Andi Selle. Andi Selle adalah Komandan Batalyon 710 yang terkenal kaya karena terlibat kasus penyelundupan kopra.

Pada suatu waktu, Lopa pernah ditawarkan uang untuk mendukung bisnis Selle. Tapi Lopa kemudian mengatakan bahwa kebijakan pemerintah itu harus yang terbaik bagi rakyat, bukan untuk kepentingan penguasa. Setelah mengucapkan itu, kehidupan Lopa mulai terusik. Nyawanya sering diancam untuk dibunuh.

Selle pernah mengajak Lopa adu tembak, tapi ditolaknya. Setelah itu, Selle sering meneror Lopa. Beruntung, saat itu Kapten dari satuan Kepolisian bernama Andi Dadi melindungi nyawanya. Setelah menjadi bupati, ia kembali menjadi jaksa di Kejaksaan Tinggi Maluku dan Irian Barat sebelum menjadi Kepala Kejaksaan Tinggi Negeri di Ternate.

Di Ternate, Lopa pernah menolak diberikan satu truk durian. Sejawatnya banyak mengenang Lopa sebagai pribadi yang religius. Lebih sering ke pasar daripada mall, menolak segala bentuk parsel saat Lebaran, walau itu dari teman dekatnya. Lopa takut pemberian itu suatu saat akan dikasuskan.

Mohammad Hatta, Memperjuangkan Ekonomi Rakyat Indonesia Lewat Koperasi

Saat diangkat menjadi Kajati Sulsel, Lopa menggebrak kasus korupsi di bidang reboisasi yang nilainya mencapai Rp7 miliar. Keberaniannya menyeret Tony Gozal alias Go Tiong Kien ke pengadilan dengan tuduhan memanipulasi dana reboisasi Rp2 miliar. Padahal sebelumnya, Tony dikenal sebagai orang yang ‘kebal hukum’ karena dekat dengan petinggi.

Salah satu kasus terbesar yang ditangani Lopa adalah kasus korupsi Soeharto. Saat itu ia menjabat sebagai Seketaris Jenderal Komnas HAM. Soeharto sering dipanggil, tapi selalu absen dengan alasan sakit. Meski begitu, ia berhasil meringkus salah satu sahabat Soeharto, yakni Bob Hasan.

Lopa berhasil memasukan Bob ke dalam LP Nusakambangan. Meski saat itu, Soeharto sedang memimpin dan Lopa bisa saja terancam. Setelah kejadian itu, Soeharto tahu betul pergerakan Lopa akan membahayakan kekuasaanya. Maka dari tahun 1988 hingga 1995, dirinya hanya ditugaskan sebagai Direktur Jenderal Lembaga Permasyarakatan, sejak itu Lopa tidak lagi disibukkan dalam mengusut kasus hukum.

Awal tahun 2001, ia diminta Presiden Abdurahman Wahid menggantikan Yusril Ihza Mahendra menjadi Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia. Belum setengah tahun menjabat sebagai Menkeh dan HAM, Lopa diperintahkan Gus Dur untuk menggantikan Jaksa Agung Marzuki Darusman yang dinilai tak becus mengusut kasus korupsi.

Sepak terjang Jaksa Agung

“Saya tidak boleh memilih-milih. Kasus yang belum selesai, diselesaikan. Bagi saya, itu semua prioritas,” ucapnya kepada para wartawan yang menemuinya di Ruang Adhi Wicaksana Kejaksaan Agung, usai dirinya dilantik.

Pernyataan tersebut tidak layanan bibir. Dirinya langsung melacak keberadaan tersangka mark-up Hutan Tanaman Industri, Prajogo Pangestu, yang merugikan negara sekitar Rp331 miliar dan penyalahgunaan dana reboisasi senilai Rp1 trilun lebih. Prajogo saat itu mengaku berobat di Singapura, tapi Lopa tancap gas mengaktifkan kembali status tersangka Prajogo.

Lopa juga menguber bos Bank Dagang Nasional Indonesia, Sjamsul Nursalim, tersangka kasus penyalahgunaan dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang menilap uang negara hingga Rp7,28 triliun. Sjamsul saat itu mengaku tengah berobat ke Jepang, tapi Lopa mewanti-wanti pada anak buahnya agar tersangka kasus kakap ini tidak sampai lolos.

Dari banyaknya kasus besar yang ditanganinya, satu kasus yang paling ambisus adalah kekayaan Soeharto. Sesuai hasil penelusuran Transparansi Internasional pada 1998, keluarga Soeharto ditaksir telah membegal uang negara 30 miliar dolar AS selama memerintah. Karena itu, Lopa ingin mengejar Soeharto agar diganjar sanksi perdata.

Mengenal Sosok dan Cerita di Balik Pembuatan Uang Penerbitan Khusus Soeharto

“Saya ingin bertanya kepada Jaksa Agung, sudahkah diteliti betul-betul pemberkasan kasus Soeharto itu? Apakah saksi-saksinya sudah cukup dan memberi keterangan yang berarti? Sudah adakah barang bukti yang akan diajukan? Sudahkah dilakukan penyitaan sementara terhadapnya?” tulis Lopa yang termuat dalam buku Kompas dengan judul Kejahatan Korupsi dan Penegakan Hukum (2001).

Dalam tulisan lain, Lopa menyayangkan mereka yang masih berkutat dan menyoal berapa uang negara yang dikorupsi Soeharto dan anak-anaknya. Bagi Lopa, perdebatan tentang nominal yang dicoleng keluarga Soeharto bukan soal yang terlalu mendesak.

“Yang penting bagi rakyat, adalah kekayaan yang seluruhnya atau sebagian diperoleh secara tidak wajar, segera disita/dirampas dan digunakan untuk menolong kehidupan rakyat dalam memenuhi kebutuhan bahan pokok. Aset itu berasal dari rakyat. Karena itu, harus pula kembali kepada rakyat.”

Tapi Lopa seperti nasib orang jujur pada zamannya, banyak yang menginginkanya mundur dari jabatan. Dirinya mengaku ada tiga orang yang mendesaknya mundur dari jabatan Jaksa Agung. Hal ini disampaikanya kepada Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang sempat bertemu Lopa di Makkah, ketika melaksanakan umrah.

“Terlalu banyak orang yang ketakutan jika saya diangkat menjadi Jaksa Agung, sehingga logis jika orang ramai-ramai memotongi saya agar tidak menjadi Jaksa Agung.”

Tapi Lopa tetap Lopa. Prinsipnya jangan pernah takut mati untuk menegakkan hukum. Sebagai penegak hukum, dia menentang perbuatan salah dengan begitu jelas dan tegas. Namun, Lopa harus meninggalkan semua bungkusan yang ingin dibukanya saat Sang Pencipta memanggilnya.

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Continue Reading

Sejarah

Mengenang Trio Srikandi, Peraih Medali Olimpiade Pertama untuk Indonesia

Mengenang Trio Srikandi, Peraih Medali Olimpiade Pertama untuk Indonesia

[ad_1]

Ilustrasi atlet panahan © (Gaie Uchel) Shutterstock


Olimpiade Seoul 1988 merupakan momen bersejarah bagi Indonesia. Bertepatan pada tanggal 1 Oktober 1988, Trio Srikandi pemanah yakni Nurfitiriyana Saiman Lantang, Lilies Handayani, dan Kusuma Wardhani meraih, medali perak beregu di Olimpiade tersebut. Mereka mempersembahkan medali pertama bagi Indonesia dalam ajang Olimpiade.

Ketiga Srikandi anak bangsa tersebut berhasil mengalahkan tim panahan Amerika Serikat dan melahirkan legenda sembilan anak panah. Dengan keberhasilan tersebut, Indonesia berhasil keluar sebagai juara ke-2. Segera setelah kemenangan itu, kabar keberhasilan Trio Srikandi panahan Indonesia segera menghasilkan apresiasi yang tidak terhingga.

Namun, momen bersejarah tersebut dicapai oleh Nurfitriyana-Lilies-Kusuma melalui proses yang tidak mudah. Mereka menggapai kejayaan setelah ditempa dengan latihan keras dibimbing oleh pelatih Donald Pandiangan. Saat itu ketiga atlet ini sama sekali tidak terkenal sebelum meraih medali perak olimpiade.

Nama mereka kalah tenar dibandingkan Mardi Lestari (atletik), Yayuk Basuki (tenis), Suharyadi (tenis), Donald Wailan Walalangi (tenis), dan Adrianus Taroreh (tinju), yang menjadi atlet terkenal yang mengikuti Olimpiade 1988. Pada masa itu memang olahraga tenis, atletik, dan tinju, sedang digemari oleh masyarakat Indonesia.

Kategori lomba panahan beregu baru pertama kali dipertandingkan di Seoul dalam Olimpiade modern. Pepanah putri Indonesia tidak diperhitungkan dalam persaingan di Olimpiade 1988. Saat itu ada trio pepanah Korea Selatan (Korsel) yang menyapu bersih medali nomor induvidual.

Selain itu ada duet pepanah Tiongkok, Ma Xiangjung dan Yao Yawen, pemenang dan ranking 3 kejuaraan panahan dunia tahun 1987. Ikut serta pula pemanah Uni Soviet yang merupakan pemenang beregu Kejuaraan Dunia Panahan 1987. Ada juga tim putri Amerika Serikat (AS) yang sudah sering menjadi juara dunia.

Sepak Terjang Komite Olimpiade Nasional Antarkan Indonesia Jadi Bagian Olimpiade Dunia

Tapi, lapangan panahan Hwarang yang terletak di dalam kompleks militer Seoul, Korea Selatan (Korsel), menjadi saksi bisu kesuksesan tim polesan Donald Pandiangan kala melahirkan medali perak untuk Indonesia. Saat itu, lawan Indonesia seperti Korsel, AS, Uni Soviet, dan Britania Raya, merupakan juara dunia panahan beregu putri

Tak diunggulkan, Trio Srikandi Indonesia tampil tanpa beban di final. Mereka dengan mantap dan penuh percaya diri mendulang banyak poin. Ketiganya sukses mendulang total 952 poin, menyamai poin pepanah Amerika Serikat, mengalahkan poin dari Uni Soviet dan juga Britania Raya.

Hanya trio pemanah putri Korsel yang mampu melampaui perolehan poin Indonesia. Sejarah besar kemudian tercipta, medali pertama olimpiade untuk Indonesia. Tapi karena poin sama, trio pepanah Indonesia dan AS kembali diadu dalam sesi tri-breaker. Sembilan anak panah terakhir yang dilepaskan trio srikandi Indonesia mendulang 72 poin.

Hasil tersebut sudah cukup untuk mengalahkan AS yang hanya meraih 67 poin usai satu anak panah melenceng dari papan target. Akhirnya, Nurfitriyana-Lilies-Kusuma sukses menjadi pemenang kedua, mempersembahkan medali perak buat Indonesia. Keberhasilan yang tidak pernah diduga sebelumnya.

Hal ini karena pencapaian ketiganya kurang maksimal saat bertarung di nomor perorangan putri. Kusuma dan Lilies tumbang di perempat final. Sementara Nurfitriyana terhenti di babak semifinal. Medali perak tersebut menjadi yang pertama setelah 36 tahun Indonesia mentas di Olimpiade. Juga motivasi bahwa atlet Indonesia bisa berprestasi pada ajang Olimpiade.

Ditempa dengan latihan berat

Keberhasilan Trio Srikandi meraih medali perak di Olimpiade Seoul tak bisa lepas dari tangan dingin sang pelatih, Donald Pandiangan. Seorang maestro panahan Indonesia yang mendapat gelar Robin Hood Indonesia pada Olimpiade 1976 di Montreal, Kanada. Dirinya yang mempertemukan ketiga wanita tersebut.

Awalnya, Nurfitriyana bergabung dengan tim Pelatnas pada 1980. Ia mengikuti berbagai kejuaraan hingga ikut Pekan Olahraga Nasional (PON) dan kejuaraan Asia Tenggara pada 1983.

“Saya memulai karier mulai dari bawah dengan ikut bergabung di Pelatnas pada tahun 1980. Karier saya mulai menanjak dan banyak ditunjuk untuk mengikuti beberapa ajang di pertandingan nasional, Asia Tenggara,” katanya, mengutip Merahputih.

Yana kemudian berkenalan dengan Suma–sapaan Kusuma Wardhani–atlet panahan asal Makassar, Sulawesi Selatan. Yana dan Suma dipertemukan dengan Lilies Handayani, atlet asal Surabaya selang dua tahun kemudian. Mereka akan dipersiapkan untuk menghadapi ajang Olimpiade Seoul 1988.

“Kami terpilih menjadi atlet panahan yang mewakili Indonesia di ajang bergengsi Olimpiade Seoul 1988. Saat itu ada perasaan bangga bisa ikut serta di sana,” ungkap Yana.

Ketika Indonesia Berhasil Kawinkan Medali Emas Olimpiade Barcelona 1992

Mereka digembleng dengan keras. Harus menjalani pelatihan di Sukabumi. Tidak ada fasilitas mewah, hanya sebuah rumah tua dengan rumputnya yang setinggi dada di halaman. Di bawah gemblengan pelatih, mereka ditempa dengan menu latihan fisik dan mental yang keras.

“Waktu itu kita dibawa ke lokasi latihan yang benar-benar terpencil jauh dari keramaian. Kami dilatih secara fisik, teknik, dan mental, kami disuruh mengisi air ke dalam gentong dengan ember, berlari mengitari kebun teh, dan latihan memanah dengan berdiri di atas drum,” jelas Lilies yang mengaku tangannya sempat mati rasa.

Sementara itu Kusuma mengaku berlatih dengan Donald merupakan suatu pengalaman yang tak ternilai dan kesempatan luar biasa. Banyak juga pengorbanan yang dilakukannya berserta temannya untuk bisa sampai meraih medali perak di Olimpiade.

Untuk membentuk seorang pemanah yang profesional, Kusuma masih mengingat saat sang pelatih mengharuskan anak buahnya latihan sampai panjat tebing, naik gunung hingga lari ke sawah yang cukup berbahaya. Dirinya juga harus memanah sampai malam hari karena tembakannya selalu meleset.

“Saya latihan sampai malam karena tembakan saya selalu meleset. Pelatih bilang kalau tembakannya meleset dianggap utang dan harus dibayar dengan latihan terus menerus sampai mengenai sasaran,” tutur Suma.

“Itu semua latihan kita lakukan selama tujuh bulan di Sukabumi hingga pada akhirnya segala persiapan baik itu fisik dan mental dilatih dengan sangat detail oleh pak Donald,” katanya menambahkan.

Latihan yang berat, ditambah lagi dengan rasa jenuh membuat mental salah satu Srikandi jatuh. Pada saat itu Yana harus menjaga semangat adik-adiknya. Ia yang paling tua dan dianggap sebagai panutan.

“Ada salah satu dari kita merasa jenuh dan ingin pulang. Tapi, saya terus men-dukung agar tetap bertahan dalam kondisi sesulit apa pun,” cerita Yana.

Melampaui target

Saat di Seoul, tekanan semakin berat dirasakan oleh para atlet, termasuk para atlet panahan. Mereka memikul beban sebagai wakil Indonesia di ajang Olimpiade. Sejak ikut Olimpiade pertama kali di Helsinki, Finlandia (1952), Indonesia belum pernah menorehkan prestasi.

“Di dalam benak saya, saya hanya ingin memberikan yang terbaik bagi Indonesia. Kita mampu mempersembahkan medali di ajang bergengsi Olimpiade Seoul,” jelas Yana.

Memang saat itu tidak ada yang menyangka panahan dapat meraih medali. Menurut jurnalis dan sutradara film 3 Srikandi, Iman Brotoseno, bahkan saat pertemuan atlet-atlet Olimpiade, tampak kepala negara hanya sibuk dan berbicara dengan atlet-atlet dari cabang yang populer.

“Ada rasa kesal, dan kegelisahan dari para atlet panahan. Mengapa presiden tidak menganggap kehadiran mereka?” tulis Iman dalam blog pribadinya.

Padahal saat itu, Donald Pandiangan sudah bolak-balik juara Asia dalam tahun 70-an. Bahkan ia pernah memecahkan rekor dunia di PON 1977 Jakarta. Mimpinya meraih medali di Olimpiade Moscow 1980, hancur berantakan setelah Pemerintah Indonesia memutuskan memboikot karena invasi Uni Soviet ke Afghanistan.

Sebenarnya cabang panahan putri Indonesia hanya ditargetkan menyumbang medali perunggu. Secara mengejutkan Trio Srikandi berhasil melampaui target yang diberikan dengan raihan medali perak. Berkat sumbangan itu, Indonesia berada di urutan ke-36 di atas dua negara tetangga Asia Tenggara, Thailand dan Filipina.

28 Atlet Indonesia Dipastikan Berlaga di Olimpiade Tokyo 2020

Kabar itu pun menyebar dengan cepat di Tanah Air. Kepulangan Trio Srikandi disambut antusias rakyat Indonesia di bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Presiden Soeharto mengundang ketiga atlet panahan beserta tim pelatih ke Istana Negara sebagai bentuk apresiasi.

“Momen-momen indah itu membuat saya rindu ingin tetap bersama hingga saat ini. Kenangan itu pula yang nantinya menjadi cerita manis bagi anak dan cucu kita,” pungkas Suma.

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Continue Reading

Trending Dari BuzzFeed

close