Connect with us

Sejarah

Peran Pembantu Bumiputra, Ajarkan Budaya Lokal kepada Kolonial

Peran Pembantu Bumiputra, Ajarkan Budaya Lokal kepada Kolonial

[ad_1]

Ilustrasi pembantu © (A3pfamily) Shutterstock


Pada zaman penjajahan Belanda, orang-orang Eropa kaya raya rata-rata memiliki rumah yang besar dan hidup serba mewah. Karena besarnya rumah dan tingginya gengsi, kebanyakan dari mereka membeli budak untuk mengerjakan banyak pekerjaan rumah. Jongos untuk memanggil anak laki-laki, dan babu untuk memanggil seorang gadis budak.

Di masa lalu, idealnya adalah rumah tangga bangsawan atau pejabat serikat pekerja Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) memiliki belasan hingga ratusan pembantu. Rumah mereka yang besar memang tak mungkin dibereskan oleh seorang Nyonya Besar Eropa seorang diri. Nyonya Besar tidak akan sanggup mengurus anak, dapur, kebun, kuda, belum lagi berbakti di ranjang kepada Tuan Besar di malam hari.

Sebuah cerita datang dari tuan tanah kaya raya bernama Augustijin Michiels atau yang akrab disapa Mayor Jantje pada abad ke-19. Djoko Soekiman, dalam bukunya Budaya India (2011) menjelaskan, pada tahun 1831 rumah tangga Mayor Jantje memerlukan 320 orang budak. 30 orang di antara mereka bertugas sebagai pemain musik yang serba bisa.

“Di samping itu, ada empat penari ronggeng, dua pemain gambang, dan dua penari topeng. Bahkan orang Tiongkok juga melatih budak mereka untuk menjadi artis dalam rombongan sandiwara Tiongkok yang berkembang pesat pada masa itu. Biasanya budak-budak yang pandai menari, dan menyanyi dihargai tinggi,” tulis Djoko.

Para pembantu atau budak di zaman kolonial ini punya pekerjaan khusus, yang biasanya hanya mengerjakan satu jenis pekerjaan. Pada masa lalu, ada budak yang dipekerjakan cuma membawa kota pinang atau memegang payung untuk majikan. Ada juga yang dipekerjakan sebagai tukang masak, tukang kebun, pengasuh anak, dan pekatik (tukang kuda).

Sepeda yang Kuasai Jalan Ibu Kota pada Zaman Hindia Belanda RK

Mayor Jantje disebut memiliki 24 orang budak untuk mengurus kandang kuda. Di samping itu, dirinya juga mempekerjakan banyak budak untuk mengurus kebun. Ada 5 orang di taman melati, 9 di kebun sayur, serta 8 tukang potong rumput.

Lainnya, ada pengawas selokan, pengawas sarang burung walet, pengakut pedati, serta 117 babu di dalam rumah. Pekerjaan mereka adalah mencuci, menyapu, mengepel, memasak, atau menjadi pengasuh anak.

Hal yang unik adalah tradisi memiliki pembantu ini hanya dijumpai di daerah-daerah koloni Eropa. Di tempat asalnya, orang-orang Eropa tidak menggunakan jasa pembantu, kecuali bagi mereka yang berasal dari kalangan bangsawan. Ternyata tradisi priyayi bumiputra yang memiliki banyak tenaga saya pulang sebagai pengelola rumah tangga, telah menjadi inspirasi orang-orang Eropa.

Jumlah pembantu yang dimiliki oleh orang-orang Eropa juga dapat menunjukan status sosialnya di masyarakat. Prestise ini muncul, sebab pengeluaran bulanan yang digunakan untuk membiayai segala keperluan rumah tangga, termasuk membayar upah para pembantu akan sangat besar.

Tidak banyak fasilitas yang dapat diterima para pembantu di kediaman orang-orang asing. Dengan keterampilan yang mereka miliki dan tanpa kemampuan membaca atau menulis, seorang sayang di Batavia mendapat gaji sekitar f 5 per bulan, sementara di Yogyakarta hanya f 2,50.

Upah ini belum termasuk fasilitas yang disediakan majikan mereka untuk keperluan sehari-hari, meliputi tempat tidur bal berupa ranjang dari bambu, jatah makan dua atau tiga kali, sehari dengan lauk sayur basah atau lauk sederhana dari ikan kering, juga minum air putih atau kopi kental.

Tekanan ekonomi memang mendorong bumiputra untuk meninggalkan rumah dan kerabatnya di desa untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Sebuah laporan bulanan komunitas misionaris Belanda di Jawa, yang diterbitkan pada tahun 1873, menggambarkan kisah seorang wanita bumiputra yang rela meninggalkan anak-anaknya untuk bekerja sebagai budak.

“Kamsinah adalah namanya, dia wanita Jawa keturunan Mohammedan. Menurut pernyataannya ia berusia 22 tahun, satu-satunya anak perempuan dari ibunya. Ia datang sebagai sayang jelaga dari keluarga India, meninggalkan anaknya dan telah dihapus oleh suaminya.”

Pembantu mengajarkan budaya lokal kepada majikan

Biasanya, pada rumah tangga pengusaha atau pejabat tinggi Belanda memiliki tukang masak, tukang cuci, tukang kebun, pengasuh anak, dan pekatik. Di antara pembantu ini, pengasuh anak yang bisa lebih akrab dengan anak-anak majikan yang masih bocah.

Kesibukan bekerja dan kegiatan-kegiatan lain telah menyita banyak waktu para laki-laki Eropa, sementara istri mereka mengurusi urusan ekonomi, juga mendatangi pertemuan dengan wanita-wanita Eropa telah mengurangi waktu bersama anak. Akibatnya anak-anak tidak mendapat cukup kasih sayang dari orang tuanya, sehingga tumbuh jadi pribadi yang nakal dan terlihat murung.

Maka, babu menjadi solusi untuk menjawab permasalahan yang dihadapi oleh para orang tua Eropa di Hindia Belanda. Selain memiliki tugas mengasuh, tanpa disadari pembantu rumah tangga juga mengajarkan anak-anak Eropa mengenai Bahasa Melayu ataupun daerah. Juga memberi peluang besar memberi pengetahuan seni budaya di Hindia Belanda.

Komunikasi antara pengusaha dan pekerja sebagian besar dilakukan dengan bahasa Melayu asli atau bahasa lokal. Penggunaan bahasa Belanda sebagai media komunikasi antara pekerja dan penduduk bumiputra, memancing keberatan orang Eropa. Hal ini dikarenakan adanya kekhawatiran akan terjadi perubahan bahasa ke Hindia Belanda, dan membuat penduduk bumiputra menjadi sombong.

Melalui percakapan antara majikan, baik pemilik rumah maupun anaknya dengan pembantu, secara otomatis mengakibatkan penggunaan bahasa Melayu dan daerah di kediaman orang-orang asing menjadi aktif.

Interaksi yang semakin intens antara majikan dengan para pembantunya mempengaruhi selera orang-orang Eropa dalam bidang pertunjukan seni sehingga berkembang musik keroncong, komedi stamboel, sandiwara, film, lukisan, patung, tekstil, dan busana.

Sebagai penduduk bumiputra, cara mengasuh pembantu-pembantu ini terkadang juga menyelipkan kearifan lokal setempat. Ketika hendak menidurkan anak, pembantu akan menggendongnya dengan selendang kain atau membaringkannya di ranjang, sambil menyanyikan lagu pengantar tidur.

G Kolff & Co, Toko Buku Pertama di Jakarta Tempo Dulu

Karena keterbatasan dalam berbahasa asing, maka tidak ada pilihan lain selain menyanyikan lagu pengantar tidur daerah asalnya. Lagu-lagu daerah yang ditujukan untuk anak biasanya mengandung doa, nasehat, atau tradisi lisan masyarakat setempat.

Peran ini juga terlihat dari pengetahuan tentang masakan lokal yang diperoleh dari para koki-koki lokal mereka. Selain itu koki-koki lokal juga dapat pengetahuan peralatan masak yang lebih modern. Interaksi-interaksi sosial ini tidak dapat dipandang remeh, karena hal ini menunjukan betapa penting peran para pembantu dalam memperkenalkan budaya lokal.

Walaupun dalam pertukaran budaya ini posisi mereka tidak sederajat, namun setidaknya ada budaya Eropa yang mereka dapat dan begitu juga sebaliknya, ada budaya lokal yang bisa mereka ajarkan kepada tuan mereka dari Eropa.

Streotip pembantu di Hindia Belanda

Banyak di antara pembantu rumah tangga yang mendapat pandangan buruk, baik dari keluarga orang-orang Eropa, Timur Asing, atau dari kalangan priyayi baru. Ada pembantu yang dituduh melakukan pencurian, sehingga dipanggilkan polisi untuk mengusut kasusnya. Sementara ada beberapa pembantu yang merasa tidak mencuri dan memilih melarikan diri atau bahkan bunuh diri untuk menjaga kehormatannya.

Muncul juga stereotip bagi pembantu perempuan yang ahli dalam menggoda pria-pria Eropa yang pada kenyataanya di awal perekrutan para pembantu ini akan terjadi pula praktik pergundikan. Aktivitas pekerja rumah tangga sebagai pembantu di kediaman orang-orang Eropa sekaligus pelayan dalam hal kebutuhan biologis majikan.

Saat itu, perempuan bumiputra masih dianggap sebagai posisi terendah, dicap sebagai penggoda laki-laki, sebagai penonton, dan sebagai penjaga ruh laki-laki. Meski berdampingan dengan pria Eropa, statusnya tetap Nyai ini tidak bisa disetarakan begitu saja, melainkan masih berada di kedudukan paling bawah.

Praktik nyai dan pergundikan di Hindia Belanda memungkinkan terjadinya mobilitas vertikal bagi para wanita bumiputra. Kendati mereka telah menjadi istri seorang laki-laki Eropa, tapi tidak mengubah penampilan bahkan kedudukannya di mata orang lain.

Tahun 1930, Harga Tiket Pesawat Domestik Belasan Juta Rupiah

“Perempuan yang dipilih menjadi nyai menghabiskan hari kerja yang sama panjangnya mengurus rumah tangga, mengawasi pekerjaan pembantu rumah tangga, dan melayani keinginan dan nafsu majikannya,” tulis Frances Gouda dalam Dutch Cultures Overseas: Praktik kolonial di Hindia Belanda 1900-1942, edisi 2007.

Para majikan juga akan berpikir ulang untuk mengajak babu dan jongos saat berpergian. Mereka, para majikan Eropa memikirkan pandangan orang, yang sekiranya dari kalangan atas tak pantas membawa serta pembantu di acara pesta-pesta misalnya.

Di satu sisi, pembantu rumah tangga digambarkan sebagai manusai kotor, pemalas, terlalu memanjakan anak-anak Eropa, dan tidak bisa diandalkan. Di sisi lain, mereka dipuji karena sikap santun, keterampilan, dan kepatuhan. Oleh sebab itu, mereka dikenal lebih mudah bergaul dibandingkan pelayan Eropa.

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Advertisement
Click to comment

Sejarah

Melihat Perkembangan Kapal Pinisi dan Budaya Maritim di Nusantara

Melihat Perkembangan Kapal Pinisi dan Budaya Maritim di Nusantara

[ad_1]

Nelayan/Markus Tinner/Unsplash


“Nenek moyang saya adalah pelaut, suka mengarungi lautan”.

Tentunya Kawan GNFI tidak akan asing lagi dengan penggalan lirik lagu anak–anak tersebut. Nenek moyang kita memang pelaut yang ulung. Mereka adalah penjelajah samudra menggunakan kapal-kapal berteknologi tinggi. Dari Selat Malaka, Semenanjung Arab, hingga Tanjung Harapan di Afrika sudah mereka lalui.

Bahkan, peta penjelajahan orang-orang Jawa kuno sudah mencantumkan daerah Brazil di Amerika Selatan. Kalau kita melihat catatan kuno Tiongkok yang ditulis sekitar 131 Masehi, orang-orang Jawa dulu lah yang pertama kali menjalin hubungan antara kedua negara.

Padahal, pada waktu itu, Tiongkok belum memiliki kebudayaan berlayar. Hal ini menunjukkan bahwa bangsa kita jauh lebih unggul dalam teknologi kapal dibandingkan Tiongkok, yang notabene sudah sangat maju peradabannya pada kala itu.

Awal Sejarah Kemaritiman Indonesia

info gambar

Potret Tim patroli KP Hiu 12, PSDKP Lampulo menangkap KIA | Foto: Dok. PSDK Lampulo (Kompas.com/Raja Umar)


Sejarah kemaritiman Indonesia bisa kita telusuri dari awal perdagangan rempah-rempah di nusantara. Entah mulai kapan rempah ini populer, tetapi sejak awal sejarah, rempah-rempah yang hanya tumbuh di Kepulauan Maluku, Jawa, Sumatra dan pulau lainya menjadi komoditas yang sangat laris di pasaran.

Bukan hanya di pasaran nusantara, tetapi sangat dicari di seluruh dunia. Hal ini praktis membuat nusantara menjadi jalur perdagangan yang sangat ramai pada kalanya. Dari kegiatan perdagangan itu akhirnya mendorong orang-orang nusantara untuk menciptakan berbagai teknologi kapal.

Entah itu untuk keperluan kargo atau pun militer, guna menjaga laut dari para perompak. Bahkan, salah satu teknologi kapal nusantara, yaitu kapal jung telah tercatat oleh para Pelaut Portugis yang kala itu berhasil menguasai Pelabuhan Malaka.

Jung Jawa, Kapal Raksasa Legendari yang Serang Portugis di Malaka

Menurut orang–orang Portugis, kapal jung milik para Pelaut Jawa benar–benar mengerikan. Ukurannya yang terlampau besar, membuat kapal terbesar Portugis tidak terlihat seperti kapal sama sekali. Bahkan, kapal milik Pati Unus yang merupakan Panglima Demak mampu memuat lebih dari 10.000 prajurit.

Lalu, jika kita adalah keturunan pelaut, mengapa kita sekarang begitu jauh dari budaya bahari? Mengapa begitu banyak dari kita yang begitu takut dengan laut?

Bahkan, banyak sekali mitos yang menyeramkan tentang laut. Mulai dari Legenda Ratu Kidul, Nyi Rara Kidul, Nyi Blorong, dan lainya. Apakah sudah tidak tersisa lagi kebudayaan maritim dari nenek moyang kita?

Akan sangat merugi tentunya jika memang tidak ada yang tersisa. Namun, betapa beruntungnya kita masih banyak komunitas masyarakat yang memegang teguh warisan leluhurnya. Salah satunya adalah orang–orang Konjo dengan Kapal Pinisi yang melegenda, yang telah terdaftar di UNESCO sebagai Mahakarya Agung Warisan Budaya Tak Benda yang dimiliki Bangsa Indonesia.

Melihat kapal pinisi Indonesia

Potret kapal pinisi | Foto: trivago.com.au

info gambar

Potret kapal pinisi | Foto: trivago.com.au


Kapal pinisi ini sangat unik, karena dalam proses pembuatannya dikerjakan secara tradisional, mengandalkan keahlian tangan para ahli kapal dari suku Konjo. Pengerjaannya dilakukan secara gotong royong dan dipimpin oleh seorang pawang kapal yang biasa disebut dengan Panrita Lopi.

Panrita Lopi memimpin jalanya pembuatan kapal dari penebangan bahan kayu pertama hingga kapal siap untuk berlayar. Teknik pembuatannya juga berbeda dengan pembuatannya kapal lain. Papan-papan kayu di kapal ini tidak disatukan menggunakan paku, tetapi menggunakan pasak kayu dari bahan kayu yang tersisa.

Pinisi sendiri sebenarnya bukanlah julukan pada sebuah kapal. Namun, merujuk pada sebuah sistem layar, tiang-tiang layar dan konfigurasi tali yang secara turun-temurun terekam dalam tradisi Suku Konjo. Sistem pinisi ini sering diterapkan di kapal dengan jenis lambung Lambo dan palari, kapal dengan jenis inilah yang biasanya disebut dengan kapal pinisi.

Dahulu, kapal pinisi digunakan orang–orang Bugis untuk mengarungi samudra yang luas. Tujuh samudra sudah ditaklukkan. Hal ini disimbolkan dengan tujuh layar yang dimiliki oleh kapal pinisi.

Kora-kora, Kapal Perang Kebanggaan Ternate yang Usir Portugis di Maluku

Kapal pinisi juga menjadi simbol akan ramainya jalur perdagangan di nusantara, khususnya di wilayah timur yang menjadi pusat dari komoditi rempah–rempah di dunia. Orang–orang Bugis menggunakan kapal pinisi sebagai kapal barang untuk mengangkut rempah–rempah, yang diperdagangkan di Pulau Jawa, Malaka, hingga ke seluruh penjuru dunia.

Saat ini, kapal pinisi digunakan sebagai alat transportasi nelayan di Bulukumba dan sekitarnya. Para nelayan menggunakannya untuk mencari ikan. Layar sudah tidak menjadi penggerak utama, tenaganya diganti dengan motor baling–baling.

Namun, tak jarang juga kapal pinisi banyak digunakan untuk pariwisata. Bagi wisatawan yang ingin mencoba menaiki kapal tradisional dan merasakan pengalaman tinggal di atas kapal, pinisi adalah pilihan yang terbaik. Bahkan, banyak selebriti yang menggunakan jasa pinisi ketika berlibur.

Pelestarian Pinisi

Perahu pinisi bulukumba | Foto: Celebes.co

info gambar

Perahu pinisi bulukumba | Foto: Celebes.co


Kapal pinisi menjadi salah satu simbol kebudayaan maritim yang masih terjaga di Indonesia. Festival besar setiap tahun diadakan di Bulukumba sebagai upaya pelestarian. Memang upaya pelestarian harus selalu digalakkan untuk menjaga tradisi ini.

Tradisi kapal pinisi menyimpan pengetahuan lokal mengenai berbagai hal. Mulai dari pengetahuan pemilihan bahan kapal, teknik perencanaan, perakitan, hingga pelayaran.

Dalam upaya pelestarian kapal pinisi, sepertinya harus dilakukan pendekatan lain. Jika hanya mengandalkan festival, pengetahuan dari tradisi pembuatan kapal pinisi tidak akan berkembang dan sulit untuk di pelajari lebih lanjut.

Ini 5 Kapal Tradisional Khas Indonesia Bukti Nenek Moyang Seorang Pelaut

Sangat mungkin jika tradisi dari pembuatan kapal pinisi, diekstrak menjadi kurikulum yang bisa dipelajari oleh siapa saja. Namun, tentunya juga harus diperhatikan secara teliti mengenai segala aspek pembuatannya dari awal hingga akhir.

Tradisi pembuatan kapal pinisi harus dilihat secara utuh, sebagai sebuah warisan leluhur yang harus diteruskan pengetahuannya. Dengan begitu, nilai–nilai yang terkandung di dalamnya tidak ada yang tereduksi.

Selain itu, pinisi juga bisa dikolaborasikan dengan keberadaan jalur pempah di nusantara. Pinisi bisa digunakan untuk pelayaran pariwisata menyusuri jalur rempah. Maka, terjalin keterkaitan sejarah antara kapal pinisi dan keberadaan jalur rempah di nusantara.*

Referensi:Geografis Nasional | IDNTimes

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.jshttps://platform.instagram.com/en_US/embeds.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Continue Reading

Sejarah

Kisah Baharuddin Lopa, Sang Penegak Tiang Hukum Indonesia

Kisah Baharuddin Lopa, Sang Penegak Tiang Hukum Indonesia

[ad_1]

Pada Selasa malam, 3 Juli 2001, hujan deras disertai petir melanda langit Istana Negara yang mengagetkan Presiden Abdurahman Wahid. Dia mengunci diri di kamarnya dan terisak. Saat tangisannya sedikit mereda, Gus Dur berkata lirih, “Malam ini, salah satu tiang langit Indonesia runtuh!”

Tidak seorang pun yang paham maksudnya, pasalnya tidak biasanya cucu dari Hadratussyaikh Hasyim Ashari itu menangis tersedu-sedu. Pada pukul 11 malam, tangis dan ucapan Gus Dur akhirnya terjelaskan. Berdering telepon dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Riyadh, Arab Saudi menyampaikan kabar duka ke seluruh penjuru tanah air.

Jangka Agung Baharuddin Lopa telah dipanggil pencipta. Sontak, berita meninggalnya Lopa yang baru dilantik pada 5 Juni 2001, langsung menimbulkan keterkejutan sekaligus menularkan kabung yang dalam. Sebelumnya, Lopa memang berangkat menuju Arab untuk serah terima jabatan Duta Besar RI untuk Arab Saudi sekaligus melakukan ibadah umroh.

Ternyata, usai Umroh, Lopa kelelahan dan harus menjalani perawatan di rumah sakit. Namun dikabarkan, dirinya terkena serangan jantung hingga akhirnya meninggal. Penyebab kematian Lopa sendiri hingga kini belum diketahui pasti. Kepergiannya tentu sangat mengejutkan masyarakat Indonesia. Sebab, Lopa diharapkan mampu mendobrak kebuntuan penegakan hukum.

Pria kelahiran 27 Agustus 1935 di Dusun Pambusuang, Sulawesi Selatan, ini memang terkenal sebagai tokoh anti-korupsi. Dikutip dari buku Sejarah Pemikiran Indonesia (1967-1998), sosok Lopa digambarkan sebagai pendekar yang pantang mundur dan berani menanggung risiko. Dirinya mengawali karir sebagai jaksa di Kajari Makassar pada tahun 1958, usianya saat itu 23 tahun.

Kepatuhan Lopa pada hukum, tampak pada sikapnya yang tak ingin menerima barang dalam bentuk apapun sebagai hadiah. Haram bagi Lopa menerima sogokan dalam bentuk apapun. Bahkan ketika Lebaran menjelang, sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan, ia menegaskan kepada anak buahnya untuk tidak menerima parsel lebaran.

Hoegeng Iman Santoso, Polisi Merakyat yang Anti Korupsi

Sesampainya di rumah, ia melihat ada dua paket di rumahnya. Dengan ekspresi masam di wajahnya, Lopa bertanya ke seluruh rumah.

“Siapa yang kirim parsel ke sini!?” tanya Lopa

Seisi rumah pun tak ada yang menjawab. Kemudian, Lopa melihat salah satu parsel yang sedikit terkelupas. Lopa pun bertanya kembali.

“Siapa yang membuka parsel ini!” tanya Lopa lagi.

Tak lama kemudian, seorang putrinya menghampiri Lopa untuk meminta maaf, karena telah membuka parsel dan mengambil sepotong cokelat dalam parsel tersebut. Lopa kemudian meminta anaknya yang lain membeli cokelat dengan ukuran dan jenis yang sama, untuk mengganti cokelat di parsel tersebut.

Selama menjabat menjadi Kajati Sulsel, Indrawulan Majid Tongai–istrinya–saat itu selalu naik bus bila pulang ke Majene. Padahal saat itu semestinya Indrawulan diantar oleh kendaraan dinas. Aturan ini memang berlaku untuk semua anggota keluarganya, yakni tak boleh diantar oleh kendaraan dinas.

Hanya itu? Rupanya tidak.

Lopa juga mengunci telepon rumah dinas agar tidak digunakan untuk kepentingan pribadi keluarganya. Mereka disarankan memakai telepon koin yang sudah disediakan. Anak kedua Lopa, Iskandar Muda Baharuddin Lopa, menilai ajaran ayahnya mendidiknya agar tidak manja.

“Bapak tidak mampu memberi kalian lebih dari yang Bapak mampu. Bapak tidak mau memberi kalian makan dari sumber-sumber yang syubhat, haram, dan melanggar hukum,” ungkap Iskandar.

“Kalian harus selalu jujur bersikap, berkata, dan memakai nurani. Dengan ini kalian akan berani mengambil sikap, setia pada keberanian dan tidak akan menyimpang,” kata Iskandar menirukan pesan Sang Ayah.

Tegas sejak awal karir

“Kendati kapal akan karam, tegakkan hukum dan keadilan! Jangan takut menegakkan hukum dan jangan takut mati demi menegakkan hukum!”. Demikian petikan kalimat dari Baharuddin Lopa yang cukup terkenal. Meski sudah 20 tahun berpulang, namanya tetap melegenda sebagai sosok pendekar hukum yang anti-korupsi.

Saat statusnya masih Mahasiswa Hukum di Universitas Hasanuddin, Lopa diminta menjadi jaksa di Kajari Makassar. Dua tahun di sana, prestasinya di bidang hukum cukup baik, lalu kemudian diangkat menjadi Bupati Majene di usia 25 tahun. Usia yang tergolong masih sangat muda untuk jabatan bupati.

Di usia itu, dia ditugaskan untuk menyelesaikan berbagai macam kasus hukum yang terjadi di Majene. Salah satunya kasus yang membelit seorang penguasa perang asal Mandar, bernama Andi Selle. Andi Selle adalah Komandan Batalyon 710 yang terkenal kaya karena terlibat kasus penyelundupan kopra.

Pada suatu waktu, Lopa pernah ditawarkan uang untuk mendukung bisnis Selle. Tapi Lopa kemudian mengatakan bahwa kebijakan pemerintah itu harus yang terbaik bagi rakyat, bukan untuk kepentingan penguasa. Setelah mengucapkan itu, kehidupan Lopa mulai terusik. Nyawanya sering diancam untuk dibunuh.

Selle pernah mengajak Lopa adu tembak, tapi ditolaknya. Setelah itu, Selle sering meneror Lopa. Beruntung, saat itu Kapten dari satuan Kepolisian bernama Andi Dadi melindungi nyawanya. Setelah menjadi bupati, ia kembali menjadi jaksa di Kejaksaan Tinggi Maluku dan Irian Barat sebelum menjadi Kepala Kejaksaan Tinggi Negeri di Ternate.

Di Ternate, Lopa pernah menolak diberikan satu truk durian. Sejawatnya banyak mengenang Lopa sebagai pribadi yang religius. Lebih sering ke pasar daripada mall, menolak segala bentuk parsel saat Lebaran, walau itu dari teman dekatnya. Lopa takut pemberian itu suatu saat akan dikasuskan.

Mohammad Hatta, Memperjuangkan Ekonomi Rakyat Indonesia Lewat Koperasi

Saat diangkat menjadi Kajati Sulsel, Lopa menggebrak kasus korupsi di bidang reboisasi yang nilainya mencapai Rp7 miliar. Keberaniannya menyeret Tony Gozal alias Go Tiong Kien ke pengadilan dengan tuduhan memanipulasi dana reboisasi Rp2 miliar. Padahal sebelumnya, Tony dikenal sebagai orang yang ‘kebal hukum’ karena dekat dengan petinggi.

Salah satu kasus terbesar yang ditangani Lopa adalah kasus korupsi Soeharto. Saat itu ia menjabat sebagai Seketaris Jenderal Komnas HAM. Soeharto sering dipanggil, tapi selalu absen dengan alasan sakit. Meski begitu, ia berhasil meringkus salah satu sahabat Soeharto, yakni Bob Hasan.

Lopa berhasil memasukan Bob ke dalam LP Nusakambangan. Meski saat itu, Soeharto sedang memimpin dan Lopa bisa saja terancam. Setelah kejadian itu, Soeharto tahu betul pergerakan Lopa akan membahayakan kekuasaanya. Maka dari tahun 1988 hingga 1995, dirinya hanya ditugaskan sebagai Direktur Jenderal Lembaga Permasyarakatan, sejak itu Lopa tidak lagi disibukkan dalam mengusut kasus hukum.

Awal tahun 2001, ia diminta Presiden Abdurahman Wahid menggantikan Yusril Ihza Mahendra menjadi Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia. Belum setengah tahun menjabat sebagai Menkeh dan HAM, Lopa diperintahkan Gus Dur untuk menggantikan Jaksa Agung Marzuki Darusman yang dinilai tak becus mengusut kasus korupsi.

Sepak terjang Jaksa Agung

“Saya tidak boleh memilih-milih. Kasus yang belum selesai, diselesaikan. Bagi saya, itu semua prioritas,” ucapnya kepada para wartawan yang menemuinya di Ruang Adhi Wicaksana Kejaksaan Agung, usai dirinya dilantik.

Pernyataan tersebut tidak layanan bibir. Dirinya langsung melacak keberadaan tersangka mark-up Hutan Tanaman Industri, Prajogo Pangestu, yang merugikan negara sekitar Rp331 miliar dan penyalahgunaan dana reboisasi senilai Rp1 trilun lebih. Prajogo saat itu mengaku berobat di Singapura, tapi Lopa tancap gas mengaktifkan kembali status tersangka Prajogo.

Lopa juga menguber bos Bank Dagang Nasional Indonesia, Sjamsul Nursalim, tersangka kasus penyalahgunaan dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang menilap uang negara hingga Rp7,28 triliun. Sjamsul saat itu mengaku tengah berobat ke Jepang, tapi Lopa mewanti-wanti pada anak buahnya agar tersangka kasus kakap ini tidak sampai lolos.

Dari banyaknya kasus besar yang ditanganinya, satu kasus yang paling ambisus adalah kekayaan Soeharto. Sesuai hasil penelusuran Transparansi Internasional pada 1998, keluarga Soeharto ditaksir telah membegal uang negara 30 miliar dolar AS selama memerintah. Karena itu, Lopa ingin mengejar Soeharto agar diganjar sanksi perdata.

Mengenal Sosok dan Cerita di Balik Pembuatan Uang Penerbitan Khusus Soeharto

“Saya ingin bertanya kepada Jaksa Agung, sudahkah diteliti betul-betul pemberkasan kasus Soeharto itu? Apakah saksi-saksinya sudah cukup dan memberi keterangan yang berarti? Sudah adakah barang bukti yang akan diajukan? Sudahkah dilakukan penyitaan sementara terhadapnya?” tulis Lopa yang termuat dalam buku Kompas dengan judul Kejahatan Korupsi dan Penegakan Hukum (2001).

Dalam tulisan lain, Lopa menyayangkan mereka yang masih berkutat dan menyoal berapa uang negara yang dikorupsi Soeharto dan anak-anaknya. Bagi Lopa, perdebatan tentang nominal yang dicoleng keluarga Soeharto bukan soal yang terlalu mendesak.

“Yang penting bagi rakyat, adalah kekayaan yang seluruhnya atau sebagian diperoleh secara tidak wajar, segera disita/dirampas dan digunakan untuk menolong kehidupan rakyat dalam memenuhi kebutuhan bahan pokok. Aset itu berasal dari rakyat. Karena itu, harus pula kembali kepada rakyat.”

Tapi Lopa seperti nasib orang jujur pada zamannya, banyak yang menginginkanya mundur dari jabatan. Dirinya mengaku ada tiga orang yang mendesaknya mundur dari jabatan Jaksa Agung. Hal ini disampaikanya kepada Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang sempat bertemu Lopa di Makkah, ketika melaksanakan umrah.

“Terlalu banyak orang yang ketakutan jika saya diangkat menjadi Jaksa Agung, sehingga logis jika orang ramai-ramai memotongi saya agar tidak menjadi Jaksa Agung.”

Tapi Lopa tetap Lopa. Prinsipnya jangan pernah takut mati untuk menegakkan hukum. Sebagai penegak hukum, dia menentang perbuatan salah dengan begitu jelas dan tegas. Namun, Lopa harus meninggalkan semua bungkusan yang ingin dibukanya saat Sang Pencipta memanggilnya.

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Continue Reading

Sejarah

Plengkung Gading Yogyakarta, Gapura dengan Segudang Cerita | Good News From Indonesia

Plengkung Gading Yogyakarta, Gapura dengan Segudang Cerita | Good News From Indonesia

[ad_1]

Plengkung Gading atau Plengkung Nirbaya dapat kita jumpai pada daerah Keraton Jogja, di Jalan Patehan Kidul, Kecamatan Kraton. Terletak di sebelah selatan Yogyakarta, jaraknya kurang lebih 300 meter dari Alun-Alun Kidul atau Alun-Alun Selatan.

Selain Plengkung Gading, di kawasan Keraton Jogja terdapat plengkung lain, seperti Plengkung Tarunasura (Plengkung Wijilan), Plengkung Nirbaya, Plengkung Madyasura (Plengkung Buntet), Plengkung Jagasurya (terletak di sebelah barat alun-alun utara), Plengkung Jagabaya (Plengkung Tamansari) .

#makintahuindonesia#Indonesia#KeratonYogyakarta#Yogyakarta#Semenit

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Continue Reading

Trending Dari BuzzFeed

close