Business is booming.

Pengurangan Cuti Bersama Bisa Tekan Pergerakan Warga Secara Masif




Kendaraan memadati ruas Tol Jagorawi KM 6 di Jakarta, Kamis (29/10). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO


© Disediakan oleh Kumparan
Kendaraan memadati ruas Tol Jagorawi KM 6 di Jakarta, Kamis (29/10). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO

Lonjakan kasus corona usai long weekend pada akhir Oktober lalu membuat pemerintah belajar. Tak ingin terulang lagi, pemerintah memutuskan mengurangi cuti bersama akhir tahun 2020 sebanyak 3 hari yakni 28, 29, dan 30 Desember.

Dengan demikian, total libur akhir tahun, termasuk Sabtu dan Minggu, tersisa 8 hari yang tersebar di 2 akhir pekan. Libur 4 hari pertama di tanggal 24 Desember cuti bersama Natal, 25 Desember yang merupakan Hari Raya Natal, serta akhir pekan yakni 26 dan 27 Desember.





© Disediakan oleh Kumparan


Sedangkan 4 hari sisanya yakni 31 Desember merupakan cuti bersama pengganti lebaran, 1 Januari libur Tahun Baru, serta akhir pekan yakni 2 dan 3 Januari 2021.

Epidemiolog Universitas Indonesia, Pandu Riono, mengatakan keputusan pemerintah patut dihargai.



Sejumlah warga berwisata di kawasan Kebun Teh Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (31/10). Foto: Yulius Satria Wijaya/Antara Foto


© Disediakan oleh Kumparan
Sejumlah warga berwisata di kawasan Kebun Teh Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (31/10). Foto: Yulius Satria Wijaya/Antara Foto

Pandu menilai kebijakan itu bisa menekan pergerakan warga secara masif untuk liburan. Sebab sebelum dipangkas, total cuti bersama dan libur akhir tahun mencapai 11 hari secara berderet dari 24 Desember 2020 hingga 3 Januari 2021.

“Niat baik untuk menghilangkan konsep cuti bersama patut dihargai. Paling tidak pemerintah bersedia menekan kemungkinan penduduk secara masif bepergian. Kalau warga tetap mau liburan silakan tetap sesuai protokol kesehatan,” ujar Pandu kepada wartawan, Rabu (2/12).

Meski demikian, Pandu menilai kebijakan tersebut kemungkinan tak efektif menekan penyebaran corona dan mencegah warga berlibur. Hal ini lantaran masih tersisa 8 hari libur yang terbagi di 2 pekan.

Menurut Pandu, jika benar-benar ingin efektif, libur hanya diberikan ketika tanggal merah yakni 25 Desember yang merupakan Hari Raya Natal dan 1 Januari yang merupakan libur tahun baru.

“Walau mungkin tidak efektif, kalau mau efektif benar-benar libur di tanggal merah,” ucapnya.



Warga berada di kawasan Malioboro saat uji coba Semi Pedestrian jalan Malioboro, Yogyakarta, Selasa (3/11). Foto: Andreas Fitri Atmoko/Antara Foto


© Disediakan oleh Kumparan
Warga berada di kawasan Malioboro saat uji coba Semi Pedestrian jalan Malioboro, Yogyakarta, Selasa (3/11). Foto: Andreas Fitri Atmoko/Antara Foto

Pandu mengerti kebijakan tersebut memang berdasarkan beberapa pertimbangan, salah satunya mulai menggeliatnya sektor pariwisata. Sehingga pemerintah tidak mungkin langsung menutup seluruh celah agar warga tidak berlibur.

Sehingga pengurangan 3 hari cuti bersama, kata Pandu, merupakan kebijakan yang win-win solution.

“Pemerintah memikirkan ini supaya tetap ekonomi jalan, karena pariwisata sudah mulai menggeliat. Kelihatannya gitu (win-win solution)” tutup Pandu.



Source link