Connect with us

TIMUR TENGAH

Pengamat: Lebanon Membutuhkan Bantuan Mendesak

Pengamat: Lebanon Membutuhkan Bantuan Mendesak



Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan Lebanon tidak akan bisa menarik dirinya keluar dari krisis ekonomi sampai pemerintahan baru dibentuk untuk memulai reformasi yang telah lama terhenti. Akan tetapi, pengamat Lebanon mengatakan mereka disandera oleh sistem politik yang korup dan membutuhkan bantuan dari luar untuk memecahkan kebuntuan dan menciptakan kondisi yang bisa membangkitkan kembali negara itu. Salah satu saran adalah dengan membentuk dewan perwalian sementara PBB untuk Lebanon agar negara itu bisa pulih.

Dengan status gagal bayar utang Eurobond, obligasi bersama zona negara-negara pengguna mata uang euro, senilai satu koma dua miliar dolar tahun lalu, mata uang Lebanon ambruk dan ekonominya menyusut hingga 25 persen.

Jihad Azour, kepala Departemen Timur Tengah Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan kepada Reuters bahwa untuk mengatasi krisis ekonomi yang mengerikan di Lebanon saat ini “diperlukan pendekatan yang komprehensif” dengan berbagai reformasi keuangan dan pemerintahan. Ia memperingatkan bahwa “dengan tidak adanya pemerintahan baru yang dapat memimpin transformasi ini, sangat sulit untuk berharap situasinya akan membaik dengan sendirinya.”

Akan tetapi, dalam wawancara dengan VO, Profesor Habib Malik dari Lebanese American University mengatakan bahwa warga Lebanon terjebak dalam kekacauan di antara para panglima perang yang berpolitik dan sang penguasa de-facto, milisi Hizbullah yang didukung Iran.

Malik mengatakan, “Seluruh dunia kurang lebih sudah berpendapat: Bentuk suatu pemerintahan, mulai terapkan reformasi, dan kemudian kami akan membantu. Orang-orang ini tidak akan menerapkan reformasi apa pun yang dengan cara apa pun akan mengurangi pencurian, kekuasaan dan kendali mereka. Yang kedua, ‘Kalian, warga Lebanon, harus berurusan dengan Hizbullah sendiri.’ itu sama saja dengan memberi tahu sandera dengan pistol di kepalanya: ‘Kamu harus membebaskan diri dari penculikmu, dan kemudian kami akan datang dan membantumu.’ Itu juga tidak pernah terjadi dalam situasi penyanderaan.”

Ekonom Toufic Gaspard, mantan penasihat senior menteri keuangan Lebanon dan IMF mengatakan ia tidak melihat kembalinya pertumbuhan ekonomi Lebanon tanpa pembersihan keuangan dan fiskal. “Di situlah letak masalahnya, karena sistem politiknya adalah berbagi aset-aset negara, bukan menambah kekayaan negara,” ujarnya.

“Lebanon tidak bisa diselamatkan sebagai sebuah negara kecuali aktor eksternal yang berpengaruh, secara kolektif dan individu, memutuskan untuk turun tangan dan menciptakan kondisi yang dapat menarik Lebanon keluar dari jurang,” kata Emile Nakhleh, pensiunan pejabat intelijen senior CIA yang kini memimpin Global and National Security Policy Institute di Universitas New Mexico.

Nakhleh juga menyarankan pembentukan dewan perwalian sementara PBB untuk Lebanon.

Nakhleh memperingatkan bahwa jika “kondisi ini dibiarkan, Lebanon bisa bangkrut dalam dua tahun,” membuka jalan bagi oknum-oknum jahat untuk mengeksploitasi ketidakstabilan Lebanon. [rd/jm]

Advertisement
Click to comment

TIMUR TENGAH

Balas Kekerasan Israel, Hamas Tembakkan Puluhan Roket

Balas Kekerasan Israel, Hamas Tembakkan Puluhan Roket



Militan Hamas, Senin (10/5) malam menembakkan puluhan roket ke Israel, termasuk serentetan tembakan yang memicu sirene serangan udara hingga ke Yerusalem. Serangan itu adalah tindakan pembalasan setelah ratusan warga Palestina luka-luka dalam bentrokan dengan polisi di kota suci yang disengketakan itu pada siang harinya.

Kantor berita Associated Press melaporkan Israel membalas serangan roket itu secara besar-besaran di Jalur Gaza.

Pejabat kesehatan Palestina mengatakan sedikitnya 20 oran, termasuk sembilan anak-ana, tewas dalam pertempuran itu, menjadikan hari itu sebagai hari yang paling banyak menelan korban jiwa di antara dua musuh bebuyutan yang sudah berperang selama puluhan tahun itu.

Pertempuran itu meningkatkan ketegangan yang sudah memuncak di seluruh kawasan itu pasca konfrontasi antara polisi Israel dan para demonstran Palestina di Yerusalem selama beberapa minggu terakhir ini.

Konfrontasi yang semula dipusatkan pada kompleks puncak bukit di Kota Tua Yerusalem, berpotensi memicu konflik yang lebih luas.

Militer Israel mengatakan lebih dari 50 roket ditembakkan Hamas ke arah Israel sepanjang Senin (10/5) malam, sebagian besar diarahkan ke kota-kota di bagian selatan, dekat perbatasan. [em/pp]

Continue Reading

TIMUR TENGAH

Pejabat Palestina, Israel Kecam Kekerasan di Kompleks Al-Aqsa

Pejabat Palestina, Israel Kecam Kekerasan di Kompleks Al-Aqsa


Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina mengatakan sekurangnya 305 warga Palestina mengalami luka-luka akibat kekerasan itu, dan 228 di antaranya dibawa ke rumah sakit. Beberapa warga Palestina dalam kondisi kritis dan polisi mengatakan 21 petugasnya terluka.

Juru Bicara Kelompok Hamas, Fawzi Barhoum menyebut kekerasan itu agresi massal. “Apa yang terjadi di Yerusalem dan masjid al-Aqsa, agresi Israel terhadap jamaah dan keluarga kami di Yerusalem, adalah bagian dari agresi massal Israel terhadap rakyat Palestina di seluruh wilayah Palestina di Tepi Barat, Gaza, Yerusalem dan bahkan di wilayah pendudukan Palestina pra-1947.”

Sementara pejabat Hamas, menyalahkan kebijakan Israel atas gejolak di kompleks al-Aqsa itu , penasihat utama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Mark Regev, sebaliknya menyalahkan “ekstremis Palestina”.

“Israel berkomitmen untuk menjaga kebebasan beribadah bagi semua agama, untuk semua orang di Yerusalem. Kami ingin hari ini situasinya berlalu sedamai mungkin dan kami telah mengambil sejumlah langkah nyata untuk memfasilitasi tujuan itu. Sayangnya, ada ekstremis Palestina yang berpikiran sebaliknya. Kami sebagai pemerintah tidak bisa membiarkan kekerasan yang direncanakan semacam ini mendikte kenyataan dan kami akan melakukan apa yang perlu dilakukan untuk menjaga perdamaian dan ketenangan,” kata Mark Regev.

Pada siang hari, pengunjuk rasa Palestina melemparkan batu dan polisi Israel menembakkan granat kejut dan peluru karet dalam bentrokan di luar masjid al-Aqsa di Yerusalem, ketika Israel memperingati keberhasilannya menguasai beberapa bagian kota itu dalam perang Arab-Israel tahun 1967.

Al-Aqsa, yang merupakan tempat tersuci ketiga umat Islam, telah menjadi pusat kekerasan di Yerusalem sepanjang bulan suci Ramadhan, dan bentrokan tersebut telah menimbulkan kekhawatiran internasional tentang konflik yang lebih luas.

Warga Palestina menyelamatkan diri dari gas air mata yang ditembakkan oleh pasukan keamanan Israel di kompleks masjid Al-Aqsa Yerusalem, 10 Mei 2021, menjelang pawai yang direncanakan untuk memperingati pengambilalihan Israel atas Yerusalem dalam Perang Enam Hari 1967. (AFP/Ahmad Gharabli)

Warga Palestina menyelamatkan diri dari gas air mata yang ditembakkan oleh pasukan keamanan Israel di kompleks masjid Al-Aqsa Yerusalem, 10 Mei 2021, menjelang pawai yang direncanakan untuk memperingati pengambilalihan Israel atas Yerusalem dalam Perang Enam Hari 1967. (AFP/Ahmad Gharabli)

Pejabat senior wakaf Islam di Yerusalem, Sheikh Abdul -Azim Salhab menyebut penguasaan dan pendudukan Israel di tempat suci itu sebagai bentuk penindasan.

“Ini adalah pendudukan yang menindas. Mereka ingin menggusur umat Islam dari Kota Suci. Pendudukan ini ingin menghakimi kota ini dan mudah-mudahan, selama kami dipenuhi dengan keimanan, mereka tidak akan berhasil,” jelas Sheikh Abdul -Azim Salhab.

Sementara itu, Indonesia yang bertahun-tahun memperjuangkan nasib dan hak-hak warga Palestina, mengecam pengusiran paksa enam warga Palestina dari wilayah Sheikh Jarrah, di Yerusalem Timur, serta tindak kekerasan terhadap warga sipil Palestina di kompleks Masjid Al Aqsa yang menyebabkan ratusan korban luka-luka.

Dalam cuitan di Twitter hari Sabtu (9/5) Kementerian Luar Negeri Indonesia menegaskan bahwa hal itu telah “melukai perasaan umat Muslim.”

Israel menganggap semua bagian Yerusalem sebagai ibu kotanya, termasuk bagian timur yang dianeksasi yang belum mendapat pengakuan internasional. Palestina ingin Yerusalem Timur menjadi ibu kota negara mereka kelak di wilayah pendudukan Tepi Barat dan Gaza. [my/lt]

Continue Reading

TIMUR TENGAH

Kekerasan Terjadi Lagi di Dekat Tempat Suci di Yerusalem

Kekerasan Terjadi Lagi di Dekat Tempat Suci di Yerusalem


Bentrokan terjadi kembali hari Senin (10/5) antara pasukan keamanan Israel dan jemaah Palestina di dekat masjid al-Aqsa di Yerusalem.

Menurut para saksi mata, pasukan keamanan melepaskan gas air mata dan granat kejut ke arah masjid, sedangkan jemaah melemparkan batu dan benda-benda lain ke arah pasukan Israel. Ada laporan bahwa puluhan orang cedera, termasuk sedikitnya 50 orang yang dibawa ke rumah sakit terdekat.

Puluhan orang Palestina cedera dalam konfrontasi dengan polisi di Yerusalem sejak Sabtu malam hingga Minggu, sewaktu Muslim menyambut Lailatul Qadar.

Bentrokan terjadi di gerbang-gerbang kompleks Masjid al-Aqsa di Kota Tua, yang dianggap sebagai tempat paling suci oleh umat Yahudi dan tempat suci ketiga dalam Islam.

PM Israel Benjamin Netanyahu hari Minggu (9/5) mengatakan bahwa pihak berwenang “tidak akan membiarkan seorang pun ekstremis untuk menggoyahkan ketenangan,” setelah beberapa hari bentrokan antara demonstran Palestina dan polisi Israel di luar kawasan Kota Tua Yerusalem.

Pemimpin Israel itu mengatakan dalam rapat kabinet bahwa ia telah bertemu dengan para pejabat keamanan dan bersumpah akan “menegakkan hukum dan ketertiban secara tegas dan bertanggung jawab.”

Ia mengatakan Israel “akan terus mempertahankan kebebasan beribadah bagi semua agama, tetapi kami tidak akan membiarkan gangguan dengan kekerasan.”

Warga Palestina bentrok dengan pasukan keamanan Israel di kompleks Masjid Al Aqsa di Kota Tua Yerusalem, Senin, 10 Mei 2021.

Warga Palestina bentrok dengan pasukan keamanan Israel di kompleks Masjid Al Aqsa di Kota Tua Yerusalem, Senin, 10 Mei 2021.

Bentrokan hari Senin (10/5) terjadi beberapa jam sebelum parade tahunan Hari Yerusalem, yakni pawai bendera yang memperingati klaim Israel atas seluruh wilayah Yerusalem. Parade ini akan melalui kawasan Kota Tua Yerusalem, bagian dari Yerusalem Timur yang direbut dan dianeksasi Israel dalam Perang Timur Tengah tahun 1967.

Tetapi pihak berwenang Israel telah melarang untuk sementara para pengunjung Yahudi ke tempat suci tersebut sehubungan dengan bentrokan itu.

Acara tahunan, yang dipandang sebagian orang bersifat provokatif, berlangsung pada waktu yang tidak menentu.

Sidang dalam kasus pengadilan terkait rencana pengusiran beberapa keluarga Palestina dari sebuah kawasan permukiman di Yerusalem timur telah ditunda sementara keluarga-keluarga Palestina itu meminta pandangan hukum dari jaksa agung Israel. [uh/ab]

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending Dari BuzzFeed

close