Connect with us

INTERNASIONAL

Pemilu Presiden Niger, 7 Petugas TPS Tewas

Pemilu Presiden Niger, 7 Petugas TPS Tewas



Tujuh petugas pemilu tewas dalam pemilu presiden Niger hari Minggu (21/2), ketika kendaraan yang mereka tumpangi menabrak ranjau darat, demikian pernyataan seorang pejabat pemilu setempat; mencemarkan hari yang sedianya mengantarkan transisi kekuasaan demokratis pertama di negara itu.

Negara di Afrika Barat itu kerap mengalami serangan militan Islam dan telah meningkatkan keamanan untuk melindungi jalannya pemungutan suara, di mana kandidat partai yang berkuasa Mohamed Bazoum bertarung melawan mantan presiden Mahamane Ousmane.

Sebuah kendaraan milik Komisi Pemilu CENI yang ditumpangi para petugas pemilu menuju ke TPS menabrak ranjau darat di komunitas pedesaan di barat daya Dargol, ujar Harouna Mounkaila, wakil presiden cabang CENI. “Mereka pergi untuk menurunkan kotak suara dan anggota-anggota TPS,” ujarnya pada Reuters dan menambahkan tiga petugas lainnya luka parah.

Dargol terletak sekitar 80 kilometer dari perbatasan Mali, yang merupakan sarang kelompok militan. Serangan di dua desa dekat perbatasan pada Januari lalu menewaskan sedikitnya 100 warga sipil, insiden terburuk baru-baru ini.

Dua krisis keamanan di Niger – yang satu di dekat perbatasan darat dengan Mali dan Burkina Faso yang merupakan lokasi beroperasinya militan terkait Al Qaeda dan ISIS, dan lainnya di sepanjang perbatasan tenggara dengan Nigeria yang merupakan lokasi operasi aktif Boko Haram – merupakan masalah kampaye yang dominan.

Pada pemilu presiden putaran pertama 27 Desember lalu, kandidat partai berkuasa yang juga dikenal sebagai mantan menteri dalam dan luar negeri, Mohamed Bazoum, meraih 39,3% suara. Sementara Ousmane meraih 17% suara. Bazoum kemudian memenangkan dukungan dari kandidat yang berada di urutan ketiga dan keempat pada pemilu putaran pertama itu.

Pemungutan suara di ibu kota Niamey tampak berjalan lancar. Setelah memberikan suara, presiden Muhammadu Issoufou, yang mengundurkan diri setelah dua kali masa jabatan lima tahun, memuji acara bersejarah di negara yang telah mengalami empat kudeta sejak merdeka dari Perancis tahun 1960. [em/jm]



Source link

Advertisement
Click to comment

INTERNASIONAL

Erdogan Serukan Agar Perkembangan “Merisaukan” di Ukraina Timur Diakhiri

Erdogan Serukan Agar Perkembangan “Merisaukan” di Ukraina Timur Diakhiri



Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Sabtu (10/4) menyerukan agar perkembangan yang “mengkhawatirkan” di wilayah Donbass, Ukraina timur, segera diakhiri.

Seruan itu disampaikan setelah pertemuan dengan Presiden Ukraina di Istanbul. Erdogan menambahkan bahwa Turki siap memberikan dukungan apapun yang diperlukan.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengadakan perundingan lebih dari tiga jam dengan Erdogan di Istanbul sebagai bagian dari kunjungan terjadwal, di tengah ketegangan antara Kyiv dan Moskow terkait konflik di Donbass itu.

Kyiv telah meningkatkan kekhawatiran terkait bertambahnya pasukan Rusia dekat perbatasan antara Ukraina dan Rusia, dan terkait meningkatnya kekerasan di sepanjang jalur kontak yang memisahkan pasukan Ukraina dan separatis yang didukung Rusia di Donbass.

Pergerakan militer Rusia telah memicu keprihatinan bahwa Moskow sedang bersiap-siap untuk mengerahkan pasukan ke Ukraina. Kremlin membantah pasukannya merupakan ancaman, tapi mengatakan mereka akan bertahan selama masih merasa perlu.

AS mengatakan Rusia telah mengumpulkan lebih banyak tentara di perbatasan timur Ukraina sejak 2014, ketika Rusia mencaplok Krimea dari Ukraina dan mendukung separatis di Donbass. [vm/ft]



Source link

Continue Reading

TIMUR TENGAH

Jubir HAM PBB Komentari ‘Penangkapan’ Pangeran Hamzah

Jubir HAM PBB Komentari ‘Penangkapan’ Pangeran Hamzah



Pejabat-pejabat PBB, Jumat (9/4), mengaku tidak tahu apakah Pangeran Hamzah dari Yordania secara de facto masih dalam tahanan rumah atau tidak. Penyelidikan sedang dilakukan atas hilangnya pangeran itu.

Juru bicara Kantor Komisaris Tinggi HAM PBB (OHCHR) Marta Hurtado mengatakan “Kami mengikuti peristiwa yang berkaitan dengan Pangeran Hamzah bin Hussein, mantan Putra Mahkota Yordania, dan penangkapan serta penahanan setidaknya 16 pejabat senior dan pemimpin suku lainnya pada 3 April. Kami mengetahui bahwa ada penyelidikan yang sedang berlangsung tetapi masih tidak jelas bagi kami apakah setelah mediasi pada 5 April, Pangeran Hamzah masih dalam tahanan rumah secara de facto atau tidak.”

Raja Yordania Abdullah II menahan adik tirinya itu pada 3 April atas tuduhan berkomplot dengan pendukung asing yang berusaha mengguncang Yordania. Hamzah membantah tuduhan tersebut.

Menurut OHCHR, penangkapan itu menunjukkan “pengamanan masyarakat yang semakin represif.”

Hurtado juga mengomentari Putri Latifa Al Maktoum, putri penguasa Dubai. Ia mengatakan, OHCHR “belum mendapat bukti bahwa putri itu masih hidup” meskipun sudah memintanya dari pejabat Uni Emirat Arab dua minggu lalu.

Dilaporkan bahwa Putri Latifa berusaha melarikan diri dari Uni Emirat Arab pada 2018, tetapi kembali. [ka/ah]

Continue Reading

INTERNASIONAL

Di Bawah Kim, Korut Dinilai Tak Mungkin Denuklirisasi

Di Bawah Kim, Korut Dinilai Tak Mungkin Denuklirisasi



John Bolton, penasihat keamanan nasional Amerika dalam pemerintahan Presiden Donald Trump, mengatakan Korea Utara belum membuat keputusan strategis untuk menghentikan pembuatan senjata nuklir. Ia menilai prospek upaya mencapai denuklirisasi melalui diplomasi tetap redup.

Jika Amerika mengupayakan “kesepakatan dengan Kim Jong Un, bergantung padanya untuk berjanji menghentikan program senjata nuklirnya dengan imbalan bantuan sanksi,” itu akan gagal, kata Bolton dalam wawancara dengan VOA minggu ini.

Penilaian Bolton itu disampaikan sementara pemerintahan Biden mendekati akhir kajian tentang cara mendekati Korea Utara.

“Menurut saya, rezim itu bertekad membuat dan menpertahankan senjata nuklir. Mereka melihatnya penting bagi kelangsungan hidup mereka,” tambah Bolton.

Januari lalu, dalam Kongres ke-8 Partai Pekerja Korea (WPK), Kim mengatakan, ia akan mendukung program senjata nuklir negaranya. [ka/ah]



Source link

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending Dari BuzzFeed

close