Connect with us

VIRUS CORONA

Pemerintah Buka Program Vaksinasi Untuk Remaja Usia 18 Tahun

Pemerintah Buka Program Vaksinasi Untuk Remaja Usia 18 Tahun



Presiden Joko Widodo, Rabu (9/6), menargetkan program vaksinasi COVID-19 bisa mencapai satu juta dosis per hari pada Juli. Untuk mencapai target itu, pemerintah membuka program vaksinasi kepada warga yang berusia di atas 18 tahun di Jakarta untuk meredam penyebaran COVID-19.

Pemerintah berusaha mempercepat vaksinasi setelah terkendala oleh pasokan vaksin untuk mencapai target memvaksinasi 181,5 juta orang pada 2022.

Dalam kunjungan ke Depok, Jokowi mengatakan dia ingin vaksinasi program mencapai target sebanyak 700 ribu dosis per hari pada bulan ini dan kemudian meningkat lagi.

“Jadi pada Juli, kita bisa mencapai target vaksinasi per hari satu juta,” kata Presiden.

Indonesia mengalami wabah virus corona terburuk di Asia Tenggara dengan mencatatkan 1,87 juta infeksi dan 51.990 kematian.

Pakar kesehatan khawatir tentang risiko lonjakan baru infeksi yang dipicu oleh varian-varian baru dan lonjakan mobilitas pada mudik Lebaran pada bulan lalu. Jakarta telah menjadi salah satu pusat penyebaran.

Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengonfirmasi bahwa vaksinasi sekarang akan dibuka untuk siapa saja yang berusia di atas 18 tahun.

Dalam keterangan terpisah, Rabu (9/6), Kemenkes menyebutkan, data menunjukkan tingkat penularan COVID-19 dalam sepekan terakhir di Jakarta masih “cukup tinggi.”

Setidaknya 11,43 juta masyarakat telah menerima dua suntikan dari salah satu dari beberapa vaksin, yang tersedia, yaitu Sinovac Biotech dan Sinopharm buatan China atau AstraZeneca.

Per 31 Mei, Indonesia memiliki hampir 76 juta dosis vaksin siap pakai. [ah/ft]



Source link

Advertisement
Click to comment

VIRUS CORONA

Menteri Vaksin Inggris Imbau Kewaspadaan soal Pembukaan Kembali Wilayah

Menteri Vaksin Inggris Imbau Kewaspadaan soal Pembukaan Kembali Wilayah



Menteri vaksin COVID-19 Inggris, Jumat (11/6) mengimbau agar waspada mengenai rencana pembukaan kembali negara itu akhir bulan ini. Ia berbicara pada hari ketika jumlah kasus baru melonjak di negara itu — 90 persen di antaranya adalah varian Delta yang sangat menular.

Menurut Peta Jalan COVID-19 yang ditetapkan oleh pemerintah Perdana Menteri Boris Johnson, semua pembatasan terkait pandemi dijadwalkan akan dicabut 21 Juni, satu minggu dari Senin.

Namun dalam sebuah wawancara, Jumat, menteri vaksin COVID-19 Inggris, Nadhim Zahawi, mengatakan kepada Times Radio bahwa Inggris harus sangat berhati-hati mengenai pembukaan wilayahnya mengingat dominasi varian Delta, yang awalnya diidentifikasi di India.

Komentarnya disampaikan ketika pemerintah melaporkan 8.125 kasus COVID-19 baru, total harian tertinggi sejak Februari, dan tingkat penularan harian juga lebih tinggi. Zahawi mengatakan pemerintah harus memeriksa data dari akhir pekan mendatang dengan sangat hati-hati dan memberitahukannya kepada bangsa untuk kemudian memutuskan mengenai pembukaan kembali.

Sementara itu, Chicago, Jumat menjadi kota terbesar di AS yang dibuka kembali sepenuhnya. Selama konferensi pers yang secara resmi mengumumkan pembukaan kembali itu, Walikota Lori Lightfoot mengatakan kepada wartawan bahwa selama lebih dari setahun, penduduk Chicago telah menderita begitu banyak, tetapi mereka setiap kali sudah melakukan tugasnya.

“Mengenakan masker, melakukan vaksinasi, dan sekarang saatnya kita bangkit, keluar dari rumah musim panas ini dan menikmati acara kota terbaik di planet ini, kota kita tercinta Chicago,” kata Lightfoot.

Sebelumnya Jumat, para pemimpin dari negara-negara G-7 mengumumkan bahwa mereka akan menyumbangkan satu miliar dosis vaksin COVID-19 ke negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. AS

AS akan menyumbangkan 500 juta vaksin sementara Inggris menyumbangkan 100 juta dosis vaksin. [my/pp]



Source link

Continue Reading

VIRUS CORONA

Salat Jumat Virtual: Berjamaah Tanpa Berkerumun

Salat Jumat Virtual: Berjamaah Tanpa Berkerumun


Salat Jumat biasanya digelar secara berjamaah di masjid. Pandemi melahirkan terobosan baru terkait ibadah ini. Ratusan orang memilih menjalankannya melalui aplikasi pertemuan virtual.

Roland Gunawan dan Direktur Amnesty Internasional Indonesia, Usmas Hamid, memulai rutinitas Salat Jumat Virtual (SJV) sekitar awal tahun ini. Jumat 11 Juni 2021 menjadi ibadah ke-13, dan diikuti sekitar seratus peserta. Roland memutuskan untuk menggelar SJV dengan dasar yang kuat, karena dia sendiri adalah Wakil Ketua I Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (LBM PWNU) DKI Jakarta.

“Kami punya pandangan, karena pemerintah memberikan batasan jamaah di masjid dan mushola hanya 50 persen, terutama di Salat jamaah, makanya kami membuka ruang virtual untuk memfasilitasi Salat Jumat Virtual,” kata Roland kepada VOA.

Usman Hamid (kiri) dalam SJV ke-2. (Foto: VOA)

Usman Hamid (kiri) dalam SJV ke-2. (Foto: VOA)

SVJ awalnya diikuti oleh sekitar dua ratus jamaah, dan kemudian jumlahnya bervariasi. Jamaah paling sedikit seingat Roland ada di angka 80-an orang. Sedangkan beberapa pekan terakhir, jumlahnya stabil di kisaran seratus orang.

“Para jamaah mengikuti Salat ini karena mereka yakin akan kesahannya, setelah membaca argumentasi yang kami berikan. Jamaah kami rata-rata akademisi, ada juga profesor. Rata-rata memiliki pendidikan yang tinggi,” tambahnya.

Selain yakin secara fikih, SJV juga digelar karena alasan perebutan ruang keagamaan. Menurut Roland, khutbah yang diberikan dalam ibadah ini menyangkut tema-tema seperti lingkungan, keadilan, bahkan terkait Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Roland mengklaim, tema-tema semacam ini akan sangat sulit diperoleh dalam ibadah Salat Jumat di masjid yang biasa digelar. Ruang virtual perlu dibuka, lanjutnya, untuk memfasilitasi khutbah yang mencerahkan.

Tidak hanya Salat Jumat, Roland dan jamaah lain juga menyelenggarakan Salat tarawih virtual pada bulan Ramadhan lalu. Terobosan besar yang dilakukan adalah memberi kesempatan kepada penceramah perempuan, untuk mengisi kajian dalam ibadah ini. Biasanya, ceramah tarawih di masjid-masjid diberikan oleh penceramah laki-laki.

Pandangan Berbeda

Persoalan ibadah dengan imam yang terpisah dari jamaah bukan saat ini saja menjadi perbincangan. Dikutip dari keterangan resmi, Bahtsul Masail NU yang dimuat dalam situs NU Online, Mu’allim Syafi’i Hadzami pernah menyinggung persoalan ini. Syafi’i Hadzami adalah ulama besar di Jakarta, yang meninggal pada 2006 lalu.

Syafi’i menulis, mereka yang sakit tentu saja boleh mendengarkan khutbah melalui radio. Tetapi Salat berjamaah memiliki persyaratan yang harus dipenuhi, dan itu sulit jika posisi imam dan jamaah terlalu jauh.

“Lagi pula kalau listrik mati atau baru baterai habis, buntu jamaahnya. Alhasil, banyaklah mawani‘ yang tidak mengesahkan sembahyang berjamaah kepada imam di radio. Sembahyang imamnya radio, lucu kedengarannya,” tulis Syafi’i dalam buku Taudhihul Adillah, 100 Masalah Agama yang dikutip NU.

Sholat Jumat Virtual diklaim menghadirkan khutbah dengan tema alternatif. (Foto: VOA)

Sholat Jumat Virtual diklaim menghadirkan khutbah dengan tema alternatif. (Foto: VOA)

Alhafiz Kurniawan dari Bahtsul Masail NU dalam paparan di laman resmi organisasi tersebut menitikberatkan persoalan akses antara jamaah dan imam ini. Dia menyatakan, untuk menghindari ketertinggalan makmum atas gerakan imam, pihak masjid yang menyiarkan siaran langsung dan juga makmum perlu mempersiapkan perangkat digital yang memadai untuk memaksimalkan akurasi berjamaah. Mereka perlu memastikan sinyal, baterai, kuota, volume yang cukup, tripod, dan perangkat lainnya.

Paparan ini menandakan diskusi yang dinamis di lembaga tersebut.

“Pelaksanaan shalat Jumat melalui siaran langsung media sosial dari masjid terdekat dapat menjadi alternatif bagi penduduk Muslim di tengah pencegahan COVID-19 yang mengharuskan jaga jarak fisik ketika fasilitas masjid tidak memadai untuk mematuhi protokol COVID-19,” papar Alhafiz.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui fatwa No 28 tahun 2021 menyebut, penyelenggaraan shalat Jum’at secara virtual hukumnya tidak sah. MUI berpedoman, imam yang memimpin ibadah dan makmum sebagai jamaah harus berada dalam satu kesatuan tempat dan tersambung secara fisik. Jika memang seseorang karena keadaanya tidak dapat menjalankan Salat Jumat, sesuai ajaran yang ada, MUI menyarankan yang bersangkutan untuk menjalankan ibadah Salat Zuhur.

Keputusan Majelis Tarjih Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah juga senada dengan fatwa MUI. Muhammadiyah menyatakan Salat Jumat secara online atau virtual tidak diperbolehkan.

“Secara organisasi keputusan ini tentu mengikat bagi warga Muhammadiyah. Karena Majelis Tarjih merupakan lembaga yang diamanati untuk menyelesaikan masalah masalah keagamaan,” kata sekretaris Majelis Tarjih PP Muhammadiyah, Mohammad Mas’udi kepada VOA.

Dalam keputusannya, Muhammadiyah menjelaskan bahwa salat Jumat termasuk ibadah yang tidak dimungkinkan ada kreasi di dalamnya.

Salat Jumat berjemaah dilakukan dengan menjaga jarak aman di Masjid Raya Al Barkah, Bekasi di pinggiran Jakarta, di tengah pandemi COVID-19, Jumat, 29 Mei 2020. (AP)

Salat Jumat berjemaah dilakukan dengan menjaga jarak aman di Masjid Raya Al Barkah, Bekasi di pinggiran Jakarta, di tengah pandemi COVID-19, Jumat, 29 Mei 2020. (AP)

“Pertama, ibadah Jumatan ada di wilayah ta’abbudi, yang tidak memberi peluang untuk kreasi. Yang kedua, Jumatan online sesungguhnya tidak sesuai dengan tuntunan,” papar Mas’udi.

Selain itu, Muhammadiyah juga melihat ada potensi persoalan terkait sambungan internet selama Salat Jumat berjalan. Dalam acara-acara webinar yang banyak diselenggarakan, kata Mas’udi, persoalan semacam itu sudah sering ditemukan.

Muhammadiyah berharap, keputusan ini menjadi kepastian bagi warganya sehingga tidak ada lagi pertentangan pendapat terkait Salat Jumat online atau virtual.

Roland Gunawan, mewakili jamaah SJV menyatakan menghormati perbedaan pendapat lembaga-lembaga tersebut. Dia memastikan, kajian lengkap telah disampaikan untuk menjawab berbagai pertanyaan terkait SJV. [ns/ab]



Source link

Continue Reading

VIRUS CORONA

Dua Penumpang Kapal Pesiar Royal Caribbean Positif Terjangkit COVID

Dua Penumpang Kapal Pesiar Royal Caribbean Positif Terjangkit COVID



Dua penumpang kapal pesiar Royal Caribbean telah dites positif terjangkit COVID-19.

Operator kapal pesiar Royal Caribbean, Kamis (10/6) menyatakan dua penumpang kapal Celebrity Millennium diketahui positif setelah menjalani tes wajib seusai pelayaran.

Royal Caribbean menyatakan kedua penumpang yang berada di kamar yang sama itu asimtomatik, kini berada dalam isolasi dan dipantau oleh tim medis.

“Kami melakukan pelacakan kontak, mempercepat tes bagi semua kontak dekat dan memantau situasi dengan cermat,” kata Royal Caribbean dalam suatu pernyataan.

Menurut operator kapal pesiar itu, “protokol komprehensif” yang dijalankan Celebrity Millennium telah melampaui “pedoman CDC (Badan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS) untuk melindungi kesehatan dan keselamatan tamu-tamu.”

Celebrity Millennium mulai berlayar hari Sabtu lalu dari St. Maarten dan telah singgah di beberapa perhentian di Karibia.

Royal Caribbean menyatakan awaknya telah divaksinasi penuh. Para penumpang diwajibkan untuk menunjukkan bukti vaksinasi dan hasil tes negatif dalam 72 jam sebelum keberangkatan. Anak-anak yang terlalu muda untuk divaksinasi juga diwajibkan untuk menunjukkan hasil tes negatif COVID-19. [uh/ab]



Source link

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending Dari BuzzFeed

close