Feed

Pemadaman Listrik di Niger Ancam Stok Vaksin

PBB telah mengeluarkan dana lebih dari dua puluh kali lipat untuk membeli bahan bakar generator agar jutaan vaksin di Niger tidak rusak akibat pemadaman listrik yang tak kunjung usai. Pemadaman listrik tersebut merupakan konsekuensi dari sanksi ekonomi dan sanksi perjalanan yang dijatuhkan oleh negara-negara regional setelah tentara pemberontak menggulingkan presiden negara itu pada bulan lalu.

Niger bergantung pada negara tetangganya, Nigeria, untuk memenuhi 90 persen kebutuhan listriknya; tetapi setelah anggota pengawal presiden menggulingkan Presiden Mohamed Bazoum pada bulan Juli, Nigeria memutus sebagian pasokan listriknya sebagai bagian dari sanksi yang dijatuhkan oleh blok regional Afrika Barat (ECOWAS).

Sanksi tersebut berdampak langsung pada penduduk dengan naiknya harga barang-barang, kesulitan mengakses uang tunai, dan orang-orang yang hidup dalam kegelapan. Kini muncul kekhawatiran tentang konsekuensi yang akan ditimbulkannya pada sistem kesehatan, terutama kemampuan untuk menjaga agar sekitar 28 juta dosis vaksin di negara itu tetap dingin.

UNICEF Habiskan US$200 Ribu untuk Beli Bahan Bakar Generator

Perwakilan negara untuk Dana Anak-Anak PBB (UNICEF) di Niger, Stefano Savi, pada Senin (21/8), mengatakan kepada Associated Press bahwa mereka telah menghabiskan US$200.000 untuk membeli bahan bakar generator agar vaksin tetap dingin selama tiga minggu pertama bulan Agustus, naik dari sekitar US$10.000 satu bulan lalu.

Sebagian besar dari sekitar 1.300 pusat kesehatan lokal di Niger didukung oleh panel surya dan mampu menjaga vaksin tetap dingin. Namun, di wilayah ibu kota dan di tingkat regional serta distrik mengandalkan listrik, dan sekarang generator.

“Jika pemadaman listrik terus berlanjut, itu berarti kami akan kehabisan bensin, dan ruang pendingin ini tidak lagi mendapatkan listrik, dan semua vaksin yang bernilai miliaran (CFA) franc bisa rusak. Itulah masalah utama kami,” ujar Mallam Brah Hararou, seorang ahli logistik di pusat vaksin nasional di ibu kota Niamey.

Setelah Mali dan Burkina Faso mengalami dua kudeta sejak tahun 2020, ECOWAS telah berjuang untuk mencegah kudeta di wilayah tersebut. ECOWAS telah menjatuhkan sanksi keras dan mengancam kekuatan militer jika kedudukan Bazoum tidak dipulihkan. [em/jm]

Sumber Berita

Apa Reaksimu?

Lainnya Dari BuzzFeed