Connect with us

Opini

Pelajaran dari Kemajuan Cepat Negeri Ginseng

Pelajaran dari Kemajuan Cepat Negeri Ginseng

[ad_1]

ilustrasi © Pemuda Korea


Dua negara raksasa di Asia yaitu Jepang dan Korea Selatan adalah negara yang sama-sama hancur pada perang dunia II. Jepang tahun 1945 menyerah kalah kepada Amerika Serikat dan sekutunya setelah dua kota pentingnya Nagasaki dan Hiroshima di jatuhi bom atom oleh Amerika Serikat.

Sementara Korea Selatan, yang sering dijuluki negeri ginseng, hancur dan menderita akibat terjadinya perang Korea tahun 1950 an ketika negeri ini diserbu oleh Korea Utara yang dibantu negara-negara komunis Uni Soviet dan China.

Korea Selatan kemudian dibantu Amerika Serikat dan pasukan PBB, karena jutaan orang warga negara kedua negara itu mati karena perang tersebut.

Tapi itu dulu. Sekarang kedua negara ini mengejutkan dunia karena bangkit dengan cepat dan menjadi salah satu negara kaya di dunia.

info gambar

Reruntuhan Seoul pada Perang Korea | goodfreephotos.com


Jepang dengan jumlah penduduknya yang mencapai 126,8 juta orang menjadi negara dengan ekonomi terkaya di dunia, nomor 3 setelah Amerikat Serikat dan China, melalui Produk Domestik Bruto (PDB) perkapita atau GDP/kapitanya pada 2019 yang mencapai 39.289 dolar AS, atau setara dengan Rp569 juta.

Korea Selatan dengan penduduk 51 juta orang yang menempati ranking ke-10 sebagai negara terkaya ekonominya didunia, namun dengan cepatnya hampir menyalip Jepang karena GDP/kapitanya sudah mencapai 31.362 dolar AS (setara Rp454 juta).

Kita bisa melihat kemajuan ekonomi kedua negara itu dengan melihat data makronya, misalnya GDP nya Jepang mencapai 5 trilliun dolar AS, Korea Selatan 1,6 triliun dolar AS. Ekspor barang dan jasa Jepang mencapai 18,4 persen dari GDP-nya, sedangkan Korea Selatan 44 persen dari GDP.

Bayangkan, begitu majunya Korea Selatan hampir 50 persen kegiatan perekonomiannya dari perdagangan luar negeri. Salah satu dampak dari kemajuan ekonominya, rata-rata harapan hidup warga Jepang 84,1, Korea Selatan 82,6.

Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) atau Dewan Perdagangan dan Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa, telahmeningkatkan status Korea Selatan dari negara berkembang menjadi negara maju, seperti Amerika Serikat, Jerman, Jepang, Inggris, Perancis, dll.

Sebuah negara disebut sebagai negara maju (Negara maju) salah satu barometernya bisa dilihat dari GDP, tingkat kemajuan industrinya, tingkat kemajuan standar hidup warganya, kemajuan infrastruktur teknologinya, yang semuaya itu menurut standar PBB sebagai cerminan “kondissi dasar perekonomian negara” atau “basic economic country condition”.

Untuk diketahui, Amerika Serikat sampai saat ini adalah negara maju terkaya di dunia dengan total GDP pada 2019 yang mencapai 21.433,23 miliar dolar AS, lalu menempati urutan kedua dengan GDP US 15.279, 94 dolar.

Lalu, faktor–faktor apa yang menyebabkan Korea Selatan menjadi salah satu negara kaya di bumi ini?

Beberapa faktor, antara lain bahwa negara ini mengadopsi strategi “Outward Looking” (Melihat Kedepan) pada awal-awal tahun 1960 an, strategi ini fokus pada upaya mendorong pertumbuhan ekonomi melalui ekspor produk-produk manufaktur yang berdasarkan pada pengembangan keunggulan daya saingnya (Keunggulan kompetitif).

Boleh jadi, hal ini didorong pada kebijakan pemerintah untuk menggalakkan inovasi negara dan anak bangsanya.

Seoul adalah |  unsplash.com

info gambar

Seoul adalah | unsplash.com


Korea Selatan disebut sebagai salah satu “negara paling inovatif” di dunia. Suatu pencapaian yang menakjubkan dari bermula sebagai negara pertanian, kemudian terlibat perang dan meloncat menjadi salah satu negara yang kreatif.

Menurut Indeks Inovasi Bloomberg tahun 2020, Korea Selatan menduduki ranking ke-2 setelah Jerman. Berdasar data dari Indeks Inovasi Global yang diterbitkan Universitas Cornell Amerika Serikay, INSEAD, dan the Organisasi Kekayaan Intelektual Dunia, Korea Selatan menduduki rangking 11 dan Jerman 9 di antara 129 negara yang diranking.

Kemajuan itu dicapai karena gencarnya kebijakan memperkuat R&D nya (Penelitian dan Pengembangan), termasuk banyaknya jumlah peneliti dari Perguruan Tinggi dan sektor industri. Intensitas yang tinggi dibidang R&D ini menurut Tim Mazzarol dari the University of Western Australia di Perth, menjadikan negara ini sebagai negara utama didunia dibidang teknologi informasi dan teknologi sebagai dampak kolaborasi yang kuat antara pemerintah, sektor industri, dan perguruan tinggi.

Pembangunan R&D yang massif itu dimulai dari rencana pembangunan ekonomi pada tahun 1962, yang kemudian dibentuknya Institut Sains dan Teknologi Korea (KIST) pada tahun 1966, dan Kementrian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi pada tahun 1967.

Dampak dari keberhasilan ini, memunculkan kelompok industri atau pengusaha besar yang disebut Chaebol yang didorong pemerintah untuk mengembangkan R&D-nya dan diproteksi oleh pemerintah dari serangan kompetitor. Para Chaebol itu antara lain Samsung, Lotte, dan LG, yang berhasil menguasai pasar dunia dibidang petrokimia, otomotif, galangan kapal, dan perangkat elektronik.

Nampaknya Indonesia perlu mengaca pada kebijakan negara Korea Selatan ini, terutama pada strategi kolaborasi yang kuat antara pemerintah, perguruan tinggi, dan industri. Potensi orang pintar di negeri kita ini banyak sekali, tinggal ada tidaknya Keinginan politik dari negara.

Oleh: Ahmad Cholis Hamzah

Penulis aktif menulis di Koran Jawa Pos, Surya, dan rutin menulis di GNFI. Beberapa tulisannya acapkali dimuat/dikutip Koran Malaysia dan Thailand. Penulis juga tersohor sebagai akademisi sekaligus professional di kota kelahirannya, Surabaya.

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Advertisement
Click to comment

Budaya Pop

Mencari Skenario Meme ‘PPKM Diperpanjang Sampai….’ yang Paling Mungkin Terwujud

Mencari Skenario Meme ‘PPKM Diperpanjang Sampai….’ yang Paling Mungkin Terwujud

[ad_1]

Viral meme lawakan ppkm diperpanjang oleh netizen Indonesia

Foto ilustrasi via Getty Images/Kolase oleh VICE

Pada Jumat (16/7) pekan lalu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko-PMK) Muhadjir Effendy pede banget bilang kalau Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat bakal diperpanjang sebelas hari sampai akhir Juli. Muhadjir mengaku terlibat rapat kabinet terbatas, dan mengklaim Presiden Jokowi sudah ketok palu untuk memperpanjang PPKM.

Ternyata muncul twist plot, ketika pemimpin tertinggi program PPKM Darurat, yakni Menteri Koordinator bidang Kemaritimian dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, menyanggah pengumuman koleganya sendiri. Luhut menjelaskan saat ini pemerintah pusat masih di tahap evaluasi sebelum mengambil keputusan apakah PPKM akan diperpanjang. Dalam konferensi pers pada 17 Juli 2021, Menko Marves menyebut hasil evaluasi baru akan disampaikan dua-tiga hari ke depan.

Gara-gara perbedaan informasi ini, para menteri seakan tidak punya WhatsApp Group buat saling berbagi info, membuat masyarakat pasrah menghadapi caurnya koordinasi para pejabat elite. Di tengah kebingungan, netizen menemukan celah menghibur diri dengan komedi. Menertawakan keadaan jadi pilihan praktis. Selama akhir pekan lalu, pengguna medsos kompak bikin plesetan judul berita dari media yang semula “Pakar Usul PPKM Darurat Diperpanjang sampai Agustus” menjadi template meme.

Hasilnya kocak. Netizen berlomba-lomba bikin durasi waktu yang menggambarkan betapa panjangnya PPKM Darurat akan berlangsung versi mereka sendiri. Format meme ini sederhana. Judul berita yang awalnya tayang di Detik.com itu diedit menjadi: “PPKM darurat diperpanjang sampai [masukkan informasi yang mustahil terwujud dalam waktu dekat/sulit dipastikan bisa tercapai atau tidak]”.

Berikut beberapa hasil kreativitas netizen menertawakan nasib buruk yang sedang dihadapi bangsa ini:

dan banyak lagi meme daur ulang, terutama yang secara klise berharap si dia suatu saat tertarik pada kita.

VICE, sebagai media sangat serius meninjau meme, memutuskan menelaah berbagai meme tersebut untuk menjawab satu pertanyaan besar: meme mana yang masih masuk akal untuk mengindikasikan perpanjangan PPKM Darurat? Artinya, skenario dalam format meme PPKM diperpanjang ini harus mungkin terwujud di dunia nyata, tidak berdasar fantasi atau tafsir produk budaya pop yang terlampau spekulatif, atau dari awal diniatkan mustahil terwujud.

Mari kita simak.

PPKM Darurat Diperpanjang sampai TAP MPRS 1966 Dicabut

TAP MPRS 1966 mengacu pada Pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI). TAP MPRS ini jadi salah satu legitimasi buat mengesankan Komunisme sebagai hantu jahat yang bergentayangan di Nusantara, selain pocong dan kuntilanak.

Tudingan komunis tanpa Tuhan dan anarkisme pada seorang komunis bikin bulu kuduk banyak awam merinding. Jangankan rakyat semenjana, Presiden Jokowi saja terus diganggu sama isu komunis tiap jelang pemilu. Tapi, di sisi lain, adanya TAP MPRS ini membuat berbagai diskriminasi dan pelanggaran HAM yang dilakukan negara tak pernah diusut secara layak. Jangankan mengusut, ketika akademisi atau anak muda berniat mempelajari apa yang sebenarnya terjadi selama akhir September 1965 sampai 1966 sering kali kegiatan itu diberangus aparat.

Dibanding menemukan naskah asli Surat Perintah Sebelas Maret, yang menjadi dasar kelahiran Orde Baru dan mengerek Suharto menjadi diktator selama 32 tahun, pencabutan TAP MPRS 1966 masih lebih mungkin dilakukan. Terutama ketika aktor-aktor yang berkepentingan dengan adanya stigmatisasi terhadap ideologi politik tersebut sudah pada koit. Bila TAP MPRS itu sudah tak ada, rekonsiliasi dan investigasi soal apa yang terjadi pada 1965 bisa ditutup dengan keadilan bagi semua pihak yang jadi korban. Bahkan sosok jenderal reformis di TNI pun sebetulnya sudah mendukung adanya rekonsiliasi, sebagai jalan terbaik untuk, contohnya Letjen (Purn) Agus Widjojo yang kini menjadi gubernur Lembaga Ketahanan Nasional.

“Konsep rekonsiliasi sebagai salah satu alternatif pengakhiran pelanggaran berat hak asasi, khususnya tragedi 1965,” kata Agus ke awak media pada 2016. Di masa depan, imbuh Agus, idealnya bisa terwujud “unsur pengungkapan kebenaran, penerapan keadilan yang bersifat restoratif, perbaikan hak-hak korban, serta kebijakan mengganti kerugian korban.”

Sementara soal naskah asli supersemar, Arsip Nasional Indonesia tampaknya angkat tangan dan hanya bisa mengharapkan mukjizat. Alhasil, kita bisa melihat skenario pencabutan TAP MPRS 1966 jauh lebih mungkin terwujud, dibanding meme dalam format serupa yang menyenggol isu politik.

Ada yang berandai, PPKM Darurat diperpanjang sampai Yogyakarta tak lagi monarki dan warganya bisa merasakan Pilgub. Aduh, ini mustahil. Kesultanan Yogyakarta selalu diklaim sebagai salah satu pendukung terbesar republik, sampai menyumbang 6,5 juta gulden (disebut-sebut sekitar Rp500 triliun) untuk membiayai berdirinya NKRI.

Tidak perlu menyebutkan pertanyaannya penemuan dalang pembunuh Munir, itu mustahil selama para elit politik masih saling butuh satu sama lain 😛

PPKM Darurat Diperpanjang sampai Arsenal Juara Liga Champions

Karena musim depan Arsenal enggak main di Liga Champions, artinya kemungkinan tercepat skenario ini baru bisa terjadi pada 2022/2023.

Untuk mencapainya tentu bukan hal mustahil. Pelatih Mikel Arteta bisa memanfaatkan pengalamannya di musim lalu untuk semakin matang meracik taktik. Syaratnya, Arsenal mesti aktif di bursa transfer musim panas ini agar skuad memiliki kedalaman dan kualitas apik.

Saran kami, Arsenal mesti merekrut beberapa pemain baru. Lionel Messi, Kylian Mbappe, dan Cristiano Ronaldo adalah tiga pemain awal yang harus dibeli. Karena harga ketiganya mahal, Arsenal bisa ngutang di Koperasi Simpan Pinjam area London atau mulai bikin bisnis skema Ponzi sebagai penghasilan sampingan.

Hemat kami, Arsenal juga mesti merekrut Pierluigi Collina, wasit Italia yang enam kali jadi wasit terbaik FIFA, untuk jadi asisten pelatih Arteta. Collina bisa dipasang di sebelah Arteta setiap pertandingan untuk menakut-nakuti wasit Eropa agar mau memberi Arsenal hadiah penalti tujuh kali dalam semenit.

Untuk menjamin kepastian juara, Arsenal baiknya juga membeli Presiden UEFA Aleksander Čeferin buat dijadiin pembina klub. Konflik kepentingan Čeferin sebagai Presiden UEFA sekaligus Pembina Klub Arsenal bisa memuluskan langkah klub London tersebut juara. Siapa tahu undian grup bisa diatur Čeferin biar Arsenal dapat lawan klub dari Montenegro, Kosovo, atau Vatikan aja lah.

PPKM Darurat Diperpanjang sampai ‘Hunter X Hunter’ Dilanjutkan

Salah satu manga terlaris sepanjang masa ini emang lagi hiatus panjang sejak 2019. Penciptanya, Yoshihiro Togashi, disebut-sebut mengalami sakit punggung kronis sehingga enggak kuat menggambar berjam-jam untuk menyelesaikan plot komik. Ada juga yang menyebut Yoshihiro mengalami gangguan saraf dan terbakar habis. Kondisi makin suram karena ditambah laporan bahwa doi menolak menggunakan jasa orang lain menggambarkan komik yang udah dibikinnya dari 1998.

Tapi kalau boleh jujur, skenario ini cukup masuk akal dibanding yang lain. Cara mewujudkannya, netizen Indonesia cukup membanjiri kolom komentar akun medsos Yoshihiro dengan permintaan melanjutkan komik.

Bilang aja kalau PPKM Darurat Indonesia bergantung pada kepastian kelanjutan cerita Gon dan Killua. Kalau berhasil, bukan hanya PPKM selesai saja keuntungannya, rasa cinta pencandu manga seluruh dunia juga akan mengalir deras. Ini akan memberikan tekanan kepada Microsoft untuk mengubah gelar netizen Indonesia menjadi netizen paling kawaii.



[ad_2]

Sumber Berita

Continue Reading

Opini

“Aku Seperti di New York”

“Aku Seperti di New York”

[ad_1]

Saya hari-hari ini seperti merasa tinggal di New York City, Amerika Serikat, meskipun sedang berada di Surabaya dan Sidoarjo Jawa Timur. .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Continue Reading

Asia

Hak Pembantu Sering Diabaikan Saat Pandemi

Hak Pembantu Sering Diabaikan Saat Pandemi

[ad_1]

Hak kesehatan Pekerja rumah tangga di Indonesia terabaikan selama pandemi Covid-19

Asisten rumah tangga membersihkan jendela apartemen di Jakarta pada 22 Januari 2012. Foto: Romeo Gacad/AFP via Getty Images

Mama mengabariku kalau nenek sedang sakit, gejalanya sekilas lebih mirip pneumonia, tapi tak ada jaminan itu bukan Covid-19. “Nenek batuk darah,” kata ibu dari kampung halamannya di Kota Medan. Orang tuaku pindah ke Ibu Kota Sumatra Utara itu setelah pensiun.

Kesehatan ‘ah ma’, panggilan keluargaku buat nenek, semakin memburuk setahun terakhir. Terutama setelah beliau didiagnosis mengidap demensia. Pertama, nenek kehilangan fungsi motorik dan limbiknya. Lalu setelah itu, nenek mulai hilang ingatan dan mudah tersesat. Nenek sering jatuh dan membenturkan kepala ke tembok hingga berdarah. Rambutnya kian hari kian menipis. Nenek tidak mau makan dan tidak kuat menahan masalah pencernaan dan sakit fisik yang dideritanya.

“Kena Covid kali?” jawabku yang bimbang harus bagaimana. Aku merasa bersalah tidak bisa banyak membantu, tapi juga berharap ah ma bisa segera terbebas dari kabar buruk ini.

Keluargaku bingung nenek positif Covid-19 atau tidak. Rumah sakit di seluruh Kota Medan sedang tidak bisa menerima nenek, karena kapasitas penuh. Mama bilang paman dan bibi yang tinggal bersama ah ma sudah keluar dari rumah untuk jaga-jaga. Akan tetapi pembantu keluarga, Atun, harus tetap menemani nenek. Atun, yang namanya kuubah untuk menjaga privasi, merantau dari Kabupaten Malang, 2.000 kilometer jauhnya dari rumah nenek. Dia dua tahun terakhir bekerja untuk keluargaku, kelas menengah dari latar etnis Tionghoa.

Aku langsung membatin: Bibi dan anak-anaknya harus melindungi kesehatan mereka sendiri karena risiko pandemi, tapi kenapa Atun tidak dapat kesempatan yang sama? Aku syok mendengarnya, tapi tidak terlalu kaget juga. Sama seperti kebanyakan orang Asia dari generasi lebih tua, mama masih memegang bias terhadap ras dan kelas sosial tertentu. Dan layaknya anak muda Asia lainnya, aku tahu cara keluarga mamaku memperlakukan Atun salah, tapi tidak cukup berani menyanggahnya.

Mamaku sedang tidak baik-baik saja dan keluarga besar kami diliputi kesedihan yang teramat dalam akibat kondisi ah ma. Semuanya memang serba sulit. Kondisi keuangan keluarga sedang suram, semua rumah sakit penuh, dan pandemi tak kunjung berakhir. Mendengar ucapan mama soal nasib pembantu kami sebetulnya menguji batas kesabaranku, tapi aku tak yakin ada jawaban yang tepat.

Aku akhirnya tetap menyuarakan pikiranku, meski rasanya seperti anak yang tidak berbakti.

“Atun memang cuma pembantu, tapi dia juga manusia,” kataku, tidak bisa menyembunyikan amarah.

Aku meminta mama agar Atun setidaknya divaksin lengkap dan diberi APD. Dia juga berhak memilih mau tinggal bersama ah ma atau tidak. Atun harus mendapat upah lebih tinggi kalau setuju merawat nenek, dan jangan dipecat kalau menolak.

Ibu langsung mencak-mencak.

Anak macam apa kamu ini? Memangnya sudah bisa kasih apa ke orang tua yang telah membesarkanmu, kok berani mengkritik seperti itu? Memangnya kamu tahu apa sampai bisa menggurui keluarga? Untuk apa kamu peduli sama pembantu? Memangnya kamu pernah diminta atau ikut mengurus nenek?

Aku dianggap mama cuma peduli sama diri sendiri, dan pikiranku terlalu kebarat-baratan karena kuliah di luar negeri. Aku dianggap anak durhaka yang pantas masuk neraka.

Mendadak jadi aku yang salah. Orang tua melahirkanku ke dunia ini, dan mereka merasa selalu benar. Aku kehabisan akal harus bagaimana lagi. Aku memang merasa bersalah menentang omongan mereka, tapi aku juga tidak enak hati kalau diam saja.

Satu yang pasti, tentunya bukan hanya aku yang mengalami konflik batin ini.

Pandemi Covid-19 seharusnya semakin menyadarkan banyak orang betapa minimnya perlindungan dan pengakuan terhadap pekerja rumah tangga (PRT) di Indonesia. Mereka sering kali dianggap rendah derajatnya oleh keluarga yang mempekerjakan. Berbagai laporan media mengungkapkan, PRT rentan terinfeksi virus Sars-CoV-2 karena mereka diminta mengerjakan hal-hal yang membahayakan kesehatan, seperti merawat lansia dan bepergian ke luar rumah, tanpa perlindungan tambahan atau asuransi kesehatan.

Beberapa PRT mengaku dipaksa membeli sendiri masker dan pensanitasi tangan dengan gaji yang terlampau kecil itu, karena tidak disediakan oleh majikan. Mereka juga terancam kehilangan pekerjaan kapan saja, terkadang tanpa pesangon. Berbagai permasalahan seperti ini sudah dialami para PRT, jauh sebelum pandemi.

Sayangnya, sistem pembantu rumah tangga di negara ini memang tidak pernah berubah drastis dari praktik kelam masa Hindia Belanda. Sejarah kemunculan pembantu rumah tangga sebagai profesi tersendiri di Indonesia, bertautan dengan gencarnya praktik perbudakan zaman kolonial sekitar tahun 1800-an.

Pada waktu itu, anak laki-laki kerap dipekerjakan sekaligus sebagai buruh (mengurus kebun majikan) serta babu untuk melayani kebutuhan rumah tangga orang Eropa, pengusaha Cina, hingga kalangan aristokrat Melayu dan Jawa. Istilah “Budak” berarti negatif, sehingga diganti menjadi “pembantu” setelah Indonesia merdeka. Pembantu jelas bukan budak karena dibayar untuk jasanya, tapi sebagian besar beban kerja, dan cara mereka diperlakukan, tetap mirip babu.

Pembantu rumah tangga biasanya datang dari desa dengan latar belakang pendidikan, sumber daya dan kesempatan kerja yang terbatas. Mereka kerap dipekerjakan penuh waktu dan akhirnya ikut tinggal di rumah majikan. Mereka mengerjakan seluruh urusan rumah tangga, dari mencuci pakaian, menyapu lantai, hingga mengurus anak majikan.

Jam kerja pembantu sangat tidak menentu. Mayoritas PRT lazimnya sudah sibuk bersih-bersih di saat majikan baru bangun tidur, dan baru bisa merampungkan pekerjaan di malam hari. Tidur menjadi satu-satunya waktu untuk mereka beristirahat. Meski tanggung jawab PRT sangat besar, upah yang diterima hanya bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan banyak dari mereka yang tidak mendapatkan hari libur sama sekali.

Ada yang berpendapat bekerja sebagai pembantu di kota besar lebih baik daripada mengais rezeki di desa. Walaupun begitu, nasib PRT yang bermigrasi ke kota besar tak serta-merta menjadi lebih baik setelahnya. Rerata gaji “layak” PRT di Indonesia berkisar di angka Rp2 juta hingga Rp3 jutaan per bulan, masih di bawah UMR banyak wilayah. Survei Badan Pusat Statistik pada Februari 2020, menyebut daya beli riil pembantu rumah tangga yang bisa disisihkan dari gajinya, secara rata-rata per bulan hanya Rp420 ribu.

Beban kerja mereka jelas tidak mudah, tapi kenapa profesi ini masih sangat disepelekan?

Aku melewati masa kanak-kanak dengan bantuan si Mbak (bukan Atun) di Jakarta, seperti keluarga kelas menengah lainnya. Banyak keluarga yang punya PRT, sehingga aku tidak terlalu menghiraukan praktik ini. Aku baru menyadari ada yang bermasalah dari profesi pembantu di Indonesia setelah pindah ke Amerika Serikat untuk kuliah. Di sana, hanya konglomerat yang mampu mempekerjakan PRT.

Aku menggosok kamar mandi asrama untuk mendapatkan pemasukan tambahan selama kuliah. Suatu hari, ketika aku menahan napas sambil mengikis kotoran di toilet, aku tersadar pembantu di rumah bekerja keras seperti ini setiap hari dengan upah yang lebih kecil daripada penghasilanku kerja sambilan.

Sementara aku bisa membagi waktu antara kerja sambilan, bersenang-senang, sambil menyeselesaikan kuliah, sebagian besar pekerja rumah tangga di Indonesia—dan banyak negara Asia lain—tidak dapat melakukan hal yang sama. Sebab batas antara pekerjaan dan rumah sangat kabur bagi mereka. Setiap pembantu pasti memiliki impian dan jati diri mereka sendiri, tapi kita hanya memandang mereka sebagai pembantu. Seakan identitas mereka sebagai pembantu sudah final sebagai manusia dewasa. Masalah ini masih menjadi momok di Indonesia dan negara-negara lain dengan ketimpangan ekonomi mencolok, tingkat pendidikan yang rendah, tingkat kemiskinan yang tinggi, dan hak-hak buruh yang terbatas.

Si Mbak sudah bekerja di rumahku sejak umurnya baru 18 dan tinggal bersama kami sampai berusia 40-an. Mbak selalu ada untukku. Dia yang menyuapiku makanan, memakaikan baju, menjemputku sepulang sekolah, menyisirkan rambut, bahkan mendengarkan segala curhatanku semasa remaja. Dia tidak bisa bersikap santai, walaupun telah bekerja puluhan tahun untuk keluargaku. Saat menonton TV, aku duduk di sofa, sedangkan Mbak “harus” duduk di lantai. Tak lama kemudian dia biasanya pergi untuk mengerjakan hal lain.

Mbak sering memuji penampilanku setiap pulang ke Indonesia untuk liburan. Dia bilang aku makin langsing dan tinggi, kulitku juga bagus—sementara dia merendahkan dirinya sendiri, dengan bilang tidak ada orang yang mau dengannya karena dia sudah tua dan gemuk.

Orang tuaku menjual rumah di Jakarta sebelum balik ke kampung halaman. PRT kami diberhentikan dari pekerjaannya dan diberi uang pesangon. Ibu bilang si mbak bisa membeli sejumlah properti di desanya untuk membantu keluarga, setelah bertahun-tahun bekerja untuk kami. Kepergian Mbak sangat menyedihkan. Aku harap kelak bisa memberinya kompensasi lebih karena keberadaannya sebagai pembantu sangat penting di rumah kami.

Sejujurnya, orang tuaku menggaji pembantu dengan layak. Ibu sering membanggakan kemurahan hatinya karena suka memberi hadiah dan bonus kepada ART. Ayah ibu juga tidak pernah memperlakukan pembantu dengan kasar. Tapi semua itu hanya kedok, setelah kupikirkan ulang.

Seolah-olah memperlakukan pekerja secara wajar patut dipuji. Mereka menyebut diri sendiri majikan yang baik, tapi wujud asli ortuku sendiri muncul ketika berurusan dengan urusan hidup dan mati. Contohnya adalah Atun yang mereka paksa menemani nenek. Terpampang jelas bahwa orang tua, dan keluarga besarku, menganggap enteng nyawa Atun. Seakan kesehatan Atun tidak sepenting kesehatan tante, sepupu, atau nenek.

Selama pandemi, kita sering menyaksikan banya keluarga menyuruh pembantu mereka belanja ke pasar yang ramai atau mengambil paket langsung dari kurir, acap kali tanpa mempertimbangkan risiko kesehatan atau memberi perlindungan yang lebih baik. Aku tidak yakin mayoritas keluarga kelas menengah terlampau peduli pada situasi kesehatan para pembantunya.

Sekarang aku menetap di Singapura dan tidak punya PRT, tapi pengalaman bertengkar dengan ortu membuka mataku terhadap perlakuan yang tidak adil di banyak rumah tangga Asia, tidak cuma Indonesia. Aku sejak dulu sering mengkritik teman yang mengejek atau merendahkah kebiasaan pembantu keluarga mereka.

Karena itu jugalah aku memprotes keputusan mamaku kali ini. Mengubah pola pikir orang memang sulit, tapi aku optimis suatu saat mereka bersedia mendengarkanku, lalu memperlakukan pembantu secara lebih manusiawi.

Jangan lupa baca tulisan-tulisan Alice di blog pribadinya dan ikuti kesehariannya di Instagram.



[ad_2]

Sumber Berita

Continue Reading

Trending Dari BuzzFeed

close