Connect with us

VIRUS CORONA

Pasar di Tunisia Ramai Jelang Ramadan karena Tradisi dan Takut Harga Naik

Pasar di Tunisia Ramai Jelang Ramadan karena Tradisi dan Takut Harga Naik


Orang-orang datang ke pasar makanan di kota lama Tunis untuk berbelanja menjelang bulan Ramadan. Ini merupakan kebiasaan bagi banyak Muslim untuk menyambut Ramadan dengan berbelanja, yang kebanyakan berupa produk-produk makanan.

Tahun ini, sebagian dari mereka tergerak untuk berbelanja karena khawatir kenaikan harga-harga akan membuat sejumlah bahan makanan menjadi tak terjangkau bagi mereka.

Seorang warga setempat bernama Hedia mengatakan, “Semuanya sangat mahal sekarang ini, semuanya. Cabai, tomat, semuanya mahal. Bagaimana nanti harga-harga selama Ramadan?.”

Hedia menambahkan satu pak telur berisi empat butir, harganya senilai sekitar 5.800 rupiah, dan tidak ada produk yang harganya tidak naik.

Residents wearing face masks shop for the Ramadan in Tunis, Thursday, April 23, 2020.

Residents wearing face masks shop for the Ramadan in Tunis, Thursday, April 23, 2020.

Salah, seorang warga setempat, menambahkan, “Kedatangan orang-orang ke pasar dipengaruhi masalah keuangan, karena orang khawatir harga-harga akan naik nantinya dan ini juga tergantung pada berapa banyak uang yang mereka miliki sekarang ini. Bagi yang lainnya, belanja ini terkait tradisi Tunisia, yang akan mendorong kenaikan harga.”

Sementara itu, seorang pedagang buah, Mohamed Salah, mengemukakan, “Orang berdatangan di pasar sebelum Ramadan karena kebiasaan, di mana Muslim menyambut bulan ini dengan membeli kebutuhan mereka. Mereka membeli produk-produk yang dapat disimpan beberapa hari sebelum Ramadan dan membeli keperluan tambahan saja selama Ramadan.”

Yang lainnya ke pasar untuk berbelanja pada saat-saat terakhir menjelang diberlakukannya langkah-langkah terkait pandemi virus corona.

Tunisia memperketat jam larangan keluar rumah pada malam hari menjelang Ramadan karena meningkatnya kasus COVID-19 di berbagai penjuru negara di Afrika Utara itu.

Seorang perempuan berjalan kaki di tengah pandemi COVID-19 di Tunisia. 9 April 2021. Tunisia memperpanjang jam malam malamnya tiga jam dan memperketat pembatasan lain menjelang Ramadan, menyusul peningkatan kasus COVID-19..

Seorang perempuan berjalan kaki di tengah pandemi COVID-19 di Tunisia. 9 April 2021. Tunisia memperpanjang jam malam malamnya tiga jam dan memperketat pembatasan lain menjelang Ramadan, menyusul peningkatan kasus COVID-19..

Bulan puasa biasanya ditandai dengan kerumunan banyak orang di toko-toko, kafe-kafe dan tempat-tempat umum lainnya, serta pertemuan keluarga di berbagai penjuru negara itu.

Pihak berwenang memperpanjang jam malam yang berlaku dari pukul 7 malam hingga pukul 5 pagi, dimulai sekitar tiga jam lebih cepat daripada jam malam yang semula diberlakukan mulai pukul 10 malam. Efektif mulai Jumat pekan lalu, jam malam tersebut diberlakukan setidaknya hingga 30 April.

Tetapi banyaknya orang yang datang ke pasar-pasar tidak membawa kabar baik bagi pemilik usaha.

Seorang warga Tunisia berbelanja untuk kebutuhan menjelang Ramadan, di sebuah pasar di Tunisia, Kamis, 23 April 2020.

Seorang warga Tunisia berbelanja untuk kebutuhan menjelang Ramadan, di sebuah pasar di Tunisia, Kamis, 23 April 2020.

Penjual busana tradisional mengatakan sekarang ini biasanya adalah masa-masa yang paling menjanjikan dalam setahun. Tetapi Ali, salah seorang penjual baju tersebut, mengatakan, “Ramadan adalah kesempatan yang kami tunggu-tunggu untuk menjual busana perempuan tetapi sekarang ini, tidak ada yang terjual. Tidak ada warga Tunisia yang mencari baju, baik untuk anak-anak maupun orang dewasa.”

Bayangan kekecewaan menggantung di atas negara di Afrika Utara itu, yang telah mengalami tekanan akibat ekonomi yang bermasalah dan janji-janji yang tidak dipenuhi. Pemerintah belum mampu mengubah perekonomian yang berada di ambang kebangkrutan.

Menurut angka-angka terbaru yang diterbitkan pekan lalu oleh Kementerian Kesehatan Tunisia, jumlah kematian akibat COVID-19 lebih dari 9.000, dengan kasus secara keseluruhan mendekati 265 ribu di antara 11,7 juta orang penduduk negara itu.

PM Hichem Mechichi telah mengesampingkan tindakan lockdown nasional yang baru, mengingat apa yang ia katakan sebagai situasi ekonomi yang sulit di negara itu sekarang ini. [uh/ab]



Source link

Advertisement
Click to comment

VIRUS CORONA

AS Setujui Vaksin Pfizer untuk Remaja

AS Setujui Vaksin Pfizer untuk Remaja



Badan Urusan Pangan dan Obat-Obatan Amerika Serikat (Food and Drugs Administration/FDA), Senin (10/5), mengeluarkan otorisasi vaksin COVID-19 yang dikembangkan Pfizer-BioNTech untuk digunakan oleh remaja berusia paling muda 12 tahun. Langkah itu memperluas kelompok warga yang memenuhi syarat untuk divaksinasi.

FDA mengatakan vaksin itu aman dan efektif bagi remaja berusia 12-15 tahun. Sebelumnya vaksin yang sama tersedia untuk penggunaan darurat bagi anak berusia 16 tahun dan yang lebih tua.

“Langkah hari ini memungkinkan populasi yang lebih muda untuk mendapat perlindungan dari COVID-19, membuat kita semakin dekat untuk memulai kembali kehidupan normal dan mengakhiri pandemi ini,” ujar penjabat komisioner sementara FDA Janet Woodcock dalam sebuah pernyataan.

Vaksin Pfizer ini adalah vaksin pertama di Amerika yang disetujui untuk orang yang berusia lebih muda. Persetujuan itu diberikan ketika pejabat-pejabat Amerika berupaya memvaksinasi lebih banyak warga dan tampaknya akan mendorong jutaan siswa SMP dan SMA untuk mencoba divaksinasi sebelum kembali ke sekolah pada musim gugur nanti.

Meskipun anak-anak yang terjangkit COVID-19 umumnya hanya memiliki gejala ringan atau bahkan tanpa gejala sama sekali, mereka masih dapat menularkan virus itu pada orang lain.

Pfizer pada Maret lalu merilis hasil kajian pendahuluan dari uji coba vaksin yang melibatkan lebih dari 2.000 sukarelawan berusia 12-15 tahun. Uji coba itu menunjukkan tidak satu pun remaja yang telah divaksinasi penuh mengidap COVID-19 atau mengalami efek samping yang serius. [em/mg/pp]



Source link

Continue Reading

VIRUS CORONA

Jumlah Kasus Global Virus Corona Mandek

Jumlah Kasus Global Virus Corona Mandek



Dirjen Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan badan itu melihat jumlah kasus virus corona global mandek. Jumlah kasus di Amerika dan Eropa, dua wilayah yang paling terimbas, malah menunjukkan penurunan.

Pada briefing Senin, Ghebreyesus mengatakan ia menyambut “setiap penurunan” tetapi memperingatkan “kita pernah dalam situasi ini.” Ia menyarankan negara-negara agar tidak terlalu cepat melonggarkan pembatasan kesehatan masyarakat. Ia mengatakan, sejauh ini negara-negara berkembang baru mencatat sekitar 7% dari ratusan juta vaksinasi COVID-19.

Menurut Dirjen WHO, vaksin mencegah penyakit, tetapi kita juga bisa mencegah penularan dengan langkah kesehatan masyarakat yang sudah sangat efektif di banyak tempat. Pesannya kepada para pemimpin adalah lakukan setiap langkah untuk menurunkan angka penularan sekarang juga.

Ia menambahkan, bahkan negara-negara dengan tren epidemi yang menurun harus mempersiapkan kemungkinan bahwa varian baru dapat membatalkan kemajuan yang dicapai dalam vaksinasi.[ka/lt]



Source link

Continue Reading

VIRUS CORONA

2 Varian Virus Corona yang Sangat Menular Ditemukan di Afrika Selatan

2 Varian Virus Corona yang Sangat Menular Ditemukan di Afrika Selatan



Pejabat-pejabat Afrika Selatan mengatakan dua varian virus corona yang sangat menular kini ditemukan di negara itu, sementara negara di Afrika yang paling terimbas pandemi itu bersiap akan kemungkinan lonjakan kasus baru.

Pejabat-pejabat dari Institut Nasional untuk Penyakit Menular mengumumkan Minggu malam bahwa mereka telah mendeteksi varian B.1.617.2 dan B.1.1.7 di antara populasi Afrika Selatan.

Dengan hanya di bawah 1,6 juta kasus yang terkonfirmasi, Afrika Selatan memimpin benua itu dalam penularan virus corona. Dari jumlah tersebut, sudah hampir 55.000 orang meninggal.

B.1.617.2 adalah salah satu varian yang saat ini menyebar di India. Pusat Data Virus Corona Johns Hopkins mengatakan 22,6 juta kasus COVID-19 telah dilaporkan, namun para pakar kesehatan memperingatkan bahwa mereka yakin jumlah kasus dan kematian yang sebenarnya di India jauh lebih banyak.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan varian virus corona di India sebagai ‘mengkhawatirkan.’ [ka/lt]



Source link

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending Dari BuzzFeed

close