Connect with us

Wisata

Omed-Omedan, Pelukan-Ciuman Ikat Tali Persaudaraan di Bali

Omed-Omedan, Pelukan-Ciuman Ikat Tali Persaudaraan di Bali

[ad_1]

Foto Omed-omedan | © Wikimedia Common


Bali merupakan salah satu daerah yang kaya akan tradisi dan budaya. Salah satu yang unik adalah tradisi Omed-omedan, atau yang kerap disebut sebagai festival ciuman massal. Tradisi ini selalu diadakan setiap tahun oleh pemuda-pemudi di Banjar Kaja, Sesetan, Denpasar Selatan, Bali.

Omed-omedan dalam bahasa Indonesia berarti atraksi yang menarik. Acara ini biasanya diadakan setelah Hari Raya Nyepi yaitu pada hari itu api Api untuk menyambut Tahun Baru Saka. Perayaan ini berupa festival, dan biasa diikuti oleh pemuda-pemudi yang berumur 17-30 tahun yang tentunya belum menikah. Walau sering disebut sebagai festival ciuman massal, omed-omedan sebenarnya punya makna mendalam.

Dalam upacara omed-omedan, ada banyak hal yang harus dipersiapkan. Mulai dari panitia hingga memilih muda-mudi yang akan dipasangkan. Setelah acara sudah siap, upacara diawali terlebih dahulu dengan berdoa di Pura Banjar yang dipimpin oleh Jero Mangku. Hal ini bertujuan memohon izin kepada Tuhan agar pelaksanaan omed-omedan berjalan dengan lancar tanpa hambatan.

“Sebelum acara dimulai memang dilakukan ritual. Peserta melakukan persembahyangan bersama di pura, dipercikkan air suci, dan memohon keselamatan agar pelaksanaan acara nantinya berjalan dengan baik,” kata I Gusti Ngurah Eka Putra, Tokoh Adat Banjar Kaja Sesetan, seperti dilansir dari Kompas (22/3/2015).

Tumpek Wariga, Ungkapan Syukur Masyarakat Bali Atas Kesuburan Tanaman

Kemudian, muda-mudi ini digiring menuju lokasi omed-omedan yang sebelumnya sudah dibasahi air yang dilanjutkan dengan tari-tarian. Muda-mudi yang dipisah dalam kelompok laki-laki dan perempuan ini tidak serta merta langsung bertemu sekaligus. Ada cara unik yang harus ditempuh, yakni kedua pasangan harus dibopong untuk bertemu satu dengan yang lain.

Setiap kelompok ditentukan jumlah anggotanya, untuk kelompok laki-laki berjumlah 40 orang sedangkan perempuan berjumlah 60 orang. Perbedaan ini dimaksudkan agar kekuatan kedua kelompok menjadi seimbang. Di dalam permainan pada tradisi ini, ada kepala kelompok yaitu seseorang yang ditempatkan paling depan.

Dalam perjalanan, guyuran serta semprotan air tak berhenti mengucuri mereka. Ketika bertemu di tengah, si pria akan berusaha mencium atau memeluk si wanita. Tugas si wanita adalah menghindar. Namun, tugas mereka inipun tidaklah mudah karena orang-orang akan begerumul dan berusaha untuk memisahkan mereka.

Setelah selesai, pasangan akan dikembalikan ke kelompok masing-masing dan begitu juga untuk pasangan selanjutnya hingga semua peserta habis. Dalam tradisinya, tidak terdapat unsur berciuman dalam upacara omed-omedan, karena hal ini bukanlah keharusan, cukup berangkulan saja.

Namun pada praktiknya, kadang peserta terlalu berlebihan hingga sampai mencium lawan jenisnya. Sehingga banyak yang salah mengartikan acara ini sebagai ciuman massal. Kalau dimaknai secara ritual, adat ini bermaksud untuk keakraban saja, menjaga kerukunan warga, dan saling kasih sayang.

“Banyak yang bilang ciuman massal. Ya memang kadang ada oknum pemudanya terlalu bersemangat sehingga pemudinya banyak yang malu. Sebenarnya berangkulan, tapi ada saja yang jahil sampai dicium,” tambahnya.

Sesuai kesepakatan panitia dengan peserta upacara, omed-omedan akan berakhir jika peserta sudah mulai kelihatan letih, dan hari sudah menjelang sore, maka di sanalah petugas akan menghentikan upacara tersebut. Biasanya acara ini akan dimulai pada pukul 14.00 WITA kemudian berakhir pada jam 17.00 WITA.

Tradisi omed-omedan memang punya makna mendalam, yaitu untuk menjalin silaturahmi. Dengan melakukan tradisi ini, diharapkan hubungan antara anak muda di Banjar Kala, dapat semakin erat. Tradisi juga memiliki hubungan yang erat dengan rangkaian Hari Raya Nyepi karena sebagai ajang masima karma atau meningkatkan rasa persaudaraan.

Tradisi turun-temurun wajib

Tradisi omed-omedan dipercaya mulai dilakukan sekira abad ke-17 yang berawal ketika raja dari Puri Oka Sesetan sedang sakit keras saat menjelang Hari Raya Nyepi. Kala itu tidak ada seorang pun tabib yang mampu menyembuhkan Sang Raja, dirinya kemudian beristirahat di kamarnya.

Sehari setelah Hari Raya Nyepi, masyarakat mengadakan permainan omed-omedan, sehingga suasana di depan benteng sangat bising. Secara mengejutkan, raja keluar dan melihat rakyatnya saling berpelukan.

Kemudian hal aneh terjadi ketika melihat rakyatnya mengadakan permainan, tiba-tiba raja tidak lagi merasa sakit dan sehat seperti biasanya. Ia lalu mengatakan, mulai hari itu, keramaian omed-omedan harus terus diadakan setahun sekali, yakni sehari setelah Hari Raya Nyepi.

Namun, pemerintah Belanda saat itu menjadi geram dengan upacara tersebut, dan melarang ritual permainan tersebut. Warga akhirnya tidak memanggil omed-omedan, namun setelah permainan tidak lagi dilaksanakan tiba-tiba ada dua ekor babi besar di tempat yang biasa disebut dengan permainan tersebut.

Mereka berkelahi sampai berdarah kemudian menghilang entah kemana. Raja dan warga minta petunjuk, dan ini dianggap sebagai pertanda buruk hingga akhirnya omed-omedan tersebut digelar kembali hingga saat ini.

Kisah Calon Arang dan Misteri Leak yang Dirahasiakan Masyarakat Bali

“Ada kepercayaan di wilayah kami, bagaimana pun kondisinya harus tetap digelar, kami tidak berani meniadakannya,” ungkap I Made Sudama, dalam Liputan6 (12/3/2021).

Dahulu, tradisi omed-omedan hanya dianggap sebagai bagian dari wujud jalinan silaturahmi. Tapi lambat laun menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Omed-omedan kemudian dikemas oleh masyarakat setempat menjadi festival tahunan bertajuk Festival Warisan Budaya, yang dimeriahkan dengan bazar dan pertunjukan.

Omed-omedan juga dipersembahkan untuk memperkaya hasanah budaya kota Denpasar dan mewujudkannya sebagai kota budaya. Dalam Perda No.8 tentang Pola Dasar Pembangunan Kota Denpasar tahun 2001-2005, diprogramkan bahwa tradisi omed-omedan dicantumkan sebagai adat dan budaya untuk mendukung atraksi wisata.

“Kami disini cukup bahagia bisa melaksanakan tradisi warisan budaya yang telah turun temurun kami wariskan di Banjar Kala. Kami sendiri total sekitar 350 orang, namun setengah dari kami ada yang bekerja diluar dan sekolah diluar,” terang Kepala Lingkungan Banjar Kala, Made Sukaja, pada Berita Satu.

Tetap digelar walau ada pandemi

Pandemi Covid-19 yang belum melandai, berdampak pula terhadap proses pelaksanaan tradisi di masing-masing daerah. Tradisi omed-omedan yang biasanya diikuti puluhan pasang muda-mudi, kini diselenggarakan terbatas dan tertutup untuk umum.

“Berhubung pandemi Covid-19 belum berakhir, untuk tahun 2021, Sesetan Heritage Omed-omedan Festival (SHOOF) ditiadakan. Akan tetapi untuk tradisi omed-omedan tetap diaksanakan, itupun sangat singkat karena kami lebih mengutamakan prosesi ritualnya seperti tahun sebelumnya dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan yang sangat ketat,” kata I made Sudama, di Denpasar, Kamis (11/3/2021).

Tradisi tersebut, menurut Sudama, akan diselenggarakan secara sederhana. Dalam prosesi omed-omedan hanya diikuti oleh tiga pasang yang ditunjuk mengikuti proses omed-omedan tersebut.

“Prosesinya hanya diikuti tiga pasangan, yakni 3 orang laki-laki dan 3 perempuan yang ditunjuk mengikuti prosesi,” ujar dia.

Ia menyebut, selain tiga orang pasangan tadi, beberapa pihak juga dilibatkan di antaranya prajuru (pengurus) banjar, Kepala lingkungan, Jero mangku, anak sekaa truna (karang taruna) yang sudah dipilih, para penabuh yang terbatas, serta tenaga medis. Selain itu acaranya tidak lagi digelar di Jalan Raya Sesetan, melainkan di dalam banjar tepatnya di depan merajan banjar.

Ia menyatakan dengan kondisi saat ini tidak ingin ada klaster baru–Covid-19–karena memaksakan menggelar festival. Walaupun tradisi omed-omedan secara sederhana, tetapi tidak mengurangi makna dari acara itu.

Selain itu, protokol kesehatan yang ketat juga akan diterapkan termasuk penjagaan ketat di luar kawasan tersebut. Sehingga tidak ada masyarakat yang memaksa masuk karena ingin menyaksikan omed-omedan. Pada acara kali ini, juga tidak ada publikasi dari wartawan dan masyarakat.

Ngerebeg Mekotek, Tradisi Tolak Bala ala Desa Adat di Bali

“Kami selain gelar sederhana juga tertutup. Termasuk tidak dipublikasikan oleh media massa. Kami juga batasi peserta yang ikut dalam omed-omedan agar tidak menghidupkan HP saat prosesi berlangsung,” tandasnya.

Seperti diketahui, bila tidak terjadi pandemi, kegiatan omed-omedan ini selalu menjadi perhatian warga. Penonton selalu membeludak ketika kegiatan omed-omedan dilakukan.

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Advertisement
Click to comment

Wisata

Taman Nasional Kerinci Seblat Dibuka untuk Kunjungan Wisata dengan Prokes Ketat

Taman Nasional Kerinci Seblat Dibuka untuk Kunjungan Wisata dengan Prokes Ketat

[ad_1]

Taman Nasional Kerinci Seblat © Felineus Shutterstock


Di tengah kondisi PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) Jawa-Bali seperti sekarang ini, banyak tempat wisata terpaksa ditutup demi menekan tingkat penyebaran Covid-19. Meski demikian, ada tempat-tempat di luar Jawa-Bali yang tetap bisa dikunjungi untuk berwisata.

Menurut Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi Kementerian LHK, Nandang Prihadi, saat ini ada sejumlah taman nasional yang buka selama PPKM. Salah satunya adalah Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

Kata Nandang, kriteria membuka kembali kawasan untuk berwisata misalnya ada di zona aman dan ada rekomendasi dari Satgas. Selama PPKM, sebagian besar taman nasional di Jawa, Bali, dan 15 kabupaten dan kota lain ditutup. Namun, untuk yang berada di luar daerah tersebut, masih menerima kunjungan wisata dengan pembatasan pengunjung dan protokol kesehatan ketat yang wajib diikuti.

Sebagai salah satu taman nasional yang buka untuk kunjungan wisata, mari mengenal TNKS, taman nasional terbesar di Sumatra

TNKS berdiri di atas lahan dengan luas sekitar 1.375. 000 hektare. Saking luasnya, taman nasional ini secara administratif terletak di 14 kabupaten dan dua kota yang termasuk dalam 4 provinsi, yaitu Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Jambi, dan Bengkulu. Pada tahun 2004, kawasan ini dinobatkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO.

Berikut beberapa daya tarik unggulan di TNKS:

info gambar

Rafflesia arnoldii | @Mazur Travel Shutterstock


Pulau Padar di NTT Kembali Dibuka dan Siap Menyambut Kunjungan Wisatawan

Flora dan fauna di TNKS

TNKS memiliki beragam ekosistem, mulai dari hutan hujan dataran rendah, pegunungan, hutan pinus tropis alami, hutan rawa gambut, hingga danau air tawar. Kawasan ini menjadi habitat bagi sebagian besar burung-burung Sumatra yang jumlahnya lebih dari 371 jenis dengan 17 di antaranya merupakan spesies endemik Sumatra.

Di TNKS, wisatawan dapat melihat langsung berbagai fauna. Di sana, terdapat lebih dari 85 jenis mamalia, tujuh jenis primata, enam jenis amfibi, dan sepuluh jenis reptil. Fauna-fauna tersebut di antaranya adalah harimau Sumatra, badak Sumatra, gajah Sumatra, macan dahan, tapir melayu, dan beruang madu. Tentunya akan menjadi pengalaman tak terlupakan dapat melihat beragam satwa, terutama spesies endemik, langsung di habitatnya.

Untuk flora, ada sekitar 4.000 tumbuhan hidup di TNKS. Tercatat ada 300 jenis anggrek yang tumbuh di sana, mulai dari spesies bambu, kayu manis, rotan, dan edelweis. Bahkan, ada bunga-bunga dengan ukuran terbesar seperti Rafflesia Arnoldii, Rafflesia Hasseltii, tanaman unik kantong semar, dan ada Amorphophallus Titanum, bunga bangkai raksasa yang tingginya bisa mencapai 2-3 meter.

Menjelajah Taman Nasional Aketajawe Lolobata di Halmahera
Gunung Kerinci | @ATTOMY Shutterstock

info gambar

Gunung Kerinci | @ATTOMY Shutterstock


Objek wisata di TNKS

Kawasan TNKS tak hanya menjadi rumah bagi flora dan fauna. Di sana pun terdapat berbagai objek wisata yang menarik untuk dikunjungi. Wisatawan yang berlibur ke sana akan puas menjelajah taman nasional hingga alam di sekitarnya.

Salah satu tempat yang tersohor ialah Gunung Kerinci. Gunung tertinggi di Sumatra ini memiliki ketinggian hingga 3.805 mdpl. Pendaki akan disajikan pemandangan alam dengan aneka flora dan fauna mulai dari dataran rendah sampai ke puncak gunung. Untuk mendaki, kira-kira dibutuhkan waktu sekitar 2 hari satu malam dimulai dari jalur pendakian Kerisik Tuo.

Tak hanya gunung, TNKS juga terdiri dari mata air panas, sungai-sungai dengan aliran deras, gua, air terjun, hingga Danau Gunung Tujuh yang merupakan danau kaldera tertinggi di Asia Tenggara.

Ada pula Danau Kaco yang terkenal dengan keunikannya. Danau tersebut bisa mengeluarkan cahaya terang, terutama pada bulan purnama. Pada malam hari, warna air di danau ini berwarna hijau kebiruan yang jernih dan tampak berkilau. Bila berkunjung pada bulan purnama, bahkan pengunjung tak perlu membawa penerangan karena air di danau akan terang meski malah hari.

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Continue Reading

Wisata

Berwisata ke Kabupaten Siak yang Penuh Tempat Bersejarah

Berwisata ke Kabupaten Siak yang Penuh Tempat Bersejarah

[ad_1]

Istana Siak Sri Inderapura | © Rofi Adi Syabanto Shutterstock


Nama Kabupaten Siak mungkin masih tedengar asing. Siak merupakan kabupaten yang ada di Provinsi Riau, yang mungkin lebih terkenal dengan Kota Dumai dan Pekanbaru.

Pada zaman dahulu, kabupaten ini merupakan bagian dari Kesultanan Siak Sri Inderapura. Pada masa awal kemerdekaan Indonesia, Sultan Syarif Kasim II adalah Sultan Siak terakhir dan menyatakan bahwa kerajaannya bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan ditetapkan sebagai Kabupaten Siak pada tahun 1999 dengan ibu kota Siak Sri Indrapura.

Agar lebih mengenal Kabupaten Siak, cobalah mengunjunginya langsung bila ada kesempatan bertandang ke Provinsi Riau. Berikut rekomendasi objek wisata yang bisa didatangi:

Istana Siak Sri Inderapura

Pada tahun 1889, Istana Asserayah Hasyimiah dibangun sebagai kediaman resmi Sultan Siak pada masa pemerintahan Sultan Syarif Hasyim.

Istana yang merupakan peninggalan Kesultanan Siak Sri Inderapura ini memiliki luas 32 ribu meter persegi dan terdiri dari empat istana, yaitu Istana Siak, Istana Lima, Istana Padjang, dan Istana Baroe.

Bangunan dengan arsitektur bernuansa Melayu, Arab, dan Eropa ini terdiri dari dua lantai. Di bawah, ada ruang tunggu para tamu, ruang untuk ramu kehormatan, ruang tamu pria, ruang tamu wanita, serta ruang sidang kerajaan yang juga digunakan sebagai ruangan pesta.

Sedangkan di atas merupakan tempat untuk Sultan dan para tamu beristirahat. Pengunjung dapat melihat ada enam patung burung elang di puncak bangunan dan sebuah bangunan kecil di belakang istana yang dulunya difungsikan sebagai penjara.

Uniknya, di istana ini ada koleksi peninggalan kerajaan berupa perahu kuno bernama Kapal Kato. Dulunya, perahu tersebut digunakan sultan untuk bepergian ke daerah-daerah kekuasaannya.

Di dalam keraton juga terdapat peninggalan lain seperti singgasana raja, replika mahkota raja, alat makan keramik, hingga kursi kristal buatan tahun 1896.

Fakta Menarik Petirtaan Air Jolotundo, Punya Cerita Romantis Hingga Mitos Awet Muda

Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah

info gambar

Jembatan Tengku Agung Syarifah Latifah | @Imam Fahroji Shutterstock


Salah satu ikon Kabupaten Siak adalah Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah yang juga dikenal sebagai Jembatan Siak. Jembatan dengan panjang 1.196 meter dan lebar 16,95 meter ini membentang di atas Sungai Siak. Di kanan kirinya terdapat dua trotoar dengan lebar 2,25 meter. Ketinggiannya sekitar 23 meter di atas permukaan Sungai Siak.

Di atas jembatan, terdapat dua menara setinggi 80 meter yang digunakan sebagai diorama teater dan tempat makan, lengkap dengan lift untuk naik. Untuk penamaan jembatan ini diambil dari gelar Tengku Syarifah Mariam binti Fadyl, ratu Sultan Syarif Kasim II yang memerintah dari tahun 1915-1946.

Pulau Manimbora dan Labuan Cermin, Surga Tersembunyi di Kalimantan Timur

tarian belanda

Tangsi Belanda |  @Ahmad Bahrain Shutterstock

info gambar

Tangsi Belanda | @Ahmad Bahrain Shutterstock


Kabupaten Siak memang menjadi kawasan yang menyimpan berbagai tempat bersejarah. Salah satu yang menarik dikunjungi ialah Tangsi Belanda, sebuah bangunan jadul yang dulunya merupakan penjara.

Tangsi Belanda yang sudah berusia 160-an tahun ini berjarak sekitar 110 km dari Pekanbaru. Letak bangunan ini menghadap ke Sungai Siak dan dulunya digunakan sebagai benteng pertahanan tentara Belanda saat menjajah Indonesia. Pun terdapat ruangan-ruangan untuk penjara, asrama, kantor, serta gudang senjata dan logistik. Di depan gedung, masih ada sumur tua yang aktif, dapur, dan ruangan pos penjagaan.

Hingga saat ini, bangunan tersebut masih berdiri kokoh dan diperkirakan dibangun pada abad ke-18 pada masa pemerintahan Sultan Siak IX, Sultan Asy-Syaidis Syarif Ismail Abdul Jalil Jalaluddin yang memerintah dari tahun 1827-1864.

Pulau Padar di NTT Kembali Dibuka dan Siap Menyambut Kunjungan Wisatawan

Kuil Hock Siu Kiong

Kuil Hock Siu Kiong |  @Imam Fahroji Shutterstock

info gambar

Kuil Hock Siu Kiong | @Imam Fahroji Shutterstock


Jika ke Siak, jangan lewatkan mengunjungi Kelenteng Hock Siu Kiong di Jalan Sultan Syarif Kasim. Kelenteng yang terletak di tengah kota Siak Sri Indrapura dibangun tahun 1871 dan menjadi bangunan tertua yang ada di Siak.

Kelenteng ini merupakan tempat ibadah masyarakat Tionghoa di kota Siak yang masih aktif hingga saat ini, sekaligus jadi salah satu objek wisata karena arsitekturnya terbilang unik. Kelenteng ini memang memiliki keunikan dari segi bentuk, bahan, teknologi, pengerjaan, hingga ragam hias yang digunakan. Keberadaan bangunan ini dianggap sangat penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.

Bangunan yang didominasi warna merah menyala ini memang begitu mencolok. Kelenteng ini memiliki dua patung singa penjaga kelenteng dan di bagian dalamnya patung dewa-dewi berjajar rapi. Di sisi kanan-kiri, terdapat lukisan naga dan burung phoenix. Bila berjalan ke bagian luar, akan ada lukisan yang menceritakan legenda The Eight Immortals yang populer dalam mitologi Tiongkok.

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Continue Reading

Wisata

Pulau Padar di NTT Kembali Dibuka dan Siap Menyambut Kunjungan Wisatawan

Pulau Padar di NTT Kembali Dibuka dan Siap Menyambut Kunjungan Wisatawan

[ad_1]

Pulau Padar | © Pnnchen Shutterstock


Pulau Padar merupakan salah satu objek wisata yang ada di Nusa Tenggara Timur dan menjadi pulau ketiga terbesar di Taman Nasional Komodo (TNK), setelah Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Sebelumnya, pulau ini sempat ditutup sejak 5 Juli karena alasan pandemi. Namun, setelah 14 hari, Pulau Padar kembali dibuka untuk wisatawan.

Shana Fatina, Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), mengatakan kebijakan pembukaan kawasan wisata itu sudah mulai berlaku sejak Senin (19/7/2021).

Kini, wisatawan dapat kembali berlibur ke Pulau Padar. Namun, jangan lupa untuk mengikuti protokol kesehatan yang sudah ditetapkan BPOLBF dan juga Balai TNK.

Kata Shana, kuota kunjungan ke TNK dibatasi hanya 300 orang per hari karena jalur pendakian yang hanya ada satu dengan jarak 522 meter. Ada pula pembagian waktu masuk, yaitu 05.30-07.30, 8-10, dan 5.00-18.00 WITA.

“Pembagian jam masuk ini bertujuan untuk mengurangi penumpukan serta wisatawan di kawasan TN Komodo,” ujar Shana. “Wisatawan juga hanya diperbolehkan beraktivitas selama 10 menit dan juga diimbau agar selalu jaga jarak sekitar satu meter.”

Untuk mengunjungi Pulau Padar, setiap wisatawan akan melewati pengecekan suhu dan wajib menggunakan pelindung wajah.

info gambar

Facebook logo Facebook Daftar Facebook untuk terhubung dengan Pulau Padar @Yusnizam Yusof Shutterstock


Pulau Manimbora dan Labuan Cermin, Surga Tersembunyi di Kalimantan Timur

Daya Tarik Pulau Padar

Bila berwisata ke kawasan TNK, Pulau Padar menjadi salah satu tempat yang wajib dikunjungi. Lokasinya lebih dekat ke Pulau Rinca dibanding Pulau Komodo, yang dipisahkan oleh Selat Lintah. Pulau ini relatif aman bagi wisatawan karena tidak dihuni oleh komodo.

Pulau ini termasuk memiliki iklim yang kering dengan semak belukar, pepohonan, dan padang rumput yang menutupi pulau sehingga perbukitan sabana yang memanjakan mata. Di sana, terdapat empat teluk dalam dan pasir pantai dengan berbagai warna, dari putih, abu-abu, hingga merah muda.

Daya tarik utama Pulau Padar adalah pemandangannya yang memesona. Saat mengunjunginya, wisatawan akan menyaksikan kawasan perbukitan yang mengelilingi pulau. Ditambah lagi dengan hamparan pasir pantai yang luas berpadu dengan birunya air laut.

Mendaki puncak Pulau Padar memang tak mudah. Pengunjung harus berjalan kaki dengan jalur tanjakan yang cukup curam dengan kemiringan 45 derajat. Dari tempat perahu bersandar di pantai, kira-kira butuh waktu 30 menit untuk sampai di puncak. Namun, semua usaha yang melelahkan akan terbayar tuntas dengan suguhan lansekap bak lukisan dari atas sana.

Untuk mengunjungi Pulau Padar, waktu terbaiknya adalah pagi dan sore hari. Pada siang hari, matahari tentu lebih terik dan membuat perjalanan jadi lebih melelahkan. Jika datang sore hari, Anda berkesempatan untuk menikmati matahari terbenam di Pulau Padar.

Selain naik ke puncak, wisatawan juga bisa mengeksplor area pantai dan laut. Anda bisa menikmati waktu di Pulau Padar dengan berenang, snorkeling, hingga diving di sana. Apalagi, di sana terdapat sekitar 42 spot penyelaman. Jangan lewatkan menyelam dan berenang bersama hiu, pari manta, lumba-lumba, paus, dan penyu hijau!

Bertualang ke Pantai dan Gunung di Pulau Lingga Kepulauan Riau

Akses dan tip mengunjungi Pulau Padar

Lokasi Pulau Padar terdapat di Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Untuk sampai ke sana, Anda perlu melakukan penerbangan dari Denpasar dengan tujuan Labuan Bajo dengan waktu tempuh 30 menit. Setelah itu, lanjutkan perjalanan sampai ke Dermaga Loh Liang dan dari sana bisa naik kapal cepat ke Pulau Padar.

Karena biaya yang tergolong mahal bila harus menyewa kapal sendiri, wisatawan biasanya memanfaatkan jasa agen perjalanan dengan paket lengkap menjelajahi Labuan Bajo. Cara ini pun akan membuat Anda tak repot memikirkan transportasi, akomodasi, hingga makan selama berkeliling pulau. Pun, biayanya bisa jauh lebih terjangkau. Bahkan, bila hanya pergi sendiri atau rombongan kecil, bisa bergabung wisatawan lain lewat agen yang menyediakan paket open trip.

Untuk mengunjungi Pulau Padar, ada beberapa hal yang harus dipersiapkan. Tidak wajib, tetapi akan memudahkan perjalanan dan membuat Anda lebih nyaman. Misalnya, membawa tongkat hiking untuk membantu Anda mendaki dan memakai topi lebar serta kacamata hitam karena panas matahari begitu menyengat.

Gunakan pakaian dan alas kaki yang nyaman. Sebisa mungkin, gunakan sepatu olahraga atau sandal gunung karena Anda akan banyak berjalan kaki di sana. Untuk pakaian, sebaiknya pilih kaus dengan bahan yang dingin. Salah kostum pada akhirnya akan merepotkan diri sendiri.

Ketika naik ke puncak, jangan membawa barang terlalu banyak karena membuat beban Anda semakin berat. Namun, jangan lupa membawa minum sendiri agar tidak dehidrasi.

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Continue Reading

Trending Dari BuzzFeed

close