Connect with us

INDONESIA

Nestapa Buruh Perempuan di Perkebunan Sawit

Nestapa Buruh Perempuan di Perkebunan Sawit

[ad_1]

Tindakan kekerasan, intimidasi, hingga pelecehan seksual masih terus menghantui para buruh perempuan di perkebunan sawit. Tak terkecuali buruh perempuan migran yang juga bekerja di perkebunan sawit di negara tetangga seperti Malaysia.

Seorang perempuan mengumpulkan biji sawit dari tanah di sebuah perkebunan kelapa sawit di Sumatera, 21 Februari 2018. (Foto: dok).

Seorang perempuan mengumpulkan biji sawit dari tanah di sebuah perkebunan kelapa sawit di Sumatera, 21 Februari 2018. (Foto: dok).

Ketua Solidaritas Perempuan (SP) Anging Mammiri, Musdalifah menuturkan masih banyak ditemukan buruh migran perempuan di perkebunan sawit asal Sulawesi Selatan yang menjadi korban tindak kekerasan hingga pelecehan.

“Di tahun 2020 kami menemukan beberapa kasus yang sejak lama terus terjadi. Di mana situasi kekerasan, intimidasi, pelecehan, dan diskriminatif masih ditemui teman-teman yang bermigrasi khususnya mereka yang menjadi buruh di perusahaan sawit,” kata Musdalifah dalam sebuah diskusi daring, Rabu (9/12).

Ketua Solidaritas Perempuan (SP) Anging Mammiri, Musdalifah saat memberikan keterangan secara daring terkait buruh perempuan di perkebunan sawit, Rabu 9 Desember 2020. (Foto:VOA)

Ketua Solidaritas Perempuan (SP) Anging Mammiri, Musdalifah saat memberikan keterangan secara daring terkait buruh perempuan di perkebunan sawit, Rabu 9 Desember 2020. (Foto:VOA)

Tak sampai di situ, menurut Musdalifah, buruh migran perempuan di perkebunan sawit juga kerap dieksploitasi dan dipaksa bekerja melewati batas waktu. Bahkan buruh migran perempuan di perkebunan sawit tinggal di tempat yang jauh dan tak layak.

“Secara tidak langsung perusahaan, mandor atau calo perekrut itu telah melakukan eksploitasi tenaga dan tubuh perempuan,” ungkapnya.

SP Anging Mammiri menyebut ada beberapa faktor penyebab buruh migran perempuan di perkebunan sawit masih dihadapkan dengan kondisi tersebut. Mulai dari relasi kuasa yang timpang, iming-iming kehidupan yang baik, rendahnya tingkat pendidikan dan ekonomi, hingga belum adanya kebijakan yang menjamin perlindungan serta pemenuhan hak perempuan buruh migran.

Musdalifah menyayangkan minimnya respons pemerintah terhadap isu ini, bahkan tidak melakukan penanganan trauma akibat kekerasan yang dialami buruh perempuan ketika kembali ke Indonesia.

Bayi dan balita perempuan pekerja kelapa sawit tidur siang di tempat penitipan anak sementara di Sumatera, 14 November 2017. (Foto: dok).

Bayi dan balita perempuan pekerja kelapa sawit tidur siang di tempat penitipan anak sementara di Sumatera, 14 November 2017. (Foto: dok).

“Buruh migran perempuan sudah mengalami kekerasan, intimidatif, pelecehan seksual. Tapi trauma itu tidak dijadikan sesuatu yang penting oleh pemerintah sehingga tidak ada penanganan khusus yang dilakukan untuk memulihkan trauma yang dirasakan buruh migran perempuan,” ungkapnya.

Serbundo : Tak Jarang Buruh Migran Perempuan di Perkebunan Kelapa Sawit Alami Kekerasan Seksual

Tak jauh beda dengan nestapa yang dihadapi buruh migran perempuan di negara tetangga. Hal serupa juga kerap dialami buruh perempuan perkebunan sawit di Indonesia.

Serikat Buruh Perkebunan Indonesia (Serbundo), Nurhaimah Purba saat memberikan keterangan secara daring terkait buruh perempuan di perkebunan sawit, Rabu 9 Desember 2020. (Foto: VOA)

Serikat Buruh Perkebunan Indonesia (Serbundo), Nurhaimah Purba saat memberikan keterangan secara daring terkait buruh perempuan di perkebunan sawit, Rabu 9 Desember 2020. (Foto: VOA)

Serikat Buruh Perkebunan Indonesia (Serbundo), Nurhaimah Purba menuturkan permasalahan kompleks seperti status hubungan kerja yang rentan, beban kerja tinggi, upah di bawah ketentuan, hingga minimnya alat pelindung diri saat bekerja, dan kekerasan seksual masih menjadi persoalan bagi para buruh perempuan di perkebunan sawit di Indonesia.

“Kami masih menemukan buruh perempuan diintimidasi seperti diancam dan dipaksa untuk meminum air seni, itu masih terjadi,” ungkapnya.

Sementara itu Direktur Sawit Watch, Inda Fatinaware mengatakan tidak adanya kebijakan pemerintah dalam memberikan perlindungan terhadap buruh perempuan di perkebunan sawit menjadi penyebab mengapa hal tersebut masih terus terjadi.

“Sampai saat ini tidak ada, pemerintah beralasan bahwa tidak punya anggaran untuk melakukan itu (perlindungan terhadap buruh),” katanya. [aa/em]

[ad_2]

Source link

Advertisement
Click to comment

INDONESIA

Rayon Khawarizmi Sukses Gelar Mapaba Ke-IV

Rayon Khawarizmi Sukses Gelar Mapaba Ke-IV

BuzzFeed – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon khawarizmi  mengelar Masa Penerimaan Anggota Baru atau biasa disebut MAPABA  ke- IV dari tanggal jum’at –minggu (22-24 Oktober). Bertempat di lantai 3 kampus UNUSIA Bogor,  kegiatan ini memberlakukan protokol kesehatan ketat. Pemateri maupun peserta yang ikut dalam Mapaba, wajib untuk selalu menjaga kebersihan dengan mencuci tangan, menggunakan masker dalam setiap kesempatan dan juga menjaga jarak duduk.

Ketua pelaksana , M. Alwan Abdurrahman,  dalam laporannya menyampaikan,  bahwa dalam proses pelaksanaan mapaba  ini dihadiri oleh puluhan anggota dan kader PMII se-Komisariat UNUSIA B , dalam mapaba ini kami mengusung tema “instalisasi kader yang berpegang teguh pada nilai-nilai aswaja dan menumbuhkan nilai Dasar PMII guna menghadapi modernisasi global”.

Tema yang kita ambil ini berdasarkan kekwatarin kami sebagai panitia untuk dalam melihat situasi sekarang ini, kami selaku panitia ingin mencetak kader-kader yang sesuai dengan tema yang kami angkat, agar terciptanya kader-kader pmii yang sesuai dengan tujuan pmii. Tutupnya.

Lebih lanjut Ketua rayon khawrizmi menjeskan pelaksanaan Mapaba Rayon  tidak hanya diikuti oleh  “Peserta Mapaba semuanya diwajibkan memakai masker dan membawa hand sanitizer. Hal tersebut untuk saling menjaga satu sama lain agar tidak tertular COVID-19,” kata risky.

Risky mengatakan, dalam penerimaan anggota baru ini, para calon anggota mendapatkan sejumlah materi seperti Nilai Dasar Pergerakan, Studi Gender, tentang PMII dan juga yang penting adalah Ahlusunnah Wal Jamaah atau biasa disingkat Aswaja. Serta ditutup dengan workshop pelatihan dsain. Menurut risky, sangat diharapkan proses Mapaba berjalan dengan baik, sehingga jika sudah ditetapkan sebagai kader PMII, maka akan hadir aktivis pergerakan mahasiswa yang benar-benar memperjuangkan pengetahuan untuk Indonesia yang lebih baik.

“Kami ingin menciptakan anggota yang berintegritas, progresif dan inovatif. Untuk penguatan nilai dasarnya ada di Mapaba ini karena ini merupakan proses pengkaderan pertama di PMII,” kata risky.

Perwakilan  PC PMII Kab. Bogor , Khotibul Umam , mengatakan, dalam  mentum yang sangat penting ini saya menyampaikan bahwa tetaplah semangat dalam berproses di PMII,  sebagai kader Pmii harus mempunyai jiwa Loyalitas terhadap organisasi. Jiwa loyalitas nanti didapatkan ketika kalian sudah yakin dan cinta terhadap organisasi dan nilai-nilai yang sudah diwariskan dalam organisasi Pmii. Sekali Mapaba, Sahabat Selamanya. Ungkap khotibul umam dalam penutupan sambutannya.

Lanjutnya, rayon harus konsisten menjalankan proses kaderisasi, untuk bagaimana caranya menjadikan PMII sebagai organisasi kaderisasi terbesar disetiap jenjang kepengurusan. “Dalam hal kaderisasi PMII harus lebih semangat, saya percaya bahwa kalian bisa untuk terus menjalankan amanah organisasi, sebagai pengurus cabang kita senantiasa siap membantu dan mengajarkan apa yang menjadi kebutuhan kaderisasi dari PMII itu sendiri,”

Ketua Komisariat PMII , PMII harus berbenah dalam segi kualitas, serta harus adanya pemberdayaan kader secara maksimal, karena disetiap tahunnya PMII bertambah secara kuantitas. “PMII UNUSIA B  ke depannya haruslah senantiasa menjadi pelopor, pembaharu, dan satu elemen yang melakukan perubahan ke arah yang lebih baik,” ucapnya. (Rajab)

Continue Reading

INDONESIA

Sebagai Upaya Wujudkan Inovasi era Pandemi, FKMI Gelar Rakernas

Sebagai Upaya Wujudkan Inovasi era Pandemi, FKMI Gelar Rakernas

BuzzFeed – Forum Mahasiswa Kedinasan Indonesia (FMKI) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dilaksanakan pada hari Jumat s.d. Minggu, 15 Oktober s.d. 17 Oktober 2021 di UTC Kota Bandung dan melalui aplikasi ZOOM Cloud Meetings.

Rakernas ini diikuti oleh Dewan Pimpinan Pusat, Dewan Permusyawaratan, Koordinator Wilayah, Delegasi setiap Perguruan Tinggi Kedinasan Indonesia, Delegasi setiap Forum Mahasiswa Kedinasan Daerah (FMKD) dan Ikatan Keluarga Alumni Pengurus FMKI.

Selain itu, Agenda dari Rapat Kerja Nasional (RAKERNAS) Forum Mahasiswa Kedinasan Indonesia Tahun 2021 ini, antara lain Pelantikan Pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Periode 2021/2022, Pelantikan Pengurus Dewan Permusyawaratan (DEMUS) Periode 2021/2022, Pembahasan Program Kerja Nasional, Penetapan Program Kerja Nasional dan Penetapan Iuran PTK

Rakernas tersebut merupakan suatu kegiatan berbentuk rapat untuk menetapkan pelaksanaan program kerja nasional Periode 2021/2022 yang dilaksanakan dalam satu periode kepengurusan, selain itu Rakernas digelar dengan tema “Satukan Tekad, Wujudkan Semangat untuk FMKI yang Bermartabat”.

Diketahui, Politeknik STTT Bandung diberikan amanah untuk menjadi tempat kesekretariatan FMKI dengan terpilihnya salah satu kader dari Politeknik STTT Bandung menjadi Ketua DPP FMKI Periode 2021/2022. Program kerja awal yang dilakukan oleh Ketua DPP terpilih adalah Rapat Kerja Nasional untuk menetapkan kepengurusan DPP FMKI Periode 2021/2022 dan membahas arah haluan kerja organisasi.

Ketua Umum DPP FMKI Dhonny Fatwa Ammarul Akbar mengatakan bahwa, “Rakernas tahun ini dilaksanakan secara hybrid, serta inovasi ini yang harus tetap kita pertahankan ditengah pandemi, karena kondisi seperti ini bukan menjadi alasan untuk tidak melaksanakan kegaiatan seperti saat ini jika kita tetap melaksanakannya dengan tertib dan sesuai protokol kesehatan yang ada”.

Sejalan dengan Ketua Umum DPP FMKI, Ketua Demus FMKI Muhammad Ainur Firdaus sangat mengapresiasi seluruh elemen FMKI yang sudah bergotong royong untuk mensukseskan acara rakernas FMKI 2021 ini, karena ini merupakan sebuah prestasi bersama yang dilaksanakan oleh kita semua dengan menjalankan Rakernas dengan sistem hybrid.

“Ini merupakan sebuah inovasi yang luar biasa dan harus dipertahankan secara konsisten oleh seluruh elemen FMKI agar bisa terus berinovasi menyesuaikan zaman” ucapnya.

Kegiatan berskala Nasional ini dihadiri Drs. H. Mohamad Arifin Soedjayana, MM selaku Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat untuk memberikan sambutan. Selain itu, kegatan ini dihadiri oleh 12 Perguruan Tinggi Kedinasan secara luring dan dihadiri 29 Perguruan Tinggi Kedinasan secara daring dengan total jumlah perwakilan secara daring 58 orang dan secara luring 11 orang.

Selain itu, dihadiri oleh perwakilan dari Koordinator Wilayah FMKI dengan total jumlah perwakilan secara daring 3 orang dan secara luring 1 orang.

Rakernas ini dihadiri juga oleh perwakilan dari Forum Mahasiswa Kedinasan Daerah secara daring dengan total jumlah perwakilan 4 orang. Selain itu, dihadiri oleh Ikatan Alumni FMKI 1 orang secara daring dan Tim Khusus Anti Kekerasan FMKI 1 orang secara luring.

Continue Reading

INDONESIA

Elektabilitas Menurun, Peluang Prabowo Menang pada Pilpres 2024 Mengecil

Elektabilitas Menurun, Peluang Prabowo Menang pada Pilpres 2024 Mengecil

BuzzFeed – Sekretaris Jendral (Sekjen) Partai Gerindra, Ahmad Muzani sampaikan dalam keterangannya pada Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) DPD Gerindra Sulawesi Selatan. , bahwa Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto mempunyai peluang besar mencalonkan sebagai presiden di 2024.

“Saya katakan, 2024 Pak Prabowo Insya Allah akan maju dalam laga pilpres. Majunya beliau karena begitu masifnya permintaan kita semua,” ujar Muzani lewat keterangannya, Ahad (10/10/2021).

Berdasarkan hasil Survei, Menurut Direktrur Eksekutif Indonesian Public Institute (IPI) Karyono Wibowo menilai peluang Prabowo mencalonkan diri pada kontestasi Pilpres 2024 kian mengecil.

Hal ini terlihat dari tren penurunan elektabilitasnya di sejumlah lembaga survei.

“Jika dilihat dari data sejumlah hasil survei, elektabilitas Prabowo memang masih cukup tinggi, tetapi kecenderungannya mulai menurun,” ujar Karyono Wibowo Kamis (14/10/2021).

Elektabilitas Prabowo yang kian menurun, dapat dilihat melalui survei SMRC September 2021. Pada simulasi pertanyaan tertutup, elektabilitas Prabowo sebagai capres pada Oktober 2020 berada di posisi 22,2 persen. Pada Maret 2021 menurun menjadi 20,8 persen.

Meskipun, Survei pada Mei 2021 Elektabilitas Prabowo Elektabilitas Prabowo sempat naik menjadi 24,4 persen, Namun menurun cukup drastis pada September 2021 tinggal 20,7 persen atau bersaing sangat ketat dengan Ganjar Pranowo yang memiliki elektabilitas 19,0 persen.

“Secara metodologi survei, posisi Prabowo dengan Ganjar tidak bisa disimpulkan bahwa Prabowo yang unggul karena selisihnya hanya 1,7 persen, masih berada di ambang margin of error sebesar kurang lebih 3,19 persen. Sementara itu, elektabilitas Anies Baswedan cenderung stagnan berada di posisi 14,3 persen,” kata Karyono.

Ketatnya persaingan antara Prabowo dan Ganjar juga terbaca dari hasil survei Charta Politika Survei yang dilakukan pada periode 12–20 Juli 2021 kepada 1.200 responden dengan margin of error 2,83 persen. Dalam simulasi, elektabilitas Ganjar Pranowo sebesar 16,2 persen bersaing dengan Prabowo dengan elektabilitas sebesar 14,8 persen, Anies Baswedan 14,6 persen.

Dalam simulasi 10 nama yang diuji, Ganjar Pranowo mendapat angka 20,6 persen, Anies Baswedan 17,8 persen, dan Prabowo Subianto 17,5 persen.

“Kecenderungan menurunnya elektabilitas Prabowo boleh jadi disebabkan sejumlah faktor. Pertama, ada kecenderungan masyarakat jenuh dengan figur lama dan menginginkan figur baru. Kedua, bergabungnya Prabowo ke dalam pemerintahan membuat sebagian pemilihnya kecewa dan migrasi ke tokoh lain,” ucap Karyono.

Continue Reading

Trending Dari BuzzFeed

close