Connect with us

FEED

Moderna Uji Coba Penyuntikan Dosis Ke-3 Vaksin Covid-19, Diklaim Tingkatkan Antibodi : Okezone Lifestyle

Moderna Uji Coba Penyuntikan Dosis Ke-3 Vaksin Covid-19, Diklaim Tingkatkan Antibodi : Okezone Lifestyle


SALAH satu produsen vaksin covid-19 yakni Moderna diketahui baru saja merilis data terbaru terkait hasil uji coba atau trial terhadap Vaksin Moderna. Pada Rabu 5 Mei 2021, Moderna Inc telah mengumumkan bahwa dari data uji coba awal kepada manusia menunjukkan bahwa dosis ketiga dari suntikan vaksin covid-19 saat ini atau kandidat vaksin baru eksperimental mampu meningkatkan kekebalan terhadap varian yang pertama kali ditemukan di Brasil (P1) dan Afrika Selatan (B1351).

Pihak Moderna menyebutkan dalam uji coba itu suntikan booster diberikan kepada sukarelawan yang sebelumnya diinokulasi dengan rejimen dua dosis Vaksin Moderna dan juga meningkatkan antibodi terhadap virus asli covid-19 yakni Sars-CoV-2.

Baca juga: Studi: Vaksin Novavax Miliki Efikasi 51% Lawan Virus Corona B1351 Afsel 

Data awal yang berasal dari uji coba terhadap 40 orang itu menguji suntikan Vaksin Moderna yang sudah ada dan versi yang sedang dikembangkan untuk melindungi dari virus corona B1351 asal Afrika Selatan. Moderna diketahui juga saat ini masih tengah mempelajari vaksinasi yang menggabungkan vaksin baru dan yang sudah ada.

Hasilnya menunjukkan bahwa sementara suntikan booster dari kedua versi vaksin mampu meningkatkan antibodi terhadap semua jenis covid-19 yang diuji dalam uji coba dan booster baru memiliki respons yang lebih besar terhadap strain virus dari Afrika Selatan daripada vaksin asli.

Ilustrasi vaksin covid-19. (Foto: Freepik)

CEO Moderna Stephane Bancel mengatakan mereka sendiri bergembira dengan adanya temuan di data terbaru tersebut. Membuat perusahaan semakin percaya diri dengan produk buatannya.

“Kami bersemangat dan terdorong oleh data baru ini yang memperkuat keyakinan kami bahwa strategi booster kami itu harus melindungi terhadap varian covid-19 yang lebih baru,” isi pernyataan Stephane Bancel, seperti dikutip dari Reuters, Kamis (6/5/2021).

Baca juga: Tak Potong Cuti Karyawan, Cara Swasta Bantu Program Vaksinasi Covid-19 

Untuk efek samping, Moderna menyebutkan sejauh ini kedua suntikan booster bisa ditoleransi dengan baik. Efek samping yang terjadi serupa dengan yang dialami para relawan dalam penelitian sebelumnya dari dosis kedua vaksin Moderna.

Disebutkan lebih lanjut, Moderna berharap segera bisa membagikan data tambahan tentang suntikan booster potensial lainnya yang mencampurkan vaksin covid-19 yang sudah ada selama ini dengan suntikan vaksin yang baru dikembangkan.

(han)



Source link

Advertisement
Click to comment

Berita

Pemerintah Harus Evaluasi Alat Deteksi Corona

Pemerintah Harus Evaluasi Alat Deteksi Corona


JAKARTA – Anggota DPR Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPR Suryadi Jaya Purnama, menyoroti temuan adanya penumpang terkonfirmasi positif COVID-19 pada penerbangan maskapai Garuda Indonesia setibanya di Hong Kong, Minggu, 20 Juni.

Temuan itu, membuat otoritas Hong Kong melarang sementara penerbangan maskapai Garuda Indonesia dari Jakarta mulai 22 Juni hingga 5 Juli.

Atas kasus tersebut, Suryadi meminta pemerintah mengevaluasi berbagai alat pendeteksi COVID-19 sebagai syarat perjalanan yang memungkinkan terjadi kesalahan. Sebab sebelumnya, penumpang yang bersangkutan sudah dilakukan tes di Jakarta dan hasilnya negatif.

“Perlu dilakukan evaluasi terhadap penggunaan berbagai alat pendeteksi COVID-19 sebagai syarat perjalanan, dimana peralatan tersebut menggunakan beberapa metode yang berbeda dalam mendeteksi COVID-19,” ujar Suryadi, Jumat, 25 Juni.

Anggota Komisi V DPR yang mengurusi soal perhubungan itu menyebutkan, beberapa pakar kesehatan sendiri telah sejak lama meminta pemerintah untuk mengevaluasi penggunaan peralatan pendeteksi COVID-19 sebagai syarat perjalanan.

Misalnya, penggunaan alat swab dengan metoda tes PCR (polymerase chain reaction). Dia menilai alat dan metode itu dapat mendeteksi keberadaan virus dalam tubuh manusia secara langsung.

Selain tes PCR, lanjutnya, ada metode lain yang tidak mendeteksi secara langsung keberadaan virus dalam tubuh seseorang namun dapat mengindikasikan adanya virus. Yaitu dengan cara mendeteksi pola senyawa VoC atau Volatile Organic Compound dalam embusan napas manusia yang diharapkan dapat mengindikasikan ada atau tidaknya virus dalam tubuh seseorang.

“Karena metodenya yang tidak langsung dalam mendeteksi COVID-19 tersebut, maka dibutuhkan data yang sangat banyak untuk menguji keakurasian alat tersebut,” jelasnya.

Seiring peningkatan kasus dan masih terjadinya mobilisasi, maka kata dia, pemerintah harus benar-benar memastikan keakuratan alat pendeteksi COVID-19.

Sebaiknya pemerintah smabung Suryadi menggunakan standard screening atau tes diagnosis yang sudah disetujui WHO saja, guna menghindari meluasnya penyebaran COVID-19.

“Apalagi munculnya varian-varian COVID-19 yang baru, maka Fraksi PKS berpendapat bahwa evaluasi berbagai alat pendeteksi COVID-19 sebagai syarat perjalanan semakin urgen untuk dilakukan,” tegas Suryadi.

.



Sumber Berita

Continue Reading

FEED

FAKTA-FAKTA Varian Delta Plus, Ditemukan 200 Kasus di 11 Negara

FAKTA-FAKTA Varian Delta Plus, Ditemukan 200 Kasus di 11 Negara




Ilustrasi virus corona. Versi baru dari varian Delta dilaporkan telah menginfeksi sejunlah negara, termasuk Inggris, Amerika Serikat dan India.


© hearingreview
Ilustrasi virus corona. Versi baru dari varian Delta dilaporkan telah menginfeksi sejunlah negara, termasuk Inggris, Amerika Serikat dan India.


TRIBUNNEWS.COM – Sebanyak 200 kasus virus corona varian Delta Plus diketahui telah tersebar di 11 negara di seluruh dunia.

Dilansir Tribunnews dari CNN, pejabat kesehatan mengungkapkan versi baru dari varian Delta dilaporkan telah menginfeksi sejunlah negara, termasuk Inggris, Amerika Serikat dan India.

Strain yang menjadi perhatian media global ini disebut B.1.617.2.1 atau AY.1, singkatnya Delta Plus.

Di Inggris, varian itu pertama kali dilaporkan oleh Public Health England, sebuah badan kesehatan pemerintah pada 11 Juni 2021.

Baca juga: Ratusan Balita di Jakarta Positif Covid-19, Kemenkes Sebut Varian Delta Cenderung Jangkiti Anak

Baca juga: 282 Anak Balita di Jakarta Tertular Covid-19, Kemenkes Sebut Varian Delta Cenderung Jangkiti Anak

Berdasarkan beberapa kasus pertama di Inggris yang diurutkan pada 26 April menunjukkan, varian itu mungkin ada dan menyebar pada musim semi.

Pakar kesehatan sedang menyelidiki apakah Delta Plus lebih menular daripada jenis lain seperti varian Alpha atau Delta.

Namunm masih terlalu dini untuk mengatakan dengan pasti apa efeknya.

Delta Plus versi varian Delta yang pertama kali terdeteksi di India pada Februari.

Saat ini, pemerintah India telah mengirimkan varian ke Sistem Data Global dan mengirim sampel untuk pengujian genom.

Baca juga: Kemenkes Ungkap Covid-19 Varian Delta Cenderung Menular pada Anak-anak, Warga Diminta Waspada

Berikut ini beberapa hal yang perlu diketahui terkait Varian Delta Plus:

Apa perbedaan Delta Plus dengan varian Delta?

Semua varian membawa kelompok mutasi.

Delta Plus memiliki mutasi ekstra yang disebut K417N yang membedakannya dari varian Delta biasa.

Mutasi ini mempengaruhi protein spike, bagian dari virus yang menempel pada sel yang diinfeksinya.

“Mutasi K417N tidak sepenuhnya baru, ia muncul secara independen di beberapa garis keturunan virus,” kata Francois Balloux, Direktur Institut Genetika Universitas College London (UCL).

Mutasi itu terlihat pada strain yang ditemukan di Qatar pada Maret 2020 dan ditemukan pada varian Beta, yang pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan musim gugur lalu, katanya kepada Science Media Center.

“Mutasi dapat berkontribusi pada menurunnya kekebalan, meskipun dampaknya pada penularan tidak jelas,” tambahnya.

Semua virus bermutasi terus-menerus.

Beberapa dari perubahan itu membuat virus lebih cepat dalam menginfeksi sel atau dalam bereplikasi.

Sementara yang lain memiliki sedikit efek atau bahkan berbahaya bagi virus.

“Hingga saat ini, ada sekitar 160 jenis virus corona yang diurutkan secara global,” kata Balloux.

“Ada juga varian Delta plus lainnya dengan mutasi lain,” kata pemerintah India.

Mereka menambahkan, AY.1 adalah yang paling terkenal.

“Tim sedang melihat mutasi spesifik ini dan apa artinya dalam hal penularan dan keparahan. Sangat penting apa artinya ini dalam hal tindakan medis,” kata Maria Van Kerkhove, pimpinan teknis Organisasi Kesehatan Dunia untuk Covid-19.

Sementara itu, varian Delta reguler, juga dikenal sebagai strain B.1.617.2, telah menyebar dengan cepat.

Varian ini telah dilaporkan di sejumlah negara.

“Sebanyak 40 persen hingga 60 persen lebih mudah menular daripada varian Alpha yang pertama kali diidentifikasi di Inggris,” kata Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC).

Baca juga: Zona Merah Covid-19 di Jawa Semakin Meluas, Melonjak 2 Kali Lipat, Varian Delta Terbanyak di Jakarta

Apakah varian Delta Plus lebih menular atau mematikan?

Menurut badan pengurutan genom Covid-19 pemerintah India, varian Delta Plus menunjukkan beberapa sifat yang mengkhawatirkan.

Misalnya peningkatan penularan, pengikatan yang lebih kuat pada reseptor sel paru-paru, dan potensi pengurangan respons antibodi.

Saat ini, belum ada cukup bukti untuk menentukan secara meyakinkan dan para ahli lain juga telah menyatakan kehati-hatian.

Untuk saat ini, sebagian besar para ahli memperingatkan masyarakat dan pemerintah untuk tetap waspada, tetapi tenang.

“Ditemukan di beberapa negara tetapi tetap pada frekuensi yang sangat rendah … Tidak ada bukti bahwa strain saat ini berkembang di negara mana pun,” kata Balloux.

Van Kerkhove dari WHO mengatakan, organisasi itu melacak Delta Plus untuk menentukan tingkat penularan dan tingkat keparahannya.

Baca juga: Varian Delta Bikin Sydney Hadapi Masa Paling Menakutkan Sejak Pandemi Dimulai

Di mana varian Delta Plus ditemukan?

Sejauh ini, Delta Plus telah dilaporkan di 11 negara, tetapi jumlah kasus per negara hanya mencerminkan sampel yang telah diurutkan.

Sehingga diperlukan lebih banyak data untuk menentukan tingkat penyebaran yang sebenarnya.

AS telah mengurutkan dan mengonfirmasi jumlah kasus tertinggi dengan 83 kasus pada 16 Juni 2021, menurut Public Health England.

Disusul Inggris dengan 41 kasus per 16 Juni 2021.

Peningkatan pelacakan kontak, pengujian, dan isolasi dikerahkan ke sejumlah daerah di mana kasus Delta Plus telah dilaporkan, Downing Street mengonfirmasi

Beberapa kasus pertama yang diurutkan di Inggris adalah kontak individu yang telah melakukan perjalanan dari atau transit melalui Nepal dan Turki, menurut Public Health England.

Kemudian India menyusul dengan 40 kasus.

Kasus-kasus tersebut tersebar di tiga negara bagian, yaitu Maharashtra, Kerala dan Madhya Pradesh.

Pada Selasa, Kementerian Kesehatan India menetapkannya sebagai “varian perhatian,” dan menempatkan ketiga negara bagian dalam siaga.

Pemerintah mengatakan jumlah kasus masih rendah – tetapi mendesak negara bagian dengan kasus untuk “meningkatkan respons kesehatan masyarakat mereka” dengan meningkatkan pengujian, penelusuran, dan vaksinasi prioritas.

Sisa kasus tersebar di Kanada, India, Jepang, Nepal, Polandia, Portugal, Rusia, Swiss, dan Turki.

Berita lain terkait Varian Delta

Berita lain terkait Varian Delta Plus

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)



Source link

Continue Reading

EKONOMI

Hypermart, Peritel Milik Konglomerat Mochtar Riady Ini Dukung PPKM Mikro dengan Strategi Bisnis, Apa Saja?

Hypermart, Peritel Milik Konglomerat Mochtar Riady Ini Dukung PPKM Mikro dengan Strategi Bisnis, Apa Saja?


JAKARTA – Pengelola Hypermart, PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) mendukung langkah-langkah pemerintah yang telah dilakukan untuk mengurangi penyebaran COVID-19 salah satunya yakni Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Berbasis Mikro (PPKM Mikro).

Chief Executive Officer MPPA Elliot Dickson mengatakan perseroan menyadari situasi COVID-19 saat ini sangat sulit dan menantang bagi semua orang, terutama bagi konsumen yang berusaha memenuhi kebutuhan pangan dan rumah tangga sehari-hari.

“Sehingga kami bekerja keras untuk memastikan bisnis online kami, yang mencakup sebagian besar kota dibandingkan dengan yang lain, akan menjadi solusi sempurna bagi konsumen selama periode ini untuk membeli kebutuhan mereka dari rumah dan/atau memanfaatkan Park & Pick-up kami untuk keamanan tambahan dan kenyamanan,” ungkapnya dalam keterangan resmi, dikutip Jumat 25 Juni.

Untuk itu, peritel milik dari Lippo Group milik konglomerat Mochtar Riady ini berupaya terus memperkuat penawaran bisnis online sebagai O2O strategis dengan toko offline sebagai arah strategis baru di tahun 2021 dan seterusnya.

Elliot menuturkan, dalam beberapa bulan terakhir MPPA telah memperkuat layanan e-commerce Hypermart Online dan Chat & Shop miliknya yang kini mencakup 112 toko di seluruh Indonesia. Selain itu, MPPA juga bekerja sama dengan operator pasar terkemuka lainnya dan layanan pengiriman kebutuhan sehari-hari sesuai permintaan secara nasional.

“Ke depan, MPPA akan menambah lebih banyak toko on line untuk berpartisipasi dalam kolaborasi yang ada dan mengembangkan lebih banyak kolaborasi baru dengan operator pasar terkemuka lainnya di Indonesia,” tuturnya.

Per hari ini, pihaknya bekerja sama dengan mitra bisnis dengan menawarkan Bebas Ongkos Kirim ke platform Chat & Shop untuk memberikan kenyamanan dan nilai lebih kepada konsumen selama masa sulit ini.

“Peron on line perseroan secara keseluruhan juga memungkinkan konsumen untuk melakukan pembelian antar kota untuk keluarga atau orang terkasih yang berada di kota lain, misalnya konsumen dari Jakarta dapat melakukan pembelian secara online untuk diantarkan ke orang tuanya yang berdomisili di Jogjakarta,” ujar dia.

MPPA juga menawarkan fitur Park & Pick-up sebagai bagian dari Chat & Shop dan Hypermart Express untuk tujuan keamanan konsumennya. Dengan menggunakan Park & Pick-up di semua lokasi mall di mana MPPA beroperasi, konsumen kini memiliki keamanan lebih dengan dapat memesan dari lokasi kerja dan dapat mengambil pembelian mereka dalam perjalanan pulang tanpa harus bertemu fisik dengan orang lain.

.



Sumber Berita

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending Dari BuzzFeed

close