Connect with us

HEADLINE

Mengulik Sejarah Tuban Selatan dalam Perang Tuban Melawan Mataram

Mengulik Sejarah Tuban Selatan dalam Perang Tuban Melawan Mataram


#WrittingChallengeGNFI #CeritadariKawanGNFI

Tuban adalah salah satu kabupaten di Jawa Timur yang memiliki julukan “Bumi Ronggolawe” dengan beragam cerita sejarah. Hal itu karena Tuban merupakan salah satu kota tua, yang berdiri sejak zaman Majapahit. Bahkan, pelabuhan Tuban pun menjadi bagian penting dalam proses perniagaan, yakni menjadi pelabuhan besar dan utama dalam jalur distribusi dan perdagangan dan, serta pelayaran pada masa kerajaan Singasari dan Majapahit.

Namun, terlepas dari itu, terdapat cerita sejarah yang tidak semua masyarakat Tuban paham, yakni sejarah Tuban bagian selatan. Bahwasannya Tuban bagian selatan merupakan pusat perang Tuban melawan Mataram. Pusatnya terdapat di salah satu kecamatan di Tuban Selatan, yakni Desa Bangilan dan sekitarnya.

Pada pertengahan kedua abad ke-16, Kesultanan Demak sebagai kerajaan yang mendominasi seluruh Pulau Jawa terpecah menjadi beberapa negara karena faktor internal. Namun, perpecahan ini dapat diselesaikan dengan cara baik-baik melalui para pembesar Jawa, dan membuat kesepakatan bahwa ibu kota Kesultanan Demak berpindah ke Panjang dengan Sultan Hadiwijaya sebagai sultan selanjutnya.

Kemudian, Panembahan Senapati Mataram yang membangkang terhadap Sultan Hadiwijaya melakukan pemberontakan hingga gugurnya Sultan Hadiwijaya. Demi mempertahankan kehormatan negara, seluruh pembesar Jawa bersatu memilih Arya Pangiri sebagai sultan selanjutnya, yang sebelumnya menjabat sebagai Adipati Demak.

Setelah wafatnya Sultan Hadiwijaya dan jatuhnya negara timur di Madiun pada tahun 1590 M dengan cara yang licik oleh para pemberontak tersebut, persatuan Brang Wetan (persatuan kerajaan di nusantara) dipimpin oleh Surabaya dan Tuban sebagai gantinya. Pemilihan Arya Pangiri sebagai Sultan Demak sejatinya adalah rekomendasi dari Adipati Tuban dan Arya Pamalad, yang mengajak Panembahan Kudus untuk mengangkat Arya Pangiri atau Pangeran Jepara menjadi Sultan Pajang kedua.

Selanjutnya, hal itu disetujui oleh seluruh pembesar Jawa, bahkan juga diakui oleh para raja dari kerajaan-kerajaan di seluruh nusantara. Mereka semua kemudian mengirimkan para duta kesatria ke Jawa sebagai wujud pengakuan, sekaligus sebagai dukungan untuk Kerajaan Pajang yang sah.

Mereka memutuskan berperang di Pajang pada tahun 1586 Masehi. Namun, akhirnya mereka mundur bersama Arya Pangiri ke Tuban Selatan. Para duta kesatria dari berbagai kerajaan di seluruh nusantara inilah yang sekarang mendirikan desa-desa di Tuban Selatan yang dahulunya adalah markas mereka.

Konon legitimasi kesultanan yang sah tersebut pada akhirnya diberikan kepada Adipati Tuban Arya Pamalad, sedangkan Arya Pangiri diangkat oleh Adipati Tuban sebagai seorang pemimpin wilayah di Tuban Selatan, yang bernama Kadipaten Warung. Dahulu, wilayah ini merupakan sengketa antara Mataram dan Tuban.

Arya Pamalad sendiri merupakan seorang yang pertama kali merekomendasikan Arya Pangiri sebagai Sultan Pajang. Kemudian, Arya Pangiri memilih Tuban sebagai tempat pelarianya dan memberikan legitimasi kesultanannya kepada Adipati Tuban Arya Pamalad.

Dikisahkan bahwa pemberontak tersebut terus melakukan aksinya hingga tahun 1586 Masehi, jatuhnya Arya Pangiri dan banyak kadipaten diduduki oleh pemberontak Mataram. Hal ini membuat bupati-bupati daerah timur, seperti Surabaya, Tuban, Japan, Malang, Madura, Sukadana, Banjarmasin, Ngurawan, Madiun, Blambangan, dan seluruh kadipaten di Jawa Timur membangun persekutuan atau pakta pertahanan bersama untuk menyerang Mataram.

Pada penyerangan ini, Mataram mengalami kekalahan. Senapati gagal merebut Tuban dan dipukul mundur karena kalah jumlah dan perlengkapan senjata. Ditambah lagi Tuban dibantu oleh pasukan sekutu yang berjumlah besar, yakni dari Surabaya, Pasuruan, Kanjuruhan, Japan ( Mojokerto), Madura, Sukadana, dan Banjarmasin di Kalimantan Selatan.

Tuban si ‘Kuda Perang’

Pasukan Tuban beserta sekutu mememukul mundur pasukan Mataram yang dipimpin oleh Senapati yang terdiri dari prajurit dari Jipang (Cepu) dan Pati, setelah pasukan Mataram berhasil dipukul mundur. Dikejarlah pasukan Mataram itu oleh pasukan sekutu hingga ke wilayah Jipang bagian utara, yang pada waktu itu bernama Jipang Leran.

Pertempuran kembali terjadi di wilayah Jipang dan kembali dimenangkan oleh pasukan Tuban, karena pasukan Mataram telah kelelahan akibat pertempuran sebelumnya. Ditambah lagi, pasukan Tuban pada waktu itu hampir semuanya adalah pasukan kavaleri penunggang kuda, sedangkan pasukan Mataram hampir semua adalah pasukan invanteri pejalan kaki yang bersenjata tumbak.

Akhirnya, wilayah Jipang jatuh ke dalam kekuasaan Tuban pada waktu itu, hal itu menyebabkan sebagian besar penduduknya mengungsi ke selatan, yakni ke kota raja Kadipaten Jipang (Cepu).

Tuban pada pada waktu itu sangat terkenal dengan kuda perangnya hingga mendapat julukan Tuban bumi pagedogan. Tak heran jika Tuban memiliki prajurit penunggang kuda yang hebat. Tak hanya kuda, gajah turut menguasai sepanjang pelabuhan Tuban untuk menarik kapal berlabuh dan gerobak barang dari kapal pedagang.

Setelah pasukan Tuban menguasai wilayah Jipang, disiagakanlah pasukan Tuban beserta aliansi di sepanjang Jipang Leran atau Tuban Selatan sebagai wilayah yang baru saja di kuasai, sekaligus untuk membagi harta rampasan berupa tanah dengan adil. Karena Tuban tidak berperang sendiri sehingga pasukan sekutupun juga mendapatkan bagian.

Para tawanan Jipang dan Pati yang terluka ataupun tertangkap mereka semua dihukum mati oleh prajurit Tuban dan dimakamkan di hutan Desa Banjar. Tujuan ditempatkanya prajurit Tuban di sepanjang Jipang Ler adalah untuk bersiaga perang atau berjaga-jaga akan terjadinya serangan balasan dari selatan.

Merujuk pada berbagai sumber lokal maupun tertulis, penempatan ini dipimpin langsung oleh Adipati Arya Pamalad beserta patihnya yang juga adiknya sendiri, yakni Arya Salempe yang akan menjadi Adipati Tuban setelahnya. Menurut sumber yang ada, pasukan Tuban berjumlah 3 kali lipat dari pasukan Mataram dan hampir semuanya ada kavaleri berkuda.

Dalam perang melawan Tuban Mataram tidak lagi hanya mengandalkan perang frontal karena walau pertahanan tetaplah kuat dengan bantuan sekutu. Mata-mata kembali berperan dalam menentukan penyerangan ke Tuban. Raja Mataram mengirim seorang mata-mata bernama Randu Watang ke sana. Randu Watang memberitahukan kepada raja bahwa Pangeran Dalem akan mengadakan pemberontakan.

Penyerangan dan Taktik Jalur

Setelah kemenangan pertama Tuban, para petinggi Tuban sangat yakin akan kemampuan para prajuritnya hingga akhirnya Tuban dan sekutu sepakat untuk menyerang Mataram sampai kepusat kekuasaan, yakni kota raja Mataram atau sekitar Yogyakarta sekarang. Dalam menentukan rute yang akan ditempuh seorang kajineman (mata-mata) menyarankan agar mengambil jalan lewat Madiun karena tanahnya datar, harga beras murah, dan banyak air.

Pelopor penyerangan hingga ke negeri Mataram ini kemungkinan adalah para prajurit pilihan dari Madiun yang sebelumnya menduduki Surabaya di tahun 1590 Masehi, karena negerinya berhasil dibobol oleh pemberontak Mataram yang licik. Para kesatria Madiun inilah yang di kemudian mendirikan Desa Ngepohan (Ngepon), Ngujuran, Bader, dan lainnya di Kecamatan Jatirogo dan Bancar. Oleh karena itu, mereka cenderung memilih melewati Negeri Madiun karena mereka paham seluk beluk wilayah itu. Hal ini disampaikan oleh seorang kajineman Tuban yang baik.

Namun, untuk Adipati Tuban sendiri berfikir bahwa melewati jalur Pati juga lebih baik dari pada lewat Madiun, karena mengingat sekutu aliansi yakni Kadipaten Pajang juga akan turut bergabung dan memberontak terhadap Mataram, sekaligus dianggap sebagai kunci kemenangan dari serangan ke Mataram ini. Serangan ini didukung oleh para sekutu aliansi Brang Wetan, mereka adalah para kesatria yang berjuang untuk mempertahankan kehormatan Negara Pajang yang sah dari pemberontak Mataram. Hingga pada akhirnya terjadi perang besar di Siwalan pada tahun 1616 Masehi.

Pasukan aliansi sekutu bergerak sampai mendekati wilayah musuh. Mereka berkemah di Siwalan yang terletak dekat Pajang. Mereka berkemah di sana mungkin karena menganggap akan mendapatkan bantuan dari Pajang.

Namun, ternyata Pajang batal bergabung dengan mereka dan kembali kepada Mataram. Pasukan Mataram dibawah Tumenggung Martalaya dan Jaya Suponta memotong jalur pasokan makanan. Pasukan sekutu pun berperang dalam keadaan lapar dan sakit.

Adipati Tuban yang malu karena kebohongan mata-matanya telah menyesatkan sekutu, memberanikan diri menyerang terlebih dahulu. Akan tetapi tembakan-tembakan lawan menghalau kembali pasukannya yang sambil melarikan diri sebagian masuk ke dalam rawa (De Graaf, 1985).

Esok harinya serangan kedua dipimpin oleh Adipati Japan (Mojokerto) yang berakhir dengan kekalahan total bagi sekutu. Pasukan Surabaya dan Madura juga tidak bisa bertahan. Mereka dihabisi dalam pelarian, sedangkan Adipati Japan melakukan perlawanan hingga gugur. Atas perintah Raja Mataram, Sultan Agung, yang memuji keberaniannya, Adipati Japan dimakamkan di Butuh, sebelah Raja Pajang. Sementara itu, Adipati Tuban berhasil selamat.

Sekitar tiga tahun setelah pertempuran di Siwalan, Sultan Agung memerintahkan Tumenggung Martalaya dan Jaya Suponta untuk menyerang Tuban. Sebelumnya, kakeknya, Senopati, gagal menaklukkan Tuban. Serangan ini gagal karena kota itu pada peralihan tahun 1598-1599 masih berkembang dengan pesat dan penduduknya menyebut rajanya sebagai raja yang paling berkuasa di Jawa (De Graaf, 1985).

Serat Kandha menggambarkan jalannya pertempuran. Adipati Pati mengusulkan serangan kilat, tetapi Tumenggung Martalaya lebih menghendaki menunggu sampai pasukan Tuban keluar. Patih Tuban, Jaya Sentana, mengusulkan agar pasukan istimewa maju terlebih dahulu.

Adipati Tuban menolak karena mengandalkan sepenuhnya pada tiga meriam yang dipercaya mempunyai kekuatan gaib. Meriam-meriam itu ditempatkan diatas tembok. Namun, dua meriam meledak yang membunuh banyak kawan dan lawan sedangkan meriam ketiga macet tidak bisa melepaskan tembakan.

Dalam serat Babad Tanah Djawi menyebut dua nama meriam itu ialah Sidamurti dan Pun Gelap. Meriam yang pertama membunuh tiga adipati, sedangkan dua lainnya meledak. Orang-orang Tuban terkejut karena menganggapnya sebagai pertanda kekalahan.

Terdapat banyak versi terkait sejarah Tuban bagian selatan ini. Namun, jika menillik pada peninggalan-peninggalan sejarah yang ada di Tuban selatan, seperti makam para pahlawannya dapat membuktikan bahwa sejarah Tuban selatan berawal dari perang Tuban melawan Mataram di abad ke-16. Di mana saat itu wilayah Tuban selatan bernama Jipang Ler. Itulah sedikit kisah peristiwa sejarah Tuban Selatan ketika perang Tuban melawan mataram.*

Referensi: Tan Koen Swie, Babad: – Tan Koen Swie (ed.), Babad Toeban. Kedir~ 1936. | Thomas Stanford Raffles. 2008. The History Of Java. Yogyakarta: Narasi | De Graaf, TH. Pigeaud . (1985). Kerajaan-kerajaan islam di Jawa. Jakarta





Source link

Advertisement
Click to comment

HEADLINE

5 Bahan Alternatif Pengganti Santan yang Lebih Rendah Kalori

5 Bahan Alternatif Pengganti Santan yang Lebih Rendah Kalori


Santan dan masakan Indonesia memang sulit dipisahkan. Sejak zaman dahulu, santan biasa digunakan untuk membuat hidangan lebih gurih dan terasa nikmat. Sebut saja nama-nama masakan seperti lodeh, opor ayam, gulai, kari, rendang, gudeg, soto, garang asem, dan mangut yang semuanya dimasak pakai santan.

Santan sendiri dibuat dari perasan daging kelapa parut atau biasa disebut coconut milk. Cairan berwarna putih mirip susu ini sering jadi bahan baku dalam aneka hidangan khas Nusantara. Tak hanya makanan utama, camilan dan minuman pun banyak yang menggunakan santan, misalnya bubur kacang hijau, bubur ketan hitam, bubur sumsum, dan kolak.

Meski nikmatnya tak bisa terelakkan, tapi ingat kalau santan termasuk bahan makanan tinggi kalori dan tinggi lemak. Bayangkan, dalam satu cangkir 240 gram santan, di sana terdapat 554 kalori, 57 gram lemak, dan 13 gram karbohidrat. Santan juga mengandung lemak jenuh yang bisa meningkatkan kadar kolesterol serta risiko penyakit jantung, strok, dan kalorinya yang tinggi bisa menyebabkan diabetes.

Sebenarnya, batas konsumsi santan yang aman sehari-hari hanyalah satu sendok makan. Sementara itu, jika sudah dibuat masakan, coba periksa lagi seberapa banyak santan yang Anda makan? Apalagi pada momen Lebaran di mana banyak masakan menggunakan santan dibuat.

Menurut pendapat dokter spesialis gizi, Tatik Bardosono, konsumsi santan sulit dihindari karena sudah jadi tradisi Lebaran. Namun, sebaiknya konsumsi santan dibarengi dengan makan buah dan sayur segar, agar tetap makan gizi seimbang.

“Saat Lebaran sulit menghindari konsumsi makanan bersantan karena memang itu tradisi, yang penting bisa diimbangi dengan konsumsi buah dan sayur segar serta acar yang biasa dihidangkan untuk mengantisipasi kelebihan asupan lemak dari santan,” kata Tatik, kepada CNNIndonesia.

Jika mulai khawatir pada risiko kesehatan tapi tetap sulit menghindari makanan bersantan, cobalah untuk berkreasi dengan alternatif pengganti santan berikut. Meski bukan dari kelapa, bahan-bahan berikut juga bisa membuat masakan jadi lebih gurih dan creamy.

Susu murni

Susu sapi murni dan segar bisa jadi alternatif pengganti santan untuk memasak. Lemak dari susu bisa meningkatkan kadar HDL atau kolesterol baik yang bermanfaat untuk tubuh. Susu juga mengandung kalium yang bisa menyeimbangkan tekanan darah. Bila memilih susu, pastikan tidak pada masakan yang harus dimasak sangat lama karena bisa merusak kandungan nutrisinya. Jangan lupa pilih susu murni tawar agar tak merusak citarasa makanan. Susu kedelai

Ya, susu kedelai juga bisa dimanfaatkan untuk jadi pengganti santan. Namun, pastikan Anda memilih susu tanpa pemanis dan tanpa gula agar rasa masakan tidak terasa aneh. Pada dasarnya, kandungan lemak susu kedelai tak sebanyak santan lho. Dalam secangkir susu, lemaknya hanya 4 gram dan kalorinya 80 kkal saja.

Susu almon

Masih dalam kategori susu kacang, Anda bisa mengganti santan dengan susu almon. Kalorinya rendah, sekitar 30 saja, lemaknya pun hanya 2,5 gram dalam secangkir. Rasa susu almon tanpa gula juga cenderung netral dan cocok untuk dicampur dengan masakan. Namun, kekurangannya adalah susu almon cenderung lebih mahal dan tidak bisa membuat masakan jadi lebih kental seperti waktu menggunakan santan.

Greek yoghurt

Perbedaan Greek yoghurt dengan minuman yoghurt biasa terletak pada teksturnya yang kental dan tebal. Anda bisa mengganti santan dengan Greek yoghurt untuk membuat makanan jadi lebih kental dan gurih. Agar tak terlalu kental, yoghurt bisa dicampur dengan sedikit air. Dari segi rasa memang agak berbeda, tapi bisa dicoba mencari yoghurt dengan rasa kelapa agar semakin mirip dengan santan.

Krimer tanpa pemanis

Umumnya, krimer digunakan untuk campuran kopi atau minuman manis. Biasa juga ditambahkan dalam masakan seperti pasta yang creamy. Anda pun bisa mencoba mengganti santan dengan krimer tanpa pemanis dengan cara dilarutkan dulu dengan air, baru dicampurkan dengan masakan. Saat ini, di pasaran cukup mudah untuk menemukan krimer tanpa pemanis dan rendah kalori yang biasa dicari orang-orang yang sedang diet.

Kemiri

Mungkin Anda kaget kenapa kemiri bisa digunakan untuk pengganti santan. Namun, nyatanya bumbu dapur ini memang bisa membuat masakan jadi lebih gurih dan memberikan kekentalan. Kemiri juga bisa meningkatkan kadar HDL dan menurunkan kadar koleksterol jahat atau LDL.

Ketika menggunakan kemiri dalam masakan, memang warna masakannya tak bisa seputih pekat santan, tetapi rasa gurihnya cukup mirip lho. Untuk menggunakan kemiri, bisa disangrai terlebih dahulu kemudian dihaluskan sebelum dicampur masakan.

Baca juga:





Source link

Continue Reading

HEADLINE

Bingung buat Kartu Ucapan Lebaran? Yuk, Simak Cara Membuatnya!

Bingung buat Kartu Ucapan Lebaran? Yuk, Simak Cara Membuatnya!


Penulis: Habibah Auni

Sebentar lagi hari kemenangan akan tiba. Sebuah hari yang dinanti oleh umat muslim di dunia. Dalam menyambutnya, ada banyak cara yang bisa Kawan lakukan. Salah satunya dengan saling berbagi hadiah bersama anggota keluarga.

Nah, hadiah ini biasanya macam-macam. Bisa berupa THR, hampers, atau bahkan kartu ucapan lebaran. Adapun kartu ucapan lebaran biasanya diberikan langsung kepada si penerima atau diselipkan di THR atau hampers.

Pada umumnya, kartu ucapan lebaran berisi kalimat-kalimat ucapan selamat merayakan lebaran, permohonan maaf, dan asa untuk lebaran di tahun berikutnya. Banyak orang membuat kartu ucapan lebaran seindah mungkin agar dapat menarik hati si penerima. Berikut beberapa cara membuat kartu ucapan lebaran unik yang bisa Kawan GNFI coba.

1. Tentukan alat yang akan dipakai

Ilustrasi Kartu Ucapan Lebaran Secara Manual | Foto: Unsplash

info gambar

Apakah Kawan GNFI ingin mengirimkan kartu ucapan lebaran melalui paket hampers? Atau memberikan melalui pesan singkat? Pertanyaan ini perlu Kawan GNFI pikirkan baik-baik supaya tahu tools mana yang bisa Kawan GNFI gunakan.

Apabila Kawan memutuskan untuk mengirimkan kartu ucapan lebaran secara offline, Kawan harus mempersiapkan kartu ucapan Lebaran secara manual menggunakan kertas. Sebaliknya, jika Kawan GNFI ingin mengirimkan kartu ucapan secara online, buatlah kartu ucapan dengan aplikasi/software desain.

2. ATM kartu ucapan lain

Contoh Desain Kartu Ucapan Lebaran yang Menarik | Foto: Unsplash

info gambar

Mendesain sesuatu merupakan hal yang sangat menantang lantaran membutuhkan kreativitas tinggi. Saking menantangnya, tak jarang mencari inspirasi desain membuat kita kebingungan bahkan kewalahan. Hal ini berpotensi membuat kita bermalas-malasan dan mengurungkan niat untuk membuat desain.

Nah, dengan melakukan ATM pada kartu ucapan Lebaran lain, Kawan GNFI dapat menemukan berbagai inspirasi dalam mendesain kartu ucapan Lebaran. Kawan GNFI bisa mengamati pola desain kartu ucapan Lebaran lain, lalu menerjemahkannya dalam bentuk desain kartu ucapan Lebaran milik sendiri.

3. Siapkan copywriting anti mainstream

Contoh Kalimat Kartu Ucapan Lebaran yang Unik | Foto: Pikiran Rakyat

info gambar

Buatlah berbaris kalimat ucapan lebaran yang menarik dan anti mainstream. Hindari kata-kata monoton, seperti “Mohon Maaf Lahir dan Batin” atau “Selamat Lebaran”. Kata-kata seperti ini sebaiknya dimasukkan di akhir kalimat kartu ucapan Lebaran saja.

Jika Kawan masih kebingungan dalam menyusun kalimat di kartu ucapan lebaran, Kawan dapat meniru dan merombak ulang kalimat di kartu ucapan lebaran lain. Berikut berbagai kalimat ucapan lebaran yang bisa Kawan gunakan, dikutip dari berbagai sumber.

  • “Tiada kesucian menjadi sempurna tatkala ada satu di antara kebencian tertanam dalam jiwa membasuh jiwa dengan permintaan maaf. Terkirim dari lubuk hati atas kesalahan selama ini. Selamat Idulfitri. Mohon maaf lahir batin.”
  • “Kata-kata seindah zikir teralun bagaikan azan, berbaris rapi dalam saf. Bagaikan tentara bersenjata, hari kemenangan itu akan tiba. Keikhlasan yang merajai hati untuk saling memaafkan. Selamat Idulfitri 1442 H.”
  • “Berharap malam segera tiba, berganti pagi penuh doa, menyambut Lebaran bersama keluarga. Izinkan kami memohon maaf atas segala dosa, Minal Aidin Walfaizin, mohon maaf lahir batin dari kami sekeluarga.”
  • “Idulfitri telah tiba di tahun 2021. Kita kembali menjadi suci setelah berperang melawan diri sendiri. Taqobballahuminna wa minkum, taqobbal ya Kariim. Selamat Idulfitri. Minal Aidil Wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin.”
  • “Sambutlah hari kemenangan dengan bahan yang paling baik. Bahan kesabaran dengan benangnya kesucian. Dihiasi dengan keikhlasan yang dijahit sebulan. Selamat Lebaran, mohon maaf atas segala kesalahan.”

4. Tambahkan hiasan

Ilustrasi | Foto: Unsplash

info gambar

Jika sudah menyusun kalimat, langkah selanjutnya adalah menuliskan nama Kawan GNFI dan tambahkan sedikit hiasan pada kartu ucapan lebaran. Pasalnya, penulisan nama Kawan ini dapat memperkuat kesan personal kartu ucapan di hati si penerima.

Selain itu, penulisan nama Kawan GNFI dapat mempertegas hak milik dan mengurangi potensi forward kartu ucapan lebaran ke banyak orang. Kartu ucapan Lebaran Kawan GNFI pun dapat tampil paling orisinil ketimbang kartu ucapan lebaran lainnya.

Itulah beberapa cara membuat kartu ucapan lebaran yang unik. Dengan mengaplikasikan langkah-langkah ini, Kawan GNFI dapat menciptakan sebuah kartu ucapan yang dapat mengesankan. Sudah siap mencobanya, Kawan GNFI?

Referensi:bola.com | cermati.com

Baca Juga:





Source link

Continue Reading

HEADLINE

Jelang Lebaran, BI Kucurkan Uang Tunai Rp152 Triliun untuk Kebutuhan Masyakarat

Jelang Lebaran, BI Kucurkan Uang Tunai Rp152 Triliun untuk Kebutuhan Masyakarat


Kebutuhan akan uang meningkat pesat saat ramadhan hingga hari lebaran. Dengan kondisi tersebut, setiap tahunnya Bank Indonesia (BI) mengeluarkan uang tunai tambahan untuk mencukupi kebutuhan peredaran uang di masyarakat.

Data Bank Indonesia menunjukkan, dalam jangka waktu tujuh tahun terakhir (2015-2021), kebutuhan uang tunai saat hari raya lebaran selalu mengalami peningkatan pada tahun 2020.

Kebutuhan uang tunai masyarakat menjelang lebaran © GNFI

info gambar

Pada 2015, kebutuhan uang tunai tercatat senilai Rp125 triliun, lalu meningkat menjadi Rp160 triliun pada 2016, meningkat menjadi Rp167 triliun pada 2017, kemudian meningkat lagi menjadi Rp191 triliun pada 2018.

Puncaknya pada 2019, kebutuhan uang masyarakat menjelang lebaran mencapai Rp192 triliun. Setahun kemudian (2020), angkanya turun drastis menjadi Rp109 triliun. Pandemi covid-19 menjadi faktor utama penurunan nominal tersebut.

Kebutuhan tahun ini meningkat 39,33 persen dari tahun sebelumnya

Pada tahun ini, Bank Indonesia menyiapkan uang tunai sebesar Rp152,14 triliun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama periode Ramadan hingga Idul Fitri 1442 H.

Secara persentase, nominal tersebut meningkat 39,33 persen year oon year (yoy) dari tahun sebelumnya (2020) yang hanya mencatatkan nominal Rp109,2 triliun.

Uang sebesar Rp152,14 triliun tersebut mayoritas diisi dengan pecahan uang Rp100.000 dan Rp50.000 dengan total Rp137 triliun atau 90,07 persen dari keseluruhan. Sedangkan sisanya terdiri dari uang pecahan nominal Rp20 ribu ke bawah.

Sementara itu, bank swasta maupun negeri juga turut serta meningkatkan ketersediaan uang tunai mereka. Bank BCA menyediakan uang tunai sebesar Rp53 triliun untuk mengantisipasi tarikan nasabah di mesin ATM menjelang libur Idul Fitri 1442H. Angka tersebut meningkat 36 persen dari tahun lalu sebesar Rp39 triliun.

Baca Juga: Tradisi Beli Baju Lebaran, Bermula dari Banten Mengakar Hingga Hari Ini

Sejumlah bank turut tingkatkan persediaan uang cash

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk, Jahja Setiaatmadja, menyampaikan, bagi nasabah yang ingin bertransaksi, baik setoran maupun tarikan tunai dapat menggunakan 9.822 mesin ATM Setor Tarik BCA yang tersebar luas di berbagai tempat.

Jahja Setiaatmadja juga menambahkan bahwa nasabah juga bisa memanfaatkan fasilitas Tarik Tunai Tanpa Kartu yang dapat diakses melalui BCA Mobile dan Sakuku.

Selain BCA, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk juga menyiapkan kebutuhan kas sebesar Rp36,7 triliun. Kas tersebut akan dialokasikan untuk mesin ATM, CRM, dan juga untuk layanan unit kerja operasional (UKO). Jumlah nominal uang kas tersebut juga meningkat sebesar 8 persen dibandingkan tahun 2020.

Bank Mandiri menyiapkan uang sebesar Rp20,8 triliun, meningkat 9 persen ketimbang tahun lalu. Tak hanya itu, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI juga menyiapkan uang tunai bagi nasabah sebesar Rp12,9 triliun per minggunya menjelang perayaan Lebaran tahun ini. Jumlah tersebut pun naik 7 persen dibanding tahun lalu.

Sejumlah bank tahun ini beramai-ramai meningkatkan kebutuhan uang tunai saat Lebaran setelah mengurangi peredaran uang tunai pada tahun lalu. Penetapan angka atau kenaikan proyeksi tersebut juga telah memerhatikan asumsi makroekonomi saat ini dan kondisi penyebaran pandemi Covid-19.

==

Referensi: Lokadata.id | Kompas.com | CNN Indonesia

Baca Juga:





Source link

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending Dari BuzzFeed

close