Connect with us

Humaniora

Mengenal Tradisi Pindah, Cara Suku Anak Dalam Menghilangkan Kesedihan

Mengenal Tradisi Pindah, Cara Suku Anak Dalam Menghilangkan Kesedihan

[ad_1]

Suku Anak Dalam adalah kelompok Komunitas Adat Terpencil (KAT) di perbatasan Provinsi Riau dan Jambi. Suku Anak Dalam atau yang biasa disebut ‘orang rimba’ memiliki tradisi unik yang diwariskan turun temurun dari nenek moyang mereka, tradisi ini bernama melangun.

Melangun bagi Suku Anak Dalam adalah pergi jauh. Melangkahkan kaki menjauh dari kampung halaman menghilangkan kesedihan akibat ditinggal mati sanak saudara. Berjalan kaki melintasi sejumlah kota, kecamatan, kabupaten, hingga provinsi berharap kesedihan usai ditinggalkan keluarga akan sirna.

“Melangun sampai hati puas, sampai hilang kesedihan,” ujar Sukur, salah seorang Suku Anak Dalam yang dilansir dari Antaranews.

Lelaki yang mengaku tidak mengetahui berapa usianya ini, mengatakan hal ini dilakukannya untuk menghilangkan kesedihan akibat kematian anaknya. Ia bahkan melangun hingga bertahun-tahun. Bahkan sampai ke Padang Panjang.

Tradisi ini harus diikuti oleh semua keluarga yang terkena musibah. Dengan berjalan kaki, Sukur dan keluarganya bisa pergi ke Padang Panjang dan Taluk Kuantan yang jaraknya ratusan kilometer dari tempat tinggalnya.

“Lama melangun, baru kami pulang, sampai hati senang, dan tak ada lagi sedih. Tapi tak menetap di tempat asal, melainkan mencari daerah yang agak jauh,” katanya.

Melangun bisa berarti hidup mengembara di dalam hutan, penyebabnya karena adanya kepercayaan bahwa kematian itu disebabkan oleh gangguan roh jahat. Karena itu perlu dijauhi agar tidak menggangu kehidupan manusia. Perpindahan tempat tinggal itu karena dinilai rumah yang ditempatinya mendatangkan kesialan.

Mengungkap Keindahan Geopark Merangin

Selain itu tradisi ini bisa juga diartikan sebagai perwujudan rasa cinta kepada orang yang telah meninggal. Semakin cinta dan sayang terhadap orang yang tiada, maka kegiatan melangun akan semakin lama. Semakin lama waktu melangun, secara otomatis semakin jauh jarak yang akan ditempuh.

“Kalau ada yang meninggal langsung dikubur, setelah itu kami langsung pergi pada hari itu juga. Satu malam pun tidak kami tempati lagi rumah itu, karena bagi kami rumah itu sial,” ujar Ketua Adat Suku Anak Dalam, Japaren yang dikutip dari Sripoku.

Dulu memang melangun dilakukan hingga puluhan tahun karena dianggap sebuah kesialan. Namun sejak beberapa tahun belakangan tradisi tersebut dilakukan dalam waktu singkat. Tradisi ini, diawali dengan ratapan yang dilakukan keluarga dihadapan mayat.

Menangis, meraung, dan menghempaskan badan ke tanah hingga berpekan-pekan lamanya, berharap nyawa yang telah dicabut dikembalikan kepada mayat tersebut. Sebelum melangun dilakukan pun, mayat yang telah ditutup kain tersebut dibiarkan di atas sesungdungon.

Sesungdungon adalah tempat berteduh yang berukuran 2×2 meter dan beratap daun atau plastik yang tingginya 12 undukan dari tanah. Jika untuk anak-anak, tingginya 4 undukan dari tanah. Pondok ini diberi alas dari batang-batang kayu bulat kecil dan diberi atap-atap daun kering.

“Kami percaya, orang yang mati tersebut akan hidup kembali. Kalau dikuburkan maka tidak ada harapan untuk hidup kembali dan bergabung bersama kami,” jelas Sukur.

Baru ketika tradisi Melangun usai, mereka mulai melakukan aktivitas normalnya kembali seperti berladang, berburu, dan menangkap ikan. Tempatnya pun, agak jauh dari tempatnya semula, tetapi selalu berada di pinggiran sungai yang merupakan sumber kehidupan mereka.

Tradisi melangun yang harus melawan zaman

Ternyata semakin berjalannya waktu, tradisi melangun sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat Suku Anak Dalam. Japaren mengatakan beragam tantangan yang dihadapi baik karena modernisasi dan faktor lingkungan membuat tradisi ini mulai hilang.

“Waktu saya kecil dulu masih sering, tapi sekarang tidak ada lagi, mungkin seumuran saya yang terakhir mengikuti tradisi itu,” ucap Japaren.

Selain itu mereka pun harus melawan konservasi hutan alam yang dilakukan sejumlah perusahaan. Hutan-hutan yang merupakan ekosistem kehidupan mereka telah berubah menjadi lahan pertanian dan perkebunan. Mereka yang tadinya terbiasa menjalankan hidup nomaden dan tinggal beralaskan tanah dan gubuk, sebagiannya sudah memiliki rumah.

“Melangun tidak lama lagi sampai bertahun-tahun, lokasinya jadi lebih dekat, bahkan dulu ada yang meninggal harus melangun sekarang, jika ada yang sakit dipindahkan jauh-jauh agar kelompoknya tidak melangun. Sebagian yang sudah beragama memilih tidak lagi melangun,” ucap Adi Prasetijo, antropolog sekaligus Direktur Indonesia Center for Sustainable Development (ICSD) yang dikutip dari Mongabay.

Hilangnya hutan membuat masyarakat adat ini mengalami krisis pangan. Pasalnya, selama tradisi ini, mereka tidak mendapatkan pasokan makanan yang banyak, ladang cadangan mereka untuk umbi-umbian tidak ada.

Masyarakat adat yang mengandalkan hidup dari berburu dan meramu. Menjadi rentan hilang secara kebudayaan karena tutupan hutan terus menipis.

“Ditambah lagi konflik, ini tidak akan mampu bertahan, negara harus hadir untuk mereka,” ucap Adi.

Menurutnya, pemerintah seharusnya memberikan hutan sebagai ruang hidup sekaligus identitas budaya orang rimba. Kalaupun ada kelompok yang berubah dari sistem dan keunikan budaya. Mereka juga perlu dukungan penuh higga cepat beradaptasi dan diterima masyarakat.

“Bagi kelompok orang rimba yang mempertahankan identitas mereka ini juga seharusnya dipikirkan negara bagaimana solusi tepat. Dengan hutan sebagi sumber penghidupan dan identitasnya,” tegasnya.

Kampung Literasi akan Dibangun di Jambi

Hidup berpindah-pindah dalam tradisi melangun, membuat orang rimba menjadi rentan sakit karena harus beradaptasi dengan lokasi baru. Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman melalukan studi kepada orang rimba terkait penyakit malaria.

Selama 10 hari, mereka melakukan tes pada beberapa kelompok Orang Rimba. Musim hujan jadi patokan angka malaria tinggi pada orang rimba. Malaria masih menjadi momok bagi orang rimba. Data sementara diperoleh dari Eijkman dari 400 orang rimba yang menjalani pemeriksaan sekitar 37 orang positif malaria.

“Kita belum mengumpulkan semua Sampel, ini baru yang sudah diidentifikasi saja segitu,” kata Din Syarifuddin, peneliti senior malaria Eijkman yang dilansir dari Mongabay.

Data Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, berkerjasama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) Jambi pada 2018 menyebutkan, orang rimba terdata 4.500 jiwa tersebar di enam kabupaten. Kematian orang rimba beruntun pernah terjadi pada 2015 sebanyak 11 orang. Gejalanya hampir sama, diawali gejala, demam, batuk, sakit perut dan sesak napas.

Rendahnya kesadaran posyandu dan pemeriksaan kesehatan ibu hamil serta balita juga jadi salah satu pemicu. Orang rimba juga memiliki tradisi sendiri saat melahirkan. Ketika perempuan rimba yang mau melahirkan akan dibawa ke Tanah Peranaon, wilayah khusus untuk proses bersalin orang rimba .

Di Tanah Peranaon ini, juga didampingi satu orang dukun. Biasanya bayi yang baru lahir bibirnya akan dipoles madu hutan untuk kekebalan tubuhnya. Mereka memang tidak mengenal fasilitas kesehatan modern.

“Di Tanah Peranaon ini ada berbagai macam ramuan untuk melahirkan dan merawat bayi nanti, dekat dengan sungai juga biasanya,” kata Ngadun salah satu warga orang rimba.

Dilakukan untuk hindari Covid-19

Suku Anak Dalam (SAD) di Desa Muara Kilis Kecamatan Tengah Ilir Kabupaten Tebo sudah beberapa hari ini pergi melangun. Mereka terpaksa pergi ke hutan karena takut tertular virus Corona atau Covid-19, salah seorang warga desa tempat mereka tinggal, terkonfirmasi positif Covid-19 dan meninggal dunia.

“Kita tahu jika virus corona itu cepat menyebar dan mematikan. Jadi biar terhindar dari virus itu, kita terpaksa melangun,” kata Temenggung, pimpinan SAD yang dilansir Gatra (24/8/2020).

Diakui Temenggung, jika sudah beberapa minggu ini kelompok dia pergi melangun yakni mulai dari almarhum ST dinyatakan positif terkonfirmasi Covid 19, almarhum dirawat di RSUD STS Tebo hingga meninggal dan dimakamkan.

Saat ini kata Temenggung, warganya masih melakukan melangun. Mereka akan kembali ke Desa Muara Kilis jika kondisinya memang sudah benar-benar aman.

Hal ini dibenarkan oleh pendamping SAD Jambi yang juga Ketua Yayasan Orang Rimbo Kito (ORIK), Ahmad Firdaus,”iya, sekarang ini pemukiman SAD di Desa Muara Kilis sepi sekali, mereka pada pergi melangun. Hanya beberapa orang saja yang tinggal disana,” kata Firdaus.

Budidaya Jernang, Asa Bagi Orang Rimba Jambi

Dirinya juga meminta kepada Tim Gugus Tugas Covid-19 agar segera mensterilkan rumah atau warung ST tersebut. Agar mengantisipasi penyebaran virus pandemik tersebut.

“Sebaiknya rumah ST segera disemprot disinfektan, begitu juga rumah-rumah SAD di sana. Ini demi memutus penyebaran virus tersebut,”katanya.

Setelah dua bulan melakukan melangun, pada bulan November tahun lalu, SAD telah kembali ke pemukiman mereka. Dirinya menjelaskan, beberapa bulan yang lalu SAD kelompok Temanggung Apung pergi meninggalkan rumah mereka. Ini disebabkan ada pasien positif corona yang meninggal dunia dan dimakamkan tidak jauh dari pemukiman.

“Alhamdulilah mereka sudah kembali dari melangun. Sekarang mereka sudah kembali ke pemukiman,” kata Firdaus dikutip dari Gatra (5/11).

Selama melangun, berbagai upaya dilakukan warganya untuk bisa bertahan hidup. Mulai dari mencari madu hutan, mencari getah damar, hingga mencari hasil hutan lain yang bisa dijual.

“Kami melangun ke Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNTB), ada juga yang melangun di kebun-kebun warga maupun kebun perusahaan. Di sana kami mencari hasll hutan yang bisa dijual. Hasil penjulan kami belikan sembako,” ujar Temanggung.

Temanggung berharap bencana Covid-19 ini segera berakhir. Pasalnya, meski mereka sudah kembali ke pemukiman, namun masih merasa was-was akan virus tersebut.

“Kita sangat khawatir sebab virus ini tidak terlihat. Kita seperti menghadapi musuh yang tidak nyata, jadi tinggal kitanya saja untuk menjaga diri,” ucap Temanggung.

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Advertisement
Click to comment

Humaniora

Cara Leluhur Dekatkan Anak-Anak dengan Tuhan | Good News From Indonesia

Cara Leluhur Dekatkan Anak-Anak dengan Tuhan | Good News From Indonesia

[ad_1]

Mohammad Zaini Alif, pakar permainan tradisional Indonesia mengungkapkan bahwa arti dari dari kalimat tersebut tidak diketahui secara pasti, karena belum ada penelitian tentang sejarah yang menjelaskan kemunculan kalimat tersebut dalam permainan anak-anak. Permainan ini pun mulai ditinggalkan dan digantikan dengan permainan canggih.

Namun, selama pandemi Covid-19 ada perkembangan di masyarakat. Permainan-permainan tradisional mulai naik daun dan banyak dimainkan anak-anak untuk mengisi keseharian selama menetap di rumah.

Untuk melestarikan keberadaan permainan tradisional, Sjamsul, sebagai pihak dari Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah (Disdakmen) bersama pusat kurikulum tengah mempersiapkan modul permainan tradisional untuk ke dalam kurikulum.

Selamat Hari Anak Nasional!

#makintahuindonesia#Indonesia#Hompimpa#DolananAnak#Semenit

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Continue Reading

Humaniora

Lima Bahasa Asing yang Kosakatanya Diserap Menjadi Kosakata Indonesia

Lima Bahasa Asing yang Kosakatanya Diserap Menjadi Kosakata Indonesia

[ad_1]

Ilustrasi bola dunia © Sigmund Unsplash


9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia Adalah Asing. Begitulah judul buku karya Alif Danya Munsyi alias Remy Sylado. Penafian: artikel ini tidak akan menguraikan apalagi mempromosikan buku. Apa yang diungkapkan Remy Sylado dalam judul bukunya adalah gambaran bahwa bahasa Indonesia tidak serta merta ada tanpa kontribusi bahasa asing.

Sebagian besar kosakata bahasa Indonesia yang kita gunakan merupakan hasil adopsi dari bahasa asing. Itulah yang menjadi alasan kenapa kita kerap menemukan kata dalam bahasa asing yang mirip dengan bahasa Indonesia. Nah, berikut lima bahasa asing berkontribusi terhadap kata serapan dalam bahasa Indonesia.

1. Bahasa Sanskerta

info gambar

Ilustrasi bahasa Sanskerta | h0rde iStock Photo


Bahasa yang satu ini merupakan bahasa tertua sebagai bahasa sumber penyerapan Indonesia. Hal tersebut dibuktikan dengan penemuan prasasti Talang Tuo di Palembang yang menggunakan kosakata bahasa Sansekerta pada 684 M. Bahasa Sansekerta juga kerap menjadi sarana penyebaran agama Hindu dan Budha sejak abad ke-7.

Selain sebagai sarana penyebaran agama, bahasa Sansekerta juga kerap digunakan dalam aktivitas perdagangan rempah-rempah dari India. Kata serapan dari bahasa Sanskerta di antaranya aneka, anugrah, bahasa, bencana, dan bicara.

2. bahasa arab

Ilustrasi Arab |  Rodnae Production Pexels.com

info gambar

Ilustrasi Arab | Rodnae Production Pexels.com


Bahasa Arab merupakan bahasa sumber kedua setelah bahasa Sanskerta. Sejak abad ke-12, bahasa Arab menjadi sarana penyebaran agama Islam di Indonesia. Usai agama Islam dikenal di Indonesia, banyak karya sastra yang ditulis dengan huruf Arab. Kata serapan dari bahasa Arab di antaranya abad, sopan santun, adat, adil, dan akrab.

3. Portugis

Ilustrasi bahasa Portugis | @souomau Unsplash

info gambar

Ilustrasi bahasa Portugis | @souomau Unsplash


Bahasa Portugis mulai dikenal oleh masyarakat penutur bahasa Melayu sejak 1511 ketika bangsa mereka menduduki Malaka. Pada abad ke-17, selain bahasa Melayu, bahasa Portugislah yang menjadi lingua franca antaretnis. Kala itu, bangsa Portugis pun kerap menyebarkan injil keagaaman untuk penduduk setempat. Kata serapan dari bahasa Portugis di antaranya bendera, celana, gardu, keju, dan mentega.

4. Bahasa Belanda

Ilustrasi bahasa Belanda | @marinacrds Unsplash

info gambar

Ilustrasi bahasa Belanda | @marinacrds Unsplash


Selama 350 tahun berada di Indonesia, mustahil Belanda tidak meninggalkan jejak. Selain sistem dalam beberapa bidang kehidupan, Belanda juga memberi warisan berupa kosakata serapan dalam bahasa Indonesia. Kosakata bahasa Belanda yang paling banyak diserap ialah berada pada ranah administrasi dan pemerintahan. Kata serapan dari bahasa Belanda di antaranya bendera, abonemen, akuntansi, dinas, dan kasir.

5. Bahasa Inggris

Ilustrasi bahasa Inggris | Joshua Hoehne Unsplash

info gambar

Ilustrasi bahasa Inggris | Joshua Hoehne Unsplash


Inggris pun pernah menduduki Indonesia meski tidak lama. Selama lima tahun sejak 1811, Rafles menginfasi Batavia. Ia pun pernah bertugas di Bengkulu pada 1818. Sebelumnya, pada 1696, Inggris mengirim utusan Ralph Orp ke Bengkulu dan membangun Benteng Fort Marlborough pada 1714 s.d. 1719. Hal-hal tersebut membuktinya adanya kontak antara bangsa Inggris dan penduduk lokasi pusat pemakaian bahasa Melayu.

Usai kemerdekaan Indonesia, kosakata serapan dari bahasa Inggris masuk melalui hubungan internasional. Kata serapan dari bahasa Inggris di antaranya figur, partisipasi, inovasi, kuis, dan proyek.

Itulah daftar bahasa asing yang menjadi bahasa sumber penyerapan kosakata bahasa Indonesia. Selain kelima bahasa di atas, bahasa apa lagi kalian tahu? Jawab di kolom komentar, ya.

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Continue Reading

Humaniora

Hiu dan Pari, Biota Laut Bernilai Penting Bagi Lingkungan Kini Terancam Punah

Hiu dan Pari, Biota Laut Bernilai Penting Bagi Lingkungan Kini Terancam Punah

[ad_1]

Ilustrasi hiu dan pari © Chan Min Chun/Shutterstock


Bagi Indonesia, laut tidak hanya dipandang sebagai perairan yang menyatukan gugusan pulau-pulau di Nusantara. Hamparan birunya sedari dulu juga sudah dikenal sebagai perairan yang menyimpan kekayaan beragam jenis ikan.

Melimpahnya jenis ikan di perairan Indonesia, tak khayal membuat negara ini pun disoroti banyak pihak. Salah satunya, terkait dengan perlindungan atas ancaman kepunahan ikan bertulang rawannya.

Sejak 2013, kelompok ikan bertulang rawan seperti hiu dan pari telah menjadi isu internasional, setelah masuknya beberapa spesies hiu dan pari manta dalam Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Fauna dan Flora Liar yang Terancam Punah (CITES).

CITES sebagai pengaturan pemanfaatan komoditas hiu dan pari secara internasional telah diratifikasi oleh Indonesia. Keikutsertaannya menjadi bagian dalam CITES tak dimungkiri karena Indonesia menjadi salah satu negara dengan penangkapan hiu dan pari dalam jumlah banyak, bahkan diasumsikan sebagai salah satu yang terbesar di dunia.

Padahal, banyak manfaat lain dari hiu dan pari selain dijadikan komoditi yang punya nilai jual. Hiu dan pari faktanya memiliki manfaat besar bagi kelangsungan ekosistem di perairan, bahkan eksistensinya di perairan dapat membantu meminimalisir perubahan iklim.

Berlibur Sambil Menyelamatkan Hiu

Bernilai penting bagi ekosistem perairan

Hampir seluruh bagian tubuh hiu dan pari menjadi target perburuan manusia karena nilai jualnya yang menjanjikan. Sehingga, penangkapannya pun tak dapat dihindari terjadi secara berlebihan (penangkapan ikan yang berlebihan). Tindakan yang tidak mempertimbangkan keberlanjutan sumber daya ikan, pada akhirnya memberikan dampak langsung kepada rantai makanan di perairan.

Hal ini karena hiu berperan sebagai predator puncak (pemangsa puncak) dari rantai makanan, sedangkan pari memiliki peran ekologis yang tidak kalah penting, terutama sebagai indikator dari keseimbangan ekosistem laut dengan berperan sebagai pemangsa organisme kecil yang ada di perairan (benthos predator).

Keberadaan hiu dan pari juga merupakan penyerap karbon alami, 10-15 persen jaringan tubuh hiu dan pari mengandung karbondioksida. Bila populasi hiu dan pari berenang bebas di lautan, ini artinya lebih banyak karbon yang diserap dan membantu meminimalisir perubahan iklim.

Selain berkontribusi menahan karbon, hiu dan pari juga berperan sebagai “pengaduk” laut alami yang dapat membawa nutrisi dari lapisan laut dalam ke permukaan dengan cara migrasi vertikal. Ketika di permukaan, hiu melepaskan nutrisi yang memastikan keberadaan fitoplankton di laut alga berukuran mikroskopik yang berperan penting dalam rantai makanan di laut, dan menghasilkan 50 persen oksigen di atmosfir. Ini artinya, hiu dan pari di lautan sana telah berperan dalam penyediaan sebagian oksigen yang kita hirup saat ini.

Sehingga, perlindungan populasi hiu dan pari menjadi suatu yang mendesak agar lebih banyak karbon yang diserap, kemudian juga berujung membantu meminimalisir perubahan iklim.

Overfisi ikan hiu-pari

info gambar

Data eksploitasi hiu-pari di Indonesia | GoodStats


Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan populasi ikan hiu dan pari di seluruh dunia disebut turun drastis sebanyak 70 persen selama 50 tahun terakhir. Penangkapan ikan secara berlebih menjadi ancaman terbesar kepunahan ikan laut.

Indonesia dinilai menjadi negara dengan penangkapan hiu dan pari terbesar. Pada 1987 eksploitasi di wilayah perairan Indonesia tercatat sebesar 36.884 ton. Lalu mengalami peningkatan hampir dua kali lipat tahun 2000, dengan hasil tangkapannya sebesar 68.366 ton. Kemudian baru-baru ini tangkapannya kembali meningkat menjadi 88.790 ton per tahun atau mencapai porsi 12,31 persen secara global.

Menurut data KKP tahun 2016, Indonesia merupakan negara produsen hiu terbesar di dunia, dengan kontribusi sebesar 16,8 persen dari total tangkapan dunia. Tidak hanya ancaman tangkapan sampingan (satwa yang tertangkap secara tidak sengaja), penurunan populasi hiu juga terjadi akibat eksploitasi berlebihan yang didorong oleh tingginya permintaan akan produk-produk satwa tersebut.

Pemanfaatan dan eksploitasi hiu dan pari secara global sangat mengkhawatirkan. Tingginya jumlah permintaan sirip hiu dan insang pari manta di pasar internasional, mendorong tanda-tanda eksploitasi berlebih dengan adanya penangkapan hiu dan pari di banyak negara.

Shark Diving, Memadukan Pariwisata Selam dan Penelitian Hiu di Morotai 

Hiu-Pari diambang kepunahan

Hiu Pari di Indonesai | GoodStats

info gambar

Hiu Pari di Indonesai | GoodStats


Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) KKP Prof Sjarief Widjaja mengatakan, jumlah biodiversity hiu dan pari di dunia berjumlah sekitar 531 jenis, di mana Indonesia memiliki kurang lebih 118 jenis, di mana seperempatnya diberi status Terancam Punah oleh IUCN.

Spesies hiu endemik khusus yang spesifik ada di Indonesia, salah satunya adalah Squalus hemipinnis, yang berada di wilayah selatan Bali, Lombok dan laut Jawa.

Di Selat Makassar, terdapat spesies hiu Apristurus sibogae. Selain itu terdapat spesies hiu endemik lainnya seperti Squatina legnota, Atelomvcterus baliensis, dan Mustelus widodoi, yang juga berada disekitar wilayah Laut Jawa, Bali dan Lombok atau di sekitaran Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) 572.

Sayangnya Hiu dan pari di Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang kritis, baik spesies yang hidup daerah terumbu karang atau di wilayah samudera karena mengalami penurunan populasi yang signifikan. Spesies hiu, pari, dan chimera terancam punah karena penangkapan ikan yang berlebihan, baik dengan sengaja maupun tidak.

Pemanfaatan ikan hiu-pari

Sederet manfaat ikan hi-pari | GoodStats

info gambar

Sederet manfaat ikan hi-pari | GoodStats


Hiu-pari merupakan salah satu biota laut yang amat bernilai, dagingnya dapat dijadikan bahan pangan bergizi tinggi, siripnya untuk ekspor, dan kulitnya dapat diolah menjadi bahan industri kerajinan kulit berkualitas tinggi, serta minyak hiu sebagai bahan baku farmasi atau untuk ekspor.

Tanpa kecuali gigi, empedu, isi perut, tulang, insang dan lainnya masih dapat diolah untuk berbagai keperluan seperti bahan lem, ornamen, pakan ternak, bahan obat dan lain-lain.

WWF Indonesia melaporkan pada tahun 2014, konsumsi sirip hiu di Jakarta sendiri terhitung setidaknya 15.000 kg per tahun. Universitas Perikanan Jakarta juga menyebutkan bahwa hiu di perairan laut Indonesia adalah bisnis besar yang tersembunyi. Harga satu kilogram sirip hiu pada tahun 2007 saja mencapi 660 dolar AS di pasaran Asia, dengan nilai ekspor produk mencapai 13 juta dolar AS setiap tahun. Harga itulah yang menggiurkan nelayan Indonesia untuk memburu hiu dan menjualnya terutama ke Taiwan, Hongkong, dan China.

Tingginya permintaan terhadap ikan seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dunia, pada akhirnya menuntut kebijakan pemanfaatan sumber daya ikan secara optimal dan berkelanjutan. Hal ini bermaksud untuk menjaga populasi ikan, khususnya spesies hiu dan pari agar tidak menuju ambang kepunahan.

Menjaga Populasi Hiu, Menjaga Masa Depan Indonesia

Regulasi konservasi hiu-pari di perairan Indonesia

Pengaturan tentang pemanfaatan hiu dan pari pertama kali diluncurkan pada 1999, melalui peraturan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Dimana dalam peraturannya, ikan pari gergaji menjadi jenis yang dilindungi secara penuh, sedangkan jenis hiu dan pari lainnya masih dapat dimanfaatkan secara bebas.

Seiring berjalannya waktu, regulasi tentang penetapan perlindungan jenis hiu dan pari terus diperluas. Seperti halnya, pada 2013 disusul dengan status penetapan perlindungan ikan hiu paus dan pada 2014 terhadap hiu koboi dan hiu martil. Pada tahun 2014 juga, dikeluarkan Kepmen KP nomor 4/KEPMEN-KP/2014 tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Pari Manta.

Adapun tantangan terbesar dari penyusunan regulasi konservasi terkait hiu dan pari di Indonesia adalah pengumpulan informasi ilmiah mengenai sumber daya ikan tersebut. Menurut CEO Yayasan WWWF Indonesia, Dicky P. Simorangkir, basis kajian ilmiah terkait populasi dan perilaku spesies hiu dan pari harus dikumpulkan agar regulasi nantinya kuat dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Lewat simposium hiu dan pari ini kami harap dapat mengumpulkan banyak informasi mengenai populasi dan perilaku spesies ini dari seluruh pelosok dunia. Laut kita sangat luas, kita perlu berkolaborasi dari semua pihak, mulai dari nelayan, petugas penyuluh perikanan, mahasiswa, sampai pengelola wisata bersama hiu,” ujarnya dikutip greeners.co (10/4/2021).

Peta persebaran enumerator hiu-pari di Indonesia

Enumerator hiu-pari di Indonesia periode 2014-21021 | GoodStats

info gambar

Enumerator hiu-pari di Indonesia periode 2014-21021 | GoodStats


Untuk menjaga habitat penting dan populasi hiu-pari di Indonesia, Yayasan WWF Indonesia melakukan upaya konservasi melalui beberpa strategi-strategi, salah satunya Pengumpulan Enumerasi atau Pendataan pendaratan hiu dan pari di beberapa lokasi di Indonesia

Enumerator menjadi bagian penting dari kegiatan perlindungan dan pemanfaatan hiu dan pari di perairan Indonesia. Dengan fungsinya, sebagai konsultan yang melakukan pengumpulan data hiu dan pari. Maka diharapkan hasil penelitian nantinya dapat meningkatkan keakurasian data informasi perikanan nasional dan regional.

Yayasan WWF Indonesia menjadi salah satu yang berkomitmen mendukung upaya penyediaan data mengenai hiu dan pari. Organisasi nirlaba tersebut telah melakukan program enumerasi di berbagai lokasi di Indonesia sejak tahun 2014.

Tercatat, lebih dari 50 enumerator dari 27 Universitas di Indonesia yang tersebar di 12 lokasi untuk melakukan penelitian.

Persebaran enumerator hiu-pari di Indonesia pun telah menghasilkan lebih dari 30 kajian ilmiah, baik dipublikasin berupa skripsi, thesis, prosiding, maupun jurnal.

Misteri Hiu Purbakala Megalodon di Pangandaran

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Continue Reading

Trending Dari BuzzFeed

close