Connect with us

NASIONAL

Mengenal Jenis Sapi Kurban yang Ada di Indonesia

Mengenal Jenis Sapi Kurban yang Ada di Indonesia

[ad_1]

Ilustrasi Sapi Kurban © Ainul Ghurri/Shutterstock


Gema takbir kembali berkumandang, umat Muslim di seluruh dunia termasuk Indonesia kembali merayakan kemenangan lewat perayaan Iduladha. Menjadi hari besar yang dipenuhi dengan makna akan pengorbanan, peristiwa berkurban yang umum dilakukan pada perayaan kali ini dinilai sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan.

Bicara mengenai pengorbanan yang dimaksud, peristiwa yang berhubungan dengan peringatan Iduladha ini sejatinya identik dengan kesediaan seseorang dalam menyisihkan harta yang dimiliki untuk berkurban hewan sembelih yang jenisnya sesuai dengan syariat Agama.

Di Indonesia sendiri saat ini ada beberapa jenis hewan kurban yang umum dijumpai, sebut saja sapi, kambing, dan domba. Namun, jika bicara mengenai impian hampir semua umat Muslim dalam memperoleh amal perbuatan yang maksimal lewat hal satu ini, pilihan menjadikan sapi sebagai hewan kurban sejatinya merupakan keinginan yang banyak didambakan.

Bukan tanpa alasan, keberadaan sapi sebagai hewan sembeli berbobot besar dinilai bisa memberikan manfaat dan keberkahan lebih besar pula untuk lebih banyak orang. Karenanya tak heran, jika di setiap momen perayaan satu ini tak sedikit orang-orang yang ingin berkurban berlomba mendapatkan sapi dengan kualitas terbaik yang dibudidayakan di tanah air.

Bukan perkara yang terlalu sulit, mengingat saat ini ada banyak budidaya jenis sapi yang memang dikhususkan untuk momen khusus seperti perayaan Iduladha.

Apa saja jenis sapi kurban yang bisa ditemui dan banyak digunakan di Indonesia? Berikut daftarnya.

Sejarah Kurban yang Terkadang Terlupakan

1. Sapi Limosin

info gambar

Sapi Limosin | D M Milne/Shutterstock


Limosin merupakan salah satu jenis sapi yang paling sering diandalkan oleh Presiden Joko Widodo dan jajaran tokoh penting lainnya di tanah air dalam memberikan hewan kurban ke setiap daerah dalam peringatan Iduladha dari tahun ke tahun. Memiliki bentuk tubuh yang besar, panjang, dan padat, sapi jenis ini pertama kali dikembangbiakkan di Prancis dan dikenal sebagai salah satu hewan pedaging yang memiliki kualitas sangat baik.

Walau memiliki bobot lahir terbilang kecil yakni 39 kilogram untuk betina dan 42 kilogram untuk jantan, proses pertumbuhan sapi ini dapat dikatakan sangat cepat dengan pertambahan bobot mencapai 1 kilogram hingga 1,4 kilogram per hari. Karenanya, tidak heran jika bobot sapi limosin dewasa bisa mencapai lebih dari 1 ton.

Menukil Kompas, saat ini harga untuk sapi limosin dengan bobot 1 ton dihargai sekitar Rp90 juta, adapun sapi dengan bobot lebih dari 1 ton dengan kualitas terbaik dapat menyentuh angka ratusan juta.

Buah Pala Pulau Banda: Dari Kesultanan Ustmaniyah hingga Tujuh Sapi Jantan Besar

2. Sapi Brahman

Sapi Brahman

info gambar

Sapi Brahman | Fotografi Ric/Shutterstock


Berasal dari India, sapi Brahman memiliki ciri fisik berupa tubuh yang besar jika dibandingkan dengan sapi lokal. Sapi jenis satu ini mulai diimpor ke Indonesia dan dibudidayakan pada tahun 1970-an.

Mengutip laman resmi pemerintah daerah Jepara, sapi yang dibudidayakan dengan tujuan untuk menjadi hewan sembelih atau potong merupakan sapi ternak dengan sistem pembesaran jangka panjang dan bisa mencapai bobot 500 kilogram dalam kurun waktu dua tahun.

Wilayah Sumba diketahui menjadi salah satu sentra peternakan sapi jenis Brahman yang unggul. Di wilayah ini pertumbuhan bobot dari setiap sapi mencapai 0,8 kilogram per hari, sehingga bisa diperoleh sapi jantan dewasa dengan bobot 800 kilogram.

3. Sapi Angus

Sapi Angus

info gambar

Sapi Angus | Maria Elisa Rol


Dikenal juga dengan nama Black Angus atau sapi hitam. Berasal dari Skotlandia, jenis sapi satu ini sangat populer sebagai sapi potong yang banyak dimanfaatkan untuk hidangan daging panggang di daratan Eropa hingga Amerika.

Bukan tanpa alasan, daging dari sapi ini diketahui berkualitas sangat baik dengan kandungan lemak yang sedikit dan serat yang padat.

Sapi Angus diketahui mulai masuk ke Indonesia pada tahun 1976 dan mulai dilakukan peranakan di Kabupaten Sragen sehingga jumlahnya menjadi cukup banyak pada kisaran tahun 1982-1992.

4. Sapi Brangus

Sapi brangus, hasil persilangan sapi brahmana besar dengan sapi angus hitam

info gambar

Sapi brangus hasil persilangan sapi brahmana besar dengan sapi angus hitam | Lourencolf/Shutterstock


Sapi jenis satu ini merupakan bentuk perkawinan silang antara sapi Brahman dan sapi Angus sehingga menghasilkan sapi yang mudah untuk dipelihara dan diternak, dan memiliki keunggulan dari masing-masing induk yang dikawinkan silang.

Lebih detail, jenis sapi ini merupakan hasil persilangan antara sapi betina Brahman (Bos indicus) dan pejantan Aberden Angus (Bos Taurus). Hasil Silangan аntаrа Brahman dan Angus уаng menghasilkan jenis Sapi Brangus іnі berasal dаrі Oklahoma, Amerika Serikat yang kemudian juga diimpor dan dibudidayakan di Indonesia.

Keunggulan dari sapi jenis ini disebutkan tahan terhadap cuaca panas, gigitan serangga, mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan, dan memiliki produktifitas daging yang tinggi. Terbukti, bobot dari sapi Brangus jantan bisa mencapai 1.800 kilogram dan 1.200 kg untuk Brangus betina.

Peternakan Tapos dan Cita-cita Soeharto agar Indonesia Swasembada Sapi

5. Sapi Madura

Sapi Madura dewasa

info gambar

Sapi Madura dewasa | bwu92/Shutterstock


Sesuai namanya, sapi Madura mempunyai sebaran asli geografis di Pulau Madura, Jawa Timur, dan sekitarnya. Menjadi salah satu rumpun sapi lokal Indonesia dan mempunyai keseragaman bentuk fisik dan komposisi genetik, serta kemampuan adaptasi dengan baik pada keterbatasan lingkungan.

Dilaporkan bahwa kontribusi sapi di Madura cukup besar sampai 24 persen dari kebutuhan sapi potong yang berasal dari Jawa Timur, populasi sapi Madura juga dilaporkan terus bertambah setiap tahunnya.

Faktanya selain menjadi sapi potong, sapi Madura juga dijadikan sebagai alat transportasi masyarakat di pedalaman Madura yang disebut sapi Pajikaran. Sedangkan untuk tradisi karapan sapi yang selama ini banyak dikenal, digunakan sapi berjenis kelamin jantan.

Mengenal Lebih Dekat Kontes Kecantikan Sapi Madura

6. Sapi Bali

Sapi Bali

info gambar

Sapi Bali | Ibenk_88/Shutterstock


Memiliki wilayah penyebaran utama di pulau Bali, jenis ini merupakan salah satu jenis sapi lokal yang asli dan murni dari Indonesia. Sapi Bali asli mempunyai ciri khas warna putih pada bagian kakinya dengan bentuk dan karakteristik yang sama dengan banteng.

Ditinjau dari sejarahnya, sapi merupakan hewan ternak yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat petani di Bali. Sapi Bali sudah dipelihara secara turun-temurun oleh masyarakat petani Bali sejak zaman dahulu.

Selain dijadikan sapi potong, petani juga memelihara jenis sapi satu ini untuk membajak sawah dan tegalan, serta menghasilkan pupuk kandang yang berguna untuk mengembalikan kesuburan tanah pertanian.

Dengen pemeliharaan yang baik, penambahan berat badan harian bisa mencapai 0,8 kg per hari. Pada umur 1,5 tahun bobot sapi Bali bisa mencapai 217 kilogram.

Kisah Perang Besar Menentang Pajak Hewan Kurban oleh Belanda

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Advertisement
Click to comment

NASIONAL

Memahami Kondisi dan Dampak Perceraian Orang Tua pada Anak

Memahami Kondisi dan Dampak Perceraian Orang Tua pada Anak

[ad_1]

Ilustrasi perceraian © Andrey_Popov Shutterstock


Bagi pasangan yang telah menikah, perceraian tentu bukan hal mudah. Setelah sekian lama menjalin kehidupan rumah tangga bersama-sama, tetapi karena alasan tertentu sampai akhirnya harus berpisah. Berat, tentu, belum lagi harus memikirkan bagaimana harus memberi tahu anak serta dampak perceraian yang ia rasakan.

Di Indonesia, kasus perceraian terus meningkat. Dilansir Lokadata.id, dari catatan data Badan Pusat Statistik dari Survei Sosial Ekonomi Nasional, pada tahun 2015 sebanyak 5,89 persen pasangan suami istri bercerai (hidup). Jumlahnya sekitar 3,9 juta dari total 67,2 juta rumah tangga. Kemudian pada tahun 2020, tingkat perceraian naik lagi menjadi 6,4 persen dari 72,9 juta rumah tangga atau sekitar 4,7 juta pasangan.

Pada akhirnya perceraian menciptakan gejolak emosional bagi seluruh keluarga. Ini berat untuk pasangan itu sendiri, keluarga kedua belah pihak, dan tak lupa, anak-anak. Bagi anak-anak, situasi ini bisa sangat membuatnya bingung, sedih, dan menakutkan.

Kondisi anak menghadapi perceraian berdasarkan usia

Saat orang tua berpisah, perasaan dan kondisi yang terjadi pada anak bisa berbeda-beda. Ini tergantung pada usia berapa ia ketika perceraian terjadi.

Memutus Rantai Perkawinan Anak di Indonesia sebagai Cerminan Hari Anak Nasional 2021

Di bawah tiga tahun

Mungkin banyak yang menganggap anak-anak di bawah usia tiga tahun tak akan terlalu terkena dampak perceraian. Mereka memang masih sangat kecil. Namun, ia akan bereaksi ketika orang tuanya sudah tak bersama-sama lagi. Kemungkinan batita akan lebih rewel dan sulit ditenangkan ketika salah satu orang tua tidak ada di sekitarnya.

Usia 3-5 tahun

Anak-anak pada usia ini mungkin belum memahami konsep perceraian. Namun, ketika situasi di rumah berubah, ia akan kebingungan dan merasa takut. Apalagi pada usia ini, anak cenderung bergantung pada orang tuanya yang memberikan ia rasa aman. Anak akan mengalami emosi yang kompleks dan ia pun bingung bagaimana harus bereaksi.

Usia 6-12 tahun

Setelah mulai sekolah, anak sudah cukup dewasa untuk bisa mengingat momen-momen indah bersama keluarga, mungkin pernah melihat orang tua bertengkar atau menangis, dan mulai memahami perasaan yang lebih kompleks.

Anak usia sekolah akan lebih banyak bertanya seputar mengapa orang tua harus berpisah, kenapa tak bisa tetap bersama, dan kemungkinan besar menyalahkan diri sendiri, misalnya orang tua berpisah karena anak merasa tidak menurut atau nakal.

Remaja

Memasuki usia remaja, anak-anak lebih besar kemungkinannya bisa memahami perasaan yang mengarah pada perpisahan. Remaja cenderung tidak menyalahkan dirinya sendiri yang jadi penyebab perceraian. Mereka lebih khawatir tentang bagaimana perpisahan orang tuanya akan berdampak pada situasi sosialnya, seperti harus pindah rumah dan berpisah dari teman-teman.

Ekspor Mainan Anak Tembus 343 Juta Dolar AS, Action Figure Bima S Toys Jadi Harapan Baru
info gambar

Dampak perceraian pada anak | @FREEPIK2 Shuttersttock


Dampak perceraian pada anak

Setiap perceraian akan memberikan dampak berbeda. Tak bisa disamakan pada semua orang tua, keluarga, dan anak. Bahkan, dalam kondisi tertentu, bisa aja seorang anak malah merasa lega dengan adanya perpisahan ini, jika memang berarti orang tuanya tak lagi bertengkar, misalnya.

Bagi anak yang lain, perpisahan orang tuanya mungkin bukan bagian tersulit. Sebaliknya, hal yang bikin ia stres adalah momen pindah rumah, pindah sekolah, dan jauh dari teman-teman, serta hidup dengan orang tua tunggal.

Lantas, bagaimana dampak yang terjadi pada anak setelah orang tua bercerai?

Belajar Daring Selama Pandemi, Kesehatan Mata Anak Memburuk

Masalah kesehatan mental

Perceraian dapat meningkatkan risiko kesehatan mental pada anak dan remaja. Tanpa memandang usia dan jenis kelamin, risiko ini tetap bisa terjadi. Perpisahan orang tua, apapun alasannya, dapat memicu gangguan pada anak, termasuk risiko gangguan kecemasan, bahkan depresi.

Masalah perilaku

Anak-anak dari keluarga bercerai mungkin mengalami lebih banyak masalah seperti gangguan perilaku, kenakalan, dan perilaku impulsif. Ia pun kemunginkan mengalami lebih banyak konflik dengan teman usia sebaya setelah perceraian.

Masalah akademis

Setelah orang tua bercerai, anak-anak usia sekolah berisiko memiliki masalah dengan akademis. Meski tidak semua anak dari keluarga bercerai tidak berprestasi. Namun, kemungkinan ini tetap ada bila dampak perceraian orang tuanya begitu tak terduga dan anak mengalalami perubahan secara cepat, misalnya pindah sekolah dan harus menjalani banyak hal baru.

Perilaku berisiko

Remaja dengan orang tua bercerai lebih mungkin terlibat dalam perilaku berisiko, seperti merokok, mengonsumsi alkohol atau narkoba, dan aktivitas seksual dini. Di Amerika Serikat, remaja dengan orang tua bercerai minum alkohol lebih awal dan melaporkan penggunaan alkohol, ganja, tembakau, dan narkoba yang lebih tinggi daripada teman sebayanya.

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Continue Reading

NASIONAL

Memutus Rantai Perkawinan Anak di Indonesia sebagai Cerminan Hari Anak Nasional 2021

Memutus Rantai Perkawinan Anak di Indonesia sebagai Cerminan Hari Anak Nasional 2021

[ad_1]

Hari Anak Nasional (HAN) di Indonesia ditetapkan pada tanggal 23 Juli setiap tahunnya berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1984. Menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) rentang usia anak adalah 0-17 tahun. Organisasi dunia yang bergerak untuk anak-anak (UNICEF/Dana Anak-anak Perserikatan Bangsa-Bangsa) memaparkan data bahwa sepertiga jumlah penduduk di Indonesia adalah anak-anak, atau setara dengan 85 juta penduduk Indonesia adalah anak-anak.

Menjadi salah satu negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia mempunyai sejumlah masalah baik eksplisit maupun implisit, tidak terkecuali masalah yang terjadi pada anak-anak. Sejumlah data menyatakan bahwa Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah perkawinan anak terbanyak di Asia bahkan dunia.

Data pada publikasi dengan judul “Pencegahan Pernikahan Anak” dari Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, jumlah perempuan umur 20-24 tahun yang menikah sebelum berumur 18 tahun diperkirakan mencapai 1.220.900 perempuan. Walaupun persentase perkawinan usia anak untuk perempuan terus menurun setiap tahunnya, penurunan tersebut tergolong masih sangat lambat dan angka absolut untuk perkawinan anak yang terjadi menempatkan Indonesia pada urutan ke-8 di dunia.

Perkawinan anak layaknya lingkaran setan, yang apabila tidak diputus maka akan terus-menerus terjadi dan membawa dampak berkelanjutan. Dampak yang dirasakan dari terjadinya perkawinan anak sering dititik beratkan pada pihak perempuan. Putusnya pendidikan (sekolah formal), ketidaksiapan fisik maupun psikis untuk berumahtangga hingga kondisi perekonomian yang rendah secara turun-menurun dapat terjadi akibat perkawinan anak.

Faktor ekonomi yang dikategorikan sebagai kemiskinan menjadi salah satu faktor utama terjadinya perkawinan anak. | Foto : Shutterstock/BELL KA PANG


Terjadinya perkawinan anak hingga kini bukanlah tanpa alasan. Ada banyak faktor yang menyebabkan perkawinan anak masih berlangsung yang bahkan persentasenya kian fluktuatif. Berikut adalah beberapa faktor umum yang mendasari masih terjadinya perkawinan anak berdasarkan publikasi BPS dengan judul “Pencegahan Pernikahan Anak“:

1. Faktor Pendidikan

Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018 memperlihatkan tingkat pencapaian pendidikan yang lebih tinggi untuk yang menikah di atas 18 tahun, sebanyak 45,56 persen perempuan yang menikah di usia dewasa menyelesaikan sekolah menengah atas (SMA). Hal tersebut menandakan bahwa putus sekolah pada jenjang sebelum SMA dapat memicu kemungkinan adanya perkawinan anak terlebih bagi anak perempuan.

2. Faktor Ekonomi

Penelitian oleh Dana Kependudukan PBB (UNFPA) tahun 2012 dan UNICEF & UNFPA (2018) menunjukkan bahwa kemiskinan merupakan pendorong utama perkawinan anak pada perempuan di negara berkembang. Bagi rumah tangga miskin, kebanyakan anak perempuan dianggap sebagai beban ekonomi dan perkawinan dianggap sebagai solusi untuk melepaskan diri dari kemiskinan.

3. Faktor Tempat Tinggal

Data Susenas 2018 menunjukkan bahwa anak perempuan di daerah perdesaan dua kali lebih mungkin untuk menikah dibandingkan dengan anak perempuan di daerah perkotaan. Anak perempuan yang tinggal di perkotaan lebih mungkin mendapatkan kesempatan di luar perkawinan dan pengasuhan anak dibandingkan dengan mereka yang ada di daerah perdesaan.

4. Faktor Tradisi & Agama

Faktor lainnya yang mendorong terjadinya perkawinan anak yaitu faktor tradisi dan agama. Beberapa tradisi yang melanggengkan perkawinan anak masih ditemukan di Indonesia, seperti merariq di Lombok di mana perempuan ‘dilarikan’ ke rumah laki-laki untuk dapat dinikahkan.

Persentase angka perkawinan usia ≤16 tahun di Indonesia

Persentase perempuan yang pertama kali menikah di usia ≤16 tahun di Indonesia | GoodStats


Kasus perkawinan anak di Indonesia menjadi salah satu yang terbanyak di dunia. Hasil Susenas 2019 memaparkan persentase jumlah perempuan yang telah menikah pertama kali di usia ≤16 tahun.

Pada 2014, persentasenya mencapai 11,21 persen daro total penduduk Indonesia. Kemudian turun menjadi 8,24 persen pada 2015.

Persentasenya kembali melesat menjadi 15,87 persen pada 2016, lalu 14,18 persen pada 2017, 15,66 persen pada 2018, terakhir pada 2019 mencapai angka 15,48 persen.

Masih berdasarkan data Susenas 2019, Provinsi Kalimantan Selatan menjadi provinsi dengan persentase terbanyak perempuan yang menikah pertama kali di usia ≤16 tahun yakni 22,15 persen. Angka tersebut jauh melebihi persentase nasional yakni 15,48 persen.

Sementara itu, perbedaan persentase tersebut juga terjadi di masyarakat pedesaan dan perkotaan. Persentase perempuan yang menikah pertama kali di usia ≤16 di pedesaan sebanyak 19,47 persen dan perkotaan sebanyak 12,09 persen. Hal tersebut sejalan dengan uraian faktor penyebab adanya perkawinan anak yang salah satunya adalah faktor tempat tinggal.

Permainan Hompimpa, Ternyata Cara Leluhur Dekatkan Anak-Anak dengan Tuhan

Upaya memutus rantai perkawinan anak adalah peran dari berbagai pihak

Berbagai pihak berupaya untuk memutus rantai perkawinan anak di Indonesia, baik dari lembaga negara maupun lembaga swasta yang bergerak untuk kesejahteraan anak-anak. Pergerakan yang paling mencerahkan dalam upaya memutus rantai perkawinan anak di Indonesia adalah diubahnya ketentuan batas usia minimal untuk menikah.

Melalui Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, usia minimal untuk menikah bagi laki-laki dan perempuan adalah 19 tahun, yang semula minimal 19 tahun bagi laki-laki dan 16 tahun bagi laki-laki. cewek-cewek.

Selain melalui regulasi, upaya memutus rantai perkawinan anak juga tidak dapat lepas dari peran masyarakat dan lembaga-lembaga yang bersangkutan. Perkawinan anak merupakan salah satu bentuk masalah akibat adanya ketimpangan gender di masyarakat. Oleh sebab itu, mengakar salah satu penyebab terjadinya perkawinan anak adalah dengan mengikis jarak kesenjangan yang ada di antara perempuan dan laki-laki semenjak anak-anak.

UNICEF melalui publikasinya yang berjudul “Mengatasi Hambatan Gender dalam Kewirausahaan dan Kepemimpinan bagi Anak Perempuan dan Perempuan Muda di Asia Tenggara” memaparkan rekomendasi untuk mengikis jarak kesenjangan anak perempuan dan laki-laki yang dapat menurunkan tingkat perkawinan anak di Indonesia secara khusus dan di dunia secara umum.

1. Menciptakan peluang untuk melakukan eksplorasi dan berpendapat

Pemegang kendali regulasi harus berupaya menciptakan peluang bagi anak perempuan dan perempuan muda di tingkat sekolah dan masyarakat untuk mengemban peran kepemimpinan, mengambil risiko, dan membangun kepercayaan diri; serta memberikan ruang yang aman bagi anak perempuan dan perempuan muda untuk mengemukakan pendapat tentang masalah yang berdampak terhadap mereka.

Dalam lingkungan ini, stereotip dan mitos yang terkait dengan gender, misalnya anak perempuan dianggap sebagai beban keluarga perlu dibongkar dan dihilangkan secara proaktif sehingga anak perempuan dapat mengambil peluang untuk mengeksplorasi diri dan kemampuannya.

2. Mengubah tekanan dari orang tua menjadi dukungan dari orang tua

Pembuat kepentingan harus mencari peluang untuk mengampanyekan perubahan perilaku berbasis masyarakat dan media guna mengatasi stereotip gender yang merugikan dan memberikan pesan positif tentang kontribusi perempuan terhadap komunitas dan masyarakat serta peran mereka sebagai agen perubahan.

Intervensi seperti konseling seharusnya tidak hanya diberikan kepada anak perempuan dan anak laki-laki, tetapi juga kepada orang tua, dengan menyertakan pesan-pesan yang bertujuan untuk mengubah persepsi yang membedabedakan gender dalam hal karier dan mendorong dijalankannya peran pendukung oleh orang tua.

Poin ini juga tidak lepas dari kondisi ekonomi keluarga. Kondisi keluarga yang sulit karena kemiskinan sering kali membuat anak perempuan dianggap sebagai beban ekonomi, kemudian perkawinan anak menjadi solusi untuk mengurangi beban tersebut. Oleh sebab itu, edukasi kepada para orang tua untuk menghilangkan persepsi “anak perempuan sebagai beban keluarga” sangat diperlukan diiringi swngN mendorong pengentasan kemiskinan. Hal tersebut secara tidak langsung akan mendorong pada pengurangan angka perkawinan anak.

3. Peluang di sekolah dan di luar sekolah untuk mengembangkan keterampilan yang dapat dimanfaatkan di berbagai bidang dan peran pekerjaan dan keterampilan wirausaha

Pembuat kebijakan, praktisi pendidikan, organisasi masyarakat sipil, dan penyedia teknologi harus mendukung platform pengembangan keterampilan yang interaktif dan inovatif yang berfokus pada pengembangan keterampilan wirausaha dan keterampilan.

Penguatan program minimal belajar 12 tahun untuk anak perempuan dengan juga bagian dari poin ini. Dengan adanya penguatan pada program minimal belajar 12 tahun, maka anak memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mengembangkan diri dan menemukan skill yang dibutuhkan untuk mendapat pekerjaan yang layak. Hal ini dapat membantu dalam mengurangi potensi terjadinya perkawinan anak.

Beberapa data di atas nyatanya belum dapat mewakili keadaan sebenarnya secara komperhensif. Masalah dan solusi selalu hadir berdampingan, pun dengan masalah perkawinan anak di Indonesia. Tiga poin di atas adalah langkah kecil dalam upaya memutus rantai perkawinan anak di Indonesia. Langkah besar yang sebenarnya adalah ketika langkah-langkah kecil tersebut dilaksanakan dengan nyata dan sadar secara bersama-sama.

Selamat Hari Anak Nasional 2021, mari wujudkan kesejahteraan anak-anak untuk kesejahteraan masa depan dunia.

Sederet Anak Muda Indonesia dalam Daftar "30 Under 30 Asia" Majalah Forbes

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Continue Reading

@Covid-19

Mau ke Jakarta, Anda Harus Perpanjangan STRP Dulu

Mau ke Jakarta, Anda Harus Perpanjangan STRP Dulu

[ad_1]


Telegrap – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengumumkan perpanjangan Surat Tanda Daftar Tenaga Kerja (STRP) secara otomatis akibat pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di Level 4 hingga 25 Juli.”Oleh karena itu, yang memegang STRP TKI tidak perlu mengajukan STRP lagi,” kata Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria melalui akun Instagram @arizapatria dikutip, Rabu (21/07/2021).

Wilayah DKI Jakarta masuk dalam kategori Level 4 berdasarkan kebijakan pemerintah tentang pemberlakuan pembatasan aktivitas publik sebagaimana diatur dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 22 Tahun 2021, jelasnya.

Untuk meratakan kurva Covid-19 di tengah pertumbuhan yang mengancam jiwa dari varian Delta yang lebih menular, pemerintah Indonesia telah memberlakukan pembatasan kegiatan publik darurat atau “PPKM Darurat” mulai 3 Juli hingga 20 Juli.

Selama pemberlakuan yang disebut “PPKM Darurat” di pulau Jawa dan Bali, mereka yang bekerja untuk sektor-sektor penting diperbolehkan untuk pulang-pergi dari dan ke Jakarta selama mereka memiliki STRP.

Presiden Joko Widodo, Selasa malam, menggemakan janji pemerintah untuk melonggarkan pemberlakuan PPKM mulai 26 Juli, karena kurva Covid-19 mulai menunjukkan tren penurunan.

Sebelumnya dikabarkan, hingga Selasa pukul 10.00 WIB, angka kesembuhan Jakarta tercatat 652.242 orang setelah 12.071 lebih pasien Covid-19 dipulangkan dari rumah sakit selama 24 jam terakhir.

Menurut situs web pemerintah provinsi corona.jakarta.go.id, tingkat pemulihan di Jakarta telah mencapai 86,1 persen dan angka kematian 1,4 persen.

Sementara itu, jumlah kasus aktif atau pasien yang menjalani perawatan dan isolasi mandiri turun 6.123 pada Selasa, sehingga jumlah kumulatif kasus aktif menjadi 94.673.

Dengan 265 pasien meninggal karena infeksi pada pukul 10 pagi pada hari Selasa, jumlah kematian Covid-19 di ibu kota telah mencapai 10.610, sementara jumlah kasus positif Covid-19 naik 6.213, sehingga total menjadi 757.525.

Peningkatan eksponensial jumlah kasus baru Covid-19 di Jakarta telah memicu tingginya permintaan tabung oksigen untuk pasien Covid-19 dan non-Covid-19 yang saat ini dirawat di rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya.

Karena permintaan oksigen medis yang meningkat secara eksponensial, Ahmad Riza Patria juga telah meminta dengan sungguh-sungguh kepada penduduk kota untuk berhenti menimbun atau menimbun tabung oksigen di rumah kecuali dan sampai ada kebutuhan yang mendesak.


Photo Credit: PPKM Darurat. FILE/Detik/Agung Pambudhy

A.Chandra S.
Di bawah kekuasaan kapitalisme, tidak ada yang dapat menghentikan degradasi moral pers. – Paul Brurat

A.Chandra S.
Postingan terbaru oleh A. Chandra S. (Lihat semua)

!function(e,n,t){var o,c=e.getElementsByTagName(n)[0];e.getElementById

[ad_2]

Link Sumber Berita

Continue Reading

Trending Dari BuzzFeed

close