Connect with us

HEADLINE

Mengapa Tim Balap Italia Sangat Tertarik dengan Indonesia?

Mengapa Tim Balap Italia Sangat Tertarik dengan Indonesia?


Selain berlaga di kelas Moto2 dan Moto3 di ajang MotoGP, tim Indonesian Racing juga hadir dalam gelaran MotoE, yang merupakan balapan motor listrik yang masih berada dalam kalender MotoGP. Di kelas Moto2, Moto3, dan MotoE, tim Indonesian Racing terlibat kerja sama dengan Gresini Racing, yang merupakan ‘pemain lama’ di MotoGP.

Tentunya, banyak alasan mengapa tim Gresini Racing tertarik bekerja sama dengan tim Indonesian Racing yang belakangan dikatakan memiliki banyak potensi untuk berkembang. Dalam sebuah kesempatan, Carlo Merlini, Manajer Pemasaran Gresini Racing mengungkap alasannya kepada MP1, soal mengapa perusahaannya sangat tertarik bekerja sama dengan tim Indonesian Racing.

”Indonesian Racing adalah merek yang dibuat oleh mitra kami MP1, sebuah perusahaan asal Indonesia yang bergerak di bidang manajemen olahraga, dan yang bertujuan untuk mengembangkan olahraga motor di Indonesia, juga dengan menciptakan akademi untuk mencari pebalap terbaik Indonesia yang akan didukung dan dibimbing dalam perjalanan ke Kejuaraan dunia,” demikian kata pembuka Merlini dalam keterangan yang diterima GNFI, Senin (12/4/2021).

Secara umum, sambung Merlini, Tim Gresini sangat berakar di Indonesia. Hal itu dibuktikan dengan telah lama menjalin kerja sama selama 10 tahun dengan banyak sponsor dan tim asal Indonesia, terutama untuk kelas Moto3 dan Moto2.

Lain itu, Indonesia menurut Gresini Racing adalah negara yang strategis untuk gelaran MotoGP. Mereka menilai, Indonesia adalah pasar yang strategis–selain beberapa negara lain di Asia–selain Malaysia, Thailand, dan tentunya Jepang.

Salah satu negara dengan basis pengguna motor terbanyak

Sebagai salah satu negara dengan basis pengguna motor terbanyak di dunia, adalah alasan lain kenapa Gresini Racing cukup antusias menjalin hubungan baik dengan tim maupun sponsor asal Indonesia. Jika mengukur perbandingan, di setiap 1 mobil akan berbanding dengan 4 motor. Tak heran jika olahraga balap motor cukup populer di Indonesia.

Satu fakta lain yang mencengangkan adalah, pada berbagai platform media sosial, negara yang paling banyak mengikuti MotoGP adalah Indonesia, jauh pesat dan militan ketimbang negara lain, termasuk jika dibandingkan dengan Italia atau Spanyol yang merupakan basis tim-tim di ajang MotoGP.

Lantas, mengapa MotoE?

indonesian racing tim motoE

info gambar

Tak dimungkiri jika pertumbuhan motor berbasis listrik di Indonesia juga tak kalah moncer ketimbang negara lainnya. Bahkan di beberapa ajang pameran, tak sedikit pengembang asal Indonesia yang memamerkan motor listrik hasil karyanya. Sebut saja Katalis EV, racikan rumah modifikasi Katalis Company, atau BL-SEV01 buatan Universitas Budi luhur.

Pendek kata, ketertarikan publik Indonesia atas motor berbasis listrik tentu akan menjadi fenomena baru, ketika gelaran balap motor listrik paling bergengsi di dunia–MotoE–bisa disaksikan dengan pesertanya adalah tim Indonesia.

“Bagi kami MotoE itu adalah dunia yang benar-benar baru dan pengalaman yang sangat menarik terlepas dari kesulitan awal yang kita semua ingat. Dorna dan FIM sangat reaktif untuk menangkap tren baru mobilitas ramah lingkungan, khususnya yang berjenis listrik,” beber Merlini.

Memang, sambungnya, bagi sebagian pencinta sepeda motor terdengar aneh ketika mendengar tentang balapan motor listrik di arena MotoGP, karena memang motor listrik sejatinya lebih kepada pengembangan teknologi masa depan dan isu ramah lingkungan.

Tapi bagi Dorna–selaku promotor MotoGP, ini adalah situasi yang mirip dengan tahun 2002 ketika MotoGP pindah dari jenis mesin 2-tak (2T) ke 4-tak (4T), untuk memastikan bahwa balapan tetap menjadi bidang penelitian dan pengembangan (R&D) untuk melayani pasar, dan sebagai ajang promosi pabrikan/produsen motor.

Apa yang membuat balapan MotoE jadi menarik?

Pertanyaan tadi pun langsung dijawab oleh Merlini dengan lugas.

”Pastinya jumlah balapan. Saat ini jumlahnya–balapan MotoE–sangat terbatas, sementara kategorinya membutuhkan kalender yang lebih panjang. Saya mengatakan ini dari perspektif pemasaran, karena ada aspek lain yang perlu dipertimbangkan yang saat ini tidak memungkinkan,” jelasnya.

”…Saya yakin dalam jangka menengah, kalender akan lebih luas dengan lebih banyak balapan dan akan menjangkau pasar strategis untuk kelas listrik (MotoE).”

Hal lainya yang menjadi konsentrasi adalah soal teknis, karena menurut semua orang, motor balap MotoE masih sangat berat. Hingga pada akhirnya para pihak akan mengharapkan revolusi dalam teknologi baterai yang merupakan bagian yang paling menentukan bobot sepeda motor.

Tentunya, bobot motor yang lebih ringan akan banyak membantu para joki balap saat melakukan pengereman, yang menjadi fase paling kritis untuk menemukan titik yang tepat untuk mengerem.

”…Jika Anda melakukan kesalahan, sepeda motor berat seperti itu tidak akan bisa berhenti.”

Kalender gelaran MotoE

Secara umum, gelaran MotoE pada musim balap 2021 bakal hadir pada beberapa sirkuit di Benua Biru, yakni:

  • 2 Mei, di Sirkuit Jerez, Spanyol
  • 16 Mei, di Sirkuit LeMans, Prancis
  • 6 Juni, di Sirkuit Catalunya, Barcelona
  • 27 Juni, di Sirkuit Assen, Belanda
  • 15 Agustus, di Sirkuit Red Bull Ring, Austria
  • 18-19 September, di Sirkuit Misano Marco Simoncelli, San Marino.

Jadi, kita tunggu saja apakah kolaborasi tim Indonesian Racing (Indonesian E-Racing) bersama Gresini Racing bisa memberikan performa terbaiknya di sana.

Baca juga:





Source link

Advertisement
Click to comment

HEADLINE

Trik Menjaga Kesehatan dan Berat Badan Selama Libur Lebaran

Trik Menjaga Kesehatan dan Berat Badan Selama Libur Lebaran


Lebaran biasanya jadi momen kumpul keluarga, bersantai, sekaligus menyantap makanan lezat. Dalam beberapa hari, Anda pun terbebas dari rutinitas sehari-hari seperti sekolah atau bekerja.

Menikmati momen libur lebaran memang sah-sah saja. Namun, jangan sampai terlena makan berlebihan dan bermalas-malasan. Bukan tak mungkin berat badan akan bertambah selama beberapa hari liburan dan bisa berdampak kurang baik bagi kesehatan secara keseluruhan.

Lantas bagaimana cara untuk menjalani hari-hari liburan agar tetap sehat dan berat badan tak bertambah? Ikuti tips berikut ini:

Hindari makan dengan kalap

Pada hari Lebaran, artinya Anda sudah terbebas dari kewajiban puasa. Kadang, karena merasa bebas makan kapan saja setiap saat, orang sering kelewat asyik mencoba segala hidangan.

Ditambah lagi, hari Lebaran biasanya banyak makanan di rumah, mulai dari ketupat dan lauk pauknya, kue kering, minuman manis, dan aneka camilan. Apalagi sambil kumpul-kumpul dengan keluarga di rumah, mulut tak henti-hentinya mengunyah.

Meski banyak makanan menggiurkan di depan mata, ingatlah untuk menahan diri dan tidak kalap. Sebab, terlalu banyak makan bisa menyebabkan perut begah, tak nyaman, bahkan bisa mengalami gangguan pencernaan. Pastinya, angka di timbangan juga berisiko untuk bergerak ke arah kanan.

Trik jika ingin makan banyak, cobalah berbagai hidangan dalam porsi kecil tapi sering, dibanding makan sangat banyak dalam satu waktu. Cara ini baik dilakukan agar perut tidak kaget dengan perubahan pola makan setelah sebulan penuh berpuasa.

Hindari konsumsi gula dan santan berlebihan

Tak bisa dimungkiri jika berbagai hidangan Lebaran penuh dengan gula santan. Sebut saja nama-nama rendang, opor, gulai, kue kering, keik, minuman bersoda, dan sirup.

Bila tergoda menyantap semua, bayangkan berapa banyak kalori yang dikonsumsi dalam satu hari saja? Akibatnya, bukan hanya perut kembung dan mual, tetapi ada risiko meningkatkan kolesterol dan gula darah. Sebisa mungkin tahan diri Anda untuk makan makanan manis dan bersantan secukupnya.

Selipkan makan sayur dan buah

Sayur dan buah-buahan segar memang tampak tak menarik dibandingkan hidangan khas Lebaran. Namun ingatlah bahwa sayur dan buah mengandung banyak vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh, terutama pada sistem kekebalan tubuh. Ingat, kita masih hidup di masa pandemi yang butuh sistem imun lebih kuat agar tak mudah tertular virus. Buah dan sayur juga mengandung serat yang baik untuk melancarkan sistem pencernaan.

Jangan lupa minum 8 gelas per hari

Pastikan Anda tak lupa minum dua liter air atau delapan gelas per hari. Meski sedang liburan, kebutuhan tubuh akan air tentu harus dipenuhi. Ya, minuman manis memang lebih menggoda, tapi bila dikonsumsi berlebihan bisa membuat Anda lebih cepat haus dan mengalami dehidrasi.

Boleh saja kok tergoda es buah atau sirup, tetapi minum air putih jangan sampai dilupakan. Agar tak terlewat, bisa siapkan air minum di botol besar sehingga Anda tak lupa menghabiskan air di botol tersebut seharian.

Tetap aktif bergerak

Meski lebaran ini tak bisa bepergian, seharusnya jangan jadi alasan untuk bermalas-malasan. Yuk bangkit dari rebahan dan bergerak secara aktif. Kegiatan yang bisa dilakukan antara lain jalan-jalan di sekitar rumah, bersih-bersih, naik-turun tangga di rumah, mendekorasi ulang ruangan, atau bisa juga meluangkan waktu 30 menit saja untuk olahraga ringan. Dengan terus bergerak, tubuh akan lebih bugar dan tak mudah terserang penyakit.

Baca juga:

  • Menjelang Lebaran, Tradisi ‘Andilan’ Warnai Masyarakat Betawi Tempo Dulu





  • Source link

    Continue Reading

    HEADLINE

    Daftar Negara dengan Transisi Energi Terbaik di ASEAN 2021, Indonesia Urutan Berapa?

    Daftar Negara dengan Transisi Energi Terbaik di ASEAN 2021, Indonesia Urutan Berapa?


    Sebagaimana yang kita ketahui, penggunaan energi fosil tanpa batas sangat berkontribusi pada kenaikan suhu bumi, polusi udara, dan sejumlah krisis lingkungan lainnya. Dilansir dari Pwypindonesia.org (22/11/2020), penggunaan energi fosil telah mencapai 84% dari penggunaan energi global.

    Di Indonesia, bahan bakar tak terbarukan tersebut telah menjadi penyumbang terbesar emisi CO2 dari total emisi Gas Rumah Kaca (GRK) nasional. Konkretnya, sepanjang tahun 2012-2017 Indonesia tercatat telah mengalami peningkatan emisi CO2 sebesar 18% karena emisi dari pembangkitan listrik, sektor industri, dan transportasi.

    Sehingga, menurut Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa, transisi energi adalah sebuah keniscayaan yang tak bisa diabaikan. Sebab upaya peralihan energi dapat berdampak bagi pemulihan lingkungan. Selain itu, transisi energi juga memiliki harga yang lebih kompetitif dan berkelanjutan ketimbang energi fosil.

    ”Pengoptimalan sumber energi terbarukan juga akan menciptakan industri baru yang mendukung pertumbuhan ekonomi hijau, membuka lapangan kerja, dan menarik investasi,” kata Fabby, pada iesr.or.id (14/3/2021).

    Oleh karena itulah, manfaat ganda dari peralihan energi telah menjadi agenda dan strategi pembangunan banyak negara dunia. Untuk mengetahui kemajuan pengembangan energi terbarukan tersebut maka diperlukan analisis data tentang Energy Transition Index (ETI).

    ETI terbentuk atas tiga elemen performa sistem, yakni keamanan dan akses terhadap pasokan energi, keberlanjutan lingkungan, serta pertumbuhan dan perkembangan ekonomi. Selain itu, sejumlah kesiapan transisi juga menjadi indikator, seperti modal dan investasi, struktur sistem energi, serta komitmen dan regulasi. ETI yang menjangkau 115 negara tersebut digambarkan dengan skor berskala 0-100 poin.

    Dalam laporan Forum Ekonomi Dunia (WEF) pada April 2021, tercatat Swedia menjadi negera terdepan dalam penggunaan energi terbarukan atau peringkat 1 dari 115 negara dunia, dengan indeks transisi energinya hingga 87 poin. Sementara untuk kawasan Asia Tenggara, Singapura menjadi negara yang menduduki peringkat pertama.

    Lebih lanjut, dalam tulisan ini GNFI akan menyajikan daftar 8 besar negara di Asia Tenggara yang menjadi pelaku transisi energi pada 2021.

    Baca Juga: Wujud Nyata dari SDGs, Inilah 4 Desa Mandiri Energi di Indonesia

    Indeks transisi energi negara kawasan ASEAN 2021 © GNFI

    info gambar

    1. Singapura

    Di kawasan ASEAN, Singapura menjadi negara terdepan dalam penggunaan energi terbarukan. Sedangkan secara global, negara makmur tersebut menempati peringkat 21 dari 115 negara dunia dengan indeks transisi energinya mencapai 67 poin.

    Salah satu wujud sinergitas Singapura dalam transisi energi dapat dilihat dari pembangunan pembangkit listrik tenaga suryanya, yang terhitung ada 13 ribu panel di permukaan laut. Dengan kemampuan menghasilkan listrik hingga lima megawatt, panel surya tersebut dapat memberikam daya setidaknya bagi 1.400 rumah susun sepanjang tahun.

    2. Malaysia

    Selanjutnya, peringkat kedua ditempati oleh negeri jiran, Malaysia, dengan indeks transisi energinya tercatat 64 poin. Sedangkan secara global, negara tersebut menempati peringkat 39 dari 115 negara dunia.

    Salah satu wujud sinergitas Malaysia dalam upaya transisi energi dapat terlihat pada pembangunan panel suryanya. International Renewable Energy Agency (IRENA) bahkan sampai menunjuk Malaysia sebagai negara tenaga surya fotovoltaik (PV) terbesar di ASEAN pada 2019.

    3. Thailand

    Kemudian, peringkat ketiga ditempati oleh Thailand dengan indeks transisi 60 poin. Sedangkan secara global, negara tersebut menempati peringkat 55 dari 115 negara dunia.

    Salah satu wujud sinergitas Thailand dalam upaya transisi energi dapat terlihat pada pembangunan pembangkit listrik tenaga hibridanya, yang sedang terpasang sekitar 144 panel surya di waduk di provinsi timur laut Ubon Ratchathani. Menurut Rencana Pengembangan Energi Thailand, pembangkit listrik tersebut bertujuan untuk mencapai 35% energi dari bahan bakar non-fosil pada 2037.

    4. Vietnam

    Berikutnya, peringkat keempat ditempati oleh Vietnam dengan indeks transisi energi 57 poin. Sedangkan secara global, negara tersebut menempati peringkat 65 dari 115 negara dunia.

    Salah satu wujud sinergitas Vietnam dalam upaya transisi energi dapat terlihat pada peningkatan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berskala besarnya hingga lebih dari 5 Giga Watt (GW) pada 2019. Kapasitas tersebut diprediksi akan ditingkatkan lagi pada akhir tahun 2021, yakni hingga mencapai 10 GW.

    5. Filipina

    Tercatat Filipina menempati peringkat kelima sebagai negara transisi energi di ASEAN. Sedangkan secara global, negara tersebut menempati peringkat 1 dari 115 negara dunia dengan indeks transisi energinya tercatat 57 poin.

    6. Indonesia

    Selanjutnya peringkat keenam ditempati oleh Indonesia dengan indeks transisi energi mencapai 56 poin. Sedangkan secara global, Indonesia menempati peringkat 71 dari 115 negara dunia.

    Dilansir dari Mediaindonesia.com (9/12/2019), salah satu wujud sinergitas Indonesia dalam upaya transisi energi dapat terlihat pada pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Mauhalek di Desa Mauhalek, Kecamatan Lasiolat, Belu, Nusa Tenggara Timur sejak 2015.

    7. Brunei Darussalam

    Sebesar 95 persen dari total ekspor Brunei Darussalam adalah komoditi minyak bumi serta gas. Meskipun begitu, negara ini tetap mengupayakan transisi energi. Tercatat Brunei menduduki posisi keenam dalam hal penggunaan energi terbarukan.

    Brunei memiliki indeks transisi energi hingga 54 poin dan menempatkannya di posisi ketujuh di Asia Tenggara. Sedangkan secara global, negara tersebut menempati peringkat 82 dari 115 negara dunia.

    8. Kamboja

    Terakhir, peringkat kedelapan ditempati oleh Kamboja dengan indeks transisi energinya mencapai 52 poin. Sedangkan secara global, negara tersebut menempati peringkat 93 dari 115 negara dunia

    Dilansir dari CNBC Indonesia.com (23/10/2020), salah satu wujud sinergitas Kamboja dalam transisi energi dapat dilihat dari pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berskala kecilnya, yakni 60 Mega Watt (MW).

    ==

    Sumber Referensi:

    Pwypindonesia.org | iesr.or.id | wartaekonomi.co.id | ofiskita.com | Tempo.co | Mediaindonesia.com | Kompas.com | CNBC Indonesia.com | Laporan Forum Ekonomi Dunia (WEF)

    Baca Juga:





    Source link

    Continue Reading

    HEADLINE

    Damar Malam, Tradisi Selikuran Masyarakat Islam Cirebon

    Damar Malam, Tradisi Selikuran Masyarakat Islam Cirebon


    Pada hari Minggu 9 Mei 2021, bulan Ramadan telah memasuki hari ke-27. Pada 10 hari terakhir ini dianjurkan untuk meningkatkan ibadah untuk mengharapkan kemuliaan malam Lailatul Qadar.

    Pada malam ke 27, masyarakat juga merayakan dengan berbagai tradisi. Tradisi ini sebagai pengingat agar masyarakat mempersiapkan diri untuk beribadah secara maksimal.

    Salah satu tradisi keagamaan (Islam) yang unik dan masih cukup bertahan di tengah gempuran arus modernisasi adalah tradisi malam likuran di bulan Ramadan.

    Tradisi malam likuran adalah sebuah tradisi masyarakat Islam Indonesia dalam meramaikan bulan Ramadan dengan cara menyalakan damar malam, lampu cangkok/colok, tepatnya di malam ganjil di sepertiga terakhir di bulan Ramadan.

    Tradisi menyalakan damar malam sejenis obor yang terbuat dari bilahan bambu di lilit kain dan celupan malam (pewarna batik) menjelang ibadah puasa berakhir hingga kini masih dilakukan sebagian masyarakat Cirebon. Banyak pengrajin batik di cirebon. Jadi tidak susah mendapatkan bahan baku malam yang digunakan untuk membuat damar malem.

    Selain itu biasanya masyarakat dapat memperoleh dari para penjual bunga yang ada di pasar-pasar di sekitar Cirebon. Para pedagang menjual damar malam dengan harga Rp1.000 hingga Rp2.000 setiap ikat.

    Selepas maghrib anak-anak kecil usia 7 tahun hingga belasan keluar rumah sambil menyalakan “damar malam” yang diletakkan di sudut-sudut rumah sambil menyanyikan yel-yel: damar malam selikure (damar malam tanggal dua puluh satu Ramadan) damar malam telulikure (damar malam tanggal dua puluh tiga), dan seterusnya.

    Damar malam harus dinyalakan dengan hati-hati. Bila gegabah, bahan malam yang terbakar akan menetes dan bisa melukai kulit tangan. Tradisi menyalakan damar malam ini dilakukan sesudah berbuka puasa atau sesaat setelah Maghrib tiba. Damar malam itu akan padam dengan sendirinya saat memasuki waktu salat tarawih, atau selepas Isya.

    Tradisi turun temurun

    Tidak diketahui secara persis kapan dan siapa yang memulai tradisi malam likuran ini di Nusantara. Namun, uraian Hamka (1982) mengenai penyalaan api di malam likuran adalah simbol petunjuk hidayah Islam yang diajarkan oleh Syekh ‘Ainul Yaqin atau yang lebih dikenal dengan Sunan Giri.

    Saat itu pelita-pelita pada mulanya dipasang di Masjid Giri. Karena itu jika dilihat dari segi pelaku yang merayakan tradisi ini, merupakan bagian dari tradisi masyarakat Islam di Indonesia.

    Sementara itu di Cirebon, tradisi yang turun temurun ini sudah ada sejak Islam. Setelah dinyalakan biasanya damar malam tersebut akan diletakkan pada sudut rumah atau sudut halaman rumah.

    “Kegiatan Malam Selikuran ala warga Cirebon ini juga diselenggarakan dalam rangka menyambut datangnya malam Lailatul Qadar, atau Malam Seribu Bulan, yang diyakini akan hadir pada tanggal-tanggal ganjil di Bulan Suci,” ucap Dewi yang akrab di sapa Wiwiek salah satu warga Desa Gesik, Kecamatan Tengahtani Kabupaten Cirebon, dikutip dari portaljabar.

    Perayaan malam likuran di satu daerah di Nusantara berbeda dengan daerah lainnya. Kendati pun secara ekspresi perayaan berbeda-beda, pada hakikatnya tujuan perayaan malam likuran di beberapa daerah di Nusantara tidak berbeda; yakni meramaikan malam ganjil di bulan Ramadan.

    Seperti di Wonogiri, sebagaimana dalam Sartono (2000:4), disebutkan bahwa tradisi perayaan di malam likuran di sana dilakukan dengan menaruh sebuah ting (lampu kecil) yang berbentuk rupa-rupa, seperti ikan, kapal, dan lain sebagainya. Banyak suara gaduh yang disebabkan bunyi petasan yang disulut, dan pada malam itu diadakan selametan.

    Selain itu orang Gorontalo juga memiliki tradisi Tumbilotohe atau lazim menyebutnya dengan “Malam pasang lampu”. Tradisi ini dilakukan pada tiga malam terakhir menjelang perayaan Idul Fitri dengan menyalakan lampu dari minyak sebagai tanda untuk melepas Ramadhan.

    Menurut sejarah, konon tradisi ini sudah berlangsung sejak abad ke-15, dimana pada masa itu lampu penerangan masih minim, untuk meneranginya masyarakat dahulu membuat lampu penerang berbahan wamuta atau seludang yang dihaluskan dan diruncingkan lalu kemudian dibakar.

    Di tahun-tahun berikutnya alat penerangan tersebut mulai menggunakan tohetutu atau damar, yakni semacam getah padat yang akan menyala apabila dibakar dan bertahan cukup lama.

    Mulai ditinggalkan oleh masyarakat

    Tradisi yang biasa disebut malam selikuran ini masih dilaksanakan oleh sebagian masyarakat pada malam ganjil bulan Ramadan. Namun, saat ini tradisi tersebut sudah hampir punah.

    Seperti penelitian Nur Syam di kawasan Pesisir Tuban mengatakan bahwa tradisi malam likuran dikenal dengan tradisi colokan, yaitu kebiasaan membuat colok yang terbuat dari kain yang ditalikan di kayu-kayu kecil yang dicelupkan ke minyak tanah dan ketika waktu magrib tiba dibakar di sudut-sudut rumah. Sayangnya tradisi ini di beberapa daerah sudah hilang dan diganti selamatan biasa di rumah-rumah. (Nur Syam, 2005: 182)

    Hal ini tidak berbeda jauh dengan yang terjadi di Cirebon. Pasalnya, banyak anak – anak jaman sekarang yang tidak tahu bahwa setiap bulan ramadan ada tradisi Damar Malam.

    Seiring dengan hadirnya listrik dan maraknya gadget (internet),serta petasan / kembang api, tradisi ini sudah mulai ditinggalkan masyarakat Cirebon.

    Bahkan untuk mendapatkan damar malam tidak lagi mudah. Tidak seperti dulu hampir di semua pasar menyediakan damar malam.

    “Dulu semua pasar pasti ada dan menjual damar malam, sekarang sih rada susah dan hanya ada di pasar plered kabupaten cirebon harganya pun sudah lumayan,” terang Wiwiek.

    Karena itu pihak Keraton Kanoman masih tetap menjaga tradisi ramadan dari tahun ke tahun. Pelestarian budaya leluhur menjadi tanggung jawab bagi penerus keluarga di masa yang akan datang.

    Keluarga keraton Kanoman beserta warga sekitar dan perwakilan desa-desa bersilaturahmi, berdoa bersama, sekaligus bertawasul untuk para leluhur dan juga berdoa untuk keselamatan umat. Hal ini sudah dilakukan pada malam ganjil sebelumnya yakni 21, 23, dan 25 Ramadan untuk menyambut Lailatul Qodar.

    Kagiatan tersebut diadakan sore hari ba’da ashar yang diadakan di Bangsal Paseban yang dipimpin langsung oleh Pangeran Patih Raja Muhammad Qodiran yang mewakili Sultan Raja Emirudin.

    “Selain pitu likuran ada juga tradisi bakar damar di malam hari dengan pengharapan bahwa malam lailatul qodar lebih cerah, mendapatkan malam spesial di antara malam seribu bulan,” ucap Ratu Arimbi Nurtina.

    Baca juga:





    Source link

    Continue Reading
    Advertisement
    Advertisement
    Advertisement
    Advertisement
    Advertisement

    Trending Dari BuzzFeed

    close