Connect with us

HEADLINE

Mendesaknya Mitigasi Jangka Panjang untuk Hadapi Perubahan Iklim

Mendesaknya Mitigasi Jangka Panjang untuk Hadapi Perubahan Iklim


Peristiwa bencana banjir dan longsor di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terjadi pada Minggu (4/4/2021) dini yang diakibatkan oleh badai Siklon Tropis Seroja mengakibatkan kerugian materil dan non-materil bagi masyarakat setempat.

Dari data BNPB, sedikitnya 128 orang meninggal, 8.424 warga mengungsi, dan 2.683 warga terdampak. Hal itu pada akhirnya memerlukan strategi pemulihan kehidupan masyarakat yang terdampak bencana hidrometeorologi akibat perubahan iklim, yang tentunya mengancam seluruh aspek kehidupan sosial ekonomi masyarakat.

“Siklon tropis Seroja di NTT adalah bukti dampak perubahan iklim karena terjadi di area yang tidak semestinya. Siklon tropis seharusnya terjadi di daerah di atas 10 derajat lintang utara dan 10 derajat lintang selatan. Sementara, NTT terletak di garis 8 derajat lintang selatan,” jelas Prof. Edvin Aldrian, Meteorologi & Klimatologi BPPT, dalam keterangan yang diterima GNFI, Jumat (9/4/2021).

Prof. Edvin menjelaskan bahwa sebagai negara yang terletak di khatulistiwa, Indonesia cenderung tidak dilintasi oleh siklon. Seperti halnya anomali siklon tropis Varney yang terjadi di Batam pada 2001, kejadian tersebut nyatanya tidak diikuti oleh bencana lanjutan karena sifat siklon yang akan menjauh dari kawasan tropis.

siklon tropis

info gambar

Ia juga menambahkan bahwa kemunculan siklon tropis Seroja tak terlepas dari peningkatnya suhu di permukaan laut yang lebih hangat sebagai akibat dari pemanasan global.

Heat Capacity yaitu kemampuan laut menyerap panas berkurang, sehingga tidak mampu meredam siklon yang sudah di atas ambang batas kapasitas. Di daerah tropis, heat capacity ada di batas 300 celcius,” jelasnya.

Untuk mengurangi dampak perubahan iklim, sambungnya, manusia bisa mengurangi pemanasan bumi dari hal-hal yang bersumber dari diri mereka sendiri. Misalnya berhemat energi, mulai dari pemakaian transportasi, listrik dan energi lainnya.

Sejatinya, energi hanya bisa berubah bentuk dan berpindah tempat saja. Maka manusia sebaiknya memakai energi sesuai dengan kebutuhan, bukan berdasarkan keinginan.

Perencanaan mitigasi yang lebih matang

Lain Prof. Edvin, Kepala Riset Ekonomi Lingkungan LPEM FEB Universitas Indonesia, Dr. Alin Halimatussadiah, mengatakan bahwa mitigasi bencana yang bersifat anomali akibat perubahan iklim, seperti yang terjadi di NTT, perlu dilakukan oleh semua pihak. Terlebih NTT memiliki tingkat kemiskinan yang tinggi di atas tingkat nasional. Artinya, jika terkena bencana, maka kondisi masyarakat di daerah tersebut akan semakin terpuruk.

“Dampak siklon tropis Seroja di NTT sangat berat karena bersifat katastropik. Masyarakat kehilangan rumah, ladang, ternak dan keluarga. Mereka membutuhan waktu pemulihan yang lama, terlebih perlindungan sosial yang sekarang tersedia belum cukup adaptif bagi mereka yang jatuh miskin akibat bencana,” tandasnya.

Ia juga bilang bahwa peristiwa anomali bencana semacam ini harusnya menjadi sebuah momentum perlunya perencanaan matang untuk mitigasi bencana, baik yang bisa diprediksi sebelumnya maupun tidak.

”…Salah satunya adalah memasukan mitigasi bencana ke dalam RPJMD masing-masing daerah, sehingga pemerintah minimal sudah memiliki upaya untuk memitigasi bencana,” sarannya.

Tentunya, mitigasi harus dipersepsikan sebagai sebuah investasi jangka panjang yang wajib dilakukan setiap daerah, sehingga pengeluaran anggaran akibat bencana di masa depan menjadi lebih rendah. Ia menyarankan, salah satu metode mitigasi yang dapat dilakukan adalah dengan pembuatan spatial planning dan early warning system untuk mengurangi risiko kerugian yang lebih besar, baik aspek sosial maupun ekonomi yang mempengaruhi keseimbangan fiskal suatu daerah.

Rekomendasi yang dapat dilakukan pemerintah

Baru-baru ini, sebuah studi yang sedang dilakukan LPEM FEB UI terkait infrastruktur tahan bencana dan perubahan iklim di Indonesia, diharapkan bisa menjadi salah satu rujukan gagasan dalam membuat rencana mitigasi jangka panjang terhadap bencana.

Adapun hasil dari kajian yang dilakukan LPEM UI untuk memberikan beberapa rekomendasi yang dapat dilakukan pemerintah, yakni:

  • Mengembangkan definisi yang tepat dari infrastruktur yang tahan terhadap iklim dan bencana dan membangun standardisasi yang kuat untuk pembangunan infrastruktur di Indonesia,
  • Mainstreaming konsep ketahanan iklim serta kapasitas pemerintah daerah dalam membangun infrastruktur daerah,
  • Mengembangkan pembiayaan inovatif untuk infrastruktur yang tahan terhadap iklim dan bencana, seperti promosi PPP dan juga termasuk skema Viability Gap Fund (VGF) dan Availability Payment (AP), penerbitan green bonds, sovereign wealth fund, dan dilengkapi dengan instrumen pendukung lainnya, serta
  • Meningkatkan kapasitas pangkalan data yang andal dan real time untuk mendukung penilaian risiko serta pemantauan dan evaluasi pembangunan infrastruktur yang tangguh.

Saat ini, pengeluaran pemerintah untuk infrastruktur naik secara signifikan dari Rp154,6 triliun (13 miliar dolar AS) pada 2014 menjadi Rp394,1 triliun (27,2 miliar dolar AS) pada 2019, atau kurang lebih bertambah sebesar 254,9 persen.

Dr. Alin juga menegaskan bahwa seiring dengan rencana progresif pemerintah untuk memperbaiki konektivitas antar wilayah dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan daya saing melalui pembangunan infrastruktur, perlu juga untuk merancang infrastruktur di masa depan yang bisa lebih tahan terhadap bencana terutama akibat perubahan iklim.

Baca juga:





Source link

Advertisement
Click to comment

HEADLINE

Trik Menjaga Kesehatan dan Berat Badan Selama Libur Lebaran

Trik Menjaga Kesehatan dan Berat Badan Selama Libur Lebaran


Lebaran biasanya jadi momen kumpul keluarga, bersantai, sekaligus menyantap makanan lezat. Dalam beberapa hari, Anda pun terbebas dari rutinitas sehari-hari seperti sekolah atau bekerja.

Menikmati momen libur lebaran memang sah-sah saja. Namun, jangan sampai terlena makan berlebihan dan bermalas-malasan. Bukan tak mungkin berat badan akan bertambah selama beberapa hari liburan dan bisa berdampak kurang baik bagi kesehatan secara keseluruhan.

Lantas bagaimana cara untuk menjalani hari-hari liburan agar tetap sehat dan berat badan tak bertambah? Ikuti tips berikut ini:

Hindari makan dengan kalap

Pada hari Lebaran, artinya Anda sudah terbebas dari kewajiban puasa. Kadang, karena merasa bebas makan kapan saja setiap saat, orang sering kelewat asyik mencoba segala hidangan.

Ditambah lagi, hari Lebaran biasanya banyak makanan di rumah, mulai dari ketupat dan lauk pauknya, kue kering, minuman manis, dan aneka camilan. Apalagi sambil kumpul-kumpul dengan keluarga di rumah, mulut tak henti-hentinya mengunyah.

Meski banyak makanan menggiurkan di depan mata, ingatlah untuk menahan diri dan tidak kalap. Sebab, terlalu banyak makan bisa menyebabkan perut begah, tak nyaman, bahkan bisa mengalami gangguan pencernaan. Pastinya, angka di timbangan juga berisiko untuk bergerak ke arah kanan.

Trik jika ingin makan banyak, cobalah berbagai hidangan dalam porsi kecil tapi sering, dibanding makan sangat banyak dalam satu waktu. Cara ini baik dilakukan agar perut tidak kaget dengan perubahan pola makan setelah sebulan penuh berpuasa.

Hindari konsumsi gula dan santan berlebihan

Tak bisa dimungkiri jika berbagai hidangan Lebaran penuh dengan gula santan. Sebut saja nama-nama rendang, opor, gulai, kue kering, keik, minuman bersoda, dan sirup.

Bila tergoda menyantap semua, bayangkan berapa banyak kalori yang dikonsumsi dalam satu hari saja? Akibatnya, bukan hanya perut kembung dan mual, tetapi ada risiko meningkatkan kolesterol dan gula darah. Sebisa mungkin tahan diri Anda untuk makan makanan manis dan bersantan secukupnya.

Selipkan makan sayur dan buah

Sayur dan buah-buahan segar memang tampak tak menarik dibandingkan hidangan khas Lebaran. Namun ingatlah bahwa sayur dan buah mengandung banyak vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh, terutama pada sistem kekebalan tubuh. Ingat, kita masih hidup di masa pandemi yang butuh sistem imun lebih kuat agar tak mudah tertular virus. Buah dan sayur juga mengandung serat yang baik untuk melancarkan sistem pencernaan.

Jangan lupa minum 8 gelas per hari

Pastikan Anda tak lupa minum dua liter air atau delapan gelas per hari. Meski sedang liburan, kebutuhan tubuh akan air tentu harus dipenuhi. Ya, minuman manis memang lebih menggoda, tapi bila dikonsumsi berlebihan bisa membuat Anda lebih cepat haus dan mengalami dehidrasi.

Boleh saja kok tergoda es buah atau sirup, tetapi minum air putih jangan sampai dilupakan. Agar tak terlewat, bisa siapkan air minum di botol besar sehingga Anda tak lupa menghabiskan air di botol tersebut seharian.

Tetap aktif bergerak

Meski lebaran ini tak bisa bepergian, seharusnya jangan jadi alasan untuk bermalas-malasan. Yuk bangkit dari rebahan dan bergerak secara aktif. Kegiatan yang bisa dilakukan antara lain jalan-jalan di sekitar rumah, bersih-bersih, naik-turun tangga di rumah, mendekorasi ulang ruangan, atau bisa juga meluangkan waktu 30 menit saja untuk olahraga ringan. Dengan terus bergerak, tubuh akan lebih bugar dan tak mudah terserang penyakit.

Baca juga:

  • Menjelang Lebaran, Tradisi ‘Andilan’ Warnai Masyarakat Betawi Tempo Dulu





  • Source link

    Continue Reading

    HEADLINE

    Daftar Negara dengan Transisi Energi Terbaik di ASEAN 2021, Indonesia Urutan Berapa?

    Daftar Negara dengan Transisi Energi Terbaik di ASEAN 2021, Indonesia Urutan Berapa?


    Sebagaimana yang kita ketahui, penggunaan energi fosil tanpa batas sangat berkontribusi pada kenaikan suhu bumi, polusi udara, dan sejumlah krisis lingkungan lainnya. Dilansir dari Pwypindonesia.org (22/11/2020), penggunaan energi fosil telah mencapai 84% dari penggunaan energi global.

    Di Indonesia, bahan bakar tak terbarukan tersebut telah menjadi penyumbang terbesar emisi CO2 dari total emisi Gas Rumah Kaca (GRK) nasional. Konkretnya, sepanjang tahun 2012-2017 Indonesia tercatat telah mengalami peningkatan emisi CO2 sebesar 18% karena emisi dari pembangkitan listrik, sektor industri, dan transportasi.

    Sehingga, menurut Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa, transisi energi adalah sebuah keniscayaan yang tak bisa diabaikan. Sebab upaya peralihan energi dapat berdampak bagi pemulihan lingkungan. Selain itu, transisi energi juga memiliki harga yang lebih kompetitif dan berkelanjutan ketimbang energi fosil.

    ”Pengoptimalan sumber energi terbarukan juga akan menciptakan industri baru yang mendukung pertumbuhan ekonomi hijau, membuka lapangan kerja, dan menarik investasi,” kata Fabby, pada iesr.or.id (14/3/2021).

    Oleh karena itulah, manfaat ganda dari peralihan energi telah menjadi agenda dan strategi pembangunan banyak negara dunia. Untuk mengetahui kemajuan pengembangan energi terbarukan tersebut maka diperlukan analisis data tentang Energy Transition Index (ETI).

    ETI terbentuk atas tiga elemen performa sistem, yakni keamanan dan akses terhadap pasokan energi, keberlanjutan lingkungan, serta pertumbuhan dan perkembangan ekonomi. Selain itu, sejumlah kesiapan transisi juga menjadi indikator, seperti modal dan investasi, struktur sistem energi, serta komitmen dan regulasi. ETI yang menjangkau 115 negara tersebut digambarkan dengan skor berskala 0-100 poin.

    Dalam laporan Forum Ekonomi Dunia (WEF) pada April 2021, tercatat Swedia menjadi negera terdepan dalam penggunaan energi terbarukan atau peringkat 1 dari 115 negara dunia, dengan indeks transisi energinya hingga 87 poin. Sementara untuk kawasan Asia Tenggara, Singapura menjadi negara yang menduduki peringkat pertama.

    Lebih lanjut, dalam tulisan ini GNFI akan menyajikan daftar 8 besar negara di Asia Tenggara yang menjadi pelaku transisi energi pada 2021.

    Baca Juga: Wujud Nyata dari SDGs, Inilah 4 Desa Mandiri Energi di Indonesia

    Indeks transisi energi negara kawasan ASEAN 2021 © GNFI

    info gambar

    1. Singapura

    Di kawasan ASEAN, Singapura menjadi negara terdepan dalam penggunaan energi terbarukan. Sedangkan secara global, negara makmur tersebut menempati peringkat 21 dari 115 negara dunia dengan indeks transisi energinya mencapai 67 poin.

    Salah satu wujud sinergitas Singapura dalam transisi energi dapat dilihat dari pembangunan pembangkit listrik tenaga suryanya, yang terhitung ada 13 ribu panel di permukaan laut. Dengan kemampuan menghasilkan listrik hingga lima megawatt, panel surya tersebut dapat memberikam daya setidaknya bagi 1.400 rumah susun sepanjang tahun.

    2. Malaysia

    Selanjutnya, peringkat kedua ditempati oleh negeri jiran, Malaysia, dengan indeks transisi energinya tercatat 64 poin. Sedangkan secara global, negara tersebut menempati peringkat 39 dari 115 negara dunia.

    Salah satu wujud sinergitas Malaysia dalam upaya transisi energi dapat terlihat pada pembangunan panel suryanya. International Renewable Energy Agency (IRENA) bahkan sampai menunjuk Malaysia sebagai negara tenaga surya fotovoltaik (PV) terbesar di ASEAN pada 2019.

    3. Thailand

    Kemudian, peringkat ketiga ditempati oleh Thailand dengan indeks transisi 60 poin. Sedangkan secara global, negara tersebut menempati peringkat 55 dari 115 negara dunia.

    Salah satu wujud sinergitas Thailand dalam upaya transisi energi dapat terlihat pada pembangunan pembangkit listrik tenaga hibridanya, yang sedang terpasang sekitar 144 panel surya di waduk di provinsi timur laut Ubon Ratchathani. Menurut Rencana Pengembangan Energi Thailand, pembangkit listrik tersebut bertujuan untuk mencapai 35% energi dari bahan bakar non-fosil pada 2037.

    4. Vietnam

    Berikutnya, peringkat keempat ditempati oleh Vietnam dengan indeks transisi energi 57 poin. Sedangkan secara global, negara tersebut menempati peringkat 65 dari 115 negara dunia.

    Salah satu wujud sinergitas Vietnam dalam upaya transisi energi dapat terlihat pada peningkatan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berskala besarnya hingga lebih dari 5 Giga Watt (GW) pada 2019. Kapasitas tersebut diprediksi akan ditingkatkan lagi pada akhir tahun 2021, yakni hingga mencapai 10 GW.

    5. Filipina

    Tercatat Filipina menempati peringkat kelima sebagai negara transisi energi di ASEAN. Sedangkan secara global, negara tersebut menempati peringkat 1 dari 115 negara dunia dengan indeks transisi energinya tercatat 57 poin.

    6. Indonesia

    Selanjutnya peringkat keenam ditempati oleh Indonesia dengan indeks transisi energi mencapai 56 poin. Sedangkan secara global, Indonesia menempati peringkat 71 dari 115 negara dunia.

    Dilansir dari Mediaindonesia.com (9/12/2019), salah satu wujud sinergitas Indonesia dalam upaya transisi energi dapat terlihat pada pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Mauhalek di Desa Mauhalek, Kecamatan Lasiolat, Belu, Nusa Tenggara Timur sejak 2015.

    7. Brunei Darussalam

    Sebesar 95 persen dari total ekspor Brunei Darussalam adalah komoditi minyak bumi serta gas. Meskipun begitu, negara ini tetap mengupayakan transisi energi. Tercatat Brunei menduduki posisi keenam dalam hal penggunaan energi terbarukan.

    Brunei memiliki indeks transisi energi hingga 54 poin dan menempatkannya di posisi ketujuh di Asia Tenggara. Sedangkan secara global, negara tersebut menempati peringkat 82 dari 115 negara dunia.

    8. Kamboja

    Terakhir, peringkat kedelapan ditempati oleh Kamboja dengan indeks transisi energinya mencapai 52 poin. Sedangkan secara global, negara tersebut menempati peringkat 93 dari 115 negara dunia

    Dilansir dari CNBC Indonesia.com (23/10/2020), salah satu wujud sinergitas Kamboja dalam transisi energi dapat dilihat dari pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berskala kecilnya, yakni 60 Mega Watt (MW).

    ==

    Sumber Referensi:

    Pwypindonesia.org | iesr.or.id | wartaekonomi.co.id | ofiskita.com | Tempo.co | Mediaindonesia.com | Kompas.com | CNBC Indonesia.com | Laporan Forum Ekonomi Dunia (WEF)

    Baca Juga:





    Source link

    Continue Reading

    HEADLINE

    Damar Malam, Tradisi Selikuran Masyarakat Islam Cirebon

    Damar Malam, Tradisi Selikuran Masyarakat Islam Cirebon


    Pada hari Minggu 9 Mei 2021, bulan Ramadan telah memasuki hari ke-27. Pada 10 hari terakhir ini dianjurkan untuk meningkatkan ibadah untuk mengharapkan kemuliaan malam Lailatul Qadar.

    Pada malam ke 27, masyarakat juga merayakan dengan berbagai tradisi. Tradisi ini sebagai pengingat agar masyarakat mempersiapkan diri untuk beribadah secara maksimal.

    Salah satu tradisi keagamaan (Islam) yang unik dan masih cukup bertahan di tengah gempuran arus modernisasi adalah tradisi malam likuran di bulan Ramadan.

    Tradisi malam likuran adalah sebuah tradisi masyarakat Islam Indonesia dalam meramaikan bulan Ramadan dengan cara menyalakan damar malam, lampu cangkok/colok, tepatnya di malam ganjil di sepertiga terakhir di bulan Ramadan.

    Tradisi menyalakan damar malam sejenis obor yang terbuat dari bilahan bambu di lilit kain dan celupan malam (pewarna batik) menjelang ibadah puasa berakhir hingga kini masih dilakukan sebagian masyarakat Cirebon. Banyak pengrajin batik di cirebon. Jadi tidak susah mendapatkan bahan baku malam yang digunakan untuk membuat damar malem.

    Selain itu biasanya masyarakat dapat memperoleh dari para penjual bunga yang ada di pasar-pasar di sekitar Cirebon. Para pedagang menjual damar malam dengan harga Rp1.000 hingga Rp2.000 setiap ikat.

    Selepas maghrib anak-anak kecil usia 7 tahun hingga belasan keluar rumah sambil menyalakan “damar malam” yang diletakkan di sudut-sudut rumah sambil menyanyikan yel-yel: damar malam selikure (damar malam tanggal dua puluh satu Ramadan) damar malam telulikure (damar malam tanggal dua puluh tiga), dan seterusnya.

    Damar malam harus dinyalakan dengan hati-hati. Bila gegabah, bahan malam yang terbakar akan menetes dan bisa melukai kulit tangan. Tradisi menyalakan damar malam ini dilakukan sesudah berbuka puasa atau sesaat setelah Maghrib tiba. Damar malam itu akan padam dengan sendirinya saat memasuki waktu salat tarawih, atau selepas Isya.

    Tradisi turun temurun

    Tidak diketahui secara persis kapan dan siapa yang memulai tradisi malam likuran ini di Nusantara. Namun, uraian Hamka (1982) mengenai penyalaan api di malam likuran adalah simbol petunjuk hidayah Islam yang diajarkan oleh Syekh ‘Ainul Yaqin atau yang lebih dikenal dengan Sunan Giri.

    Saat itu pelita-pelita pada mulanya dipasang di Masjid Giri. Karena itu jika dilihat dari segi pelaku yang merayakan tradisi ini, merupakan bagian dari tradisi masyarakat Islam di Indonesia.

    Sementara itu di Cirebon, tradisi yang turun temurun ini sudah ada sejak Islam. Setelah dinyalakan biasanya damar malam tersebut akan diletakkan pada sudut rumah atau sudut halaman rumah.

    “Kegiatan Malam Selikuran ala warga Cirebon ini juga diselenggarakan dalam rangka menyambut datangnya malam Lailatul Qadar, atau Malam Seribu Bulan, yang diyakini akan hadir pada tanggal-tanggal ganjil di Bulan Suci,” ucap Dewi yang akrab di sapa Wiwiek salah satu warga Desa Gesik, Kecamatan Tengahtani Kabupaten Cirebon, dikutip dari portaljabar.

    Perayaan malam likuran di satu daerah di Nusantara berbeda dengan daerah lainnya. Kendati pun secara ekspresi perayaan berbeda-beda, pada hakikatnya tujuan perayaan malam likuran di beberapa daerah di Nusantara tidak berbeda; yakni meramaikan malam ganjil di bulan Ramadan.

    Seperti di Wonogiri, sebagaimana dalam Sartono (2000:4), disebutkan bahwa tradisi perayaan di malam likuran di sana dilakukan dengan menaruh sebuah ting (lampu kecil) yang berbentuk rupa-rupa, seperti ikan, kapal, dan lain sebagainya. Banyak suara gaduh yang disebabkan bunyi petasan yang disulut, dan pada malam itu diadakan selametan.

    Selain itu orang Gorontalo juga memiliki tradisi Tumbilotohe atau lazim menyebutnya dengan “Malam pasang lampu”. Tradisi ini dilakukan pada tiga malam terakhir menjelang perayaan Idul Fitri dengan menyalakan lampu dari minyak sebagai tanda untuk melepas Ramadhan.

    Menurut sejarah, konon tradisi ini sudah berlangsung sejak abad ke-15, dimana pada masa itu lampu penerangan masih minim, untuk meneranginya masyarakat dahulu membuat lampu penerang berbahan wamuta atau seludang yang dihaluskan dan diruncingkan lalu kemudian dibakar.

    Di tahun-tahun berikutnya alat penerangan tersebut mulai menggunakan tohetutu atau damar, yakni semacam getah padat yang akan menyala apabila dibakar dan bertahan cukup lama.

    Mulai ditinggalkan oleh masyarakat

    Tradisi yang biasa disebut malam selikuran ini masih dilaksanakan oleh sebagian masyarakat pada malam ganjil bulan Ramadan. Namun, saat ini tradisi tersebut sudah hampir punah.

    Seperti penelitian Nur Syam di kawasan Pesisir Tuban mengatakan bahwa tradisi malam likuran dikenal dengan tradisi colokan, yaitu kebiasaan membuat colok yang terbuat dari kain yang ditalikan di kayu-kayu kecil yang dicelupkan ke minyak tanah dan ketika waktu magrib tiba dibakar di sudut-sudut rumah. Sayangnya tradisi ini di beberapa daerah sudah hilang dan diganti selamatan biasa di rumah-rumah. (Nur Syam, 2005: 182)

    Hal ini tidak berbeda jauh dengan yang terjadi di Cirebon. Pasalnya, banyak anak – anak jaman sekarang yang tidak tahu bahwa setiap bulan ramadan ada tradisi Damar Malam.

    Seiring dengan hadirnya listrik dan maraknya gadget (internet),serta petasan / kembang api, tradisi ini sudah mulai ditinggalkan masyarakat Cirebon.

    Bahkan untuk mendapatkan damar malam tidak lagi mudah. Tidak seperti dulu hampir di semua pasar menyediakan damar malam.

    “Dulu semua pasar pasti ada dan menjual damar malam, sekarang sih rada susah dan hanya ada di pasar plered kabupaten cirebon harganya pun sudah lumayan,” terang Wiwiek.

    Karena itu pihak Keraton Kanoman masih tetap menjaga tradisi ramadan dari tahun ke tahun. Pelestarian budaya leluhur menjadi tanggung jawab bagi penerus keluarga di masa yang akan datang.

    Keluarga keraton Kanoman beserta warga sekitar dan perwakilan desa-desa bersilaturahmi, berdoa bersama, sekaligus bertawasul untuk para leluhur dan juga berdoa untuk keselamatan umat. Hal ini sudah dilakukan pada malam ganjil sebelumnya yakni 21, 23, dan 25 Ramadan untuk menyambut Lailatul Qodar.

    Kagiatan tersebut diadakan sore hari ba’da ashar yang diadakan di Bangsal Paseban yang dipimpin langsung oleh Pangeran Patih Raja Muhammad Qodiran yang mewakili Sultan Raja Emirudin.

    “Selain pitu likuran ada juga tradisi bakar damar di malam hari dengan pengharapan bahwa malam lailatul qodar lebih cerah, mendapatkan malam spesial di antara malam seribu bulan,” ucap Ratu Arimbi Nurtina.

    Baca juga:





    Source link

    Continue Reading
    Advertisement
    Advertisement
    Advertisement
    Advertisement
    Advertisement

    Trending Dari BuzzFeed

    close