Connect with us

HEADLINE

Melimpah Ruah Energi Panas Bumi Indonesia, Jadi Nomor 2 Terbesar di Dunia

Melimpah Ruah Energi Panas Bumi Indonesia, Jadi Nomor 2 Terbesar di Dunia


PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) yang oleh pemerintah diberikan mandat sebagai penggarap dalam pengembangan panas bumi, berkomitmen penuh untuk meningkatkan kapasitas terpasang energi panas bumi untuk pembangkitan listrik di Indonesia.

Dalam mendukung pengembangan energi panas bumi, PT Pertamina (Persero) sebagai induk perusahaan PGE menempatkan geothermal dalam salah satu prioritas strategis dalam pengembangan energi masa depan yang berkelanjutan. Secara umum, sekitar 88 persen kapasitas terpasang panas bumi untuk pembangkitan listrik di Indonesia berada di Wilayah Kerja PGE.

Secara definisi, energi panas bumi (energi geothermal) adalah energi yang dihasilkan oleh panas yang tersimpan di dalam bumi. Ketimbang bahan bakar fosil, panas bumi merupakan sumber energi bersih dan hanya melepaskan sedikit emisi gas rumah kaca. Dan, Salah satu pemanfaatan enegi panas bumi adalah untuk menghasilkan energi listrik.

Pemanfaatan energi panas bumi untuk pembangkitan listrik secara garis besar dilakukan dengan ekstraksi panas dan tekanan uap yang ada di perut bumi digunakan untuk memutar turbin, sehingga dapat dikonversikan menjadi energi listrik.

Indonesia dengan bekal total kapasitas terpasang panas bumi sebesar 2,1 Gigawatt (GW), saat ini berada di posisi ke-2 di dunia, tepat di bawah Amerika Serikat yang memiliki total kapasitas terpasang panas bumi 3,7 GW.

Potensi geothermal dunia

info gambar

Potensi besar energi panas bumi di Indonesia

Kontribusi PGE dalam pencapaian ini termasuk yang paling besar secara badan usaha tunggal, dengan kapasitas terpasang sebesar 672 MW, disusul Star Energy Geothermal Salak sebesar 377 MW, Sarulla Operations Ltd 330 MW, Star Energy Geothermal Darajat II Ltd 271 MW, Star Energy Geothermal 227 MW, Geo Dipa Energi 115 MW, dan PLN 13 MW.

Pertamina yang kemudian dilanjutkan oleh PGE, juga merupakan pionir pengembangan panas bumi di Indonesia sejak 1974, yang salah satu operasinya ada di wilayah Kamojang, Jawa Barat, yang telah beroperasi sejak tahun 1983 atau telah berjalan selama 38 tahun dengan kapasitas terpasang saat ini yang mencapai 235 MW, dan terus akan ditingkatkan.

Komitmen PGE dalam mengembangkan energi bersih panas bumi dilakukan dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat di samping mandat untuk memberikan keuntungan yang terbaik bagi Pertamina.

Dari 351 titik potensial energi panas bumi di Indonesia, saat ini PGE mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) dengan total kapasitas terpasang sebesar 672 MW yang dioperasikan sendiri (own operation).

Kapasitas 672 MW itu tersebar di beberapa area operasi, yakni:

  • Area Kamojang (Jawa Barat) 235 MW,
  • Area Ulubelu (Lampung) 220 MW,
  • Area Lahendong (Sulawesi Utara) 120 MW,
  • Area Lumut Balai (Sumatera Selatan) 55 MW,
  • Area Karaha (Jawa Barat) 30 MW, dan
  • Area Sibayak (Sumatera Utara) 12 MW,

Selain kapasitas terpasang yang dioperasikan sendiri, PGE juga mempunyai 1.205 MW yang dijalankan secara joint operation contract (JOC). Terdiri dari 3 JOC di Jawa Barat bersama Star Energy di Lapangan Wayang Windu, Darajat dan Gunung Salak, serta 1 JOC yang dilaksanakan oleh Sarulla Operation Ltd. di Lapangan Sarulla Sumatera Utara.

Jika diakumulasikan baik melalui pengelolaan sendiri atau JOC, maka kapasitas instalasi yang dioperasikan PGE hingga saat ini mencapai 1.877 MW.

Tentunya sebagai garda terdepan dalam pengembangan panas bumi di Indonesia, kontribusi PGE bakal ditingkatkan pada tahun-tahun mendatang melalui beberapa proyek yang sedang dilaksanakan, di antaranya proyek panas bumi di Lumut Balai Unit 2 di Sumatera Selatan, Hululais dan Hululais Extention (Bukit Daun) di Bengkulu, dan Sungai Penuh (Jambi).

Dikembangkan dengan konsep bersih dan transparan

PGE pun meyakini bahwa implementasi prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG) akan mendorong pelaksanaan bisnis yang beretika dan sesuai dengan aturan yang berlaku.

Kejelasan komitmen, aturan main, dan praktik-praktik penyelengaraan perusahaan yang baik dan beretika akan mendorong peningkatan kinerja dan memberikan nilai tambah bagi para pengambil kebijakan.

Secara garis besar, manfaat implementasi SMAP (system manajemen anti penyuapan) pada sistem PGE antara lain adalah:

  • Proses bisnis lebih efisien,
  • Peningkatan Good Corporate Governance (GCG) & Citra Perusahaan,
  • Memberikan kepercayaan investor & pelanggan, dan
  • Produk PGE sesuai kebutuhan pelanggan.

Adapun, rencana komitmen investasi yang akan dikucurkan PGE untuk pengembangan panas bumi hingga tahun 2024 diestimasikan mencapai 1,1 miliar dolar AS.

Ini menandakan potensi Indonesia terkait energi terbarukan menjadi sangat positif, dan sudah barang tentu bakal berdampak bagi hajat hidup orang banyak jika dikelola secara baik dan bertanggung jawab.





Source link

Advertisement
Click to comment

HEADLINE

Trik Menjaga Kesehatan dan Berat Badan Selama Libur Lebaran

Trik Menjaga Kesehatan dan Berat Badan Selama Libur Lebaran


Lebaran biasanya jadi momen kumpul keluarga, bersantai, sekaligus menyantap makanan lezat. Dalam beberapa hari, Anda pun terbebas dari rutinitas sehari-hari seperti sekolah atau bekerja.

Menikmati momen libur lebaran memang sah-sah saja. Namun, jangan sampai terlena makan berlebihan dan bermalas-malasan. Bukan tak mungkin berat badan akan bertambah selama beberapa hari liburan dan bisa berdampak kurang baik bagi kesehatan secara keseluruhan.

Lantas bagaimana cara untuk menjalani hari-hari liburan agar tetap sehat dan berat badan tak bertambah? Ikuti tips berikut ini:

Hindari makan dengan kalap

Pada hari Lebaran, artinya Anda sudah terbebas dari kewajiban puasa. Kadang, karena merasa bebas makan kapan saja setiap saat, orang sering kelewat asyik mencoba segala hidangan.

Ditambah lagi, hari Lebaran biasanya banyak makanan di rumah, mulai dari ketupat dan lauk pauknya, kue kering, minuman manis, dan aneka camilan. Apalagi sambil kumpul-kumpul dengan keluarga di rumah, mulut tak henti-hentinya mengunyah.

Meski banyak makanan menggiurkan di depan mata, ingatlah untuk menahan diri dan tidak kalap. Sebab, terlalu banyak makan bisa menyebabkan perut begah, tak nyaman, bahkan bisa mengalami gangguan pencernaan. Pastinya, angka di timbangan juga berisiko untuk bergerak ke arah kanan.

Trik jika ingin makan banyak, cobalah berbagai hidangan dalam porsi kecil tapi sering, dibanding makan sangat banyak dalam satu waktu. Cara ini baik dilakukan agar perut tidak kaget dengan perubahan pola makan setelah sebulan penuh berpuasa.

Hindari konsumsi gula dan santan berlebihan

Tak bisa dimungkiri jika berbagai hidangan Lebaran penuh dengan gula santan. Sebut saja nama-nama rendang, opor, gulai, kue kering, keik, minuman bersoda, dan sirup.

Bila tergoda menyantap semua, bayangkan berapa banyak kalori yang dikonsumsi dalam satu hari saja? Akibatnya, bukan hanya perut kembung dan mual, tetapi ada risiko meningkatkan kolesterol dan gula darah. Sebisa mungkin tahan diri Anda untuk makan makanan manis dan bersantan secukupnya.

Selipkan makan sayur dan buah

Sayur dan buah-buahan segar memang tampak tak menarik dibandingkan hidangan khas Lebaran. Namun ingatlah bahwa sayur dan buah mengandung banyak vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh, terutama pada sistem kekebalan tubuh. Ingat, kita masih hidup di masa pandemi yang butuh sistem imun lebih kuat agar tak mudah tertular virus. Buah dan sayur juga mengandung serat yang baik untuk melancarkan sistem pencernaan.

Jangan lupa minum 8 gelas per hari

Pastikan Anda tak lupa minum dua liter air atau delapan gelas per hari. Meski sedang liburan, kebutuhan tubuh akan air tentu harus dipenuhi. Ya, minuman manis memang lebih menggoda, tapi bila dikonsumsi berlebihan bisa membuat Anda lebih cepat haus dan mengalami dehidrasi.

Boleh saja kok tergoda es buah atau sirup, tetapi minum air putih jangan sampai dilupakan. Agar tak terlewat, bisa siapkan air minum di botol besar sehingga Anda tak lupa menghabiskan air di botol tersebut seharian.

Tetap aktif bergerak

Meski lebaran ini tak bisa bepergian, seharusnya jangan jadi alasan untuk bermalas-malasan. Yuk bangkit dari rebahan dan bergerak secara aktif. Kegiatan yang bisa dilakukan antara lain jalan-jalan di sekitar rumah, bersih-bersih, naik-turun tangga di rumah, mendekorasi ulang ruangan, atau bisa juga meluangkan waktu 30 menit saja untuk olahraga ringan. Dengan terus bergerak, tubuh akan lebih bugar dan tak mudah terserang penyakit.

Baca juga:

  • Menjelang Lebaran, Tradisi ‘Andilan’ Warnai Masyarakat Betawi Tempo Dulu





  • Source link

    Continue Reading

    HEADLINE

    Daftar Negara dengan Transisi Energi Terbaik di ASEAN 2021, Indonesia Urutan Berapa?

    Daftar Negara dengan Transisi Energi Terbaik di ASEAN 2021, Indonesia Urutan Berapa?


    Sebagaimana yang kita ketahui, penggunaan energi fosil tanpa batas sangat berkontribusi pada kenaikan suhu bumi, polusi udara, dan sejumlah krisis lingkungan lainnya. Dilansir dari Pwypindonesia.org (22/11/2020), penggunaan energi fosil telah mencapai 84% dari penggunaan energi global.

    Di Indonesia, bahan bakar tak terbarukan tersebut telah menjadi penyumbang terbesar emisi CO2 dari total emisi Gas Rumah Kaca (GRK) nasional. Konkretnya, sepanjang tahun 2012-2017 Indonesia tercatat telah mengalami peningkatan emisi CO2 sebesar 18% karena emisi dari pembangkitan listrik, sektor industri, dan transportasi.

    Sehingga, menurut Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa, transisi energi adalah sebuah keniscayaan yang tak bisa diabaikan. Sebab upaya peralihan energi dapat berdampak bagi pemulihan lingkungan. Selain itu, transisi energi juga memiliki harga yang lebih kompetitif dan berkelanjutan ketimbang energi fosil.

    ”Pengoptimalan sumber energi terbarukan juga akan menciptakan industri baru yang mendukung pertumbuhan ekonomi hijau, membuka lapangan kerja, dan menarik investasi,” kata Fabby, pada iesr.or.id (14/3/2021).

    Oleh karena itulah, manfaat ganda dari peralihan energi telah menjadi agenda dan strategi pembangunan banyak negara dunia. Untuk mengetahui kemajuan pengembangan energi terbarukan tersebut maka diperlukan analisis data tentang Energy Transition Index (ETI).

    ETI terbentuk atas tiga elemen performa sistem, yakni keamanan dan akses terhadap pasokan energi, keberlanjutan lingkungan, serta pertumbuhan dan perkembangan ekonomi. Selain itu, sejumlah kesiapan transisi juga menjadi indikator, seperti modal dan investasi, struktur sistem energi, serta komitmen dan regulasi. ETI yang menjangkau 115 negara tersebut digambarkan dengan skor berskala 0-100 poin.

    Dalam laporan Forum Ekonomi Dunia (WEF) pada April 2021, tercatat Swedia menjadi negera terdepan dalam penggunaan energi terbarukan atau peringkat 1 dari 115 negara dunia, dengan indeks transisi energinya hingga 87 poin. Sementara untuk kawasan Asia Tenggara, Singapura menjadi negara yang menduduki peringkat pertama.

    Lebih lanjut, dalam tulisan ini GNFI akan menyajikan daftar 8 besar negara di Asia Tenggara yang menjadi pelaku transisi energi pada 2021.

    Baca Juga: Wujud Nyata dari SDGs, Inilah 4 Desa Mandiri Energi di Indonesia

    Indeks transisi energi negara kawasan ASEAN 2021 © GNFI

    info gambar

    1. Singapura

    Di kawasan ASEAN, Singapura menjadi negara terdepan dalam penggunaan energi terbarukan. Sedangkan secara global, negara makmur tersebut menempati peringkat 21 dari 115 negara dunia dengan indeks transisi energinya mencapai 67 poin.

    Salah satu wujud sinergitas Singapura dalam transisi energi dapat dilihat dari pembangunan pembangkit listrik tenaga suryanya, yang terhitung ada 13 ribu panel di permukaan laut. Dengan kemampuan menghasilkan listrik hingga lima megawatt, panel surya tersebut dapat memberikam daya setidaknya bagi 1.400 rumah susun sepanjang tahun.

    2. Malaysia

    Selanjutnya, peringkat kedua ditempati oleh negeri jiran, Malaysia, dengan indeks transisi energinya tercatat 64 poin. Sedangkan secara global, negara tersebut menempati peringkat 39 dari 115 negara dunia.

    Salah satu wujud sinergitas Malaysia dalam upaya transisi energi dapat terlihat pada pembangunan panel suryanya. International Renewable Energy Agency (IRENA) bahkan sampai menunjuk Malaysia sebagai negara tenaga surya fotovoltaik (PV) terbesar di ASEAN pada 2019.

    3. Thailand

    Kemudian, peringkat ketiga ditempati oleh Thailand dengan indeks transisi 60 poin. Sedangkan secara global, negara tersebut menempati peringkat 55 dari 115 negara dunia.

    Salah satu wujud sinergitas Thailand dalam upaya transisi energi dapat terlihat pada pembangunan pembangkit listrik tenaga hibridanya, yang sedang terpasang sekitar 144 panel surya di waduk di provinsi timur laut Ubon Ratchathani. Menurut Rencana Pengembangan Energi Thailand, pembangkit listrik tersebut bertujuan untuk mencapai 35% energi dari bahan bakar non-fosil pada 2037.

    4. Vietnam

    Berikutnya, peringkat keempat ditempati oleh Vietnam dengan indeks transisi energi 57 poin. Sedangkan secara global, negara tersebut menempati peringkat 65 dari 115 negara dunia.

    Salah satu wujud sinergitas Vietnam dalam upaya transisi energi dapat terlihat pada peningkatan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berskala besarnya hingga lebih dari 5 Giga Watt (GW) pada 2019. Kapasitas tersebut diprediksi akan ditingkatkan lagi pada akhir tahun 2021, yakni hingga mencapai 10 GW.

    5. Filipina

    Tercatat Filipina menempati peringkat kelima sebagai negara transisi energi di ASEAN. Sedangkan secara global, negara tersebut menempati peringkat 1 dari 115 negara dunia dengan indeks transisi energinya tercatat 57 poin.

    6. Indonesia

    Selanjutnya peringkat keenam ditempati oleh Indonesia dengan indeks transisi energi mencapai 56 poin. Sedangkan secara global, Indonesia menempati peringkat 71 dari 115 negara dunia.

    Dilansir dari Mediaindonesia.com (9/12/2019), salah satu wujud sinergitas Indonesia dalam upaya transisi energi dapat terlihat pada pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Mauhalek di Desa Mauhalek, Kecamatan Lasiolat, Belu, Nusa Tenggara Timur sejak 2015.

    7. Brunei Darussalam

    Sebesar 95 persen dari total ekspor Brunei Darussalam adalah komoditi minyak bumi serta gas. Meskipun begitu, negara ini tetap mengupayakan transisi energi. Tercatat Brunei menduduki posisi keenam dalam hal penggunaan energi terbarukan.

    Brunei memiliki indeks transisi energi hingga 54 poin dan menempatkannya di posisi ketujuh di Asia Tenggara. Sedangkan secara global, negara tersebut menempati peringkat 82 dari 115 negara dunia.

    8. Kamboja

    Terakhir, peringkat kedelapan ditempati oleh Kamboja dengan indeks transisi energinya mencapai 52 poin. Sedangkan secara global, negara tersebut menempati peringkat 93 dari 115 negara dunia

    Dilansir dari CNBC Indonesia.com (23/10/2020), salah satu wujud sinergitas Kamboja dalam transisi energi dapat dilihat dari pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berskala kecilnya, yakni 60 Mega Watt (MW).

    ==

    Sumber Referensi:

    Pwypindonesia.org | iesr.or.id | wartaekonomi.co.id | ofiskita.com | Tempo.co | Mediaindonesia.com | Kompas.com | CNBC Indonesia.com | Laporan Forum Ekonomi Dunia (WEF)

    Baca Juga:





    Source link

    Continue Reading

    HEADLINE

    Damar Malam, Tradisi Selikuran Masyarakat Islam Cirebon

    Damar Malam, Tradisi Selikuran Masyarakat Islam Cirebon


    Pada hari Minggu 9 Mei 2021, bulan Ramadan telah memasuki hari ke-27. Pada 10 hari terakhir ini dianjurkan untuk meningkatkan ibadah untuk mengharapkan kemuliaan malam Lailatul Qadar.

    Pada malam ke 27, masyarakat juga merayakan dengan berbagai tradisi. Tradisi ini sebagai pengingat agar masyarakat mempersiapkan diri untuk beribadah secara maksimal.

    Salah satu tradisi keagamaan (Islam) yang unik dan masih cukup bertahan di tengah gempuran arus modernisasi adalah tradisi malam likuran di bulan Ramadan.

    Tradisi malam likuran adalah sebuah tradisi masyarakat Islam Indonesia dalam meramaikan bulan Ramadan dengan cara menyalakan damar malam, lampu cangkok/colok, tepatnya di malam ganjil di sepertiga terakhir di bulan Ramadan.

    Tradisi menyalakan damar malam sejenis obor yang terbuat dari bilahan bambu di lilit kain dan celupan malam (pewarna batik) menjelang ibadah puasa berakhir hingga kini masih dilakukan sebagian masyarakat Cirebon. Banyak pengrajin batik di cirebon. Jadi tidak susah mendapatkan bahan baku malam yang digunakan untuk membuat damar malem.

    Selain itu biasanya masyarakat dapat memperoleh dari para penjual bunga yang ada di pasar-pasar di sekitar Cirebon. Para pedagang menjual damar malam dengan harga Rp1.000 hingga Rp2.000 setiap ikat.

    Selepas maghrib anak-anak kecil usia 7 tahun hingga belasan keluar rumah sambil menyalakan “damar malam” yang diletakkan di sudut-sudut rumah sambil menyanyikan yel-yel: damar malam selikure (damar malam tanggal dua puluh satu Ramadan) damar malam telulikure (damar malam tanggal dua puluh tiga), dan seterusnya.

    Damar malam harus dinyalakan dengan hati-hati. Bila gegabah, bahan malam yang terbakar akan menetes dan bisa melukai kulit tangan. Tradisi menyalakan damar malam ini dilakukan sesudah berbuka puasa atau sesaat setelah Maghrib tiba. Damar malam itu akan padam dengan sendirinya saat memasuki waktu salat tarawih, atau selepas Isya.

    Tradisi turun temurun

    Tidak diketahui secara persis kapan dan siapa yang memulai tradisi malam likuran ini di Nusantara. Namun, uraian Hamka (1982) mengenai penyalaan api di malam likuran adalah simbol petunjuk hidayah Islam yang diajarkan oleh Syekh ‘Ainul Yaqin atau yang lebih dikenal dengan Sunan Giri.

    Saat itu pelita-pelita pada mulanya dipasang di Masjid Giri. Karena itu jika dilihat dari segi pelaku yang merayakan tradisi ini, merupakan bagian dari tradisi masyarakat Islam di Indonesia.

    Sementara itu di Cirebon, tradisi yang turun temurun ini sudah ada sejak Islam. Setelah dinyalakan biasanya damar malam tersebut akan diletakkan pada sudut rumah atau sudut halaman rumah.

    “Kegiatan Malam Selikuran ala warga Cirebon ini juga diselenggarakan dalam rangka menyambut datangnya malam Lailatul Qadar, atau Malam Seribu Bulan, yang diyakini akan hadir pada tanggal-tanggal ganjil di Bulan Suci,” ucap Dewi yang akrab di sapa Wiwiek salah satu warga Desa Gesik, Kecamatan Tengahtani Kabupaten Cirebon, dikutip dari portaljabar.

    Perayaan malam likuran di satu daerah di Nusantara berbeda dengan daerah lainnya. Kendati pun secara ekspresi perayaan berbeda-beda, pada hakikatnya tujuan perayaan malam likuran di beberapa daerah di Nusantara tidak berbeda; yakni meramaikan malam ganjil di bulan Ramadan.

    Seperti di Wonogiri, sebagaimana dalam Sartono (2000:4), disebutkan bahwa tradisi perayaan di malam likuran di sana dilakukan dengan menaruh sebuah ting (lampu kecil) yang berbentuk rupa-rupa, seperti ikan, kapal, dan lain sebagainya. Banyak suara gaduh yang disebabkan bunyi petasan yang disulut, dan pada malam itu diadakan selametan.

    Selain itu orang Gorontalo juga memiliki tradisi Tumbilotohe atau lazim menyebutnya dengan “Malam pasang lampu”. Tradisi ini dilakukan pada tiga malam terakhir menjelang perayaan Idul Fitri dengan menyalakan lampu dari minyak sebagai tanda untuk melepas Ramadhan.

    Menurut sejarah, konon tradisi ini sudah berlangsung sejak abad ke-15, dimana pada masa itu lampu penerangan masih minim, untuk meneranginya masyarakat dahulu membuat lampu penerang berbahan wamuta atau seludang yang dihaluskan dan diruncingkan lalu kemudian dibakar.

    Di tahun-tahun berikutnya alat penerangan tersebut mulai menggunakan tohetutu atau damar, yakni semacam getah padat yang akan menyala apabila dibakar dan bertahan cukup lama.

    Mulai ditinggalkan oleh masyarakat

    Tradisi yang biasa disebut malam selikuran ini masih dilaksanakan oleh sebagian masyarakat pada malam ganjil bulan Ramadan. Namun, saat ini tradisi tersebut sudah hampir punah.

    Seperti penelitian Nur Syam di kawasan Pesisir Tuban mengatakan bahwa tradisi malam likuran dikenal dengan tradisi colokan, yaitu kebiasaan membuat colok yang terbuat dari kain yang ditalikan di kayu-kayu kecil yang dicelupkan ke minyak tanah dan ketika waktu magrib tiba dibakar di sudut-sudut rumah. Sayangnya tradisi ini di beberapa daerah sudah hilang dan diganti selamatan biasa di rumah-rumah. (Nur Syam, 2005: 182)

    Hal ini tidak berbeda jauh dengan yang terjadi di Cirebon. Pasalnya, banyak anak – anak jaman sekarang yang tidak tahu bahwa setiap bulan ramadan ada tradisi Damar Malam.

    Seiring dengan hadirnya listrik dan maraknya gadget (internet),serta petasan / kembang api, tradisi ini sudah mulai ditinggalkan masyarakat Cirebon.

    Bahkan untuk mendapatkan damar malam tidak lagi mudah. Tidak seperti dulu hampir di semua pasar menyediakan damar malam.

    “Dulu semua pasar pasti ada dan menjual damar malam, sekarang sih rada susah dan hanya ada di pasar plered kabupaten cirebon harganya pun sudah lumayan,” terang Wiwiek.

    Karena itu pihak Keraton Kanoman masih tetap menjaga tradisi ramadan dari tahun ke tahun. Pelestarian budaya leluhur menjadi tanggung jawab bagi penerus keluarga di masa yang akan datang.

    Keluarga keraton Kanoman beserta warga sekitar dan perwakilan desa-desa bersilaturahmi, berdoa bersama, sekaligus bertawasul untuk para leluhur dan juga berdoa untuk keselamatan umat. Hal ini sudah dilakukan pada malam ganjil sebelumnya yakni 21, 23, dan 25 Ramadan untuk menyambut Lailatul Qodar.

    Kagiatan tersebut diadakan sore hari ba’da ashar yang diadakan di Bangsal Paseban yang dipimpin langsung oleh Pangeran Patih Raja Muhammad Qodiran yang mewakili Sultan Raja Emirudin.

    “Selain pitu likuran ada juga tradisi bakar damar di malam hari dengan pengharapan bahwa malam lailatul qodar lebih cerah, mendapatkan malam spesial di antara malam seribu bulan,” ucap Ratu Arimbi Nurtina.

    Baca juga:





    Source link

    Continue Reading
    Advertisement
    Advertisement
    Advertisement
    Advertisement
    Advertisement

    Trending Dari BuzzFeed

    close