Connect with us

HEADLINE

Maung Bodas, Khadam Prabu Siliwangi yang Jadi Simbol Masyarakat Sunda

Maung Bodas, Khadam Prabu Siliwangi yang Jadi Simbol Masyarakat Sunda

[ad_1]

Pajajaran merupakan Kerajaan Hindu yang pernah menguasai tanah Sunda. Kerajaan ini pernah dipimpin oleh raja bijak dan penuh karisma, Prabu Siliwangi.

Sang prabu juga dikenal sakti mandraguna, memiliki banyak pasukan tidak hanya dari kaum manusia, melainkan juga dari bangsa gaib. Salah satu pasukan gaib yang populer hingga saat ini yaitu maung bodas atau macan putih.

Oleh karena itu lah kita sering menemukan banyak gambar maupun lukisan seekor macan putih yang selalu berada di sekitar Prabu Siliwangi. Sang macan itu juga dianggap sebagai khodam penjaga Prabu Siliwangi. Tidak sedikit orang yang berburu khodam tersebut untuk dijadikan pendamping.

Asal muasal sang macan menjadi khodam Prabu Siliwangi bukanlah didapat dari hadiah, namun didapatkan usai sang prabu menaklukkannya dalam suatu pertempuran sengit.

Diketahui, macan putih yang dimaksud ini adalah raja macan putih bernama Maung Bodas dari dunia gaib, yang memiliki ribuan tentara sejenisnya. Kisah ini bermula dari ketika Prabu Siliwangi hendak beristirahat di Curug Sawer, Majalengka, guna melepas lelah dalam pengembaraannya.

Prabu Siliwangi dan Sejarah Berseminya Islam di Tatar Sunda

Tanpa disangka, sekawanan macan putih gaib menghadang langkah dan hendak menerkam sang prabu.
Namun, karena memang Raja Siliwangi itu dikenal sangat sakti mandraguna, tidak satupun sekawanan macan itu yang dapat melukainya.

Akan tetapi sebaliknya, banyak dari kawanan macan ghoib itu yang tersungkur dan terluka. Singkat cerita, sang raja dari kawanan macan putih tersebut maju dan terjadilah pertempuran sengit diantara keduanya. Lagi-lagi dengan kesaktiannya, Prabu Siliwangi berhasil mengalahkan sang raja gaib macan putih.

Sejak saat itulah Raja Macan Putih dan seluruh pasukannya mengabdikan diri dan bersedia membantu Prabu Siliwangi selaku penguasa tanah pasundan, dangan taruhan nyawanya. Dari kesaktian Prabu Siliwangi yang pilih tanding ditambah adanya pasukan macan pengawal gaib (khadam) inilah, ia dapat menjadi raja tersohor di tanah Pasundan.

Dirasa telah banyak membantu kejayaan Pajajaran, Prabu Siliwangi kemudian mengukirkan kepala harimau di gagang pusaka kujang miliknya dan menyuruh maung bodas ‘bersemayam’ di dalam gagang kujang itu. Hal ini mungkin agar kemanapun sang prabu pergi, sang macan putih gaib itu selalu dekat dengannya, sebagaimana kujang pusaka yang selalu dibawanya.

Mitos Prabu Siliwangi yang berubah jadi macan putih

Simbol maung yang melekat dalam alam pikiran masyarakat Sunda lebih kuat dengan adanya legenda nga-hyang atau menghilangnya Prabu Siliwangi di hutan Sancang. Ketika sang Prabu dikejar bala tentara Islam dari Kerajaan Banten dan Cirebon.

Selain itu, hal ini juga dilakukan untuk menghindari pertumpahan darah dengan anak cucunya yang telah memeluk Islam. Peristiwa ini mengisyaratkan mulai masuknya pengaruh Islam di tatar Sunda. Dalam legenda ini juga disebutkan sebelum benar-benar menghilang, Prabu Siliwangi meninggalkan pesan atau amanat kepada para pengikutnya. Salah satu bunyi wangsit yang populer di kalangan masyarakat Sunda:

Lamun aing geus euweuh marengan sira, tuh deuleu tingkah polah maung.” (Kalau aku sudah tidak menemanimu, lihat saja tingkah laku harimau).

Wangsit, yang bagi sebagian masyarakat Sunda itu sarat dengan filosofi kehidupan, menjadi semacam keyakinan bahwa Prabu Siliwangi telah bermetamorfosa menjadi maung (macan) setelah tapadrawa (bertapa hingga akhir hidup) di hutan belantara.

Sejarah Hari Ini (22 April 1578) - Penyerahan Mahkota Binokasih pada Kerajaan Sumedang Larang

Selain itu, wangsit tersebut juga menjadi pedoman hidup bagi sebagian orang Sunda yang menganggap sifat-sifat maung seperti pemberani dan tegas, namun sangat menyayangi keluarga sebagai lelaku yang harus dijalani dalam kehidupan nyata.

Tapi bagi masyarakat di sekitar hutan Sancang, kisah ini bisa menjadi Kearifan lokal. Menurut masyarakat di sekitar hutan, bila ada pengunjung yang berperilaku buruk dan merusak kondisi ekologis hutan, maka ia akan “berhadapan” dengan macan putih yang tak lain adalah Prabu Siliwangi.

Walau tidak masuk akal, Masyarakat Leuweung Sancang telah menyadari arti pentingnya keseimbangan ekosistem kehutanan. Sehingga diperlukan instrumen pengendali perilaku manusia yang seringkali berhasrat merusak alam. Dan mitos macan putih jelmaan Prabu Siliwangi-lah yang menjadi instrumen kontrol sosial tersebut.

Maung, simbol masyarakat Sunda yang tersebar di Jawa Barat

Macan, maung, atau harimau, merupakan simbol yang tidak asing lagi bagi masyarakat Sunda. Beberapa hal yang berkaitan dengan kebudayaan dan eksistensi masyarakat Sunda dikorelasikan dengan simbol maung.

Baik simbol verbal maupun non-verbal seperti nama daerah (Cimacan), simbol Komando Daerah Militer (Kodam) Siliwangi, hingga julukan bagi klub sepak bola kebanggaan warga kota Bandung (Persib) yang sering dijuluki ‘Maung Bandung’.

Namun menurut seniman Bandung, Muhamad Rico Wicaksono, maung tidak hanya dikenal oleh masyarakat Subang ataupun Bandung, tapi sudah jadi simbol Jawa Barat.

Rico menyatakan pernah melakukan ziarah ke beberapa patung maung di berbagai daerah, seperti di Gegerkalong, Cimahi, dan Garut. Bahkan menurutnya, patung maung itu tidak harus selalu berada di Markas Koramil.

Hari Samida, Maknai Pohon di Bogor

“Saya pernah nemu patung maung di pangkalan ojek. Dan itu juga bentuknya unik,” kenangnya yang dikutip dari Ayobandung.

Selain macan tompel, Rico juga menemukan patung macan ngelel (menjulurkan lidah) di kampung halamannya di Subang. Patung maung memang banyak tersebar di Jawa Barat, seperti Karawang, Serang, Pandeglang, Ciamis, dan Tasikmalaya.

Meskipun konon sosok maung merupakan pesimbol dari Prabu Siliwangi, tidak semua wilayah di Jawa Barat memiliki patung maung. Di Cianjur dan Bekasi misalnya, Rico merasa belum pernah menemukan sosok maung di sana.

Simbol maung yang salah tafsir

Walau begitu, secara fakta sejarah ada rentang waktu yang cukup jauh antara masa Prabu Siliwangi hidup dan memerintah dengan runtuhnya Kerajaan Pajajaran dalam mitos Maung Bodas. Nama Siliwangi yang berarti pengganti Prabu Wangi (1371-1475) merupakan julukan bagi Prabu Jayadewata, cucu Prabu Wastukancana.

Prabu Jayadewata yang berkuasa pada periode 1482-1521 dianggap mewarisi kebesaran Wastukancana karena berhasil mempersatukan kembali Sunda-Galuh dalam satu naungan Kerajaan Pajajaran. Keberhasilan ini membuat pujangga Sunda ketika itu memberikan gelar Siliwangi bagi Prabu Jayadewata.

Sedangkan Kerajaan Pajajaran mengalami kehancuran pada tahun 1579 saat pemerintahan Raga Mulya. Akibat serangan pasukan Kesultanan Banten yang dipimpin Maulana Yusuf.

Prabu Raga Mulya beserta para pengikutnya yang setia tewas dalam pertempuran mempertahankan ibu kota Pajajaran yang ketika itu telah berpindah ke Pulasari (kawasan Pandeglang sekarang). Artinya, Prabu Siliwangi tidak pernah mengalami keruntuhan Kerajaan yang telah dipersatukannya.

Lalu dari mana mitos maung prabu Siliwangi dan Pajajaran?

Peneliti Belanda, Scipio, kepada Gubernur Jenderal VOC, Joanes Camphuijs melaporkan mengenai jejak sejarah istana Kerajaan Pajajaran di kawasan Pakuan (daerah Batutulis Bogor sekarang). Laporan penelitian yang ditulis pada tanggal 23 Desember 1687 tersebut berbunyi “dat hetselve paleijs en specialijck de verheven zitplaets van den getal tijgers bewaakt ent bewaart wort”.

Artinya, bahwa istana tersebut terutama sekali tempat duduk yang ditinggikan untuk Raja “Jawa” Pajajaran, masih berkabut dan dijaga serta dirawat oleh sejumlah besar harimau.

Melacak Lokasi Keraton Pajajaran yang Lenyap di Batutulis Bogor

Bahkan kabarnya salah satu anggota tim ekspedisi Scipio pun menjadi korban terkaman harimau ketika sedang melakukan tugasnya. Temuan lapangan ekspedisi Scipio itu mengindikasikan bahwa kawasan Pakuan yang ratusan tahun sebelumnya merupakan pusat kerajaan Pajajaran telah berubah menjadi sarang harimau.

Hal inilah yang menimbulkan mitos-mitos bernuansa mistis di kalangan penduduk sekitar Pakuan mengenai hubungan antara keberadaan harimau dan hilangnya Kerajaan Pajajaran. Berdasarkan pada laporan Scipio ini, dapat disimpulkan bila mitos maung lahir karena adanya kekeliruan sebagian masyarakat dalam menafsirkan realitas.

Sesungguhnya, keberadaan harimau di pusat Kerajaan Pajajaran bukanlah hal yang aneh. Apalagi sepeninggal para penduduk dan petinggi kerajaan, wilayah Pakuan berangsur-angsur menjadi hutan.



[ad_2]

Source link

Advertisement
Click to comment

HEADLINE

Partai dan Serikat Buruh Penjaga Moralitas Anak Bangsa

Partai dan Serikat Buruh Penjaga Moralitas Anak Bangsa

BuzzFeed

Membangun dan menjalankan partai politik, apapun namanya harus menjunjung etika dan moral hingga akhlak, agar apa yang hendak dilukan mendapat ridho dari Yang Maha Kuasa. Sehingga hasil keluaran yang menjadi produk partai politik tersebut dapat memberi manfaat bagi orang banyak, bukan hanya untuk kepentingan dan keuntungan diri sendiri.

Hanya dengan begitu kehadiran partai politik dapat diterima oleh orang banyak. Jadi kalau partai politik maupun pelakunya hanya ingin mementingkan dirinya sendiri, maka tidak akan ada artinya bagi rakyat untuk berharap adanya perbaikan menuju tatanan budaya politik yang lebih beradab. Padahal, fungsi utama partai politik itu harus mampu membangun kecerdasan politik rakyat banyak agar budaya politik di Indonesia bisa lebih elegan serta mendewasakan sikap politik segenap anak bangsa. Sebab berpolitik itu bukan tipu daya dan bukan pula sekedar untuk memenangkan pertarungan pada Pillkada, Pilpres maupun Pileg.

Perilaku politik para politisi atau pihak manapun, merupakan cermin diri dari bangsa dan negara yang bersangkutan. Karena itu jalan keluarnya yang terang sebagai satu-satunya cara menuju jalan terang itu yang diridho’i Allab SWT adalah tetap berpedoman pada nilai-nilai spiritual yang mampu membimbing menuju jalan setapak tanpa perselingkuhan dan keculasan yang mencederai hati orang lain.

Oleh karena itu, tata krama dan etika yang bersandar pada akhlak yang tegak lurus diridho’i oleh Yang Maha Kuasa dan Maha Pengasih serta Maha Penyayang itu yang pasti akan memberi cinta dan kasih yang tulus seperti yang kita harapkan. Bukan kamuflase atau kepalsuan. Begitulah sejatinya diri yang mengedepankan laku ketimbang basa-basi maupun janji-janji palsu yang penuh tipu daya maupun kebohongan.

Oleh karena itu, partai buruh yang murni lahir dari rahim serikat buruh, hakekatnya pendukung total dari perjuangan kaum dhu’fa dan mustada’afin yang perlu diayomi dan dilindungi bahkan disayang sebagai kaum yang dominan dizalimi, agar dapat lebih manusiawi hingga mampu mencerna dan menikmati hakekat dari rachmatan lil alamin.

Jik partai buruh dan serikat buruh tidak mampu menjaga moral, etika dan akhlak segenap anak bangsa, apalah arti kehadirannya di tengah-tengah kita ?

Atau cuma sekedar membidik kekuasaan serta kedudukan belaka ?

Jacob Ereste, dengan artikel sebelumnya berjudul Partai Buruh & Serikat Buruh Adalah Penjaga Etika, Moral & Akhlak Segenap Anak Bangsa

Continue Reading

HEADLINE

Anies Kunjungi Atlet Jakarta berlaga di PON XX, Netizen Pertanyakan Soal Pilpres 2024

Anies Kunjungi Atlet Jakarta berlaga di PON XX, Netizen Pertanyakan Soal Pilpres 2024

BuzzFeed – Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan berkunjung ke Papua meninjau atlet yang bertanding pada event Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua, Senin (11/10/2021).

Dalam postingannya Anies Baswedan pada saat berkunjung ke Tanah Papua, belum nampak penyambutan seperti halnya sambutan meriah dari Rakyat Papua untuk Gubernur Jawa Tengah.

Hal ini membuat netizen memberikan komentarnya melalui akun media sosial Twitter membandingkan Anies dengan Ganjar.

“TIDAK DIKENAL DI PAPUA Tak kenal maka tak sayang …Anies tiba di Bandara Sentani tidak ada yang menyambut semeriah Ganjar Pranowo. Masih ngotot nyapres 2024 …??? Papua barometer Pilpres 2024,” kata @Bengkeltanah201 seperti dikutip dari Populis.id pada Senin 11 Oktober 2021.

“Beda sambutan saat tiba di Papua. Orang-orang Papua paham betul mana yang emas mana yang emas-emasan,” ujar @narkosun01.

“Kasihan Pak Anies gak ada rakyat Papua mengelu-elukan dan menyambut kedatangannya, sangat beda dengan Pak Ganjar, Gubernur Rasa Presiden. Halaah, mau cari panggung telat uda,” tulis @alextham878.

“Sengaja datang belakangan biar pamornya ga kalah sama Jokowi, Padahal nyampe sana juga ga ada yang peduli.. Wkwkwk Orang Papua tidak kenal Anies,” kata @RasaAris.

Sebagaimana diketahui, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan terbang ke Papua untuk meninjau para atlet DKI Jakarta yang sedang bertanding pada Pekan Olahraga Nasional atau PON XX Papua.

Akan tetapi, dalam sebuah video yang diunggah di akun story Instagramnya Anies langsung bertemu dengan para atlet kontingen DKI Jakarta.

Hal ini dapat dilihat dari akun Instagram @aniesbaswedan pada Senin (11/10/2021) pagi.

“Tiba di bandara Sentani berpapasan dengan atlit panahan dan sepak takraw DKI yang akan kembali ke Jakarta,” tulisnya.

Kemudian, Anies memberi sambutan dan berfoto bersama para atlet DKI.

“Bawa cerita pengalaman ini untuk menjadi pelajaran bagi semuanya,” ucapnya.

Continue Reading

HEADLINE

Jokowi Lantik Megawati sebagai Ketua Dewan Pengarah BRIN, PDIP Apresiasi

Jokowi Lantik Megawati sebagai Ketua Dewan Pengarah BRIN, PDIP Apresiasi

BuzzFeed – PDI Perjuangan apresiasi keputusan Presiden Joko Widodo lantik Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Istana Negara (13/10/2021)

Apresiasi tersebut, pasalnya Presiden memberikan kepercayaan dan amanah yang diberikan oleh Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Dewan Pengarah yang merupakan Ketua Umum PDI Perjuangan

“PDI Perjuangan mengucapkan selamat dan berbangga atas keputusan Presiden Jokowi dengan melantik Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang terdiri dari: Megawati Soekarnoputri yang menjabat sebagai Ketua Dewan Pengarah, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati Sri Mulyani dan Menteri Bappenas Suharso Monoarfa sebagai wakil ketua,” kata Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (13/10/2021).

“Lalu Sudhamek Agung Waspodo Sunyoto sebagai sekretaris dan sebagai anggota yakni Emil Salim, Gede Wenten, Bambang Kesowo, Adi Utarini, Marsudi Wahyu Kisworo dan Tri Mumpuni,” imbuhnya.

PDI Perjuangan berharap, melalui struktur Dewan Pengarah BRIN, diharapkan bisa membawa Indonesia semakin kompetitif di dunia. BRIN diharapkan bisa menata dan mengelola seluruh lembaga riset, serta membawa Indonesia bergerak menuju negara berbasis ilmu pengetahuan.

Keputusan Jokowi yang menempatkan BRIN sebagai infrastruktur kemajuan bangsa melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menempatkan riset dan inovasi sebagai pilar Indonesia berdikari, mendapat dukungan penuh PDI Perjuangan.

“Dan sesuai ketentuan peraturan-perundang-undangan yang menempatkan Ketua Dewan Pengarah BPIP ex officio sebagai Ketua Dewan Pengarah BRIN merupakan keputusan tepat,” imbuhnya.

“Karena riset dan inovasi harus digerakkan oleh ideologi bangsa agar Indonesia benar-benar berdaulat, berdikari, dan bangga dengan jati diri kebudayaannya. Kebijakan pembangunan pun harus berlandaskan pada riset dan inovasi ilmu pengetahuan serta teknologi, yang berpedoman pada ideologi Pancasila,” lanjutnya.

Menurut Hasto, selama ini Megawati sangat konsisten menyuarakan pentingnya penguasaan ilmu-ilmu dasar, riset dan inovasi dan terus memperjuangkan peningkatan anggaran penelitian 5% dari PDB. Megawati yang merupakan Ketua Umum PDI Perjuangan, juga disebut penggagas awal dari BRIN.

“Dengan mengusulkan kepada Presiden Jokowi agar BRIN hadir menjabarkan politik Indonesia berdikari, dengan memfokuskan diri pada penelitian untuk manusia Indonesia, flora, fauna dan teknologi itu sendiri,” tuturnya.

Kepedulian Megawati, menurut Hasto merupakan bentuk dukungan yang konkret untuk pengembangan riset dan inovasi nasional yang memang memerlukan sumber daya finansial yang besar. Selain itu dalam perspektif geopolitik, riset dan inovasi, juga sangat penting di dalam membangun kekuatan pertahanan melalui penguatan kapabilitas industri pertahanan dengan semangat percaya pada kekuatan sendiri.

Bagi PDI Perjuangan, riset dan inovasi adalah kata kunci perkembangan teknologi, pertumbuhan ekonomi dan kemajuan sebuah bangsa. Dengan menyatukan berbagai lembaga riset dalam satu kapal dengan satu nahkoda, diharapkan tidak terjadi lagi duplikasi riset dan kesimpangsiuran tata kelola riset di Indonesia.

“Di sisi lain, sumber daya manusia kita memiliki kualitas yang tidak kalah dari negara lain. Banyak anak bangsa yang ikut terlibat di bidang riset dan pengembangan teknologi di berbagai lembaga riset tingkat dunia. Atas hal itu, saatnya semua pihak menyelaraskan gerak antara lain pemerintah, kekuatan sosial politik, serta masyarakat demi kemajuan dan kejayaan Indonesia raya,” pungkasnya.

Continue Reading

Trending Dari BuzzFeed

close