Connect with us

PENDIDIKAN

Mahasiswa AS, Peneriman Vaksin COVID-19 Urutan Terakhir

Mahasiswa AS, Peneriman Vaksin COVID-19 Urutan Terakhir


Dr. Anthony Fauci, Direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular, (CDC) mengatakan mahasiswa Amerika Serikat kemungkinan tidak akan mendapat vaksin hingga setidaknya April. Meski demikian ada pengecualian bagi mahasiswa yang masuk dalam kelompok pekerja garis depan, seperti tenaga medis, perawat, dokter, dan mahasiswa yang menjadi dosen, atau bagi mereka yang memiliki kondisi kesehatan. Juga jika mereka mengidap HIV atau kanker.

Penilaian oleh National Academic of Sciences, Engineering and Medicine atau NASEM tentang siapa saja yang berhak menerima vaksin lebih dulu dan kapan giliran mereka, menempatkan orang yang lebih muda pada prioritas rendah dibandingkan mereka yang berusia lebih tua atau yang memiliki masalah kesehatan yang membuat mereka lebih rentan mengidap komplikasi akibat COVID-19.

NASEM membuat penilaian itu sesuai petunjuk dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit atau CDC Amerika Serikat di Atlanta, Georgia, dan Institut Kesehatan Nasional AS di Maryland pada October 2020. Walaupun CDC merekomendasikan prosedur peluncuran vaksinasi, negara bagian yang menentukan penerapan distribusi vaksin.

Orang-orang mengantri untuk menerima vaksin COVID-19 Pfizer di pusat vaksinasi komunitas pop-up di Gateway World Christian Center di Valley Stream, New York, AS, 23 Februari 2021. (Foto: Reuters)

Orang-orang mengantri untuk menerima vaksin COVID-19 Pfizer di pusat vaksinasi komunitas pop-up di Gateway World Christian Center di Valley Stream, New York, AS, 23 Februari 2021. (Foto: Reuters)

Para mahasiwa mengatakan mereka ingin kampus mereka dibuka kembali supaya mereka bisa kembali ke kampus dan menerima pelajaran secara tatap muka. Kalau mahasiswa sudah divaksinasi COVID-19, maka proses belajar mengajar secara tatap muka akan cepat terwujud.

Namun, upaya distribusi vaksin sejauh ini tidak teratur, banyak penundaan, terjadi kekurangan pasokan, dan pembatalan jadwal vaksinasi, ditambah kebijakan yang berbeda-beda di setiap negara bagian.

Mahasiswa tingkat akhir di Univesitas Delaware, Imani Bell, adalah salah satu dari sedikit mahasiswa yang memenuhi syarat untuk mendapatkan vaksin melalui program di tempatnya mengajar. Namun, meskipun mencoba mendaftar untuk divaksinasi di Delaware dan juga di New Jersey, tempat tinggalnya, sampai sekarang dia belum mendapat jadwal divaksinasi. Alasannya, tidak ada cukup dosis vaksin yang tersedia.

Imani Bell berharap pendistribusian vaksin ditingkatkan supaya setiap orang bisa divaksinasi. Ia mengatakan, “Tidak masuk akal. Kita sudah setahun ini menghadapi pandemi, tetap saja kekurangan vaksin.”

Imani Bell merasa frustrasi karena hanya ada beberapa perusahaan yang memproduksi vaksin padahal, produsen vaksin itu bisa bekerja sama dengan perusahaan farmasi supaya produksi vaksin bisa jauh ditingkatkan.

Beberapa kampus, seperti Rowan University di New Jersey, Worcester Polytechnic Institute di Massachusetts dan Universitas Lasell, juga di Massachusetts, berfungsi sebagai tempat vaksinasi, menurut Gerri Taylor salah satu ketua gugus tugas COVID-19 di American College Health Association (ACHA)

Tempat-tempat vaksinasi itu hanya tersedia untuk kelompok yang diprioritaskan. Misalnya, mereka yang berusia di atas 65 tahun. Namun, tempat-tempat itu akan melayani mahasiswa kalau dosis masih ada.

Meskipun ideal untuk memvaksinasi mahasiswa di kampus, memvaksinasi mahasiswa di dekat kampus pun rasanya sudah cukup// Dan saya juga mengharapkan sekolah-sekolah akan mengumumkan di mana lokasi vaksinasi, dan membuka tempat yang mudah diakses mahasiswa, serta banyak memberi penyuluhan tentang vaksin.

Imbauan untuk mengenakan masker tampak di kampus University of Southern California di tengah pandemi virus corona (Covid-19) di Los Angeles, California, 17 Agustus 2020. (Foto: AP)

Imbauan untuk mengenakan masker tampak di kampus University of Southern California di tengah pandemi virus corona (Covid-19) di Los Angeles, California, 17 Agustus 2020. (Foto: AP)

Taylor berpendapat bahwa memvaksinasi mahasiswa sebelum mereka meninggalkan kampus dan melakukan perjalanan pulang sangat membantu untuk menekan laju penyebaran COVID-19 oleh mahasiswa yang secara rutin bolak-balik ke kampus, kemudian berbaur dengan masyarakat.

Sejauh ini hampir 400 ribu kasus virus corona tercatat di lebih dari 1.900 kampus sejak pandemi COVID-19 melanda lebih dari setahun lalu, menurut data dari surat kabar New York Times. Setidaknya 90 mahasiswa meninggal karena komplikasi terkait virus corona.

Namun ada beberapa mahasiswa yang mengatakan bahwa mereka khawatir akan vaksin virus corona. Hasil penelitian yang dilakukan di Eastern Connecticut State University pada 592 mahasiswa tingkat sarjana dan pascasarjana menyebutkan bahwa setengah dari mereka yang disurvei menyatakan bersedia divaksinasi dan setengah lagi menolak atau masih ragu.

Institusi pendidikan tinggi sedang berdebat apakah mewajibkan mahasiswa divaksinasi sebelum perkuliahan tatap muka dimulai kembali, akan menimbulkan masalah hukum.

“Banyak perguruan tinggi dan univesitas mengharuskan mahasiswanya divaksinasi untuk melindungi dari penyakit tertentu seperti Human papillomavirus atau HPV dan meningitis,” kata Suzanne Rode, penasihat di Crowell & Moring, firma hukum di San Fransisco.

Tantangan lain menolak vaksinasi mungkin termasuk alasan medis yang sah, dan difabel. Agama pun bisa dijadikan alasan menolak vaksinasi, kata Rode.

Mahasiswa international berhak mendapat vaksin seperti mahasiswa lainnya yang masuk kelompok prioritas, kata Jerome Adams, pejabat kesehatan militer pada Desember lalu. Pedoman vaksinasi khusus untuk mereka yang tinggal, bekerja dan belajar di Amerika bisa dibaca di situs pemerintah negara bagian tempat mereka menempuh pendidikan. [ew/ka]

Advertisement
Click to comment

PENDIDIKAN

Kakek Rusia Wariskan Keahlian Lewat Pendidikan

Kakek Rusia Wariskan Keahlian Lewat Pendidikan


Sebuah program di Rusia yang memungkinkan para lansia mewariskan pengetahuan dan keahlian mereka dianggap berhasil dan kini diperluas. Program yang disebut “Grandfather Cannot Teach Wrong” atau “Kakek tidak Pernah Mengajar Hal yang Salah” memungkinkan anak-anak untuk mempelajari keahlian dan permainan yang tidak diajarkan di sekolah.

Di sekolah, anak-anak mungkin tidak memiliki kesempatan untuk mempelajari cara membuat sebuah rumah burung. Namun tidak demikian halnya bagi sejumlah anak-anak yang sedang mengikuti program “Grandfather Cannot Teach Wrong”. Mereka terlihat menyimak petunjuk yang diberikan oleh Sergey Smirnov, seorang pensiunan, dalam membuat sebuah rumah burung.

Proyek "Grandfather Cannot Teach Wrong" memberkan kesempatan bagi para pensiunan untuk meneruskan pengetahuan mereka kepada generasi muda. (Foto: ilustrasi).

Proyek “Grandfather Cannot Teach Wrong” memberkan kesempatan bagi para pensiunan untuk meneruskan pengetahuan mereka kepada generasi muda. (Foto: ilustrasi).

Smirnov adalah anggota organisasi yang disebut “Grandfather Cannot Teach Wrong” atau kakek tidak pernah mengajarkan hal yang salah, yang berlokasi di Vicguga, kawasan Ivanovo, Rusia. Ide dibalik proyek ini adalah memberi kesempatan bagi para pensiunan untuk meneruskan pengetahuan mereka kepada generasi muda.

Program itu diikuti oleh sekitar 1.000 anak. Beberapa di antaranya berasal dari keluarga yang kurang beruntung secara sosial. Namun di dalam kelas-kelas tersebut, anak-anak dapat bermain, memiliki teman baru atau mempelajari sesuatu yang baru.

Smirnov tinggal jauh dari keluarganya sehingga jarang mendapat kunjungan tamu. Namun ia berharap ada sukarelawan seperti dirinya, yang juga membagikan pengetahuan dan keahliannya, bagi cucu-cucunya yang tinggal di tempat lain.

“Anak-anak saya tinggal di tempat yang jauh, begitu pula cucu-cucu saya. Saya akan mengajar anak-anak di sini. Mungkin ada orang lain yang akan mengajar cucu-cucu saya di sana,” harapnya.

Selain keahlian teknis, proyek “Grandfather Cannot Teach Wrong" juga memberikan kesempatan bagi para seniman untuk menularkan keahlian dan pengalamannya kepada generasi muda. (Foto: ilustrasi).

Selain keahlian teknis, proyek “Grandfather Cannot Teach Wrong” juga memberikan kesempatan bagi para seniman untuk menularkan keahlian dan pengalamannya kepada generasi muda. (Foto: ilustrasi).

Sergey Rodin mengajarkan seni, namun ia juga memiliki kehidupan yang kaya akan pengalaman.

Pada masa pemerintahan Soviet, ia berdinas sebagai tentara di Afghanistan dan mendapat penghargaan. Namun untuk anak-anak ini, ia memilih untuk mengajarkan hal-hal lain yang akan membantu perkembangan mereka.

Rodin mengatakan, “Mereka membuat vas untuk pensil, pulpen, dan bunga-bunga kering. Ini tugasnya, namun ini bukan sekadar membuat vas, tetapi juga melatih perkembangan motorik halus dan daya imajinasi.”

Salah seorang siswa, Anna Belousova mengatakan, ia tidak memiliki seorang kakek. Namun ia datang kesana karena kakek Smirnov selalu membantunya.

Sebelum diperbolehkan menjadi sukarelawan, mereka harus melamar melalui sebuah proses pemilihan yang ketat termasuk pemeriksaan catatan kriminal dan kesehatan.

Para pelamar untuk menjadi sukarelawan itu memiliki latar belakang yang beragam.

Stanislav Potapov, salah seorang sukarelawan, mengatakan, “Sepanjang hidup saya, saya bekerja sebagai perakit mesin di pabrik pembuatan mesin. Saya kemudian pensiun dan menerima sebuah proposal dari proyek “Grandfather Will Not Teach Wrong”. Saya memutuskan untuk mencobanya dan berhasil diterima. Jadi saya merasa senang datang ke tempat ini. Anak-anak menyambut saya dengan gembira, saya merasa senang karena mereka merasa senang.”

Berbagi pengalaman dengan anak-anak, seperti keahlian teknis membongkar dan merakit sepeda, akan memperkaya ilmu pengetahuan anak sekaligus mewariskan keahlian kepada generasi mendatang. (Foto: ilustrasi).

Berbagi pengalaman dengan anak-anak, seperti keahlian teknis membongkar dan merakit sepeda, akan memperkaya ilmu pengetahuan anak sekaligus mewariskan keahlian kepada generasi mendatang. (Foto: ilustrasi).

Alexander Sykov, seorang sukarelawan, bahkan sudah merencanakan apa yang akan dilakukannya pada musim panas nanti. “Ketika cuaca menjadi lebih hangat di luar, kami akan mempelajari tentang sepeda. Kemudian saya akan menceritakan tentang mobil-mobil dan kemudian kami akan membuatnya,” jelasnya.

Apa yang bisa dipelajari tentang sepeda oleh anak-anak itu? Lebih jauh Alexander mengungkapkan, “Bagaimana memberi pelumas pada sepeda, membongkar dan merakit sepeda. Saya memiliki pendidikan teknik, jadi saya sangat menguasainya. Saya akan membagikan pengalaman saya, apalagi saya memiliki pengalaman mengemudi selama 40 tahun.”

Proyek yang berawal sebagai percobaan oleh Pusat Rehabilitasi Sosial di kawasan itu, dianggap sukses. Itu artinya, organisasi tersebut berharap dapat merekrut lebih banyak lagi kakek sukarelawan hingga total menjadi 20 orang. [lj/ab]

Continue Reading

PENDIDIKAN

Kenya, Beralih Ke Bahan Bakar Energi Bersih

Kenya, Beralih Ke Bahan Bakar Energi Bersih


Di sekolah Alliance High School di Kiambu County, Kenya, pekerja memasak makan siang untuk sekitar 2.000 anak laki-laki. Tugas itu menjadi lebih mudah sekarang sejak sekolah beralih ke penggunaan LPG untuk memasak tiga bulan yang lalu.

Namun kebanyakan sekolah di Kenya tidak bisa menanggung beban peralihan ke jenis bahan bakar baru ini untuk memasak, padahal hal ini mampu mengurangi emisi karbon di atmosfir. Ketidakmampuan tersebut terkait isu pendanaan, terutama menemukan sumber dana yang bisa membayar biaya uang muka pemasangan sarana baru itu.

Pejabat di sekolah Alliance High mengatakan, pemasangan sistem untuk bahan bakar yang bersih di sekolah menuntut banyak dana tetapi bisa dilakukan.

Seorang pekerja terlihat dalam demonstrasi memasak di depot M-Gas dekat permukiman kumuh Mukuru di Nairobi, Kenya, 29 Januari 2020. (Foto: REUTERS/Njeri Mwangi)

Seorang pekerja terlihat dalam demonstrasi memasak di depot M-Gas dekat permukiman kumuh Mukuru di Nairobi, Kenya, 29 Januari 2020. (Foto: REUTERS/Njeri Mwangi)

“Anda lihat saja kami menggunakan sarana seperti yang kami miliki sebelumnya. Kami tidak berubah, jadi isu penghematan energi, perubahan apapun kami masih masih sama,” ujar kepala sekolah Alliance High, William Mwangi.

Penguasa Kenya menanggapi absennya kesadaran akan penggunaan bahan bakar yang lebih bersih ini dengan mendirikan pusat-pusat di mana sekolah-sekolah bisa belajar tentang berbagai teknologi energi bersih yang tersedia.

“Jadi salah satu yang kami lakukan di pusat hijau ini adalah memeragakan teknologi energi terbarukan, solusi memasak secara bersih. Sekolah-sekolah datang ke pusat hijau ini untuk belajar solusi-solusi ini dan bagaimana memperbesar fasilitasnya,” ujar pakar ekonomi di Otoritas Lingkungan Nasional, Obadiah Mungai.

Organisasi-organisasi yang berusaha menggalakkan masak secara bersih ini mengatakan, keterbatasan akses Kenya ke teknologi memperlambat peralihan ke bahan bakar yang lebih bersih.

“Beberapa solusi ini bukan berasal dari Kenya, meskipun kami sangat ingin mendukung produk yang dibuat di dalam negeri. Beberapa teknologi ini yang sangat baik, atau sebagian sangat baik, harus diimpor dan kemungkinan dirakit di Kenya agar bisa digunakan,” ujar David Nugi, CEO Clean Cooking Association di Kenya.

Sejauh ini, 11 sekolah telah beralih dan menggunakan bahan bakar yang lebih bersih. Pemerintah Kenya berharap pada akhirnya, semua sekolah di negara itu bisa beralih ke bahan bakar yang lebih bersih. [ew/jm]

Continue Reading

PENDIDIKAN

Mengapa Buku Anak yang Beragam Penting Bagi Masa Depan Amerika

Mengapa Buku Anak yang Beragam Penting Bagi Masa Depan Amerika


Amerika Serikat menjadi negara yang semakin beragam. Dengan jumlah populasi warga kulit putih diperkirakan menjadi kurang dari 50 persen pada tahun 2045, maka timbul dorongan untuk menciptakan buku yang beragam. Para pakar mengatakan, tingkat kesuksesan orang dewasa Amerika pada masa depan menjadi taruhannya.

Kebanyakan anak Amerika bertumbuh dengan membaca buku-buku yang mencerminkan karakter mereka. Hal itulah yang dirasakan oleh Krista Aronson, seorang profesor psikologi di Bates College.

Krista Aronson. (Photo:VOA)

Krista Aronson. (Photo:VOA)

“Sebagai seorang dewasa, saya dapat melihat cara di mana memiliki lebih banyak anak-anak seperti saya, mungkin membuat saya merasa lebih percaya diri dan nyaman untuk bergerak di bagian dunia manapun. Tidak merasa seperti orang asing,” jelasnya.

Itulah salah satu alasan mengapa Aronson mendirikan Diverse Book Finder.dot-org, sebuah proyek yang memiliki koleksi ribuan buku anak-anak yang menampilkan warga kulit hitam, pribumi dan warga lainnya di luar kulit putih, yang dipublikasikan di Amerika sejak tahun 2002.

Website Diverse BookFinder. (Photo: VOA)

Website Diverse BookFinder. (Photo: VOA)

“Ketika anak-anak melihat diri mereka tercermin dalam literatur yang mereka baca, itu akan membuat mereka mengerti bahwa mereka adalah anggota masyarakat yang terlihat dan berharga, yang dapat menanamkan perasaan positif tentang identitas mereka sendiri,” imbuhnya.

Proyek Diverse Book Finder membantu pustakawan dan masyarakat umum, menemukan judul inklusif untuk anak-anak. Jason Homer adalah direktur perpustakaan publik di sebuah kawasan yang dihuni oleh warga dengan latar belakang berbagai ras di Massachusetts. Ia ingin anak-anak itu dapat melihat diri mereka sendiri dan juga melihat kebudayaan lain, saat mereka membaca sebuah buku.

Jason Homer. (Photo: VOA)

Jason Homer. (Photo: VOA)

“Kami ingin buku-buku itu menjadi jendela dan cermin bagi orang-orang. Jadi kami ingin anak-anak dapat melihat diri mereka sendiri di dalam buku tersebut dan kami ingin mereka dapat melihat ke dalam kebudayaan lain. Jadi, diversifikasi merupakan bagian penting dalam membangun koleksi perpustakaan apa pun,” jelas Jason.

Philip Nel, professor Bahasa Inggris di Universitas Kansas, mengarahkan program literatur anak-anak di Universitas Kansas.

Ia sependapat dengan Jason Homer. Melalui Skype, ia mengatakan, “Semua anak perlu melihat diri mereka dalam buku yang mereka baca. Mereka perlu tahu bahwa kisah mereka adalah penting. Untuk mengeluarkan pendapat, untuk memiliki kisah sendiri, untuk memiliki kehidupan dan sejarah. Tidak mendapat pengakuan merupakan bentuk penghapusan identitas. Itu seperti mengatakan bahwa Anda tidak penting.”

Philip Nel. (Photo: VOA)

Philip Nel. (Photo: VOA)

Para pakar mengatakan, kurangnya keragaman buku anak-anak akan merugikan semua pembaca muda, tidak hanya anak-anak dari kelompok marginal.

Philip Nel menambahkan, “Hal itu juga merusak imajinasi kebanyakan anak-anak. Itu juga merusak imajinasi anak-anak kulit putih karena memberikan kesan bahwa mereka adalah pusat dari dunia ini. Itu menyarankan kepada mereka bahwa hanya cerita mereka yang penting dan Anda tahu, hal itu juga menanamkan perasaan superioritas yang salah, yang mengakibatkan cara pandang yang rasis juga.”

Sebagai seorang anak yang dibesarkan di dunia yang semakin beragam, kemampuan untuk menjembatani segala perbedaan merupakan hal penting untuk pencapaian mereka pada masa depan.

Koleksi buku anak Diverse BookFinder. (Facebook/Diverse BookFinder)

Koleksi buku anak Diverse BookFinder. (Facebook/Diverse BookFinder)

Krista Aronson mengatakan, “Ini seperti otot yang harus dilatih, Bagaimana saya berinteraksi dengan mereka yang mungkin berbeda dengan saya. Ini sangat penting bagi kesuksesan anak-anak kita dan juga kesuksesan masyarakat kita.”

Itu artinya, buku anak-anak bergambar, bukanlah sekadar hanya mainan bagi anak-anak. [lj/lt]

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

INFO LOKER

Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending Dari BuzzFeed

close