Connect with us

HEADLINE

Made-in (Negara) Mana? Peringkat Negara-negara dengan Label Paling Dihormati

Made-in (Negara) Mana? Peringkat Negara-negara dengan Label Paling Dihormati

[ad_1]

Ketika kita melihat label baju yang kita pakai, dan ada tulisan “Made in Bangladesh”, apa yang biasanya terlintas dalam benak kita? Bagi kebanyakan dari kita, reputasi untuk setiap negara ada di otak kita. Bisa jadi, kemeja ‘made-in Bangladesh’ punya kualitas yang sama yang made-in Jerman atau made-in Brasil, tapi ketiganya akan menimbulkan persepsi yang berbeda di benak konsumen dan secara keseluruhan, pandangan ini memiliki dampak besar pada kesuksesan produk tersebut di pasar internasional. Ketika kita membeli produk-produk made-in Bangladesh, misalnya, maka tak bisa dipungkiri pasti di benak kita akan terlintas negara Bangladesh dengan segala macam tantangannya, sejarahnya, juga reputasinya selama ini. Dan ini mempengaruhi secara signfikan persepsi kita akan apapun produk made-in Bangladesh, seberapa bagusnya pun kualitasnya.

Jika bicara tentang reputasi dan kualitas sebuah produk, bisa jadi label “Made In Germany” (atau diartikan dengan “Dibuat di Jerman” atau “Buatan Jerman” adalah label yang membangkitkan persepsi kualitas, efisiensi, dan kepercayaan akan produk tersebut. Mengapa? Seolah-olah, karena desain, kualitas, dan daya tahan, “made-in Germany” adalah yang terbaik di dunia, dan dunia mempercayai reputasi Jerman.

Beberapa tahun lalu, hal ini diketahui dari hasil survey yang dilakukan oleh Statista, sebuah lembaga statistik dan riset pasar yang berbasis di Hamburg, Jerman, yang menunjukkan bahwa konsumen di banyak negara sangat menghormati dan memandang tinggi kehebatan Jerman dalam memproduksi berbagai produk, lebih tinggi dibandingkan negara manapun.

Seasia.co

info gambar
Survei statista tesebut yang dilakukan bersama Dalia Research, sebuah lembaga riset pasar yang berbasis di Berlin, Jerman, membuat daftar negara-negara yang paling dihormati, dalam hal kualitas dan reputasi produk atau, di mana frasa “Made In (negara)” memiliki citra paling positif. Survey ini lebih dari 43.000 responden di 52 negara di berbagai belahan dunia. Dalam menyusun Made-in-Country-Index (MICI) ini, setiap responden diberi kesempatan untuk menilai dan menyebut tiga negara yang paling bagus dalam kualitas produknya.

Secara keseluruhan, produk-produk made-in Jerman berada di posisi teratas. Kebanyakan responden memuji kualitas dan standar keamanan yang tinggi dari produk-produk buatan Jerman. “Jerman memiliki brand yang sangat kuat dan selalu berorientasi pada kualitas produknya,” kata Nicolas Loose, kepala riset pasar Statista. “Seperti Volkswagen, atau seperti Lufthansa, merek-merek ikonik itu mempunyai pada reputasi yang kuat.”

Statista menyusun penelitian untuk menemukan bagaimana orang-orang di berbagai negara memandang citra produk dan barang yang dibuat di negara lain, jelas Loose, dan gagasan itu datang langsung dari pendiri dan CEO Statista, Friedrich Schwandt.

Ada hal yang menarik, yakni China, yang dalam survey ini menempati urutan terakhir. Di dalam negeri,. China menempati peringkat #1 sebagai produsen barang yang paling dihormati di antara orang-orang China daratan. Namun di Hong Kong, responden memberi peringkat paling buruk di China. Namun, satu hal penting adalah titik: banyak responden survei yang merasa produk-produk made-in China sesuai dengan harganya yang terjangkau.

Posisi Indonesia

Dalam survey ini, posisi Indonesia masih berada di bawah, tepatnya peringkat 4 dari bawah. Banyak hal yang harus terus dilakukan oleh segenap komponen bangsa ini untuk tidak hanya terus menaikkan reputasi produk-produk Indonesia, namun juga reputasi Indonesia secara keseluruhan.

Mari kita bayangkan sebuah adegan berikut.

Seorang ibu warga negara Thailand sedang berbelanja di sebuah supermarket di negeri gajah putih tersebut. Sang ibu ingin membeli jajanan ringan untuk anak-anaknya di rumah. Dia berhenti di sebuah rak yang berisi snack-snack dengan kemasan yang menarik, harganya kurang lebih sama antara snack satu dengan snack lainnya. Selain kemasannya, yang membedakan adalah labelnya. Satu made in Australia, satu lagi made in Indonesia. Kira-kira, si Ibu ini akan membeli yang made-in mana?

Pertanyaan selanjutnya mungkin adalah, apa yang terlintas dalam benak orang Thailand jika disebut nama “indonesia’? Apakah hal-hal yang baik, atau malah sebaliknya. Inilah pentingnya membangun reputasi bangsa kita, untuk terus menyuarakan hal-hal yang baik secara taktis, dan terus menerus. Dalam banyak hal, reputasi Indonesia di ranah global masih kalah dibandingkan dengan negara-negara tetangga.

Bayangkan, dalam ranking Best Countries for Adventure 2021yang dipublikasikan oleh USnews.com, Indonesia yang harusnya memenangkan semua hal terkait penjelajahan alam, kalah dibandingkan Thailand, Malaysia, Filipina, bahkan Singapura yang kecil itu. Sekali lagi, hal ini bukan berarti pengalaman adventure yang ditawarkan Indonesia kalah dibandingkan negara-negara tersebut, melainkan karena reputasi Indonesia di dunia global masih harus ditingkatkan secara dramatis.

Pun terkait made-in indonesia. Marketing dan promosi saja takkan cukup, kecuali juga harus diimbangi dengan membangun reputasi dan branding positif Indonesia. Reputasi sebuah bangsa memiliki nilai ekonomi yang tidak perlu dipertanyakan lagi bagi negara bersangkutan, seperti halnya bagi organisasi dan individu. Ini didasarkan pada emosi dan akal, produk dari kesan kita tentang tindakan suatu bangsa dan komunikasinya, serta persepsi, stereotip, pengaruh, dan pengalaman langsung kita yang mendalam akan negara tersebut.

Sebuah studi yang tentu reputasi negara yang dirilis oleh Reputation Institute and Argyle Public Relationships yang berbasis di Kanada menyebutkan bahwa setidaknya ada tiga faktor penting dalam membangun persepsi sebuah negara di ranah internasional, yakni tentang kualitas lingkungan hidup negara bersangkutan, lalu kualitas pemerintah dan cara memerintahnya (governance in public safety, ethics, international responsibility, social and economic policies), dan ekonomi (tenaga kerja terdidik dan andal, kontribusi terhadap budaya global, produk dan layanan berkualitas tinggi).

Referensi:

“The Best Countries for Adventure, Ranked.” U.S. News & World Report, U.S. News & World Report, www.usnews.com/news/best-countries/adventure-rankings.

Daniel Tisch. Originally published on Policy Options July 5, 2017. “What Gives a Nation a Great Reputation?” Policy Options, 13 Apr. 2021, policyoptions.irpp.org/magazines/july-2017/what-gives-a-nation-a-great-reputation/.

Desjardins, Jeff. “The World’s Most Respected ‘Made In’ Labels.” Visual Capitalist, 12 Mar. 2019, www.visualcapitalist.com/respected-made-in-labels-country/.

“Made In Where? The 12 Countries With The Best Reputation.” Forbes, Forbes Magazine, www.forbes.com/pictures/58d92fa04bbe6f0e55895385/made-in-where-the-12-coun/?sh=56ee2afad3aa.



[ad_2]

Source link

Advertisement
Click to comment

HEADLINE

Partai dan Serikat Buruh Penjaga Moralitas Anak Bangsa

Partai dan Serikat Buruh Penjaga Moralitas Anak Bangsa

BuzzFeed

Membangun dan menjalankan partai politik, apapun namanya harus menjunjung etika dan moral hingga akhlak, agar apa yang hendak dilukan mendapat ridho dari Yang Maha Kuasa. Sehingga hasil keluaran yang menjadi produk partai politik tersebut dapat memberi manfaat bagi orang banyak, bukan hanya untuk kepentingan dan keuntungan diri sendiri.

Hanya dengan begitu kehadiran partai politik dapat diterima oleh orang banyak. Jadi kalau partai politik maupun pelakunya hanya ingin mementingkan dirinya sendiri, maka tidak akan ada artinya bagi rakyat untuk berharap adanya perbaikan menuju tatanan budaya politik yang lebih beradab. Padahal, fungsi utama partai politik itu harus mampu membangun kecerdasan politik rakyat banyak agar budaya politik di Indonesia bisa lebih elegan serta mendewasakan sikap politik segenap anak bangsa. Sebab berpolitik itu bukan tipu daya dan bukan pula sekedar untuk memenangkan pertarungan pada Pillkada, Pilpres maupun Pileg.

Perilaku politik para politisi atau pihak manapun, merupakan cermin diri dari bangsa dan negara yang bersangkutan. Karena itu jalan keluarnya yang terang sebagai satu-satunya cara menuju jalan terang itu yang diridho’i Allab SWT adalah tetap berpedoman pada nilai-nilai spiritual yang mampu membimbing menuju jalan setapak tanpa perselingkuhan dan keculasan yang mencederai hati orang lain.

Oleh karena itu, tata krama dan etika yang bersandar pada akhlak yang tegak lurus diridho’i oleh Yang Maha Kuasa dan Maha Pengasih serta Maha Penyayang itu yang pasti akan memberi cinta dan kasih yang tulus seperti yang kita harapkan. Bukan kamuflase atau kepalsuan. Begitulah sejatinya diri yang mengedepankan laku ketimbang basa-basi maupun janji-janji palsu yang penuh tipu daya maupun kebohongan.

Oleh karena itu, partai buruh yang murni lahir dari rahim serikat buruh, hakekatnya pendukung total dari perjuangan kaum dhu’fa dan mustada’afin yang perlu diayomi dan dilindungi bahkan disayang sebagai kaum yang dominan dizalimi, agar dapat lebih manusiawi hingga mampu mencerna dan menikmati hakekat dari rachmatan lil alamin.

Jik partai buruh dan serikat buruh tidak mampu menjaga moral, etika dan akhlak segenap anak bangsa, apalah arti kehadirannya di tengah-tengah kita ?

Atau cuma sekedar membidik kekuasaan serta kedudukan belaka ?

Jacob Ereste, dengan artikel sebelumnya berjudul Partai Buruh & Serikat Buruh Adalah Penjaga Etika, Moral & Akhlak Segenap Anak Bangsa

Continue Reading

HEADLINE

Anies Kunjungi Atlet Jakarta berlaga di PON XX, Netizen Pertanyakan Soal Pilpres 2024

Anies Kunjungi Atlet Jakarta berlaga di PON XX, Netizen Pertanyakan Soal Pilpres 2024

BuzzFeed – Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan berkunjung ke Papua meninjau atlet yang bertanding pada event Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua, Senin (11/10/2021).

Dalam postingannya Anies Baswedan pada saat berkunjung ke Tanah Papua, belum nampak penyambutan seperti halnya sambutan meriah dari Rakyat Papua untuk Gubernur Jawa Tengah.

Hal ini membuat netizen memberikan komentarnya melalui akun media sosial Twitter membandingkan Anies dengan Ganjar.

“TIDAK DIKENAL DI PAPUA Tak kenal maka tak sayang …Anies tiba di Bandara Sentani tidak ada yang menyambut semeriah Ganjar Pranowo. Masih ngotot nyapres 2024 …??? Papua barometer Pilpres 2024,” kata @Bengkeltanah201 seperti dikutip dari Populis.id pada Senin 11 Oktober 2021.

“Beda sambutan saat tiba di Papua. Orang-orang Papua paham betul mana yang emas mana yang emas-emasan,” ujar @narkosun01.

“Kasihan Pak Anies gak ada rakyat Papua mengelu-elukan dan menyambut kedatangannya, sangat beda dengan Pak Ganjar, Gubernur Rasa Presiden. Halaah, mau cari panggung telat uda,” tulis @alextham878.

“Sengaja datang belakangan biar pamornya ga kalah sama Jokowi, Padahal nyampe sana juga ga ada yang peduli.. Wkwkwk Orang Papua tidak kenal Anies,” kata @RasaAris.

Sebagaimana diketahui, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan terbang ke Papua untuk meninjau para atlet DKI Jakarta yang sedang bertanding pada Pekan Olahraga Nasional atau PON XX Papua.

Akan tetapi, dalam sebuah video yang diunggah di akun story Instagramnya Anies langsung bertemu dengan para atlet kontingen DKI Jakarta.

Hal ini dapat dilihat dari akun Instagram @aniesbaswedan pada Senin (11/10/2021) pagi.

“Tiba di bandara Sentani berpapasan dengan atlit panahan dan sepak takraw DKI yang akan kembali ke Jakarta,” tulisnya.

Kemudian, Anies memberi sambutan dan berfoto bersama para atlet DKI.

“Bawa cerita pengalaman ini untuk menjadi pelajaran bagi semuanya,” ucapnya.

Continue Reading

HEADLINE

Jokowi Lantik Megawati sebagai Ketua Dewan Pengarah BRIN, PDIP Apresiasi

Jokowi Lantik Megawati sebagai Ketua Dewan Pengarah BRIN, PDIP Apresiasi

BuzzFeed – PDI Perjuangan apresiasi keputusan Presiden Joko Widodo lantik Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Istana Negara (13/10/2021)

Apresiasi tersebut, pasalnya Presiden memberikan kepercayaan dan amanah yang diberikan oleh Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Dewan Pengarah yang merupakan Ketua Umum PDI Perjuangan

“PDI Perjuangan mengucapkan selamat dan berbangga atas keputusan Presiden Jokowi dengan melantik Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang terdiri dari: Megawati Soekarnoputri yang menjabat sebagai Ketua Dewan Pengarah, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati Sri Mulyani dan Menteri Bappenas Suharso Monoarfa sebagai wakil ketua,” kata Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (13/10/2021).

“Lalu Sudhamek Agung Waspodo Sunyoto sebagai sekretaris dan sebagai anggota yakni Emil Salim, Gede Wenten, Bambang Kesowo, Adi Utarini, Marsudi Wahyu Kisworo dan Tri Mumpuni,” imbuhnya.

PDI Perjuangan berharap, melalui struktur Dewan Pengarah BRIN, diharapkan bisa membawa Indonesia semakin kompetitif di dunia. BRIN diharapkan bisa menata dan mengelola seluruh lembaga riset, serta membawa Indonesia bergerak menuju negara berbasis ilmu pengetahuan.

Keputusan Jokowi yang menempatkan BRIN sebagai infrastruktur kemajuan bangsa melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menempatkan riset dan inovasi sebagai pilar Indonesia berdikari, mendapat dukungan penuh PDI Perjuangan.

“Dan sesuai ketentuan peraturan-perundang-undangan yang menempatkan Ketua Dewan Pengarah BPIP ex officio sebagai Ketua Dewan Pengarah BRIN merupakan keputusan tepat,” imbuhnya.

“Karena riset dan inovasi harus digerakkan oleh ideologi bangsa agar Indonesia benar-benar berdaulat, berdikari, dan bangga dengan jati diri kebudayaannya. Kebijakan pembangunan pun harus berlandaskan pada riset dan inovasi ilmu pengetahuan serta teknologi, yang berpedoman pada ideologi Pancasila,” lanjutnya.

Menurut Hasto, selama ini Megawati sangat konsisten menyuarakan pentingnya penguasaan ilmu-ilmu dasar, riset dan inovasi dan terus memperjuangkan peningkatan anggaran penelitian 5% dari PDB. Megawati yang merupakan Ketua Umum PDI Perjuangan, juga disebut penggagas awal dari BRIN.

“Dengan mengusulkan kepada Presiden Jokowi agar BRIN hadir menjabarkan politik Indonesia berdikari, dengan memfokuskan diri pada penelitian untuk manusia Indonesia, flora, fauna dan teknologi itu sendiri,” tuturnya.

Kepedulian Megawati, menurut Hasto merupakan bentuk dukungan yang konkret untuk pengembangan riset dan inovasi nasional yang memang memerlukan sumber daya finansial yang besar. Selain itu dalam perspektif geopolitik, riset dan inovasi, juga sangat penting di dalam membangun kekuatan pertahanan melalui penguatan kapabilitas industri pertahanan dengan semangat percaya pada kekuatan sendiri.

Bagi PDI Perjuangan, riset dan inovasi adalah kata kunci perkembangan teknologi, pertumbuhan ekonomi dan kemajuan sebuah bangsa. Dengan menyatukan berbagai lembaga riset dalam satu kapal dengan satu nahkoda, diharapkan tidak terjadi lagi duplikasi riset dan kesimpangsiuran tata kelola riset di Indonesia.

“Di sisi lain, sumber daya manusia kita memiliki kualitas yang tidak kalah dari negara lain. Banyak anak bangsa yang ikut terlibat di bidang riset dan pengembangan teknologi di berbagai lembaga riset tingkat dunia. Atas hal itu, saatnya semua pihak menyelaraskan gerak antara lain pemerintah, kekuatan sosial politik, serta masyarakat demi kemajuan dan kejayaan Indonesia raya,” pungkasnya.

Continue Reading

Trending Dari BuzzFeed

close