Connect with us

VIRUS CORONA

Lonjakan Kasus COVID-19 Menunda Mimpi Bekerja dari Yogya

Lonjakan Kasus COVID-19 Menunda Mimpi Bekerja dari Yogya

[ad_1]


Perjalanan kurang dari satu jam, dari kota Yogyakarta ke Kampung Turgo di lereng Gunung Merapi Kabupaten Sleman, menyuguhkan keindahan lansekap dan hawa dingin yang khas. Di sisi utara, rumah-rumah warga berbatasan langsung dengan hutan. Kabut akan menyelimuti kawasan ini pada sore hari, waktu yang tepat menikmati sajian kopi di warung kopi Merapi, yang dikelola Musimin dan istrinya, Sari.

“Kopinya kami tanam sendiri, memang sudah ada sejak dulu. Di hutan belakang rumah ini ada banyak pohon kopi, sebagian besar tinggalan dari orang tua dulu,” kata Sari kepada VOA.

Bu Sari, pemilik warung kopi Merapi menyeduh kopi untuk tamu. (Foto:VOA/ Nurhadi)

Bu Sari, pemilik warung kopi Merapi menyeduh kopi untuk tamu. (Foto:VOA/ Nurhadi)

Meski jauh di lereng gunung, warung kopi ini menyediakan akses internet cukup cepat berkat bantuan bank daerah. Pengunjung bisa menikmati kopi dan hawa dingin, sembari mengerjakan tugas kuliah atau pekerjaan kantor. Jika program work from destination yang digaungkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif beberapa pekan lalu bisa berjalan, warung kopi Merapi di Turgo ini mungkin akan kedatangan lebih banyak konsumen.

“Kami biasa rame kalau Sabtu dan Minggu,” lanjut Sari.

Destinasi wisata alam yang sepi dan dinilai lebih aman dari risiko penularan tersebar merata di sekitar Yogya. Rata-rata hanya dibutuhkan perjalanan satu jam untuk sampai ke Menoreh di barat, kaki Merapi di utara, pantai di sisi selatan, atau kawasan wisata alam gunung purba hingga Mangunan di sisi tenggara. Ini adalah pilihan menarik bagi pekerja di Jakarta atau kota besar lain, yang bosan bekerja dari rumah dan mencari nuansa berbeda.

Kebijakan yang Adaptif

Sayang, pemerintah harus mengevaluasi program ini karena lonjakan kasus dalam dua pekan terakhir. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno menekankan ini dalam keterangan pers mingguan, yang dia sampaikan dari Balkondes Borobudur, Jawa Tengah, Selasa (22/6). Sandi menyebut, work from destination jika dilakukan dengan bingkai protokol kesehatan yang ketat dan disiplin, merupakan salah satu inovasi dan adaptasi di tengah pandemi dan tantangan ekonomi.

Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno bersama penari di kawasan wisata Borobobudur, Jawa Tengah. (Foto: Kemenparekraf)

Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno bersama penari di kawasan wisata Borobobudur, Jawa Tengah. (Foto: Kemenparekraf)

“Namun kita mengambil kebijakan berbasis data dan berbasis sains, dan data dan sains ini bergerak terus. Data dua minggu lalu sama data hari ini tentunya berbeda, dan kebijakan kita akan sangat berbeda. Jadi, waktu kita mengambil kebijakan dua minggu lalu dan hari ini, semua harus disesuaikan. Dan itu adalah komitmen kita untuk menyesuaikan kebijakan berbasis data dan sains,” ujar Sandi.

Sandi memastikan Kemenparekraf memperhatikan data kasus dan status zona tempat wisata berada. Jika memang berstatus merah, kementerian bahkan sudah memberi arahan penutupan destinasi wisata. Panduan untuk menghadapi situasi yang genting saat ini telah ditetapkan, dan pelaku wisata serta wisatawan diharapkan mematuhinya.

Salah satu penerapan kebijakan adalah bahwa program work from destination akan menyesuaikan penerapan PPKM Mikro. Daerah dengan status kuning misalnya, tentu diperbolehkan, sedangkan yang berstatus merah diminta untuk dihindari.

“Di tengah-tengah situasi yang sangat volatile, uncertain, complex dan ambigue, kebijakan model sandbox yang harus kita hadirkan, sehingga kita akan mampu melewati periode yang penuh tantangan ini,” tambahnya.

Pelaku Wisata Berhati-Hati

Doto Yogantoro, pengelola desa wisata Pentingsari di Kabupaten Sleman, Yogyakarta meyakini pelaku wisata dan pemerintah daerah memegang peran penting terkait buka atau tidaknya destinasi wisata.

Pengelola desa wisata Pentingsari, Doto Yogantoro. (Foto: dok pribadi)

Pengelola desa wisata Pentingsari, Doto Yogantoro. (Foto: dok pribadi)

“Kalau dihentikan total, saya kira juga mengurangi semangat masyarakat, tetapi pintar-pintarnya pengelola memilih dan memilah, kira-kira tamu yang diterima latar belakangnya apa, tujuannya apa, asalnya darimana,” kata Doto kepada VOA.

Dia memberi contoh, beberapa hari lalu ada rombongan yang terpaksa ditolak untuk menginap di Pentingsari, karena pemberitahuan yang mendadak. Pengelola telah menyepakati skala prioritas dalam menerima wisatawan. Keputusan untuk menerima atau tidak rombongan wisata ada di masyarakat. Status kesehatan wisatawan juga menjadi perhatian penting, dan karena itu seluruh proses tersebut tidak bisa mendadak.

“Kalau tamu dari kalangan pemerintah biasanya kita terima, karena secara protokol kesehatan mereka sudah bisa dipastikan,” ujar Doto.

Diakui Doto, ketika pemerintah menerapkan program work from destination, euforia memang terjadi. Terobosan ini disambut baik setelah sekitar setahun sektor pariwisata prihatin. Namun dia juga mengakui, tidak semua pengelola destinasi wisata siap dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat. Tetap ada kemungkinan kenaikan kasus karena pelaku perjalanan, dalam hal ini wisatawan, yang datang ke destinasi di zona hijau.

Pilihan untuk selektif menerima wisatawan tentu berdampak pada pemasukan pengelola destinasi. Namun, dalam kasus desa wisata, menurut Doto dampaknya bisa ditekan karena pelakunya adalah warga desa yang hidup dari sektor lain, seperti pertanian, perkebunan, perikanan dan jenis pekerjaan lain. Ketika wisatawan tidak datang, mereka tetap hidup menjalani profesi asalnya.

Kunjungan wisatawan asing sebelum pandemi di Pentingsari. (Foto: dok/ Doto Y)

Kunjungan wisatawan asing sebelum pandemi di Pentingsari. (Foto: dok/ Doto Y)

Pada destinasi yang khusus menggantungkan pendapatan dari perjalanan wisata, kasusnya tentu berbeda dan membutuhkan jalan keluar lain.

Prinsipnya, kata Doto, pelaku sektor wisata tidak menyalahkan siapapun atas kondisi yang ada.

“Semua harus berpikir positif, bahwa ini kondisi kita bersama. Pemerintah tetap harus mengupayakan program yang dirasa benar, koordinasi dengan daerah. Masyarakat harus bisa antisipasi, kalau dibuka dan menerima wisatawan dampaknya bagaimana. Bukan hanya ekonomi, tetapi juga dampak psikologis,” tambah Doto yang juga Ketua Forum Komunikasi Desa Wisata DIY.

Daerah Lakukan Penyesuaian

Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta menerapkan kebijakan khusus untuk menekan laju penyebaran COVID 19. Salah satunya adalah menutup wisata pantai, yang sangat populer di daerah ini, pada Sabtu dan Minggu untuk menghindari penumpukan wisatawan. Dalam keterangannya pada Selasa (22/6), Bupati Bantul Abdul Halim Muslih meminta pelaku wisata bersabar menghadapi kenyataan ini. Dia menegaskan, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X setuju dengan kebijakan itu.

Menparekraf Sandiaga Uno (kiri) berdialog dengan Doto Y Yogantoro (kanan) dalam kunjungan pada 5 Juni 2021 lalu di desa wisata Pentingsari. (foto: Doto Y)

Menparekraf Sandiaga Uno (kiri) berdialog dengan Doto Y Yogantoro (kanan) dalam kunjungan pada 5 Juni 2021 lalu di desa wisata Pentingsari. (foto: Doto Y)

“Penanggulangan pandemi harus diutamakan meskipun ada dampak ekonominya. Jadi secara prinsip, Sri Sultan bisa memahami langkah Pemkab Bantul, karena toh hanya Sabtu dan Minggu. Masih ada lima hari lainnya dan hanya dua akhir pekan, begitu beliau bilang,” kata Abdul Halim.

Kebijakan ini diambil karena wisata pantai menjadi tujuan bagi wisatawan luar daerah. Ada kekhawatiran, wisatawan yang datang dari zona merah kemungkinan sudah terpapar virus, dan bisa menularkan di kawasan wisata.

“Di situ bahayanya. Dampaknya tetap akan di warga dan pemerintah setempat,” tambah Abdul Halim.

Sebuah andong wisata melintas di Alun-Alun Utara Yogyakarta. (Foto: VOA/Nurhadi Sucahyo)

Sebuah andong wisata melintas di Alun-Alun Utara Yogyakarta. (Foto: VOA/Nurhadi Sucahyo)

Kebijakan penutupan tempat wisata ini menjadi lebih penting sementara varian Delta diyakini sudah menyebar dalam beberapa pekan terakhir. Lonjakan kasus di daerah maupun angka nasional membuktikan kekhawatiran itu.

Kebijakan penutupan, menurut Abdul Halim, akan dievaluasi. Jika kasus menurun dan instruksi penutupan tidak berlaku lagi, maka pembukaan tempat wisata bisa dilakukan dengan pengawasan ketat aparat. Secara teknis, dimungkinkan pembatasan pengunjung dengan menghitung berapa yang masuk dan berapa yang keluar dari lokasi wisata maupun tempat makan. [ns/ka]

[ad_2]

Source link

Advertisement
Click to comment

VIRUS CORONA

Laju Vaksinasi di Daerah di AS yang Dilanda Varian Delta Kini Meningkat

Laju Vaksinasi di Daerah di AS yang Dilanda Varian Delta Kini Meningkat

[ad_1]

Gedung Putih, Kamis (22/7), mengatakan vaksinasi COVID-19 di negara-negara bagian yang terpukul hebat oleh perebakan luas varian Delta yang menyebar dengan sangat cepat, kini meningkat.

Koordinator Penanganan COVID-19 di Amerika Serikat (AS), Jeff Zients, mengatakan kepada wartawan bahwa warga di beberapa negara bagian dengan proporsi tingkat perebakan virus corona baru tertinggi kini mulai berupaya untuk mendapat vaksinasi COVID-19. Laju vaksinasi di wilayah-wilayah itu kini lebih tinggi dibanding laju vaksinasi di AS secara keseluruhan.

Para pejabat Amerika merujuk Arkansas, Florida, Louisiana, Missouri dan Nevada sebagai contoh di mana kini terjadi laju vaksinasi yang lebih cepat.

Varian Delta, yang menyebar secara lebih agresif, kini menyumbang sekitar 83 persen kasus baru secara nasional dan menjadi varian yang dominan di setiap wilayah. Meskipun sejumlah pejabat kesehatan mengingatkan bahwa AS kembali berada di tiitk kritis lain dalam pandemi ini, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention/CDC) tidak mengubah pedomannya bahwa orang yang sudah divaksinasi penuh tidak perlu lagi mengenakan masker.

Direktur CDC Dr. Rochelle Walensky mengatakan keputusan di tingkat lokal tentang perlu tidaknya mengenakan masker dapat bervariasi, tergantung pada laju vaksinasi dan ada tidaknya lonjakan kasus baru.

Walensky mengatakan risiko terbesar saat ini adalah terhadap orang-orang yang tidak divaksinasi.

“Kami telah secara konsisten dan berulang kali mengatakan, jika Anda tidak divaksinasi, Anda perlu mengenakan masker untuk melindungi diri sendiri dan orang-orang di sekitar,” kata Walensky.

Dia menegaskan perlu lebih banyak orang yang divaksinasi untuk menghentikan pandemi ini.

“Jadi secara keseluruhan, rekomendasi CDC tidak berubah. Orang yang sudah divaksinasi penuh terlindung dari penyakit berat,” imbuhnya. [em/lt]

[ad_2]

Source link

Continue Reading

VIRUS CORONA

Pfizer-BioNTech Sepakat Produksi Vaksin COVID-19 untuk Afrika

Pfizer-BioNTech Sepakat Produksi Vaksin COVID-19 untuk Afrika

[ad_1]

Pfizer dan BioNTech telah bersepakat dengan Institut Biovac di Afrika Selatan untuk memproduksi vaksin COVID-19 mereka dan mendistribusikannya di Afrika, kata perusahaan bioteknologi itu, Rabu.

Perusahaan di Cape Town itu akan memproduksi 100 juta dosis vaksin setiap tahun mulai 2022, mencampur bahan vaksin yang diterimanya dari Eropa, memasukkan ke botol, dan mengemasnya untuk didistribusi ke 54 negara di Afrika. Kesepakatan itu pada akhirnya akan membantu mengurangi kekurangan vaksin di benua itu. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika mengatakan kurang dari 2% dari 1,3 miliar populasinya telah menerima setidaknya satu dosis vaksin.

CEO Pfizer Albert Bourla mengatakan tujuan perusahaan itu adalah memberi vaksin itu kepada orang-orang di seluruh Afrika, menyimpang dari perjanjian bilateral di mana sebagian besar dosis dijual ke negara-negara kaya.

Vaksin Johnson & Johnson sudah diproduksi di Afrika Selatan dalam proses “isi dan kemas” serupa dan memiliki kapasitas produksi lebih dari 200 juta dosis per tahun. Vaksin-vaksin itu juga sedang didistribusikan ke seluruh benua Afrika.[ka/jm]

[ad_2]

Source link

Continue Reading

VIRUS CORONA

351 Ribu Anak di Indonesia Terpapar COVID-19

351 Ribu Anak di Indonesia Terpapar COVID-19

[ad_1]


Ketua Bidang Data dan IT Satuan Tugas Penanganan COVID-19, Dewi Nur Aisyah mengungkapkan hingga 16 Juli 2021 sebaran kasus COVID-19 pada usia anak sekolah mencapai 12,83 persen dari seluruh kasus terkonfirmasi positif di Indonesia.

“Dari seluruh kasus di Indonesia yang 2,4 juta kalau kita lihat usia di bawah 18 tahun ini ada 351.336 atau sekitar 12,83 persen. Seperdelapan kasus COVID-19 yang ada di Indonesia berasal dari usia anak-anak dan remaja yaitu di bawah 18 tahun,” ujar Dewi Nur Aisyah dalam webinar “Pencegahan Keterpisahan dan Pengasuhan Alternatif Bagi Anak Terdampak COVID-19,” Senin (19/7).

Grafik Kematian akibat COVID-19 pada anak usia sekolah. Persentase angka kematian tertinggi pada kelompok usia 0-2 tahun, Senin, 19 Juli 2021. (Foto: VOA)

Grafik Kematian akibat COVID-19 pada anak usia sekolah. Persentase angka kematian tertinggi pada kelompok usia 0-2 tahun, Senin, 19 Juli 2021. (Foto: VOA)

Anak sekolah usia 7-12 tahun memiliki kasus terbanyak yaitu 101.049, disusul usia 16-18 tahun sebanyak 87.385, berikutnya usia 13-15 tahun dengan 68.370. Sedangkan kasus COVID-19 anak TK usia 3-6 tahun berjumlah 50.449 dan usia PAUD 0-2 tahun berjumlah 44.083.

Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Riau, Sulawesi Selatan, Banten dan Kalimantan Timur menempati peringkat 10 besar provinsi dengan kasus konfirmasi COVID-19 pada usia anak sekolah.

Sulawesi Utara Catat Kematian Anak Tertinggi Akibat COVID-19

Berdasarkan data Satgas Penanganan COVID-19 per tanggal 16 Juli 2021 itu memperlihatkan sebanyak 777 anak rentang usia 0-18 tahun meninggal dunia.

Dewi Nur Aisyah mengungkapkan persentase angka kematian tertinggi berada pada kelompok usia 0-2 tahun (0,71 persen) diikuti kelompok usia 16-18 tahun (0,18 persen) dan kelompok usia 3-6 tahun (0,15 persen).

Sebaran kasus COVID-19 pada anak usia sekolah disampaikan oleh Ketua Bidang Data dan IT Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Dewi Nur Aisyah, Senin, 19 Juli 2021. (Foto: VOA)

Sebaran kasus COVID-19 pada anak usia sekolah disampaikan oleh Ketua Bidang Data dan IT Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Dewi Nur Aisyah, Senin, 19 Juli 2021. (Foto: VOA)

“Kalau berbicara jumlah kasus ternyata belum tentu juga provinsi dengan jumlah kasus anak tertinggi angka kematiannya juga paling tinggi. Karena ternyata untuk usia 0- 2 tahun paling tinggi angka kematian justru berasal dari provinsi Sulawesi Utara (5,29 persen) kasus anak-anak baduta (bawah dua tahun) di sana mengalami kematian, Gorontalo (3,85 persen), NTB (3,35 persen),” kata Dewi Nur Aisyah dalam webinar yang diselenggarakan oleh Save the Children Indonesia bekerjasama dengan Universitas Padjadjaran, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Kementerian Sosial tersebut.

Menurutnya, pencegahan infeksi corona dengan protokol 3M harus dilakukan secara maksimal dengan dukungan dari anggota keluarga khususnya bagi kelompok anak-anak terutama usia di bawah 12 tahun yang belum bisa mendapat vaksin.

COVID-19 Juga Buat Anak Depresi

Psikolog klinis Feka Angge Pramita menjelaskan orang dewasa perlu membantu mempersiapkan anak menghadapi situasi kritis dengan memberikan penjelasan yang jujur seperti saat harus berpisah sementara waktu dengan orang tua/pengasuh yang menjalani isolasi mandiri, dirawat karena COVID-19.

Psikolog klinis Feka Angge Pramita dalam webinar Pencegahan Keterpisahan dan Pengasuhan Alternatif Bagi Anak Terdampak Covid-19, Senin, 19 Juli 2021. (Foto: VOA)

Psikolog klinis Feka Angge Pramita dalam webinar Pencegahan Keterpisahan dan Pengasuhan Alternatif Bagi Anak Terdampak Covid-19, Senin, 19 Juli 2021. (Foto: VOA)

“Itu harus dijelaskan dan itu pasti butuh proses dan sering kali tergantung dari usianya mereka juga, tapi memberikan penjelasan atau mengomunikasikan hal yang sesuai dengan faktanya, itu kalau diberikan penjelasan malah akan memberikan sesuatu hal yang memberikan rasa tenang buat mereka karena kalau mereka tidak dijelaskan atau malah dibohongi mereka bisa menangkap situasinya. Situasi dari orang orang-orang dewasa di sekitar mereka,” kata Feka.

Dalam situasi anak yang berduka karena kehilangan orang tua yang meninggal dunia, anak perlu selalu didampingi oleh orang dewasa disekitar mereka. Selain memastikan kebutuhan dasar mereka terpenuhi, juga untuk merespon saat anak mengekspresikan kesedihan yang dirasakannya.

“Merespon itu bagaimana sih, misalkan kalau mereka cerita ‘aduh aku mau ketemu mama, tapi mama kan di Surga’ mungkin kita akan bilang ‘ya berdoa saja’ itu salah satu hal yang baik,” ujar Feka.

Anak-anak bermain di luar kawasan pemukimannya di Jakarta, 22 Juni 2021, saat diberlakukannya pembatasan wilayah di tengah pandemi COVID-19. (Foto: BAY ISMOYO / AFP)

Anak-anak bermain di luar kawasan pemukimannya di Jakarta, 22 Juni 2021, saat diberlakukannya pembatasan wilayah di tengah pandemi COVID-19. (Foto: BAY ISMOYO / AFP)

Menurutnya diperlukan figur yang berperan sebagai orang tua, yang memberikan kasih sayang, mendengarkan dan merespon kebutuhan anak.

Direktur Rehabilitasi Sosial Anak Kementerian Sosial RI, Kanya Eka Santi menilai perlu ada shelter transisi bagi anak untuk menjalani isolasi mandiri, setelah bagian dari keluarganya terpapar COVID-19. Penularan COVID-19 yang cepat membuat pilihan untuk memindahkan pengasuhan anak kepada keluarga lainnya rentan menularkan virus corona.

“Misalnya orang tuanya terpapar, lalu anak-anaknya tidak terpapar lalu tanpa memikirkan itu melewati masa inkubasi, anak-anaknya dipindahkan ke keluarga lain lalu keluarga ini ikut terpapar. Sehingga proses untuk menunda agar ini tidak langsung ke keluarga besar itu butuh shelter khusus,” kata Kanya Eka Santi

Kementerian Sosial menurutnya sudah menyusun protokol pengasuhan yang mengharuskan rumah sakit untuk menanyakan orang tua yang masuk untuk dirawat bila memiliki anak yang ditinggalkan di rumah. Bila anak yang ditinggalkan tidak ada yang mengasuh maka harus segera dilaporkan ke Dinas Sosial setempat. [yl/em]

[ad_2]

Source link

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending Dari BuzzFeed

close