Connect with us

Wisata

Lezatnya Bubur Gunting dan Chai Kue, Jajanan Unik Khas Singkawang

Lezatnya Bubur Gunting dan Chai Kue, Jajanan Unik Khas Singkawang

[ad_1]

Chai kue © Julius Bramanto Shutterstock


Kota Singkawang di Kalimantan Barat selama ini dikenal sebagai Kota Seribu Kuil dan jadi salah satu tujuan wisata saat Festival Cap Go Meh, perayaan hari ke-15 pasca Imlek. Kota yang terletak sekitar 145 km di sebelah utara Pontianak ini penduduknya mayoritas Melayu, Tionghoa, dan Dayak.

Tak hanya terkenal dengan berbagai objek wisata, budaya, dan kerukunan antar umat beragamanya, Singkawang juga merupakan surga kuliner lezat. Di sana, banyak ditemukan kuliner bernuansa oriental dengan perpaduan citarasa lokal.

Di antaranya ada bubur gunting dan chai kue yang jadi jajanan primadona. Seperti apa dua hidangan ini? Berikut penjelasannya:

Bubur gunting

Berbeda jauh dari bubur ayam, bubur Manado, atau bubur sumsum, di Singkawang ada makanan bernama bubur gunting. Hidangan ini terbilang unik karena tak seperti bubur pada umumnya. Bubur gunting terdiri dari potongan cakwe yang disajikan dalam mangkuk kecil dan disiriam dengan kuah kental berisi kacang hijau.

Bubur gunting merupakan makanan yang sudah turun-temurun dari warga keturunan Tionghoa yang bermukim di Singkawang. Namanya juga sering disebut liuk theu san, yang artinya bubur kacang hijau serasa intan.

Kuah bubur gunting yang khas berasal dari rendaman biji kedelai atau kacang hijau yang kulitnya telah dikupas, dicampur dengan tepung kanji, air, daun pandan, dan gula. Setelah diolah, kuah menjadi kental dan berwarna bening. Saat disajikan, cakwe biasanya dipotong kecil-kecil dengan gunting. Rasanya manis dan ada sedikit asin dari cakwe, hidangan ini lebih nikmat disantap saat hangat.

Tak sulit menemukan makanan ini di Singkawang. Sebab, banyak penjual bubur gunting di gerobak-gerobak ditemukan di seluruh penjuru kota. Harga makanan ini pun terbilang murah-meriah lho, seporsinya hanya berkisar Rp5 ribuan. Salah satu penjual bubur gunting yang terkenal di Singkawang ialah Bubur Gunting Asun yang berlokasi di Jalan P. Antasari No.56, Pasiran.

Garang Asem, Hidangan Ayam Asam Pedas dari Grobogan

Chai kue

info gambar

Chai kue | @Puspa Mawarni168 Shutterstock


Biasanya kue lebih identik dengan makanan manis, seperti bolu, pukis, putu mayang, kue lapis, kue lumpur, atau kue pancong. Namun, di Singkawang, Kalimantan Barat, justru ada kue asin yang isiannya adalah sayuran.

Namanya chai kue atau biasa juga disebut choi pan. Kata chai kue sendiri berasal dari bahasa Tiongkok, yang artinya kue sayuran.

Bila dilihat dari tampilannya, chai kue agak mirip dengan pastel ukuran mini dengan tekstur serupa pangsit. Pada dasarnya, chai kue adalah kue asin kukus yang kulitnya terbuat dari tepung beras dan diisi sayur, kemudian diberi taburan bawang goreng renyah di bagian atas.

Untuk membuat chai kue, adonan tepung beras dibentuk bulat-bulat lalu dipipihkan. Kemudian diisi dengan irisan kucai, bengkuang, talas rebung, dan daun bawang. Setelah itu, kulit adonan dilipat dua setengah lingkaran, seperti membuat pastel. Untuk memasaknya, tinggal ditata di atas kukusan dan dikukus hingga matang.

Selain sayur, sebenarnya chai kue bisa diisi sesuai selera, bisa daging sapi, ayam, udang, dan ebi. Malah, ada juga chai kue yang tidak dikukus, melainkan dipanggang atau digoreng.

Kupat Jembut, Kuliner Khas Semarang yang Diperebutkan Anak-anak

Setelah matang, adonan chai kue tampak bening dan kenyal, bagian isinya cukup renyah dan rasanya gurih. Paling enak makan chai kue dengan cocolan saus sambal yang rasanya asam-pedas. Karena ukurannya kecil, makan chai kue tak cukup hanya satu. Biasanya seporsi chai kue dijual per 10 buah dengan harga satuan sekitar Rp1-2 ribu saja.

Umumnya, chai kue dibuat dadakan saat ada yang membeli agar masih hangat saat disantap. Ini karena bahannya sederhana dan membuatnya pun mudah. Namun, banyak juga chai kue yang sudah matang dan bisa langsung disantap.

Di Singkawang, ada satu tempat makan chai kue yang terkenal, yaitu Rumah Marga Tjia yang didirikan oleh Thjia Hiap Seng pada tahun 1902. Rumah yang jadi cagar budaya kota Singkawang ini menerima kunjungan tamu yang ingin mencoba kelezatan chai kue buatan keluarga Tjhia.

Nama Rumah Marga Tjia pun makin tersohor setelah jadi salah satu lokasi syuting film bertema kuliner “Aruna dan Lidahnya.”

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.jshttps://platform.instagram.com/en_US/embeds.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Advertisement
Click to comment

Wisata

Taman Nasional Kerinci Seblat Dibuka untuk Kunjungan Wisata dengan Prokes Ketat

Taman Nasional Kerinci Seblat Dibuka untuk Kunjungan Wisata dengan Prokes Ketat

[ad_1]

Taman Nasional Kerinci Seblat © Felineus Shutterstock


Di tengah kondisi PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) Jawa-Bali seperti sekarang ini, banyak tempat wisata terpaksa ditutup demi menekan tingkat penyebaran Covid-19. Meski demikian, ada tempat-tempat di luar Jawa-Bali yang tetap bisa dikunjungi untuk berwisata.

Menurut Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi Kementerian LHK, Nandang Prihadi, saat ini ada sejumlah taman nasional yang buka selama PPKM. Salah satunya adalah Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

Kata Nandang, kriteria membuka kembali kawasan untuk berwisata misalnya ada di zona aman dan ada rekomendasi dari Satgas. Selama PPKM, sebagian besar taman nasional di Jawa, Bali, dan 15 kabupaten dan kota lain ditutup. Namun, untuk yang berada di luar daerah tersebut, masih menerima kunjungan wisata dengan pembatasan pengunjung dan protokol kesehatan ketat yang wajib diikuti.

Sebagai salah satu taman nasional yang buka untuk kunjungan wisata, mari mengenal TNKS, taman nasional terbesar di Sumatra

TNKS berdiri di atas lahan dengan luas sekitar 1.375. 000 hektare. Saking luasnya, taman nasional ini secara administratif terletak di 14 kabupaten dan dua kota yang termasuk dalam 4 provinsi, yaitu Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Jambi, dan Bengkulu. Pada tahun 2004, kawasan ini dinobatkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO.

Berikut beberapa daya tarik unggulan di TNKS:

info gambar

Rafflesia arnoldii | @Mazur Travel Shutterstock


Pulau Padar di NTT Kembali Dibuka dan Siap Menyambut Kunjungan Wisatawan

Flora dan fauna di TNKS

TNKS memiliki beragam ekosistem, mulai dari hutan hujan dataran rendah, pegunungan, hutan pinus tropis alami, hutan rawa gambut, hingga danau air tawar. Kawasan ini menjadi habitat bagi sebagian besar burung-burung Sumatra yang jumlahnya lebih dari 371 jenis dengan 17 di antaranya merupakan spesies endemik Sumatra.

Di TNKS, wisatawan dapat melihat langsung berbagai fauna. Di sana, terdapat lebih dari 85 jenis mamalia, tujuh jenis primata, enam jenis amfibi, dan sepuluh jenis reptil. Fauna-fauna tersebut di antaranya adalah harimau Sumatra, badak Sumatra, gajah Sumatra, macan dahan, tapir melayu, dan beruang madu. Tentunya akan menjadi pengalaman tak terlupakan dapat melihat beragam satwa, terutama spesies endemik, langsung di habitatnya.

Untuk flora, ada sekitar 4.000 tumbuhan hidup di TNKS. Tercatat ada 300 jenis anggrek yang tumbuh di sana, mulai dari spesies bambu, kayu manis, rotan, dan edelweis. Bahkan, ada bunga-bunga dengan ukuran terbesar seperti Rafflesia Arnoldii, Rafflesia Hasseltii, tanaman unik kantong semar, dan ada Amorphophallus Titanum, bunga bangkai raksasa yang tingginya bisa mencapai 2-3 meter.

Menjelajah Taman Nasional Aketajawe Lolobata di Halmahera
Gunung Kerinci | @ATTOMY Shutterstock

info gambar

Gunung Kerinci | @ATTOMY Shutterstock


Objek wisata di TNKS

Kawasan TNKS tak hanya menjadi rumah bagi flora dan fauna. Di sana pun terdapat berbagai objek wisata yang menarik untuk dikunjungi. Wisatawan yang berlibur ke sana akan puas menjelajah taman nasional hingga alam di sekitarnya.

Salah satu tempat yang tersohor ialah Gunung Kerinci. Gunung tertinggi di Sumatra ini memiliki ketinggian hingga 3.805 mdpl. Pendaki akan disajikan pemandangan alam dengan aneka flora dan fauna mulai dari dataran rendah sampai ke puncak gunung. Untuk mendaki, kira-kira dibutuhkan waktu sekitar 2 hari satu malam dimulai dari jalur pendakian Kerisik Tuo.

Tak hanya gunung, TNKS juga terdiri dari mata air panas, sungai-sungai dengan aliran deras, gua, air terjun, hingga Danau Gunung Tujuh yang merupakan danau kaldera tertinggi di Asia Tenggara.

Ada pula Danau Kaco yang terkenal dengan keunikannya. Danau tersebut bisa mengeluarkan cahaya terang, terutama pada bulan purnama. Pada malam hari, warna air di danau ini berwarna hijau kebiruan yang jernih dan tampak berkilau. Bila berkunjung pada bulan purnama, bahkan pengunjung tak perlu membawa penerangan karena air di danau akan terang meski malah hari.

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Continue Reading

Wisata

Berwisata ke Kabupaten Siak yang Penuh Tempat Bersejarah

Berwisata ke Kabupaten Siak yang Penuh Tempat Bersejarah

[ad_1]

Istana Siak Sri Inderapura | © Rofi Adi Syabanto Shutterstock


Nama Kabupaten Siak mungkin masih tedengar asing. Siak merupakan kabupaten yang ada di Provinsi Riau, yang mungkin lebih terkenal dengan Kota Dumai dan Pekanbaru.

Pada zaman dahulu, kabupaten ini merupakan bagian dari Kesultanan Siak Sri Inderapura. Pada masa awal kemerdekaan Indonesia, Sultan Syarif Kasim II adalah Sultan Siak terakhir dan menyatakan bahwa kerajaannya bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan ditetapkan sebagai Kabupaten Siak pada tahun 1999 dengan ibu kota Siak Sri Indrapura.

Agar lebih mengenal Kabupaten Siak, cobalah mengunjunginya langsung bila ada kesempatan bertandang ke Provinsi Riau. Berikut rekomendasi objek wisata yang bisa didatangi:

Istana Siak Sri Inderapura

Pada tahun 1889, Istana Asserayah Hasyimiah dibangun sebagai kediaman resmi Sultan Siak pada masa pemerintahan Sultan Syarif Hasyim.

Istana yang merupakan peninggalan Kesultanan Siak Sri Inderapura ini memiliki luas 32 ribu meter persegi dan terdiri dari empat istana, yaitu Istana Siak, Istana Lima, Istana Padjang, dan Istana Baroe.

Bangunan dengan arsitektur bernuansa Melayu, Arab, dan Eropa ini terdiri dari dua lantai. Di bawah, ada ruang tunggu para tamu, ruang untuk ramu kehormatan, ruang tamu pria, ruang tamu wanita, serta ruang sidang kerajaan yang juga digunakan sebagai ruangan pesta.

Sedangkan di atas merupakan tempat untuk Sultan dan para tamu beristirahat. Pengunjung dapat melihat ada enam patung burung elang di puncak bangunan dan sebuah bangunan kecil di belakang istana yang dulunya difungsikan sebagai penjara.

Uniknya, di istana ini ada koleksi peninggalan kerajaan berupa perahu kuno bernama Kapal Kato. Dulunya, perahu tersebut digunakan sultan untuk bepergian ke daerah-daerah kekuasaannya.

Di dalam keraton juga terdapat peninggalan lain seperti singgasana raja, replika mahkota raja, alat makan keramik, hingga kursi kristal buatan tahun 1896.

Fakta Menarik Petirtaan Air Jolotundo, Punya Cerita Romantis Hingga Mitos Awet Muda

Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah

info gambar

Jembatan Tengku Agung Syarifah Latifah | @Imam Fahroji Shutterstock


Salah satu ikon Kabupaten Siak adalah Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah yang juga dikenal sebagai Jembatan Siak. Jembatan dengan panjang 1.196 meter dan lebar 16,95 meter ini membentang di atas Sungai Siak. Di kanan kirinya terdapat dua trotoar dengan lebar 2,25 meter. Ketinggiannya sekitar 23 meter di atas permukaan Sungai Siak.

Di atas jembatan, terdapat dua menara setinggi 80 meter yang digunakan sebagai diorama teater dan tempat makan, lengkap dengan lift untuk naik. Untuk penamaan jembatan ini diambil dari gelar Tengku Syarifah Mariam binti Fadyl, ratu Sultan Syarif Kasim II yang memerintah dari tahun 1915-1946.

Pulau Manimbora dan Labuan Cermin, Surga Tersembunyi di Kalimantan Timur

tarian belanda

Tangsi Belanda |  @Ahmad Bahrain Shutterstock

info gambar

Tangsi Belanda | @Ahmad Bahrain Shutterstock


Kabupaten Siak memang menjadi kawasan yang menyimpan berbagai tempat bersejarah. Salah satu yang menarik dikunjungi ialah Tangsi Belanda, sebuah bangunan jadul yang dulunya merupakan penjara.

Tangsi Belanda yang sudah berusia 160-an tahun ini berjarak sekitar 110 km dari Pekanbaru. Letak bangunan ini menghadap ke Sungai Siak dan dulunya digunakan sebagai benteng pertahanan tentara Belanda saat menjajah Indonesia. Pun terdapat ruangan-ruangan untuk penjara, asrama, kantor, serta gudang senjata dan logistik. Di depan gedung, masih ada sumur tua yang aktif, dapur, dan ruangan pos penjagaan.

Hingga saat ini, bangunan tersebut masih berdiri kokoh dan diperkirakan dibangun pada abad ke-18 pada masa pemerintahan Sultan Siak IX, Sultan Asy-Syaidis Syarif Ismail Abdul Jalil Jalaluddin yang memerintah dari tahun 1827-1864.

Pulau Padar di NTT Kembali Dibuka dan Siap Menyambut Kunjungan Wisatawan

Kuil Hock Siu Kiong

Kuil Hock Siu Kiong |  @Imam Fahroji Shutterstock

info gambar

Kuil Hock Siu Kiong | @Imam Fahroji Shutterstock


Jika ke Siak, jangan lewatkan mengunjungi Kelenteng Hock Siu Kiong di Jalan Sultan Syarif Kasim. Kelenteng yang terletak di tengah kota Siak Sri Indrapura dibangun tahun 1871 dan menjadi bangunan tertua yang ada di Siak.

Kelenteng ini merupakan tempat ibadah masyarakat Tionghoa di kota Siak yang masih aktif hingga saat ini, sekaligus jadi salah satu objek wisata karena arsitekturnya terbilang unik. Kelenteng ini memang memiliki keunikan dari segi bentuk, bahan, teknologi, pengerjaan, hingga ragam hias yang digunakan. Keberadaan bangunan ini dianggap sangat penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.

Bangunan yang didominasi warna merah menyala ini memang begitu mencolok. Kelenteng ini memiliki dua patung singa penjaga kelenteng dan di bagian dalamnya patung dewa-dewi berjajar rapi. Di sisi kanan-kiri, terdapat lukisan naga dan burung phoenix. Bila berjalan ke bagian luar, akan ada lukisan yang menceritakan legenda The Eight Immortals yang populer dalam mitologi Tiongkok.

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Continue Reading

Wisata

Pulau Padar di NTT Kembali Dibuka dan Siap Menyambut Kunjungan Wisatawan

Pulau Padar di NTT Kembali Dibuka dan Siap Menyambut Kunjungan Wisatawan

[ad_1]

Pulau Padar | © Pnnchen Shutterstock


Pulau Padar merupakan salah satu objek wisata yang ada di Nusa Tenggara Timur dan menjadi pulau ketiga terbesar di Taman Nasional Komodo (TNK), setelah Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Sebelumnya, pulau ini sempat ditutup sejak 5 Juli karena alasan pandemi. Namun, setelah 14 hari, Pulau Padar kembali dibuka untuk wisatawan.

Shana Fatina, Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), mengatakan kebijakan pembukaan kawasan wisata itu sudah mulai berlaku sejak Senin (19/7/2021).

Kini, wisatawan dapat kembali berlibur ke Pulau Padar. Namun, jangan lupa untuk mengikuti protokol kesehatan yang sudah ditetapkan BPOLBF dan juga Balai TNK.

Kata Shana, kuota kunjungan ke TNK dibatasi hanya 300 orang per hari karena jalur pendakian yang hanya ada satu dengan jarak 522 meter. Ada pula pembagian waktu masuk, yaitu 05.30-07.30, 8-10, dan 5.00-18.00 WITA.

“Pembagian jam masuk ini bertujuan untuk mengurangi penumpukan serta wisatawan di kawasan TN Komodo,” ujar Shana. “Wisatawan juga hanya diperbolehkan beraktivitas selama 10 menit dan juga diimbau agar selalu jaga jarak sekitar satu meter.”

Untuk mengunjungi Pulau Padar, setiap wisatawan akan melewati pengecekan suhu dan wajib menggunakan pelindung wajah.

info gambar

Facebook logo Facebook Daftar Facebook untuk terhubung dengan Pulau Padar @Yusnizam Yusof Shutterstock


Pulau Manimbora dan Labuan Cermin, Surga Tersembunyi di Kalimantan Timur

Daya Tarik Pulau Padar

Bila berwisata ke kawasan TNK, Pulau Padar menjadi salah satu tempat yang wajib dikunjungi. Lokasinya lebih dekat ke Pulau Rinca dibanding Pulau Komodo, yang dipisahkan oleh Selat Lintah. Pulau ini relatif aman bagi wisatawan karena tidak dihuni oleh komodo.

Pulau ini termasuk memiliki iklim yang kering dengan semak belukar, pepohonan, dan padang rumput yang menutupi pulau sehingga perbukitan sabana yang memanjakan mata. Di sana, terdapat empat teluk dalam dan pasir pantai dengan berbagai warna, dari putih, abu-abu, hingga merah muda.

Daya tarik utama Pulau Padar adalah pemandangannya yang memesona. Saat mengunjunginya, wisatawan akan menyaksikan kawasan perbukitan yang mengelilingi pulau. Ditambah lagi dengan hamparan pasir pantai yang luas berpadu dengan birunya air laut.

Mendaki puncak Pulau Padar memang tak mudah. Pengunjung harus berjalan kaki dengan jalur tanjakan yang cukup curam dengan kemiringan 45 derajat. Dari tempat perahu bersandar di pantai, kira-kira butuh waktu 30 menit untuk sampai di puncak. Namun, semua usaha yang melelahkan akan terbayar tuntas dengan suguhan lansekap bak lukisan dari atas sana.

Untuk mengunjungi Pulau Padar, waktu terbaiknya adalah pagi dan sore hari. Pada siang hari, matahari tentu lebih terik dan membuat perjalanan jadi lebih melelahkan. Jika datang sore hari, Anda berkesempatan untuk menikmati matahari terbenam di Pulau Padar.

Selain naik ke puncak, wisatawan juga bisa mengeksplor area pantai dan laut. Anda bisa menikmati waktu di Pulau Padar dengan berenang, snorkeling, hingga diving di sana. Apalagi, di sana terdapat sekitar 42 spot penyelaman. Jangan lewatkan menyelam dan berenang bersama hiu, pari manta, lumba-lumba, paus, dan penyu hijau!

Bertualang ke Pantai dan Gunung di Pulau Lingga Kepulauan Riau

Akses dan tip mengunjungi Pulau Padar

Lokasi Pulau Padar terdapat di Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Untuk sampai ke sana, Anda perlu melakukan penerbangan dari Denpasar dengan tujuan Labuan Bajo dengan waktu tempuh 30 menit. Setelah itu, lanjutkan perjalanan sampai ke Dermaga Loh Liang dan dari sana bisa naik kapal cepat ke Pulau Padar.

Karena biaya yang tergolong mahal bila harus menyewa kapal sendiri, wisatawan biasanya memanfaatkan jasa agen perjalanan dengan paket lengkap menjelajahi Labuan Bajo. Cara ini pun akan membuat Anda tak repot memikirkan transportasi, akomodasi, hingga makan selama berkeliling pulau. Pun, biayanya bisa jauh lebih terjangkau. Bahkan, bila hanya pergi sendiri atau rombongan kecil, bisa bergabung wisatawan lain lewat agen yang menyediakan paket open trip.

Untuk mengunjungi Pulau Padar, ada beberapa hal yang harus dipersiapkan. Tidak wajib, tetapi akan memudahkan perjalanan dan membuat Anda lebih nyaman. Misalnya, membawa tongkat hiking untuk membantu Anda mendaki dan memakai topi lebar serta kacamata hitam karena panas matahari begitu menyengat.

Gunakan pakaian dan alas kaki yang nyaman. Sebisa mungkin, gunakan sepatu olahraga atau sandal gunung karena Anda akan banyak berjalan kaki di sana. Untuk pakaian, sebaiknya pilih kaus dengan bahan yang dingin. Salah kostum pada akhirnya akan merepotkan diri sendiri.

Ketika naik ke puncak, jangan membawa barang terlalu banyak karena membuat beban Anda semakin berat. Namun, jangan lupa membawa minum sendiri agar tidak dehidrasi.

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Continue Reading

Trending Dari BuzzFeed

close