Connect with us

BENCANA ALAM

Lebih dari 300 Rumah di Jawa Timur Rusak Akibat Gempa

Lebih dari 300 Rumah di Jawa Timur Rusak Akibat Gempa


Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sabtu (10/4), melaporkan lebih dari 300 rumah di Jawa Timur rusak akibat gempa berkekuatan magnitudo 6,1 di Malang.

Berdasarkan data yang dihimpun BNPB dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di wilayah Jawa Timur, hingga pukul 20.00 WIB terdapat setidaknya 11 rumah rusak berat, 194 rumah rusak sedang dan 126 rusak ringan. Dalam situs webnya, Sabtu (10/4), BNPB menyebutkan gempa tersebut juga mengakibatkan kerusakan pada sejumlah fasilitas umum, antara lain 11 unit sarana pendidikan, tujuh kantor pemerintah, enam unit sarana ibadah, satu unit RSUD, dan sebuah pondok pesantren.

Selain merusak bangunan, gempa tersebut juga menelan korban jiwa. Hingga pukul 21.00 WIB, BNPB mencatat terdapat delapan orang meninggal dunia, satu orang luka berat dan 22 orang luka ringan.

Seorang pria membersihkan ruang sidang yang rusak akibat gempa bumi yang melanda laut 91 km tenggara Blitar, foto di Blitar, Jawa Timur, 10 April 2021. (Foto: Antara/Irfan Anshori via Reuters)

Seorang pria membersihkan ruang sidang yang rusak akibat gempa bumi yang melanda laut 91 km tenggara Blitar, foto di Blitar, Jawa Timur, 10 April 2021. (Foto: Antara/Irfan Anshori via Reuters)

Bencana gempa mengguncang Kota Malang, Jawa Timur, Sabtu (10/4), pada pukul 14.00 WIB. Pusat gempa berada di laut dengan jarak 96 km arah selatan Kota Kepanjen, Kabupaten Malang, dengan kedalaman 80 km. Sebelumnya, gempa tersebut diperkirakan mencapai skala 6,7, tetapi BMKG memutakhirkan parameter gempa menjadi 6,1.

Gempa tersebut berdampak pada delapan wilayah kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur, meliputi Kabupaten Lumajang, Kabupaten Malang, Kota Malang, Kabupaten Blitar, Kabupaten Tulungagung, Kabuapten Trenggalek, Kabupaten Kediri dan Kabupaten Jember.

Waspadai Fenomena

BNPB, mengutip keterangan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Sabtu (10/4), melaporkan episentrum gempa di Malang itu berdekatan dengan pusat gempa bumi yang telah merusak Jawa Timur pada tahun-tahun sebelumnya. Provinsi tersebut tercatat pernah mengalami gempa bumi pada tahun 1896, 1937, 1962, 1963, dan 1972.

Menurut Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, pengulangan gempa bumi yang terjadi di selatan Malang tersebut sekaligus menjadi fenomena yang patut diwaspadai.

“Gempa selatan Malang yang destruktif merupakan alarm untuk kita semua bahwa ancaman sumber gempa bumi subduksi lempeng selatan Jawa yang selama ini didengungkan oleh para ahli gempa adalah benar. Kita patut waspada,” jelas Daryono.

Berdasarkan hasil monitoring BMKG, setidaknya telah terjadi tiga kali gempa susulan (aftershock) dengan kekuatan kecil dan kurang dari magnitudo 4,0 yang tidak berdampak dan tidak dirasakan. [ah]



Source link

Advertisement
Click to comment

BENCANA ALAM

Proyek Pembangunan PLTA Miliki Keterlibatan atas Longsor di Batang Toru

Proyek Pembangunan PLTA Miliki Keterlibatan atas Longsor di Batang Toru


Kekhawatiran akan terjadinya bencana ekologi di areal proyek pembangunan PLTA Batang Toru yang selama ini telah diwanti-wanti oleh Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Sumatera Utara (Walhi Sumut), akhirnya benar terjadi. Longsor terjadi di areal proyek pembangunan PLTA Batang Toru, Kelurahan Wek 1, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumut, pada Kamis (29/4) sekitar pukul 18.30 WIB.

Direktur Eksekutif Walhi Sumut, Doni Latuparisa, mengatakan sejak awal proses pembangunan proyek PLTA Batang Toru, pihaknya sudah menyampaikan kekhawatiran adanya potensi ancaman terhadap ekosistem, keanekaragaman hayati, dan bencana alam.

Kamp utama PLTA Batang Toru di Desa Bulu Payung, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. (VOA/Anugrah Andriansyah)

Kamp utama PLTA Batang Toru di Desa Bulu Payung, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. (VOA/Anugrah Andriansyah)

Selama ini Walhi Sumut juga telah mengkritisi izin lingkungan yang dikeluarkan pengembang PLTA Batang Toru, yakni PT North Sumatra Hydro Energy (NSHE). Bukan hanya itu, Walhi Sumut juga telah menggugat izin lingkungan yang dikeluarkan pemerintah untuk proyek tersebut agar dikaji ulang dan dipertimbangkan. Namun, langkah Walhi Sumut itu belum membuahkan hasil.

“Kami sampaikan juga bahwa lokasi tersebut rentan terhadap bencana. Apakah itu gempa, longsor, dan banjir. Itu sudah kami sampaikan (ke pemerintah),” kata Doni kepada VOA, Sabtu (1/5).

Walhi Sumut menduga longsor yang terjadi di areal proyek pembangunan PLTA Batang Toru karena adanya keterlibatan campur tangan manusia sehingga menyebabkan bencana ekologi.

“Wilayah itu kawasan topografi dan konturnya labil. Ketika dilakukan pembukaan lahan atau dieksploitasi dan digunakan untuk kepentingan lain dikhawatirkan akan menyebabkan dampak tadi misalnya banjir, dan longsor,” ujar Doni.

Bukan tanpa alasan proyek pembangunan PLTA Batang Toru menjadi salah satu faktor penyebab bencana ekologi di wilayah tersebut. Pada awal Desember 2020, kejadian serupa juga terjadi di kawasan ini. Saat itu, satu alat berat jenis ekskavator beserta operatornya hilang tertimpa material longsoran.

Walhi Sumut menuding PT NSHE minim mitigasi kebencanaan terkait pembangunan PLTA Batang Toru. Atas hal tersebut, Walhi Sumut merekomendasikan agar pemerintah segera mengevaluasi izin pembangunan proyek yang beroperasi di lanskap Batang Toru.

“Setelah dievaluasi, dilakukan mitigasi bencana di wilayah tersebut. Kemudian apa upaya dari pemerintah dan pengembang untuk mitigasi serta melakukan adaptasi terhadap bencana-bencana yang akan terjadi,” jelas Doni.

Lanjut Doni, kekhawatiran akan terjadinya longsor di lokasi tersebut membuat pemerintah harus segera melakukan mitigasi secara komprehensif.

Proses pencarian dan evakuasi korban longsor di areal proyek pembangunan PLTA Batang Toru, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Jumat 30 April 2021. (Courtesy: BPBD Tapanuli Selatan)

Proses pencarian dan evakuasi korban longsor di areal proyek pembangunan PLTA Batang Toru, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Jumat 30 April 2021. (Courtesy: BPBD Tapanuli Selatan)

“Kami juga meminta kepada pemerintah melakukan bagaimana semestinya peruntukan kawasan hutan ini digunakan untuk kepentingan pelestarian alam dan ekosistem bukan bisnis,” ucapnya.

Sementara itu , Humas Kantor Basarnas Medan, Sariman Sitorus, mengatakan longsor yang terjadi di areal proyek pembangunan PLTA Batang Toru mengakibatkan tiga orang meninggal dunia. Sedangkan, 10 orang lainnya masih dalam proses pencarian hingga Sabtu (1/5).

“Untuk data yang kami terima cuma itu. Kami masih wanti-wanti apakah nanti ada laporan kehilangan lagi atau bahkan data itu valid apa tidak. Masih itu data yang masuk ke kami,” katanya kepada VOA.

Berdasarkan data dari Basarnas Medan, korban meninggal dunia yang ditemukan, yakni EW, JG, dan RG. Sedangkan 10 orang lainnya masih hilang termasuk karyawan dari perusahaan pengembang PLTA Batang Toru asal China yakni Long Quan.

Proses pencarian dan evakuasi korban longsor di areal proyek pembangunan PLTA Batang Toru, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Jumat 30 April 2021. (Courtesy: BPBD Tapanuli Selatan)

Proses pencarian dan evakuasi korban longsor di areal proyek pembangunan PLTA Batang Toru, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Jumat 30 April 2021. (Courtesy: BPBD Tapanuli Selatan)

Sebelumnya, juru bicara Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan, Ismuth Siregar, mengatakan kejadian ini murni bencana alam akibat tingginya curah hujan selama tiga hari berturut-turut sehingga kejadian tersebut tidak ada kaitannya dengan aktivitas di PLTA Batang Toru.

“Akibat curah hujan yang cukup tinggi, sebagai tanggung jawab moral pihak manajemen PLTA Batang Toru (NSHE dan Sinohydro) menuju lokasi tersebut dengan harapan pemilik rumah dapat meninggalkan lokasi akibat curah hujan yang cukup tinggi. Namun nasib nahas tiga orang karyawan telah mengalami korban akibat longsor tersebut dan sampai saat ini masih dalam tahap pencarian,” kata Ismuth melalui keterangan resminya, Jumat (30/5).

Sementara, Myrna Soeryo dari A+ PR Consultant yang mewakili NHSE, enggan memberikan tanggapan terkait tudingan dari Walhi Sumut terkait keterlibatan proyek PLTA Batang Toru dalam kejadian longsor tersebut.

“Silakan mengacu kepada kronologis dan keterangan resmi dari NSHE ya. Humas Pemda juga sudah mengeluarkan pernyataan resmi bahwa ini bencana alam,” katanya saat dikonfirmasi VOA, Sabtu (1/5).

Sementara, Communication and External Affairs Director PT NSHE, Firman Taufick, melalui keterangan resmi tertulisnya menjelaskan kronologis terjadinya longsor di jalan R17 K4+100 Bridge 6, lokasi proyek pembangunan PLTA Batang Toru. Karyawan asal China juga menjadi korban dalam bencana itu.

“Kejadian bermula saat karyawan K3 Sinohydro bernama Dolan Sitompul menemani dua orang bernama Long Quan dan Xie, pada 18.10 WIB mengendarai sebuah mobil proyek double cabin untuk mengecek dan mendokumentasikan terjadinya banjir lumpur setinggi 50 sentimeter yang terjadi pada pukul 16.30 WIB di jalan R17 K4+100 Bridge 6,” kata Firman.

Pengecekan dilakukan setelah hujan lebat mengguyur lokasi proyek sejak siang.

Pihak Sinohydro mencurigai banjir lumpur di lokasi ini akan menyebabkan longsor sehingga pengecekan diperlukan agar dapat menyiapkan alat berat untuk mengatasinya. Setelah melakukan pengecekan dan mengambil dokumentasi sekitar pukul 18.20 WIB terjadi bencana longsor yang langsung menimpa dan menimbun para karyawan Sinohydro tersebut.

Salah satu surga tersembunyi di dalam kawasan hutan Batang Toru yakni air terjun Aek Bulu Poltak, 12 Maret 2019. (Anugrah Andriansyah)

Salah satu surga tersembunyi di dalam kawasan hutan Batang Toru yakni air terjun Aek Bulu Poltak, 12 Maret 2019. (Anugrah Andriansyah)

“Namun Xie yang sempat melihat adanya longsoran berhasil melompat keluar dari dalam mobil dan lari menyelamatkan diri. Sementara rekannya, Long Quan dan Dolan Sitompul tergulung tanah longsor,” ujar Firman.

Masih kata Firman, longsoran tanah itu terus meluncur dan menyapu sebuah warung milik seorang warga yang tepat berada di bawahnya. Saat ini tim teknis lapangan sedang menelusuri korban longsor yang berada di dalam kedai milik tersebut.

“Hingga saat ini kami masih menunggu informasi lebih lanjut dari tim teknis lapangan mengenai upaya pencarian maupun situasi di lokasi,” ujarnya.

Seperti diketahui, secara administrasi kawasan hutan Batang Toru terletak di tiga kabupaten, yaitu Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan dan Tapanuli Utara. Luas kawasan hutan Batang Toru diperkirakan mencapai 168.658 hektar yang di dalamnya termasuk hutan lindung Sibolga seluas 1.875 hektar. Lalu, Cagar Alam Dolok Sipirok seluas 6.970 hektar dan Cagar Alam Sibual-buali seluas 5.000 hektar.

PLTA Batang Toru di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara (Foto: Courtesy batangtoru.org).

PLTA Batang Toru di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara (Foto: Courtesy batangtoru.org).

Kawasan hutan Batang Toru meliputi hutan Batang Toru blok barat dan blok timur dengan total habitat alami yang ada diperkirakan seluas 120 ribu hektar.

Walhi Sumut telah melakukan advokasi penyelamatan hutan Batang Toru semenjak hadirnya industri ekstraktif di kawasan tersebut seperti tambang, perkebunan dan pembangunan PLTA Batang Toru. Terkait pembangunan PLTA Batang Toru, Walhi Sumut telah melakukan advokasi terhadap keberadaan lokasi pembangunan proyek tersebut mulai tahun 2017 hingga 2021. Pada tahun 2018 Walhi melayangkan gugatan di Pengadilan Tata Usaha Negara Medan terkait izin lingkungan pembangunan PLTA Batang Toru. [aa/ah]

Continue Reading

BENCANA ALAM

Walhi Sumut: Proyek Pembangunan PLTA Berkontribusi atas Longsor di Batang Toru

Proyek Pembangunan PLTA Miliki Keterlibatan atas Longsor di Batang Toru


Kekhawatiran akan terjadinya bencana ekologi di areal proyek pembangunan PLTA Batang Toru yang selama ini telah diwanti-wanti oleh Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Sumatera Utara (Walhi Sumut), akhirnya benar terjadi. Longsor terjadi di areal proyek pembangunan PLTA Batang Toru, Kelurahan Wek 1, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumut, pada Kamis (29/4) sekitar pukul 18.30 WIB.

Direktur Eksekutif Walhi Sumut, Doni Latuparisa, mengatakan sejak awal proses pembangunan proyek PLTA Batang Toru, pihaknya sudah menyampaikan kekhawatiran adanya potensi ancaman terhadap ekosistem, keanekaragaman hayati, dan bencana alam.

Kamp utama PLTA Batang Toru di Desa Bulu Payung, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. (VOA/Anugrah Andriansyah)

Kamp utama PLTA Batang Toru di Desa Bulu Payung, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. (VOA/Anugrah Andriansyah)

Selama ini Walhi Sumut juga telah mengkritisi izin lingkungan yang dikeluarkan pengembang PLTA Batang Toru, yakni PT North Sumatra Hydro Energy (NSHE). Bukan hanya itu, Walhi Sumut juga telah menggugat izin lingkungan yang dikeluarkan pemerintah untuk proyek tersebut agar dikaji ulang dan dipertimbangkan. Namun, langkah Walhi Sumut itu belum membuahkan hasil.

“Kami sampaikan juga bahwa lokasi tersebut rentan terhadap bencana. Apakah itu gempa, longsor, dan banjir. Itu sudah kami sampaikan (ke pemerintah),” kata Doni kepada VOA, Sabtu (1/5).

Walhi Sumut menduga longsor yang terjadi di areal proyek pembangunan PLTA Batang Toru karena adanya keterlibatan campur tangan manusia sehingga menyebabkan bencana ekologi.

“Wilayah itu kawasan topografi dan konturnya labil. Ketika dilakukan pembukaan lahan atau dieksploitasi dan digunakan untuk kepentingan lain dikhawatirkan akan menyebabkan dampak tadi misalnya banjir, dan longsor,” ujar Doni.

Bukan tanpa alasan proyek pembangunan PLTA Batang Toru menjadi salah satu faktor penyebab bencana ekologi di wilayah tersebut. Pada awal Desember 2020, kejadian serupa juga terjadi di kawasan ini. Saat itu, satu alat berat jenis ekskavator beserta operatornya hilang tertimpa material longsoran.

Walhi Sumut menuding PT NSHE minim mitigasi kebencanaan terkait pembangunan PLTA Batang Toru. Atas hal tersebut, Walhi Sumut merekomendasikan agar pemerintah segera mengevaluasi izin pembangunan proyek yang beroperasi di lanskap Batang Toru.

“Setelah dievaluasi, dilakukan mitigasi bencana di wilayah tersebut. Kemudian apa upaya dari pemerintah dan pengembang untuk mitigasi serta melakukan adaptasi terhadap bencana-bencana yang akan terjadi,” jelas Doni.

Lanjut Doni, kekhawatiran akan terjadinya longsor di lokasi tersebut membuat pemerintah harus segera melakukan mitigasi secara komprehensif.

Proses pencarian dan evakuasi korban longsor di areal proyek pembangunan PLTA Batang Toru, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Jumat 30 April 2021. (Courtesy: BPBD Tapanuli Selatan)

Proses pencarian dan evakuasi korban longsor di areal proyek pembangunan PLTA Batang Toru, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Jumat 30 April 2021. (Courtesy: BPBD Tapanuli Selatan)

“Kami juga meminta kepada pemerintah melakukan bagaimana semestinya peruntukan kawasan hutan ini digunakan untuk kepentingan pelestarian alam dan ekosistem bukan bisnis,” ucapnya.

Sementara itu , Humas Kantor Basarnas Medan, Sariman Sitorus, mengatakan longsor yang terjadi di areal proyek pembangunan PLTA Batang Toru mengakibatkan tiga orang meninggal dunia. Sedangkan, 10 orang lainnya masih dalam proses pencarian hingga Sabtu (1/5).

“Untuk data yang kami terima cuma itu. Kami masih wanti-wanti apakah nanti ada laporan kehilangan lagi atau bahkan data itu valid apa tidak. Masih itu data yang masuk ke kami,” katanya kepada VOA.

Berdasarkan data dari Basarnas Medan, korban meninggal dunia yang ditemukan, yakni EW, JG, dan RG. Sedangkan 10 orang lainnya masih hilang termasuk karyawan dari perusahaan pengembang PLTA Batang Toru asal China yakni Long Quan.

Proses pencarian dan evakuasi korban longsor di areal proyek pembangunan PLTA Batang Toru, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Jumat 30 April 2021. (Courtesy: BPBD Tapanuli Selatan)

Proses pencarian dan evakuasi korban longsor di areal proyek pembangunan PLTA Batang Toru, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Jumat 30 April 2021. (Courtesy: BPBD Tapanuli Selatan)

Sebelumnya, juru bicara Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan, Ismuth Siregar, mengatakan kejadian ini murni bencana alam akibat tingginya curah hujan selama tiga hari berturut-turut sehingga kejadian tersebut tidak ada kaitannya dengan aktivitas di PLTA Batang Toru.

“Akibat curah hujan yang cukup tinggi, sebagai tanggung jawab moral pihak manajemen PLTA Batang Toru (NSHE dan Sinohydro) menuju lokasi tersebut dengan harapan pemilik rumah dapat meninggalkan lokasi akibat curah hujan yang cukup tinggi. Namun nasib nahas tiga orang karyawan telah mengalami korban akibat longsor tersebut dan sampai saat ini masih dalam tahap pencarian,” kata Ismuth melalui keterangan resminya, Jumat (30/5).

Sementara, Myrna Soeryo dari A+ PR Consultant yang mewakili NHSE, enggan memberikan tanggapan terkait tudingan dari Walhi Sumut terkait keterlibatan proyek PLTA Batang Toru dalam kejadian longsor tersebut.

“Silakan mengacu kepada kronologis dan keterangan resmi dari NSHE ya. Humas Pemda juga sudah mengeluarkan pernyataan resmi bahwa ini bencana alam,” katanya saat dikonfirmasi VOA, Sabtu (1/5).

Sementara, Communication and External Affairs Director PT NSHE, Firman Taufick, melalui keterangan resmi tertulisnya menjelaskan kronologis terjadinya longsor di jalan R17 K4+100 Bridge 6, lokasi proyek pembangunan PLTA Batang Toru. Karyawan asal China juga menjadi korban dalam bencana itu.

“Kejadian bermula saat karyawan K3 Sinohydro bernama Dolan Sitompul menemani dua orang bernama Long Quan dan Xie, pada 18.10 WIB mengendarai sebuah mobil proyek double cabin untuk mengecek dan mendokumentasikan terjadinya banjir lumpur setinggi 50 sentimeter yang terjadi pada pukul 16.30 WIB di jalan R17 K4+100 Bridge 6,” kata Firman.

Pengecekan dilakukan setelah hujan lebat mengguyur lokasi proyek sejak siang.

Pihak Sinohydro mencurigai banjir lumpur di lokasi ini akan menyebabkan longsor sehingga pengecekan diperlukan agar dapat menyiapkan alat berat untuk mengatasinya. Setelah melakukan pengecekan dan mengambil dokumentasi sekitar pukul 18.20 WIB terjadi bencana longsor yang langsung menimpa dan menimbun para karyawan Sinohydro tersebut.

Salah satu surga tersembunyi di dalam kawasan hutan Batang Toru yakni air terjun Aek Bulu Poltak, 12 Maret 2019. (Anugrah Andriansyah)

Salah satu surga tersembunyi di dalam kawasan hutan Batang Toru yakni air terjun Aek Bulu Poltak, 12 Maret 2019. (Anugrah Andriansyah)

“Namun Xie yang sempat melihat adanya longsoran berhasil melompat keluar dari dalam mobil dan lari menyelamatkan diri. Sementara rekannya, Long Quan dan Dolan Sitompul tergulung tanah longsor,” ujar Firman.

Masih kata Firman, longsoran tanah itu terus meluncur dan menyapu sebuah warung milik seorang warga yang tepat berada di bawahnya. Saat ini tim teknis lapangan sedang menelusuri korban longsor yang berada di dalam kedai milik tersebut.

“Hingga saat ini kami masih menunggu informasi lebih lanjut dari tim teknis lapangan mengenai upaya pencarian maupun situasi di lokasi,” ujarnya.

Seperti diketahui, secara administrasi kawasan hutan Batang Toru terletak di tiga kabupaten, yaitu Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan dan Tapanuli Utara. Luas kawasan hutan Batang Toru diperkirakan mencapai 168.658 hektar yang di dalamnya termasuk hutan lindung Sibolga seluas 1.875 hektar. Lalu, Cagar Alam Dolok Sipirok seluas 6.970 hektar dan Cagar Alam Sibual-buali seluas 5.000 hektar.

PLTA Batang Toru di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara (Foto: Courtesy batangtoru.org).

PLTA Batang Toru di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara (Foto: Courtesy batangtoru.org).

Kawasan hutan Batang Toru meliputi hutan Batang Toru blok barat dan blok timur dengan total habitat alami yang ada diperkirakan seluas 120 ribu hektar.

Walhi Sumut telah melakukan advokasi penyelamatan hutan Batang Toru semenjak hadirnya industri ekstraktif di kawasan tersebut seperti tambang, perkebunan dan pembangunan PLTA Batang Toru. Terkait pembangunan PLTA Batang Toru, Walhi Sumut telah melakukan advokasi terhadap keberadaan lokasi pembangunan proyek tersebut mulai tahun 2017 hingga 2021. Pada tahun 2018 Walhi melayangkan gugatan di Pengadilan Tata Usaha Negara Medan terkait izin lingkungan pembangunan PLTA Batang Toru. [aa/ah]



Source link

Continue Reading

BENCANA ALAM

Longsor di Areal Proyek PLTA Batang Toru, 3 Meninggal

Longsor di Areal Proyek PLTA Batang Toru, 3 Meninggal


Hotmatua Rambe, Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapanuli Selatan, Sumatera Utara (Sumut), mengatakan tiga orang meninggal tertimbun longsor yang terjadi di areal proyek pembangunan PLTA Batang Toru pada Kamis (29/4). Sembilan orang masih dalam pencarian.

Longsor terjadi pada Kamis (29/4) sekitar pukul 18.30 WIB setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur kawasan Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumut.

“Sampai sekarang sudah dapat tiga orang masyarakat terdiri dari satu perempuan, dan dua anak-anak. Kami bawa (evakuasi) ke RSUD Sipirok,” kata Hotmatua, Jumat (30/4).

Proses pencarian dan evakuasi korban longsor di areal proyek pembangunan PLTA Batang Toru, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Jumat 30 April 2021. (Courtesy: BPBD Tapanuli Selatan)

Proses pencarian dan evakuasi korban longsor di areal proyek pembangunan PLTA Batang Toru, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Jumat 30 April 2021. (Courtesy: BPBD Tapanuli Selatan)

Hotmatua menjelaskan, tim gabungan BPBD Tapanuli Selatan, TNI, Polri, dan pihak dari PLTA Batang Toru, melanjutkan pencarian terhadap para korban lainnya yang diduga masih tertimbun material longsoran pada Jumat (30/4) pagi.

“Tadi malam sudah sepakat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Tapanuli Selatan, kebetulan sudah malam, maka tadi pagi pukul 07.30 WIB kami buat tahapan upaya pencarian,” jelasnya.

Humas Kantor Basarnas Medan, Sariman Sitorus, mengatakan tiga korban yang meninggal dunia ditemukan pukul 08.30 WIB, pagi tadi. Pada saat kejadian, material longsoran menimbun satu warung yang berada di areal proyek PLTA Batang Toru, mengakibatkan 12 orang tertimbun.

Karyawan dari perusahaan North Sumatra Hydro Energy (NSHE) dan Sinohydro yang merupakan pengembang proyek PLTA Batang Toru, juga turut menjadi korban.

“Total korban 12 orang. Tiga telah ditemukan jadi yang masih dicari sembilan orang,” katanya kepada VOA.

Saat ini tim gabungan masih melakukan pencarian korban di lokasi terjadinya longsor.

Sementara, Communication and External Affairs Director PT NSHE, Firman Taufick, melalui keterangan resmi tertulisnya menjelaskan kronologis terjadinya longsor di jalan R17 K4+100 Bridge 6, lokasi proyek pembangunan PLTA Batang Toru. Karyawan asal China juga menjadi korban dalam bencana itu.

“Kejadian bermula saat karyawan K3 Sinohydro bernama Dolan Sitompul menemani dua orang bernama Long Quan dan Xie, pada 18.10 WIB mengendarai sebuah mobil proyek double cabin untuk mengecek dan mendokumentasikan terjadinya banjir lumpur setinggi 50 sentimeter yang terjadi pada pukul 16.30 WIB di jalan R17 K4+100 Bridge 6,” kata Firman.

Pengecekan dilakukan setelah hujan lebat mengguyur lokasi proyek sejak siang.

Proses pencarian dan evakuasi korban longsor di areal proyek pembangunan PLTA Batang Toru, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Jumat 30 April 2021. (Courtesy: BPBD Tapanuli Selatan)

Proses pencarian dan evakuasi korban longsor di areal proyek pembangunan PLTA Batang Toru, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Jumat 30 April 2021. (Courtesy: BPBD Tapanuli Selatan)

Pihak Sinohydro mencurigai banjir lumpur di lokasi ini akan menyebabkan longsor sehingga pengecekan diperlukan agar dapat menyiapkan alat berat untuk mengatasinya. Setelah melakukan pengecekan dan mengambil dokumentasi sekitar pukul 18.20 WIB terjadi bencana longsor yang langsung menimpa dan menimbun para karyawan Sinohydro tersebut.

“Namun Xie yang sempat melihat adanya longsoran berhasil melompat keluar dari dalam mobil dan lari menyelamatkan diri. Sementara rekannya, Long Quan dan Dolan Sitompul tergulung tanah longsor,” ujar Firman.

Masih kata Firman, longsoran tanah itu terus meluncur dan menyapu sebuah warung milik seorang warga yang tepat berada di bawahnya. Saat ini tim teknis lapangan sedang menelusuri korban longsor yang berada di dalam kedai milik tersebut.

“Hingga saat ini kami masih menunggu informasi lebih lanjut dari tim teknis lapangan mengenai upaya pencarian maupun situasi di lokasi,” ujarnya.

Firman mengatakan apparat TNI Koramil Sipirok dan Polsek Sipirok sudah berada di lokasi longsor sejak malam untuk membantu pencarian korban. [aa/ft]

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending Dari BuzzFeed

close