Connect with us

VIRUS CORONA

Lebih Banyak Vaksin Bukan Jawaban Lonjakan Pandemi di Michigan

Lebih Banyak Vaksin Bukan Jawaban Lonjakan Pandemi di Michigan



Tim Tanggapan COVID-19 Gedung Putih hari Senin (12/4) mengatakan lebih banyak vaksin bukan jawaban terhadap lonjakan kasus baru virus corona di negara bagian Michigan.

Pernyataan itu disampaikan sehari setelah Gubernur Michigan Gretchen Whitmer bicara di program “Face the Nation” dan menyerukan kepada Gedung Putih untuk mengubah rencana distribusi vaksin ke negara-negara bagian – yang saat ini didasarkan pada jumlah penduduk yang ada – guna membantu negara-negara bagian memperlambat perebakan virus mematikan itu.

Michigan saat ini memiliki tingkat perebakan COVID-19 tertinggi di Amerika dan jumlah orang yang dirawat di rumah sakit hampir melumpuhkan sistem layanan kesehatan mereka.

Tetapi, berbicara dalam konperensi pers singkat secara virtual di Gedung Putih Selasa lalu (6/4), Direktur Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS (CDC) Rochelle Walensky mengatakan dibutuhkan waktu antara 2-6 minggu untuk melihat dampak vaksin.

Walensky mengatakan cara terbaik untuk mengatasi situasi di Michigan adalah “menghentikan seluruh kegiatan,” cara yang dilakukan Amerika ketika pandemi pertama kali merebak setahun lalu.

Gretchen Whitmer, yang seorang Demokrat, sejauh ini telah menyerukan penangguhan dimulainya kembali pembelajaran tatap muka untuk siswa SMA, juga untuk kegiatan olahraga remaja dan makan di dalam restoran atau indoor dining. Tetapi ia belum benar-benar mewujudkan pembatasan baru apapun. Tahun lalu ia dikritik tajam oleh anggota-anggota Partai Republik di dewan legislatif negara bagian itu karena langkah-langkah yang diambilnya.

Sejauh ini Michigan masih menerapkan kewajiban mengenakan masker dan pembatasan jumlah orang dalam kegiatan atau pertemuan di luar ruangan, namun Whitmer tidak mengesampingkan kemungkinan pembatasan lebih jauh.

Penasehat Senior Gedung Putih Untuk Penanganan COVID-19 Andy Slavitt mengatakan pemerintah telah mengirim lebih banyak personil Badan Manajemen Darurat Federal FEMA ke Michigan untuk mempercepat proses vaksinasi. Pihaknya juga mengirim lebih banyak diagnosa hasil uji medis COVID-19 dan membuka lebih banyak fasilitas pengujian.

Pemerintah juga bersiap mengirim lebih banyak perawatan teraputik akibat COVID-19. [em/jm]



Source link

Advertisement
Click to comment

VIRUS CORONA

AS Setujui Vaksin Pfizer untuk Remaja

AS Setujui Vaksin Pfizer untuk Remaja



Badan Urusan Pangan dan Obat-Obatan Amerika Serikat (Food and Drugs Administration/FDA), Senin (10/5), mengeluarkan otorisasi vaksin COVID-19 yang dikembangkan Pfizer-BioNTech untuk digunakan oleh remaja berusia paling muda 12 tahun. Langkah itu memperluas kelompok warga yang memenuhi syarat untuk divaksinasi.

FDA mengatakan vaksin itu aman dan efektif bagi remaja berusia 12-15 tahun. Sebelumnya vaksin yang sama tersedia untuk penggunaan darurat bagi anak berusia 16 tahun dan yang lebih tua.

“Langkah hari ini memungkinkan populasi yang lebih muda untuk mendapat perlindungan dari COVID-19, membuat kita semakin dekat untuk memulai kembali kehidupan normal dan mengakhiri pandemi ini,” ujar penjabat komisioner sementara FDA Janet Woodcock dalam sebuah pernyataan.

Vaksin Pfizer ini adalah vaksin pertama di Amerika yang disetujui untuk orang yang berusia lebih muda. Persetujuan itu diberikan ketika pejabat-pejabat Amerika berupaya memvaksinasi lebih banyak warga dan tampaknya akan mendorong jutaan siswa SMP dan SMA untuk mencoba divaksinasi sebelum kembali ke sekolah pada musim gugur nanti.

Meskipun anak-anak yang terjangkit COVID-19 umumnya hanya memiliki gejala ringan atau bahkan tanpa gejala sama sekali, mereka masih dapat menularkan virus itu pada orang lain.

Pfizer pada Maret lalu merilis hasil kajian pendahuluan dari uji coba vaksin yang melibatkan lebih dari 2.000 sukarelawan berusia 12-15 tahun. Uji coba itu menunjukkan tidak satu pun remaja yang telah divaksinasi penuh mengidap COVID-19 atau mengalami efek samping yang serius. [em/mg/pp]



Source link

Continue Reading

VIRUS CORONA

Jumlah Kasus Global Virus Corona Mandek

Jumlah Kasus Global Virus Corona Mandek



Dirjen Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan badan itu melihat jumlah kasus virus corona global mandek. Jumlah kasus di Amerika dan Eropa, dua wilayah yang paling terimbas, malah menunjukkan penurunan.

Pada briefing Senin, Ghebreyesus mengatakan ia menyambut “setiap penurunan” tetapi memperingatkan “kita pernah dalam situasi ini.” Ia menyarankan negara-negara agar tidak terlalu cepat melonggarkan pembatasan kesehatan masyarakat. Ia mengatakan, sejauh ini negara-negara berkembang baru mencatat sekitar 7% dari ratusan juta vaksinasi COVID-19.

Menurut Dirjen WHO, vaksin mencegah penyakit, tetapi kita juga bisa mencegah penularan dengan langkah kesehatan masyarakat yang sudah sangat efektif di banyak tempat. Pesannya kepada para pemimpin adalah lakukan setiap langkah untuk menurunkan angka penularan sekarang juga.

Ia menambahkan, bahkan negara-negara dengan tren epidemi yang menurun harus mempersiapkan kemungkinan bahwa varian baru dapat membatalkan kemajuan yang dicapai dalam vaksinasi.[ka/lt]



Source link

Continue Reading

VIRUS CORONA

2 Varian Virus Corona yang Sangat Menular Ditemukan di Afrika Selatan

2 Varian Virus Corona yang Sangat Menular Ditemukan di Afrika Selatan



Pejabat-pejabat Afrika Selatan mengatakan dua varian virus corona yang sangat menular kini ditemukan di negara itu, sementara negara di Afrika yang paling terimbas pandemi itu bersiap akan kemungkinan lonjakan kasus baru.

Pejabat-pejabat dari Institut Nasional untuk Penyakit Menular mengumumkan Minggu malam bahwa mereka telah mendeteksi varian B.1.617.2 dan B.1.1.7 di antara populasi Afrika Selatan.

Dengan hanya di bawah 1,6 juta kasus yang terkonfirmasi, Afrika Selatan memimpin benua itu dalam penularan virus corona. Dari jumlah tersebut, sudah hampir 55.000 orang meninggal.

B.1.617.2 adalah salah satu varian yang saat ini menyebar di India. Pusat Data Virus Corona Johns Hopkins mengatakan 22,6 juta kasus COVID-19 telah dilaporkan, namun para pakar kesehatan memperingatkan bahwa mereka yakin jumlah kasus dan kematian yang sebenarnya di India jauh lebih banyak.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan varian virus corona di India sebagai ‘mengkhawatirkan.’ [ka/lt]



Source link

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending Dari BuzzFeed

close