Connect with us

HEADLINE

Lauw, Roti Legendaris dengan Gerobak Dorong yang Khas

Lauw, Roti Legendaris dengan Gerobak Dorong yang Khas


Saat anda sedang berjalan di kawasan Stasiun Gondangdia hingga Cikini. Pastinya anda pernah melihat deretan penjaja roti yang mendorongnya dengan gerobak. Roti Lauw, tertera dalam nama gerobak jajanan yang begitu dikenali oleh masyarakat. Bukan sekadar dikenali, roti ini ternyata sudah bertahan hingga puluhan tahun.

Roti Lauw sudah ada sejak tahun 1940, dan Lau Tjoan To mengawali usaha ini dengan membuat sendiri rotinya, dan menjualnya dengan gerobak. Setelah pamornya naik, pada 1948, ia membuka toko di Gondangdia. Berdasarkan brosur tua, Roti Lauw, yang menjadi koleksi Museum Pustaka Peranakan Tionghoa, mendapatkan informasi jika roti tersebut adalah langganan Istana Kepresidenan Bogor.

Lau Tjoan To atau dikenal dengan nama Junus Jahja memang lahir dari keluarga pembuat roti. Ayahnya Lau Lok Soei memiliki pabrik roti di Mester bernama insulide.

Lauw, sempat jadi brand roti idola. Apalagi, ketika toko-toko roti Lauw mulai berdiri tahun 1980-an. Aneka varian rasanya tak jauh berbeda dengan Tan EK Tjoan, tetapi Lauw tetap punya rasa khas sendiri. Sayang, sekarang ruang gerak bisnis roti satu ini tak selebar dulu.

Roti Lauw dan citarasanya

Ketenaran Roti Lauw bukan saja karena citarasanya, melainkan karena keawetannya yang sanggup disimpan selama tiga hari dan tetap tidak berubah rasanya apalagi menjadi bulukan. Salah satu jenis roti yang paling digemari konsumen adalah roti gambang.

Cita rasa roti yang padat, keras, dan berwarna kecokelatan itu memang akan membuat siapapun jadi bernostalgia. Tentunya roti ini bisa jadi alternatif mengganjal perut, sebab kolaborasi kayu manis, gula merah, dan. Taburan kacang wijen membuat perut kenyang dan puas.

Sejak dahulu Pabrik Roti Lauw memang terkenal mampu menerima pesanan “roti buaya” yang menjadi persyaratan utama setiap acara lamaran perkawinan orang Betawi. Mereka juga yang mula-mula memperkenalkan roti buaya dengan isi coklat

Lauw, yang saat ini dikelola oleh generasi ketiga keluarga Lau Tjoan To, masih menjaga cita rasanya sebagai roti jadul. Ronico Yuswari, penerus generasi kedua Lauw Bakery, menuturkan kepada Bakerymagazine, bahwa resep dan tampilan roti dari dahulu hingga kini masih sama.

Memang seiring perkembangan waktu dan produk makanan, Roti Lauw juga melakukan inovasi sehingga hadir banyak pilihan rasa. Ada rasa keju, mocca, pisang keju, kacang, dan masih banyak lainnya.

Pasukan gerobak keliling legendaris

Sejak awal Roti Lauw memang terkenal dengan penjualan melalui gerobak. Hal yang masih dipertahankan hingga sekarang.

Roti legendaris ini sampai sekarang bukan hanya dijual lewat gerai-gerai tokonya, tetapi juga dijual oleh para pedagang gerobak keliling. Untuk memanggil para pembeli, pedagang gerobak roti Lauw biasanya akan menggunakan terompet pencet dengan bunyi yang khas.

Di sekitaran Cikini, setiap pagi akan ada deretan gerobak roti Lauw di depan toko ini, sebab para penjaja roti mengambil dagangan mereka di toko ini. Para pedagang itu akan menjajakan roti-roti ini di sekitar Stasiun Gondangdia.

Berkelas dan membumi, mungkin itu sebutan yang pas untuk menggambarkan bagaimana Roti Lauw sudah menjadi favorit berbagai kalangan. Bahkan bentuk gerobaknya pun tidak berubah, masih dengan gerobak yang dominan warna biru putih, yang bagian atasnya ada papan bertuliskan Roti Lauw.

Hadapi persaingan

Seperti yang dialami oleh banyak roti jadul, Lauw juga mengalami persaingan yang cukup berat. Roti Lauw mulai kalah dengan aneka rasa roti modern dengan banyak campuran butter.

Dilansir dari Tribunnews, menurut distributor roti Lauw di kawasan Menteng, Yohanes Suwandi, tak banyak anak muda yang tahu rasanya, meski masih banyak yang menjajakan menggunakan gerobak ke gang-gang kecil Jakarta.

Hingga pada akhirnya, penjualan roti Lauw dari tahun 2000-an hingga sekarang agak menurun.

Padahal, dulu Lauw menjadi kegemaran kalangan menengah atas. Bahkan, sempat juga masuk gerai mal di kawasan Kelapa Gading. Tetapi, sekarang pasarnya berubah. Hanya kelas menengah ke bawah yang jadi pembelinya.

Untuk menikmati roti manis Lauw, harga satu roti bisa mencapai Rp6.000, untuk yang manis spesial dan agak modern Rp7.000 dan untuk roti tawar Rp12 ribu.

Sudah banting harga, Lauw makin tak dilirik pembeli. Tapi mereka masih bertahan dengan 28 pedagang keliling khusus di kawasan Menteng, satu pedagang bisa membawa 150 roti.

Tetapi, jika sudah kenal rasa khas roti Lauw, Yohanes yakin orang itu akan tetap setia. Lauw hingga kini tetap berusaha mempertahankan rasa. Ini salah satu hal yang membuat Lauw bertahan hingga sekarang.

Baca juga:





Source link

Advertisement
Click to comment

HEADLINE

Daftar Negara dengan Transisi Energi Terbaik di ASEAN 2021, Indonesia Urutan Berapa?

Daftar Negara dengan Transisi Energi Terbaik di ASEAN 2021, Indonesia Urutan Berapa?


Sebagaimana yang kita ketahui, penggunaan energi fosil tanpa batas sangat berkontribusi pada kenaikan suhu bumi, polusi udara, dan sejumlah krisis lingkungan lainnya. Dilansir dari Pwypindonesia.org (22/11/2020), penggunaan energi fosil telah mencapai 84% dari penggunaan energi global.

Di Indonesia, bahan bakar tak terbarukan tersebut telah menjadi penyumbang terbesar emisi CO2 dari total emisi Gas Rumah Kaca (GRK) nasional. Konkretnya, sepanjang tahun 2012-2017 Indonesia tercatat telah mengalami peningkatan emisi CO2 sebesar 18% karena emisi dari pembangkitan listrik, sektor industri, dan transportasi.

Sehingga, menurut Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa, transisi energi adalah sebuah keniscayaan yang tak bisa diabaikan. Sebab upaya peralihan energi dapat berdampak bagi pemulihan lingkungan. Selain itu, transisi energi juga memiliki harga yang lebih kompetitif dan berkelanjutan ketimbang energi fosil.

”Pengoptimalan sumber energi terbarukan juga akan menciptakan industri baru yang mendukung pertumbuhan ekonomi hijau, membuka lapangan kerja, dan menarik investasi,” kata Fabby, pada iesr.or.id (14/3/2021).

Oleh karena itulah, manfaat ganda dari peralihan energi telah menjadi agenda dan strategi pembangunan banyak negara dunia. Untuk mengetahui kemajuan pengembangan energi terbarukan tersebut maka diperlukan analisis data tentang Energy Transition Index (ETI).

ETI terbentuk atas tiga elemen performa sistem, yakni keamanan dan akses terhadap pasokan energi, keberlanjutan lingkungan, serta pertumbuhan dan perkembangan ekonomi. Selain itu, sejumlah kesiapan transisi juga menjadi indikator, seperti modal dan investasi, struktur sistem energi, serta komitmen dan regulasi. ETI yang menjangkau 115 negara tersebut digambarkan dengan skor berskala 0-100 poin.

Dalam laporan Forum Ekonomi Dunia (WEF) pada April 2021, tercatat Swedia menjadi negera terdepan dalam penggunaan energi terbarukan atau peringkat 1 dari 115 negara dunia, dengan indeks transisi energinya hingga 87 poin. Sementara untuk kawasan Asia Tenggara, Singapura menjadi negara yang menduduki peringkat pertama.

Lebih lanjut, dalam tulisan ini GNFI akan menyajikan daftar 8 besar negara di Asia Tenggara yang menjadi pelaku transisi energi pada 2021.

Baca Juga: Wujud Nyata dari SDGs, Inilah 4 Desa Mandiri Energi di Indonesia

Indeks transisi energi negara kawasan ASEAN 2021 © GNFI

info gambar

1. Singapura

Di kawasan ASEAN, Singapura menjadi negara terdepan dalam penggunaan energi terbarukan. Sedangkan secara global, negara makmur tersebut menempati peringkat 21 dari 115 negara dunia dengan indeks transisi energinya mencapai 67 poin.

Salah satu wujud sinergitas Singapura dalam transisi energi dapat dilihat dari pembangunan pembangkit listrik tenaga suryanya, yang terhitung ada 13 ribu panel di permukaan laut. Dengan kemampuan menghasilkan listrik hingga lima megawatt, panel surya tersebut dapat memberikam daya setidaknya bagi 1.400 rumah susun sepanjang tahun.

2. Malaysia

Selanjutnya, peringkat kedua ditempati oleh negeri jiran, Malaysia, dengan indeks transisi energinya tercatat 64 poin. Sedangkan secara global, negara tersebut menempati peringkat 39 dari 115 negara dunia.

Salah satu wujud sinergitas Malaysia dalam upaya transisi energi dapat terlihat pada pembangunan panel suryanya. International Renewable Energy Agency (IRENA) bahkan sampai menunjuk Malaysia sebagai negara tenaga surya fotovoltaik (PV) terbesar di ASEAN pada 2019.

3. Thailand

Kemudian, peringkat ketiga ditempati oleh Thailand dengan indeks transisi 60 poin. Sedangkan secara global, negara tersebut menempati peringkat 55 dari 115 negara dunia.

Salah satu wujud sinergitas Thailand dalam upaya transisi energi dapat terlihat pada pembangunan pembangkit listrik tenaga hibridanya, yang sedang terpasang sekitar 144 panel surya di waduk di provinsi timur laut Ubon Ratchathani. Menurut Rencana Pengembangan Energi Thailand, pembangkit listrik tersebut bertujuan untuk mencapai 35% energi dari bahan bakar non-fosil pada 2037.

4. Vietnam

Berikutnya, peringkat keempat ditempati oleh Vietnam dengan indeks transisi energi 57 poin. Sedangkan secara global, negara tersebut menempati peringkat 65 dari 115 negara dunia.

Salah satu wujud sinergitas Vietnam dalam upaya transisi energi dapat terlihat pada peningkatan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berskala besarnya hingga lebih dari 5 Giga Watt (GW) pada 2019. Kapasitas tersebut diprediksi akan ditingkatkan lagi pada akhir tahun 2021, yakni hingga mencapai 10 GW.

5. Filipina

Tercatat Filipina menempati peringkat kelima sebagai negara transisi energi di ASEAN. Sedangkan secara global, negara tersebut menempati peringkat 1 dari 115 negara dunia dengan indeks transisi energinya tercatat 57 poin.

6. Indonesia

Selanjutnya peringkat keenam ditempati oleh Indonesia dengan indeks transisi energi mencapai 56 poin. Sedangkan secara global, Indonesia menempati peringkat 71 dari 115 negara dunia.

Dilansir dari Mediaindonesia.com (9/12/2019), salah satu wujud sinergitas Indonesia dalam upaya transisi energi dapat terlihat pada pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Mauhalek di Desa Mauhalek, Kecamatan Lasiolat, Belu, Nusa Tenggara Timur sejak 2015.

7. Brunei Darussalam

Sebesar 95 persen dari total ekspor Brunei Darussalam adalah komoditi minyak bumi serta gas. Meskipun begitu, negara ini tetap mengupayakan transisi energi. Tercatat Brunei menduduki posisi keenam dalam hal penggunaan energi terbarukan.

Brunei memiliki indeks transisi energi hingga 54 poin dan menempatkannya di posisi ketujuh di Asia Tenggara. Sedangkan secara global, negara tersebut menempati peringkat 82 dari 115 negara dunia.

8. Kamboja

Terakhir, peringkat kedelapan ditempati oleh Kamboja dengan indeks transisi energinya mencapai 52 poin. Sedangkan secara global, negara tersebut menempati peringkat 93 dari 115 negara dunia

Dilansir dari CNBC Indonesia.com (23/10/2020), salah satu wujud sinergitas Kamboja dalam transisi energi dapat dilihat dari pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berskala kecilnya, yakni 60 Mega Watt (MW).

==

Sumber Referensi:

Pwypindonesia.org | iesr.or.id | wartaekonomi.co.id | ofiskita.com | Tempo.co | Mediaindonesia.com | Kompas.com | CNBC Indonesia.com | Laporan Forum Ekonomi Dunia (WEF)

Baca Juga:





Source link

Continue Reading

HEADLINE

Damar Malam, Tradisi Selikuran Masyarakat Islam Cirebon

Damar Malam, Tradisi Selikuran Masyarakat Islam Cirebon


Pada hari Minggu 9 Mei 2021, bulan Ramadan telah memasuki hari ke-27. Pada 10 hari terakhir ini dianjurkan untuk meningkatkan ibadah untuk mengharapkan kemuliaan malam Lailatul Qadar.

Pada malam ke 27, masyarakat juga merayakan dengan berbagai tradisi. Tradisi ini sebagai pengingat agar masyarakat mempersiapkan diri untuk beribadah secara maksimal.

Salah satu tradisi keagamaan (Islam) yang unik dan masih cukup bertahan di tengah gempuran arus modernisasi adalah tradisi malam likuran di bulan Ramadan.

Tradisi malam likuran adalah sebuah tradisi masyarakat Islam Indonesia dalam meramaikan bulan Ramadan dengan cara menyalakan damar malam, lampu cangkok/colok, tepatnya di malam ganjil di sepertiga terakhir di bulan Ramadan.

Tradisi menyalakan damar malam sejenis obor yang terbuat dari bilahan bambu di lilit kain dan celupan malam (pewarna batik) menjelang ibadah puasa berakhir hingga kini masih dilakukan sebagian masyarakat Cirebon. Banyak pengrajin batik di cirebon. Jadi tidak susah mendapatkan bahan baku malam yang digunakan untuk membuat damar malem.

Selain itu biasanya masyarakat dapat memperoleh dari para penjual bunga yang ada di pasar-pasar di sekitar Cirebon. Para pedagang menjual damar malam dengan harga Rp1.000 hingga Rp2.000 setiap ikat.

Selepas maghrib anak-anak kecil usia 7 tahun hingga belasan keluar rumah sambil menyalakan “damar malam” yang diletakkan di sudut-sudut rumah sambil menyanyikan yel-yel: damar malam selikure (damar malam tanggal dua puluh satu Ramadan) damar malam telulikure (damar malam tanggal dua puluh tiga), dan seterusnya.

Damar malam harus dinyalakan dengan hati-hati. Bila gegabah, bahan malam yang terbakar akan menetes dan bisa melukai kulit tangan. Tradisi menyalakan damar malam ini dilakukan sesudah berbuka puasa atau sesaat setelah Maghrib tiba. Damar malam itu akan padam dengan sendirinya saat memasuki waktu salat tarawih, atau selepas Isya.

Tradisi turun temurun

Tidak diketahui secara persis kapan dan siapa yang memulai tradisi malam likuran ini di Nusantara. Namun, uraian Hamka (1982) mengenai penyalaan api di malam likuran adalah simbol petunjuk hidayah Islam yang diajarkan oleh Syekh ‘Ainul Yaqin atau yang lebih dikenal dengan Sunan Giri.

Saat itu pelita-pelita pada mulanya dipasang di Masjid Giri. Karena itu jika dilihat dari segi pelaku yang merayakan tradisi ini, merupakan bagian dari tradisi masyarakat Islam di Indonesia.

Sementara itu di Cirebon, tradisi yang turun temurun ini sudah ada sejak Islam. Setelah dinyalakan biasanya damar malam tersebut akan diletakkan pada sudut rumah atau sudut halaman rumah.

“Kegiatan Malam Selikuran ala warga Cirebon ini juga diselenggarakan dalam rangka menyambut datangnya malam Lailatul Qadar, atau Malam Seribu Bulan, yang diyakini akan hadir pada tanggal-tanggal ganjil di Bulan Suci,” ucap Dewi yang akrab di sapa Wiwiek salah satu warga Desa Gesik, Kecamatan Tengahtani Kabupaten Cirebon, dikutip dari portaljabar.

Perayaan malam likuran di satu daerah di Nusantara berbeda dengan daerah lainnya. Kendati pun secara ekspresi perayaan berbeda-beda, pada hakikatnya tujuan perayaan malam likuran di beberapa daerah di Nusantara tidak berbeda; yakni meramaikan malam ganjil di bulan Ramadan.

Seperti di Wonogiri, sebagaimana dalam Sartono (2000:4), disebutkan bahwa tradisi perayaan di malam likuran di sana dilakukan dengan menaruh sebuah ting (lampu kecil) yang berbentuk rupa-rupa, seperti ikan, kapal, dan lain sebagainya. Banyak suara gaduh yang disebabkan bunyi petasan yang disulut, dan pada malam itu diadakan selametan.

Selain itu orang Gorontalo juga memiliki tradisi Tumbilotohe atau lazim menyebutnya dengan “Malam pasang lampu”. Tradisi ini dilakukan pada tiga malam terakhir menjelang perayaan Idul Fitri dengan menyalakan lampu dari minyak sebagai tanda untuk melepas Ramadhan.

Menurut sejarah, konon tradisi ini sudah berlangsung sejak abad ke-15, dimana pada masa itu lampu penerangan masih minim, untuk meneranginya masyarakat dahulu membuat lampu penerang berbahan wamuta atau seludang yang dihaluskan dan diruncingkan lalu kemudian dibakar.

Di tahun-tahun berikutnya alat penerangan tersebut mulai menggunakan tohetutu atau damar, yakni semacam getah padat yang akan menyala apabila dibakar dan bertahan cukup lama.

Mulai ditinggalkan oleh masyarakat

Tradisi yang biasa disebut malam selikuran ini masih dilaksanakan oleh sebagian masyarakat pada malam ganjil bulan Ramadan. Namun, saat ini tradisi tersebut sudah hampir punah.

Seperti penelitian Nur Syam di kawasan Pesisir Tuban mengatakan bahwa tradisi malam likuran dikenal dengan tradisi colokan, yaitu kebiasaan membuat colok yang terbuat dari kain yang ditalikan di kayu-kayu kecil yang dicelupkan ke minyak tanah dan ketika waktu magrib tiba dibakar di sudut-sudut rumah. Sayangnya tradisi ini di beberapa daerah sudah hilang dan diganti selamatan biasa di rumah-rumah. (Nur Syam, 2005: 182)

Hal ini tidak berbeda jauh dengan yang terjadi di Cirebon. Pasalnya, banyak anak – anak jaman sekarang yang tidak tahu bahwa setiap bulan ramadan ada tradisi Damar Malam.

Seiring dengan hadirnya listrik dan maraknya gadget (internet),serta petasan / kembang api, tradisi ini sudah mulai ditinggalkan masyarakat Cirebon.

Bahkan untuk mendapatkan damar malam tidak lagi mudah. Tidak seperti dulu hampir di semua pasar menyediakan damar malam.

“Dulu semua pasar pasti ada dan menjual damar malam, sekarang sih rada susah dan hanya ada di pasar plered kabupaten cirebon harganya pun sudah lumayan,” terang Wiwiek.

Karena itu pihak Keraton Kanoman masih tetap menjaga tradisi ramadan dari tahun ke tahun. Pelestarian budaya leluhur menjadi tanggung jawab bagi penerus keluarga di masa yang akan datang.

Keluarga keraton Kanoman beserta warga sekitar dan perwakilan desa-desa bersilaturahmi, berdoa bersama, sekaligus bertawasul untuk para leluhur dan juga berdoa untuk keselamatan umat. Hal ini sudah dilakukan pada malam ganjil sebelumnya yakni 21, 23, dan 25 Ramadan untuk menyambut Lailatul Qodar.

Kagiatan tersebut diadakan sore hari ba’da ashar yang diadakan di Bangsal Paseban yang dipimpin langsung oleh Pangeran Patih Raja Muhammad Qodiran yang mewakili Sultan Raja Emirudin.

“Selain pitu likuran ada juga tradisi bakar damar di malam hari dengan pengharapan bahwa malam lailatul qodar lebih cerah, mendapatkan malam spesial di antara malam seribu bulan,” ucap Ratu Arimbi Nurtina.

Baca juga:





Source link

Continue Reading

HEADLINE

Selisik Wisata Alam Terbaik di Pulau Borneo

Selisik Wisata Alam Terbaik di Pulau Borneo


Penulis: Ega Krisnawati

Pulau Berneo atau Pulau Kalimantan dikenal dengan hutan tropis serta Sumber Daya Alam (SDA) yang berlimpah. Pulau ini disebut-sebut sebagai paru-paru dunia karena memiliki hamparan hutan yang luasnya mencapai 40,8 juta hektare.

Berkat hal tersebut, pulai ini memiliki banyak keunikan dan daya tarik. Selain itu, Pulau Kalimantan juga kaya dengan warisan budanya. Semula, Pulau Kalimantan dihuni oleh orang Dayak. Itulah sebabnya mereka dikenal sebagai suku asli Kalimantan.

Berbicara tentang keindahan pulau ini, tentu saja Kawan penasaran bukan tentang alamnya? Adapun berbagai wisata di Pulau Kalimantan yang cocok dikunjungi untuk Kawan pecinta alam. Lantas, apa saja wisata alam yang ada di pulau ini?

1. Goa Batu Hapu Binuang

 Goa Batu Hapu Binuang | Foto: Unsplash

info gambar

Goa Batu Hapu Binuang terletak di dekat Pasar Binuang, tepatnya di Desa Batu Hapu Kecamatan Hatungun Kabupaten Tapin Kalimantan Selatan. Lokasinya berjarak 43 kilometer dari Kota Rantau dan 154 kilometer dari Kota Banjarmasin.

Jika Kawan menggunakan kendaraan berupa motor ataupun mobil untuk pergi ke Goa Batu Hapu Binuang, arahkan kendaraan Kawan untuk masuk ke dalam sejauh kurang lebih 16 kilometer.

Setelah memarkirkan kendaraan, Kawan masih harus berjalan kaki untuk menaiki puluhan anak tangga yang mengarah ke tengah-tengah bukit. Demikian yang disampaikan oleh laman Indonesia Kaya.

2. Pulau Derawan

 Pulau Derawan | Foto: Unsplash

info gambar

Pulau Derawan yang berada di Kalimantan Timur ini memiliki beberapa objek wisata yang sangat indah. Selain itu, Pulau Derawan juga memiliki batu sepanjang 18 meter yang berjarak sejauh 10 meter di bawah permukaan laut.

Batu itu adalah Blue Tigger Wall. Bagi Kawan yang senang berenang, pulau ini bisa dinikmati untuk berenang bersama ubur-ubur. Wah, menarik sekali, Kawan!

3. Danau Sentarum

 Danau Sentarum | Foto:Unsplash

info gambar

Kawasan Danau Sentarum banyak dipenuhi oleh hutan hujan dengan tingkat rendah dan lahan rawa gambut besar. Danau Sentarum cocok untuk melihat beberapa jenis flora dan fauna dengan pemandangan yang tidak biasa.

Danau Sentarum ada di Kalimantan Barat dengan luas 132.000 hektare. Saat musim hujan, tempat wisata ini akan terlihat bagaikan hutan yang sedang terendam air. Unik banget, Kawan!

4. Taman Nasional Tanjung Puting

 Taman Nasional Tanjung Puting | Foto: Unsplash

info gambar

Taman Nasional Tanjung Puting adalah salah satu taman nasional terbaik dan rumah bagi para orangutan. Luas taman nasional ini sekitar 415.040 hektare. Taman Nasional Tanjung Puting memiliki Sungai Sekonyer yang bisa dikelilingi dengan kapal bernama klotok.

Tidak hanya orang utan, macan tutul, dan kancil, satwa-satwa menggemaskan lainnya juga ada di taman nasional ini. Menjelang sore, Kawan dapat menikmati pemandangan Sungai Sekonyer yang semakin indah karena pantulan sunset.

5. Bukit Kelam

 Bukit Kelam | Foto: Unsplash

info gambar

Bukit Kelam adalah salah satu obyek wisata alam yang eksotis. Letaknya ada di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, Indonesia. Bukit yang berada di Kalimantan Barat ini sebenarnya adalah sebuah batu.

Bukit yang memiliki panorama alam yang mempesona ini dipenuhi dengan pemandangan air terjun, gua alam yang dihuni oleh ribuan kelelawar, dan sebuah tebing terjal setinggi kurang lebih 600 meter. Tebing ini ditumbuhi dengan pepohonan di kaki dan puncaknya.

Di balik pesona dan eksotisme Bukit Kelam, tersimpan sebuah cerita yang cukup menarik. Agar dapat sampai ke sini, Kawan mesti menggunakan jalur darat dengan jarak 400 kilometer dari Kota Pontianak dan jalur udara dengan rute Pontianak ke Sintang. Kawan pun bisa mendaki di Bukit Kelam.

Itulah 5 wisata alam terbaik yang bisa Kawan kunjungi di Pulau Borneo. Wisata mana yang Kawan ingin kunjungi?

Referensi: Get Borneo | IDN Times | Indonesia Kaya

Baca juga:





Source link

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending Dari BuzzFeed

close