Connect with us

VIRUS CORONA

Laju Vaksinasi di Daerah di AS yang Dilanda Varian Delta Kini Meningkat

Laju Vaksinasi di Daerah di AS yang Dilanda Varian Delta Kini Meningkat

[ad_1]

Gedung Putih, Kamis (22/7), mengatakan vaksinasi COVID-19 di negara-negara bagian yang terpukul hebat oleh perebakan luas varian Delta yang menyebar dengan sangat cepat, kini meningkat.

Koordinator Penanganan COVID-19 di Amerika Serikat (AS), Jeff Zients, mengatakan kepada wartawan bahwa warga di beberapa negara bagian dengan proporsi tingkat perebakan virus corona baru tertinggi kini mulai berupaya untuk mendapat vaksinasi COVID-19. Laju vaksinasi di wilayah-wilayah itu kini lebih tinggi dibanding laju vaksinasi di AS secara keseluruhan.

Para pejabat Amerika merujuk Arkansas, Florida, Louisiana, Missouri dan Nevada sebagai contoh di mana kini terjadi laju vaksinasi yang lebih cepat.

Varian Delta, yang menyebar secara lebih agresif, kini menyumbang sekitar 83 persen kasus baru secara nasional dan menjadi varian yang dominan di setiap wilayah. Meskipun sejumlah pejabat kesehatan mengingatkan bahwa AS kembali berada di tiitk kritis lain dalam pandemi ini, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention/CDC) tidak mengubah pedomannya bahwa orang yang sudah divaksinasi penuh tidak perlu lagi mengenakan masker.

Direktur CDC Dr. Rochelle Walensky mengatakan keputusan di tingkat lokal tentang perlu tidaknya mengenakan masker dapat bervariasi, tergantung pada laju vaksinasi dan ada tidaknya lonjakan kasus baru.

Walensky mengatakan risiko terbesar saat ini adalah terhadap orang-orang yang tidak divaksinasi.

“Kami telah secara konsisten dan berulang kali mengatakan, jika Anda tidak divaksinasi, Anda perlu mengenakan masker untuk melindungi diri sendiri dan orang-orang di sekitar,” kata Walensky.

Dia menegaskan perlu lebih banyak orang yang divaksinasi untuk menghentikan pandemi ini.

“Jadi secara keseluruhan, rekomendasi CDC tidak berubah. Orang yang sudah divaksinasi penuh terlindung dari penyakit berat,” imbuhnya. [em/lt]

[ad_2]

Source link

Advertisement
Click to comment

VIRUS CORONA

Pfizer-BioNTech Sepakat Produksi Vaksin COVID-19 untuk Afrika

Pfizer-BioNTech Sepakat Produksi Vaksin COVID-19 untuk Afrika

[ad_1]

Pfizer dan BioNTech telah bersepakat dengan Institut Biovac di Afrika Selatan untuk memproduksi vaksin COVID-19 mereka dan mendistribusikannya di Afrika, kata perusahaan bioteknologi itu, Rabu.

Perusahaan di Cape Town itu akan memproduksi 100 juta dosis vaksin setiap tahun mulai 2022, mencampur bahan vaksin yang diterimanya dari Eropa, memasukkan ke botol, dan mengemasnya untuk didistribusi ke 54 negara di Afrika. Kesepakatan itu pada akhirnya akan membantu mengurangi kekurangan vaksin di benua itu. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika mengatakan kurang dari 2% dari 1,3 miliar populasinya telah menerima setidaknya satu dosis vaksin.

CEO Pfizer Albert Bourla mengatakan tujuan perusahaan itu adalah memberi vaksin itu kepada orang-orang di seluruh Afrika, menyimpang dari perjanjian bilateral di mana sebagian besar dosis dijual ke negara-negara kaya.

Vaksin Johnson & Johnson sudah diproduksi di Afrika Selatan dalam proses “isi dan kemas” serupa dan memiliki kapasitas produksi lebih dari 200 juta dosis per tahun. Vaksin-vaksin itu juga sedang didistribusikan ke seluruh benua Afrika.[ka/jm]

[ad_2]

Source link

Continue Reading

VIRUS CORONA

351 Ribu Anak di Indonesia Terpapar COVID-19

351 Ribu Anak di Indonesia Terpapar COVID-19

[ad_1]


Ketua Bidang Data dan IT Satuan Tugas Penanganan COVID-19, Dewi Nur Aisyah mengungkapkan hingga 16 Juli 2021 sebaran kasus COVID-19 pada usia anak sekolah mencapai 12,83 persen dari seluruh kasus terkonfirmasi positif di Indonesia.

“Dari seluruh kasus di Indonesia yang 2,4 juta kalau kita lihat usia di bawah 18 tahun ini ada 351.336 atau sekitar 12,83 persen. Seperdelapan kasus COVID-19 yang ada di Indonesia berasal dari usia anak-anak dan remaja yaitu di bawah 18 tahun,” ujar Dewi Nur Aisyah dalam webinar “Pencegahan Keterpisahan dan Pengasuhan Alternatif Bagi Anak Terdampak COVID-19,” Senin (19/7).

Grafik Kematian akibat COVID-19 pada anak usia sekolah. Persentase angka kematian tertinggi pada kelompok usia 0-2 tahun, Senin, 19 Juli 2021. (Foto: VOA)

Grafik Kematian akibat COVID-19 pada anak usia sekolah. Persentase angka kematian tertinggi pada kelompok usia 0-2 tahun, Senin, 19 Juli 2021. (Foto: VOA)

Anak sekolah usia 7-12 tahun memiliki kasus terbanyak yaitu 101.049, disusul usia 16-18 tahun sebanyak 87.385, berikutnya usia 13-15 tahun dengan 68.370. Sedangkan kasus COVID-19 anak TK usia 3-6 tahun berjumlah 50.449 dan usia PAUD 0-2 tahun berjumlah 44.083.

Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Riau, Sulawesi Selatan, Banten dan Kalimantan Timur menempati peringkat 10 besar provinsi dengan kasus konfirmasi COVID-19 pada usia anak sekolah.

Sulawesi Utara Catat Kematian Anak Tertinggi Akibat COVID-19

Berdasarkan data Satgas Penanganan COVID-19 per tanggal 16 Juli 2021 itu memperlihatkan sebanyak 777 anak rentang usia 0-18 tahun meninggal dunia.

Dewi Nur Aisyah mengungkapkan persentase angka kematian tertinggi berada pada kelompok usia 0-2 tahun (0,71 persen) diikuti kelompok usia 16-18 tahun (0,18 persen) dan kelompok usia 3-6 tahun (0,15 persen).

Sebaran kasus COVID-19 pada anak usia sekolah disampaikan oleh Ketua Bidang Data dan IT Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Dewi Nur Aisyah, Senin, 19 Juli 2021. (Foto: VOA)

Sebaran kasus COVID-19 pada anak usia sekolah disampaikan oleh Ketua Bidang Data dan IT Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Dewi Nur Aisyah, Senin, 19 Juli 2021. (Foto: VOA)

“Kalau berbicara jumlah kasus ternyata belum tentu juga provinsi dengan jumlah kasus anak tertinggi angka kematiannya juga paling tinggi. Karena ternyata untuk usia 0- 2 tahun paling tinggi angka kematian justru berasal dari provinsi Sulawesi Utara (5,29 persen) kasus anak-anak baduta (bawah dua tahun) di sana mengalami kematian, Gorontalo (3,85 persen), NTB (3,35 persen),” kata Dewi Nur Aisyah dalam webinar yang diselenggarakan oleh Save the Children Indonesia bekerjasama dengan Universitas Padjadjaran, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Kementerian Sosial tersebut.

Menurutnya, pencegahan infeksi corona dengan protokol 3M harus dilakukan secara maksimal dengan dukungan dari anggota keluarga khususnya bagi kelompok anak-anak terutama usia di bawah 12 tahun yang belum bisa mendapat vaksin.

COVID-19 Juga Buat Anak Depresi

Psikolog klinis Feka Angge Pramita menjelaskan orang dewasa perlu membantu mempersiapkan anak menghadapi situasi kritis dengan memberikan penjelasan yang jujur seperti saat harus berpisah sementara waktu dengan orang tua/pengasuh yang menjalani isolasi mandiri, dirawat karena COVID-19.

Psikolog klinis Feka Angge Pramita dalam webinar Pencegahan Keterpisahan dan Pengasuhan Alternatif Bagi Anak Terdampak Covid-19, Senin, 19 Juli 2021. (Foto: VOA)

Psikolog klinis Feka Angge Pramita dalam webinar Pencegahan Keterpisahan dan Pengasuhan Alternatif Bagi Anak Terdampak Covid-19, Senin, 19 Juli 2021. (Foto: VOA)

“Itu harus dijelaskan dan itu pasti butuh proses dan sering kali tergantung dari usianya mereka juga, tapi memberikan penjelasan atau mengomunikasikan hal yang sesuai dengan faktanya, itu kalau diberikan penjelasan malah akan memberikan sesuatu hal yang memberikan rasa tenang buat mereka karena kalau mereka tidak dijelaskan atau malah dibohongi mereka bisa menangkap situasinya. Situasi dari orang orang-orang dewasa di sekitar mereka,” kata Feka.

Dalam situasi anak yang berduka karena kehilangan orang tua yang meninggal dunia, anak perlu selalu didampingi oleh orang dewasa disekitar mereka. Selain memastikan kebutuhan dasar mereka terpenuhi, juga untuk merespon saat anak mengekspresikan kesedihan yang dirasakannya.

“Merespon itu bagaimana sih, misalkan kalau mereka cerita ‘aduh aku mau ketemu mama, tapi mama kan di Surga’ mungkin kita akan bilang ‘ya berdoa saja’ itu salah satu hal yang baik,” ujar Feka.

Anak-anak bermain di luar kawasan pemukimannya di Jakarta, 22 Juni 2021, saat diberlakukannya pembatasan wilayah di tengah pandemi COVID-19. (Foto: BAY ISMOYO / AFP)

Anak-anak bermain di luar kawasan pemukimannya di Jakarta, 22 Juni 2021, saat diberlakukannya pembatasan wilayah di tengah pandemi COVID-19. (Foto: BAY ISMOYO / AFP)

Menurutnya diperlukan figur yang berperan sebagai orang tua, yang memberikan kasih sayang, mendengarkan dan merespon kebutuhan anak.

Direktur Rehabilitasi Sosial Anak Kementerian Sosial RI, Kanya Eka Santi menilai perlu ada shelter transisi bagi anak untuk menjalani isolasi mandiri, setelah bagian dari keluarganya terpapar COVID-19. Penularan COVID-19 yang cepat membuat pilihan untuk memindahkan pengasuhan anak kepada keluarga lainnya rentan menularkan virus corona.

“Misalnya orang tuanya terpapar, lalu anak-anaknya tidak terpapar lalu tanpa memikirkan itu melewati masa inkubasi, anak-anaknya dipindahkan ke keluarga lain lalu keluarga ini ikut terpapar. Sehingga proses untuk menunda agar ini tidak langsung ke keluarga besar itu butuh shelter khusus,” kata Kanya Eka Santi

Kementerian Sosial menurutnya sudah menyusun protokol pengasuhan yang mengharuskan rumah sakit untuk menanyakan orang tua yang masuk untuk dirawat bila memiliki anak yang ditinggalkan di rumah. Bila anak yang ditinggalkan tidak ada yang mengasuh maka harus segera dilaporkan ke Dinas Sosial setempat. [yl/em]

[ad_2]

Source link

Continue Reading

VIRUS CORONA

Tragedi yang Semestinya Tak Terulang Lagi

Tragedi yang Semestinya Tak Terulang Lagi

[ad_1]

Meninggalkan puluhan pasien di RSUP dr Sardjito sebagai dampak krisis oksigen, menyadarkan banyak pihak bahwa pandemi ini berpotensi melahirkan krisis lain. Pasien, baik COVID-19 maupun yang bukan, menjadi korban. Banyak hal bisa dipelajari agar kejadian serupa tidak terulang.

High Flow Nasal Canulla (HFNC) menjadi alat bantu pernafasan yang banyak dipakai dalam kasus COVID-19 kategori berat. Menurut dr. Prasenohadi, Spesialis Paru dan Pernapasan di Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI RSUP Persahabatan Jakarta, alat ini memang memiliki sejumlah keunggulan. HFNC mampu memberikan oksigen 90-100 persen bagi pasien. Alirannya dapat disesuaikan karena menggunakan mesin, dan praktis serta nyaman karena diberikan menggunakan nasal canulla.

Seorang pasien berbaring di ranjang dalam tenda darurat yang didirikan untuk menampung lonjakan pasien terinfeksi COVID-19, di Rumah Sakit Umum Dr. Sardjito Yogyakarta, Rabu, 7 Juli 2021. (AP)

Seorang pasien berbaring di ranjang dalam tenda darurat yang didirikan untuk menampung lonjakan pasien terinfeksi COVID-19, di Rumah Sakit Umum Dr. Sardjito Yogyakarta, Rabu, 7 Juli 2021. (AP)

“Kenapa HFNC sekarang begitu populer. Satu karena kebutuhan oksigen pasien. Kedua, dengan menggunakan HFNC maka kebutuhan oksigen pasien itu bisa dicapai dan pasien masih bisa bernafas spontan. Yang ketika, dengan penggunaan HFNC yang tidak invasif ini, maka kemungkinan pasien untuk dirawat di ICU menjadi kecil,” papar Prasenohadi.

Karena tidak butuh perawatan ICU, biaya perawatan dapat dihemat. Pasien COVID-19 di berbagai rumah sakit, dapat ditempatkan di bangsal isolasi dengan tekanan ruang negatif. Alat ini juga lebih nyaman bagi pasien.

Dalam penanganan COVID-19, kata Prasenohadi, HFNC diberikan kepada pasien dengan kondisi berat atau kritis, yang tidak dirawat di ICU. Biasanya, saturasinya ada di bawah 90 persen, karena itu penggunaan nasal canulla biasa tidak cukup membantu.

Karena high flow atau butuh aliran tinggi, maka HFNC membutuhkan stok oksigen yang besar dan hanya bisa dicapai dengan sistem oksigen sentral.

dr. Prasenohadi, Spesialis Paru dan Pernapasan, Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI Jakarta. (Foto: VOA)

dr. Prasenohadi, Spesialis Paru dan Pernapasan, Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI Jakarta. (Foto: VOA)

“Kalau tabung akan cepat habis. Kalau mesin biasa, yang masker atau nasal canulla, paling-paling 10 sampai 15 liter per menit. Kalau kita mau pakai HFNC, maka kita harus ganti yang bisa 70 liter per menit. Oksigen yang dibutuhkan begitu tinggi dan kita menggunakan oksigen sentral,” tambah Prasenohadi.

Layanan dengan HFNC membutuhkan oksigen dalam jumlah besar. Padahal, lanjut Prasenohadi, jika seorang pasien sudah dirawat menggunakan alat ini, dia tidak bisa dilayani dengan alat yang memasok oksigen dalam jumlah lebih kecil.

“Harusnya enggak mungkin diganti dengan device yang lebih sederhana, yang di bawah itu. Tapi dalam kondisi tertentu, apa boleh buat mungkin. Keterbatasan oksigen menyebabkan itu dilepas diganti dengan yang lain, itu enggak bisa dihindari,” ujarnya lagi.

Terkait bunyi yang terdengar secara bersamaan ketika pasokan oksigen turun, Prasenohadi mengungkapkan semua tergantung ukuran yang ditetapkan dokter. Tetapi pengamatan harus dilakukan dan tindakan bantuan kepada pasien harus diberikan. Jika krisis oksigen sentral yang berdampak pada HFNC ini berlanjut, tanpa bantuan cukup pasien akan mampu bertahan sekitar satu jam. Pemberian oksigen melalui tabung, mungkin bisa membantu, tetapi suplai yang diberikan tidak akan sesuai seperti yang diharapkan. Penggantian ini bahkan bisa berdampak buruk bagi pasien.

Petugas kesehatan merawat pasien COVID-19 di tenda darurat RS Sardjito saat terjadi kelangkaan oksigen di Sleman, Yogyakarta, 4 Juli 2021. (Foto: Antara Foto/Hendra Nurdiyansyah via REUTERS)

Petugas kesehatan merawat pasien COVID-19 di tenda darurat RS Sardjito saat terjadi kelangkaan oksigen di Sleman, Yogyakarta, 4 Juli 2021. (Foto: Antara Foto/Hendra Nurdiyansyah via REUTERS)

Prasenohadi mengaku, mayoritas rumah sakit tua di Indonesia belum memiliki jaringan yang mampu mendukung HFNC di banyak ruangan. Krisis yang terjadi dalam layanan rumah sakit, adalah persoalan teknis, bukan persoalan medis. Dia mengapresiasi pembentukan Satuan Tugas Oksigen di daerah untuk mengendalikan krisis, yang membutuhkan peran berbagai pihak dalam mengatasinya ini.

Krisis Tidak Tiba-Tiba

Krisis oksigen di RSUP dr Sardjito pada 3-4 Juli 2021, bukanlah peristiwa yang tiba-tiba terjadi. Menurut catatan Komandan Posko Dukungan BPBD DIY, Wahyu Pristiawan Buntoro, sejak dua pekan sebelumnya, kelangkaan mulai bisa dirasakan.

“Krisis oksigen itu sudah dua pekan sebelumnya, dan yang paling terdampak adalah pasien yang ada di dalam. Sejak dua pekan sebelumnya, sebelum publik tahu, pasien yang ada di rumah sakit, tidak hanya di Sardjito, sudah merasakan. Krisis oksigen hari Sabtu itu bukan hari pertama. Sudah dua pekan sebelum kejadian itu,” ujar Pristiawan.

Bantuan untuk mengurai masalah ini sudah dilakukan sejak awal. Sebuah tim dari Yogyakarta bahkan langsung menuju ke salah satu pabrik oksigen di Kendal, Jawa Tengah. Pembicaraan juga dilakukan dengan operator suplai oksigen di gudang mereka di Yogyakarta. Operator tersebut telah memiliki aplikasi yang memungkinkan mereka memantau stok oksigen di setiap rumah sakit. Hanya saja, memang tidak ada cukup pasokan yang bisa didistribusikan di hari naas itu.

Ketika ditanya apakah ketiadaan oksigen menjadi faktor penentu terjadinya tragedi ini, Pristiawan menjawab diplomatis.

“Menurut kami itu faktor dominan. Kalau kondisi klinis saja, berarti ada sesuatu kasus klinis yang drastis. Kalau kami berpatokan, dalam rentang 24 jam terjadi kematian 63 orang. Padahal 63 orang ini kan pasien yang mayoritas sudah ditangani. Bukan pasien di IGD atau antri di IGD, jadi memang sudah tertangani dengan baik,” lanjutnya.

Keluarga pasien menunggu kesiapan jenazah untuk diambil di ruang forensik pada 4 Juli 2021. (Foto: TRC BPBD DIY)

Keluarga pasien menunggu kesiapan jenazah untuk diambil di ruang forensik pada 4 Juli 2021. (Foto: TRC BPBD DIY)

Pristiawan mengatakan, Posko Dukungan BPBD DIY menerima permintaan bantuan dari RSUP dr Sardjito untuk membantu mengatasi keruwetan pengurusan jenazah, pada Minggu pagi. Tim kemudian membantu proses pemulasaran jenazah, termasuk menenangkan keluarga pasien yang emosional karena lamanya pengurusan jenazah. Pristiawan mengakui, dalam kondisi itu, mekanisme kerja yang telah mereka jalankan selama ini di Sardjito, tidak berjalan maksimal karena staf yang kelelahan.

“Banyak keluarga pasien sudah main keras. Kami membantu untuk bisa kembali menjalankan semua proses atau mekanisme terkait arus distribusi jenazah infeksius ini,” ujarnya lagi.

Warga berkumpul untuk mengisi tangki oksigen di sebuah stasiun di Yogyakarta pada 14 Juli 2021. (Foto: AFP/Agung Supriyanto)

Warga berkumpul untuk mengisi tangki oksigen di sebuah stasiun di Yogyakarta pada 14 Juli 2021. (Foto: AFP/Agung Supriyanto)

Sampai pekan ini, menurut Pristiawan, belum ditemukan jalan keluar yang dapat mengatasi persoalan oksigen di Yogyakarta secara komprehensif. Solusi yang ada, cenderung parsial. Bantuan oksigen didatangkan dari Jawa Barat dan Jawa Timur. Masalah mendasarnya adalah kedua provinsi itu juga merasa perlu mengamankan stok oksigen mereka. Ada kajian yang dibuat kemudian, bahwa jika tidak ada jalan keluar permanen, tragedi serupa bisa saja terulang.

“Karena rumah sakit juga terjadi kepanikan, mereka belanja oksigen tinggi, sehingga produsen semakin kesulitan. Ini akan terjadi di saat tidak solusi yang permanen,” kata Pristiawan.

Berdalih Krisis Nasional

Direktur RSUP dr Sardjito, dr Eniarti M Sc, Sp KJ, MMR menilai, kondisi krisis dihadapi bukan hanya oleh rumah sakit yang dipimpinnya, tetapi merupakan masalah nasional. Selain itu, Sardjito juga dihadapkan pada kenyataan bahwa pasien yang datang ke sana, mayoritas berada dalam kondisi cukup berat.

“Pasien pasien yang datang ke tempat kita, itu kan adalah pasien-pasien kategori berat dan kritis. Di mana memang pemakaian oksigennya cukup banyak, dengan alat-alat ventilator dan HFNC, dan lain sebagainya, jadi rata-rata pasien itu akan dipasang alat-alat karena dalam kondisi yang kritis,” kata Eniarti dalam wawancara dengan media pada Jumat (16/7).

Direktur RSUP dr Sardjito, dr Eniarti M Sc, Sp KJ, MMR. (Foto: Humas Sardjito)

Direktur RSUP dr Sardjito, dr Eniarti M Sc, Sp KJ, MMR. (Foto: Humas Sardjito)

Untuk memastikan penyebab kematian pasien, apakah disebabkan kekurangan oksigen atau sebab yang lain, Eniarti menyebut ada tim audit yang dibentuk. Tim audit medis ini berasal dari komite medis. Eniarti memastikan, kondisi di mana rumah sakit benar-benar kehabisan oksigen sebenarnya tidak pernah terjadi.

“Jadi sebenarnya oksigen itu selalu tersedia, tetapi dengan jumlah yang sangat-sangat terbatas,” ujarnya.

Saat ini, bahkan rumah sakit masih harus berpikir untuk mencukupi kebutuhan oksigen mereka dari hari ke hari. Eniarti menyebut dukungan pemerintah dan industri sudah cukup baik, misalnya pengalihan oksigen industri yang saat ini 100 persen dipakai untuk medis.

“Ini akan menjadi hal yang kita cermati untuk perbaikan selanjutnya,” janjinya.

Dalam surat resmi, menanggapi permohonan wawancara dari tim kolaborasi jurnalis, Eniarti juga menggarisbawahi bahwa kapasitas tangki oksigen RSUP dr Sardjito adalah 10 ton. Jumlah itu sudah mencukup kebutuhan jika tidak terjadi gangguan pada distribusi.

“Kami menyadari di masa kebencanaan ini, dalam pelayanan yang kami berikan ke masyarakat selama ini, tentu saja tidak semuanya berjalan lancar seperti kondisi normal,” kata Erniati.

Dokumentasi ruang jenazah di RSUP dr Sardjito pada 4 Juli 2021, ketika krisis oksigen terjadi. (Foto: TRC BPBD DIY)

Dokumentasi ruang jenazah di RSUP dr Sardjito pada 4 Juli 2021, ketika krisis oksigen terjadi. (Foto: TRC BPBD DIY)

Berbagai perencanaan dan persiapan untuk layanan kepada pasien sudah dipersiapkan, lanjutnya, namun berbagai kendala baru selalu datang silih berganti.

Erniati sendiri adalah direktur utama baru di rumah sakit ini. Direktur lamanya, dr. Rukmono Siswishanto, M.Kes.,Sp.OG(K) secara mendadak diganti pada 12 Juli 2021. Meski pemerintah menyebut ini adalah rotasi jabatan biasa, tetapi dugaan bahwa pemindahan tersebut terkait tragedi 3 Juli 2021 sulit dielakkan. Apalagi, Rukmono saat ini ditugaskan di Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr Soerojo, yang relatif jauh lebih kecil dibanding RSUP dr Sardjito.

Seperti diberitakan sebelumnya, krisis oksigen telah berdampak langsung maupun tidak pada kematian puluhan pasien di RSUP dr Sardjito pada 3 dan 4 Juli 2021. Pada periode 24 jam, tanggal 3 Juli pagi hingga 4 Juli pagi, ada 63 kematian. Menurut keterangan resmi, 33 pasien meninggal setelah pukul 20.00 tanggal 4, yang merupakan saat di mana sistem oksigen sentral mati.

Mobil tangki oksigen PT Samator mengisi pasokan di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, Minggu (4/7). (Foto: VOA/Nurhadi)

Mobil tangki oksigen PT Samator mengisi pasokan di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, Minggu (4/7). (Foto: VOA/Nurhadi)

Melalui keterangan resmi pada 5 Juli 2021, manajemen RSUP dr Sardjito menyatakan bahwa upaya-upaya antisipasi sudah dilakukan sejak 29 Juni, dengan koordinasi bersama PT. Samator dan PT. Surya Gas. Pada Sabtu, 3 Juni 2021 siang, ketika oksigen mulai menipis, dilakukan koordinasi dan persiapan, termasuk pertemuan lanjutan untuk memastikan kecukupan persediaan.

Situasi tersebut ditambah masuknya pasien secara bersamaan pada Jumat, 2 Juli 2021, membuat kebutuhan oksigen makin meningkat. RSUP Dr Sardjito melakukan pengaturan ulang semua penggunaan oksigen yang dipakai pasien, serta mengirimkan surat permohonan dukungan kepada Menkes RI, Dirjen Pelayanan Kesehatan, Gubernur, BPBD, Dinas Kesehatan, Persi dan Dewan Pengawas.

Hingga pukul 15.00 WIB hari Sabtu, rumah sakit masih mengalami kendala dan pasokan oksigen mengalami penurunan satu jam kemudian dan diperkirakan habis pukul 18.00 WIB, meski di lapangan oksigen sentral baru habis sekitar pukul 20.00 WIB.

Pasien menunggu perawatan di dalam ambulans di tengah lonjakan kasus COVID-19 di Rumah Sakit Umum Dr. Sardjito Yogyakarta, Rabu, 7 Juli 2021.

Pasien menunggu perawatan di dalam ambulans di tengah lonjakan kasus COVID-19 di Rumah Sakit Umum Dr. Sardjito Yogyakarta, Rabu, 7 Juli 2021.

Dalam kondisi tersebut, perawatan pasien beralih menggunakan oksigen-oksigen tabung atau oksigen cadangan pinjaman dari RS Akademik UGM dan RSGM /FKG UGM serta Polda DIY. Pukul 00.15 WIB hari Minggu, bantuan Polda DIY datang sebanyak 100 tabung. Selanjutnya pukul 03.40 WIB truk oksigen liquid pertama masuk dan mengisi tabung utama, sehingga oksigen sentral berfungsi kembali. Disusul truk kedua pukul 04.45 WIB dan pelayanan kembali menggunakan oksigen sentral.

Pemerintah pusat mengambil sejumlah kebijakan mengatasi krisis ini. Seluruh pasokan kini dialihkan untuk kepentingan medis. Pengiriman dari luar Jawa juga dilakukan untuk wilayah Jawa, sebagai pusat krisis. Impor juga dilakukan dalam waktu cepat, termasuk generator oksigen. Semua berharap, tragedi seperti yang terjadi di Sardjito awal Juli lalu, tidak terulang kembali. [ns/ab]

Tulisan ini merupakan kolaborasi jurnalis tujuh media terkait pandemi, yaitu : Kompas, Gatra, IDN Times, Tirto.id, Harian Jogja, CNN INdonesia TV, dan VOA Indonesia

[ad_2]

Source link

Continue Reading

Trending Dari BuzzFeed

close