Connect with us

Wisata

Kupat Jembut, Kuliner Khas Semarang yang Diperebutkan Anak-anak

Kupat Jembut, Kuliner Khas Semarang yang Diperebutkan Anak-anak

[ad_1]

Ilustrasi Ketupat © (Rani Restu Irianti) shutterstock


Pada perayaan syawalan, sejumlah daerah memiliki beberapa tradisi berbagi makanan, salah satunya adalah ketupat. Memang perayaan syawalan ini dikenal juga dengan nama lebaran ketupat (kupat dalam bahasa Jawa). Hal yang unik, di Semarang terdapat sebuah tradisi syawalan yang disebut tradisi kupat jembut.

Jembut yang satu ini jauh dari kesan porno, bahkan anak-anak kampung Jaten Cilik dan Pedurungan sangat menantinya. Kupat ini hadir biasanya untuk memeriahkan syawalan. Diawali dengan pesta petasan sejak selepas salat subuh, bocah-bocah kampung biasanya langsung keluar rumah dan berebut ketupat berisi sayuran ini.

Menurut Alim, salah satu bocah, ketupat jembut berbeda dengan ketupat lebaran. Rasanya lebih enak karena sudah diberi bumbu saat memasak.

“Enggak usah pakai kuah, krecek, opor. Ini kan udah ada sayuranya,” kata Alim, bocah sembilan tahun yang dikutip dari Liputan6.

Mengutip buku Kuliner Semarangan “Menikmati Rasa di Sepanjang Pesisir Utara Jawa, Mencecap Lezatnya Kekayaan Cita Rasanya” oleh Murdijiati Gardjito, Murulia Nur Utami, dan Chairunisa Chayatinufus, kupat jembut merupakan ketupat yang dimasak dengan aneka sayuran sehingga permukaannya tidak halus seperti ketupat atau kupat pada umumnya.

“Kupat ini dibuat selama bulan puasa, dalam periode tertentu orang kehabisan barang untuk merayakan lebaran, tapi biar tidak kelewatan perayaan maka ada ide untuk makan ketupat, ada ide untuk makanan sederhana. Mereka menambahkan taoge rebus, kubis rebus, dan parutan kelapa yang diparut dan diberi bumbu dan dikukus,” ungkap Murdijati Gardjito, penulis buku, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada, dan pemerhati kuliner Indonesia yang dilansir dari CNNIndonesia.

Lebaran Ketupat, Tradisi Syawalan dan Mitos Hidangan untuk Anak yang Meninggal

“Kupat ini dibuat dari bungkus daun kelapa muda (janur) atau di Semarang itu dari daun bambu muda. Ketupat kan bentuknya segi empat lalu dibelah diagonal tapi enggak putus. Lalu di dalamnya disisipkan taoge dimasukkan ke situ jadi tampilannya seperti organ kelamin perempuan.”

Awalnya, isian ketupat hanyalah taoge, karena saat awal tradisi ini dimulai warga hanya punya taoge untuk jadi isian ketupat. Dalam perkembangannya kubis (kol) dan sambal kelapa pun ditambahkan. Karena di dalamnya sudah ada sayur dan bumbu, kupat jembut ini sudah terasa lezat meski tak ditambahkan opor ayam atau sayur bersantan lainnya.

Ketupat jembut tambah nikmat bila disantap dengan lalapan sayuran atau urap. Sampai saat ini, antusiasme warga yang melestarikan tradisi syawalan itu masih tinggi. Bahkan, sebelum virus Covid-19 melanda, acara ini dilakukan dengan cara berebut dan pesta petasan setelah subuh.

“Karena pandemi ini kami sesuaikan dengan membagikan ke anak-anak, setiap rumah yang tidak membuat kupat jembut akan didatangi bergiliran,” ucap Ketua RW 1 Kelurahan Pedurungan Tengah, Wasi Darono, yang dikutip dari TribunJateng.

Dirinya menjelaskan, tradisi itu memang dilakukan orang dewasa dan diperuntukan untuk anak-anak sebagai simbol meneruskan tradisi ke generasi yang lebih muda. Selain mendapatkan kupat jembut, anak-anak ini juga menerima uang fitrah dari mulai Rp80-100 ribu.

Ternyata, tradisi kupat ini tidak hanya dilakukan oleh Kampung Pedurungan Tengah, masyarakat di sejumlah titik di Kampung Jaten Cilik juga mengadakan kegiatan serupa. Namun karena Kampung Jaten Cilik lebih religius, maka istilah kupat taoge lebih banyak digunakan daripada kupat jembut yang terdengar vulgar.

Makanan yang lahir dari kesederhanaan

Salah satu tetua desa bernama Juwiarti (79) menjelaskan berapa lama sejarah kupat jembut di desanya. Dia adalah generasi tertua di desa dan tidak memiliki orang sezaman yang tersisa.

“Tradisi ini sudah ada sejak saya kecil,” ujar wanita yang tinggal di Kelurahan Pedurungan Tengah ini dilansir dari Ayosemarang, Kamis (20/3/2021).

Menurut Ketua Takmir Masjid Rudhotul Muttaqiin, Masroni, tradisi syawalan kupat jembut telah berlangsung sejak sekitar tahun 1950-an.

“Tradisi ini merupakan simbol kesederhanaan karena dilakukan saat warga usai perang, ingin memperingati lebaran dengan bahan makanan sederhana ketupat diisi taoge sebagai bentuk keprihatinan,” katanya dilansir dari Gatra.

Taoge yang ke luar dari ketupat itu menyerupai rambut kemaluan orang, sehingga warga membuat plesetan dengan sebutan kupat jembut, hingga dikenal sampai sekarang. “Orang-orang menyebutnya begitu (kupat jembut) karena bentuknya memang seperti rambut,” tambahnya.

Selain itu ada versi lain yang mengatakan, kuliner ini dicetuskan oleh Nyai Sutimah dan Kiai Samin yang merupakan warga asli Demak. Mereka adalah satu dari lima keluarga pertama yang menduduki kampung Jaten Cilik. Kedatangan mereka ke wilayah untuk mengungsi karena serangan sekutu.

Baru! Ziarah Syawalan Hadir Sebagai Wisata Religi di Semarang

Saat itu masyarakat hidup dalam kesederhanaan. Namun, tetap ingin mengungkapkan rasa syukur setelah melewati bulan Ramadan, maka digelar syukuran sepekan setelah Idul Fitri atau syawalan dengan membagikan kupat tauge tanpa opor.

“Jadi tradisi ini simbol kesederhanaan. Adanya cuma taoge, kelapa, dan lombok, tidak ada opor ayam. Istilahnya lebaran cilik atau syawalan ini tidak harus dengan opor ayam,” ujar Munawir tokoh masyarakat Kampung Jaten Cilik.

Dalam perkembanganya, ada Tunjangan Hari Raya (THR) untuk anak-anak yang diselipkan ke dalam ketupat jembut ini. Ketupat ini pun dibagikan ke anak-anak dan mereka akan berebut untuk mendapatkannya. Tradisi menyisipkan uang dalam kupat jembut ini dimulai sejak tahun 2000.

Tradisi tersebut memang dilakukan orang dewasa dan diperuntukan untuk anak-anak. Sehingga orang dewasa menyiapkan ketupat untuk dibagikan kepada generasi yang lebih muda atau anak-anak.

“Dulu orangtua hanya berpesan jangan tinggalkan ketupat jembut sebagai tradisi,” kata Juwiarti.

Sulitnya mencari generasi penerus

Warga Pedurungan saat syawalan membawa ketupat jembut ke musala dan masjid. Warga berdoa bersama dengan harapan kesehatan dan keselamatan bagi masyarakat di Pedurungan.

“Saya tahu tradisi itu 1948. Saya lahir tahun 1942. Sampai sekarang masih bisa bertahan dan harapan semoga tradisi ini terus berjalan,” ucap Juwiarti.

Memang pada sisi lain, dirinya khawatir tradisi membuat ketupat jembut hilang. Pasalnya generasi tua banyak yang sudah meninggal. Kini di wilayahnya hanya ada tiga orang yang bisa membuat ketupat jembut.

“Generasi sekarang sering memudahkan. Mereka bilang nanti gampang bisa ganti uang. Saya pesan jangan tinggalkan tradisi ini,” katanya.

Intip Kota-Kota Bersejarah di Indonesia, Opsi Wisata Terbaik (Bagian 1)

Ia mengaku sampai saat ini belum ada generasi penerus yang dapat meneruskan keahliannya membuat ketupat jembut. Bahkan anak dan cucunya belum ada yang berminat meneruskan keahlian tersebut.

Juwarti masih ingat pesan orang tua dulu untuk tidak meninggalkan tradisi. Karena menurutnya, ketupat jembut bukan hanya sekedar makanan tetapi juga tradisi yang memiliki makna yang dalam.

“Artinya itu perjuangan siap saling memaafkan dan juga silaturahmi. Itulah arti yang ada di ketupat jembut dengan harapan warga Pedurungan bisa sehat dan aman semua,” imbuhnya.

Untuk perayaan tahun ini, dia hanya membuat 80 ketupat jembut. Hal itu disebabkan karena dia sudah tidak sanggup untuk memproduksi dengan jumlah yang lebih banyak lagi. Padahal biasanya dia juga sempat mendapat pesanan. Namun belakangan dikarenakan pandemi, belum ada lagi yang meminta.

“Semoga masih ada yang mau belajar dan meneruskan,” pungkasnya.

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Advertisement
Click to comment

Wisata

Taman Nasional Kerinci Seblat Dibuka untuk Kunjungan Wisata dengan Prokes Ketat

Taman Nasional Kerinci Seblat Dibuka untuk Kunjungan Wisata dengan Prokes Ketat

[ad_1]

Taman Nasional Kerinci Seblat © Felineus Shutterstock


Di tengah kondisi PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) Jawa-Bali seperti sekarang ini, banyak tempat wisata terpaksa ditutup demi menekan tingkat penyebaran Covid-19. Meski demikian, ada tempat-tempat di luar Jawa-Bali yang tetap bisa dikunjungi untuk berwisata.

Menurut Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi Kementerian LHK, Nandang Prihadi, saat ini ada sejumlah taman nasional yang buka selama PPKM. Salah satunya adalah Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

Kata Nandang, kriteria membuka kembali kawasan untuk berwisata misalnya ada di zona aman dan ada rekomendasi dari Satgas. Selama PPKM, sebagian besar taman nasional di Jawa, Bali, dan 15 kabupaten dan kota lain ditutup. Namun, untuk yang berada di luar daerah tersebut, masih menerima kunjungan wisata dengan pembatasan pengunjung dan protokol kesehatan ketat yang wajib diikuti.

Sebagai salah satu taman nasional yang buka untuk kunjungan wisata, mari mengenal TNKS, taman nasional terbesar di Sumatra

TNKS berdiri di atas lahan dengan luas sekitar 1.375. 000 hektare. Saking luasnya, taman nasional ini secara administratif terletak di 14 kabupaten dan dua kota yang termasuk dalam 4 provinsi, yaitu Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Jambi, dan Bengkulu. Pada tahun 2004, kawasan ini dinobatkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO.

Berikut beberapa daya tarik unggulan di TNKS:

info gambar

Rafflesia arnoldii | @Mazur Travel Shutterstock


Pulau Padar di NTT Kembali Dibuka dan Siap Menyambut Kunjungan Wisatawan

Flora dan fauna di TNKS

TNKS memiliki beragam ekosistem, mulai dari hutan hujan dataran rendah, pegunungan, hutan pinus tropis alami, hutan rawa gambut, hingga danau air tawar. Kawasan ini menjadi habitat bagi sebagian besar burung-burung Sumatra yang jumlahnya lebih dari 371 jenis dengan 17 di antaranya merupakan spesies endemik Sumatra.

Di TNKS, wisatawan dapat melihat langsung berbagai fauna. Di sana, terdapat lebih dari 85 jenis mamalia, tujuh jenis primata, enam jenis amfibi, dan sepuluh jenis reptil. Fauna-fauna tersebut di antaranya adalah harimau Sumatra, badak Sumatra, gajah Sumatra, macan dahan, tapir melayu, dan beruang madu. Tentunya akan menjadi pengalaman tak terlupakan dapat melihat beragam satwa, terutama spesies endemik, langsung di habitatnya.

Untuk flora, ada sekitar 4.000 tumbuhan hidup di TNKS. Tercatat ada 300 jenis anggrek yang tumbuh di sana, mulai dari spesies bambu, kayu manis, rotan, dan edelweis. Bahkan, ada bunga-bunga dengan ukuran terbesar seperti Rafflesia Arnoldii, Rafflesia Hasseltii, tanaman unik kantong semar, dan ada Amorphophallus Titanum, bunga bangkai raksasa yang tingginya bisa mencapai 2-3 meter.

Menjelajah Taman Nasional Aketajawe Lolobata di Halmahera
Gunung Kerinci | @ATTOMY Shutterstock

info gambar

Gunung Kerinci | @ATTOMY Shutterstock


Objek wisata di TNKS

Kawasan TNKS tak hanya menjadi rumah bagi flora dan fauna. Di sana pun terdapat berbagai objek wisata yang menarik untuk dikunjungi. Wisatawan yang berlibur ke sana akan puas menjelajah taman nasional hingga alam di sekitarnya.

Salah satu tempat yang tersohor ialah Gunung Kerinci. Gunung tertinggi di Sumatra ini memiliki ketinggian hingga 3.805 mdpl. Pendaki akan disajikan pemandangan alam dengan aneka flora dan fauna mulai dari dataran rendah sampai ke puncak gunung. Untuk mendaki, kira-kira dibutuhkan waktu sekitar 2 hari satu malam dimulai dari jalur pendakian Kerisik Tuo.

Tak hanya gunung, TNKS juga terdiri dari mata air panas, sungai-sungai dengan aliran deras, gua, air terjun, hingga Danau Gunung Tujuh yang merupakan danau kaldera tertinggi di Asia Tenggara.

Ada pula Danau Kaco yang terkenal dengan keunikannya. Danau tersebut bisa mengeluarkan cahaya terang, terutama pada bulan purnama. Pada malam hari, warna air di danau ini berwarna hijau kebiruan yang jernih dan tampak berkilau. Bila berkunjung pada bulan purnama, bahkan pengunjung tak perlu membawa penerangan karena air di danau akan terang meski malah hari.

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Continue Reading

Wisata

Berwisata ke Kabupaten Siak yang Penuh Tempat Bersejarah

Berwisata ke Kabupaten Siak yang Penuh Tempat Bersejarah

[ad_1]

Istana Siak Sri Inderapura | © Rofi Adi Syabanto Shutterstock


Nama Kabupaten Siak mungkin masih tedengar asing. Siak merupakan kabupaten yang ada di Provinsi Riau, yang mungkin lebih terkenal dengan Kota Dumai dan Pekanbaru.

Pada zaman dahulu, kabupaten ini merupakan bagian dari Kesultanan Siak Sri Inderapura. Pada masa awal kemerdekaan Indonesia, Sultan Syarif Kasim II adalah Sultan Siak terakhir dan menyatakan bahwa kerajaannya bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan ditetapkan sebagai Kabupaten Siak pada tahun 1999 dengan ibu kota Siak Sri Indrapura.

Agar lebih mengenal Kabupaten Siak, cobalah mengunjunginya langsung bila ada kesempatan bertandang ke Provinsi Riau. Berikut rekomendasi objek wisata yang bisa didatangi:

Istana Siak Sri Inderapura

Pada tahun 1889, Istana Asserayah Hasyimiah dibangun sebagai kediaman resmi Sultan Siak pada masa pemerintahan Sultan Syarif Hasyim.

Istana yang merupakan peninggalan Kesultanan Siak Sri Inderapura ini memiliki luas 32 ribu meter persegi dan terdiri dari empat istana, yaitu Istana Siak, Istana Lima, Istana Padjang, dan Istana Baroe.

Bangunan dengan arsitektur bernuansa Melayu, Arab, dan Eropa ini terdiri dari dua lantai. Di bawah, ada ruang tunggu para tamu, ruang untuk ramu kehormatan, ruang tamu pria, ruang tamu wanita, serta ruang sidang kerajaan yang juga digunakan sebagai ruangan pesta.

Sedangkan di atas merupakan tempat untuk Sultan dan para tamu beristirahat. Pengunjung dapat melihat ada enam patung burung elang di puncak bangunan dan sebuah bangunan kecil di belakang istana yang dulunya difungsikan sebagai penjara.

Uniknya, di istana ini ada koleksi peninggalan kerajaan berupa perahu kuno bernama Kapal Kato. Dulunya, perahu tersebut digunakan sultan untuk bepergian ke daerah-daerah kekuasaannya.

Di dalam keraton juga terdapat peninggalan lain seperti singgasana raja, replika mahkota raja, alat makan keramik, hingga kursi kristal buatan tahun 1896.

Fakta Menarik Petirtaan Air Jolotundo, Punya Cerita Romantis Hingga Mitos Awet Muda

Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah

info gambar

Jembatan Tengku Agung Syarifah Latifah | @Imam Fahroji Shutterstock


Salah satu ikon Kabupaten Siak adalah Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah yang juga dikenal sebagai Jembatan Siak. Jembatan dengan panjang 1.196 meter dan lebar 16,95 meter ini membentang di atas Sungai Siak. Di kanan kirinya terdapat dua trotoar dengan lebar 2,25 meter. Ketinggiannya sekitar 23 meter di atas permukaan Sungai Siak.

Di atas jembatan, terdapat dua menara setinggi 80 meter yang digunakan sebagai diorama teater dan tempat makan, lengkap dengan lift untuk naik. Untuk penamaan jembatan ini diambil dari gelar Tengku Syarifah Mariam binti Fadyl, ratu Sultan Syarif Kasim II yang memerintah dari tahun 1915-1946.

Pulau Manimbora dan Labuan Cermin, Surga Tersembunyi di Kalimantan Timur

tarian belanda

Tangsi Belanda |  @Ahmad Bahrain Shutterstock

info gambar

Tangsi Belanda | @Ahmad Bahrain Shutterstock


Kabupaten Siak memang menjadi kawasan yang menyimpan berbagai tempat bersejarah. Salah satu yang menarik dikunjungi ialah Tangsi Belanda, sebuah bangunan jadul yang dulunya merupakan penjara.

Tangsi Belanda yang sudah berusia 160-an tahun ini berjarak sekitar 110 km dari Pekanbaru. Letak bangunan ini menghadap ke Sungai Siak dan dulunya digunakan sebagai benteng pertahanan tentara Belanda saat menjajah Indonesia. Pun terdapat ruangan-ruangan untuk penjara, asrama, kantor, serta gudang senjata dan logistik. Di depan gedung, masih ada sumur tua yang aktif, dapur, dan ruangan pos penjagaan.

Hingga saat ini, bangunan tersebut masih berdiri kokoh dan diperkirakan dibangun pada abad ke-18 pada masa pemerintahan Sultan Siak IX, Sultan Asy-Syaidis Syarif Ismail Abdul Jalil Jalaluddin yang memerintah dari tahun 1827-1864.

Pulau Padar di NTT Kembali Dibuka dan Siap Menyambut Kunjungan Wisatawan

Kuil Hock Siu Kiong

Kuil Hock Siu Kiong |  @Imam Fahroji Shutterstock

info gambar

Kuil Hock Siu Kiong | @Imam Fahroji Shutterstock


Jika ke Siak, jangan lewatkan mengunjungi Kelenteng Hock Siu Kiong di Jalan Sultan Syarif Kasim. Kelenteng yang terletak di tengah kota Siak Sri Indrapura dibangun tahun 1871 dan menjadi bangunan tertua yang ada di Siak.

Kelenteng ini merupakan tempat ibadah masyarakat Tionghoa di kota Siak yang masih aktif hingga saat ini, sekaligus jadi salah satu objek wisata karena arsitekturnya terbilang unik. Kelenteng ini memang memiliki keunikan dari segi bentuk, bahan, teknologi, pengerjaan, hingga ragam hias yang digunakan. Keberadaan bangunan ini dianggap sangat penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.

Bangunan yang didominasi warna merah menyala ini memang begitu mencolok. Kelenteng ini memiliki dua patung singa penjaga kelenteng dan di bagian dalamnya patung dewa-dewi berjajar rapi. Di sisi kanan-kiri, terdapat lukisan naga dan burung phoenix. Bila berjalan ke bagian luar, akan ada lukisan yang menceritakan legenda The Eight Immortals yang populer dalam mitologi Tiongkok.

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Continue Reading

Wisata

Pulau Padar di NTT Kembali Dibuka dan Siap Menyambut Kunjungan Wisatawan

Pulau Padar di NTT Kembali Dibuka dan Siap Menyambut Kunjungan Wisatawan

[ad_1]

Pulau Padar | © Pnnchen Shutterstock


Pulau Padar merupakan salah satu objek wisata yang ada di Nusa Tenggara Timur dan menjadi pulau ketiga terbesar di Taman Nasional Komodo (TNK), setelah Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Sebelumnya, pulau ini sempat ditutup sejak 5 Juli karena alasan pandemi. Namun, setelah 14 hari, Pulau Padar kembali dibuka untuk wisatawan.

Shana Fatina, Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), mengatakan kebijakan pembukaan kawasan wisata itu sudah mulai berlaku sejak Senin (19/7/2021).

Kini, wisatawan dapat kembali berlibur ke Pulau Padar. Namun, jangan lupa untuk mengikuti protokol kesehatan yang sudah ditetapkan BPOLBF dan juga Balai TNK.

Kata Shana, kuota kunjungan ke TNK dibatasi hanya 300 orang per hari karena jalur pendakian yang hanya ada satu dengan jarak 522 meter. Ada pula pembagian waktu masuk, yaitu 05.30-07.30, 8-10, dan 5.00-18.00 WITA.

“Pembagian jam masuk ini bertujuan untuk mengurangi penumpukan serta wisatawan di kawasan TN Komodo,” ujar Shana. “Wisatawan juga hanya diperbolehkan beraktivitas selama 10 menit dan juga diimbau agar selalu jaga jarak sekitar satu meter.”

Untuk mengunjungi Pulau Padar, setiap wisatawan akan melewati pengecekan suhu dan wajib menggunakan pelindung wajah.

info gambar

Facebook logo Facebook Daftar Facebook untuk terhubung dengan Pulau Padar @Yusnizam Yusof Shutterstock


Pulau Manimbora dan Labuan Cermin, Surga Tersembunyi di Kalimantan Timur

Daya Tarik Pulau Padar

Bila berwisata ke kawasan TNK, Pulau Padar menjadi salah satu tempat yang wajib dikunjungi. Lokasinya lebih dekat ke Pulau Rinca dibanding Pulau Komodo, yang dipisahkan oleh Selat Lintah. Pulau ini relatif aman bagi wisatawan karena tidak dihuni oleh komodo.

Pulau ini termasuk memiliki iklim yang kering dengan semak belukar, pepohonan, dan padang rumput yang menutupi pulau sehingga perbukitan sabana yang memanjakan mata. Di sana, terdapat empat teluk dalam dan pasir pantai dengan berbagai warna, dari putih, abu-abu, hingga merah muda.

Daya tarik utama Pulau Padar adalah pemandangannya yang memesona. Saat mengunjunginya, wisatawan akan menyaksikan kawasan perbukitan yang mengelilingi pulau. Ditambah lagi dengan hamparan pasir pantai yang luas berpadu dengan birunya air laut.

Mendaki puncak Pulau Padar memang tak mudah. Pengunjung harus berjalan kaki dengan jalur tanjakan yang cukup curam dengan kemiringan 45 derajat. Dari tempat perahu bersandar di pantai, kira-kira butuh waktu 30 menit untuk sampai di puncak. Namun, semua usaha yang melelahkan akan terbayar tuntas dengan suguhan lansekap bak lukisan dari atas sana.

Untuk mengunjungi Pulau Padar, waktu terbaiknya adalah pagi dan sore hari. Pada siang hari, matahari tentu lebih terik dan membuat perjalanan jadi lebih melelahkan. Jika datang sore hari, Anda berkesempatan untuk menikmati matahari terbenam di Pulau Padar.

Selain naik ke puncak, wisatawan juga bisa mengeksplor area pantai dan laut. Anda bisa menikmati waktu di Pulau Padar dengan berenang, snorkeling, hingga diving di sana. Apalagi, di sana terdapat sekitar 42 spot penyelaman. Jangan lewatkan menyelam dan berenang bersama hiu, pari manta, lumba-lumba, paus, dan penyu hijau!

Bertualang ke Pantai dan Gunung di Pulau Lingga Kepulauan Riau

Akses dan tip mengunjungi Pulau Padar

Lokasi Pulau Padar terdapat di Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Untuk sampai ke sana, Anda perlu melakukan penerbangan dari Denpasar dengan tujuan Labuan Bajo dengan waktu tempuh 30 menit. Setelah itu, lanjutkan perjalanan sampai ke Dermaga Loh Liang dan dari sana bisa naik kapal cepat ke Pulau Padar.

Karena biaya yang tergolong mahal bila harus menyewa kapal sendiri, wisatawan biasanya memanfaatkan jasa agen perjalanan dengan paket lengkap menjelajahi Labuan Bajo. Cara ini pun akan membuat Anda tak repot memikirkan transportasi, akomodasi, hingga makan selama berkeliling pulau. Pun, biayanya bisa jauh lebih terjangkau. Bahkan, bila hanya pergi sendiri atau rombongan kecil, bisa bergabung wisatawan lain lewat agen yang menyediakan paket open trip.

Untuk mengunjungi Pulau Padar, ada beberapa hal yang harus dipersiapkan. Tidak wajib, tetapi akan memudahkan perjalanan dan membuat Anda lebih nyaman. Misalnya, membawa tongkat hiking untuk membantu Anda mendaki dan memakai topi lebar serta kacamata hitam karena panas matahari begitu menyengat.

Gunakan pakaian dan alas kaki yang nyaman. Sebisa mungkin, gunakan sepatu olahraga atau sandal gunung karena Anda akan banyak berjalan kaki di sana. Untuk pakaian, sebaiknya pilih kaus dengan bahan yang dingin. Salah kostum pada akhirnya akan merepotkan diri sendiri.

Ketika naik ke puncak, jangan membawa barang terlalu banyak karena membuat beban Anda semakin berat. Namun, jangan lupa membawa minum sendiri agar tidak dehidrasi.

    ! function(f, b, e, v, n, t, s) 
        if (f.fbq) return;
        n = f.fbq = function() 
            n.callMethod ? n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
        ;
        if (!f._fbq) f._fbq = n;
        n.push = n;
        n.loaded = !0;
        n.version = '2.0';
        n.queue = [];
        t = b.createElement(e);
        t.async = !0;
        t.src = v;
        s = b.getElementsByTagName(e)[0];
        s.parentNode.insertBefore(t, s)
    (window, document, 'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js');
    fbq('init', '444507519219005');
    fbq('track', 'PageView');

https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js .

[ad_2]

Link Sumber Berita

Continue Reading

Trending Dari BuzzFeed

close